Anda di halaman 1dari 15

IPC dan Stabilitas

Evaluasi IPC
1.Uji Penampilan
Uji penampilan dilakukan untuk mengamati ada tidaknya distribusi zat aktif yang tidak
merata, keretakan, lubang, eksudasi cairan, dan pembengkakan basis. Pengamatan
dilakukan secara organoleptik. Uji ini dilakukan dengan cara mengambil 10 supositoria,
kemudian diamati secara visual, meliputi homogenitas warna, bentuk sediaan, dan kondisi
permukaan supositoria. Untuk melihat ada-tidaknya migrasi zat aktif dilakukan dengan
memotong supositoria secara longitudinal lalu dilihat secara visual pada bagian internal dan
eksternal dan harus nampak seragam. Suppositoria yang baik memberikan penampilan
distribusi zat berkhasiat yang seragam pada semua bagian yang diamati (internal dan
eksternal), juga tidak terdapat keretakan atau lubang.
2. Keragaman Bobot (BP, 2009)
Uji keseragaman bobot memastikan supositoria yang dihasilkan memiliki bobot yang tidak
terlalu berbeda jauh. Bobot supositoria ditimbang masing-masing sebanyak 20 buah
dihitung bobot rata-rata dan simpangan baku relatifnya. Persyaratan pada suppositoria yang
dihasilkan yaitu tidak lebih dari 2 suppositoria yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-
rata lebih dari 5 % dan tidak satupun suppositoria yang bobotnya menyimpang dari 10%.
Evaluasi End Process Control (EPC) (FI IV, 1995)

Menurut Farmakope Indonesia suppositoria


yang sudah dicetak dapat dilakukan evaluasi
sebagai berikut :
a. Secara Fisika
b. Secara Kimia
Secara Fisika
1. Uji Kisaran Leleh
Uji kisaran meleleh dilakukan
dengan cara supositoria
dimasukkan ke dalam alat
disintegrasi tablet yang berisi 700
ml air dengan suhu yang
dipertahankan pada 37 ±0,5oC.
Supositoria dicelupkan seluruhnya Alat uji disintegran tablet USP
dalam penangas air yang konstan,
dan waktu yang diperlukan
supositoria untuk meleleh
sempurna atau menyebar dalam
air sekitarnya diukur.
2. Uji Kekerasan
Uji kekerasan dilakukan dengan menggunakan alat uji kekerasan supositoria
yang terdiri dari suatu ruang berdinding rangkap dimana suppositoria yang
diuji ditempatkan. Air pada 37oC dipompa melalui dinding rangkap ruang
tersebut, dan suppositoria diisikan ke dalam dinding dalam yang kering,
menopang lempeng dimana suatu batang dilekatkan. Ujung lain dari batang
tersebut terdiri dari lempeng lain dimana beban digunakan. Uji dihubungkan
dengan penempatan beban 600 g diatas lempeng datar pada alat uji sebagai
massa dan pada saat yang sama stopwatch dijalankan.
Setiap interval waktu 1 menit beban ditambahkan 200 g selama suopositoria
belum hancur. Stopwatch dihentikan bila supositoria sudah hancur yang
menandakan beban dimana suppositoria rusak adalah titik hancurnya atau
gaya yang menentukan karakteristik kekerasan dan kerapuhan suppositoria
tersebut. Beban maksimal yang ada dalam alat adalah 1600.
3. Uji Pencairan atau Uji Waktu Melunak dari Supositoria Rektal
Uji tersebut terdiri dari pipa-U yang sebagian dicelupkan ke dalam
penangas air yang bertemperatur konstan. Penyempitan pada satu
sisi menahan supositoria tersebut pada tempatnya dalam pipa.
Sebuah batangan dari kaca ditempatkan di bagian atas supositoria,
dan waktu yang diperlukan batangan untuk melewati supositoria
sampai penyempitan tersebut dicatat sebagai “waktu melunak”. Ini
dapat dilaksanakan pada berbagai temperatur dari 35,5 oC sampai
37 oC sebagai suatu pemeriksaan pengawasan mutu, dan dapat juga
dikaji sebagai suatu ukuran kestabilan fisika terhadap waktu. Suatu
penangas air dengan elemen pendingin dan penangas harus
digunakan untuk menjamin pengaturan panas dengan perbedaan
tidak lebih dari 0,1 o .
4. Uji Disolusi
Uji disolusi untuk sediaan suppositoria dilakukan dengan menggunakan alat uji
disolusi tipe dayung dengan langkah sebagai berikut:
• Ditimbang setiap sediaan suppositoria
• Media yang digunakan disetiap bejana pada dissolution bath sebanyak 900 mL
dengan suhu 37°C
• Setiap keranjang diisi dengan 1 sediaan suppos dan diatur rotasi 50 rpm.
• Diambil sampel sebanyak 5 mL dari media pada waktu • Time points: 15 min, 30
min, 60 min, 90 min, 120 min, 180 min, and 360 min..
• Setelah 60 menit, rotasi dinaikkan menjadi 150 rpm dan diambil 5 mL pada menit
ke 90.
• Setiap sampel disaring menggunakan Nylon syringe filter 0,45 dan dibuang
sebanyak 3 mL. Sisa dari sampel yang akan digunakan untuk analisis HPLC.
• Kemudian dilakukan perhitungan konsentrasi hidrokortison pada standar
(mg/ml) dan hidrokosrtison pada sampel (%).

