Anda di halaman 1dari 29

KEBIJAKAN TEKNIS OPERASIONAL

PELAYANAN KESEHATAN HAJI


TAHUN 2020

PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN


DINAS KESEHATAN

Bambang Ruswanto, SKM, M.Kes


Ka.bid
P2P Dinkes Kab. Pekalongan 1
DASAR HUKUM
1. Undang – Undang No. 2 Tahun 1962 Tentang Karantina Udara
2. Undang-Undang Nomor: 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah
Haji
3. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
4. Undang-Undang No.23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah
5. Permenkes No.62 Tahun 2016 Tentang Pedoman Penyelenggaraan
Kesehatan Haji.
6. PMK No 15 Tahun 2016 Tentang Istithaah Kesehatan
7. UU Nomor 8 tahun 2019 Tentang penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umroh
ESTIMASI JEMAAH CALON HAJI KABUPATEN PEKALONGAN
TAHUN 1441H /2020 M

1. L : 442
ESTIMASI BERANGKAT pada
JEMAAH CALON HAJI 2. P : 368
1441/2020 : 729
2020 AKTIF 3. MENURUT USIA :
810 ORANG ≤ 40 TH : 130
Jamaah Risti : 354
40-59 TH : 459
60 KE ATAS : 221

JH YG SDH DIPERIKSA 676

Kloter 1 Gel 1 : 25 Juni 2020


Data Siskohatkes + Kemenag 2020
PENYELENGGARAAN KESEHATAN HAJI
UU no.8 tahun 2019
MOBILITAS IBADAH HAJI

8 hari Madinah

22 hari Makkah + 5 hari


ArMuna

Bus 6 jam
1 hari (pulang)

pe
sa jam
w
at
8-
10
pesaw
at
8- 1 0
jam INDONESIA
KEBIJAKAN TEKNIS OPERASIONAL
1. Jemaah Haji yang diberangkatkan memenuhi Istithaan Kesehatan
2. Untuk mencapai Istithaah Kesehatan Jemaah Haji wajib dilakukan
pemeriksaan dan Pembinaan Kesehatan
3. Dalam rangka mencapai Istithaah Kesehatan Jemaah Haji, pemeriksaan
kesehatan dilakukan melalui 3 tahap
4. Pembinaan Kesehatan Haji dilakukan untuk Jemaah Haji masa tunggu dan
Jemaah Haji pada masa keberangkatan
5. Jemaah Haji Istithaah ditetapkan didaerah sebelum masuk Embarkasi
6. Penetapatan Istithaah Kes Jemaah Haji oleh Tim Kesehatan Kab/Kota
7. Pemeriksaan tahap III di Embarkasi untuk menetapkan status Laik terbang
atau tidak laik terbang  standar keselematan penerbangan
TUJUAN UMUM PENYELENGGARAAN
KESEHATAN HAJI

Peran Puskes, Dinkes


Meningkatkan Kondisi Kesehatan Jemaah Haji sebelum
1 Kab/Kota dan Dinkes
Keberangkatan Provinsi

Menjaga agar Jemaah Haji dalam kondisi sehat selama Peran


2
menunaikan ibadah haji, sampai kembali ke Tanah Air TKHI & PPIH
DLL

Mencegaah terjadinya transmisi penyakit menular, yang Peran


3 Puskesmas Kab/Ko
mungkin terbawa keluar/ masuk oleh Jemaah Haji. dan PPIH
Embar/Debar
ISTITHA’AH KESEHATAN HAJI SYARAT IBADAH HAJI

Istitha’ah Kesehatan sebagai syarat wajib untuk melaksanakan Ibadah Haji .


1. ISLAM
2. BERAKAL/ TIDAK HILANG INGATAN
3. DEWASA/ BALIGH
SYARAT 4. MERDEKA
HAJI 5. ISTITHAAH (MAMPU)
Istithhaah Mempunyai Makna Kemapuan /
Kekuatan .

MAKA
Individu yang tidak termasuk dalam kriteria
tersebut maka tidak ada kewajiban untuk
melaskanakan Ibadah Haji (Gugur Kewajiban)
PENGERTIAN ISTHITHA’AH KESEHATAN
1. Istithaah adalah kemampuan Jemaah Haji secara jasmaniah, ruhaniah,
pembekalan dan keamanan untuk menunaikan ibadah haji tanpa menelantarkan
kewajiban terhadap keluarga
2. Istithaah Kesehatan Jemaah Haji adalah kemampuan Jemaah Haji dari aspek kesehatan yang
meliputi fisik dan mental yang terukur dengan pemeriksaan kes yang dapat
dipertanggungjawabkan sehingga Jemaah Haji dapat menjalankan ibadahnya sesuai tuntunan
Agama Islam.
3. Harus dilakukan pemeriksaan kesehatan dan pembinaan kesehatan terhadap Jemaah haji
sehingga mencapai Istithaah Kesehatan Haji
ISTITHAAH DIJADIKAN SYARAT DALAM PELUNASAN BPIH

