Anda di halaman 1dari 123

BAB IX

ANALISIS BIAYA VOLUME LABA


A. PENGERTIAN ANALISIS BIAYA- VOLUME-
LABA

• Analisis biaya-volume-laba (analisis BVL) yang sering kali


disebut sebagai cost-volume-profit analysis (CVP analysis)
merupakan alat yang berguna untuk perencanaan dan
pembuatan keputusan.
• Analisis BVL menekankan pada hubungan antara biaya,
volume (kuantitas penjualan), dan harga jual.
• Analisis BVL juga merupakan alat yang berguna untuk
mengidentifikasi permasalahan yang berhubungan dengan
perencanaan penjualan dan membantu perusahaan dalam
memecahkan permasalahan tersebut.
• Analisis BVL juga dapat digunakan untuk membantu
memecahkan masalah penting lainnya, misalnya
tentang perencanaan jumlah unit produk yang
seharusnya dijual agar perusahaan mencapai titik
impas (break-even point), perhitungan dampak
penurunan biaya tetap terhadap titik impas dan
perhitungan dampak kenaikan harga jual terhadap
laba.
B. TITIK IMPAS DALAM UNIT
• Titik impas (break-even point) adalah keadaan yang
menunjukkan bahwa jumlah pendapatan yang diterima
perusahaan (pendapatan total) sama dengan jumlah biaya
yang dikeluarkan perusahaan (biaya total).
• Keadaan tersebut biasanya ditunjukkan dalam jumlah volume
aktivitas (jumlah unit penjualan). Titik impas dapat
dirumuskan melalui dua pendekatan, yaitu titik impas dalam
jumlah unit penjualan dan titik impas dalam jumlah rupiah
penjualan.
• Titik impas dalam jumlah unit penjualan dihitung dengan cara
membagi biaya tetap total dengan margin kontribusi per unit.
• Untuk menemukan titik impas dalam unit penjualan,
manajemen harus berfokus pada perhitungan laba
operasi (operating income). Langkah selanjutnya adalah
menentukan jumlah unit yang seharusnya dijual untuk
mendapatkan laba yang ditargetkan (targeted profit).
• Analisis BVL berfokus pada faktor-faktor yang
berdampak pada perubahan dalam komponen laba.
Apabila manajemen ingin mengetahui analisis BVL
dalam hubungannya dengan unit penjualan, maka
manajemen perlu menentukan komponen biaya tetap
dan biaya variabel serta pendapatan dalam
hubungannya dengan unit penjualan.
Pendekatan Laba Operasi
• Laporan laba rugi yang disusun dengan pendekatan variable costing
merupakan alat yang berguna bagi manajemen untuk
mengorganisasi biaya perusahaan ke dalam kelompok biaya tetap
dan biaya variabel.
• Laporan laba rugi dengan pendekatan variable costing dapat
dinyatakan dalam bentuk persamaan sebagai berikut.

• Perhitungan unit impas dapat dilakukan dengan cara memusatkan


perhatian pada laba operasi atau disebut dengan pendekatan laba
operasi (operating income approach).
• Laba operasi hanya meliputi pendapatan dan
biaya yang berasal dari aktivitas operasi normal
perusahaan. Aktivitas operasi normal adalah
aktivitas yang dilakukan perusahaan di luar
aktivitas investasi (investing activities) dan
aktivitas keuangan (financing activties).
• Untuk selanjutnya akan digunakan istilah laba
bersih (net income) yang menunjukkan laba
operasi setelah dikurangi dengan pajak.
• Apabila ukuran unit penjualan sudah diketahui, selanjutnya
persamaan laba operasi dapat diperluas dengan
mengekspresikan pendapatan penjualan dan biaya variabel
dalam hubungannya dengan jumlah rupiah dan jumlah unit.
• Pendapatan penjualan adalah harga jual per unit dikalikan
dengan jumlah unit penjualan dan biaya variabel total
adalah biaya variabel per unit dikalikan dengan jumlah unit
penjualan.
• Berdasarkan penjelasan di atas, maka persamaan laba
operasi dapat dirumuskan sebagai berikut.
• Untuk memperjelas hal-hal di atas, berikut ini
ditunjukkan contoh perhitungan titik impas dalam
unit.
• Diasumsikan bahwa PT Gemah Ripah memproduksi
mesin motor. Untuk tahun yang akan datang,
direktur keuangan telah menyiapkan laporan laba
rugi prospektif sebagai berikut.
• Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa harga jual
produk adalah sebesar Rp400.000 per unit dan biaya
variabel adalah sebesar Rp325.000 per unit
(Rp325.000.000/1.000 unit). Biaya tetap adalah
sebesar Rp45.000.000.
• Pada titik impas, persamaan laba operasi akan
menjadi sebagai berikut.
• Oleh karena itu, PT Gemah Ripah harus dapat menjual
sebanyak 600 unit mesin motor dalam rangka menutup
semua biaya tetap dan biaya variabel.
• Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengecek
jawaban tersebut adalah dengan memformulasikan
laporan laba rugi berdasarkan 600 unit penjualan.
Pendekatan Margin Kontribusi
• Perhitungan unit impas dapat dilakukan lebih
cepat dengan cara memusatkan perhatian
pada margin kontribusi atau disebut dengan
pendekatan margin kontribusi (contribution
margin approach).
• Margin kontribusi merupakan pendapatan
penjualan dikurangi dengan biaya variabel
total. Pada titik impas, besarnya margin
kontribusi sama dengan besarnya biaya tetap.
• Apabila margin kontribusi per unit diganti dengan
harga jual per unit dikurangi biaya variabel per
unit pada persamaan laba operasi dan diperoleh
jumlah unit, maka akan diperoleh persamaan
impas sebagai berikut.
• Dengan menggunakan PT Gemah Ripah sebagai contoh,
selanjutnya dapat dilihat bahwa margin kontribusi per
unit dapat dihitung melalui dua cara. Cara pertama adalah
dengan membagi margin kontribusi total dengan jumlah
unit yang dijual, sehingga diperoleh margin kontribusi per
unit sebesar Rp75.000 (Rp75.000.000/1.000).
• Cara kedua adalah mengurangi harga jual per unit dengan
biaya variabel per unit, sehingga diperoleh margin
kontribusi per unit sebesar Rp75.000 per unit (Rp400.000
– Rp325.000). Dengan cara tersebut akan diperoleh hasil
(margin kontribusi per unit) yang sama, yaitu sebesar
Rp75.000. Untuk menghitung jumlah unit titik impas,
persamaan impas adalah sebagai berikut.
• Hasil yang diperoleh di atas sama dengan hasil
perhitungan yang dilakukan dengan
menggunakan laporan laba rugi.
Unit Penjualan untuk Mencapai Laba yang Ditargetkan

