Anda di halaman 1dari 81

HIPERTENSI SEKUNDER

Stella Palar
Divisi Ginjal dan Hipertensi
Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNSRAT /
RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado
PRE -TEST
KASUS I
1. Seorang perempuan, 22 tahun datang kepada saudara dirujuk dari dokter di layanan primer karena
TD yang sulit terkendali, sudah diberikan terapi HCT 1x50mg, Amlodipin 1x10mg, Captopril 3x25mg
dan Clonidin 3x0,15mg namun TD tidak pernah mencapai target. Saat ini TD: 160/110mmHg, N: 72,
reguler, R: 24 x/m, S: 36,7˚C. Jantung dan paru tidak ditemukan kelainan. Kemungkinan diagnosis ?

A. Hipertensi esensial

B. Hipertensi resisten

C. Hipertensi krisis
2. Setelah diperiksa lebih lanjut, selain masalah TD yang tak terkendali ternyata pasien memiliki
keluhan kelemahan anggota gerak terutama tungkai bawah lebih dari 1 bulan disertai adanya pola BAB
yang lebih jarang. Tidak ada muntah, panas, diare, dan sesak. Tidak ada nyeri pinggang maupun
trauma. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital yang baik. Kekuatan motorik 5/5/4/4.
Kemungkinan penyebab ?

A. Stroke iskemik

B. Lesi tulang belakang

C. Gangguan kalium serum

D. Malingering
3. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hb 12,2 g/dL; leukosit 5.400; trombosit 470.000; ureum 17
mg/dL; kreatinin 0,7 mg/dL; natrium 137 mmol/L; kalium 1,8 mmol/L; clorida 101 mmol/L. Apa
pemeriksaan lanjutan yang dianjurkan ?

A. Kortisol serum

B. Plasma renin activity (PRA) , plasma aldosterone concentration (PAC)

C. Angiografi arteri renalis

D. Analisa gas darah


4. Pemerikaan laboratorium lanjutan memberikan hasil Plasma Renin Activity (PRA) 0,2 ng/dL/jam
( 0,6-3.0 ng/mL/jam) dan plasma aldosteron concentration (PAC) 25,5 ng/dL (1-21 ng/dL). Tes supresi
garam memberikan hasil positif (PAC >10 ng/dL). Apa pemeriksaan lanjutan yang dianjurkan untuk
memastikan penyebab pada kasus tersebut?

A. USG abdomen

B. Biopsi ginjal

C. Renogram

D. CT-scan adrenal
5. Hasil CT-scan tampak

massa di adrenal kiri.

Kemungkinan diagnosis ?

A. Sindroma Cushing

B. Feokromositoma

C. TB adrenal

D. Hiperaldosteronisme primer
KASUS II
6. Seorang pasien pria 65 tahun dengan riwayat hipertensi lama dan perokok berat datang ke praktek
saudara dengan keluhan TD yang sulit terkendali belakangan ini. Dahulu hanya rutin meminum
amlodipin 1x5mg. Saat ini pasien sudah konsumsi amlodipin 1x10mg, HCT 1x50mg dan clonidin 3x
0.15 mg. TD saat ini 160/100 mmHg. Pemeriksaan fisik ditemukan bruit di abdomen. Ureum 32 mg/dl,
kreatinin 0,6 mg/dl.

Saran pemeriksaan lanjutan ?

A. CT-scan adrenal

B. Biopsi ginjal

C. Renogram

D. CT angiografi arteri renalis


7. Hasil CT angiografi ternyata
didapatkan stenosis bilateral dari arteri
renalis pasien ini. Apakah ACE-I dapat
diberikan untuk mengatasi TD yang tidak
terkendali tersebut?

A. Setuju

B. Tidak Setuju
8. Apabila pada pasien ini sudah diberikan 4 macam OAH dan TD masih tidak mencapai target . Maka
tatalaksana yang dianjurkan adalah ?

