Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA

DENGAN DEMENSIA

SARTIKA SARI (1130119008)


LILIK WARYANTI (1130119013)
Pengertian Demensia
Demensia adalah satu penyakit yang menyebabkan sel-sel otak mati secara bertahap seiring
dengan bertambahnya usia. Namun, sel-sel otak penderita demensia akan mati dengan cepat
dan volume otak mereka akan menyusut, menyebabkan kerusakan parah terhadap fungsi otak.
Pasien penderita demensia bukan saja bisa menjadi pelupa, tetapi juga memiliki masalah
dengan pemahaman, bahasa, pembelajaran, perhitungan, dan penilaian. Kepribadian dan
perilaku mereka juga bisa berubah. (Lau.2016)
KLASIFIKASI DEMENSIA
 Demensia karena Alzaimer
 Demensia Vaskular
 Demensia Lewy Body
 Demensia Frontotemporal (temporal bagian depan)
ETIOLOGI

Menurut Law 2016 etiologi demensia adalah sebagai berikut :


 Penyalahgunaan konsumsi zat terlarang dalam jangka panjang
 Tumor otak yang dapat diangkat
 Hematoma subdural (pendarahan di kepala pada rongga subdural)
 Gangguan kelenjar tiroid
 Kurangnya vitamin, terutama Vitamin B1
 Hipoglikemia atau gula darah rendah
 Hidrosefalus tekanan normal (membesarnya ventrikel otak yang dapat 1menyebabkan
hilangnya ingatan)
MANIFESTASI KLINIS

1. Seluruh jajaran fungsi kognitif rusak .


1. Tidak bisa pulang ke rumah bila bepergian
2. Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek
2. Sulit mandi, makan, berpakaian, toileting
3. Pelupa
3. Pasien bisa berjalan jauh dari rumah dan tak bisa pulang
4. Gangguan kepribadian dan perilaku, mood swing
4. Mudah terjatuh, keseimbangan buruk
5. Sering mengulang kata-kata
6. Tidak mengenal dimensi waktu, misalnya tidur di ruang makan. 5. Kesulitan belajar dan mengingat informasi baru

7. Mudah tersinggung, bermusuhan, agitasi dan kejang 6. Kurang konsentrasi

8. Gangguan psikotik: halusinasi, ilusi, waham & paranoia. 7. Kurang kebersihan diri
9. Agnosia, apraxia, afasia 8. Rentan terhadap kecelakaan: jatuh
10. ADL (Activities of Daily Living) susah 9. Tremor
11. Kesulitan mengatur penggunaan keuangan 10..Kurang koordinasi gerakan
PATOFISIOLOGI

Penyakit degeneratif pada otak, gangguan vaskular dan penyakit lainnya, serta gangguan
nutrisi, metabolik dan toksisitas secara langsung maupun tak langsung dapat menyebabkan sel
neuron mengalami kerusakan melalui mekanisme iskemia, infark, inflamasi, deposisi protein
abnormal sehingga jumlah neuron menurun dan mengganggu fungsi dari area kortikal ataupun
subkortikal. Di samping itu, kadar neurotransmiter di otak yang diperlukan untuk proses
konduksi saraf juga akan berkurang. Hal ini akan menimbulkan gangguan fungsi kognitif
(daya ingat, daya pikir dan belajar), gangguan sensorium (perhatian, kesadaran), persepsi, isi
pikir, emosi dan mood. Fungsi yang mengalami gangguan tergantung lokasi area yang terkena
(kortikal atau subkortikal) atau penyebabnya, karena manifestasinya dapat berbeda. Keadaan
patologis dari hal tersebut akan memicu keadaan konfusio akut demensia 
Pemeriksaan Penunjang

 Pemeriksaan laboratorium untuk membant memastikan adanya gangguan lain seperti


hipotiroidisme atau kekurangan vitamin B12, dll.
 Imaging : Computed Tomography (CT) scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging)
 Evaluasi perilaku dan uji kognitif: Sejumlah tes terstruktur untuk mengukur ingatan dan
keterampilan mental, untuk menentukan apakah ada penyakit demensia.
 Pemeriksaan EEG
 Pemeriksaan cairan otak
KOMPLIKASI DEMENSIA

