Anda di halaman 1dari 56

CAIRAN DAN ELEKTROLIT

PENGATURAN CAIRAN
TUBUH
• ASUPAN CAIRAN
– Terutama diatur melalui mekanisme rasa
haus.
– Pusat pengendali rasa haus di hipotalamus.
– Stimulus fisiologis utama terhadap pusat
rasa haus adlh peningkatan konsentrasi
plasma & penurunan volume darah
– Sel2 reseptor yg secara terus menerus
memantau osmolalitas disebut osmoreseptor
Con’t……..
• Apabila tubuh kehilangan cairan terlalu
banyak, osmoreseptor akan mendeteksi
kehilangan trsbt & mengaktifkan pusat
rasa haus.
• Faktor lain yg mempengaruhi pusat rasa
haus adlh keringnya membran mukosa
faring & mulut, angiotensin II,
kehilangan kalium & faktor psikologis.
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KESEIMBANGAN C & E
1.USIA .... Variasi usia berkaitan dengan luas permukaan
tubuh, metabolisme yang diperlukan dan berat badan.
2.TEMPERATUR LINGKUNGAN .... Panas yang
berlebihan menyebabkan berkeringat. Seseorang
dapat kehilangan NaCl melalui keringat sebanyak 15 –
30 gr/hari.
3.Diet .... Pada saat tubuh kekurangan nutrisi, tubuh
akan memecah cadangan energi, proses ini akan
menimbulkan pergerakan cairan dari interstisial ke
intraseluler.
• 4. Stress. Dapat menimbulkan peningkatan
metabolisme sel, kosentrasi darah dan glikolisil
otot, mekanisme ini dapat menimbulkan retensi
sodium dan air. Proses ini dapat meningkatka
ADH dan menurunkan produksi urine.

5. Sakit. Keadaan pembedahan, trauma


jaringan, kelainan ginjal dan jantung,
gangguan hormon akan mengganggu
keseimbangan cairan.
PENGATURAN KESEIMBANGAN
CAIRAN

a. RASA Haus, mekanismenya :


• Penurunan fungsi ginjal merangsang pelepasan
renin,yang pada akhirnya menimbulkan produksi
angiotensin II yang dapat merangsang
hipotalamus untuk melepaskan substrat netral
yang bertanggung jawab terhadap sensasi haus
b. Anti Diuretik Hormon ( ADH ) :
ADH dibentuk di hipotalamus dan disimpan dalam
neurohipofise dari hipofisis posterior. Stimuli
utama untuk sekresi ADH adalah peningkatan
osmolaritas dan penurunan cairan ekstrasel.
Hormon ini meningkatkan reabsorbsi air pada
duktus koligentes, dengan demikian dapat
menghemat air.
c. Aldosteron
Hormon ini disekresi o/ kelenjar adrenal yang
bekerja pada tubulus ginjal untuk meningkatkan
reabsorbsi natrium. Pelepasan aldosteron
dirangsang o/ perubahan konsentrasi kalium,
natrium serum, dan sistem angiotensin renin dan
sangat efektif dalam mengendalikan hiperkalemia.
d. Prostaglandin
a/ asam lemak alami yang terdapat dalam banyak
jaringan dan berfungsi dalam merespon radang,
pengendalian tekanan darah, kontraksi uterus, dan
mobilitas gastrointenstinal. Dalam ginjal,
prostaglandin berperan mengatur sirkulasi ginjal,
respon natrium, dan efek ginjal pada ADH.
e. Glukokortikoid
meningkatkan resorpsi natrium dan air, sehingga
volume darah naik dan terjadi retensi natrium.
Perubahan kadar glukokortikoid menyebabkan
perubahan – perubahan pada keseimbangan pada
volume darah.
CARA PENGELUARAN CAIRAN
Terjadi melalui organ – organ seperti :
a. Ginjal :
• merupakan pengatur utama keseimbangan cairan
yang menerima 170 liter darah untuk disaring
setiap hari.
• Produksi urine untuk semua usia 1 ml/kg/jam.
• Pada orang dewasa produksi urine sekitar 1,5
liter/hari.
• Jumlah urine yang diproduksi o/ ginjal
dipengaruhi o/ ADH dan aldosteron.
b. Kulit :
* Hilangnya cairan melalui kulit diatur oleh saraf
simpatis yang merangsang aktivitas kelenjar
keringat.
* Rangsangan kelenjar keringat dapat dihasilkan
dari aktivitas otot, temperatur lingkungan yang
meningkat, dan demam.
* Disebut juga Insensible Water Loss (IWL)
sekitar 15 – 20 ml/24 jam.
c. Paru – paru
* Menghasilkan IWL sekitar 400 ml/hari.
*Meningkatnya cairan yang hilang sebagai
respons terhadap perubahan kecepatan dan
kedalaman napas akibat pergerakan atau demam.