• Titik impas merupakan informasi yang sangat bermanfaat bagi


perusahaan sebagai dasar untuk merencanakan perolehan laba.
Semua perusahaan mengharapkan untuk bisa memperoleh laba
operasi lebih besar daripada nol.
• Analisis BVL memberi cara untuk menentukan jumlah unit
produk yang harus dijual agar perusahaan mampu memperoleh
laba yang ditargetkan. Laba operasi yang ditargetkan dapat
ditunjukkan sebagai jumlah rupiah, misalnya sebesar
Rp20.000.000 atau sebagai persentase dari pendapatan
penjualan, misalnya 15 persen dari pendapatan penjualan.
• Laba Ditargetkan dalam Bentuk Rupiah. Untuk
menentukan jumlah penjualan supaya perusahaan
dapat mencapai laba sesuai yang ditargetkan,
berikut ini ditunjukkan ilustrasinya.
• Diasumsikan bahwa PT Gemah Ripah ingin
memperoleh laba operasi sebesar Rp60.000.000,
tentukan berapa jumlah mesin motor yang
seharusnya dijual untuk mencapai laba tersebut?
Dengan menggunakan pendekatan laporan laba
rugi operasi dapat dihitung sebagai berikut.
• Apabila menggunakan pendekatan margin kontribusi,
perhitungan jumlah unit yang harus dijual untuk
mencapai laba yang ditargetkan dengan sederhana
dapat dilakukan dengan cara menambahkan laba yang
ditargetkan sebesar Rp60.000.000 pada biaya tetap,
sehingga akan diperoleh jumlah unit penjualan.
• Dengan demikian PT Gemah Ripah harus dapat
menjual sebanyak 1.400 unit mesin motor agar
memperoleh laba sebelum pajak sebesar
Rp60.000.000. Laporan laba rugi berikut ini
menunjukkan hasil perhitungan di atas.
• Pada umumnya dengan asumsi bahwa biaya tetap sama,
dampak terhadap laba perusahaan sebagai akibat
perubahan jumlah unit penjualan dapat dihitung dengan
cara mengalikan margin kontribusi per unit dengan
perubahan jumlah unit yang terjual.
• Sebagai contoh, apabila 1.500 unit mesin motor terjual,
berapa jumlah tambahan laba yang akan diperoleh
perusahaan? Perubahan dalam jumlah unit terjual
sebesar 100 unit dan dengan margin kontribusi per unit
adalah sebesar Rp75.000, maka laba akan meningkat
sebesar Rp7.500.000 (Rp75.000 × 100).
• Laba Ditargetkan dalam Persentase Pendapatan Penjualan.
Diasumsikan bahwa PT Gemah Ripah ingin mengetahui jumlah
mesin motor yang harus dijual dalam rangka memperoleh
laba sebesar 15 persen dari pendapatan penjualan.
• Pendapatan penjualan adalah harga jual per unit dikalikan
dengan jumlah unit yang dijual. Oleh karena itu, laba operasi
yang ditargetkan adalah sebesar 15 persen dari harga jual
dikalikan dengan kuantitas (unit penjualan). Dengan
menggunakan pendekatan laba operasi, maka akan dihasilkan
persamaan sebagai berikut.
• Apakah dengan volume penjualan sebanyak 3.000 unit mesin
motor akan dapat dihasilkan laba sebesar 15 persen dari
pendapatan penjualan? Penjualan sebanyak 3.000 unit mesin
motor, pendapatan total adalah sebesar Rp1.200.000.000
(Rp400.000 × 3.000). Laba dapat dihitung tanpa perlu
menyiapkan laporan rugi laba. Perlu diperhatikan bahwa di
atas titik impas, margin kontribusi per unit merupakan laba per
unit.
• Volume impas adalah 600 unit mesin motor. Apabila 3.000 unit
mesin motor terjual, maka hal itu berarti sebanyak 2.400
(3.000 – 600) unit mesin motor terjual di atas titik impas. Oleh
karena itu, laba sebelum pajak adalah sebesar Rp180.000.000
(Rp75.000 × 2.400) atau sebanyak 15 persen dari pendapatan
penjualan (Rp180.000.000/Rp1.200.000.000).
Target Laba Setelah Pajak
• Pajak penghasilan tidak berperan dalam perhitungan titik
impas karena perusahaan tidak akan dipungut pajak apabila
laba yang diperoleh perusahaan sebesar Rp0. Namun,
apabila perusahaan ingin mengetahui jumlah unit yang
harus dijual dalam rangka untuk memperoleh laba bersih,
maka diperlukan beberapa pertimbangan tambahan.
• Perlu diingat bahwa laba bersih merupakan laba operasi
setelah dikurangi dengan pajak dan angka target laba
diekspresikan dalam bentuk laba sebelum pajak. Sebagai
akibatnya, apabila laba yang ditargetkan diekspresikan
sebagai laba bersih, maka perlu ditambahkan pajak
penghasilan untuk mendapatkan laba operasi.
• Pada umumnya pajak dihitung sebagai
persentase dari laba. Laba setelah pajak dihitung
dengan cara mengurangkan pajak dari laba
operasi sebelum pajak seperti berikut ini.
C. TITIK IMPAS DALAM RUPIAH PENJUALAN

• Dalam beberapa kasus ketika menggunakan


analisis BVL, banyak manajer yang lebih suka
untuk menggunakan pendapatan penjualan
sebagai ukuran aktivitas penjualan dibanding unit
penjualan.
• Ukuran unit penjualan dapat dikonversi ke dalam
ukuran pendapatan penjualan dengan cara
sederhana, yaitu mengalikan harga jual per unit
dengan jumlah unit penjualan.
• Untuk menghitung titik impas dalam rupiah penjualan, biaya
variabel perlu dinyatakan dalam persentase dari penjualan bukan
dalam jumlah per unit penjualan. Peraga 9.1 mengilustrasikan
tentang pembagian pendapatan penjualan ke dalam biaya variabel
dan margin kontribusi. Pada peraga tersebut, harga adalah sebesar
Rp10.000 dan biaya variabel adalah sebesar Rp6.000. Sisanya
adalah margin kontribusi sebesar Rp4.000 (Rp10.000 – Rp6.000).
• Apabila produk terjual sebanyak 10 unit, biaya variabel total adalah
sebesar Rp60.000 (Rp6.000 × 10 unit). Sebagai alternatif, apabila
setiap unit penjualan menghasilkan pendapatan sebesar Rp10.000
dan biaya variabel adalah sebesar Rp6.000, maka dapat dikatakan
bahwa 60 persen untuk setiap rupiah pendapatan yang diperoleh
digunakan untuk menutup biaya variabel (Rp6.000/Rp10.000).
• Angka 60 persen di atas merupakan rasio biaya
variabel (variable cost ratio). Angka tersebut
merupakan proporsi setiap rupiah penjualan
yang harus digunakan untuk menutup biaya
variabel. Rasio biaya variabel dapat dihitung
dengan menggunakan data total maupun data
per unit. Sisa persentase rupiah penjualan
setelah biaya variabel ditutup merupakan rasio
margin kontribusi (contribution margin ratio).
• Rasio margin kontribusi adalah proporsi setiap rupiah
penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan
menghasilkan laba. apabila rasio biaya variabel adalah sebesar
60 persen dari penjualan, maka margin kontribusi adalah
sisanya, yaitu sebesar 40 persen dari penjualan.
• Oleh karena itu, setelah rasio biaya variabel dihitung dengan
menggunakan angka total maupun per unit, maka rasio margin
kontribusi sebesar 40 persen pada contoh di atas juga dapat
dihitung melalui dua cara berikut ini.
• Pertama, adalah dengan cara membagi margin kontribusi total
dengan penjualan total (Rp40.000/Rp100.000).
• Kedua, adalah dengan cara membagi margin kontribusi per unit
dengan harga jual per unit (Rp4.000/Rp10.000).
• Dengan kata lain, apabila rasio biaya variabel telah diketahui, maka
angka tersebut dapat dikurangkan dari angka 1 untuk
menghasilkan rasio margin kontribusi, yaitu sebesar 0,4 (1 - 0,6).
• Untuk memperjelas hal di atas, berikut ini ditunjukkan
contoh penerapan pendekatan pendapatan penjualan
berdasarkan data yang terdapat pada PT Gemah Ripah.
• Data tersebut dinyatakan dalam bentuk laporan laba
rugi variabel costing untuk 1.000 unit mesin motor
sebagai berikut.
• Perhatikan bahwa pendapatan penjualan, biaya variabel, dan margin
kontribusi telah dinyatakan dalam bentuk persentase penjualan. Rasio
biaya variabel adalah sebesar 0,8125 (Rp325.000.000/Rp400.000.000),
dan rasio margin kontribusi adalah sebesar 0,1875 (dihitung dengan
cara 1 – 0,8125 atau Rp75.000.000/Rp400.000.000).
• Biaya tetap adalah sebesar Rp45.000.000. Berdasarkan informasi dalam
laporan laba rugi di atas, pendapatan penjualan yang harus diperoleh
PT Gemah Ripah untuk mencapai titik impas adalah sebagai berikut.

• Oleh karena itu, PT Gemah Ripah harus memperoleh pendapatan total


sebesar Rp240.000.000 dalam rangka untuk mencapai titik impas.
• Bagaimana jika persamaan dasar impas digunakan
untuk menentukan titik impas dalam pendapatan
penjualan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut
dapat digunakan pendekatan berikut ini. Perhatikan
bahwa rumus titik impas dalam unit adalah sebagai
berikut.
• Apabila kedua sisi persamaan di atas dikalikan
dengan harga jual per unit, maka pada sisi kiri
persamaan akan sama dengan pendapatan
penjualan pada titik impas.
Target Laba dan Pendapatan Penjualan
• Apabila muncul pertanyaan berapakah pendapatan penjualan
yang harus dicapai oleh PT Gemah Ripah agar perusahaan dapat
memperoleh laba sebelum pajak sebesar Rp60.000.000? Untuk
menjawab pertanyaan tersebut, caranya adalah dengan
menambahkan target laba operasi sebesar Rp60.000.000 pada
biaya tetap sebesar Rp45.000.000 dan selanjutnya jumlah
tersebut dibagi dengan rasio margin kontribusi.
• PT Gemah Ripah harus memperoleh pendapatan penjualan
sebesar Rp560.000.000 agar dapat mencapai target laba sebesar
Rp60.000.000. Apabila titik impas adalah sebesar Rp240.000.000,
tambahan penjualan yang diperoleh sebesar Rp320.000.000
(Rp560.000.000 – Rp240.000.000) adalah berada di atas titik
impas. Perhatikan bahwa perkalian rasio margin kontribusi dengan
pendapatan penjualan di atas titik impas akan menghasilkan laba
sebesar Rp60.000.000 (0,1875 × Rp320.000.000).
• Di atas titik impas, rasio margin kontribusi merupakan rasio margin
yang mencerminkan proporsi setiap rupiah penjualan yang
menghasilkan laba. Untuk contoh di atas, setiap rupiah penjualan
yang diperoleh di atas titik impas akan meningkatkan laba sebesar
Rp0,1875.
• Pada umumnya dengan asumsi bahwa biaya tetap tidak
berubah, rasio margin kontribusi dapat digunakan untuk
menghitung dampak perubahan pendapatan penjualan
terhadap laba.
• Untuk menghitung perubahan laba total sebagai akibat dari
perubahan pendapatan, secara sederhana dapat dilakukan
dengan cara mengalikan rasio margin kontribusi dengan
perubahan penjualan.
• Sebagai contoh, apabila pendapatan penjualan yang diperoleh
adalah sebesar Rp540.000.000 bukan sebesar Rp560.000.000,
apa dampak yang akan terjadi terhadap laba? Penurunan
pendapatan penjualan sebesar Rp20.000.000 akan
mengakibatkan penurunan laba sebesar Rp3.750.000 (0,1875 ×
Rp20.000.000).
Perbandingan Kedua Pendekatan
• Dalam situasi produk tunggal, mengonversi titik impas
dalam unit menjadi titik impas dalam pendapatan
penjualan merupakan masalah yang sederhana, yaitu
dengan cara mengalikan harga jual per unit dengan jumlah
unit yang terjual. Namun, muncul pertanyaan mengapa
digunakan rumus terpisah untuk pendekatan pendapatan
penjualan?
• Ada dua alasan untuk untuk menjawab pertanyaan
tersebut. Pertama, rumus pendapatan penjualan
emungkinkan perusahaan untuk secara langsung mencari
pendapatan penjualan apabila hal tersebut memang
dikehendaki. Kedua, pendekatan pendapatan penjualan
jauh lebih mudah digunakan dalam situasi multiproduk
D. ANALISIS MULTIPrODUK
• Analisis BVL dapat diterapkan dengan mudah
pada situasi produk tunggal.
• Namun, dalam praktiknya banyak perusahaan
yang menghasilkan dan menjual sejumlah produk
atau jasa.
• Formula yang digunakan untuk situasi produk
tunggal dapat diadaptasikan untuk perusahaan
yang menjual multiproduk (multiple products)
• Misalkan PT Gemah Ripah memutuskan untuk menawarkan dua
model mesin motor, yaitu mesin motor A yang dijual dengan harga
Rp400.000 dan mesin motor B yangdijual dengan harga Rp800.000.
• Biaya variabel per unit mesin motor A adalah Rp325.000 dan biaya
variabel per unit mesin motor B adalah Rp600.000. Departemen
pemasaran memperkirakan dapat menjual mesin motor A sebanyak
1.200 unit dan mesin motor B sebanyak 800 unit untuk tahun yang
akan datang. Pengontrol telah menyiapkan proyeksi laporan laba
rugi berdasar taksiran penjualan sebagai berikut.
• Perlu diperhatikan bahwa pengontrol telah
memisahkan biaya tetap langsung (direct fixed
expenses) dengan biaya tetap bersama (common
fixed expenses).
• Biaya tetap langsung adalah biaya tetap yang
dapat ditelusuri kepada masing-masing segmen
produk, dan dapat dihindari apabila segmen
tersebut tidak melakukan aktivitas produksi.
Pendekatan Titik Impas dalam Unit

• Dalam kasus perusahaan yang memproduksi


lebih dari satu jenis produk (multiproduk),
perusahaan ingin mengetahui berapa unit
masing-masing produk yang harus dijual pada
titik impas.
• Sebagai contoh, mesin motor A memiliki margin kontribusi
per unit sebesar Rp75.000 (Rp400.000 – Rp325.000) dan
mesin motor B memiliki margin kontribusi per unit sebesar
Rp200.000 (Rp800.000 – Rp600.000). Penentuan impas
masing-masing produk dapat digunakan persamaan sebagai
berikut
• Berdasarkan perhitungan di atas, maka 400 unit mesin motor A
dan 200 unit mesin motor B harus dapat dijual untuk mencapai
titik impas. Namun, titik impas tersebut hanya dapat menutup
biaya tetap langsung, sedangkan biaya tetap bersama belum
termasuk yang ditutup. Penjualan mesin motor sejumlah
tersebut di atas akan mengakibatkan kerugian sebesar biaya
tetap bersama.
• Oleh karena itu, biaya tetap bersama juga harus dipertimbangkan
dalam analisis. Apabila biaya tetap bersama belum dialokasikan
kepada masing-masing produk dalam perhitungan titik impas,
maka akan dapat mengakibatkan terjadinya kesulitan.

• Cara terbaik untuk mengonversi adalah dengan mengidentifikasi


bauran penjualan (sales mix) yang diekspektasi dalam unit
produk. Bauran penjualan merupakan kombinasi relatif dari
produk-produk yang dijual oleh perusahaan.
• Penentuan Bauran Penjualan. Bauran penjualan dapat diukur
dalam unit penjualan atau dalam proporsi pendapatan.
• Sebagai contoh, PT Gemah Ripah merencanakan penjualan
1.200 unit mesin motor A dan 800 unit mesin motor B, maka
bauran penjualan dalam unit adalah sebesar 1.200 : 800.
Biasanya bauran penjualan diturunkan sampai angka terkecil
dan tidak dalam bentuk pecahan. Oleh karena itu, bauran