A. Percutaneus Transluminal Renal Angioplasty (PTRA)

B. Tambahkan anti-hipertensi golongan lainnya

C. Tambahkan spironolakton
KASUS III
9. Seorang perempuan berusia 30 tahun, datang berobat ke poliklinik dengan keluhan sakit kepala,
muntah-muntah, palpitasi sejak 6 bulan terakhir disertai dengan perasaan panas di daerah muka. Pasien
diketahui menderita hipertensi sejak 2 tahun yang sulit terkendali. Tidak ada riwayat hipertensi pada
keluarga. Pada pemeriksaan fisik gizi cukup; TD 200/120 mmHg; frekuensi nadi 102x/menit; tidak ada
exophtalmus maupun benjolan leher. pemeriksaan fisik lain dalam batas normal. Anjuran pemeriksaan
yang diharapkan ?

A. Urine metanefrin 24 jam

B. Kortisol serum

C. FT4/ TSHs

D. Plasma aldosteron concentration

E. USG doppler arteri renalis


10. Setelah dilakukan pemeriksaan. Didapatkan hasil Ureum 40 Cr 0.8; Urine metanefrin = 4520
mcg/24jam ( N <1300mcg/24jam). Tes fungsi tiroid dan lainnya dalam batas normal. Maka
pemeriksaan lanjutan yang anda anjurkan ?

A. CT angiografi arteri renalis

B. USG abdomen

C. MRI adrenal

D. Echocardiografi
11. Setelah dilakukan pemeriksaan
penunjang didapatkan hasil sbb.
Maka diagnosis pasien ini ?

A. Sindroma Cushing

B. Sindroma Conn

C. Feokromositoma

D. Incidentaloma
HIPERTENSI SEKUNDER

Stella Palar
Divisi Ginjal dan Hipertensi
Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNSRAT /
RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado
HIPERTENSI SEKUNDER

Stella Palar
Divisi Ginjal dan Hipertensi
Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNSRAT /
RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado
PENDAHULUAN

Hipertensi sekunder hanya terdapat pada sebagian kecil dari


seluruh pasien hipertensi, tidak sebanyak hipertensi primer.
Namun berpotensi dapat disembuhkan

Estimasi berkisar 5-10% dari seluruh kasus hipertensi, dan terkait dengan
penyakit ginjal, endokrin, vaskular, paru dan sistim saraf pusat.

Chiong JR, Aronow WS, Khan IA, Nair CK, Vijayaraghavan K, Dart RA, et al. Secondary hypertension: current diagnosis and treatment. nt J Cardiol (2007).doi:10.1016/j.ijcard.2007.01.119
PREVALENSI

Penyebab Prevalensia Prevalensib


Obstructive sleep apnea (OSA) > 5 – 15% > 30%

Penyakit parenkim ginjal 1.6 – 8.0% 2 – 10%

Stenosis arteri renalis 1.0 – 8.0% 2.5 – 20%

Aldosteronisme primer 1.4 – 10% 6 – 23%

Penyakit tiroid 1 – 2% 1 – 3%

Sindroma Cushing 0.5% < 1.0%

Feokromositoma 0.2 – 0.5% < 1%

Koartasio aorta < 1% < 1%

a Prevalensi pada pasien hipertensi. b Prevalensi pada pasien hipertensi resisten.

Rimoldi SF, Scherrer U, Messerli FH. Secondary arterial hypertension: when, who, and how to screen? European Heart Journal 2013:1-12.
SKRINING
Karakteristik klinis pasien Hipertensi Sekunder

• Onset dini (< 30 tahun)

• Hipertensi Resisten (>140/90 mmHg dengan 3 jenis OAH dan salah satunya diuretik)

• Hipertensi berat atau emergensi (>180/110 mmHg)

• Peningkatan mendadak dari TD pada pasien yang sebelumnya stabil

• Non-dipping atau reverse dipping selama ABPM 24 jam

• Adanya target organ (LVH, retinopati hipertensi)