d. Gastrointestinal
*Dalam kondisi normal cairan yang
hilang dari gastrointestinal setiap hari
sekitar 100-200 ml.
*Perhitungan IWL secara keseluruhan
adalah 10-15 cc/kg BB/24 jam, dengan
kenaikan 10% dari IWL pada setiap
kenaikan suhu 1 derajat Celsius.
Pengaturan Elektrolit
a. Natrium (sodium)
• Merupakan kation paling banyak yang terdapat pada
cairan ekstrasel.

• Na+ memengaruhi keseimbangan air, hantaran impuls


saraf dan kontraksi otot.

• Sodium diatur oleh intake garam, aldosteron, dan


pengeluaran urine. Normalnya sekitar 135-148 mEq/lt.
b. Kalium (potassium)
-Merupakan kation utama cairan intrasel.

-Berfungsi sebagai excitability ieoropiuskuler dan


kontraksi otot.

-Diperlukan untuk pernbentukan glikogen.sintesa


protein, pengaturan keseimbangan asam basa,
karena ion K+ dapat diubah menjadi ion hidrogen
(H+). Nilai normalnya sekitar 3,5-5,5 mEq/lt.
c. Kalsium
-Berguna untuk integritas kulit dan struktur sel,
konduksi jantung, pembekuan darah, serta
pembentukan tulang dan gigi.

-Kalsium dalam cairan ekstrasel diatur oleh


kelenjar paratiroid dan tiroid. Hormon paratiroid
mengabsorpsi kalsium melalui gastrointestinal,
sekresi melalui ginjal.

-Hormon thirocalcitonin menghambat penyerapan


Ca++ tulang.
d. Magnesium
-Merupakan kation terbanyak kedua pada cairan
intrasel.

-Sangat penting untuk aktivitas enzim,


neurochemia, dan muscular excibility. Nilai
normalnya sekitar 1,5-2,5 rnEq/It.

e. Klorida
-Terdapat pada Cairan ekstrasel dan
intrasel, normalnya sekitar 95-105 mEq/lt.
f. Bikarbonat
-HCO3 adalah buffer kimia utama dalam tubuh
dan terdapat pada cairan ekstrasel dan
intrasel.

-Biknat diatur oleh ginjal.


g. Fosfor
-Merupakan anion buffer dalam cairan intrasel
dan ekstrasel.

-Berfungsi untuk meningkatkan kegiatan


neuromuskuler, metabolisme karbohidrat,
pengaturan asam basa.

-Pengaturan oleh hormon parathyroid.


INTAKE & OUTPUT CAIRAN

Fluit Intake (ml) Fluit Output (ml)


Ingested Water 1.300 Kidneys Skin 1.500
Ingested Food 1.000 IWL 600 – 900
Metabolik 300 SWL 0 – 5000
Oxidation Lungs 400
GIT 100
2.600 2.600 – 2.900
Masalah Keseimbangan Cairan
a. Hipovolemik
• Adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume
cairan ekstra­seluler (CES), dan dapat terjadi karena
kehilangan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal,
pendarahan sehingga menimbulkan syok Hipovolemik.
Mekanisme kompensasi pada hipovolemik adalah
peningkatan rangsangan saraf simpatis (peningkatan
frekuensi jantung, kontraksi jantung, dan tekanan
vaskuler), rasa haus, pelepasan hormon ADH dan
adosteron. Hipovolemik yang berlangsung lama dapat
menimbulkan gagal ginjal akut.
Gejala: Pusing, lemah, letih, anoreksia, mual muntah,
rasa haus, gangguan mental, konstipasi dan oliguri,
penurunan tekanan darah, HR meningkat, suhu
meningkat, turgor kulit menurun, lidah kering dan
kasar, mukosa mulut kering. Tanda-tanda penurunan
berat badan akut, mata cekung, pengosongan vena
jugularis. Pada bayi dan anak-anak adanya penurunan
jumlah air mata.
Pada pasien syok tampak pucat, HR cepat dan
halus.Hipotensi dan oliguri.
b. Hipervolemi
Adalah penambahan/kelebihan volume CES
dapat terjadi pada saat:
•Stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium
dan air.
•Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi
natrium dan air.
•Kelebihan pemberian cairan.
•Perpindahan cairan interstisial ke plasma.