penjualan relatif 1.200 : 800 dapat disederhanakan menjadi
menjadi 3 : 2. Dengan kata lain, untuk setiap penjualan setiap
3 unit mesin motor A akan diikuti dengan penjualan 2 unit
mesin motor B.
• Sebagai alternatif, bauran penjualan dapat diwakili dengan persentase
pendapatan total yang dikontribusi oleh masing-masing produk. Dalam
kasus ini, pendapatan mesin motor A adalah sebesar Rp480.000.000
(Rp400.000 × 1.200) dan pendapatan mesin motor B adalah sebesar
Rp640.000.000 (Rp800.000 × 800).
• Dengan demikian, kontribusi mesin motor A adalah sebesar 42,86%
(Rp480.000.000 ÷ Rp1.120.000.000) dari pendapatan totaldan kontribusi
mesin motor B adalah sebesar 57,14% Rp640.000.000 ÷ Rp1.120.000.000)
dari pendapatan total.
• Pada bauran penjualan dalam unit sebesar 3 : 2, maka untuk setiap
penjualan sebanyak 5 unit mesin motor, 60% (3 ÷ 5) diantaranya merupakan
penjualan mesin motor A, dan 40% (2 ÷ 5) diantaranya merupakan penjualan
mesin motor B. Namun, dengan bauran penjualan berbasis pendapatan
nilainya adalah sebesar 42,86 persen untuk penjualan mesin motor A.
• Bauran Penjualan dan Analisis BVL. Penetapan suatu bauran penjualan
tertentu memungkinkan untuk mengonversi masalah multiproduk ke
dalam format BVL untuk produk tunggal.
• Apabila PT Gemah Ripah mengharapkan untuk menjual 3 mesin motor A
untuk setiap penjualan 2 mesin motor B, maka permasalahan tersebut
dapat dikonversi seolah-olah menjadi penjualan produk tunggal dalam
bentuk suatu paket penjualan yang terdiri atas 3 mesin motor A dan 2
mesin motor B.
• Dengan mendefinisikan produk sebagai satu paket, maka permasalahan
multiproduk telah dikonversi ke dalam suatu produk tunggal. Selama
menggunakan pendekatan titik impas dalam unit, harga jual paket dan
biaya variabel per paket harus diketahui terlebih dahulu.
• Untuk menghitung nilai paket diperlukan bauran penjualan, harga produk
secara individual, dan biaya variabel secara individual.
• Untuk memperjelas pengertian di atas, berdasarkan
data produk individual yang terdapat pada proyeksi
laporan laba rugi, nilai paket dapat dihitung sebagai
berikut.
• Berdasarkan margin kontribusi per paket di atas, maka
persamaan dasar impas dapat digunakan untuk
memperoleh penjualan paket yang diperlukan untuk
mencapai penjualan pada titik impas.
• Dari proyeksi laporan laba rugi PT Gemah Ripah diketahui
bahwa biaya tetap total perusahaan adalah sebesar
Rp96.250.000 (jumlah gabungan biaya tetap langsung
sebesar Rp70.000.000 dan biaya tetap bersama sebesar
Rp26.250.000). Oleh karena itu, titik impas dapat dihitung
sebagai berikut.
• LAPORAN LABA RUGI
Pendekatan Titik Impas dalam rupiah
Penjualan
• Untuk mengilustrasikan titik impas dalam rupiah penjualan,
berikut ini akan digunakan informasi yang sama dengan yang
digunakan dalam pendekatan sebelumnya. Namun, anya
informasi tertentu saja dari informasi secara keseluruhan yang
terdapat pada proyeksi laporan laba rugi PT Gemah Ripah
yang diperlukan.
• Proyeksi laporan laba rugi di atas disusun dengan asumsi bahwa 1.200 mesin
motor A dan 800 mesin motor B akan dijual (bauran penjualan 3 : 2). Titik
impas dalam pendapatan penjualan juga didasarkan atas ekspektasi bauran
penjualan. Seperti halnya dalam pendekatan unit penjualan (unit-sold
approach), bauran penjualan yang berbeda akan menghasilkan hasil yang
berbeda.
• Dengan menggunakan laporan laba rugi, pertanyaan yang berhubungan
dengan BVL akan dapat dijawab. Sebagai contoh, berapa pendapatan
penjualan harus diperoleh perusahaan untuk mencapai titik impas? Untuk
menjawab pertanyaan tersebut, biaya tetap total sebesar Rp96.250.000 dibagi
dengan rasio margin kontribusi sebesar 0,2232
(Rp250.000.000/Rp1.120.000.000).
E. PENYAJIAN HUBUNGAN BVL DALAM
BENTUK GRAFIK
• Pemahaman tentang hubungan BVL dapat diperluas lebih
jauh untuk melihat hubungan tersebut dalam bentuk grafik.
Penyajian dalam bentuk grafik dapat membantu manajer
untuk melihat perbedaan antara biaya variabel dan
pendapatan. Grafik juga dapat membantu manajer untuk
memahami dengan cepat apa dampak peningkatan atau
penurunan penjualan terhadap titik impas dan laba.
• Dua grafik dasar, yaitu grafik volume-laba (profit-volume
graph) dan grafik biaya-volume-laba (cost-volume-profit-
graph) Akan dijelaskan berikut ini.
Grafik Volume-Laba
• Grafik volume-laba menunjukkan hubungan antara laba dan
volume penjualan. Grafik volume-laba merupakan grafik
tentang persamaan laba operasi [Laba operasi = (Harga jual
per unit × Jumlah unit) – (Biaya variabel per unit × Jumlah
unit) – Biaya tetap].
• Dalam grafik ini, laba operasi merupakan variabel dependen
dan jumlah unit penjualan merupakan variabel independen.
Biasanya, nilai variabel independen diukur di sepanjang
sumbu horizontal dan nilai variabel dependen diukur di
sepanjang sumbu vertikal.
• Untuk memperjelas pembahasan di atas menjadi lebih
konkret, sejumlah data berikut ini akan digunakan.
Berdasarkan asumsi bahwa PT Kerta Raharja
menghasilkan suatu produk tunggal dengan data biaya
dan harga jual per unit sebagai berikut
• Hubungan di atas dapat dibuat grafiknya dengan
menempatkan jumlah unit di sepanjang sumbu horizontal
dan laba operasi (rugi operasi) ditempatkan di sepanjang
sumbu vertikal. Dua titik diperlukan untuk membuat grafik
persamaan linear.
• Ketika unit yang dijual adalah nol, maka PT Kerta Raharja
akan mengalami rugi operasi sebesar Rp100.000 (atau laba
sebesar -Rp100.000). Titik yang menunjukkan volume
penjualan nol adalah (0, -Rp100.000).
• Dengan kata lain, ketika tidak terjadi penjualan maka
perusahaan akan menderita kerugian sebesar biaya tetap
total. Apabila laba operasi adalah sebesar nol, jumlah unit
yang terjual adalah sebanyak 20 unit.
• Grafik Volume-Laba (Dalam Ribuan Rupiah)
Grafik Biaya-Volume-Laba
• Grafik biaya-volume-laba menunjukkan hubungan antara
biaya, volume, dan laba. Untuk memperoleh hubungan yang
lebih terperinci, perlu dibuat grafik dua garis terpisah yaitu
garis pendapatan total dan garis biaya total. Kedua garis
tersebut ditunjukkan melalui dua persamaan berikut ini.

