Anda di halaman 1dari 24

TUHAN YANG MAHA ESA (BRAHMA VIDYA)

Úraddhà dan Bhakti


Ada 2 jenis kata (Úràddha dan Úraddhà) yg sangat dekat dengan
bunyinya namun maknanya lain
Úràddha
Upacara terakhir bagi seseorang yakni setelah upacara
pembakaran jenasah yang disebut Antyesti atau Mrtyusamskàra
dan penyucian roh yang disebut Pitrapinda atau Sapindikàrana
(Klostermaier,1990:180)
Úràddha menurut Kitab Nàgarakrtàgama dilaksanakan pula
pada zaman keemasan Majapahit, saat itu Raja Hayamwuruk
melakukan upacara Úràddha untuk neneknya yang bernama
Dyah Gàyatri
Upacara Úràddha dilaksanakan pula di Bali yang kini disebut
“Nuntun atau Ngalinggihang Dewahyang” atau upacara
“Àtmasiddha-dewata”.
Úraddhà (keyakinan atau keimanan) dan
Bhakti
 Yaska dalam bukunya Nighantu (III.10) kata Úraddhà
dari akar kata úrat yang berarti kebenaran (satya-nàmani),
Sayana kemudian memberikan interprestasi dalam
pengertian berikut:
a) Àdàràtisaya atau bahumàna, penghargaan yang tinggi
(dalam Rgveda I.107;V.3)
b) Visvasa, keyakinan atau kepercayaan (Rgveda II.12.5)
c) Purusagatobhilàsa-visesah, satu bentuk yang istimewa dari
keinginan manusia (Rgveda X.151).
d) Úraddhàdhànah sebagai karmànustannatatparah, ia yang
memiliki keyakinan di dalam semangat untuk
mempersembahkan upacara pemujaan (Atharvaveda
VI.122.3).
Úraddhà dalam The Practical Sanskrit-English
Dictionary, karya V.S. Apte (1978:930) diberi arti:
Úraddhà:
1) Kepercayaan, ketaatan, ajaran, keyakinan.
2) Kepercayaan kepada Sabda Tuhan Yang Maha Esa, keimanan agama.
3) Ketenangan jiwa, kesabaran dalam pikiran.
4) Akrab, intim, kekeluargaan.
5) Hormat, menaruh penghargaan.
6) Kuat penuh semangat.
7) Kandungan ibu yang berumur lama.
Úraddhàlu:
1) Kepercayaan, penuh keimanan.
2) Kerinduan, keinginan terhadap sesuatu.

Didalam Bhagavadgita (XVII. 2-3) kita temukan jenis Úraddhà, yaitu Úraddhà yang
bersifat Sattva, Rajas, dan Tamas sesuai dengan sifat manusia. Keyakinan tiap-
tiap individu tergantung pada sifat /wataknya.
Úraddhà dalam buku Pancha Úraddhà oleh IB Punyat-madja
(1976) ada 5 jenis keyakinan Hindu, yaitu:
1) Widhi Tattwa atau Widhi Úraddhà,
keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai manifestasi-Nya.
2) Àtmà Tattwa atau Àtmà Úraddhà,
keimanan terhadap Àtmà yang menghidupkan semua mahluk.
3) Karmaphala Tattwa atau Karmaphla Úraddhà,
keimanan terhadap kebenaran hukum sebab akibat atau buah dari perbuatan.
4) Samsàra atau Punarjanma Tattwa/Úraddhà, keimanan
terhadap kelahiran kembali.
5) Moksa Tattwa atau Moksa Úraddhà,
keimanan terhadap kebebasan yang tertinggi bersatunya Àtma dengan Brahman,
Tuhan Yang Maha Esa.
Widhi Úraddhà (Percaya akan adanya Sang
Hyang Widhi)
Hyang Widhi ialah Ia yg kuasa atas yg ada ini. Tdk ada
apapun yg luput dr kuasa-Nya. Hyang Widhi Tunggal
adanya. Krn Tuhan tdk terjangkau oleh pikiran, maka orang
membayangkan bermacam-macam sesuai dg kemam-
puannya. Panggilannya bermacam-macam. Ia dipanggil
Brahma sbg pencipta, Wisnu sbg pemelihara dan Siwa sbg
pemralina. Banyak lagi panggilannya yg lain. Ia Maha Tahu,
berada di mana-mana krn itu tak ada apapun yg dpt kita
sembunyikan di hadapan-Nya. Orang-orang menyembah dg
bermacam-macam cara pd tempat berbeda-beda . Kepada-
Nya orang menyerahkan diri dan mohon perlindungan dan
petunjuk-Nya agar ia menemukan jalan terang dlm
mengarungi hidup ini.