Gejala: Sesak napas, peningkatan dan


penurunan tekanan darah, nadi kuat,
asites, edema, adanya ronchi, kulit lembap,
distensi vena leher, dan irama gallop.
KESEIMBANGAN ASAM –
BASA

• Aktivitas sel akan “optimal” jika pH cairan


ekstrasel : 7,35 – 7,45
• Perubahan pH : meningkat / menurun : aktivitas
sel terganggu, sehingga diperlukan mekanisme
regulasi
Ketidakseimbangan Asam Basa

a. Asidosis respiratorik
• Disebabkan karena kegagalan sistern pernapasan
dalam membuang CO2 dari cairan tubuh. Kerusakan
pernapasan, peningkatan PCO2 arteri di atas 45
mmHg dengan penurunan PH < 7,35.
• Penyebab: Penyakit obstruksi, restriksi paru,
polimielitis, penurunan aktivitas pusat pernapasan
(trauma kepala, pendarahan, narkotik, anestesi,
dan lain-lain).
b. Alkalosisi respiratorik
•Disebabkan karena kehilangan CO, dari paru-paru
pada kecepatan yang lebih tinggi dari produksinya
dalam jaringan. Hal ini menimbulkan PCO2 arteri < 35
mmHg, PH > 7,45.
•Penyebab: Hiperventilasi alveolar, anxietas,
demam, meningitis, keracunan aspirin, pneumonia,
dan emboli paru.
c. Asidosis metabolik
•Terjadi akibat akumulasi abnormal fixed
acid atau kehilangan basa. PH arteri < 7,35,
HCO3 menurun di bawah 22 mEq/lt.
•Gejala: pernapasan kusmaul (dalam dan
cepat), disorientasi, dan koma.
d. Alkalosis metabolik
•Disebabkan oleh kehilangan ion hidrogen atau
penambahan basa pada cairan tubuh. Bikarbonat
plasma meningkat > 26 mEq/lt dan PH arteri > 7,45.
•Penyebab: Mencerna sebagian besar basa
(misalnya BaHCO3, antacid, soda kue) untuk
mengatasi ulkus peptikum atau rasa kembung.
•Gejala: Apatis, lemah, gangguan mental, kram, dan
pusing.
Perbandingan antara bikarbonat, PH dan P aCO2 pada
gangguan asam basa sederhana dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.

Gangguan Asam Basa HCO3 Plasma PH Plasma PaCO2 Plasma

As. Metabolik ↓ ↓ ↓
Alk. Metabolik ↑ ↑ ↑
As. Respiratorik ↑ ↓ ↑
Alk. Respiratorik ↓ ↑ ↓
GANGGUAN
KESEIMBANGAN ELEKTROLIT
HIPONATREMI
- Natrium < 130 mEq/L, dapat menyebabkan
cairan masuk ke dalam sel sehingga sel akan
bengkak termasuk sel di dalam otak.
- Penyebab:
- Kehilangan cairan mell saat pencernaan.
- Banyak keringat, banyak air sebagai pengganti
cairan yang hilang.
- Penggunaan diuretik yang dikombinasikan
dengan diet rendah garam.
Con’t
- Insufisiensi adrenal (kurang aldosteron).