1. Istithaah merupakan syarat wajib  Permenkes No.15 tahun 2016 ttg Istithaah
Kesehatan Haji
2. Surat Edaran Dirjen PHU Kemenag RI  mendukung pelaksanaan pembinaan
dan pemeriksaan Kesehatan Jemaah Haji menuju Istithaah.
3. Istithaah dijadikan syarat pelunasan, sehingga Jemaah Haji (JH) yang TIDAK
MEMENUHI ISTITHAAH KESEHATAN  Tidak diberikan kesempatan untuk
melunasi BPIH, tidak divaksinasi meningitis dan tidak diberikan SPMA
4. Pola Kesehatan Jemaah Haji  tanggung jawab penuh KEMENKES & Jajaranya
(Kabupaten/Kota)  Koordinasi dan peningkatan Kapasitas Kesehatan Haji di
Kab/Kota
PROSEDUR PELAYANAN KESEHATAN JAMAAH HAJI
1. Memenuhi Syarat
2. Memenuhi Syarat
dengan Pendampingan
TPKH DAERAH 3. Tidak Memenuhi
PUSKESMAS Syarat Sementara
RUMAH SAKIT 4. Tidak Memenuhi
Syarat PPIH EMBARKASI
PENDAFTARAN

NOMER

PENERBANGAN
PORSI

ARAB SAUDI

SURVEILANS
DEBARKASI
PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN KEDUA PEMERIKSAAN KETIGA
PERTAMA
BERANGKAT

STATUS KESEHATAN : TPKH DAERAH STATUS KESEHATAN :


1.RESIKO TINGGI PUSKESMAS 1.LAIK TERBANG
2.TIDAK RISTI RUMAH SAKIT 2.TIDAK LAIK TERBANG
PEMERIKSAAN KESEHATAN DALAM RANGKA
ISTITHAAH KESEHATAN JEMAAH HAJI

1 Pemeriksaan Kesehatan
Tahap I
2
Pemeriksaan Kesehatan
Tahap II
3 Pemeriksaan Kesehatan
Tahap III

Dilaksanakan oleh Tim


Penyelenggara Kesehatan Haji
Kabupaten/Kota di Puskesmas Dilaksanakan oleh Tim
dan/atau Rumah Sakit pada saat Penyelenggara Kesehatan Haji
Jemaah Haji melakukan Kabupaten/Kota di Puskesmas Dilaksanakan oleh PPIH
pendaftaran untuk dan/atau Rumah Sakit pada saat Embarkasi Bidang Kesehatan di
mendapatkan nomor porsi. Pemerintah telah menentukan Embarkasi pada saat Jemaah
kepastian keberangkatan Haji menjelang Keberangkatan.
Jamaah Haji pada tahun
berjalan.
PERMENKES NOMOR : 15 TAHUN 2016

HASIL PEMERIKSAAN KESEHATAN


EMPAT KRITERIA PENETAPAN STATUS
ISTITHAAH KESEHATAN

1 2 3 4

MEMENUHI SYARAT TIDAK MEMENUHI SYARAT TIDAK MEMENUHI SYARAT


MEMENUHI SYARAT
KES.HAJI DENGAN ISTITHOOAH KESEHATAN ISTITHAAH KESEHATAN
ISTITHAAH KES.HAJI
PENDAMPINGAN HAJI UNTUK SEMENTARA HAJI
1. Memenuhi Persyaratan Istithaah Kesehatan Haji

1. Jemaah Haji yang memiliki kemampuan mengikuti proses ibadah


haji tanpa bantuan obat, alat, dan/atau orang lain dengan
tingkat kebugaran jasmani setidaknya dengan kategori cukup,
merupakan hasil pemeriksaan kebugaran yang disesuaikan
dengan karakteristik individu Jemaah Haji

2. Jemaah Haji yang masuk kriteria ini wajib berperan aktif dalam
kegiatan promotif dan preventif
2. Memenuhi Syarat Istithaah
Kesehatan Haji dengan pendampingan

a. Berusia 60 tahun atau lebih obat, alat, orang Usia


> 75 tahun orang

b. Menderita penyakit tertentu yang tidak masuk dalam


kriteria yang tidak memenuhi syarat Istithaah
sementara dan/atau tidak memenuhi syarat Istithaah
3. Tidak Memenuhi Syarat Istithaah Kesehatan

