Anda di halaman 1dari 11

PENGADAAN BAHAN TANAMAN

KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

Nama: Eka Allisa Shalsabilla


NIM: 190301135
Kelas: Agroteknologi 3
Proses pengadaan bahan
tanaman Kelapa sawit

Pasca Panen

Panen
Seleksi Pasca Panen Media
Benih Tanam 

Pemilihan Penyerbukan Pembibitan Pemeliharaan


Pohon Bibit
Induk
1. Pemilihan Pohon Induk
Pohon induk terpilih ditandai, dicatat koordinatnya dan
diukur dimensinya (tinggi total, tinggi bebas cabang, diameter
batang dan diameter tajuk) dan dicatat karakteristik
batangnya (kelurusan, cabang permanen, sudut percabangan
dan kesilindrisan) berdasarkan Manual Seleksi Pohon Plus
yang dikeluarkan oleh Balai Perbenihan Tanaman Hutan Jawa
dan Madura.
2. Seleksi Benih
Seleksi benih penting dilakukan karena akan menentukan hasil
panen dan kualitas kelapa sawit. Untuk mendapatkan tanaman
bersifat unggul, benih yang dipilih sebaiknya berasal dari
persilangan varietas unggul. Di Indonesia lebih banyak
digunakan bahan tanaman yang berasal dari persilangan
Duradan Pisifera. Hasil persilangannya dianggap sebagai
persilangan terbaik secara ekonomis, yaitu didasarkan kepada
kriteria produksi minyak per hektar, mutu minyak,
pertumbuhan vegetatif, dan daya tahan terhadap penyakit
3. Penyerbukan
Kelapa sawit memiliki bunga tipe monoecius. Penyerbukan
bunga betina memerlukan serbuksari (pollen) dari bunga
jantan dari individu pohon yang berbeda, yang disebut juga
dengan istilah temporal dioecism atau temporal diocecy .
Penyerbukan kelapa sawit terjadi melalui mekanisme yang
disebut dengan penyerbukan silang (cross pollination) yang
dilakukan terutama oleh kumbang introduksi Elaeidobius
kamerunicus (Curculionidae)
4. Pembibitan Bibit
Merupakan produk yang dihasilkan dari suatu proses
pengadaan bahan tanaman yang dapat berpengaruh terhadap
pencapaian hasil produksi pada masa selanjutnya. Pembibitan
merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan
budidaya tanaman kelapa sawit. Bibit kelapa sawit yang baik
adalah bibit yang memiliki kekuatan dan penampilan tumbuh
yang optimal serta berkemampuan dalam menghadapi kondisi
cekaman lingkungan pada saat pelaksanaan penanaman
(transplanting).
5. Media Tanam
Media tanam yang digunakan seharusnya adalah tanah yang
berkualitas baik, misalnya tanah bagian atas (top soil) pada
ketebalan 10-20 cm. Tanah yang digunakan harus memiliki
struktur yang baik, gembur, serta bebas kontaminasi (hama dan
penyakit, pelarut, residu dan bahan kimia).
6. Pemeliharaan (pada pembibitan)
Bibit yang yang telah ditanam di prenursery atau nursery perlu
dipelihara dengan baik agar pertumbuhannya sehat dan subur,
sehingga bibit akan dapat dipindahkan ke lapang sesuai
dengan umur dan saat tanam yang tepat.
Pemeliharaan bibit meliputi :
1) Penyiraman
2) Penyiangan
3) Pengawasan dan seleksi
4) Pemupukan
7. Panen
Pemanenan yang dikelola dengan baik akan diperoleh
produksi yang tinggi dengan mutu yang baik dan tanaman
mampu bertahan dalam umur yang panjang. Berbeda dengan
tanaman semusim, pemanenan kelapa sawit hanya akan
mengambil bagian yang paling bernilai ekonomi tinggi yaitu
tandan buah yang menghasilkan minyak kelapa sawit dan inti
kelapa sawit dan tetap membiarkan tanaman berproduksi
secara terus menerus sampi batas usia ekonomisnya habis.
Secara umum batas usia ekonomis kelapa sawit berkisar 25
tahun.
8. Pasca Panen
Pasca panen tanaman kelapa sawit dalam pengolahan bahan baku berupa Tandan
Buah Segar (TBS) menjadi minyak kelapa sawit CPO (Crude Palm Oil) terdiri
dari beberapa tahapan
yaitu :
1) Jembatan Timbang
2) Penyortiran
3) Proses Perebusan (Sterilizer)
4) Proses Penebah (Thereser Process)
5) Proses Pengempaan (Pressing Process)
6) Proses Pemurnian Minyak ( Clarification Station )
TERIMAKASIH