Anda di halaman 1dari 13

FARMASI

SOSIAL
(Social Pharmacy)

Disusun oleh
MUHAMMAD SYAMSIR MURSALI(O1A118175)
Pengertian Farmasi
 Farmasi adalah suatu profesi yang berkaitan dengan kesehatan
yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan kesehatan dan kimia.
 Farmasi adalah suatu profesi di bidang kesehatan yang meliputi
kegiatan-kegiatan di bidang penemuan, pengembangan,
produksi, pengolahan, peracikan, dan distribusi obat.
 Dalam ilmu farmasi ada empat bidang yang dipelajari, yaitu
farmasi klinik, farmasi industri, farmasi sains, dan farmasi obat
tradisional. Kemampuan penunjang yang harus dimiliki adalah
senang dan familiar dengan fisika, kimia, biologi, dan
matematika; ketelitian dan kecermatan; hapalan dan
kemampuan analisa; dan suka bekerjadi laboraturium.
Latar Belakang
 Perubahan orientasi praktek kefarmasian dari product
oriented ke patient oriented menuntut adaptasi dari perguruan tinggi
dan apoteker yang telah bekerja untuk terus berbenah dan melengkapi
diri agar mampu berperan maksimal dalam meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat. Perubahan orientasi ini mengharuskan apoteker
untuk memiliki peran yang lebih luas dari hulu ke hilir mulai dari
pembuatan, pengawasan, penyerahan hingga pemastian bahwa obat
yang akan digunakan oleh pasien memenuhi prinsip-prinsip
rasionalitas. Hal ini berarti bahwa apoteker wajib berinteraksi dengan
pasien dalam rangka memberikan informasi yang tepat terhadap obat
yang akan digunakan oleh pasien. Untuk menjalankan peran ini maka
setiap apoteker tidak hanya dilengkapi dengan ilmu-ilmu alam (natural
sciences),  analisis farmasi, dan teknologi farmasi tetapi lebih dari itu,
apoteker juga diwajibkan menguasai farmasi klinik dan farmasi sosial.
Sejarah dan Pengertian

 Di Eropa dan Amerika kesadaran untuk memperkaya kurikulum


apoteker dengan aspek-aspek farmasi sosial telah dimulai pada
tahun 80-an. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa pengetahuan-
pengetahuan dasar farmasi dirasakan tidak cukup mendukung
orientasi apoteker yang telah mengarah pada pasien. Peran baru
ini menyebabkan apoteker akan berada pada lingkungan praktek
baru yang menuntut interaksi dengan pasien dan tenaga
kesehatan lainnya. Oleh karena itu, apoteker harus dilengkapi
dengan kemampuan yang dapat memaksimalkan peran apoteker
dalam lingkungan sosial ini. Disinilah farmasi sosial muncul
sebagai isu utama untuk menjawab tantangan ini.
 Pada awalnya, sekitar dua dekade lalu, farmasi sosial
disinonimkan dengan farmakoepidemologi dan disitribusi
sosial/demografi penggunaan obat. Tetapi saat ini, cakupan
farmasi sosial menjadi lebih luas dan tidak hanya dibatasi
oleh pemetaan distribusi obat pada sebuah populasi.
 Untuk mencapai hasil yang optimum dalam asuhan
kefarmasian (pharmaceutical care) apoteker harus memiliki
pemahaman mengenai aspek psikologi dan perilaku
(behaviour) dari pasien dan tenaga kesehatan lainnya. Konsep
ilmu psikologi dan prilaku inilah yang menjadi konsep
fundamental dari ilmu farmasi sosial.
Lanjutan
 Dalam farmasi sosial, pengobatan dilihat dari persepektif sains,
sosial dan humanistik. Farmasi sosial mencakup semua faktor-
faktor sosial yang mempengaruhi penggunaan obat seperti
kepercayaan pasien terhadap obat, regulasi, kebijakan, perilaku,
informasi obat, dan etik. Bahkan Schafer, dkk (1992) memberikan
pengertian yang lebih luas dengan merumuskan farmasi sosial
sebagai berikut :
 “The endeavor to integrate drugs into a broader perspective
and to include legal, ethical, economic, political, social,
communicative, and psychological aspects into their evaluation
in order to contribute to the safe and rational use of drugs”
 Upaya ini untuk mengintegrasikan obat ke dalam
perspektif yang lebih luas dan mencakup, etika,
ekonomi, aspek politik, sosial, komunikatif, dan
psikologis hukum dalam evaluasi mereka untuk
berkontribusi pada penggunaan yang aman dan
obat rasional
Posisi Farmasi sosial dalam Ilmu Farmasi