Gejala:
-Tidak nafsu makan, mual, muntah.
- Otot-otot kejang.
- Twiching.
- Lemah, bingung.
- Hemiparese, udema papil, koma.
- Na dalam serum < 135 mEq/L.
- Osmolaritas serum < 285 Mosm/kg
HIPERNATREMI
- Penyebab:
- Pengeluaran cairan sebagai respon adalah rasa
haus.
- Pemberian makanan hipertonok/per NGT tanpan
diikuti pemberian air yang cukup.
- Meningkatnya kehilangan cairan yang tidak
diketahui.
- Diare.
- Pemasukan garam berlebihan dalam makanan.
Con’t
- Pemberian infus yang mengandung banyak
natrium.
- Keringat yang berlebihan.
- Diabates insipidus.
- Tenggelam dalam laut.
- Laboratorium:
- Na serum > 145 mEq/L
- Osmolaritas serum > 295 Mosm/kg.
- BJ urine > 1,015.
HIPOKALEMI
- Gejala:
- Lemah.
- Nafsu makan tidak ada.
- Kelemahan otot.
- Peristaltik menurun.
- Bila hipokalemi lama: urine akan menjadi encer,
poliuri, nokturi, polidipsi.
Con’t
- Laboratorium:
- K serum < 3,5 mEq/L.
- Alkalosis metabolik.
- Osmolaritas urine rendah.
- Gula darah sedikit meningkat.
HIPOKALSEMI
- Penyebab:
- Malabsorbsi.
- Kurang Vit. D.
- Pangkreatitis akut.
- Pemberian tranfusi darah dengan koagulan sistras.
- Hipoparatiroid primer.
- Alkalosis.
- Hiperfosfatemia
- Hpoalbuminemia.
- Hipomagnesemia.
Con’t
- Gejala:
- Jari-jari tangan tegang.
- Otot-otot ekstremitas tegang.
- Trousseau’s sign.
- Chovekstek’s sign.
- Kejang-kejang otot laring.
- Kejang otot perut
- Kalsium serum total kurang dari normal.
HEPERKALSEMI
- Penyebab:
- Hiperparatiroidism.
- Imobilisasi yang lama.
- Pengobatan vit. D dasis tinggi.
- Pengobatan diuretik thiazide.
Con’t
-Gejala:
- Kelemahan otot.
- Konstipasi.
- Tak ada nafsu makan.
- Menurunnya daya ingat.
- Poliuri, polidipsi.
- Henti jantung.
- kalsium serum > 10,5 mg/dl.
HIPOMAGNESIUM
- Penyebab:
- Alkoholism.
- Diare, pengisapan cairan lambung.
- Pemberian agresif makanan pada orang kelaparan tanpa
pemberian magnesium.
- Ketoasidosis diabetik.
- Hiperaldosteronism.
- Obat-obat: diuretik, antibiotik amino glikoside.
- Pangkreastitis, tireotoksikosis, hiperparatiroidisme.
HIPERMAGNESIUM
- Penyebeb:
- Gagal ginjal.
- Insufisiensi adrenal.
- Pemberian Mg selama pengobatan eklamsi.
- Hemodialisis dengan pengeluaran air yang banyak.
- Ketoasidosis yang tidak diobati.
MANAJEMEN KEBIDANAN

A. PENGKAJIAN
1. Riwayat Kesehatan :
a. Pemasukan dan pengeluaran cairan dan makanan ( oral,
parenteral )
b. Tanda umum masalah elektrolit
c. Tanda kekurangan dan kelebihan cairan
d. Proses penyakit yang menyebabkan gangguan homeostatis
cairan dan elektrolit
e. Pengobatan tertentu yang dijalani dapat
mengganggu status cairan
f. Status perkembangan seperti usia atau
status sosial
g. Faktor psikologis : perilaku emosional yang
mengganggu pengobat
2. Pengukuran Klinik
a. Berat Badan :
Kehilangan / bertambahnya BB menunjukkan
adanya masalah keseimbangan cairan – cairan :
±2% : ringan
±5% : sedang
± 10 % : berat
Pengukuran BB dilakukan setiap hari pada waktu
yang sama.
b. Keadaan Umum :
- Pengukuran tanda vital : Suhu Nadi, Tensi dan
Pernapasan Tingkat Kesadaran
c. Pengukuran masukkan cairan :
- cairan oral : NGT dan Oral
- cairan parenteral termasuk obat IV
- makanan yang cenderung mengandung air
- irigasi kateter atau NGT
d. Pengukuran keluaran cairan :
- urine : volume , kejernihan / kepekatan
- faeces : jumlah dan konsistensi
- muntah, tube drainase, IWL
e. Ukur keseimbangan cairan dengan akurat :
normalnya sekitar 200 CC
3. Pemeriksaan fisik : difokuskan pada :
- Integuemen : keadaan turgor kulit, edema,
kelelahan, kelemahan otot, tetani dan
sensasi.
- Kardiovaskuler : distensi vena jugularis,
tekanan darah, HB dan bunyi jantung
- Mata : cekung, air mata kering
- Neurollogi : refleks, gg motorik dan
sensorik, tk kesadaran.
- Gastrointestinal : keadaan mukosa mulut,
mulut dan lidah, muntah-muntah dan bising
usus.
4. Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan elektrolit, darah lengkap, PH,
berat jenis dan analisis gas darah.
B. DIAGNOSA & INTERVENSI

