Anda di halaman 1dari 6

Peraturan Perundang-undangan &

Etika Kefarmasian
Dosen: Drs. Fakhren Kasim, MH.Kes., Apt
Disusun Oleh :
Marita Tifani 20340063
Ulfah Eka Syafitri 20340084
Ersamukti R. Achmad 20340097
Kelas: B
PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2020
KASUS NO.25
Apoteker menyarankan dan menjual tablet Levonorgestrel-
etinil estradiol kepada seorang pasien yang telah dikenalnya
dan mengalami oedem / pembengkakan pada pergelangan kaki
karena gangguan ginjal

Identifikasi kata kunci yang penting terkait


kemungkinan pelanggaran
Apoteker menjual tablet Levonorgestrel-etinil estradiol pada
pasien dengan gangguan ginjal. Penggunaan levonogestrel-etinil
estradiol perlu diberikan perhatikan khusus pada pasien dengan
gangguan ginjal. Jenis pelanggaran: Disiplin dan kode etik.
Per-UU-an/PDAI/ KEAI yang dilanggar
Per-UU-an

Butir/ isi yang Sanksi jika Upaya pencegahan


dilanggar melanggar
PerMenKes RI No.35 Pemberian peringatan Apoteker
tahun 2014 tentang tertulis meningkatkan
standar pelayanan pengetahuan dan harus
kefarmasian di apotek memahami
terkait penyerahan kemungkinan
obat dan pemberian terjadinya kesalahan
informasi obat. pengobatan dalam
proses pelayanan serta
masalah terkait obat
Per-UU-an/PDAI/ KEAI yang
dilanggar
PDAI Pedoman Disiplin Apoteker Indonesia

Butir/ isi yang dilanggar Sanksi jika melanggar Upaya pencegahan


BUTIR PEDOMAN DISIPLIN yang Sanksi disiplin yang dapat Apoteker menggali lebih
dilanggar: dikenakan oleh MEDAI dalam kondisi  pasien
Butir 1: Melakukan praktik  berdasarkan  berdasarkan terlebih dahulu sebelum
kefarmasian dengan tidak kompeten. PerUU yang  berlaku: menyarankan terapi pada
Butir 12: Dalam penatalaksanaan 1. Pemberian peringatan pasien.
praktik kefarmasian, melakukan yang tertulis
seharusnya tidak dilakukan atau tidak 2. Rekomendasi  pembekuan
melakukan yang seharusnya  pembekuan dan/atau
dilakukan, sesuai dengan tanggung pencabutan Surat Tanda
jawab profesionalnya, tanpa alasan Registrasi Apoteker, atau
pembenar yang sah, sehingga dapat Surat Izin Praktek, atau
membahayakan pasien. Surat Izin Kerja Apoteker
Butir 13: Melakukan pemeriksaan atau 3. Kewajiban mengikuti
pengobatan dalam pelaksanaan praktik pendidikan atau  pelatihan
praktik swa-medikasi swa-medikasi di institusi pendidikan
( self medication medication) yang apoteker
tidak sesuai dengan kaidah pelayanan
kefarmasian.
Per-UU-an/PDAI/ KEAI yang dilanggar
KEAI Kode Etik Apoteker Indonesia

Butir/ isi yang dilanggar Sanksi jika Upaya pencegahan


melanggar
BUTIR KODE Pembinaan dan Apoteker bertanggung  jawab
ETIK  yang dilanggar: peringatan tertulis secara professional untuk
Pasal 9: Seorang dari organisasi memberikan nasehat dan
Apoteker dalam profesi informasi yang benar, cukup,
melakukan praktik dan objektif tentang
kefarmasian harus swamedikasi dan semua
mengutamakan produk yang tersedia untuk
kepentingan swamedikasi.
masyarakat,
menghormati hak azazi Apoteker meng-update
pasien dan melindungi pengetahuan  terkait obat agar
makhluk hidup insani. dapat mengoptimalkan
 pengobatan pasien
DAFTAR PUSTAKA
Nurul Falah.E.P, 2014. Peraturan Organisasi Tentang
Pedoman Disiplin Apoteker Indonesia. Jakarta :
Pengurus Pusat IAI
Triwara B, 2009. Kode Etik Apoteker Indonesia.
Jakarta : Kongres Nasional Ikatan Sarjana Farmasi
Indonesia
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek