Anda di halaman 1dari 44

TUTORIAL 6

ERUPSI GIGI
SULUNG
Proses • Proses erupsi gigi adalah suatu proses fisiologis berupa
proses pergerakan gigi yang dimulai dari tempat

Erupsi Gigi pembentukkan gigi di dalam tulang alveolar kemudian


gigi menembus gingiva sampai akhirnya mencapai

Sulung dataran oklusal

Mary Bath. Dental Embriology, Histology and


Anatomy. Edisi 2, hal 84-87
lapisan berhenti di
Setelah apposisi
enamel di permukaan  daerah mahkota setiap
gigi primer

enamel
ameloblas menempatkan
kutikula gigi aselular dari
organ enamel, dan
REE muncul sebagai beberapa membentuk Reduced Enamel
lapisan sel pipih yang menutupi  Epitelium (REE)
 permukaan enamel baru

REE menyatu dengan epitel oral enzim dari REE menghancurkan bagian
yang melapisi rongga mulut  tengah dari jaringan yang menyatu, dan
keluar melalui epitel oral di sekitar rongga
mulut.

Mary Bath. Dental Embriology, Histology and Anatomy. Edisi 2,


hal 84-87
• Gigi primer mulai aktif keluar  bagian koronal dari jaringan
epitel yang menyatu akan melepaskan mahkota, meninggalkan
bagian serviks yang masih melekat pada leher gigi.
• Proses yang melibatkan hilangnya gigi primer terdiri dari
diferensiasi osteoklas, yang menyerap tulang alveolar di antara
dua gigi, dan odontoklas, yang menyebabkan resorpsi, atau
pengangkatan sebagian akar primer dentin dan sementum
serta bagian kecil dari mahkota email.

Mary Bath. Dental Embriology, Histology and


Anatomy. Edisi 2, hal 84-87
A: Rongga mulut sebelum proses erupsi dimulai. Epitel enamel yang berkurang dan terbentuklah
enamel yang baru . B: Penggabungan epitel enamel tereduksi dengan epitel oral. C: Disintegrasi
jaringan sentral yang menyatu, meninggalkan ruangan untuk pergerakan gigi. D: Jaringan fusi
koral terkelupas dari mahkota selama erupsi, meninggalkan epitel junctional awal dekat dengan
cementoenamel.
Mary Bath. Dental Embriology, Histology and
Anatomy. Edisi 2, hal 84-87
Mary Bath. Dental Embriology, Histology and
Anatomy. Edisi 2, hal 84
Mary Bath. Dental Embriology, Histology and
Anatomy. Edisi 2, hal 314
KARAKTERISTIK PADA
MASA GIGI SULUNG
Mahkota Gigi
• Mahkota gigi sulung relatif lebih pendek dibandingkan dengan panjang akar (yaitu, rasio
mahkota: akar yang lebih kecil)
• Enamel dan dentin lebih tipis dibandingkan dengan gigi permanen.
• Ketebalan enamel dan dentin gigi primer adalah kira-kira setengah dari gigi permanen.
• Daerah kontak molar primer datar dan buccolingual sangat luas dibandingkan dengan molar
permanen.
• Warna mahkota gigi primer lebih putih dan lebih terang.

McDonald RE, Avery DR, Dean JA. Dentistry for the child and
adolescent. 10th ed. St Louis: Elsevier; 2016. page 82
Akar
Lebar mesiodistal dari akar gigi anterior primer jauh
lebih sempit daripada mahkota bila dibandingkan
dengan gigi anterior permanen.

Akar molar primer relatif lebih panjang dan lebih ramping,


yaitu, akar molar mandibula lebih sempit secara mesiodistal,
akar MB dan DB rahang atas lebih mesiodistal, dan akar palatal
rahang atas lebih kecil secara buccolingual.

