Anda di halaman 1dari 44

PERJANJIAN

KREDIT BANK

(PERJANJIAN POKOK)
PENGERTIAN KREDIT
Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang
Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992
Tentang Perbankan,
Pasal 1 butir (11) dan (12):
KREDIT adalah:
“Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank
dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya
setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.

PEMBIAYAAN adalah:
“Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang
mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan
tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil”.
PENGERTIAN KREDIT
Dari pengertian Kredit tersebut di atas dapat
disimpulkan, bahwa:
 Objek Kredit adalah uang atau tagihan yang dapat dipersamakan
dengan itu.

 Menimbulkan kewajiban bagi pihak peminjam untuk melunasi


utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Imbalan, atau bagi hasil.

 Perjanjian Pinjam Meminjam bersifat KONSENSUAL dan RIIL,


Doktrin:
Perjanjian Kredit adalah Perjanjian Konsensual, yang berarti bahwa
dengan adanya konsensus atau kesepakatan yang tercapai di antara para
pihak maka terjadi perikatan antara para pihak dengan timbulnya akibat
hukum berupa hak dan kewajiban bagi mereka atau perjanjian terjadi ex
nudo consensu.
PENGERTIAN PINJAM MEMINJAM
Kitab Undang-undang Hukum Perdata
Pasal 1754 :
PINJAM MEMINJAM ialah:

Perjanjian dengan mana pihak yang satu


memberikan kepada pihak yang lain
suatu jumlah tertentu barang-barang yang menghabis karena
pemakaian , dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini
akan mengembalikan sejumlah yang sama pula.
PENGERTIAN PINJAM MEMINJAM
Dari pengertian Pinjam Meminjam tersebut di atas dapat
disimpulkan, bahwa:
Perjanjian pinjam-meminjam ini mengandung MAKNA yang LUAS, yaitu
objeknya adalah benda yang menghabis jika verbruiklening termasuk di
dalamnya uang.

Berdasarkan perjanjian pinjam-meminjam ini, pihak penerima pinjaman


menjadi pemilik yang dipinjam dan kemudian harus dikembalikan dengan
jenis yang sama kepada pihak yang meminjamkan.

Perjanjian Pinjam Meminjam bersifat RIIL, yaitu disamping adanya


persetujuan yang tercapai antara para pihak diperlukan penyerahan benda
objek dari perjanjian tersebut.
Subekti :
“Dalam bentuk apapun juga pemberian kredit itu diadakan,
dalam semuanya itu pada hakikatnya yang terjadi
adalah suatu perjanjian pinjam-meminjam
sebagaimana diatur oleh KUHPerdata Pasal 1754 sampai dengan
Pasal 1769.

Perjanjian Kredit Perjanjian Pinjam


Meminjam
PERJANJIAN KREDIT
dan PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM

Marhainis Abdul Hay:


“Perjanjian kredit
adalah identik dengan perjanjian pinjam-meminjam
dan dikuasai oleh ketentuan bab XIII dari buku III KUHPerdata.

Perjanjian Kredit Perjanjian Pinjam


Meminjam
PERJANJIAN KREDIT
dan PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM

Remy Sjahdeini
menyimpulkan bahwa perjanjian kredit memiliki pengertian
secara khusus, yakni:
 Perjanjian antara bank sebagai kreditur dengan nasabah
sebagai nasabah debitur mengenai penyediaan uang atau
tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu yang
mewajibkan nasabah-nasabah debitur untuk melunasi
hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah
bunga, imbalan, atau pembagian hasil keuntungan

Perjanjian Kredit Perjanjian Pinjam


Meminjam
PERJANJIAN KREDIT
dan PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM
Johannes Ibrahim
 perjanjian kredit berbeda dengan perjanjian pinjam-meminjam yang diatur dalam bab
XIII buku III KUHPerdata, baik dari pengertian, subjek pemberi kredit, pengaturan,
tujuan, dan jaminannya.
Akan tetapi dengan perbedaan tersebut tidaklah dapat dilepaskan dari akarnya, yaitu
perjanjian pinjam meminjam.
Mengkaji rumusan kredit yang diberikan oleh Undang-Undang Perbankan, dikatakan
bahwa kredit adalah:
 “…………….., berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam
antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi
utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”
  Demikian pula dengan pembiayaan:
 “…………………………, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank
dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan
uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi
hasil.” (kursif penulis).