Rimoldi SF, Scherrer U, Messerli FH. Secondary arterial hypertension: when, who, and how to screen? European Heart Journal 2013:1-12.
STRATEGI UMUM
Kecurigaan Hipertensi

Cek akurasi pemeriksaan TD (ukuran manset, pembacaan TD diluar klinik)

Terkonfirmasi hipertensi Normotensi


White coat hypertension
Skrining riwayat
Skrining PF
Skrining pem. penunjang

Faktor risiko hipertensi sekunder

Tidak Ya

Atasi hipertensi dan nilai respon


Hasil skrining menunjukkan Hasil skrining tidak ada gambaran
gambaran spesifik spesifik

Pertimbangan pemeriksaan lebih


Identifikasi dan terapi sesuai kausa agresif untuk menilai kausa hipertensi
sekunder

Onusko E. Diagnosing secondary hypertension. Am Fam Physician 2003;67:67-74.


DETEKSI DIAGNOSTIK KEDUA

Setelah pemberian OAH terdapat situasi berikut:

1. Kalium berlebihan dengan diuretik dosis kecil


(aldosteronisme primer atau kelebihan mineralokortikoid eksogen /
endogen)
2. LFG berlebihan dengan ACE-I dosis kecil (stenosis a. renalis, terutama bila bilateral)
3. Hipertensi resisten arterial yang jelas
4. TD dengan pengobatan namun tidak stabil
ETIOLOGI
ETIOLOGY

COMMON UNCOMMON
Obstructive Sleep Apnea (OSA) Sindroma Cushing
Penyakit Parenkim Ginjal Koartasio Aorta
Penyakit Renovaskular Feokromositoma
Aldosteronisme Disfungsi Tiroid

Rimoldi S.F, Scherrer U, Messerli F.H. Secondary arterial hypertension: when, who, and how to screen? European Heart Journal 2013:1-12.
COMMON
Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Terapi OSA: continuous positive airway


pressure (CPAP)

Rimoldi SF, Scherrer U, Messerli FH. Secondary arterial hypertension: when, who, and how to screen? European Heart Journal 2013:1-12.
Contoh hasil polisomnografi. Episode apnea saat tidur dikategorikan mulai derajat ringan hingga berat.

Tampak adanya garis flat di airflow dan penurunan saturasi oksigen setelahnya.
PENYAKIT PARENKIM GINJAL
Patogenesis kompleks dan multifaktor

Dua mekanisme utama :

- Aktivasi RAAS
- Volume intravaskular

HPT pada populasi dewasa (Survei nasional USA)


23,3% pada non CKD
35,8% pada CKD stg 1
48,1% pada CKD stg 2 Manajemen utama
59,9% pada CKD stg 3 • Restriksi garam dan protein
84,1 % pada CKD stg 4 & 5
• Menjaga BB ideal
• Antihipertensi pilihan : ACE-I or ARB

- Tedla FM, Brar A, Browne R, Brown C. Hypertension in Chronic Kidney Disease: Navigating the Evidence. International Journal of Hypertension 2011; Article ID 132405, 9 pages, 2011. doi:10.4061/2011/132405
- Campese VM, Mitra N, Sandee D. Hypertension in renal parenchymal disease: Why is it so resistant to treatment? Kidney International 2006; 69(6): 967-73
Stenosis Arteri Renalis

Rimoldi SF, Scherrer U, Messerli FH. Secondary arterial hypertension: when, who, and how to screen? European Heart Journal 2013:1-12.
Patofisiologi Stenosis Arteri Renalis

ACE-I / ARB merupakan KONTRAINDIKASI pada stenosis a. renalis bilateral atau stenosis pada ginjal
tunggal

Hackam D.G, Spence J.D, Garg A.X, Textor S.C. Role of renin–angiotensin system blockade in atherosclerotic renal artery stenosis and renovascular hypertension. Hypertension 2007; 50: 998–
1003. VI
STRATEGI DIAGNOSTIK DAN TERAPI STENOSIS ARTERI RENALIS

