Anda di halaman 1dari 29

Diskusi Kasus

PSA Ganda
Geraldo arissaputra K
2017.07.2.0033
Journal case report

Sumber:
https://jurnal.ugm.ac.id/mkgi/article/view/16491/10
950
Data pasien
 Nama: -
 Alamat: -
 Jenis kelamin: perempuan
 Umur: 29 tahun
 Anamnesis:
 Keluhan utama: Gigi geraham kiri belakang kanan
berlubang
 Riwayat penyakit sistemik dan keadaan umum
lainnya/riwayat medis (Tidak diketahui)
 Riwayat penyakit sistemik dan keadaan umum
lainnya/ riwayat medis:
Gigi kanan bawah belakang berlubang sejak 1
tahun yang lalu, gigi tidak pernah terasa sakit, tetapi
berdarah pada waktu sikat gigi. gigi belum pernah
ditumpat

 Riwayat perawatan gigi dan mulut:


Belum pernah
 Pemeriksaan Ekstra Oral (tidak diketahui)
 Wajah: Simetri
 Pembengkakan regio: -
 Batas:-
 Warna: -
 Palpasi: -
 Suhu: -
 Pipi: -
 Bibir: -
 Sudut mulut: -
 Kelenjar submandibularis: -
 Kelenjar submentalis: -
 Leher: -
 Kelenjar getah bening: -
 Sendi temporomandibula: -
 Kelenjar parotis: -
 Kelenjar sublingualis: -
 Lain-lain: -
 Pemeriksaan penunjang:
 Periapikal: regio 46
 Hasil interpretasi foto:
 Mahkota: terdapat gambaran radiolusen pada mahkota distal
mengenai pulpa
 Periapikal dan furkasi: radiolusen pada akar mesial, distal dan
furkasi
 Lamina dura: menghilang di apikal distal, mesial dan furkasi
 Diagnosis: 46 Nekrosis pulpa dengan abses
periapikal dan fistula
 Terapi: 46 Perawatan saluran akar
 Keadaan umum pasien:
 Tanda-tanda vital
 Berat badan: -
 Tinggi badan: -
 Golongan darah: -
 Tekanan darah: -
 Nadi: -
 Pernafasan: -
 Suhu:-

