Anda di halaman 1dari 8

TUGAS KASUS 22

UNDANG – UNDANG dan ETIKA KEFARMASIAN


Kelompok 8

Disusun Oleh :

 Lucia Linda Christiani 20340054

 Rahma Evelyna 20340087

 Rizky Muarief 20340090

 Deska Andriani 20340096

Kelas B (Reguler)

Dosen : apt. Drs. Fakhren Kasim , MHKes.


Kasus Nomor 22 :
Apoteker Menjual Obat Keras Ranitidin 150 mg Sebanyak 20 Tablet Tanpa Resep Dokter

Apakah hal tersebut merupakan pelanggaran


hukum, disiplin atau kode etik, ketiga-tiganya, dua
atau satu diantara ketiga hal tesebut ?

Identifikasi kata kunci yang Kasus Nomor 22 merupakan pelanggaran hokum,


displin dan Kode etik:
penting terkait kemungkinan – Apoteker melanggar hukum karena menjual obat
pelanggaran keras tanpa resep dokter
– Apoteker melanggar disiplin sesuai pada butir 1,
Apoteker, menjual obat, Obat Melakukan praktik dengan tidak kompeten.
Keras, Ranitidin 150 mg, 20 – Apoteker melanggar kode etik pasal 5, bahwa
apoteker tidak menjalankan tugasnya dan
Tanpa Resep Dokter.
 menjauhkan diri dari usaha mencari keuntungan
diri sendiri yang bertentangan dengan martabat
dan tradisi luhur jabatan kefarmasian.
Identifikasi

Butir Pedoman PerUndang-


Butir Pedoman Disiplin Butir Pedoman Kode Etik
undangan
• Pada kasus ini apoteker • Pada kasus ini apoteker • Pada kasus ini apoteker
melakukan pelayanan tidak melakukan pelayanan tidak boleh menjual obat
kefarmasian terhadap resep obat keras dengan keras tanpa resep untuk
pasien dengen memberi prosedur yang sudah mencari keuntungan sendiri
obat keras tanpa resep ditetapkan serta rasa yang bertentangan dengan
dokter. tanggung jawab jatabatan kefarmasian. Dan
profesionalnya, tanpa seharusnya apoteker
alasan pembenar yang sah, menjadi sumber informasi
sehingga dapat yang sesuai, bukan yang
membahayakan pasien. tidak konsisten sehingga
membuat pasien tidak
percaya atau menyepelekan
profesi ini.
Per-UU-an/PDAI/KEAI yang dilanggar

Per-UU-an

Butir/isi yang dilanggar Sanksi jika melanggar Upaya Pencegahan

Berdasarkan PP 51 Tahun 2009 Pasal Berdasarkan Undang-Undang Obat 1. Apoteker harus mematuhi dan
24 huruf c tentang Pekerjaan keras (St No 419 tgl 22 Desember memahami peraturan yang
Kefarmasian yang berbunyi, “Dalam 1949) pasal 12 berbunyi, “Hukuman berlaku.
melakukan Pelayanan Kefarmasian, penjara tetinggi-tingginya 6 bulan 2. Seorang Apoteker
Apoteker dapat menyerahkan obat atau denda uang setinggi-tingginya bersungguh-sungguh
keras, narkotika dan psikotropika 5.000 gulden dikenalan kepada : menghayati dan mengamalkan
kepada masyarakat atas resep dari Mereka yang melanggar peraturan- kode etik Apoteker Indonesia
dokter” peraturan larangan yang di dalam menjalankan tugas
maksudkan dalam pasal 3, 4 dan 5. kefarmasiannya sehari-hari.
Per-UU-an/PDAI/KEAI yang dilanggar
PDAI

Butir/isi yang dilanggar Sanksi jika melanggar Upaya Pencegahan

Butir 1; Melakukan praktik kefarmasian Berdasarkan Pedoman Disiplin Apoteker  Pemeriksaan SIPA dilakukan
dengan tidak kompeten. tahun 2014 tentang Bentuk Pelanggaran dengan baik sehingga tidak
Nomor 12, berbunyi: Dalam Disiplin Apoteker berbunyi, “Sanksi terjadi kasus imana seorang
penatalaksanaan praktik kefarmasian, disiplin yang dapat dikenakan
melakukan yang seharusnya tidak berdasarkan Peraturan per-Undang-
Apoteker bekerja ditempat
dilakukan atau tidak melakukan yang Undangan yang berlaku adalah: Fasilitas Industri farmasi dan
seharusnya dilakukan, sesuai dengan Pemberian peringatan tertulis; sekaligus bekerja di Fasilitas
tanggung jawab profesionalnya, tanpa Rekomendasi pembekuan dan/atau Pelayanan
alasan pembenar yang sah, sehingga dapat pencabutan Surat Tanda Registrasi  Mengetahui sanksi yang akan
membahayakan pasien. Apoteker, atau Surat Izin Praktik diterima bila melakukan
Apoteker, atau Surat Izin Kerja Apoteker; pelanggaran tersebut.
dan/atau;
Kewajiban mengikuti pendidikan atau  Apoteker menggali lebih dalam
pelatihan di institusi pendidikan kondisi pasien terlebih dahulu
apoteker. sebelum menyarankan terapi
pada pasien.
Per-UU-an/PDAI/KEAI yang dilanggar
KEAI

Butir/isi yang dilanggar Sanksi jika melanggar Upaya Pencegahan

Bab 1 Kewajiban Umum, Apabila Apoteker melakukan  Apoteker meng-update


Pasal 5 : pelanggaran kode Etik Apoteker, pengetahuan terkait obat agar
Menjalankan tugasnya setiap yang bersangkutan dikenakan dapat mengoptimalkan
Apoteker harus menjauhkan diri sanksi organisasi. Sanksi dapat pengobatan pasien.
dari usaha mencari keuntungan berupa pembinaan, peringatan,  Perlunya dibangun jiwa
pengetahuan dan kesadaran
diri sendiri yang bertentangan pencabutan, keanggotaan terhadap tanggung jawab
dengan martabat dan tradisi sementara, dan pencabutan profesi. Agar setiap apoteker
luhur jabatan kefarmasian keanggotaan tetap. melaksanakan pelayanan
Pasal 7 kefarmasian sesuai dengan
Seorang Apoteker harus menjadi kode etik dan secara
sumber informasi yang sesuai professional.
dengan profesinya.
Daftar Pustaka

– Nurul Falah.E.P, 2014. Peraturan Organisasi Tentang Pedoman Disiplin Apoteker


Indonesia. Jakarta : Pengurus Pusat IAI
– Undang-Undang Obat Keras (St. No. 419 Tgl 22 Desember 1949)
– Kode Etik Apoteker Indonesia. 2009. Kongres Nasional XVIII Ikatan Sarjana
Farmasi Indonesia. Jakarta