Anda di halaman 1dari 15

Penggunaan Micro Skill

Dalam Konseling
Zurratul Muna
Tujuan penggunaan mikro skill
dalam konseling adalah
Tujuan Mikro
mendukung proses building
Skill dalam
trust sehingga proses
konseling
konseling berjalan dengan
lancar.
3
1. Listening Skills
  A. Attending
Attending merupakan keterampilan yang
PENGGUNAAN digunakan oleh konselor untuk
memusatkan perhatiannya pada konseli.
MICROSKILL
BESERTA ▫ Tujuannya agar konseli merasa dihargai
TUJUANNYA dan terbina suasana yang kondusif,
nyaman dan percaya sehingga ia mampu
YANG mengungkapakan tentang apa saja yang
ada dalam pikiran dan perasaannya

▫ Perilaku attending ditunjukkan melalui


perilaku non-verbal
▫ Ex: Kontak mata, posisi tubuh, expresi
wajah, anggukan kepala.
B. Paraphrasing
▫ Proses menyatakan kembali pesan utama

konseli secara seksama dengan kalimat


yang mudah dan sederhana.
Con’t.. Tujuannya:
 Menyatakan kpd konselli konselor

memahami secara utuh apa yg dikatakan


 Meringkas dan mudah dipahami

 Perception Checking

 Apabila konselor merasa ragu dgn

pemahamnnya, ia dapat menanyakan


kembali kepada konseli guna meyakinkan
pemahamannya  Clarifying
5

C. Perception Cheking D. Clarifying


verifikasi merupakan proses
apakah konselor dimana konselor
mempunyai persepsi membuat
yang tepat mengenai pembicaraan yang
perkataan dan tidak jelas,
perbuatan klien menjadi lebih
(meliputi beberapa fokus, umumnya
ungkapan dan di lakukan ketika
berbeda dgn org konselor tdk
mengobrol). mengerti apa yang
dimaksud klien
6
Con’t..
2. Leading Skills a. Indirect Leading adalah
Tujuan leading skill proses konselor melakukan
pembicaraan awal sebagai
adalah untuk
bahan pancingan agar konseli
mendorong konseli mau memulai bercerita
mengungkapkan mengenai permasalahan yang
masalahnya dialami.
terhadap konselor
Konselor mencoba b. Direct Leading adalah
mengarahkan proses mengatakan secara
langsung kepada konseli agar
pembicaraan dia melakukan sesuatu.
konseli sehingga Tujuannya agar konselor
proses konseling dapat mengarahkan arah
berlangsung pembicaraan dengan konseli
dengan efektif.
Con’t..
▫ c. Focusing adalah proses
mengarahkan konseli agar
memusatkan cerita ke
salah satu topik yang
dirasa paling penting
untuk dibahas.

D. Questioning pertanyaan
yang dajukan menuju
kepertanyaan terbuka
8
3. Reflecting Skills
proses yang dilakukan konselor untuk
menangkap perasaan, pikiran dan
pengalaman konseli, kemudian
merefleksikan kepada konseli kembali.
 Biasanya digunakan pd tahap

mengidentifikasi masalah.
 Karena sering kali konseli tidak

menyadari perasaan, pikiran dan


pengalamannya yang mungkin
merugikannya
 reflecting dilakukan dengan tujuan agar
konseli menyadari akan perasaan dan
fikirannya.
a. Reflecting Feelings
Proses untuk mengungkapkan kembali apa yang
Macam-macam dirasakan oleh konseli berdasarkan hasil
Reflecting pengamatan perilaku non-verbal dan pernyataan-
pernyataan yang disampaikan oleh konseli.

b. Reflecting c. Reflecting Content


Experience
Konselor menolong
Konselor menangkap konseli dalam
perilaku non-verbal mengungkapkan
yang ditampilkan oleh sesuatu ketika konseli
konseli seperti terlihat kesulitan
kecepatan dalam mengungkapkan
berbicara, tarikan sesuatu karena
nafas atau mengeluh, kekurangan kosakata
posisi badan yang
berubah-ubah, dan
tatapan mata konseli.
10

4. Chalengging
Paling sulit, mengkonfrontasi klien agar
mau mengakui sesuatu yang tidak mau
diakui, harus sangat memperhatikan
timeming karena tujuannya membuka
topeng. dilakukan apabila ia sudah siap
menemukan keburukan dirinya.
 
5. Interpreting Skills
Interpreting Skill merupakan keterampilan yang digunakan
konselor untuk menggali arti atau makna dari kata-kata atau
tindakan yang telah diceritakan konseli berdasarkan teori-teori
yang dimiliki oleh konselor.

Tujuannya : Agar Konseli mengerti dan memahami permasalahan


secara objektif sehingga konseli dapat menemukan alternatif
pilihan saat mengambil keputusan.

11
Con’t..

a. Interpretive Question
Konselor menyampaikan pendapatnya yang
diperoleh melalui pernyataan-pernyataan konseli
dengan cara memberikan pernyataan kemudian
bertanya apakah hasil interpretasinya tersebut
benar.

b. Fantasy and Metaphor


Konselor manyatakan hasil pemaknaannya
terhadap masalah konseli dengan cara
mengumpamakannya dengan hal-hal lain,
menyampaikannya dalam bentuk metafor.
6. Informing Skills
a. Advicing
Dari hasil proses konseling, konselor yang sudah memahami permasalahan
yang dihadapi oleh konseli, memberikan masukan kepada konseli sebagai
alternatif pemecahan masalahnya. Namun konselor tidak boleh memaksakan
kehendaknya, karena tugas konseli lah untuk memutuskan bagaimana ia akan
mengatasi masalahnya

b. Informing
Informing atau memberikan informasi kepada konseli diartikan sama dengan
memberi nasehat. Hal ini dapat dilakukan jika konseli memintanya. Namun,
tidak semua permintaan ini harus dilayani, akan tetapi konselor harus
mempertimbangkan kondisi konseli, dan penting-tidaknya informasi yang
diminta oleh konseli. Informing dilakukan dengan tujuan agar konseli
mendapatkan pemecahan masalah yang terbaik.

13
Con’t..

7. Summarizing Skill
keterampilan yang digunakan konselor untuk
menyimpulkan atau meringkas mengenai apa
yang telah dikemukakan konseli pada proses
konseling.

summarizing juga digunakan pada akhir sesi


konseling (summary akhir/keseluruhan).

tujuan untuk mempermudah konseli melihat


inti permasalahan berdasarkan wawancara
konseling, dan konseli memperoleh kilas balik
dari hasil pembicaraan.