1. Meningkatan resiko infeksi di seluruh bagian tubuh.


 Ulkus dekubitus
 Infeksi saluran kencing
 Pneumonia
2. Thromboemboli, infarkmiokardium
3. Kejang.
4. Kontraktur sendi.
5. Kehilangan kemampuan untuk merawat diri.
6. Malnutrisi dan dehidrasi akibat nafsu makan dan kesulitan menggunakan peralatan.
Konsep Asuhan Keperawatan Demensia
A. Pengkajian
a. Pengumpulan data
Pengkajian dilakukan cara mengidentifikasi:
1) Identifikasi klien dan penanggung jawab
2) Alasan dirawat
3) Riwayat penyakit
4) Aspek fisik, psikososial,status mental,kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping,masalah psikososial dan
lingkungan.
a) Aktifitas/istirahat
- Merasa lelah; kelemahan bisa meningkatkan bahaya gejala. Khususnya pada malam hari terbalik mengira
siang/malam, terjaga sepanjang malam/kluyuran tanpa tujuan, gangguan irama tidur.
- Lelargi; penurunan ketertarikan pada aktifitas sehari-hari, hobi, ketidak mampuan untuk mengulang apa yang
dibaca/mengikuti cerita acara televisi; kemungkinan dipaksa untuk pensiun hambatan keterampilan motorik;
ketidak mampuan melakukan gerakan yang lazim dan bertujuan.
- Sering duduk dan mengamati orang lain
- Aktifitas utama mungkin mengumpulkan benda mati,pengulangan gerakan (mis: melipat- membuka–melipat
kembali kain), menyembunyikan benda atau keluyuran
b. Sirkulasi
Kemungkinan riwayat penyakit sekuler sistemik/senebral. Hipertensi,episode embolik (faktor predisposisi)
c. Integritas ego
Perilaku sering tidak konsisten ; perilaku verbal non verbal mungkin tidak sesuai. Curiga atau ketakutan
pada orang lain atau situasi yang dikhayatkan, berpegangan tangan dengan orang terdekat. Salah
mempresepsikan lingkungan. Mengidentifikasi objek atau orang, mengumpulkan benda-benda, perubahan
pada etika tubuh dan harga diri labilitas emosional (mudah menangis, tertawa dengan tidak tepay) ;
perubahan suasana hati yang bervariasai (apatis, ketargi, sukar istirahat, rentang perhatian yang pendek,
iritabilitas) ; tiba-tiba marah meledak-ledak (reaksi katastropik)
d. Eliminasi
• Urgensi (dapat mengindikasi hilangnya tonus otot)
• Inkontinenssia urine atau veses Cenderung konstipasi atau inpaksi, dengan diare.
e. Makan atau minum
• Episode hipoglikemik (faktor predisposisi)
• Kurang minat pada atau melupakan waktu makan, bergantung pada orang lain untuk memasak makanan
dan menyiapkan makanan dari meja, selera; menyangkal sedang lapar atau menolak makan (dapat
mencoba menyembunyikan kehilangan keterampilan).
• Kehilangan kemampuan untuk mengunyah (aspirasi samar)
• Penurunan berat badan, masa otot ; menjadi kurus (vase lanjut)
f. Interaksi sosial
• Kemampuan pembicaraan terkotak-kotak, afasia dan disfasia.
• Dapat mengabaikan atuaran kontak sosial atau perilaku tidak tepat.
• Faktor psikososial resiko sebelumnya (secara individu dan pribadi mempengaruhi adanya
perubahan pola prilaku)
• Peran keluarga mungkin berubah atau kebalikan karena individu jadi lebih tergantung.
g. Neurosensorik
• Menyembunyikan ketidak mampuan (dapat membuat alasan saat tidak menyelesaikan
tugas, menghisao ibu jari saat memegang buku tanpa membaca)
• Anggota keluarga dapat melaporkan adanya penurunan terhadap dalam kemampuan
kognitif, kerusakan penilaian/keputusan yang tidak tepat, hambatan ingatan baru tetapi
ingatan baik, perubahan perilaku/pwerubahan sifat kepribadian individu atau menjadi
berat.
• Kehilangan kemampuan persepsi (lokasi tubuh/bagian tubuh dalam ruang )
Diagnosa Keperawatan

A.

