Anda di halaman 1dari 23

SELEKSI UNTUK SATU SIFAT :

1. SELEKSI INDIVIDU DENGAN SATU CATATAN


2. SELEKSI INDIVIDU DENGAN n-CATATAN
3. SELEKSI SILSILAH
4. SELEKSI FAMILI
5. SELEKSI PEJANTAN (UJI KETURUNAN)

SELEKSI UNTUK LEBIH DARI SATU SIFAT :

1. SELEKSI TANDEM

2. INDEPENDENT CULLING LEVEL (ICL)

3. SELEKSI INDEKS
1. SELEKSI INDIVIDU DENGAN SATU CATATAN

• Seleksi berdasarkan penampilan produksinya sendiri.


• Paling berguna untuk sifat-sifat yang dapat diukur pada kedua jenis
kelamin sebelum dewasa atau sebelum umur perkawinan pertama.

• Keterbatasannya :
a. Untuk sifat yang dibatasi jenis kelamin.
b. Heritabilitas rendah
c. Informasi atau produksi diperoleh setelah dewasa.

• Kecermatan seleksi :

rGP  h  h 2
2. SELEKSI INDIVIDU DENGAN n-CATATAN
• Seleksi berdasarkan penampilan produksinya sendiri yang hanya dapat
diukur setelah dewasa dan dibatasi jenis kelamin.
• Seleksi dilakukan bila individu telah memiliki lebih dari satu catatan
produksi.
• Digunakan bila ingin meningkatkan kecermatan seleksi dan usaha penyisihan
lebih lanjut dari ternak-ternak yang semula sudah terpilih.

• Keterbatasannya memperpanjang Interval Generasi.

• Kecermatan seleksi :

n n = Jumlah catatan per individu


rG P  h
1   n  1 t  t = Repitabilitas

• Efisiensi Relatif, yaitu perbandingan antara kecermatan suatu jenis seleksi


dengan kecermatan seleksi individu berdasarkan satu catatan produksi.

n
Er 
1   n  1 t 
3. SELEKSI SILSILAH
• Seleksi dilakukan dengan penggunaan secara optimum informasi individu
dan sanak saudara, dengan tujuan untuk meningkatkan kecermatan seleksi

• Dapat digunakan untuk nilai heritabilitas rendah sampai tinggi


• Paling berguna bila kriteria seleksinya dibatasi jenis kelamin
• Keterbatasannya :
a. Bila catatan moyangnya tidak teliti, sehingga pengaruh lingkungan
bercampur dengan pengaruh genetik.
b. Pada heritabilitas tinggi, tambahan informasi tidak memberikan
perbedaan yang nyata terhadap kecermatan seleksi

• Kecermatan seleksi :
a. Kombinasi Individu-Famili.

 R  t2  n  1 
rGI  h 1    
 1  t [1   n  1 t  
b. Kombinasi Individu-Induk.

5  2h 2
rGI  h
4  h4

c. Kombinasi Individu-Induk-Nenek Pihak Bapak.

21  10h 2
rGI  h
16  5h 4

 Bentuk kombinasi lainnya dapat dicari formulasinya dengan pendekatan


mencari koefisien regresi baku menggunakan nilai korelasi antara nilai
pemuliaan (g) dari suatu individu dengan beberapa kerabatnya dan
korelasi genotipik antara kerabat dengan individu dalam populasi kawin
acak.

Dapat dipelajari pada buku “Pemuliaan Ternak” oleh J.M.


Astuti (1990), Gadjah Mada University Press.
4. SELEKSI FAMILI
• Seleksi menggunakan informasi saudara seketurunan.
• Famili adalah sekelompok saudara kolateral

Ternak-ternak yang ada hubungan keluarga dengan


seekor individu tetapi bukan nenek moyangnya
ataupun keturunannya.

• Seleksi Famili digunakan paling baik pada kondisi :


a. Variansi Lingkungan rendah
b. Heritabilitas rendah
c. Jumlah anggota famili besar.
• Prosedur optimum penggunaan Seleksi Famili tergantung pada :
a. R, yaitu hubungan genetik antar anggota famili
b. t, yaitu korelasi fenotipik antar anggota famili
c. n, yaitu junlah individu per famili.
• Hubungan antara ketiga faktor tersebut sebagai berikut :.

Famili mendapat Peningkatan


pengaruh Lingkungan t < R Kecermatan
yang sama. Seleksi

t = h 2R Jika h2 rendah

• Kecermatan seleksi :

h1   n  1 R 
rGP famili 
n1   n  1 t 

Kecermatan seleksi famili akan lebih tinggi dari seleksi individu bila R
jauh lebih besar dari t atau apabila
(1  R) 2
tR 
2

Oleh karena itu bila t = R2 maka kecermatannya lebih kecil dari seleksi
individu.
5. SELEKSI PEJANTAN (UJI KETURUNAN)
• Seleksi menggunakan informasi keturunannya untuk menaksir nilai
pemuliaan seekor ternak.
• Biasanya Uji keturunan digunakan paling pada kondisi :
a. Pola Pertama
Betina-betina penguji khusus
Pejantan Muda dikawinkan (berasal dari ternak niaga)