McDonald RE, Avery DR, Dean JA. Dentistry for the child and
adolescent. 10th ed. St Louis: Elsevier; 2016. page 82
Pulp and Root Canal Systems
• Ukuran pulpa relatif lebih besar di gigi primer.
• Proporsi tanduk pulpa lebih tinggi dan terletak lebih dekat ke DEJ dan ke permukaan luar
mahkota.
• Tanduk pulpa mesial lebih tinggi dari tanduk pulpa distal
• Ruang pulpa gigi molar mandibula primer biasanya lebih besar dari ruang pulpa molar maksila
primer.
• Sistem saluran akar gigi molar primer yang berkembang sepenuhnya adalah sangat berliku dan
kompleks.

McDonald RE, Avery DR, Dean JA. Dentistry for the child and
adolescent. 10th ed. St Louis: Elsevier; 2016. page 82
Hubungan
Oklusi

Pada usia 3 tahun, oklusi dari 20 gigi


primer biasanya terbentuk. Hubungan
bidang istilah distal dari gigi molar
kedua yang berlawanan dapat
diklasifikasikan ke dalam satu dari tiga
kategori.

McDonald RE, Avery DR, Dean JA. Dentistry for the child and adolescent. 10th
ed. St Louis: Elsevier; 2016. page 383
Lengkung Gigi

• Baume melaporkan dua bentuk lengkung morfologis yang konsisten dari gigi-geligi primer: baik
ruang umum antara gigi hadir (tipe I) atau gigi berada di kontak proksimal tanpa spasi (tipe II).

• Bentuk lengkung pada kedua jenis ini tampak bawaan daripada perkembangan karena pola asli
yang diperlihatkan saat erupsi dipertahankan dari usia 3 hingga 6 tahun.

• Pada Lengkung gigi sulung dijumpai diastema primate (primate space) di rahang atas antara
insisif lateral sulung dan kaninus sulung, di RB antara kaninus sulung dan M1 sulung.

McDonald RE, Avery DR, Dean JA. Dentistry for the child and
adolescent. 10th ed. St Louis: Elsevier; 2016. page 416
Lengkung
Gigi
Baume mengamati bahwa sampai erupsi molar
pertama permanen, dimensi sagital lengkung
gigi primer pada dasarnya tidak berubah.

Hanya perubahan kecil dalam dimensi transversal dari


lengkung gigi primer yang terjadi selama usia 3 hingga 6
tahun kecuali jika secara negatif dipengaruhi oleh pola
fungsional yang merusak.

McDonald RE, Avery DR, Dean JA. Dentistry for the child and
adolescent. 10th ed. St Louis: Elsevier; 2016. page 416
KARAKTERISTIK
GIGI CAMPURAN
• Gigi campuran bermula sekitar usia 6
tahun ketika molar pertama muncul.
Kemudian gigi insisiv pertama digantikan
perlahan oleh gigi penggantinya yang
lebih besar.
• Setelah erupsi gigi molar pertama ,
• Gigi campuran berakhir sekitar usia 12
kekuatan erupsinya kecendrungan
tahun ketika seluruh gigi sulung telah bergerak ke arah mesial, dan mendorong
tergantikan. gigi sulung kedepan.
• Saat molar ke dua erupsi, terdapat 28 gigi • Jika hal tersebut berlanjut,maka tidak
di dalam rongga mulut. akan tersedia ruangan yang cukup untuk
erupsi gigi premolar, namun akar gigi
sulung menyebar menahan terjadinya
pergerakan ke arah mesial.

Scheid Rickne C, Weiss Gabriela. Woelfel Dental Anatomy. 2012. 8ᵗᵗͪ Ed.
Philadelphia. Wolter Kluwer. Page :169
• Akar gigi molar sulung
mengembang, serta mahkota
gigi molar sulung yang lebih
besar secara mesio distal dari
pada gigi penggantinya, dan
adanya primate space yang
membantu mempertahankan
ruang yang cukup untuk
erupsi gigi premolar dan
kaninus permanen