Haji untuk Sementara


a. Tidak memiliki sertifikat vaksinasi Internasional (ICV) yang sah
b. Menderita penyakit tertentu yang berpeluang sembuh
c. Suspek dan/atau konfirm penyakit menular yang berpotensi
wabah
d. Psikosis Akut
e. Fraktur tungkai yang membutuhkan Immobilisasi
f. Fraktur tulang belakang tanpa komplikasi neurologis
g. Hamil yang diprediksi usia kehamilannya pada saat
keberangkatan kurang dari 14 minggu atau lebih dari 26 minggu
4. Tidak Memenuhi Syarat Istithaah Kesehatan Haji

a. Kondisi klinis yang dapat mengancam jiwa


b. Gangguan jiwa berat
c. Jemaah dengan penyakit yang sulit diharapkan
kesembuhannya
Kondisi klinis yang dapat mengancam jiwa

1. Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) derajat IV


2. Gagal Jantung Stadium IV
3. Chronic Kidney Disease Stadium IV dengan
peritoneal dialysis/hemodialisis reguler
4. AIDS stadium IV dengan infeksi oportunistik
5. Stroke Haemorhagic luas;
Gangguan jiwa berat antara lain:
1. skizofrenia berat
2. dimensia berat
3. retardasi mental berat;

Jemaah dengan penyakit yang sulit diharapkan


kesembuhannya, antara lain:
1. Keganasan stadium akhir,
2. Tuberculosis Totaly Drugs Resistance (TDR)
3. sirosis atau hepatoma decompensata.
PEMERIKSAAN KESEHATAN PERTAMA

1. Dilakukan oleh Tim Penyelenggara Kesehatan Haji Kabupaten/Kota di


Puskesmas dan/atau Rumah Sakit
2. Dilakukan pada saat jemaah Haji melakukan pendaftaran untuk
mendapatkan nomor porsi
3. Outputnya menghasilkan penetapan status kesehatan Jemaah Haji
Risiko Tinggi atau tidak Risiko Tinggi
4. Kriteria status kesehatan Jemaah Haji Risiko Tinggi :
a. berusia 60 tahun atau lebih
b. memiliki faktor risiko kesehatan dan gangguan kesehatan yang
potensial menyebabkan keterbatasan dalam melaksanakan ibadah
haji
STANDAR PEMERIKSAAN KES.TAHAP PERTAMA
1. Anamnesa (Identitas, tgl.lahir, jenis kelamin, alamat, status , tgl.pemkes)
2. Pemeriksaan Fisik ( tanda vital, Postur tubuh, ispeksi palpasi dsb)
3. Pemeriksaan Penunjang (Gol.darah, darah lengkap, GDS, kolesterol, urine
lengkap (warna, kejernihan,bau, sedimen , glokusa urin , protein urin),
Rontgen dan Elektronikkardiografi )
4. Penetapan Diagnosis
5. Output : Penetapatan tingkat risiko kesehatan & Rekomend TL
(pengendalian faktor risiko) dalam bentuk Surat Keterangan Kesehatan
6. Rekomendasi atau tindak lanjut
7. Pembinnaan masa tunggu meliputi Pembimbingan Kesehatan dan
Penyuluhan Kesehatan
8. Cakupan 90% , JH yg akan berangkat 2 tahun masa tunggu
PEMERIKSAAN KESEHATAN KEDUA
1. Dilaksanakan oleh Tim Penyelenggara Kesehatan Haji Kabupaten/Kota di
puskesmas dan/atau rumah sakit.
2. Dilakukan pada saat pemerintah telah menentukan kepastian
keberangkatan Jemaah Haji pada tahun berjalan
3. Ouput menghasilkan Istithaah Kesehatan Jemaah Haji meliputi:
a. Memenuhi Syarat Istithaah Kesehatan Haji (dulu Mandiri)
b. Memenuhi Syarat Istithaah Kesehatan Haji dengan Pendampingan (dulu
Observasi dan Pengawasan)
c. Tidak Memenuhi Syarat Istithaah Kesehatan Haji untuk Sementara (dulu
Tunda)
d. Tidak Memenuhi Syarat Istithaah Kesehatan Haji
STANDAR PEMERIKSAAN KES.TAHAP KEDUA
1. Anamnesa
2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan Penunjang (Rongent, EKG, Laborat )
4. Hasil dan Rekomendasi Dokter Spesialis
5. Penetapatan Diagonosis
6. Penetapan Istithaah Kesehatan Jemaah Haji 1 bulan sblm kloter
pertama masuk embarkasi (dalam bentuk Berita Acara )
7. Rekomendasi dan tindak lanjut
8. Jemaah Haji wajib dilakukan pembinaan , dg nama Pembinaan masa
keberangkatan & pengukuran kebugaran
9. Cakupan 100% , JH yg akan berangkat tahun berjalan
10.Penandaan gelang bagi Jemaah Haji Risti
11.Jemaah Haji mendapat dokomen kesehatan (e.BKJH)
PEMERIKSAAN KESEHATAN KETIGA