Àtmà Úraddhà (Percaya akan adanya Atma)
Atma itu adalah percikan kecil dr Parama Àtmà yg
tertinggi. Bila Àtmà meninggalkan badan orangpun mati, alat-
alat tubuhpun hancur kembali kpd asalnya. Àtmàn yg
menghidupi badan dsb jiwatman. Jiwatman dpt dipengaruhi oleh
karma hasil perbuatan di dunia ini krn itu Àtmà tdk akan selalu
dpt kembali kpd asalnya yaitu Parama Àtmà. Menurut ajaran
agama Hindu Jiwatman orang yg meninggal itu dpt naik ke sorga
atau jatuh ke neraka. Orang-orang yg berbuat buruk jatuh ke
neraka. Di neraka Jiwatma itu mendapat siksaan. Namun orang-
orang suci yg tdk terikat lagi pd ikatan dunia akan sampai kealam
nirwana, alam kelepasan.
Karmaphala Úraddhà (Percaya Adanya
Karmaphla)
Apapun yg diperbuat oleh manusia membawa
akibat, akibat itu ada yg baik dan ada yg buruk. Akibat
yg baik memberikan kesenangan, sedangkan akibat yg
buruk memberikan kesusahan. Oleh krn itu seseorang
harus berbuat baik krn semua orang menginginkan
kesenangan dan hidup terteram. Buah drpd perbuatan
(karma) itu disebut phala. Buah perbuatan itu tdk
selalu langsung dpt dirasakan atau dinikmati. Tangan
yg menyentuh es seketika dingin namun menanan padi
harus menunggu berbulan-bulan untuk memetik
hasilnya. Setiap perbuatan akan meninggalkan bekas.
Ada bekas yg nyata ada bekas dlm angan dan ada yg
abstrak. Bekas-bekas ini disebut karmavasana.
Samsàra atau Punabhava Úraddhà (Percaya
Terhadap Adanya Punarbhawa)
Jiwa atau roh tdk selamanya di neraka ataupun di sorga.
Ia lahir lagi kedunia ini. Kelahiran kembali ke dunia ini
disebut Punarbhawa atau samsara, lingkaran kelahiran.
Bagaimana kelahirannya tergantung pd karmavasananya.
Kalau ia membawa karma yg baik, lahirlah ia menjadi orang
yg berbahagia, berbadan sehat dan berhasil cita-citanya.
Sebaliknya bila ia membawa karma yg buruk ia lahir menjadi
orang yg menderita. Kelahiran kembali ini adalah
kesempatan untuk memperbaiki diri. Orang tdklah tetap
menjadi penghuni neraka atau sorga. Ia harus meningkat
menjadi nirbhanapadam alam kelepasan atau moksa.
Moksa Úraddhà (Percaya Thd Adanya Moksa)
Bila seseorang terlepas dr ikatan dunia ia mencapai
moksa. Moksa artinya kelepasan. Inilah tujuan terakhir
pemeluk agama Hindu. Orang yg telah mencapai moksa
tdk lahir lagi kedunia, krn tdk ada apapun yg
mengikatnya. Ia telah bersatu dg paramatma . Bila air
sungai telah menyatu dg air laut, maka air sungai akan
kehilangan identitasnya. Tdk ada perbedaan lagi antara
air sungai dg air laut. Demikianlah juga halnya atman yg
mencapai moksa telah menyatu dg Brahman atau
Paramatma. Pada saat itulah orang mengatakan Aham
Brahman Asmi artinya Aku adalah Brahman.