• Dengan menggunakan contoh PT Kerta Raharja, persamaan


pendapatan dan biaya adalah sebagai berikut.
Asumsi-Asumsi dalam Analisis BVL
• Grafik laba-volume dan grafik biaya-volume-laba yang telah diilustrasikan
sebelumnya mengandalkan pada beberapa asumsi penting. Beberapa asumsi
tersebut adalah sebagai berikut.
1. Analisis mengasumsikan bahwa fungsi pendapatan dan fungsi biaya bersifat
linear.
2. Analisis mengasumsikan bahwa harga, biaya tetap total, dan biaya variabel
per unit dapat diidentifikasi secara akurat dan akan selalu konstan selama
dalam kisaran relevan (relevant range).
3. Analisis mengasumsikan bahwa jumlah yang diproduksi sama dengan jumlah
yang dijual.
4. Pada analisis multiproduk, bauran penjualan diasumsikan telah diketahui
sebelumnya.
5. Harga jual dan biaya diasumsikan telah diketahui dengan pasti.
• Grafik Biaya-Volume-Laba (Dalam Ribuan
Rupiah)
F. PERUBAHAN DALAM VARIABEL BVL
•karena perusahaan beroperasi dalam dunia yang dinamis, maka
perusahaan harus memerhatikan berbagai kemungkinan
terjadinya perubahan harga, biaya variabel, dan biaya tetap.
•Perusahaan juga harus memerhatikan dampak berbagai
kemungkinan risikodan ketidakpastian.
•Perhatian terutama ditujukan kepada dampak perubahan harga,
margin kontribusi per unit, dan biaya tetap terhadap titik impas.
•Perhatian juga perlu diarahkan pada cara-cara manajer dalam
menangani risiko dan ketidakpastian yang terjadi dalam kerangka
BVL.
• Apabila diasumsikan bahwa PT Gemah Ripah baru-baru ini
sedang melaksanakan suatu studi pasar yang menunjukkan
adanya tiga alternatif yang berbeda sebagai berikut.
1. Alternatif 1: Apabila perusahaan merencanakan untuk
beriklan dengan biaya sebesar Rp8.000.000, maka
diperkirakan penjualan akan meningkat dari 1.600 unit
menjadi 1.725 unit.
2. Alternatif 2: Apabila perusahaan merencanakan untuk
menurunkan harga jual per unit dari Rp400.000 menjadi
Rp375.000 per mesin motor, maka diperkirakan penjualan
akan meningkatkan dari 1.600 unit menjadi 1.900 unit.
3. Alternatif 3: Apabila perusahaan merencanakan untuk
menurunkan harga jual per unit menjadi Rp375.000 dan
merencanakan untuk beriklan dengan biaya sebesar
Rp8.000.000, maka diperkirakan akan dapat meningkatkan
penjualan dari 1.600 unit menjadi 2.600 unit.
• Pertimbangan terhadap alternatif 1. Apa dampak yang akan terjadi
terhadap laba apabila perusahaan memutuskan untuk beriklan
dengan biaya sebesar Rp8.000.000 dan penjualan akan meningkat
sebesar 125 unit? Pertanyaan tersebut dapat dijawab tanpa harus
menggunakan persamaan, tetapi dengan memanfaatkan margin
kontribusi per unit.
• Sebagaimana diketahui bahwa margin kontribusi per unit adalah
sebesar Rp75.000 (lihat Peraga 9.5). Apabila produk yang dijual
meningkat sebanyak 125 unit, tambahan peningkatan margin
kontribusi total adalah sebesar Rp9.375.000 (Rp75.000 × 125 unit).
• Namun, apabila biaya tetap meningkat sebesar Rp8.000.000,
tambahan peningkatan laba hanya sebesar Rp1.375.000 (Rp9.375.000
– Rp8.000.000). Pada Peraga 9.5 menunjukkan ringkasan dampak
alternatif 1.
• Ringkasan Dampak Alternatif 1
• Pada alternatif 2, biaya tetap tidak meningkat. Oleh karena itu,
memungkinkan untuk menjawab pertanyaan dengan hanya
melihat dampaknya terhadap margin kontribusi total. Untuk
harga jual per unit saat ini yaitu sebesar Rp400.000, margin
kontribusi per unit adalah sebesar Rp75.000.
• Apabila produk terjual sejumlah 1.600 unit, maka margin
kontribusi total adalah sebesar Rp120.000.000 (Rp75.000 ×
1.600). Apabila harga turun menjadi Rp375.000, maka margin
kontribusi akan turun menjadi Rp50.000 per unit (Rp375.000 –
Rp325.000).
• Apabila produk terjual sebanyak 1.900 unit pada tingkat harga
yang baru, maka margin kontribusi total yang baru adalah
sebesar Rp95.0000.000 (Rp50.000 × 1.900). Penurunan harga
akan mengakibatkan penurunan laba sebesar Rp25.000.000
(Rp120.000.000 – Rp95.000.000). Dampak alternatif 2
ditunjukkan pada Peraga 9.6.
• Ringkasan Dampak Alternatif 2
• Pada alternatif 3 terjadi penurunan harga jual per unit
dan pengeluaran biaya iklan. Seperti pada alternatif 1,
dampak terhadap laba dapat diketahui dengan melihat
dampak tambahan yang terjadi pada margin kontribusi
dan biaya tetap.
• Tambahan perubahan aba dapat ditemukan melalui:
(1) perhitungan tambahan perubahan margin
kontribusi total, (2) perhitungan tambahan perubahan
biaya tetap, dan (3) penjumlahan dua hasil
perhitungan sebelumnya.
• Sebagaimana ditunjukkan di atas, margin kontribusi total
saat ini (untuk penjualan sebanyak 1.600 unit) adalah
Rp20.000.000.
• Apabila margin kontribusi per unit yang baru adalah
sebesar Rp50.000, maka margin kontribusi total yang baru
adalah sebesar Rp130.000.000 (Rp50.000 × 2.600 unit).
• Oleh karena itu, terjadi tambahan peningkatan margin
kontribusi total sebesar Rp10.000.000 (Rp130.000.000 –
Rp120.000.000). Namun untuk mencapai tambahan
peningkatan margin kontribusi ini diperlukan tambahan
• peningkatan biaya tetap sebesar Rp8.000.000. Dampak
alternatif 3 ditunjukkan pada peraga berikut Di antara tiga
alternatif yang diidentifikasi melalui studi pemasaran di
atas, salah satu alternatif yang menjanjikan laba paling
besar adalah alternatif 3, karena dapat meningkatkan laba
total sebesar Rp2.000.000.
• Alternatif 1 hanya meningkatkan laba sebesar Rp1.375.000
dan alternatif 2 menurunkan laba sebesar Rp25.000.000.
• Beberapa contoh di atas didasarkan pada pendekatan unit
penjualan. Namun, perhitungan juga dapat dilakukan
dengan menerapkan pendekatan pendapatan penjualan.
• Pada kedua pendekatan tersebut akan diperoleh hasil yang
sama.
• Ringkasan Dampak Alternatif 3
G. RISIKO DAN KETIDAKPASTIAN
• Satu asumsi penting dalam analisis BVL adalah bahwa harga jual
per unit dan biaya telah diketahui dengan pasti. Pada kasus yang
sesungguhnya, asumsi tersebut jarang terjadi.
• Risiko dan ketidakpastian merupakan bagian penting yang harus
dipertimbangkan dalam pembuatan keputusan bisnis.
• Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan oleh manajer
dalam menghadapi masalah risiko dan ketidakpastian.
• Dua konsep atau metode yang sangat bermanfaat bagi manajer
perusahaan dalam menghadapi masalah risiko dan
ketidakpastian adalah margin of safety (margin aman) dan
operating leverage (pengungkit operasi).
Margin of Safety
• Margin of safety adalah unit penjualan atau yang
diharapkan dapat dijual di atas volume impas. Selain
itu, margin of safety juga dapat didefinisikan sebagai
pendapatan yang diperoleh atau pendapatan yang
diharapkan akan diperoleh perusahaan di atas
volume impas.
Operating Leverage
• Dalam ilmu fisika, leverage merupakan suatu mesin sederhana
yang dapat digunakan untuk melipatgandakan kekuatan. Pada
dasarnya suatu leverage melipatgandakan usaha yang dilakukan
untuk menciptakan hasil yang lebih banyak.
• Semakin besar beban yang akan dipindahkan oleh sejumlah
kekuatan, semakin besar manfaat yang akan diperoleh.
• Dalam istilah keuangan, operating leverage berhubungan dengan
bauran relatif biaya tetap dan biaya variabel dalam suatu
organisasi.
• Kadang-kadang dalam situasi tertentu terjadi kemungkinan
kondisi yang saling berlawanan (trade off) antara biaya tetap dan
biaya variabel.
• Biaya tetap dapat digunakan sebagai operating leverage untuk
meningkatkan laba. Selain itu, perusahaan-perusahaan dengan
operating leverage yang lebih tinggi juga akan mengalami penurunan
laba yang lebih besar sebagai akibat penurunan penjualan. Oleh karena
itu, operating leverage merupakan penggunaan biaya tetap untuk
meningkatkan persentase laba yang lebih besar sebagai akibat
terjadinya perubahan aktivitas penjualan.
• Semakin tinggi tingkat operating leverage, semakin besar dampak
perubahan tingkat aktivitas penjualan terhadap laba. Tingkat
pengungkit operasi (degree of operating leverage—DOL) dapat diukur
untuk tingkat penjualan tertentu dengan menggunakan rasio margin
kontribusi terhadap laba, seperti pada rumus sebagai berikut.
• Untuk mengilustrasikan tentang manfaat konsep di atas, diasumsikan bahwa
suatu perusahaan sedang merencanakan untuk menambah suatu lini produk.
• Dalam penambahan lini produk tersebut, perusahaan dapat memilih untuk
mengandalkan pada sistem automasi atau sistem yang mengandalkan pada
tenaga kerja manusia (sistem manual).
• Apabila perusahaan memilih sistem automasi dibandingkan sistem manual,
maka biaya tetap akan lebih tinggi dan biaya variabel per unit akan lebih
rendah. Data relevan untuk tingkat penjualan 10.000 unit adalah sebagai
berikut.
• Degree of operating leverage (DOL) untuk sistem automasi adalah
sebesar 4,00 (Rp500.000.000/Rp125.000.000), sedangkan degree of
operating leverage untuk sistem manual adalah sebesar 2,00
(Rp200.000.000/Rp100.000.000). Apa yang akan terjadi terhadap
laba masing-masing alternatif sistem apabila penjualan meningkat
sebesar 40 persen? Berdasarkan data di atas dapat disusun laporan
laba rugi sebagai berikut.
• Dalam pemilihan di antara kedua sistem tersebut,
dampak yang diakibatkan oleh operating leverage
merupakan informasi yang sangat berharga.
• Sebagaimana ditunjukkan dalam ilustrasi, bahwa
kenaikan persentase penjualan sebesar 40 persen
memiliki dampak manfaat yang signifikan bagi
perusahaan.
• Namun, dampak tersebut memiliki dua sisi mata
pedang. Apabila penjualan turun, maka sistem
automasi juga menunjukkan besarnya penurunan
persentase yang lebih tinggi
Analisis Sensitivitas dan BVL
• Meluasnya penggunaan komputer personal (personal
computer) dan spreadsheet telah memudahkan para
manajer untuk melakukan analisis sensitivitas (sensiti
vity analysis).
• Analisis sensitivitas adalah teknik “bagaimana jika (what if)” yang menguji
dampak perubahan asumsi yang mendasarinya terhadap suatu jawaban.
Analisis ini mudah digunakan dengan hanya memasukkan data mengenai
harga, biaya variabel, biaya tetap, dan bauran penjualan, serta menyiapkan
rumus untuk menghitung titik impas dan laba yang diharapkan. Selanjutnya
data dapat divariasi sedemikian rupa sesuai yang diinginkan untuk
mengetahui dampak perubahan terhadap laba yang diharapkan.

