Anda di halaman 1dari 29

Empat Jalan Menuju Kepada-Nya

(Catur Marga, Catur Yoga atau Catur Yoga Marga)

Bhakti Marga Yoga (BMY)


• Bhakti: menyalurkan atau mencurahkan cinta yang tulus
dan luhur kpd TYME, kesetiaan kepada-Nya, pelayanan,
perhatian yang sungguh-sungguh untuk memuja-Nya.
Bhakti merupakan landasan filsafat melalui cinta kasih
yang tulus dan pengabdian yang tinggi kepada TYME
atau sebagai manifestasi-Nya atau Istadevata-Nya.
• BHakti Marga Yoga: menekankan bahwa Bhakti adalah
jalan dan sekaligus juga sarana mempersatukan
manusia dengan TYME.
Landasan Filosofis Ajaran Bhakti
(Rgveda VIII.69.8; I.10.2; VI.15.8)
menyatakan:
• “Arcata pracata priyam edhaso Arcata,
arcantu putraka uta puram na
dhrsnvarcata”
(Pujalah, pujalah Dia sepenuh hati Oh
cendikiawan, Pujalah Dia. Semogalah
semua anak-anak ikut memuja-Nya.
Teguhlah hati seperti kukuhnya candi dari
batu karang untuk memuja keagungan-
Nya)
• “Yat sanoh aruhad bhury aspasta kartvam,
tad indro artham cetati yuthena vrsnir ejati”
(TYME melindungi mereka yang Bhakti yang
meningkatkan diri secara bertahap dg berbagai aktivitas.
TYME akan hadir dengan berbagai kemahakuasaa-Nya
untuk menganugrahkan keberuntungan)
• “devsasca martasas ca jagrvim,
vibhum vispatim namasa ni sedire”
(Ya, TYME, engkau sumber kesadaran sejati, yg
senantiasa hadir di mana-mana dan pelindung semua
makhluk. Semua umat manusia menyembah-Mu)
• “saha yajnah prajah srstv purovaca prajapatih,
anenaprasavisyadhvam esa vo’stv ista kamadhuk”
(Pada awal tercipanya alam semesta TYME
menciptakannya atas dasar yajna (cinta kasih dan
pengorbanan yang tulus) selanjutnya bersabda: dengan
(yajna) engakau berkembang biak dan jadikanlah bumi
ini sebagi sapi perahaanmu)
Berbagai Bentuk Bhakti.
Sebagai perwujudan Bhakti atau cinta yang sejati, TYME di
dalam doa “Subhasita” digambarkan sebagai seorang
ibu, bapak, sahabat terkasih, saudara tercinta, pemberi
pengetahuan dan pemberi kekayaan, dan Tuhan adalah
segala-galanya, yang Maha suci, Maha Agung tidak
terjangkau oleh pikiran dan akal manusia.
• “Tvam eva mata ca pita eva tvam eva tvam eva
bandhusca sakha tvam eva tvam eva vidya dravinam
tvam eva tvam eva sarvam mama deva-deva”
(Ya TYME, Engkau Ibu dan Bapakku yang sejati,
sahabat dan saudara tercinta. Engkau sumber ilmu
pengetahuan dan pemberi kekayaan, bagi hamba
engkau adalah segalanya, dewata tertinggi)
Demikian dalam Bhagavadgita, TYME dalam wujudnya
sebagai Sri Krsna memberikan jaminan kepada umat
manusia yang Bhakti, akan terpenuhi keinginannya dan
akan dilindungi miliknya.
• Ananyas cintayanto mam ye janah paryupasate
tesam nityabhiyuktanam yoga ksemam vahamy aham
(Mereka yang senantiasa berbhakti kepada Aku,
merenungkan Aku selalu, kepada mereka Aku bawakan
segala kebutuhannya dan Kulindungi segala miliknya)
• Man-mana bhava mad-bhakto mad-yaji mam
namaskuru, mam evaisyasi satyam te pratijane priyo si
me.