Scheid Rickne C, Weiss Gabriela. Woelfel Dental Anatomy. 2012. 8ᵗᵗͪ Ed. Philadelphia. Wolter
Kluwer. Page :171
Karakteristik pertumbuhan gigi
campuran

Broadbent
Molar
The Lee Incisor Phenomeno
Spacing Relation
Way Space Liability n / Ugly
Ship
Ducking

Ralph E.Mc.Donald,David R. Avery, Jeffrey A.Dean . 2004. Dentistry for the Child and Adolescent 2th Ed. St. Louis :
Elsevier.
Karakteristik Pertumbuhan Gigi
Campuran
SPACING
Biasanya terdapat diastema pada
midline antara incisiv rahang atas.
Terdapat diastema antar ruang gigi yang
berdekatan. Dalam kebanyakan kasus, ukuran
diastema dapat bervariasi antara
1,0 dan 3,0 mm.

Ralph E.Mc.Donald,David R. Avery, Jeffrey A.Dean . 2004. Dentistry for the Child and Adolescent 2th Ed. St. Louis :
Elsevier.
Hubungan
Molar
• Bidang terminal molar primer kedua memengaruhi jalur erupsi molar pertama
permanen. Ketika hubungan bidang terminal pada tahap pertumbuhan gigi
primer rata, molar permanen yg erupsi akan mengalami “cusp to cups" atau
“and to and" pada tahap pertumbuhan gigi campuran.

Ralph E.Mc.Donald,David R. Avery, Jeffrey A.Dean . 2004. Dentistry for the Child and Adolescent 2th Ed. St. Louis :
Elsevier.
The Leeway Space

• Secara umum, jumlah lebar mesiodistal


dari gigi caninus primer dan gigi molar
pertama dan kedua primer lebih besar dari
jumlah gigi sulungnya, yaitu gigi caninus
permanen dan gigi premolar pertama dan
kedua. Perbedaan ini disebut lee way
space dan terdapat pada lengkung rahang
atas dan rahang bawah

Ralph E.Mc.Donald,David R. Avery, Jeffrey A.Dean . 2004. Dentistry for the Child and Adolescent 2th Ed. St. Louis :
Elsevier.
Leeway space biasanya lebih besar
di lengkung rahang bawah dari
pada di lengkung rahang atas.

Perbedaan leeway space antara


dua lengkung memungkinkan
molar permanen pertama bergerak
secara mesial relatif lebih banyak di
lengkung rahang bawah dari pada
di lengkung rahang atas.

Ralph E.Mc.Donald,David R. Avery, Jeffrey A.Dean . 2004. Dentistry for the Child and Adolescent 2th Ed. St. Louis :
Elsevier.
• Lebar mesiodistal gigi incisivus permanen lebih besar
Incisor dari gigi incisivus primer

Iiability/ • Dengan demikian gigi incisiv permanen yg erupsi


membutuhkan lebih banyak ruang untuk penyelarasan
penggantian yang tepat.
• Perbedaan antara jumlah ruang yang diperlukan untuk
gigi incisivus gigi incisivus dan jumlah yang tersedia disebut incisor
liability.

Ralph E.Mc.Donald,David R. Avery, Jeffrey A.Dean . 2004. Dentistry for the Child and Adolescent 2th Ed. St. Louis : Elsevier.
Broadbent Phenomenon /
Ugly Ducking

• Ketika gigi incisiv lateral erupsi, maka gigi caninus lebih tinggi dari fossa
caninus, dan erupsi di sepanjang gigi incisiv lateral yang berkembang.
• Terdapat diastema pada midline incisiv sentral RA

• Cenderung memaksa apeks dari gigi incisiv lateral ke arah midline dan
mahkotanya melebar ke lateral

Ralph E.Mc.Donald,David R. Avery, Jeffrey A.Dean . 2004. Dentistry for the Child and Adolescent 2th Ed. St. Louis : Elsevier.
Ralph E.Mc.Donald,David R. Avery, Jeffrey A.Dean . 2004. Dentistry for the Child and Adolescent 2th Ed. St. Louis : Elsevier.
Gambaran
klinis

Muthu MS, Shivakumar N.Paediatric Dentistry Principle and Practice.1th Ed. 2009. Elseiver. Page: 108
ERUPSI GIGI TETAP
PERTAMA SEKALI DALAM
RONGGA MULUT
• Molar permanen pertama mandibula merupakan gigi
permanen pertama yang erupsi. Setelah gigi molar
pertama permanen mandibular erupsi , dengan cepat
gigi insisivus sentral mandibular erupsi.