Ketergantungan
Resiko Jatuh dalam ADL

Gangguan Proses Pikir Resiko


ketidakseimbanga
n nutrisi : kurang
dari kebutuhan
tubuh
Kemunduran daya
ingat

Penatalaksanaan Resiko
regimen terapeutik tidak kekurangan
efektif volume cairan
Diagnosa keperawatan: gangguan proses pikir
TUM TUK INTERVENSI Px INTERVENSI
KELUARGA
Setelah Pasien mampu 1. Beri kesempatan 1. Diskusikan
dilakukan mengenal / bagi pasien dengan keluarga
intervensi berorientasi untuk mengenal cara-cara
4x 15 menit terhadap barang milik mengorientasikan
selama 6 waktu orang pribadinya. waktu, orang dan
jam dalam dan tempat. Misalnya tempat tempat pasien
12 pekan tidur, lemari, 2. Anjurkan

INTERVENSI berturut-
turut
pakaian dll.
2. Beri kesempatan
keluarga
menyediakan
untuk

ganggang kepada pasien pukul besar dan


proses pikir untuk mengenal kalender dengan
teratasi atau waktu dengan tulisan besar
diadaptasi menggunakan 3. Diskusikan
melalui tuk jam besar, dengan keluarga
kalender yang tentang
mempunyai kemampuan yang
lembar perhari dapat dilakukan
dengan tulisan pasien saat ini
besar. 4. Anjurkan
3. Beri kesempatan keluarga untuk
kepada pasien memberikan
untuk pujian terhadap
menyebutkan kemampuan yang
namanya dan masih dimiliki
anggota pasien
keluarga 5. Anjurkan
terdekat. keluarga untuk
4. Beri kesempatan membantu pasien
kepada klien melakukan
Pasien mamou 1. Observasi
Pasien mamou 1. Observasi melakukan kemampuan pasien
aktivitas sehari-hari untuk melakukan

melakukan kemampuan pasien secara optimal. aktivitas sehari-hari.


2. Beri kesempatan

aktivitas sehari-hari untuk melakukan kepada


memilih
pasien untuk
aktivitas
yang dapat
secara optimal. aktivitas sehari-hari. dilakukannya.
3. Bantu pasien untuk

2. Beri kesempatan melakukan kegiatan


yang telah dipilihnya.
4. Beri pujian jika
kepada pasien untuk pasien dapat
melakukan

memilih aktivitas kegiatannya.


5. Tanyakan perasaan

yang dapat pasien


melakukan
jika mampu

kegiatannya.
dilakukannya. 6. Bersama pasien
membuat jadwal

3. Bantu pasien untuk kegiatan sehari-hari.

melakukan kegiatan
Keluarga mampu 1. Keluarga mampu
mengorientasikan megorientasikan
pasien terhadap pasien terhadap
yang telah dipilihnya. waktu, orang dan waktu, orang dan
tempat. tempat.

4. Beri pujian jika 2. Diskusikan


keluarga
dengan
cara-cara
mengorientasikan
pasien dapat
melakukan
kegiatannya.
5. Tanyakan perasaan
pasien jika mampu
melakukan
kegiatannya.
6. Bersama pasien
membuat jadwal
kegiatan sehari-hari.

Keluarga mampu 1. Keluarga mampu


mengorientasikan megorientasikan
pasien terhadap pasien terhadap
waktu, orang dan waktu, orang dan
tempat. tempat.
2. Diskusikan dengan
keluarga cara-cara
mengorientasikan
Evaluasi

1. Kemampuan pasien:
 Msmpu menyebutkan hari, tanggal, tahun sekarang dengan benar
 Menyebutkan nama orang yang dikenal
 Menyebutkan tempat dimana pasien tinggal
 Mampu melakukan kegiatan harian sesuai jadwal
 Mampu mengungkapkan perasaannya setelah melakukan kegiatan
2. Kemampuan keluarga
3. Mampu membantu pasien mengenal waktu, tempat dan orang
4. Menyediakan kalender yang mempunyai lembaran per hari dengan tulisan besar dan pukul besar
5. Membantu pasien melaksanakan kegiatan harian sesuai jadwal yang dibuat