Kitab Bhagavadgita (III.31; IV.39, 40) yang merupakan sabda Sri
Krsna kepada Arjuna, menekankan tentang Úraddhà,sbb:
“mereka yang selalu mengikuti ajaran-Ku dengan penuh
keyakinan (Úraddhà) serta bebas dari keinginan duniawi,
juga akan bebas dari keterikatan”
“Ia yang memiliki keimanan yang mantap (Úraddhà)
memperoleh ilmu pengetahuan, menguasai panca indrianya,
setelah memiliki ilmu pengetahuan dengan segera mencapai
kedamaian yang abadi”
“Tetapi mereka yang dungu, yang tidak memiliki ilmu
pengetahuan, tidak memiliki keimanan (Úraddhà) dan diliputi
keragu-raguan, orang yang demikian ini tidak memperoleh
kebahagian di dunia ini dan dunia lainnya”
Kitab Bhagavadgita (IV.9; VI.37, 47; VII.22; XVI.21) yang
merupakan sabda Sri Krsna kepada Arjuna, menyatakan, sbb:
 “Ia yang mengerti tentang kebenaran kelahiran suci-Ku dan memahami
tentang hakekat perbuatan, ketika ia meninggalkan badannya, ia akan
datang kepada-Ku”
 “Seseorang yang tidak mampu mengontrol dirinya sendiri, walaupun
memiliki Úraddhà, apabila pikirannya mengembara kemana-mana, jauh
dari yoga, apakah yang akhirnya akan diperoleh wahai Krsna, tentunya
gagal mencapai kesempurnaan di dalam Yoga”
 “Di antara yogi , yang memuja Aku dengan penuh keimanan yang mantap,
yang hatinya menyatu kepada Aku, inilah yang menurut pendapat-Ku yogi
yang paling sempurna”
 “Berpegang teguh pada keyakinannya itu, mereka berbakti melalui
keyakinannya itu, dari padanya memperoleh apa yang diharapkan mereka,
yang sebenarnya akan terkabulkan oleh-Ku”
 “Inilah tiga pintu gerbang menuju neraka, jalan menuju jurang
kehancuran diri, yaitu: nafsu (kàma), amarah (krodha) dan ambisi/serakah
(lobha), setiap orang harus meninggalkan sifat ini”
Brahmavidyà (Teologi)
 Berbagai wujud digambarkan untuk yang Maha Esa itu, walaupun sesungguhnya TYME tidak
berwujud, di dalam bahasa Sanskerta disebut Acintyarùpa (tidak berwujud dalam pikiran
manusia), dalam bahasa Jawa Kuna dinyatakan: “tan kagrahita dening manah mwang indriya”
(tidak terjangkau oleh akal dan indriya manusia)
 Mahàrsi Vyàsa/Badaràyana dalam bukunya: Brahmàsùtra, Vedantasàra TYME disebut
Janmàdyasya yatah yg oleh Svami Sivananda (1977) diterjemahkan: Brahman adalah asal
muasal dari alam semesta dan segala isinya.(Janmàdi = asal, awal, penjelmaan dan
sebagainya, asya= dunia/alam semesta ini, yatah= dari padanya). TYME yang disebut Brahman
ini adalah merupakan asal mula segalanya.
 Rgveda X.90.2 menyatakan:
“Tuhan sebagai wujud kesadaran agung merupakan asal dari segala yang telah dan yang
akan ada. Ia adalah raja di alam yang abadi dan juga di bumi ini yang hidup dan berkembang
dengan makanan”
 Atharvaveda X.X.8.1
“TYME hadir di mana-mana, asal dari segalanya yang telah ada dan yang akan ada. Ia penuh
dengan rakhmat dan kebahagiaan. Kami memuja Engkau Tuhan Yang Maha Tinggi”
 Naràyana Upanisad 2
“Ya TYME, dari Engkaulah semua ini berasal dan kembali yang telah ada dan yang akan ada
di alam raya ini. Hyang Widhi Maha Gaib, mengatasi segala kegelapan, tak termusnahkan,
Maha Cemerlang, Maha Suci (tidak ternoda), tidak terucapkan, tiada duanya”
Brahmavidyà (Teologi)
 Di dalam kitab suci Veda, TYME disebut deva atau devatà. Kata ini berarti:
cahaya, berkilauan, sinar gemerlapan yg kesemuanya ditujukan kepada
manifestasi-Nya, juga ditujukan kpd matahari atau langit, termasuk api petir
atau fajar. Dewa juga berarti mahluk sorga atau yang sangat mulia.
 Menurut Svami Dayananda Saraswati, matahari dan yg lainnya tidak dapat
menyinari TYME. Matahari dan benda-benda yg bersinar lainnya
memperoleh sinar dariTYME, yakni Ia yang bersinar dengan sendirinya.
Sinar-sinar pd benda-benda langit itu sangat tergantung kepada-Nya.
Dengan demikian sesungguhnya TYME adalah devatà yg terttinggi yang
seharusnya menerima bhakti dan pemujaan kita.