 Untuk menjelaskan dimana dan bagaimana kedudukan farmasi


sosial dalam rumpun kelimuan bagan yang dapat diambil
adalah yang disediakan oleh Sorensen dkk (2003).
 Dalam bagan ini diilustrasikan bahwa farmasi klinik menjadi jembatan yang
overlap sekaligus menghubungkan antara ilmu alam dan farmasi sosial. Dalam
bagan ini juga diketahui bahwa farmasi sosial memiliki hubungan yang erat
dengan praktek kefarmasian. Dan juga dapat dikatakan farmasi sosial menjadi
penyempurna ilmu kefarmasian.
 Pengetahuan yang berasal dari farmasi sosial dapat membantu pengembangan
kemampuan personal dan interpersonal apoteker sehingga mampu memberikan
komunikasi dan konseling yang efektif dalam rangka meningkatkan kualitas
pengobatan. Farmasi sosial juga diharapkan dapat membantu apoteker dalam
meningkatkan profesionalisme dan kualitas kepemimpinannya.
 Dalam bagan ini diilustrasikan bahwa farmasi klinik menjadi jembatan yang
overlap sekaligus menghubungkan antara ilmu alam dan farmasi sosial. Dalam
bagan ini juga diketahui bahwa farmasi sosial memiliki hubungan yang erat
dengan praktek kefarmasian. Dan juga dapat dikatakan farmasi sosial menjadi
penyempurna ilmu kefarmasian.
 Pengetahuan yang berasal dari farmasi sosial dapat membantu pengembangan
kemampuan personal dan interpersonal apoteker sehingga mampu memberikan
komunikasi dan konseling yang efektif dalam rangka meningkatkan kualitas
pengobatan. Farmasi sosial juga diharapkan dapat membantu apoteker dalam
meningkatkan profesionalisme dan kualitas kepemimpinannya.
Sillabus dan Ruang Lingkup Penelitian Farmasi Sosial

 Sillabus Farmasi Sosial


 Dalam kurikulum PTF, farmasi sosial dapat disajikan dalam sebuah
mata kuliah atau dalam bentuk beberapa mata kuliah tergantung
pada kebutuhan dan kondisi dunia kefarmasian di negara/daerah
PTF tersebut berada. Umumnya farmasi sosial mencakup
farmakoekonomi, farmakovigilance/farmakoepidemologi, statistik
farmasi, farmakoinformatik, ilmu kesehatan masyarakat,
komunikasi, administrasi farmasi, manajemen farmasi, marketing,
penilaian kualitas hidup,  aspek sosiobehavioral dalam dunia
kesehatan dan farmasi, Good Pharmacy Practice in Community and
Hospital Pharmacy Settings, Good Pharmacy Education Practice,
dan promosi kesehatan.
  Ruang lingkup penelitian
       
 Penelitian dalam farmasi sosial dihubungkan dengan bidang yang lebih
luas yang dikenal dengan penelitian pelayanan kesehatan (health
services reserach). Hubungan ini memperlihatkan bahwa bidang aplikasi
penelitian farmasi sosial menekankan pada pemahaman dan peningkatan
kualitas praktek kefarmasian dan penggunaan obat. Penelitian dibidang
ini sangat penting karena seperti yang diketahui bersama bahwa praktek
kefarmasian harus didasarkan pada bukti ilmiah (evidence-based) dan
menggunakan cara-cara terbaik sehingga praktek kefarmasian harus
selalu dievaluasi dan hasil evaluasinya harus segera diimplementasikan.
Hasil dari penelitian ini juga dapat dijadikan dasar oleh penentu
kebijakan dalam menetapkan regulasi yang terkait dengan pelayanan
kesehatan.
 Penelitian dibidang farmasi sosial dapat dilakukan secara
kuantitatif (survei) dan kualitatif seperti wawancara,
diskusi, dan pengamatan/observasi.
 Beberapa ruang lingkup penelitian farmasi sosial sebagai
berikut :
 Farmakoepidemologi, farmakoekonomi, penelitian
dibidang kebijakan dan pelayanan kesehatan, bioetik dan
aspek sosiobehavioral penggunaan obat, pharmaceutical
marketing, drug financing & quality of life studies,
interaksi apoteker dan tenaga kesehatan lain.