(Pusatkanlah pikiranmu kepada-Ku, berbhaktilah
kepada-Ku, bersujudlah kepada Aku, sembahlah Aku,
engkau akan tiba pada-Ku, Aku berjanji setulusnya
kepadamu, sebab engkau sangat Ku-kasihi).
Bhakti dapat dibedakan menjadi dua bentuk:
• “Aprabhakti”: Pemujaan atau persembahan dan
kebhaktian dengan berbagai permohonan, dan
permohonan itu adalah wajar mengingat keterbatasan
kita tentang hakikat bhakti. Namun demikian bhakti dan
permohonan hendaknya yang wajar saja, tidak berlebih-
lebihan.
-”Sarvaprani hitangkarah” (semogalah semua mahluk
sejahtera)
-”Sarvasukhino bhavantu” (semolah semuanya
memperoleh kesukaan)
• “Parabhakti”: (bhakti yang luhur): Menyerahkan diri
sepenuhnya kepada TYME. Penyerahan diri
sepenuhnya kepada-Nya bukanlah dalam pengertian
pasif tidak mau melakukan berbagai aktivitas, tetapi ia
aktif dan dengan keyakinan bahwa bekerja dengan baik
dan tulus niscaya akan memperoleh pahala yang baik
pula.
Beberapa jenis bentuk bhakti yang disebut
“Bhavabhakti”:
• Santhabhava: bhakti atau hormat seorang anak
terhadap ibu dan bapaknya (contoh: Sri Rama kepada
ayahnya raja Dasaratha).
• Sakhyabhava: bentuk bhakti yang meyakini Hyang
Widhi, manifestasi-Nya, Istadewata atau Awatara-Nya
sebagai sahabat yang sangat akrab dan selalu
memberikan perlindungan dan pertolongan pada saat
yang diperlukan (contoh:prsahabatan yang kental antara
Arjuna dengan Sri Krsna).
• Dasyabhawa: bhakti atau pelayanan kpd TYME seperti
seorang hamba kpd majikannya (contoh: bhakti Sang
Hanoman kepada Sri Rama)
• Vatsalyabhava: seorang penyembah atau
bhakta memandang TYME seperti
anaknya sendiri (cinta Devi Kausalya
kepada Sri Rama, Yasoda kpd Sri Krsna)
• Kantabhava: seorang penyembah atau
bhakta seperti sikap seorang istri terhadap
suaminya tercinta (contoh: cinta Dewi Sita
terhadap suaminya Sri Rama, Dewi
Rukmini terhadap Sri Krsna).
• Madhuryabhava: bentuk bhakti sebagai
cinta yang amat mendalam dan tulus dari
seorang bhakta kpd TYME (contoh: bhakti
para Gopi, putri-putri gembala lembu dan
Radha kepada Sri Krsna).
Implementsi BMY
1. Melkasnakan doa atau puja tri sandhya secara rutin setiap hari;
2. Menghaturkan banten saiban atau jotan/ngejot atau yajnasesa;
3. Berbhakti kehadapan TYME beserta semua manifestasi-Nya;
4. Berbakti kehadapan leluhur;
5. Berbakti kehadapan para pahlawan pejuang bangsa;

6. semua manife
6. Melaksanakan dewa yajna (piodalan/puja-
wali, Saraswati, Pagerwesi, dll.);
7. Melaksanakan upacara manusa yajna
(magedong-gedongan, ngotonin dll.);
8. Melaksanakan Bhuta yajna (masegeh,
mecaru, tawur, memelihara hewan,
melakukan penghijauan dll.)
9. Melaksanakan upacara pitra yajna (bhakti
kehadapan guru rupaka atau rerama,
ngaben, mamukur, ngeluwer dll)
10. Melaksanakan upacara Resi Yajna (upa-
cara pariksa, diksa, ngelingg weda dll.).
Karma Marga Yoga (KMY)
Karma Marga Yoga: menekankan kerja sebagai bentuk
pengabdian dan bhakti kepada TYME. Ajaran Karma
Marga Yoga merupakan etos kerja atau budaya kerja
bagi umat Hindu di dalam usaha mewujudkan
kesejahteraan dan kebahagian lahir dan bathin.