 Riwayat sosial ekonomi: -


 Status fungsional: -
 Status spiritual dan kultural: -
 Status psikologi:
 Tidak ada nyeri
 Risiko jatuh:
 Kebutuhan edukasi:
Asesmen Konservasi
 Status Oklusi:
 Diastema: -
 Gigitan: -
 Hubungan gigi anterior: -
 Hubungan gigi posterior: -
 Riwayat kesehatan gigi:
 Perawatan gigi: belum pernah
 Riwayat gigi dan mulut:
 Elemen gigi: 46
 Rasa sakit: tidak ada
 Berdasar kuatlitas: -
 Berdasar onset: -
 Lokasi sakit: -
 Meningkat oleh karena: -
 Gigi karies
 Elemen gigi: 46
 Berdasar kedalaman: profunda
 Berdasar mount and hume: Site 2 size 4
 Berdasar GVBlack: klas II
 Berdasar ICDAS: Score D6
 Fraktur pada mahkota: tidak ada
 Klasifikasi fraktur: -
 Gigi perforasi oleh karena: Karies
 Gigi berubah warna: tidak ada
 Perkusi: negatif
 Bite test: -
 Polip: ada, Gingiva
 Gigi goyang: -
 Tes vitalitas (tidak dilakukan)
 EPT: -
 Tes termal: -
 Tes kavitas: -
 Tes penunjang: -
 Vitalitas: -
Tahapan pengerjaan
 Anestesi infiltrasi pada bagian bukal gigi 46 dan
gingival polip di eksisi dengan scalpel, kemudian
luka di tekan menggunakan tampon yang sudah
diberi yon gliceryn
Pembuatan cavity entrance dan
mencari orifice
 Pembungan karies dengan round bur kecil dan
pembukaan akses dengan bur endoacces sampai
mencapai ruang pulpa
 Pembukaan atap ruang pulpa diteruskan dengan
diamond bur sampai akses masuk ke orifice terbuka
 Buat dinding (rewalling) didaerah distal
menggunakan matriks dan RMGIC (Resin modified
glass ionomer cement)
 Orifice ditutup dengan paper point kemudian
pasang isolator karet (rubberdam) pada daerah kerja
Preparasi 2/3 koronal SL
 Preparasi2/3 dari Panjang kerja estimasi
 Gunakan k file #10 kemudian 15# pada saluran
akar mesiobukal, mesiolingual, dan distal
 Selanjutnya dengan teknik Crown down pelebaran
menggunakan file protapper hand use S1
kemudian S2 pada setiap saluran akar
 Tiap pergantian file diirigrasi menggunakan
NaOCL 2,5% sebanyak 2,5 ml
Penentuan panjang kerja
 Penentuan panjang kerja dengan menggunakan foto radiografi dan dapat dikonfirmasi
dengan apex locator.
 K file #20 dimasukan ke SA distal
 K file #15 dimasukan ke SA mesiobukal
 K file #15 ke mesiolingual
 Diukur sesuai dengan panjang kerja estimasi masing-masing, kemudian diberi rubber
stopper. Setelah itu diambil gambaran radiograf sehingga panjang kerja sebenarnya
dapat ditentukan
 Hasil PK distal 23mm, mesiobukal dan mesiolingual 22mm
Preparasi 1/3 apikal SL
 Preparasi sesuai dengan panjang kerja tiap saluran
akar dimulai dari k file #10,#15 kemudian
protapper S1, S2, F1, F2 dan diakhiri k file #25
 Setiap pergantian file diirigrasi dengan larutan
NaOCL 2.5% sebanyak 2,5 ml dan file dilumasi
EDTA
Trial gutap
 Pengepasan gutap perca #F2 yang ditandai sesuai panjang
kerja masing-masing untuk tiap saluran akar, kemudian
dilakukan pengambilan foto radiografi periapikal
Sterilisasi saluran akar
 Sterilisasiintrakanal menggunakan kalsium
hidroksida (CaOH2) yang dimasukan
menggunakan tip 3mm diatas panjang kerja
kemudian deponir perlahan sambil ditarik,
kemudian kavitas ditutup restorasi sementara dan
kontrol setelah 2 minggu
 Pada jurnal case report tidak dilakukan strerilisasi
saluran akar menggunakan CaOH2. Saluran akar
didesinfeksi dengan klorheksidin 2% selama 1
menit
Pengisian saluran akar
 Teknik obturasi single cone
 Gutap perca distrelisisasi dengan dicelupkan ke dalam larutan
NaOCL 2.5% selama 1 menit kemudian di bilas
menggunakan aquadest steril
 Sealer (endometason dan eugenol) dimasukan ke dalam
saluran akar menggunakan lentulo yang dipasang rubber
stopper sesuai panjang kerja dengan arah berlawanan jarum
jam
 Kemudian guta perca dikondensasikan dalam saluran dan
dipotong dibawah orifice 1-2mm dengan eskavator
 Pemeriksaan hasil obturasi saluran akar dengan pengambilan
radiografi, hasil menunjukan pengisian yang hermetis, setelah
itu orifice ditutup dengan basis dan tumpatan sementara
Kontrol
 Kontrol dilakukan 2 minggu kemudian
 Pemeriksaan subjektif: tidak ada keluhan sakit
 Pemeriksaan obyektif: tumpatan sementara masih utuh , perkusi (-), fistula
(-)
 Pemeriksaan radiografi: masih terlihat rambaran radiolusen pada furkasi dan
sekitar akar mesial
 Dilanjutkan preparasi onlay PFM

 Kontrol ke II dilakukan 2 bulan setelah kontol I, Insersi Onlay PFM

 Kontrol III dilakukan 2 bulan setelah kontrol II.