Alat Uji Disolusi


Secara Kimia
1. Penetapan kadar
Penetapan kadar sediaan suppositoria dapat dilakukan dengan mencari
kadar zat aktif yang terkandung dalam sediaan suppositoria. Penetapan
jumlah kadar hidrokortison yang terlarut dilakukan dengan mengukur
serapan filtrat larutan uji dan serapan larutan baku hidrokortison pada
media yang sama dengan panjang gelombang serapan maximum 241 nm.
Alat yang digunakan adalah Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).

2. Identifikasi
Identifikasi pada sediaan supoositoria ini adalah bertujuan untuk
mengetahui senyawa-senyawa yang terkandung dalam sediaan. Paling
umum adalah identifikasi dengan analisa kualitatif dengan reaksi warna.
Stabilitas
Berdasarkan lamanya, uji stabilitas dibagi menjadi dua yakni uji stabilitas jangka pendek
(dipercepat) dan jangka panjang (real time study).
1. Uji stabilitas jangka pendek
Uji stabilitas jangka pendek dilakukan selama 6 bulan dengan kondisi ekstrim dengan
dinaikan suhu penimpanan dan RH nya (suhu 40±20°C dan RH 75± 5%). Pengujian
stabilitas dipercepat dapat menggunakan alat climatic chamber. Frekuensi pengujian
untuk kondisi penyimpanan pada uji stabilitas jangka pendek (dipercepat), dilakukan pada
minimal 3 titik masa/waktu, termasuk pada titik awal dan akhir. Interval pengujian
dilakukan pada bulan ke-0, -3 dan ke-6.
2. Uji stabilitas jangka panjang (real time study)
Uji stabilitas jangka panjang dilakukan sampai dengan waktu kadaluarsa produk seperti
yang tertera pada kemasan. Pengujian dilakukan setiap 3 bulan sekali pada tahun pertama
dan setiap 6 bulan sekali pada tahun kedua. Pada tahun ketiga dan seterusnya, pengujian
dilakukan setahun sekali hingga masa simpan yang telah ditetapkan. Untuk uji stabilitas
jangka panjang, sampel disimpan pada kondisi:
• Ruangan dengan suhu 30+-20C dan Rh 75+-5% untuk menyimpan produk-produk
dengan klaim penyimpanan pada suhu kamar.
• Ruangan dengan suhu 25+-20C dan Rh 75+-5% untuk menyimpan produk-produk
dengan klaim penyimpanan pada suhu sejuk.
Ruangan untuk uji stabilitas dibagi menjadi empat
bagian, yaitu:
1. Ruangan dengan suhu 40±20C dan Rh 75% ±5%
2. Ruangan dengan suhu 30±20C dan Rh 75 %±5%
3. Ruangan dengan suhu 25±20C dan Rh 40% ±5 %
4. Ruangan dengan suhu 40±20C dan Rh ≤ 35%
Alat Climatic Chamber