Landasan Filosofis Ajaran Karma
• Di dalam Veda dan ajaran agama dalam susastra Hindu
lainnya kita jumpai beberapa mantra yang menekankan
pentingnya karma yang baik (Subhakarma) sebagai
usaha untuk memperbaiki kualitas hidup jasmaniah dan
rohaniah
• “Udyanam te purusa navayanan,
jivatum te daksatatimkrnomi” (Atharvaveda VIII.1.6.)
(Oh manusia, giatlah bekerja untuk kemajuan, jangan
mundur, Aku anugerahkan kekuatan dan tenaga).
• “Icchanti devah sunvantam na svapnaya sprhayanti,
yanti pramadam atandrah” (Atharvaveda VIII.1.8.)
(TYME mencintai mereka yang giat bekerja. Ia membenci
mereka yang malas dan dungu. Seseorang yang
senantiasa sadar memperoleh kebahagian sejati).
• “satahasta samahara sahasrahasta sam kira,
krtasya karya’sya ceha sphatim samawaha” (Atharvaveda
III.24.5)
Oh umat manusia, kumpulkanlah kekayaan dengan
seratus tangan (bekerja keras) dan setelah engkau
peroleh, dermakanlah kekayaan itu dengan seribu
tanganmu)
• “Niyatam kuru karma tvam karma jyayo hyakarmanah,
sarirayatra’pi ca te na prasiddhyed akarmanah”
(Bhagavadgita III.8)
(Lakukanlah tugas kewajiban yang telah ditetapkan
bagimu, sebab melakukan tugas jauh lebih baik dari tidak
bekerja, seseorang tidak akan mungkin dapat memelihara
badannya seandainya ia tidak melakukan kerja)
• “karmani evadhikaras te ma phalesu kadacana,
ma karma phala hetur bhur ma te sango stv akarmani”
(Bhagavadgita II.47)
(Kewajibanmu hanyalah bekerja, bukan pada hasil
perbuatan, jangan menganggap dirimu penyebab hasil
kegiatanmu, dan jangan terikat pada kebiasaan tidak
melakukan kewajibanmu).
• “Na karmanam anarambahan naiskarmyam puroso
‘snute, na ca sannasanad eva siddhim samadhigacchati”
(Bhagavadgita III.4)
(Orang tidak mencapai kebebasan karena diam tidak
bekerja juga tidak mencapai kesempurnaan karena
menghindari kegiatan kerja).
• “Yajnarthat karmano ‘nyatra loko ‘yam karma-bandhanah,
tad-artham karma kaunteya mukta-sangah samacara”
(Bhagavadgita, III.9)
(kecuali untuk tujuan berbhakti dunia ini dibelenggu oleh hukum
kerja, karenanya berkerjalah demi untuk berbhakti, tanpa
kepentingan pribadi, oh Arjuna)
• “Yat karosi yad asnasi yaj johosi dadasi yat,
yat tapasyasi kaunteya tat kurusva mad-arpanam” (Bhagavadgita,
IX.27)
(Apapun yang engkau kerjakan, kau makan, kau persembahkan,
kau dermakan dan disiplin diri apapun kau laksanakan, lakukanlah
semua itu, wahai Arjuna hanya bhakti kepada Aku).
• “Na hi kascit ksanam api jatu tisthaty akarma-krt, karyate hy avasah
karma sarvah prakerti-jair gunaih” (Bhagavadgita III.5)
(Tidak seorangpun yang tidak bekerja walaupun untuk sesaat jua,
karena dengan tidak bekerja, manusia dibuat tidak berdaya oleh
hukum alam).
Penerapan KMY
Menerapkan filosofi: ngayah, matulungan,
menyama braya, paras-paros sarpanaya
salunglung sabayantaka, suka dan duka,
agawe sukaning wong len, utsaha ta
larapana, makarya, makarma sane melah,
ala kalawan ayu, karma phala, catur
paramita, tri guna, trikaya parisudha, yama
niyama brata dll.
Jnana Marga Yoga (JMY)
• Jnana Marga Yoga: Jalan dan usaha untuk menghubungkan diri dengan TYME untuk
mencapai kebahagiaan sejati melalui pengetahuan. Pengetahuan di sini ditekankan
pada pengetahuan spiritual, yakni pengetahuan yang dapat membebaskan umat
manusia dari belenggu penderitaan. Jnana atau ilmu pengetahuan suci menuntun
manusia untuk bekerja tidak terikat oleh hawa nafsu, tanpa motif kepentingan pribadi,
rela melepaskan hak milik, sadar bahwa badan bukan Atma yang bersifat abadi.
• Sumber ajaran JMY adalah kitab suci Veda (Catur Weda), kitab-kitab Upanisad
(Vedanta), dan di Indonesia kita mengenal kitab-kitab Tattwa.
Di dalam kitab suci Veda terdapat mantra-mantra yang membahas ajaran JMY a.l.:
• “…satas ca yonim asatas ca vi vah” (Atharvaveda IV.1.1.)
(TYME merupakan asal dari segala sesuatunya baik yang nampak maupun yang
tidak nampak)
• “…Sariram brahma pravisat, sarire adhi prajapatih” (Atharvaveda XI.8.30.)
(TYME meresapi tubuh manusia dan menjadi raja padanya)
• “… tannonasad yah pitaram na veda” (Atharvaveda IX.9.21)
(Tidak seorangpun mencapai kebahagian sejati, tanpa mengetahui TYME, sebagai
Bapak pencipta alam semesta)
• “tam eva vidivati mrtyum eti…” (Yajurveda 31.18)
(Hanya dengan mengetahui TYME seseorang mencapai keselamatan dan
kebahagian).
Di dalam kitab-kitab Upanisad yg merupakan sumber ajaran Vedanta
Brahman (TYME) yang disebut “Satyasya Satya” benarnya
kebenaran dinyatakan identik dengan Atman (Jivatman)
terbelenggu dalam tubuh manusia yg terdiri dari beberapa selubung
yang disebut Pancakosa Atma yaitu: Annamayakosa (badan
jasmani), Pranamayakosa (badan energi), Manomayakosa (badan
mental atau pikiran), Vijnanamayakosa (badan kecerdasan),
Anandamayakosa (badan kebahagian).
Ditegaskan bahwa Atman mempunyai atau menggunakan badan,
tetapi badan bukanlah Atman. Bila badan disamakan dengan Atman
maka atman akan menjadi pelayan dari obyek-obyek indria. Pada
saat seseorang mencapai kesadaran Atman, saat itu selubung-
selubung itu tidak mengikatnya lagi.
Banyak mantra-mantra yg menyatakan indentifikasi Atman dengan
Brahman, yg kemudian dikenal dg “Mahawakya Upanisad” sebagai
dasar ajaran Vedanta, yaitu:
• “ayam atma brahma” (Madukya Upanisad 2)
(Brahma adalah (identik) dengan Atma)
• “ekam eva Brahman” (Chandogya Upanisad VI.2.1.)
(sesungguhnya hanyalah satu Brahman, TYME)
• “aham brahma asmi” (Brhadaranyaka Upanisad I.4.10)
(aku adalah Brahman, TYME)
• “sarvam khalu idam brahma” (Chandogya Upanisad
III.14.3.)
(seluruhnya ini sesungguhnya adalah Brahman)
• “tat twam asi” (Chandogya Upanisad VI.14.1.)
(Dia adalah engkau juga)
• “vijnanam anandam brahma” (Brhadaranyaka Upanisad
III.9.28.7)
(Brahman adalah kecerdasan dan kebahagian)
Demikian mantra-mantra Upanisad yg menjadi dasar
berkembangnya ajaran Jnana Marga Yoga dg
pemahaman thd pengetahuan kerohanian dan
merealisasikan ajaran tersebut seseorang akan dapat
mencapai kebahagian sejati, bersatunya Atma dg
Brahman (Paramatman) yg disebut Moksa.