1. Dilaksanakan oleh PPIH Embarkasi Bidang Kesehatan di embarkasi


pada saat Jemaah Haji menjelang pemberangkatan.
2. Outputnyadilakukan untuk menetapkan status kesehatan
Jemaah Haji laik atau tidak laik terbang
3. Jemaah Haji yang ditetapkan tidak laik terbang merupakan Jemaah
Haji dengan kondisi yang tidak memenuhi standar keselamatan
penerbangan internasional dan/atau peraturan kesehatan
International.
INDIKATOR PROGRAM KESEHATAN HAJI
1. Indikator Pemeriksaan Kesehatan tahap pertama 90% Jemaah Haji yg akan
melakukan setoran awal/telah memiliki nomor porsi dilakukan pemeriksaan
kesehatan pertama untuk penentuan tingkat risiko kesehatan,
denominatornya jumlah JH yang akan berangkat 2 (dua) tahun mendatang
setelah tahun berjalan.
2. Pembinaan masa tunggu, setidaknya 90% JH telah mengikuti pembinaan
kesehatan haji di masa tunggu, akses minimal 4 kali.
3. Pemeriksaan Kesehatan JH masa keberangkatan adalah 100% , dimana JH
yang akan berangkat thn berjalan diperiksa semuanya.
4. Seratus persen (100%) JH yg akan berangkatn dilakukan Pembinaan/
manasik Kesehatan termasuk pengukuran kebugaran.
5. Jemaah Haji yang berangkat ke Embarkasi status Istithaah Kesehatan
REKOMENDASI
1. PENGUATAN KOORDINASI TERPADU DAN TERSTRUKTUR ( antara Kemenag,
Pemerintah Prov, Kab/Kota dan Dinas Kesehatan ,Kandepag dan KBIH untuk
MEMBERIKAN PELAYANAN YANG TERBAIK DENGAN OPTIMAL dalam pelayanan
Haji ) MEMAMPUKAN CALON JAMAAH HAJI
2. SKD / PENGUKURAN dan pembinaan kebugaran calon jamaah haji secara dini
baik yang masuk daftar tunggu maupun daftar masa keberangkatan (dua tahun)
3. PELAKSANAAN Kegiatan pengukuran dan pembinaan kebugaran di level
Puskesmas sebagai satu kesatuan dari paradigma baru pelayanan kesehatan HAJI
dengan PENDEKATAN KELUARGA KESJA OR.
4. PENINGKATAN pembinaan terpadu Manasik Haji dan Manasik Kesehatan dapat
dilaksanakan ditingkat Kecamatan dan Kabupaten  kuat pada manasik Haji oleh
KBIH
4. KOORDINASI antara Dinas Kesehatan/LP Terkait dan Kemenag untuk
mendapatkan daftar jama’ah berangkat 2018 seawal mungkin
5. Mapping domisili jema’ah sesuai wilayah puskesmas pelaksanan
pemeriksaan dan pembinaan kesehatanPENGAWALAN RISTI
6. Melaksanakan pemeriksaan kesehatan calon jema’ah haji dengan
LENGKAP OPTIMAL tahap ( TAHAP 1.2.3 )
7. Melakukan pembinaan KESEHATAN TERPADU TERSTRUKTUR, KUA,
KBIH dan Puskesmas pendekatan keluarga dan atau orang yang
sudah berhaji
8. PENETAPAN status Istithaah Kesehatan 3 bulan sebelum pelunasan
BPIH Surveilans ketat
9. Tidak ada KASUS MENGINITIS Pasca Haji  14 hari SURVEILANS
KETAT
WANITA HAMIL
1. Ada dua kriteria seseorang yang sedang hamil tidak diizinkan berangkat, pertama
usia kandungan di bawah 14 minggu dan di atas 26 minggu, kemudian belum
melakukan vaksin meningitis.
2. Bila usia kandungannya antara 14 sampai 26 minggu dan sudah divaksin
meningitis maka tetap diizinkan berangkat menunaikan ibadah haji
3. Alasan utama bagi seseorang yang hamil dilarang terbang, karena sangat berisiko
berada di ketinggian 30 ribu meter di atas permukaan laut yang kadar oksigennya
rendah, getaran di pesawat, ditambah waktu perjalanan cukup lama, yaitu 8-9 jam.
4. Risikonya pendarahan dan rawan kontraksi akibat guncangan, hingga berakibat
keguguran. Bahkan jika usia kandungan di atas 26 minggu bisa mengakibatkan
kelahiran prematur.
28
SEMOGA BERMANFA’AT