 Pemeriksaan subyektif tidak adakeluhan
 Pemeriksaan obyektif: restorasi onlay utuh, oklusi baik, perkusi (-) palpasi
ada jaringan pendukung
 Radiografi: masih terlihat sedikit gambaran radiolusen
Tugas
 Perbedaan gingiva polip dan pulpa polip? Dari foto Ro
gmn?
 Macam-macam obat strelisisai dan durasi nya
 Perbedaan Ca(OH)2 untuk PC, strelisasi SA, Pengisian
SA
 CaOH2 sterlissasi efek apa aja? Bakteriostatik atau
bakteriosida?
 Cara strelisasi
 Cara irigrasi? konsentrasi berpengaruh? Alat bahan
yang dipakai?
 NaOCL 2.5 konsentrasi kenapa? Harusnya konsentrasi
mulai dari brp?
Perbedaan pulpa polip dan gingiva
polip?
 Tekstur: Pulpa polip lebih kasar, polip gingiva halus seperti gingiva
 Warna: pulpa polip warna merah tua dan gelap, gingiva polip:
merah muda
 Lokasi: pulpa polip: berada di tengah gigi yang perforasi, gingiva
polip: berasal dari gingiva umumnya pada proximal atau furkasi (-)
 Kepekaan: pulpa polip mudah berdarah, gingiva polip tidak mudah
berdarah
 Vitalitas: pulpa polip (+), gingiva polip (+/-)
Macam-macam obat sterilisasi dan durasi
 Golongan fenol
 Fenol
 paraklorofenol
 cmcp
 Chkm
 Masa aktif 3-7 hari
 Chresophene
 Masa aktif 3-7 hari
 Cresatine
 Pulperil
 Aldehid
 TKF (Trikresol formalin)
 Formokresol
 Halogen
 Golongan antibiotik
 CaOH
 Masa aktif 7-14 hari
 Minyak esensial: eugenol
 Masa aktif 3 hari, halangi impuls saraf
Perbedaan CaOH2 untuk PC,stelisisasi
SA, dan pengisian SA
 PC: CaOH terdiri dari 2 sediaan yaitu base dan katalis, dgn
merk dagang dycal
 Base: CaOH 50%, Zinc oxide 10%, sulfoamide 40%
 Katalis: Butylene glycol disalsilat 40% dan kalsium sulfat ->
untuk mineralisasi dan membantu kalsifikasi
 Sterilisasi: sediaan pasta, merk dagang metapex (Caoh2 dan
iodiform)
 Terdapat analgesik, antiseptik, dan definsektan)
 Pengisian SA: merk dagang AH plus (CaOh + ca tungsen)
 Terdapat tungsen sehinga tampak radiopak pada foto radiogarfi
 Terdapat resin +formaldehide untuk membentuk sementum
Efek CaOH
 Bakteriosidal
 Ion OH merusak dinding sel bakteri (LPS) sehingga bakteri
lisis
 Ion Ca beperan dalam pembentukan jaringan keras,
diferensiasi sel-sel dan aktivasi makrofag
 PH tinggi (basa kuat 12.5-12.8) dapat menetralkan ph
bakteri yang asam sehingga kondisi ph netral dan ideal
untuk healing jaringan
 CaOH sulit larut dan berdifusi dalam saluran akar sehingga
sitotoksisitasnya hanya terbatas pada jaringan yang kontak
Cara sterilisasi
 Keringkan saluran akar
 CaOH2 dimasukan dengan syringe tip 3 mm
dibawah panjang kerja kemudian deponir perlahan
sambil di tarik
Bahan irigrasi dan konsentrasi
berpengaruh? Bahan yang dipakai?
 H2O2 3%
 Chlorhexidin 2%
 NaOCL 2,5% , 5.25% untuk SVE
 Urea peroxide 10%
 Ultrasonic irrigation
 Newer irrigant
 Normal saline 0.9%
 Aquadest steril H20
 Iodin 1.5%
 Urea 30%
 Edta 17%

 Konsentrasi tinggi -> makin efektif -> makin toksik


Mengapa konsentrasi NaOCL 2.5%?
Dan mulai konsenstrasi berapa?
 Mulai konsentrasi 0.5 – 5.25%
 2.5% karena efek antimikrobial dan efek
melarutkan jaringan organik
 Konsentrasi semakin tinggi, efek nya semakin
meningkat dan semakin cepat
Cara irigrasi
 Menggunakan jarum close ended side vented no.25-27
 Jarum di bengkokan 30 derajat
 Masukan larutan ke dalam SA secara pasif dan perlahan
 Jarum tidak boleh nyangkut di SA dan harus ada back
flow
 Masukan ujung jarum sampai terasa tahanan
 Tarik 2-3 mm
 Irigrasi SA secara pasif sambil ditarik keluar
 Bersihkan cairan irigrasi SA dengan paper point