• Perlu diperhatikan bahwa meskipun spreadsheet mampu menghasilkan


jawaban yang berhubungan dengan angka (numerik), tetapi belum tentu
mampu melakukan pekerjaan tersulit dalam analisis BVL. Pekerjaan tersulit
tersebut adalah menentukan data yang pertama kali harus di-input dalam
analisis. Akuntan harus mengetahui distribusi biaya dan harga perusahaan,
serta dampak perubahan kondisi ekonomi terhadap variabel-variabel
tersebut.
H. ANALISIS BVL DAN PERHITUNgAN BIAYA
BERBASIS AKTIVITAS
• Analisis BVL konvensional mengasumsikan bahwa semua biaya
perusahaan dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu:
biaya yang berubah sejalan dengan volume penjualan (biaya
variabel), dan biaya yang tidak berubah (biaya tetap).
Selanjutnya, biaya diasumsikan sebagai fungsi linear dari volume
penjualan.
• Pada sistem perhitungan biaya berbasis aktivitas (ABC), biaya
dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori berdasarkan
unit dan nonunit.
• Sistem ABC mengakui bahwa beberapa biaya tergantung pada
jumlah unit yang diproduksi, sedangkan beberapa lainnya tidak.
• Meskipun sistem ABC mengakui bahwa biaya berdasarkan nonunit
adalah tetap berkenaan dengan perubahan volume produksi, tetapi
sistem ABC juga menunjukkan bahwa banyak biaya berdasarkan
nonunit berubah berkenaan dengan pemicu (driver) aktivitas
lainnya.
• Penggunaan sistem ABC tidak berarti bahwa analisis BVL kurang
bermanfaat. Kenyataannya, analisis BVL menjadi lebih bermanfaat
karena analisis tersebut memberi masukan yang lebih akurat
mengenai perilaku biaya.
• Sebagai ilustrasi, diasumsikan bahwa biaya perusahaan dapat
dinyatakan dengan tiga variabel: pemicu aktivitas tingkat unit,
yaitu unit yang dijual; pemicu aktivitas tingkat batch, yaitu
jumlah setup; dan pemicu aktivitas tingkat produk, yaitu
lamanya mesin beroperasi. Persamaan biaya ABC selanjutnya
dinyatakan sebagai berikut.
• Seperti sebelumnya, laba operasi merupakan
total pendapatan dikurangi total biaya.
• Hal tersebut dapat diekspresikan sebagai berikut.
• Untuk perhitungan titik impas dalam unit dapat
digunakan pendekatan margin kontribusi. Pada
titik impas, laba operasi adalah nol dan jumlah
unit yang harus dijual untuk mencapai titik impas
adalah sebagai berikut.
• Perbandingan titik impas ABC dengan titik impas konvensional
mengungkapkan dua perbedaan yang signifikan.
• Pertama, biaya tetapnya berbeda. Beberapa biaya yang
sebelumnya diidentifikasi sebagai biaya tetap dalam
kenyataannya dapat bervariasi sesuai dengan pemicu biaya
nonunit, dalam hal ini adalah jumlah setup dan jumlah jam
mesin.
• Kedua, pembilang pada persamaan titik impas ABC memiliki
dua istilah biaya variabel nonunit, yaitu: satu untuk aktivitas
yang berkaitan dengan batch, dan satu lagi untuk aktivitas
yang mempertahankan produk.
Perbandingan Analisis Konvensional dan
ABC
• Jumlah unit yang harus dijual adalah sama menurut kedua
pendekatan. Alasannya sederhana. Kelompok total biaya tetap
menurut perhitungan biaya konvensional terdiri atas biaya variabel
berbasis nonunit ditambah biaya yang dianggap tetap tanpa
memerhatikan pemicu aktivitas.
• Sistem ABC memilah-milah berbagai biaya variabel berdasarkan
nonunit. Biaya-biaya tersebut berhubungan dengan tingkat tertentu
dari setiap pemicu aktivitas.
• Persamaan ABC pada analisis BVL merupakan representasi yang lebih
lengkap mengenai perilaku biaya yang mendasar dan dapat
memberikan pemahaman strategis yang penting.
Implikasi Strategis: Analisis BVL
Konvensional versus Analisis ABC

• Diasumsikan bahwa setelah dilakukan analisis BVL


konvensional, departemen pemasaran menyatakan
bahwa penjualan 12.000 unit tidak mungkin dapat
dicapai.
• Pada kenyataannya hanya 10.000 unit yang mungkin
dapat dijual.
• Presiden direktur perusahaan kemudian meminta
kepada para perancang produk mencari cara untuk
mengurangi biaya pembuatan produk.
• Para perancang juga diminta untuk mempertahankan persamaan
biaya konvensional, yaitu biaya tetap sebesar Rp100.000.000 dan
biaya variabel per unit sebesar Rp10.000. Biaya variabel per unit
sebesar Rp10.000 terdiri atas: tenaga kerja langsung Rp4.000;
bahan baku Rp5.000; dan overhead variabel Rp1.000. Dalam rangka
memenuhi permintaan untuk mengurangi titik impas, mesin
memproduksi suatu rancangan produk baru yang membutuhkan
lebih sedikit tenaga kerja. Rancangan baru tersebut mengurangi
biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp2.000 per unit. Rancangan
tersebut tidak akan memengaruhi bahan baku dan overhead
variabel. Dengan demikian, biaya variabel yang baru adalah sebesar
Rp8.000 per unit dan titik impas sebagai berikut.
• Oleh karena tertarik dengan hasil perhitungan di atas,
presiden direktur menyetujui rancangan baru tersebut. Satu
tahun kemudian, presiden direktur mendapati bahwa
peningkatan laba yang diharapkan tidak terjadi.
• Sebaliknya, perusahaan justru mengalami rugi. Mengapa?
Jawabannya ditunjukkan melalui pendekatan ABC pada
analisis BVL.
• Hubungan biaya ABC semula pada contoh di atas adalah sebagai berikut.