Uji stabilitas dilakukan dengan cara menempatkan sediaan suppositoria dalam dua
kondisi penyimpanan yang berbeda yaitu pada temperatur 25°C/kelembapan relatif
60% dan 40°C/kelembapan relatif 75% selama 2, 4, atau 6 minggu. Nilai perolehan
kembali (recovery) ≥ 90% ditetapkan sebagai indikator kestabilan yang diharapkan.
Kondisi Penyimpanan
Secara umum, produk obat jadi harus dievaluasi pada kondisi penyimpanannya
(dengan toleransi yang tepat), diuji stabilitasnya pada suhu penyimpanan sesuai
rekomendasi, sensitifitas terhadap kelembaban atau potensi kehilangan pelarut
(menguap). Kondisi penyimpanan dan lamanya studi yang dipilih harus cukup untuk
mencakup penyimpanan, pengiriman, dan penggunaan selanjutnya. Rekomendasi
kondisi spesifik terhadap suhu dan kelembaban relatif yang diterapkan pada
penyimpanan dalam uji stabilitas dan jenis sistem kemasan, ditetapkan berdasarkan
karakteristik produk dan jenis kemasan primer yang digunakan. Kondisi penyimpanan
dapat dilihat pada tabel berikut:
Produk yang peka terhadap panas, harus disimpan dalam kondisi suhu
rendah sehingga suhu tersebut digunakan untuk kondisi penyimpanan jangka
panjang. Suppositoria merupakan sediaan dengan formula yang tidak sesuai
untuk uji pada penyimpanan suhu tinggi, sehingga perlu dilakukan uji
stabilitas jangka panjang (real time). Bila menggunakan kondisi suhu rendah,
uji dipercepat dalam 6 bulan harus dilakukan pada suhu minimal 15C di atas
suhu penyimpanan yang ditentukan, demikian pula dengan kelembaban
relatif pada suhu tersebut.
Contoh, suatu produk yang disimpan pada lemari es (refrigerator) dalam
waktu lama, uji dipercepat harus dilakukan pada 25C ± 2C, 60% RH ± 5%
RH. Kondisi uji jangka panjang ditetapkan dan dinyatakan pada
penandaan/label dan masa simpan (masa kedaluwarsa). Jenis kondisi
penyimpanan yang direkomendasikan untuk uji stabilitas produk dengan
penyimpanan dalam lemari es (refrigerator), dapat dilihat pada tabel berikut:
Jika terjadi perubahan signifikan antara pengujian 3 dan 6 bulan pada kondisi
penyimpanan yang dipercepat, umur simpan yang diusulkan harus didasarkan pada
data jangka panjang. Ekstrapolasi dianggap tidak tepat. Selain itu, umur simpan yang
lebih pendek dari periode yang dicakup oleh data jangka panjang bisa disebut. Jika
data jangka panjang menunjukkan variabilitas, verifikasi umur simpan yang diusulkan
dengan analisis statistik dapat dilakukan.
Pada suatu obat, pernyataan penyimpanan harus dibuat untuk pelabelan sesuai dengan
persyaratan nasional/regional yang relevan. Pernyataan tersebut harus didasarkan pada
evaluasi stabilitas produk obat dengan adanya istilah seperti "kondisi ruangan" atau "suhu
ruangan" yang harus dihindari. Harus ada hubungan langsung antara pernyataan label dan
karakteristik stabilitas produk obat yang ditunjukkan. Kondisi penyimpanan (suhu, cahaya,
kelembaban) yang ditunjukkan harus mengacu pada persyaratan nasional / regional yang
relevan atau mengikuti rekomendasi di bawah ini. Kisaran harus didasarkan pada evaluasi
stabilitas produk obat seperti dibawah ini:
Pada prinsipnya Produk Obat harus dikemas dalam wadah yang menjamin
kestabilan dan melindungi Produk Obat dari kerusakan. Pernyataan penyimpanan
tidak boleh digunakan untuk mengkompensasi kemasan yang tidak memadai atau
inferior. Pernyataan pelabelan tambahan yang dapat digunakan dalam kasus di mana
hasil pengujian stabilitas menunjukkan faktor pembatas tercantum pada Tabel bawah
ini: