Anda di halaman 1dari 15

Askep epilepsi

Kelompok 5
pengertian

 Epilepsy adalah kompleks gejala dari beberapa kelainan fungsi otak yang ditandai
dengan terjadinya kejang secara berulang. Dapat berkaitan dengan kehilangan
kesadaran, gerakan yang berlebihan, atau kehilangan tonus atau gerakan otot, dan
gangguan prilaku suasana hati, sensasi dan persepsi (Brunner dan suddarth, 2000).
Klasifikasi epilepsi

1. Epilepsi Umum.
 Grand mal : Epilepsi grand mal ditandai dengan timbulnya lepas muatan listrik yang
berlebihan dari neuron diseluruh area otak-di korteks, di bagian dalam serebrum, dan
bahkan di batang otak dan talamus. Kejang grand mal berlangsung selama 3 atau 4 menit.
 Petit mal : Epilepsi ini biasanya ditandai dengan timbulnya keadaan tidak sadar atau penurunan
kesadaran selama 3 sampai 30 detik, di mana selama waktu serangan ini penderita merasakan beberapa
kontraksi otot seperti sentakan (twitch- like), biasanya di daerah kepala, terutama pengedipan mata.
 Epilepsi Jenis Focal / Parsial : Epilepsi fokal dapat melibatkan hampir setiap bagian otak, baik regio
setempat pada korteks serebri atau struktur-struktur yang lebih dalam pada serebrum dan batang
otak. Epilepsi fokal disebabkan oleh resi organik setempat atau adanya kelainan fungsional.
2. Epilepsi Primer (Idiopatik)
 Trauma lahir, Asphyxia neonatorum
 Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf
 Keracunan CO, intoksikasi obat/alcohol
 Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)
 Tumor Otak
 Kelainan pembuluh darah
3. Epilepsi Sekunder (Simtomatik)
Epilepsi yang diketahui penyebabnya atau akibat adanya kelainan pada jaringan otak. Kelainan ini dapat
disebabkan karena dibawa sejak lahir atau adanya jaringan parut sebagai akibat kerusakan otak pada
waktu lahir atau pada masa perkembangan anak
Pencegahan epilepsi

 Perbanyak jam tidur setiap malam, cobalah untuk mengatur jadwal tidur yang teratur, dan
melakukan dengan disiplin.
 Anda bisa mencoba untuk mengatur stres dan mempelajari teknik relaksasi yang bisa
menenangkan otak, tubuh, serta pikiran guna mencegah ayan muncul. Ini dapat Anda lakukan
dengan cara yoga atau meditasi.
 Hindari mengonsumsi narkoba dan alkohol.
 Hindari cahaya yang terang, lampu kelap-kelip, dan rangsangan visual lainnya yang bisa
memicu kaget.
 Kurangi waktu Anda menonton TV dan berada di komputer.
 Kurangi bermain video game.
 Terapkan pola makan sehat dan diet untuk mencegah epilepsi.
Pengkajian fisik
1. Keadaan umum : Pada klien dengan epilepsi sewaktu dilakukan pengkajian, biasanya
klien mengalami kejang dan kesadaran compos mentis. Tanda tanda vital Tidak terdapat
kelainan.
2. Pemeriksaan Fisik (ROS)
• B1 (breath) : RR biasanya meningkat (takipnea) atau dapat terjadi apnea, aspirasi
• B2 (blood) : Terjadi takikardia, cianosis
• B3 (brain) : Penurunan kesadaran
• B4 (bladder) : Oliguria atau dapat terjadi inkontinensia urine. Pada
pemeriksaan sistem kemih biasanya didapatkan berkurangnya volume output urine, hal ini
brhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan curah jantung ke ginjal
• B5 (bowel) : Nafsu makan menurun, berat badan turun, inkontinensia alvi. Pemenuhan
nutrisi pada pasien epilepsi menurun karena anoreksia dan adanya kejang.
• B6 (bone) : Klien terlihat lemas, dapat terjadi tremor saat menggerakkan anggota tubuh,
mengeluh meriang. Pada fase akut saat kejang sering didapatkan adanya penurunan kekuatan otot
dan kelemahan fisik secara umum sehingga mengganggu aktivitas perawatan diri.
3. Pemeriksaan umum
• Kepala Pada klien dengan epileapsi biasanya klien mengeluhkan nyeri oleh karena adanya spasme atau
penekanan pada tulang tengkorak akibat peningkatan TIK sewaktu kejang
• Mata Pada klien dengan epilepsi saat terjadi serangan klien biasanya mata klien cenderung seperti melotot
bahkan pada sebagian anak lensa mata dapat terbalik sehingga pupil tidak Nampak.
• Hidung Pada penderita epilepsi jarang di temukan  kelainan pada hidung.
• Mulut pada penderita epilepsi biasanya ditemukan adanya kekakuan pada rahang.
• Telinga Pengkajian pada telinga meliputi: hygiene, kesimetrisan, ketajaman pendengaran.
• Leher Pengkajian pada leher meliputi : pemeriksaan gerakan kepala ROM (Range Of Motion),
pembengkakan dan distensi vena. Pada sebagian penderita epilepsi juga ditemukan kaku kuduk pada leher.
• Dada
 Paru : Kesimetrisan paru dan tidak ada pembesaran
 Jantung : Auskultasi bunyi jantung
 Abdomen : Pengkajian pada abdomen meliputi : pemeriksaan warna dan keadaan kulit abdomen, auskultasi bising
usus, perkusi secara sistemik pada semua area abdomen, palpasi dari kuardan bawah keatas. Pada penderita epilepsi
biasanya terdapat adanya spasme abdomen.
• Genetalia : Pengkajian pada genetalia meliputi pemeriksaan kulit sekitar daerah anus terhadap
kemerahan dan ruam, pemeriksaan anus terhadap tanda-tanda fisura, hemoroid, polip, atresia ani.
• Ekstremitas :
 Atas : pengkajian meliputi kesimetrisan, antara tangan kanan dan kiri, kaji kekuatan
ektermitas atas dengan menyuruh anak meremas jarinya. Pada penderita epilepsi
biasanya terdapat aktivitas kejang pada ekstermitas.
 Bawah : pengkajianya meliputi kesimetrisan antara kaki kanan dan kiri, kaji kekuatan
ektermitas bawah. Pada penderita epilepsi biasanya terdapat aktivitas kejang pada
ekstemitas.
A
PADA ANAK DENGAN DIAGNOSA MEDIS EPILEPSI
Data fokus etiologi masalah

Ds : - Aktifitas otot hipertermi


Do :  
Suhu > 37,5 Metabolisme
Pasien tampak kejang  
Kulit tampak merah Suhu tubuh
Akral teraba hangat  
Hipertermi

Ds : pasien mengeluh nyeri Metabolisme Nyeri akut


 
Do : Kebutuhan O2
Pasien tampak meringis  
TD : >110/80 Konsentrasi O2 dalam tubuh
Nadi : >120 x/menit  
Metabolisme anaerob
 
Asam laktat menumpuk
 
Nyeri aku
diagnosa etiologi masalah
DS : - Kejang epileptic Resiko jatuh
Do : -  
Epilepsy
 
Kesadaran menurun
 
Resiko jatuh
Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan laju metabolism
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis
3. Resiko jatuh berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran
Analisa Data Kriteria Hasil Intervensi
(SDKI) (SLKI) (SIKI)

Gejala tanda mayor Setelah dilakukan tindakan Manajemen Hipertermia


Ds : - keperawatan selama 1 x 24 jam Observasi
Do : Suhu tubuh di atas nilai hipertermi membaik dengan 1. Identifikasi penyebab hipertermi
normal. Kriteria hasil : 2. Monitor suhu tubuh
  1. Menggigil menurun 3. Monitor kadar elektralit
Gejala tanda minor 2. Suhu tubuh membaik 4. Monitor haluaran urine
Ds : - 3. Suhu kulit membaik 5. Monitor komplikasi akibat hipertermi
Do : 4. Kejang menurun Terapiutik
Kulit merah 5. Takikardi menurun 6. Longgarkan dan lepaskan pakaian
Kejang 6. Takipnea menurun 7. Berikan cairan oral
Takikardi 8. Lakyukan pendinginan eksternal (mis. Selimut
Takpnea hipotermia atau kompres dingin pada dahi, leher,
Kulit tetrasa hangat dada, abdomen, aksila)
9. Hindari pemberian antipiretik atau aspirin
10. Berikan oksigen jika perlu
Edukasi
11. Anjurkan tirah baring
12. Kolaborasi
13. Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit
intravena, jika perlu
Gejala dan tanda mayor Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri
Ds : keperawatan selama 1 x 24 jam Observasi
Mengeluh nyeri Tingkat nyeri menurun dengan 1. Identifikasi karakteristik durasi, lokasi,
frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
Do : kriteria hasil :
2. Identifikasi skala nyeri
Tampak meringis 1. Keluhan nyeri menurun 3. Identifikasi faktor yang memberat dan
Bersikap protektif menghindari nyeri 2. Meringis menurun memperingan nyeri
Gelisah 3. Gelisah menurun 4. Monitor efek samping penggunaan
Frekuensi nadi meningkat 4. Kesulitan tidur menurun analgesik
Sulit tidur 5. Frekuensi nadi membaik 5. Identifikasi kualitas nyeri terhadap
Gejala tanda minor proses kehidupan
Ds : - Terapiutik
Do : 6. Berikan ternik non farmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
Tekanan darah meningkat 7. Kontrol lingkungan yang memberat
Pola napas berubah rasa nyeri
Nafsu makan berubah 8. Fasilitasi istirahat dan tidur
Proses berpikir terganggu 9. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri
Menarik diri dalam strategis pereda nyeri
Berfokus pada diri sendiri Edukasi
Diaforesis 10. Jelaskan penyebab periode dan pemicu
  nyeri
11. Jelaskan strategi pereda nyeri
12. Anjurkan memonitor nyeri secara
mandiri
13. Ajarkan teknik non farmakologi untuk
mengurangi rasa nyeri
14. Kolaborasi
15. Pemberian analgesik jika diperlukan
Gejala dan tanda mayor Setelah dilakukan tindakan Pencegahan Jatuh
Ds : - keperawatan selama 1 x 24 Observasi
Do : - jam Resiko jatuh menurun 1. Identifikasi faktor resiko jatuh
2. Identifikasi risiko jatuh setidaknya setiap shift atau sesuai
Gejala tanda minor dengan kriteria hasil :
kebijakan institusi
Ds : - 1. Jatuh dari tempat tidur 3. Identifikasi faktor lingkungan yang meningkatkan resiko
Do : - menurun jatuh
2. Jatuh saat berdiri 4. Hitung resiko jatuh dengan menggunakan skala
menurun Terapiutik
3. Jatuh saat duduk 5. Orientasikan ruangan pada pasien dan keluarga
menurun 6. Pastikan roda tempat tidur dan kursi roda dalam kondisi
4. Jatuh saat berjalan terkunci
menurun 7. Pasang handrall tempat tidur
8. Atur tempat tidur mekanis pada posisi rendah
5. Jatuh saat dipindahkan 9. Tempatkan pasien beresiko tinggi jatuh dekat dengan
menurun pantauan perawat dari nurse station
10. Dekatkan bel pemanggil dalam jangkauan pasien
Edukasi
11. Anjurkan memanggil perawat jika membutuhkan
bantuan untuk berpindah
12. Anjurkan cara menggunakan bel pemanggil untuk
memanggil perawat
Terimakasih......