Pasien yang dicurigai SAR

Ultrasonografi a. renalis

Ada stenosis Tidak jelas adanya stenosis atau USG susah dilakukan

Tidak ada gangguan ginjal Ada gangguan ginjal

MRA, CTA MRA CTA Non-contrast enhanced MRA

Jika direncanakan intervensi vaskular

Drug therapy Arteriografi renal

The Japanese Society of Hypertension Guidelines for the Management of Hypertension (JSH 2014). Section 13: Secondary Revaskularisasi (PTRA)
Hypertension. Hypertens Res 2014; 37: 253–392.
Ultrasonografi arteri renalis

PSV = Peak systolic velocity ( normal berkisar 180cm/detik)


EDV = End diastolic velocity
RI = Resistive index (nilai cut-off 0,7 dan selisih antar ginjal <5%)

Contoh USG doppler arteri renal menunjukkan penurunan peak systolic velocity (PSV) di ginjal kiri dan resistive index (RI) kanan > kiri lebih
dari 5%. Sehingga menunjukkan adanya stenosis di arteri renal kiri
MR Angiografi
Tampak stenosis
a. renalis kanan

CT Angiografi
Tampak stenosis
a. Renalis bilateral
Percutaneus Transluminal Renal Angioplasty (PTRA)

Metode terapeutik terbaik adalah dengan PTRA dimana akan membebaskan stenosis pada
a. renalis, metode ini mirip dengan pemasangan stent pada arteri koroner (PTCA)
Aldosteronisme

IHA = Idiopathyc Hyperaldosteronism


APA = Aldosteron- producing adenoma
Rimoldi SF, Scherrer U, Messerli FH. Secondary arterial hypertension: when, who, and how to screen? European Heart Journal 2013:1-12.
STRATEGI DIAGNOSTIK DAN TERAPI ALDOSTERONISME
Temuan kasus positif
PAC (Plasma aldosteron concentration) : PRA (Plasma renin activity) >20
dan PAC >15ng/dL

Tes konfirmasi
Loading garam (oral atau IV) atau fludrocortisone

CT Adrenal
Normal
Nodul Unilateral Nodul < 1cm
Multinoduler

Adrenal Venous Sampling (AVS) Pasien bukan kandidat


pembedahan / menolak
prosedur pembedahan

Lateralisasi (-)
Lateralisasi (+)
Pembedahan Antagonis reseptor mineralokortikoid

Funder J.W, Carey R.M, Fardella C, Gomez-Sanchez CE, Mantero F, Stowasser M, Young W.F Jr, Montori V.M. Case detection, diagnosis, and treatment of patients with primary aldosteronism: an endocrine
society clinical practice guideline. J Clin Endocrinol Metab 2008;93:3266–3281.
Tumor Adrenal pada Hiperaldosteronisme

Tampak massa adrenal yang memproduksi hormon aldosteron pada kasus hiperaldosteronisme primer

Funder J.W, Carey R.M, Fardella C, Gomez-Sanchez CE, Mantero F, Stowasser M, Young W.F Jr, Montori V.M. Case detection, diagnosis, and treatment of patients with primary aldosteronism: an endocrine
society clinical practice guideline. J Clin Endocrinol Metab 2008;93:3266–3281.
UNCOMMON
KOARTASIO AORTA

- Penyempitan kongenital dari lumen aorta

- Menurunnya pulsasi extremitas inferior (femoral)


dan TD meningkat di extremitas superior

- CXR dada akan ditemukan gambaran


penyempitan lumen (“3” sign).