• Kaninus mandibular erupsi sebelum premolar


pertama RA dan RB pada anak perempuan.

• Pada anak laki-laki, urutan erupsi terbalik — gigi


molar pertama rahang atas dan rahang bawah erupsi
sebelum gigi kaninus mandibula.

Ralph E.Mc.Donald,David R. Avery, Jeffrey A.Dean . 2016. Dentistry for the Child and Adolescent 10th
Ed. St. Louis : Elsevier. Page : 352
Moyers menyatakan bahwa urutan erupsi gigi
permanen yang paling umum adalah :

Gigi permanen RB adalah : molar pertama  insisivus


sentral  insisivus lateral  kaninus  premolar
pertama  premolar kedua  molar kedua.

Gigi permanen RA adalah : molar pertama  insisivus


sentral  insisivus lateral  premolar pertama 
premolar kedua  kaninus  molar kedua

Ralph E.Mc.Donald,David R. Avery, Jeffrey A.Dean . 2016. Dentistry for the Child and
Adolescent 10th Ed. St. Louis : Elsevier. Page : 352
Ralph E.Mc.Donald,David R. Avery, Jeffrey A.Dean . 2016. Dentistry for the Child and Adolescent 10th Ed. St. Louis :
Elsevier. Page : 352
Diharapkan bahwa Kaninus mandibula erupsi sebelum
premolar pertama dan kedua. Urutan ini membantu dalam
mempertahankan panjang lengkung yang memadai dan
mencegah tipping lingual gigi insisivus, yang tidak hanya
menyebabkan hilangnya panjang lengkung tetapi juga
memungkinkan peningkatan overbite untuk berkembang.

Hilangnya gigi molar primer sebelum waktunya di lengkung


rahang atas, yang memungkinkan molar permanen pertama
driffting dan bergerak ke mesial , menyebabkan gigi kaninus
permanen keluar dari lengkung, biasanya ke sisi labial.

Ralph E.Mc.Donald,David R. Avery, Jeffrey A.Dean . 2016. Dentistry for the Child and Adolescent 10 th
Ed. St. Louis : Elsevier. Page : 352
Nelson, stanley J. 2010. Wheelers Dental Anatomy, Physiology, and Occlusion. 9th ed. Saunders elsevier. P.31
KARAKTERISTIK OKLUSI
DAN KONDISI GIGI PADA
MASA GIGI TETAP
• Konsep pengembangan oklusi ideal
telah dijelaskan oleh Friel'6 dan oleh
Lewis dan Lehman.
• Sanin dan Savara juga menunjukkan
bahwa, sampai batas tertentu, oklusi
ideal pada usia muda merupakan
predisposisi oklusi dewasa yang ideal

Jeffrey P. Okeson. 2013. Seventh edition. Management of Temporomandibular Disorders and Occlusion. St. Louise, Missouri. Elsevier Mosby.
Kriteria oklusi gigi yang ideal untuk anak
berusia 7 tahun mungkin termasuk yang
berikut:
• Interdigitasi molar dan kaninus kelas I
• 2-mm anterior dan posterior overjet 2-
mm anterior overbite
• Garis tengah gigi yang bersamaan