 Katha Up.II.2.15. menyatakan:
“Matahari tidak bersinar disana, demikian pula bulan dan bintang-bintang,
jadi dimanakah datangnya api ini? Semuanya bersinar sesudah sinar-Nya
itu. Seluruh dunia disinari oleh sinar-Nya itu”
Brahmavidyà (Teologi)
Dalam teologi Hindu (Rgveda dan Atharvaveda) menyebutkan ada 33 Dewa
(Macdonell, 991:19) seperti:
Rgveda (I.34.11; 52.2; 139.11) menyatakan:
 “Semogalah Engkau tiga kali sebelas (33) tidak pernah jatuh dari
kesucian, sumber kebenaran, yang memimpin kami menuju jalan untuk
memperoleh kebajikan. Semoga TYME merakhmati persembahan kami,
memperpanjang hidup kami, menghapuskan kekurangan kami,
melenyapkan sifat-sifat jahat kami dan semoga semuanya itu tidak
membelenggu kami”
 “Ya TYME, Engkau adalah guru agung penuh kebijaksanaan,
mengurangkan karunia kepada mereka yang mempersembahkan karya-
karyanya Ya Tuhan yang penuh cahaya gemerlapan, semogalah para
pencari pengetahuan rohani dapat mengetahui rahasia dari 33 deva (yang
merupakan tenaga kosmos)”
 “Wahai para dewa (33 Deva), sebelas di sorga, sebelas di bumi, dan
sebelas di langit, semoga engkau bersuka cita dengan persembahan suci
ini”
Brahmavidyà (Teologi)
Atharvaveda (X.7.13; X.7.23; X.7.27) menyatakan:
 “Siapakah yang demikian banyak itu, ceritakanlah kepadaku, tidak lain adalah TYME yang
meresapi segalanya, yang pada diri-Nya dikandung seluruh 33 Deva-Deva (sebagai kekuatan
alam)”
 “Siapakah yang paling kaya, 33 deva, yang senantiasa memperhatikan dan melindungi,
siapakah yang mengetahui lokasi dari artha yang sangat berharga (yang penuh rahasia) yang
dijaga oleh 33 devata”
 “Tiga puluh tiga deva menyelesaikan tugasnya masing-masing di dalam ciptaan TYME. Hanya
beberapa orang yang terpelajar di dalam Veda memahami 33 Devata”
Satapatha Bràhmana XIV.5 menyatakan:
 Sesungguhnya ia mengatakan: Adalah kekuatan agung yang dahsyat sebanyak 33 devatà.
Siapakah devattà itu? Mereka adalah 8 vasu (Astavasu), 11 Rudra (Ekadaúa-rudra), 12 Aditya
(Dvàdaúàditya). Jumlah seluruhnya 31 (kemudian ditambah) Indra dan Prjapati, seluruhnya
menjadi 33 devatà”
Di antara deva-deva itu, Rgveda (I.50.10) menggambarkan Deva Surya sebagai Deva
tertinggi, deva dari seluruh deva seperti dinyatakan:
 “Lihatlah menjulang tinggi di angkasa, cahaya yang terang benderang mengatasi
kegelapan telah datang, Ia adalah Surya, Deva dari seluruh devata, cahayanya yang terang
itu betapa indahnya”
Brahmavidyà (Teologi)
Menurut Rgveda VII.57.2, juga Brhaddàranyaka Upanisad III.9.1, dijelaskan bahwa
deva-deva itu jumlahnya 33, menguasai Tri Bhuwana (Bhur, Bhuwah, Svah Loka
yakni bumi, langit dan sorga). Seluruh deva-deva itu terdiri dari 8 Vasu (Astavaúu),
11 Rudra (Ekadaúarudra), 12 Àditya (Dvadaúàditya), serta Indra dan Prajapati.
 Dewa-Dewa Astavasu adalah: 1) Anala atau Agni (Dewa Api, 2)Dhavà atau Prthivi
(devi bumi), 3) Anila atau Vàyu (deva angin), 4)Prabhasa atau Dyaus (dewa langit),
5) Pratyusa atau Surya (deva matahari), 6) Aha atau Savitr (dewa antariksa), 7)
Candra atau Somà (dewi bulan), 8) Druva atau Druha (dewa konstelasi planet).
 Dewa-dewa Ekadaúarudra adalah: 1) Aja Ekapat, 2) Ahirbudhnya, 3)Virupàksa, 4)
Sureúvara, 5) Jayanta, 6) Bahurupa, 7) Aparijita, 8)Stivitra, 9) Tryambaka, 10)
Vaivasvata, 11) Hara
 Deva-deva Dvadasàditya adalah terdiri dari enam pasang deva yaitu: Mitra-Varuna,
Aryamàn-Dàksa, Bhàga-Amsa, Tvastr-Savitr, Pusam-Úukra dan Vivasvat-Visnu.