- Skrining : Echocardiography, CT / MRI (alternatif)

Torok RD, Campbell MJ, Fleming GA, Hill KD. Coarctation of the aorta : Management from infancy to adulthood. World journal of cardiology 2015;7(11):765-75
Karakteristik chest X-ray khas yaitu “3” sign yang tampak seperti foto ini
CT ANGIOGRAFI MR ANGIOGRAFI
TATALAKSANA PEMBEDAHAN

Torok RD, Campbell MJ, Fleming GA, Hill KD. Coarctation of the aorta : Management from infancy to adulthood. World journal of cardiology 2015;7(11):765-75
Endovascular stent placement
( bare metal stent / BMS)

Torok RD, Campbell MJ, Fleming GA, Hill KD. Coarctation of the aorta : Management from infancy to adulthood. World journal of cardiology 2015;7(11):765-75
SINDROMA CUSHING

- Meningkatkan TD melalui efek


mineralokortikoid pada kortisol yang berlebih

- Skrining : 24 jam kortisol urin

- Workup lanjutan : dexamethasone


suppression test

Rimoldi SF, Scherrer U, Messerli FH. Secondary arterial hypertension: when, who, and how to screen? European Heart Journal 2013:1-12.
KADAR KORTISOL SERUM 10-20 UG/DL
DI PAGI HARI

Penyakit tergantung ACTH=

PITUITARY SECRETING ADENOMA

Penyakit tidak tergantung ACTH=

ADRENAL HYPERPLASIA atau ADRENAL


TUMOR

Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi 6 thn 2014


Harrison Principle of Internal medicine 19th ed –
Part 16 – Endocrinology and Metabolism
Figure 406-10
MRI Kepala tampak massa pituitari MRI abdomen tampak massa adrenal

Contoh ACTH dependent cushing’s adalah adenoma pituitary


Contoh ACTH independent cushing’s adalah adrenal tumor / hyperplasia
Reseksi pembedahan Tatalaksana lini pertama.
Medikamentosa / radiasi  Tatalaksana lini kedua dan disesuaikan pada masing-masing individu

Lynnette K. Nieman, Beverly M. K. Biller, James W. Findling, M. Hassan Murad, John Newell-Price, Martin O. Savage, Antoine Tabarin; Treatment of Cushing's Syndrome: An Endocrine Society
Clinical Practice Guideline, The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, Volume 100, Issue 8, 1 August 2015, Pages 2807–2831
FEOKROMOSITOMA

• Katekolamin >> diproduksi sel kromafin pada kelenjar


adrenal (dopamine, epinephrine & norepinephrine)

• ‘5P’:paroxysmal hypertension; palpitation;


perspiration; pallor; pounding headache.

- Skrining = 24 jam katekolamin urin & metanefrin

Hasil positif

MRI / CT adrenal

Young W.F Jr. Adrenal causes of hypertension: pheochromocytoma and primary aldosteronism. Rev Endocr Metab Disord 2007;8:309–320.
MRI ABDOMEN PADA PASIEN FEOKROMOSITOMA

Pembedahan  tatalaksana utama

Tatalaksana penting pada kontrol TD yaitu dengan golongan α-blockers dan setelah tercapai dosis optimal,
maka diberikan β-blockers untuk kontrol laju jantung

Garg MK, Kharb S, Brar KS, Gundgurthi A, Mittal R. Medical management of pheochromocytoma: Role of the endocrinologist.  Indian Journal of Endocrinology and Metabolism.
2011;15(Suppl4):S329-S336. doi:10.4103/2230-8210.86976
ERITROPOIETIN, DISFUNGSI TIROID

Hipertiroid menginduksi peningkatan curah jantung dan


kompensasi penurunan tonus vaskular menyebabkan
peningkatan lebih besar pada TD sistolik.