1. Aktual/risiko defisit volume cairan A/


kondisi dimana pasien mengalami risiko
kekurangan cairan pada ekstra seluler dan
vaskuler. Kemungkinan berhubungan dengan :
a. Kehilangan cairan secara berlebihan
b. Berkeringat secara berlebihan
c. Menurunnya intake oral
d. Penggunaan diuretik
f. Perdarahan
Kemungkinan ditemukan data :
- Hipotensi, takhikardia
- Pucat, kelemahan
- Kosentrasi urin pekat
Kondisi klinik :
- Penyakit Addison
- Koma
- Ketoasidosis pada Diabetika
- Anoreksida
- Perdarahan gastrointestinal
- Muntah, diare, intake cairan yang tidak
adekuat
- AIDS, perdarahan dan ulcer kolon
Tujuan yang diharapkan :

-Memperoleh keseimbangan cairan


-Menunjukkan adanya keseimbangan cairan
seperti output urin adekuat, tekanan darah
stabil, membran mukosa mulut lembab, turgor
kulit baik
-Secara verbal pasien mengatakan penyebab
kekurangan cairan dapat teratasi
INTERVENSI RASIONAL
1.Ukur dan catat setiap 4 1.menentukan kehilangan
jam : intake/output, dan kebutuhan cairan
warna muntahan, urin, & 2.Memenuhi kebutuhan
faeces. Monior turgor ma/mi
kulit, tanda vital, monitor
IV infus, VCP, elektrolit,
BUN, Hb, hematokrit,
status mental dan BB
2.Berikan makanan dan
cairan
INTERVENSI RASIONAL
3.Berikan pengobatan : anti 3.menurunkan pergerakan
diare & muntah usus & muntah
4.Berikan support verbal 4.Meningkatkan konsumsi
dalam penberian cairan yang lebih
5.Lakukan kebersihan mulut 5.Meningkatkan nafsu makan
sebelum makan 6.Meningkatkan sirkulasi
6.Ubah posisi px tiap 4 jam 7.Meningkatkan info &
7.Berikan pendidikan kerjasama
kesehatan tentang : tanda &
gx dehidrasi, intake & output
cairan, terapi
2. Volume cairan berlebih
A/ Kondisi dimana terjadi peningkatan retensi
dan edema
Kemungkinan berhubungan dengan:
-Retensi garam & air
-efek dari pengobatan, malnutrisi
Kemungkinan data yang ditemukan:
-Orthopnea, oliguria, edema, distensia vena
jugularis, hipertensi, distress pernapasan,
anarsaka, udema paru
Kondisi klinik :
-Obesitas, hipothiroidisim, pengobatan dengan
kortikosteroid, immobilisasi yang lama, cushings
syndrome, gagal ginjal, sirosis hepatis, kanker
dan toxemia
Tujuan yang diharapkan :
-Mempertahankan keseimbangan intake dan
output cairan
-Menurunkan kelebihan cairan
INTERVENSI RASIONAL

1.Ukur & monitor : 1.Dasar pengkajian


Intake & output, BB, TD, CVP kardiovaskuler & respon
distensi vena jugularis, bunyi terhadap penyakit
paru 2.Mengetahui adanya edema
2.Monitor Ro”paru paru
3.Kolaborasi dengan Dr : obat, 3.Kerjasama disiplin ilmu
cairan & efek pengobatan
INTERVENSI RASIONAL

4.Hati-hati dalam pemberian 4.Mengurangi overload


cairan 5.Mengurangi edema
5.Pada px bedrest : ubah 6.Mencegah kerusakan kulit
posisi tiap 2 jam, latihan pasif Px & klg mengetahui &
& aktif kooperatif
6.pada kulit edema beri lotion,
hindari penekanan yang terus
menerus
7.Beri pengetahuan kesehatan