• Diasumsikan bahwa rancangan baru tersebut membutuhkan setup yang


lebih rumit, sehingga meningkatkan biaya per setup dari Rp1.000.000
menjadi Rp1.600.000. Juga diasumsikan bahwa rancangan baru tersebut
karena adanya peningkatan kandungan teknis membutuhkan dukungan
teknik tambahan sebesar 40 persen (dari 1.000 jam menjadi 1.400 jam).
Persamaan biaya yang baru, termasuk pengurangan biaya variabel tingkat
unit adalah sebagai berikut.
• Titik impas dengan menetapkan laba operasi sama dengan
nol dan menggunakan persamaan ABC, dihitung sebagai
berikut (diasumsikan bahwa 20 setup masih berlaku).
• Laba untuk 10.000 unit adalah (ingat bahwa jumlah
maksimum yang dapat dijual adalah 10.000 unit) sebagai
berikut.
• Informasi yang diberikan oleh persamaan konvensional
kepada para insinyur menekankan bahwa setiap
pengurangan biaya tenaga kerja—tidak memengaruhi
bahan atau over head variabel—akan mengurangi total
biaya karena perubahan tingkat aktivitas tenaga kerja tidak
memengaruhi biaya tetap.
• Namun, persamaan ABC menunjukkan bahwa pengurangan
input tenaga kerja yang secara berlawanan memengaruhi
aktivitas setup atau dukungan teknik mungkin tidak
diinginkan.
• Dengan memberikan pengertian yang lebih mendalam,
keputusan rancangan yang lebih baik dapat dibuat.
Pemberian informasi biaya ABC kepada para insinyur
mungkin akan membuat mereka memilih jalur yang
berbeda—jalur yang akan lebih menguntungkan
perusahaan.
Analisis BVL dan JIT
• Apabila suatu perusahaan mengadopsi sistem JIT, maka biaya variabel per
unit yang ijual akan berkurang dan biaya tetap akan naik. Sebagai contoh,
tenaga kerja langsung sekarang dianggap sebagai tetap dan bukan
variabel.
• Bahan baku, di lain pihak masih dianggap sebagai biaya variabel
berdasarkan unit. Sebenarnya, penekanan pada kualitas total dan
pembelian jangka panjang membuat asumsi bahwa biaya bahan baku
benar-benar proporsional dengan unit yang diproduksi menjadi semakin
terbukti (karena limbah, sisa bahan, dan diskon kuantitas dieliminasi).
• Biaya variabel berdasarkan unit lainnya seperti listrik dan komisi penjualan
juga berlaku. Selain itu, variabel tingkat batch juga hilang (pada sistem JIT
batch adalah satu unit). Dengan demikian, persamaan biaya pada JIT
dapat dinyatakan sebagai berikut.
DAFTAR ISTILAH
1. Analisis biaya-volume-laba (cost-volume-profit analysis—CVP) atau
analisis BVL adalah alat yang digunakan untuk mengkaji hubungan
saling terkait antara biaya, volume/kuantitas penjualan, dan harga.
Analisis BVL sangat berguna untuk perencanaan dan pembuatan
keputusan.
2. Analisis sensitivitas (sensiti vity analysis) adalah teknik “bagaimana jika
(what if)” yang menguji dampak perubahan asumsi yang mendasari
suatu jawaban.
3. Bauran penjualan (sales mix) adalah kombinasi relatif dari produk-
produk yang dijual oleh perusahaan.
4. Degree of operating leverage (DOL) adalah ukuran tentang bauran
(kombinasi) relatif antara biaya tetap dan biaya variabel dalam suatu
organisasi yang dihitung dengan cara membagi margin kontribusi
dengan laba bersih.
5. Grafik volume-laba (profit-volume graph) adalah grafik yang
menunjukkan hubungan antara laba dan volume penjualan. Grafik
tersebut dibuat dengan menempatkan jumlah unit penjualan di
sepanjang sumbu horizontal dan laba operasi (rugi operasi) di sepanjang
sumbu vertikal.
6. Grafik biaya-volume-laba (cost-volume-profit-graph) adalah grafik yang
menunjukkan hubungan antara biaya, volume, dan laba. Grafik tersebut
dibuat dengan menempatkan
7. Aktivitas operasi normal adalah aktivitas yang dilakukan perusahaan di
luar aktivitas investasi (investing activities) dan aktivitas keuangan
(financing activties).
8. Kisaran relevan (relevant range) adalah suatu kisaran yang didalamnya
terkandung asumsi bahwa besarnya biaya akan tetap sama selama
perusahaan beroperasi dalam kapasitas normal.
9. Biaya tetap bersama (common fixed expenses) adalah biaya tetap yang
tidak dapat ditelusuri kepada segmen produk dan akan tetap terjadi
meskipun segmen tersebut tidak melakukan aktivitas produksi.
10. Biaya tetap langsung (direct fixed expenses) adalah biaya tetap yang
dapat ditelusuri kepada masing-masing segmen produk dan dapat
dihindari apabila segmen tersebut tidak melakukan aktivitas produksi.
11. Laba operasi (operating income) adalah selisih antara pendapatan
penjualan dengan jumlah biaya variabel total dan biaya tetap.
12. Laba bersih (net income) adalah laba operasi setelah dikurangi dengan
pajak.
13. Margin kontribusi (contribution margin) adalah selisih antara penjualan
dengan biaya variabel.
14. Margin of safety adalah unit penjualan atau yang diharapkan dapat
dijual di atas volume impas. Selain itu, margin of safety juga dapat
didefinisikan sebagai pendapatan yang diperoleh atau pendapatan yang
diharapkan akan diperoleh perusahaan di atas volume impas.
15. Operating leverage adalah bauran (kombinasi) relatif antara biaya tetap
dan biaya variabel dalam suatu organisasi. Operating leverage
merupakan penggunaan biaya tetap untuk meningkatkan persentase
laba yang lebih besar sebagai akibat terjadinya perubahan aktivitas
penjualan.
16. Rasio biaya variabel (variable cost ratio) adalah proporsi setiap rupiah
penjualan yang digunakan untuk menutup biaya variabel.
17. Rasio margin kontribusi (contribution margin ratio) adalah proporsi
setiap rupiah penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan
menghasilkan laba.
18. Tingkat pengungkit operasi (degree of operating leverage—DOL) adalah
suatu ukuran tentang sensitivitas perubahan laba sebagai akibat dari
perubahan volume penjualan. DOL mengukur persentase perubahan
laba sebagai akibat dari perubahan persentase penjualan.
19. Titik impas (break-even point) adalah titik yang menunjukkan bahwa
pendapatan total sama dengan biaya total, sehingga juga sering disebut
sebagai titik laba nol.
20. Variable costing adalah metode penentuan harga pokok produk yang
hanya membebankan biaya produksi variabel kepada produk.
SOAL
1. Jelaskan bagaimana analisis BVL dapat digunakan untuk
perencanaan manajemen!
2. Jelaskan apa kegunaan laporan laba rugi yang disusun
dengan pendekatan variable costing!
3. Jelaskan perhitungan unit impas dengan pendekatan laba
operasi (operating income approach)!
4. Jelaskan perhitungan unit impas dengan pendekatan
margin kontribusi (contribution margin approach)!
5. Jelaskan perbedaan pengertian laba operasi (operating
income) dan laba bersih (net income)!
6. Jelaskan perbedaan antara pendekatan unit terjual (units-sold approach)
denganpendekatan pendapatan penjualan (sales-revenue approach)
dalam analisis BVL!
7. Jelaskan definisi titik impas (break-even point)!
8. Jelaskan pengertian margin kontribusi (contribution margin)!
9. Jelaskan pengertian rasio margin kontribusi (contribution margin ratio)!
10.Jelaskan alasan mengapa margin kontribusi (contribution margin) per
unit disebut sebagai laba di atas titik impas!
11.Jelaskan pengertian rasio biaya variabel (variable cost ratio)!
12.Jelaskan pengertian rasio margin kontribusi (contribution margin ratio)!
13.Jelaskan bagaimana hubungan antara rasio biaya variabel dan rasio
margin kontribusi!
14. Jelaskan pengertian bauran penjualan (sales mix) dan berikan
contoh untuk mendukung penjelasan tersebut!
15. Jelaskan bagaimana analisis BVL yang dikembangkan untuk produk
tunggal digunakan dalam situasi multiproduk!
16. Jelaskan bagaimana suatu perubahan dalam bauran penjualan
dapat mengubah titik impas perusahaan!
17. Jelaskan pengertian margin of safety (MOS)!
18. Jelaskan bagaimana MOS dapat digunakan sebagai ukuran risiko
operasi!
19. Jelaskan apa yang dimaksud dengan istilah operating leverage!
20. Jelaskan apa dampak yang terjadi apabila terjadi kenaikan
leverage terhadap risiko!
PILIHAN GANDA
1. Pada titik impas (break-even point), margin kontribusi (contribution margin)
sama dengan...
a. biaya variabel total. c. biaya produksi total.
b. biaya tetap total. d. biaya produksi tetap.

2. Impas adalah titik yang menunjukkan bahwa...


a. pendapatan sama dengan biaya produksi.
b. pendapatan sama dengan harga pokok penjualan.
c. pendapatan sama dengan biaya variabel total.
d. pendapatan sama dengan biaya variabel total ditambah dengan biaya tetap
total.
3. Pada titik impas...
a. pendapatan total = biaya total
b. laba = nol.
c. margin kontribusi = biaya tetap.
d. Semua jawaban di atas benar.

4. Titik impas dalam unit dihitung dengan cara...


a. penjualan/biaya total.
b. margin kontribusi/biaya tetap.
c. biaya tetap/margin kontribusi per unit.
e. penjualan/biaya tetap.

5. Titik impas dalam rupiah penjualan dihitung sebagai...


a. biaya tetap/penjualan. c. biaya tetap/rasio biaya variabel.
b. biaya tetap/harga. d. biaya tetap/ rasio margin kontribusi
6. Titik impas dalam rupiah penjualan dapat dihitung dengan
menggunakan cara...
a. margin kontribusi yang ditunjukkan sebagai persentase dari
penjualan.
b. biaya variabel yang ditunjukkan sebagai persentase dari penjualan.
c. biaya tetap yang ditunjukkan sebagai persentase dari penjualan.
d. pendapatan penjualan yang ditunjukkan sebagai persentase dari
laba bersih.

7. Analisis biaya–volume-laba dapat dilakukan atas dasar...


a. hanya berbasis sebelum pajak (pre-tax basis).
b. hanya berbasis setelah pajak (after-tax basis).
c. berbasis sebelum pajak atau berbasis setelah pajak.
d. jawaban di atas tidak ada yang benar.
8. Laba sebelum pajak sama dengan...
a. laba setelah pajak dikalikan dengan tarif pajak.
b. laba setelah pajak dikalikan dengan 1 dikurangi tarif pajak.
c. laba setelah pajak dibagi dengan tarif pajak.
d. laba setelah pajak dibagi dengan 1 dikurangi tarif pajak.

9. Rasio margin kontribusi dihitung dengan cara...


a. margin kontribusi total dibagi dengan pendapatan total.
b. margin kontribusi total dibagi dengan biaya variabel total.
c. biaya variabel total dibagi dengan margin kontribusi.
d. laba dibagi dengan margin kontribusi.
10. Margin kontribusi dihitung dengan cara...
a. penjualan dikurangi dengan harga pokok penjualan.
b. penjualan dikurangi dengan biaya variabel total.
b. penjualan dikurangi dengan biaya produksi variabel total.
c. penjualan dikurangi dengan biaya produksi variabel total dan biaya produksi
tetap total.

11. Rasio margin kontribusi dapat dihitung dengan semua cara berikut ini,
kecuali...
d. margin kontribusi per unit/harga jual per unit.
e. 1 – rasio biaya variabel.
f. biaya tetap/margin kontribusi per unit.
g. margin kontribusi total/pendapatan total.
12. Formula yang digunakan untuk menghitung jumlah unit yang diperlukan dalam
rangka untuk mendapatkan laba yang diinginkan adalah...
a. (biaya tetap + biaya variabel)/penjualan.
b. (biaya tetap + laba yang diinginkan)/penjualan.
c. (biaya tetap + laba yang diinginkan)/margin kontribusi per unit.
d. (biaya tetap + biaya variabel)/margin kontribusi per unit.

13. Formula yang dapat digunakan untuk menghitung rupiah penjualan yang
diperlukan untuk mendapatkan laba yang diinginkan adalah...
a. (biaya tetap + margin kontribusi)/(1 – rasio biaya variabel).
b. (biaya tetap + laba yang diinginkan)/(1 – rasio biaya variabel).
c. (biaya tetap + biaya variabel)/(1 – rasio biaya variabel).
d. (biaya tetap + laba yang diinginkan)/(1 – rasio penjualan).
14. Bauran penjualan merupakan kombinasi relatif dari...
a. input yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk.
b. keluaran yang dihasilkan oleh suatu perusahaan.
c. produk yang dijual oleh suatu perusahaan.
d. saluran distribusi yang digunakan oleh suatu perusahaan.