Kadar eritropoetin yang tinggi dapat meningkatkan


TD, melalui mekanisme polisitemia / hiperviskositas
atau dengan efek presor langsung
OBAT-OBATAN , DIET

Kelas Contoh Diet


Immunosuppressive agents Cyclosporine, tacrolimus, kortikosteroid

NSAID
• Sensitif pada asupan garam
Ibuprofen, naproxen, piroxicam

Cox-2 inhibitors Celecoxib, rofecoxib, valdecoxib • Rendahnya intake kalium, kalsium


Estrogen Tablet oral kontrasepsi dan magnesium

Penurun BB Sibutramine, phentermine • Semua jenis diit yang memicu


Stimulan Nikotin, amfetamin obesitas dapat memicu hipertensi
Mineralkortikoid Fludrocortisone

Antiparkison Bromokriptin

Monoamine oxidase inhibitors (MAOI) Phenelzine

Steroid anabolik Testosteron

SImpatomimetik Pseudoefedrin

Onusko E. Diagnosing secondary hypertension. Am Fam Physician 2003;67:67-74.


KESIMPULAN

Hipertensi sekunder memiliki etiologi yang jelas dan dapat diatasi

Kewaspadaan pada kasus hipertensi usia muda (onset dini) dan hipertensi resisten

Tatalaksana sesuai dengan etiologi dan berbasis individual


TERIMA KASIH
POST -TEST
KASUS I
1. Seorang perempuan, 22 tahun datang kepada saudara dirujuk dari dokter di layanan primer karena
tekanan darah yang sulit terkendali, sudah diberikan terapi HCT 1x50mg, Amlodipine 1x10mg,
Captopril 3x25mg dan Clonidin 3x0,15mg namun tekanan darah tidak pernah mencapai target. Saat ini
TD: 160/110mmHg, N: 72, reguler, R: 24 x/m, S: 36,7˚C. Jantung dan paru tidak ditemukan kelainan.
Kemungkinan diagnosis ?

A. Hipertensi esensial

B. Hipertensi resisten

C. Hipertensi krisis
1. Seorang perempuan, 22 tahun datang kepada saudara dirujuk dari dokter di layanan primer karena
TD yang sulit terkendali, sudah diberikan terapi HCT 1x50mg, Amlodipin 1x10mg, Captopril 3x25mg
dan Clonidin 3x0,15mg namun TD tidak pernah mencapai target. Saat ini TD: 160/110mmHg, N: 72,
reguler, R: 24 x/m, S: 36,7˚C. Jantung dan paru tidak ditemukan kelainan. Kemungkinan diagnosis ?

A. Hipertensi esensial

B. Hipertensi resisten
C. Hipertensi krisis
2. Setelah diperiksa lebih lanjut, selain masalah TD yang tak terkendali ternyata pasien memiliki
keluhan kelemahan anggota gerak terutama tungkai bawah lebih dari 1 bulan disertai adanya pola BAB
yang lebih jarang. Tidak ada muntah, panas, diare, dan sesak. Tidak ada nyeri pinggang maupun
trauma. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital yang baik. Kekuatan motorik 5/5/4/4.
Kemungkinan penyebab ?

A. Stroke iskemik

B. Lesi tulang belakang

C. Gangguan kalium serum

D. Malingering
2. Setelah diperiksa lebih lanjut, selain masalah TD yang tak terkendali ternyata pasien memiliki
keluhan kelemahan anggota gerak terutama tungkai bawah lebih dari 1 bulan disertai adanya pola BAB
yang lebih jarang. Tidak ada muntah, panas, diare, dan sesak. Tidak ada nyeri pinggang maupun
trauma. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital yang baik. Kekuatan motorik 5/5/4/4.
Kemungkinan penyebab ?

A. Stroke iskemik

B. Lesi tulang belakang

C. Gangguan kalium serum


D. Malingering
3. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hb 12,2 g/dL; leukosit 5.400; trombosit 470.000; ureum 17
mg/dL; kreatinin 0,7 mg/dL; natrium 137 mmol/L; kalium 1,8 mmol/L; clorida 101 mmol/L. Apa
pemeriksaan lanjutan yang dianjurkan ?