Pejantan Terpilih Populasi yang akan diperbaiki


Digunakan
(produksi bibit / bangsa murni)

b. Pola Kedua
Betina-betina dalam populasi yang
Pejantan Muda dikawinkan akan diperbaiki

Sejumlah keturunan yang


diperlukan untuk pengujian dan
dipelihara sampai selesai uji

Pejantan Terpilih Digunakan Pengguaan lebih luas


c. Pola Ketiga
Populasi yang Pejantan terpilih untuk
Pilih pejantan
akan diperbaiki uji keturunan

Kriteria Pemilihan :
Uji performan (dengan
kriteria selain uji
keturunan)

Uji keturunan

Pejantan Terpilih
UJI KETURUNAN YANG EFEKTIF :

1. Ternak jantan yang diuji harus lebih banyak dari ternak terpilih yang
akhirnya akan digunakan secara luas

4 – 5 ekor pejantan yang diuji untuk setiap


pejantan yang akan dipilih

2. Harus tersedia suatu prosedur yang dapat menilai dengan teliti informasi uji
keturunan itu
3. Harus ada cara untuk memanfaatkan ternak-ternak unggul secara luas
apabila telah diperoleh.

Pertimbangan penggunaan Uji Keturunan :

1. Kecermatan relatif dari seleksi dengan uji keturunan dan tanpa uji
keturunan
Sex-limited
Sifat h2 rendah
Sex-unlimited

Meningkatkan
kecermatan seleksi
2. Generasi Interval
Meningkatkan kecermatan
Uji Keturunan
seleksi

R/Y turun Generasi Interval meningkat

3. Besarnya Populasi

Populasi Kecil & Sedang Inbreeding

4. Kelayakan IB pada populasi besar

Teknis dan ekonomis

5. Biaya

Pejantan yang
Biaya
diuji

seimbang
• Kecermatan Uji Keturunan :

n
rG O  0,5h
1  (n  1) t

t = Rh2 + c
c = korelasi lingkungan dan genetik
 c > 0, bila beberapa pejantan yang diuji keturunannya, dibandingkan
tetapi keturunannya diuji pada lingkungan yang terpisah
 c > 0, akan menurunkan kecermatan uji keturunan, oleh karena itu perlu
usaha agar c = 0, yaitu dengan cara :
 keseragaman perlakuan
 pengacakan perkawinan antara induk peserta dengan pejantan uji
• Efisiensi Relatif :

n Perbandingan kecermatan uji


Er  0,5 keturunan dengan kecermatan seleksi
1  (n  1) t
individu catatan tunggal

Lihat Tabel 10.2 dalam buku ”PEMULIAAN TERNAK” , Warwick dkk.,


(1990), Gadjah Mada University Press.

 Er akan tinggi pada heritabilitas rendah, baik untuk c = 0 maupun c > 0


 C > 0 akan menurunkan Er pada semua nilai heritabilitas
 Kecermatan Uji Keturunan = Kecermatan Seleksi Individu catatan
tunggal tergantung pada jumlah anak penguji per pejantan (n),
heritabilitas (h2) dan nilai c
 Semakin besar n semakin besar Er.
• Contoh-contoh perhitungan dalam Uji Keturunan :

 Berapa anak per pejantan paling sedikit digunakan agar kecermatan uji
keturunan sama dengan kecermatan seleksi individu catatan tunggal, bila
h2 = 0,4 dan R = 0,25 ?
Penyelesaian :

n n
Er  0,5 1  0,5
1  (n  1) t 1  (n  1) (0,25)(0,4)

 n  n  4  0,4n  0,4

1  0,25 
 1  (n  1) (0,1)   n  6 ekor

 Persoalan di atas dapat pula diselesaikan denga rumus Franklin (1976),


sebagai berikut :

P
n  0,56 N = jumlah keseluruhan anak yang dapat diuji
h2
N m = jumlah pejantan yang diuji
P
 Pejantan terpilih n = jumlah anak penguji per pejantan

N  mn
 Misal ada 200 ekor anak betina yang dapat diuji, akan dipilih 2 ekor
pejantan terbaik, h2 = 0,30. Berapa anak yang digunakan untuk menguji
setiap pejantan dan berapa pejantan yang harus diuji ?

Penyelesaian :
N = 200 100
n  0,56  10,22  10 ekor
P = 200/2 = 100 0,30

Maka m = 200/10 = 20 ekor


Jadi jumlah anak per pejantan (n) = 10 ekor, dan
Jumlah pejantan yang diuji = 20 ekor

 Disuatu wilayah diketahui :


• Tersedia 10.000 ekor induk sapi perah peserta uji keturunan
• Setiap tahun akan dipilih 3 ekor pejantan teruji
• Angka reproduktivitas induk = 80%
• h2 = 0,30; sex ratio = 1 : 1; c = 0; σP = 100
Bagaimana komposisi antara pejantan yang diuji dengan jumlah anak per pejantan dan
hitung Efisiensi relatif dan Respon Seleksinya.
Penyelesaian :

Dari 10.000 ekor induk, akan diperoleh anak = (0,80)(10.000) = 8.000 ekor
Anak betina = ½ x 8.000 = 4.000 ekor.