15. Bauran penjualan dapat diekspresikan dalam bentuk...


a. hanya berdasarkan unit penjualan.
b. hanya berdasarkan pendapatan penjualan.
c. berdasarkan unit penjualan dan pendapatan penjualan.
d. bukan berdasarkan unit penjualan dan pendapatan penjualan.
16. Titik impas dalam unit untuk berbagai produk (multi-product)
dihitung dengan carabiaya tetap dibagi dengan...
a. jumlah persentase margin kontribusi untuk masing-masing produk.
b. rata-rata tertimbang margin kontribusi untuk semua produk.
c. jumlah margin kontribusi produk secara individual.
d. tidak memungkinkan untuk menghitung titik break-even dalam
unit untuk berbagai produk.

17. Dalam grafik laba-volume menunjukkan...


a. laba operasi merupakan variabel dependen dan unit penjualan
merupakan variabel independen.
b. unit yang diproduksi merupakan variabel dependen dan unit
penjualan merupakan variabel independen.
c. pendapatan penjualan merupakan variabel independen dan laba
operasi merupakan variabel dependen.
d. laba operasi merupakan variabel independen dan volume
merupakan variabel dependen.
18. Grafik laba-volume berbeda dari grafik biaya–volume-laba karena
grafik laba-volume hanya menunjukkan...
a. biaya yang berhubungan dengan unit yang diproduksi.
b. laba operasi yang berhubungan dengan penjualan ekspektasi.
c. pendapatan dan biaya yang berhubungan dengan volume penjualan.
d. pendapatan ekspektasi pada tingkat penjualan yang ditargetkan.

19. Pada grafik biaya–volume-laba, titik impas terjadi ketika...


a. garis pendapatan berpotongan dengan garis laba.
b. garis pendapatan berpotongan dengan garis biaya total.
c. garis biaya tetap berpotongan dengan garis biaya variabel.
d. garis margin kontribusi berpotongan dengan garis biaya tetap
20. Grafik biaya–volume-laba disiapkan dengan menggunakan semua asumsi
berikut ini, kecuali...
a. linearitas dalam kisaran relevan (relevant range).
b. unit yang diproduksi = unit yang dijual.
c. bauran penjualan bersifat konstan.
d. fluktuasi biaya bersifat konstan.

21. Apabila biaya variabel per unit turun, volume penjualan pada titik impas
akan...
e. naik.
f. turun.
g. tetap sama.
h. tetap sama, tetapi margin kontribusi per unit akan turun.

22. Apabila biaya tetap naik, titik impas dalam unit akan...
i. naik.
j. turun.
k. tetap sama.
l. tetap sama, tetapi margin kontribusi per unit akan turun.
23. Apabila harga jual per unit naik, titik impas dalam unit akan...
a. naik.
b. turun.
c. tetap sama.
d. tetap sama, tetapi margin kontribusi per unit akan turun.

24. Apabila margin kontribusi per unit turun, titik impas dalam unit akan...
a. naik.
b. turun.
c. tetap sama.
d. tidak dapat ditentukan berdasarkan informasi yang tersedia.

25. Apabila rasio margin kontribusi naik, titik impas dalam rupiah penjualan akan...
a. naik. c. tetap sama.
b. turun. d. naik dua kali.
26. Margin of safety dalam rupiah adalah...
a. penjualan ekspektasi dikurangi laba ekspektasi.
b. penjualan ekspektasi dikurangi penjualan pada titik break-even.
c. biaya pada titik break-even dikurangi laba ekspektasi.
d. biaya ekspektasi dikurangi biaya pada titik break-even.

27. Berikut ini yang digunakan untuk mengukur perubahan persentase laba
sebagai akibat dari perubahan persentase penjualan adalah...
a. variable cost ratio. c. degree of operating leverage.
b. contribution margin ratio. d. sales margin ratio.

28. Degree of operating leverage dihitung dengan cara...


a. margin kontribusi/laba. c. laba/biaya variabel.
b. laba/biaya tetap. d. penjualan/laba total.
29. Operating leverage merupakan bauran relatif antara...
a. pendapatan yang diperoleh dan biaya produksi.
b. biaya tetap dan biaya variabel.
c. produk volume tinggi dan produk volume rendah.
d. biaya produksi dan biaya periodik.

30. Perusahaan A dan B adalah pesaing dalam industri yang sama. Perusahaan A menghasilkan
produk dengan menggunakan sebagian besar biaya tenaga kerja langsung. Perusahaan B
mengganti biaya tenaga kerja langsung dengan berinvestasi ke dalam mesin. Proyeksi penjualan
untuk kedua perusahaan adalah 15 persen lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya. Di antara
pernyataan berikut ini dalam hubungannya dengan proyeksi laba, manakah yang benar?
a. Perusahaan A akan kehilangan lebih banyak laba dibanding perusahaan B.
b. Perusahaan B akan kehilangan lebih banyak laba dibanding perusahaan A.
c. Perusahaan A dan perusahaan B akan kehilangan laba dalam jumlah yang sama.
d. Perusahaan A dan perusahaan B tidak akan kehilangan laba.
LATIHAN
Latihan 9.1
Berikut ini adalah data yang tersedia pada PT Rejeki.

Pertanyaan
Hitunglah titik impas dalam unit!
Latihan 9.2
PT Anugerah memiliki data sebagai berikut.

Pertanyaan
a. Hitunglah titik impas dalam rupiah penjualan!
b. Hitunglah jumlah rupiah penjualan yang diperlukan untuk
menghasilkan laba sebelum pajak sebesar Rp30.000.000!
c. Hitunglah penjualan dalam rupiah yang diperlukan untuk
menghasilkan laba setelah pajak sebesar Rp90.000.000, apabila
tarif pajak yang berlaku adalah 40 persen!
Latihan 9.3
Berikut ini adalah informasi yang tersedia pada PT Sentosa.

Pertanyaan
Apabila perusahaan ingin memperoleh laba sebelum
pajak sebesar Rp400.000.000, hitunglah kontribusinya!
• Latihan 9.4
• PT Anugerah pada periode akuntansi yang akan datang
mengharapkan untuk memperoleh hasil sebagai berikut.

• Manajer penjualan yakin bahwa penjualan dapat ditingkatkan


sebanyak 400 unit apabila belanja iklan ditingkatkan sebesar
Rp10.000.000.
• Pertanyaan
• Hitunglah dampak peningkatan belanja iklan dan peningkatan
penjualan sebanyak 400 unit tersebut terhadap laba operasi!
Latihan 9.5
Pada tahun 2012, PT Berkah mengalami kerugian sebesar
Rp8.000.000. Perusahaan menjual suatu produk dengan harga
jual sebesar Rp80.000 dan biaya variabel per unit sebesar
Rp60.000. Pada tahun 2013, perusahaan ingin memperoleh
laba sebelum pajak sebesar Rp40.000.000.
Pertanyaan
Berapa tambahan unit yang harus dijual perusahaan pada
tahun 2013 dibandingkan penjualan tahun 2012, apabila
diasumsikan bahwa tarif pajak yang berlaku sebesar 25 persen?
Latihan 9.6
Berikut ini adalah data yang tersedia pada PT Karunia.

Pertanyaan
Hitunglah margin of safety dalam rupiah!
Latihan 9.7
Berikut tersaji data dan proyeksi untuk tahun 2013 pada PT
Bahagia.

Pertanyaan
a. Hitunglah degree of operating leverage!
b. Apabila diasumsikan bahwa degree of operating leverage
adalah sebesar 2,0. Hitunglah tingkat kenaikan laba yang akan
terjadi apabila penjualan pada tahun yang akan datang
diekspektasi akan meningkat sebesar 20 persen!
Latihan 9.8
Informasi tentang dua produk yang tersedia pada PT Sejahtera
adalah sebagai berikut.

Pertanyaan
Hitunglah jumlah unit penjualan pada titik impas apabila
diasumsikan bahwa biaya tetap diekspektasi sebesar
Rp82.000.000 dan 60 persen jumlah unit penjualan diekspektasi
untuk produk A! (Bauran penjualan adalah sebesar 6 : 4).
Latihan 9.9
Berikut ini adalah data yang tersedia pada PT Sehat.

Pertanyaan
a. Hitunglah margin kontribusi per unit!
b. Hitunglah rasio margin kontribusi!
c. Hitunglah titik impas produk!
Latihan 9.10
Pada tahun 2012 PT Berlian mengharapkan akan memperoleh
hasil sebagai berikut.

Manajer penjualan yakin bahwa penjualan akan dapat


ditingkatkan sebanyak 200 unit apabila belanja iklan dinaikkan
sebesar Rp6.000.000.
Pertanyaan
Apabila belanja iklan dinaikkan dan penjualan dinaikkan
sebanyak 200 unit, hitunglah dampaknya terhadap laba operasi!

Anda mungkin juga menyukai