A. Kortisol serum

B. Plasma renin activity (PRA) , plasma aldosteron concentration (PAC)

C. Angiografi arteri renalis

D. Analisa gas darah


3. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hb 12,2 g/dL; leukosit 5.400; trombosit 470.000; ureum 17
mg/dL; kreatinin 0,7 mg/dL; natrium 137 mmol/L; kalium 1,8 mmol/L; clorida 101 mmol/L. Apa
pemeriksaan lanjutan yang dianjurkan ?

A. Kortisol serum

B. Plasma renin activity (PRA) , plasma aldosteron concentration (PAC)


C. Angiografi arteri renalis

D. Analisa gas darah


4. Pemerikaan laboratorium lanjutan memberikan hasil Plasma Renin Activity (PRA) 0,2 ng/dL/jam
( 0,6-3.0 ng/mL/jam) dan plasma aldosteron concentration (PAC) 25,5 ng/dL (1-21 ng/dL). Tes supresi
garam memberikan hasil positif (PAC >10 ng/dL). Apa pemeriksaan lanjutan yang dianjurkan untuk
memastikan penyebab pada kasus tersebut?

A. USG abdomen

B. Biopsi ginjal

C. Renogram

D. CT scan adrenal
4. Pemerikaan laboratorium lanjutan memberikan hasil Plasma Renin Activity (PRA) 0,2 ng/dL/jam
( 0,6-3.0 ng/mL/jam) dan plasma aldosteron concentration (PAC) 25,5 ng/dL (1-21 ng/dL). Tes supresi
garam memberikan hasil positif (PAC >10 ng/dL). Apa pemeriksaan lanjutan yang dianjurkan untuk
memastikan penyebab pada kasus tersebut?

A. USG abdomen

B. Biopsi ginjal

C. Renogram

D. CT scan adrenal
5. Hasil CT-scan tampak

massa di adrenal kiri.

Kemungkinan diagnosis ?

A. Cushing Syndrome

B. Feokromositoma

C. TB adrenal

D. Hyperaldosteronism primer
5. Hasil CT-scan tampak

Massa di adrenal kiri.

Kemungkinan diagnosis ?

A. Cushing Syndrome

B. Feokromositoma

C. TB adrenal

D. Hyperaldosteronism primer
KASUS II
6. Seorang pasien pria 65 tahun dengan riwayat hipertensi lama dan perokok berat datang ke praktek
saudara dengan keluhan TD yang sulit terkendali belakangan ini. Dahulu hanya rutin meminum
amlodipin 5 mg 1x1. Saat ini pasien sudah konsumsi amlodipin 1x10mg, HCT 1x50mg dan diltiazem
Hcl 1x200mg. TD saat ini 160/100. Pemeriksaan fisik ditemukan bruit di abdomen. Ur 32 Cr 0,6. Saran
pemeriksaan lanjutan ?

A. CT scan adrenal

B. Biopsi ginjal

C. Renogram

D. CT angiografi arteri renalis


6. Seorang pasien pria 65 tahun dengan riwayat hipertensi lama dan perokok berat datang ke praktek
saudara dengan keluhan TD yang sulit terkendali belakangan ini. Dahulu hanya rutin meminum
amlodipin 5mg 1x1. Saat ini pasien sudah konsumsi amlodipin 1x10mg, HCT 1x50mg dan diltiazem
Hcl 1x200mg. TD saat ini 160/100. Pemeriksaan fisik ditemukan bruit di abdomen. Ur 32 Cr 0,6. Saran
pemeriksaan lanjutan ?

A. CT scan adrenal

B. Biopsi ginjal

C. Renogram

D. CT angiografi arteri renalis


7. Hasil CT angiografi ternyata
didapatkan stenosis bilateral dari arteri
renalis pasien ini. Apakah ACE-I dapat
diberikan untuk mengatasi TD yang tidak
terkendali tersebut?

A. Setuju

B. Tidak Setuju
7. Hasil CT angiografi ternyata
didapatkan stenosis bilateral dari arteri
renalis pasien ini. Apakah ACE-I dapat
diberikan untuk mengatasi TD yang tidak
terkendali tersebut?