Keenam pasang deva-deva dimaksud merupakan wujud deva yang transendent dan
immanent.
Deva-Deva Dvadaúàditya
 Transendent  Immanen
1. Mitra (sahabat) 1. Varuna (langit)
2. Aryamàn (mengalahkan 2. Dàksa (akhli)
musuh) 3. Amúa (yang bebas)
3. Bhàga (pemurah) 4. Savitr (pelebur)
4. Tvastr (pembentuk) 5. Úukra (kekuatan)
5. Pusam (energi) 6. Viûnu (yang meresapi)
6. Vivasvat (gemerlapan)
Pada zaman Puràna dikenal Devatà Astadikpàlaka (penguasa
atau pelindung 8 penjuru) dan di Bali disebutkan Devatà Nava
Sanga
 Devata Astadikpàlaka  Dewatà Nava Sanga:
terdiri dari: 1. Utara : Visnu
1. Utara : Kuvera 2. Timur : Isvara
2. Timur : Indra 3. Barat : Mahàdeva
3. Barat : Varuna 4. Selatan : Brahma
4. Selatan : Yama 5. Timur Laut: Sambhu
5. Timur Laut: Isana 6. Tenggara : Mahesvara
6. Tenggara: Agni 7. Barat Daya: Rudra
7. Barat Daya: Surya 8. Barat Laut: Samkara
8. Barat Laut: Vàyu 9. Di Tengah: Siva.
Di dalam filsafat ketuhanan, pandangan tentang TYME
dapat dijumpai beraneka macam, sebagai berikut:
1. Animisme: keyakinan akan adanya roh bahwa segala
sesuatu di alam semesta ini didiami dan dikuasai oleh
roh.
2. Dinamisme: keyakinan terhadap adanya kekuatan-
kekuatan alam. Kekuatan alam ini dapat berupa mahluk
(personal) ataupun tanpa wujud. Tuhan disebut sebagai
Super Natural Power (kekuatan alam yang tertinggi.
3. Totemisme: keyakinan akan adanya binatang keramat,
yang sangat dihormati.
4. Polytheisme: keyakinan akan adanya banyak Tuhan.
Wujud Tuhan berbeda-beda sesuai dengan keyakinan
manusia.
1. Natural Pollytheisme: keyakinan akan adanya banyak
Tuhan sbg penguasa berbagai aspek alam misalnya: Tuhan
matahari, angin, bulan, dan sebagainya.
2. Henotheisme atau Kathenoisme: keyakinan thd dewa
tertinggi yang pada suatu masa digantikan oleh dewa yang
lain sbg dewa tertinggi.
3. Pantheisme: keyakinan bahwa dimana-mana serba Tuhan
atau setiap aspek alam digambarkan dikuasai oleh Tuhan.
4. Monotheisme: keyakinan terhadap adanya TYME (Tuhan
yang satu).
- Monotheisme Trancendent
- Monotheisme Immanen
5. Monisme: keyakinan akan adanya Keesaan Tuhan Yang
Maha Esa merupakan hakikat alam semesta.
Mantram/Sloka yang menyatakan Tuhan itu
Esa
6km/ 6wÁdÙiiitêøbÉhßn/.

6ekonoroyxndÙietêoÁ[Õik]Çit/.

6kmuætiÙpË;vhudwanÓi.

vienktu\áliktnÀna(mßm\rÙ.

ÁwkÓviendevd,kinÓ¡pÙtnÀnpelnniko, tu\álÐietkn.
Mantram/Sloka yang menyatakan Tuhan itu
Esa
 EKAM EVA ADWITYAM BRAHMAN
satulah Tuhan Tidak Dua Adanya
 EKO NARAYANA NADWITYO ASTI KASCIT
Satulah Tuhan tidak dua sama sekali
 EKAM SAT WIPRAH BHAHUDA WADHANTI
Satulah Tuhan, hanya orang bijaksana menyebutkan dengan banyak nama
 BHINEKA TUNGGAL IKA TAN HANA DHARMA MANGRUWA
Berbeda-beda itu, satu itu, tidak ada kebenaran (Tuhan) mendua.
 AWAKTA BHINEDA-BHEDA, KINTU PWA TAN HANA
PALENANIKA, TUNGGAL KITEKANA
Wujud-Mu dibeda-bedakan, sebenarnya itu tidak ada bedanya, satulah
Tuhan itu.