Dari 4.000 ekor anak betina, maka akan diperoleh anak yang dapat
berproduksi sejumlah = (0,80)(4.000) = 3.200 ekor
Menggunakan rumus Frankilin, diperoleh P = 3.200/3 = 1.066,67 sehingga

1.066,67 Sehingga m = 3.200/33 = 96,97


n  0,56  33,39  33 ekor atau dibuatkan menjadi 97 ekor
0,30

Porporsi pejantan terpilih (p) = 3/97 = 0,03 sehingga i = 2,27


0,5nh 2
Respon Seleksi per generasi = R  i 
1  (n  1)t  mp P
(0,5)(33)(0,30)
 (2,27 / 2) 100  165,71
1  (33  1)(0,25)(0,30)

 Jumlah pejantan yang diuji (m) = 97 ekor


 Jumlah anak per pejantan (n) = 33 ekor
 Respon seleksi per generasi ( R ) = 165,71
SELEKSI UNTUK LEBIH DARI SATU SIFAT :

1. SELEKSI TANDEM

• Seleksi untuk lebih dari satu sifat yang dilakukan secara berurutan

• Proses seleksi mengikuti tahapan seleksi dan memilih satu sifat sampai
pada tingkat yang diinginkan, kemudian baru memilih sifat yang
kedua, dan seterusnya untuk sifat yang berikutnya.

• Secara umum kemajuan jumlah kesatuan genetik yang diharapkan dari


seleksi dengan suatu metode seleksi tertentu adalah :

H = a 1 G 1 + a 2 G2 + … + an G n

• a = nilai ekonomi untuk masing-masing sifat


• G = kemajuan genetik yang diharapkan untuk sifat itu
• Apabila seleksi hanya untuk satu sifat saja, maka kemajuan jumlah
kesatuan genetik per generasi :

H = a h2 i σ P

• Rata-rata perbaikan per generasi dalam setiap sifat = 1/n dari besarnya
kemajuan yang dicapai seleksi untuk satu sifat itu saja, selama jangka
waktu tertentu dengan jumlah generasi yang sama untuk setiap sifat

• Oleh karena itu kemajuan genetik keseluruhan dari seleksi tandem


adalah :

a1.h12 .i1. 1 a2 .h22 .i2 . 2 an .hn2 .in . n


H   ... 
n n n
2. INDEPENDENT CULLING LEVEL (ICL)
• Disebut juga Seleksi Penyisihan Bebas Bertingkat
• Seleksi dimana dua sifat atau lebih, masing-masing dipilih secara bebas

Dapat dilakukan pada waktu yang sama atau pada waktu


yang berbeda

Sifat 1
Ternak yang
terpilih

Sifat 2

• Kemajuan jumlah kesatuan genetik :

H C  a1.h12 .i1. 1  a2 .h22 .i2 . 2  ...  an .hn2 .in . n


3. SELEKSI INDEKS
• Kemampuan genetik setiap ternak dihitung sebagai nilai indeks.
• Informasi yang diperlukan untuk menghitung indeks :

a. Ragam genetik tiap sifat


b. Ragam fenotipik tiap sifat
c. Peragam genetik antar sifat
d. Peragam fenotipik antar sifat
e. Nilai ekonomi (REV) dari tiap sifat

• Keterbatasan :

a. Tersedianya paramater genetik


b. REV
c. Ternak dipelihara sampai seluruh informasi diperoleh
d. Rumit dalam perhitungan
• Penyusunan Indeks :
a. Menggunakan Regresi Ganda

I  b1 X 1  b2 X 2  ...  bn X n
b = bobot dari masing-masing sifat
b = Koefisien regresi parsial yang memaksimalkan korelasi antara
nilai indeks dengan gabungan atau jumlah kesatuan nilai
pemuliaan untuk semua sifat yang termasuk dalam indeks

b. Menggunakan teknik Korelasi


• Penyelesaian mencari koefisien regresi parsial baku ( b ‘ )

( X1  X1) ' ( X 2  X 2 ) ' (Xn  Xn)


I' b '
1  b2  ...  bn
 X1  X2  Xn
• Kecermatan Indeks :

 I2 I
RIH  h  2
I  H2

H
 H2  a12Vg ( x1 )  a22Vg ( x2 )  ...  an2Vg ( xn )  2a1a2Covg ( x1x2 )  ...

 I2  b12VP ( x )  b22VP ( x )  ...  bn2VP ( x )  2b1b2CovP ( x x )  ...


1 2 n 1 2

• Respon Seleksi :
Keunggulan fenotipa ternak terpilih terhadap rata-rata populasi untuk setiap
sifat yang diseleksi berdasarkan indeks

IS  I
P1   rP1I   P1
I
i (b1VP1  b2CovP12  ...  bnCovP1n )

I
Keunggulan genetik untuk setiap sifat yang diseleksi berdasarkan
indeks

IS  I
G1   rG 1 I   G 1
I

i (b1VG 1  b2CovG 12  ...  bnCovG 1n )



I