A. Setuju

B. Tidak Setuju
8. Apabila pada pasien ini sudah diberikan 4 macam OAH dan TD masih tidak mencapai target . Maka
tatalaksana yang dianjurkan adalah ?

A. Percutaneus Transluminal Renal Angioplasty (PTRA)

B. Tambahkan anti-hipertensi golongan lainnya

C. Tambahkan Spironolacton
8. Apabila pada pasien ini sudah diberikan 4 macam OAH dan TD masih tidak mencapai target . Maka
tatalaksana yang dianjurkan adalah ?

A. Percutaneus Transluminal Renal Angioplasty (PTRA)


B. Tambahkan anti-hipertensi golongan lainnya

C. Tambahkan Spironolacton
KASUS III
9. Seorang perempuan berusia 30 tahun, datang berobat ke poliklinik dengan keluhan sakit kepala,
muntah-muntah, palpitasi sejak 6 bulan terakhir disertai dengan perasaan panas di daerah muka. Pasien
diketahui menderita hipertensi sejak 2 tahun yang sulit terkendali. Tidak ada riwayat hipertensi pada
keluarga. Pada pemeriksaan fisik gizi cukup; TD 200/120 mmHg; frekuensi nadi 102x/menit; tidak ada
exophtalmus maupun benjolan leher. pemeriksaan fisik lain dalam batas normal. Anjuran pemeriksaan
yang diharapkan ?

A. Urine metanefrin 24 jam

B. Kortisol serum

C. FT4/ TSHs

D. Plasma aldosteron concentration

E. USG doppler arteri renalis


9. Seorang perempuan berusia 30 tahun, datang berobat ke poliklinik dengan keluhan sakit kepala,
muntah-muntah, palpitasi sejak 6 bulan terakhir disertai dengan perasaan panas di daerah muka. Pasien
diketahui menderita hipertensi sejak 2 tahun yang sulit terkendali. Tidak ada riwayat hipertensi pada
keluarga. Pada pemeriksaan fisik gizi cukup; TD 200/120 mmHg; frekuensi nadi 102x/menit; tidak ada
exophtalmus maupun benjolan leher. pemeriksaan fisik lain dalam batas normal. Anjuran pemeriksaan
yang diharapkan ?

A. Urine metanefrin 24 jam


B. Kortisol serum

C. FT4/ TSHs

D. Plasma aldosteron concentration

E. USG doppler arteri renalis


10. Setelah dilakukan pemeriksaan. Didapatkan hasil Ureum 40 Cr 0.8; Urine metanefrin = 4520
mcg/24jam ( N <1300mcg/24jam). Tes fungsi tiroid dan lainnya dalam batas normal. Maka
pemeriksaan lanjutan yang anda anjurkan ?

A. CT angiografi arteri renalis

B. USG abdomen

C. MRI adrenal

D. Echocardiografi
10. Setelah dilakukan pemeriksaan. Didapatkan hasil Ureum 40 Cr 0.8; Urine metanefrin = 4520
mcg/24jam ( N <1300mcg/24jam). Tes fungsi tiroid dan lainnya dalam batas normal. Maka
pemeriksaan lanjutan yang anda anjurkan ?

A. CT angiografi arteri renalis

B. USG abdomen

C. MRI adrenal
D. Echocardiografi
11. Setelah dilakukan pemeriksaan
penunjang didapatkan hasil sbb.
Maka diagnosis pasien ini ?

A. Sindroma Cushing

B. Sindroma Conn

C. Feokromositoma

D. Incidentaloma
11. Setelah dilakukan pemeriksaan
penunjang didapatkan hasil sbb.
Maka diagnosis pasien ini ?

A. Sindroma Cushing

B. Sindroma Conn

C. Feokromositoma
D. Incidentaloma
TERIMA KASIH