Jeffrey P. Okeson. 2013. Seventh edition. Management of Temporomandibular Disorders and Occlusion. St. Louise, Missouri. Elsevier Mosby.
Keselarasan • Ketika lengkungan diperiksa dari pandangan lateral, hubungan
aksial mesiodistal dapat terlihat

gigi • Jika garis memanjang melalui sumbu panjang akar secara


oklusif melalui mahkota, angulasi gigi sehubungan dengan

intra-arch
tulang alveolar dapat diamati.
• Pada lengkung rahang bawah, gigi anterior dan posterior
cenderung miring ke mesial, Geraham kedua dan ketiga lebih
condong daripada premolar.
• Dalam lengkung rahang atas Gigi anterior umumnya miring ke
mesial, dengan gigi molar paling posterior cenderung ke arah
distal.
• Jika, dari tampilan lateral, garis imajiner ditarik melalui ujung
bukal dari gigi posterior (molar dan premolar), garis lengkung
yang mengikuti bidang oklusi akan cembung. untuk lengkung
rahang atas dan cekung untuk lengkung mandibula.
• Garis-garis cembung dan cekung ini disebut sebagai kurva
Spee.

Jeffrey P. Okeson. 2013. Seventh edition. Management of Temporomandibular Disorders and Occlusion. St. Louise, Missouri. Elsevier Mosby. Page : 49
Jeffrey P. Okeson. 2013. Seventh edition. Management of Temporomandibular Disorders and Occlusion. St. Louise, Missouri. Elsevier Mosby. Page : 49
• Ketika lengkung gigi diamati dari tampilan
frontal, hubungan aksial buccolingual dapat
dilihat. Umumnya gigi posterior pada lengkung
rahang atas memiliki kecenderungan yang
sedikit
• Pada lengkung rahang bawah, gigi posterior
memiliki kecenderungan sedikit condong ke
lingual.
• Jika sebuah garis ditarik melalui ujung bukal
dan lingual gigi kanan dan kiri posterior, bidang
lengkung oklusi akan diamati.
• Lengkungannya cembung di lengkung rahang
atas dan cekung di lengkung rahang bawah.
• Jika lengkungan-lengkungannya beroklusi,
lengkungan gigi akan cocok dengan sempurna.
Lengkungan ini pada bidang oklusal yang
diamati dari tampilan depan disebut kurva
Wilson.
Jeffrey P. Okeson. 2013. Seventh edition. Management of Temporomandibular Disorders and Occlusion. St. Louise, Missouri. Elsevier Mosby. Page : 49
Keselarasan gigi inter-arch
• Penjajaran gigi interarch mengacu pada hubungan gigi di satu lengkung rahang dengan yang di lainnya.
• Ketika kedua lengkung bersentuhan, seperti pada penutupan mandibula, hubungan oklusal gigi terbentuk.
Bagian ini menjelaskan karakteristik gigi normal rahang atas dan rahang bawah dalam oklusi.
• Gigi maksila dan mandibula beroklusi dengan cara yang tepat

Jeffrey P. Okeson. 2013. Seventh edition. Management of Temporomandibular Disorders and Occlusion. St. Louise, Missouri. Elsevier Mosby. Page : 51
Karena gigi maksila lebih diposisikan secara fasial (atau setidaknya memiliki
lebih banyak kecenderungan fasial), hubungan oklusal normal dari gigi
posterior memungkinkan cusp bukal mandibula beroklusi di sepanjang area
fossa pusat dari gigi rahang atas. Seperti halnya cusp lingual maxillary yang
beroklusi di sepanjang area fossa sentral gigi mandibula

Jeffrey P. Okeson. 2013. Seventh edition. Management of Temporomandibular Disorders and Occlusion. St. Louise, Missouri. Elsevier Mosby. Page : 51
Hubungan oklusi lengkung gigi yang normal.
a. Cusp bukal ( sentris) dari gigi mandibula bertemu di fossa sentral gigi maksila
b. Cusp lingual (sentris) dari gigi rahang atas yang bertemu di fossa sentral gigi mandibula

Jeffrey P. Okeson. 2013. Seventh edition. Management of Temporomandibular Disorders and Occlusion. St. Louise, Missouri. Elsevier Mosby. Page : 54
TERIMA KASIH