Merealisasikan Jnana Marga Yoga
• Jnana Marga Yoga dapat dilaksanakan melalui
dua usaha
- Dengan kontemplasi; dan
- Dengan meditasi
• Sedang dalam naskah-naskah klasik Vedanta
(Upanisad) disebutkan adanya tiga jalan untuk
merealisasikan ajaran Jnana yaitu
- Sravana (Studi);
- Manana (Perenungan/menganalisa); dan
- Nididhyasana (mempraktekkan) untuk
mencapai tujuan tertinggi.
Penerapan JMY
Menerapkan ajaran: aguron-guron, guru dan
sisya, guru bhakti, guru susrusa, brahma-
cari dan catur guru, sisya sasana, resi
sasana, putra sasana, guru nabe/guru
waktra/guru saksi, catur asrama, wrati
sesana/slokantara/sila krama/, veda dll.
Raja Marga Yoga (RMY)
RMY : jalan atau usaha tertinggi untuk menghubungkan diri
dengan TYME melalui jalan Yoga yg tertinggi. RMY adalah
jalan yg membawa kepenyatuan dg Tuhan, melalui
pengekangan diri dan pengendalian pikiran. RMY
mengajarkan bagaimana mengendalikan indriya-indriya dan
wrtti mental atau gejolak pikiran yg muncul dari pikiran,
bagaimana mengembangkan konsentrasi dan bagaimana
bergaul dengan Tuhan. Dalam Hatha Yoga terdapat disiplin
fisik, sedangkan dalam Raja Yoga terdapat disiplin pikiran.
Astangga Yoga
Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana,
Dhyana dan Samadhi adalah delapan anggota (Angga) dari
Raja Yoga
• Yama dan Niyama membentuk disiplin etika yg memurnikan
hati. Yama terdiri dari: Ahimsa (tanpa kekerasan), Satya
(kejujuran), Brahmacarya (membujang, pengen-dalian hawa
nafsu), Asteya (tidak mencuri), dan Aparigraha (tidak
menerima pemberian kemewahan).
• Niyama adalah kepatuhan, dan tersusun atas: Sauca
(pemurnian dalam dan luar), Santosa (kepuasan), Tapas
(kesederhanaan), Swadhyaya (belajar kitab suci dan
penguncaran mantra), dan Iswarapranidhana (berserah
diri kepada Tuhan). Mereka yg mantap dalam Yama dan
Niyama akan cepat maju dalam melaksanakan Yoga.
• Asana, pranayama dan pratyahara merupakan
perlengkapan pendahuluan dari yoga, Asana adalah
sikap badan yang mantap. Pranayama adalah
pengaturan nafas, yg menghasilkan ketenangan dan
kemantapan pikiran serta kesehatan yg baik. Pratyahara
adalah penarikan indriya-indriya dari obyek-obyeknya.
• Dharana adalah konsentrasi pikiran pada suatu obyek,
atau cakra dalam, atau Ista-Dewata. Lalu menyusul
Dhyana atau meditasi, yaitu pengaliran yg tak henti-
hentinya dari pemikiran sehubungan satu obyek, yg
nantinya membawa pada keadaan samadhi, saat seperti
itu yg bermeditasi dan yg dimeditasikan menjadi satu.
Penerapan RMY
 Melaksanakan intropeksi diri atau pengendalian
diri;
 Menerapkan ajaran tapa, brata, yoga dan
samadhi;
 Menerapkan ajaran astangga yoga;
 Melaksanakan kerjasama atau relasi yg baik dan
terpuji dg sesama;
 Menjalin hubungan kemitraan di alam semesta ini
secara terhormat dengan rekanan, lingkungan,
dan semua ciptaan Tuhan di alam semesta ini
 Membangun pasraman atau paguyuban untuk
praktek yoga;
 Mengelola asram yg bergerak di bidang
pendidikan rohani, agama, spiritual dan upaya
pencerahan diri lalir batin;
 Menerapkan filosofi mulat sarira;
 Menerapkan filosofi ngeret indriya;
 Menerapkan filosofi mauna;
 Menerapkan filosopi upawasa.
 Menerapkan filosofi catur brata penyepian;
 Menerapkan filosofi tapasya, pangastawa, dan
menerapkan ajrn Hindu dengan baik dan benar.
Konsentrasi Kunci Keberhasilan
• Tanpa konsentrasi, tak dapat memiliki keberhasilan dalam jalan kehidupan atau
pengejaran spiritual. Tukang masak dapat mempersiapkan sesuatu secara efisien
bila ia berkonsentrasi. Bila tak ada konsentrasi, rusaklah hidangan yg dipersiapkan.
Seorang dokter bedah dlm ruangan bedah memerlukan konsentrasi sepenuhnya.
Kapten kapal laut harus memiliki konsentrasi yg besar sekali. Seorang penjahit,
profesor, pengacara, mahasiswa, kesemuanya harus memiliki konsentrasi, karena
hanya dengan demikianlah mereka dapat berhasil dalam pekerjaannya. Semua jiwa-
jiwa agung, penguasa pikiran, yg telah melakukan karya-karya besar di dunia ini,
memiliki konsentrasi yg sempurna.
• Pada seorang manusia duniawi, pancaran pikiran berpencar kesegala penjuru,
melompat-lompat seperti seekor kera, yg selalu gelisah. Ia berpikir tentang uang, istri,
anak-anak, kekayaan, rumah dsb. Pikirannya selalu terikat dalam perolehan uang
dan keinginan memiliki obyek-obyek yang diinginkannya. Ia tidak memiliki secuil
konsentrasi, dan tidak dapat melihat ke dalam diri serta intropeksi diri. Pikirannya
penuh dengan kecendrungan ke arah luar.
• Konsentrasi dan meditasi menuntun menuju samadhi atau pengalaman supra sadar,
yg memiliki beberapa tingkatan pendakian, disertai atau tidak disertai dengan
pertimbangan (witarka), analisa (wicara), kebahagian (ananda), dan kesadaran diri
(asmita). Demikianlah, kaiwalya atau kemerdekaan tertinggi dicapai.
Sarana Untuk memuja-Nya
• Sarana untuk memuja-Nya bentuknya bermacam-
macam, di antaranya untuk membayangkan-Nya dibuat
pratika, cihnam, laksanam, linggam, samjnya, pratirupa
(Apte, 1987:460), di samping itu secara umum dikenal
pula istilah: arca, pratima, prativimba, nyasa, murti, dll.,
yg mengandung makna perwujudan-Nya. Di samping itu
juga dikenal Tirtha dan Ksetra, yakni mata air, tepi
sungai atau tepi laut, gunung, dan dataran yg memiliki
potensi sbg tempat kemunculan kekuatan suci.
Kekuatan suci ini mendukung kawasan itu menjadi suci,
di Bali kawasan tertentu seperti Besakih, Tanah Lot,
Uluwatu, Sakenan, pantai Klotok, Tirta Empul,
Tampaksiring dll adalah merupakan kawasan suci yg
sejak jaman purba telah dipelihara kesuciannya.
• Sarana memuja TYME, para devata, dan roh-roh suci
para rsi dan leluhur adalah pura, mandira, kuil,
kahyangan dll. Pura seperti halnya meru atau candi (dlm
pengertian peninggalan purbakala kini di Jawa)
merupakan simbol dari kosmos atau alam sorga
(kahyangan). Untuk mendukung bahwa pura atau
tempat pemujaan adalah replika kahyangan dapat
dilihat dari bentuk (struktur), relief, gambar dan ornamen
dari sebuah pura atau candi. Pada bangunan suci
seperti candi di Jawa kita menyaksikan semua gambar,
relief atau hiasannya menggambarkan mahluk-mahluk
sorga, seperti arca-arca devata, wahana devata, pohon-
pohon sorga (parijata, dll), juga mahluk-mahluk suci
seperti vidyadhara-vidyadhari dan Kinara-Kinari, yakni
seniman sorga dan lain-lain.