Perjanjian Kredit Perjanjian Pinjam


Meminjam
PERJANJIAN KREDIT
dan PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM
Keterkaitan antara Perjanjian Kredit dan Perjanjian
Pinjam Meminjam

Dasar Perjanjian Kredit adalah Perjanjian Pinjam


Meminjam
Dari rumusan yang terdapat di dalam Undang-Undang Perbankan
mengenai pengertian kredit
dapat disimpulkan bahwa dasar perjanjian kredit
adalah perjanjian pinjam-meminjam
di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Bab XIII Pasal 1754 s/d Pasal 1769.
PERJANJIAN KREDIT
dan PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM
Persamaan antara Perjanjian Kredit dan Perjanjian
Pinjam Meminjam

Subjek : Debitur dan Kreditur

Adanya kewajiban bagi Debitur untuk mengembalikan


pinjaman atau kredit kepada Kreditur.

Adanya jangka waktu

Keduanya digolongkan delam Perjanjian RiiL


PERJANJIAN KREDIT
dan PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM
Perbedaan antara Perjanjian Kredit dan Perjanjian
Pinjam Meminjam
1.Tujuan
 Perjanjian Kredit selalu bertujuan, biasanya dalam
pemberian kredit sudah ditentukan tujuan penggunaan
uang yang akan diterima, dan tujuan tersebut biasanya
berkaitan dengan program pembangunan. (atau
pembelian rumah,mobil Dll)

 Sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam tidak


ada ketentuan tersebut dan debitur dapat
menggunakan uangnya secara bebas.
PERJANJIAN KREDIT
dan PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM
Perbedaan antara Perjanjian Kredit dan Perjanjian
Pinjam Meminjam
2.Pemberi Kredit/Kreditur
 Dalam perjanjian kredit sudah ditentukan bahwa
pemberi kredit adalah bank atau lembaga pembiayaan
(lihat ketentuan Pasal 1 ayat (12) UU Nomor 7 Tahun
1992) dan tidak dimungkinkan diberikan oleh
individu,

 sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam


pemberian pinjaman dapat oleh individu.
PERJANJIAN KREDIT
dan PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM
Perbedaan antara Perjanjian Kredit dan Perjanjian
Pinjam Meminjam
3.Dasar Hukum
 Bagi perjanjian kredit akan berlaku:
 ketentuan dalam UUD 1945;
 ketentuan bidang ekonomi dalam GBHN;
 ketentuan umum KUHPerdata;
 UU No.7 /1992 jo. UU No.10/1998 tentang Perbankan
 Paket Kebijaksanaan Pemerintah Dalam Bidang Ekonomi terutama
bidang Perbankan;
 Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI); dan sebagainya.

 Bagi perjanjian pinjam-meminjam berlaku ketentuan


umum dari buku III dan bab XIII buku III
KUHPerdata.
PERJANJIAN KREDIT
dan PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM
Perbedaan antara Perjanjian Kredit dan Perjanjian
Pinjam Meminjam
4.Bunga, Imbalan, atau Bagi Hasil
 Pada perjanjian kredit telah ditentukan bahwa
pengembalian uang pinjaman itu harus disertai bunga,
imbalan, atau pembagian hasil,

 sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam hanya


berupa bunga saja dan bunga ini pun baru ada apabila
diperjanjikan.
PERJANJIAN KREDIT
dan PERJANJIAN PINJAM MEMINJAM
Perbedaan antara Perjanjian Kredit dan Perjanjian
Pinjam Meminjam
5.Jaminan
 Pada perjanjian kredit bank harus mempunyai
keyakinan akan kemampuan debitur akan
pengembalian kredit yang diformulasikan dalam
bentuk jaminan baik materiil maupun immateriil,

 sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam


jaminan merupakan pengamanan bagi kepastian
pelunasan hutang dan ini pun baru ada apabila
diperjanjikan, dan jaminan itu hanya merupakan
jaminan secara fisik atau materiil saja.
CIRI KHUSUS
PERJANJIAN KREDIT
I. Perjanjian Kredit Bersifat Konsensual
Sifat konsensual dari suatu perjanjian kredit merupakan ciri
pertama yang membedakan dari perjanjian pinjam-
meminjam uang yang bersifat riil.

Perjanjian kredit adalah perjanjian loan of money menurut hukum


Inggris yang dapat bersifat riil maupun konsensual, tetapi
bukan perjanjian peminjaman uang menurut hukum
Indonesia yang bersifat riil.

Bagi perjanjian kredit yang jelas-jelas mencantumkan syarat-


syarat tangguh tidak dapat dibantah lagi bahwa perjanjian itu
merupakan perjanjian yang konsensual sifatnya.  
CIRI KHUSUS
PERJANJIAN KREDIT
II. Perjanjian Kredit Memiliki Tujuan Tertentu
Kredit yang diberikan oleh bank kepada nasabah debitur tidak
dapat digunakan secara leluasa untuk keperluan atau tujuan
tertentu oleh nasabah debitur, seperti yang dilakukan oleh
peminjam uang atau debitur pada perjanjian peminjaman
uang biasa.

Pada perjanjian kredit, kredit harus digunakan sesuai dengan


tujuan yang ditetapkan di dalam perjanjian dan pemakaian
yang menyimpang dari tujuan itu menimbulkan hak kepada
bank untuk mengakhiri perjanjian kredit secara sepihak dan
untuk seketika dan sekaligus menagih seluruh baki debet
atau outstanding kredit
 
CIRI KHUSUS
PERJANJIAN KREDIT
III. Perjanjian Kredit Memiliki Syarat Cara Penggunaan
Tertentu
Yang membedakan perjanjian kredit bank dari perjanjian
peminjaman uang adalah mengenai syarat cara
penggunaannya.
Kredit bank hanya dapat digunakan menurut cara tertentu, yaitu
dengan menggunakan cek atau perintah pemindahbukuan.
Cara lain hampir dapat dikatakan tidak mungkin atau tidak
diperbolehkan.
Pada perjanjian peminjaman uang biasa, uang yang dipinjamkan
diserahkan seluruhnya oleh kreditur ke dalam kekuasaan
debitur dengan tidak disyaratkan bagaimana cara
penarikannya
KESIMPULAN
PERJANJIAN KREDIT
  PERJANJIAN KREDIT

Adalah perjanjian antara bank sebagai kreditur


dengan nasabah sebagai nasabah debitur
mengenai penyediaan uang
atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu
yang mewajibkan nasabah-nasabah debitur
untuk melunasi hutangnya
setelah jangka waktu tertentu
dengan jumlah bunga, imbalan, atau pembagian hasil
keuntungan
KORELASI PERJANJIAN KREDIT
dan PERJANJIAN JAMINAN
PERJANJIAN KREDIT (Perjanjian Pokok)
 

PERJANJIAN JAMINAN(Perjanjian Accessoir)

AKIBAT-AKIBAT HUKUM:
(Prof. Dr. Ny. Soedewi Masjchoen Sofwan, S.H.)

ADAnya tergantung pada perjanjian pokok;


HAPUSnya tergantung pada perjanjian pokok;
Jika perjanjian pokok BATAL maka perjanjian accessoirnya ikut BATAL;
Jika perjanjian pokok BERALIH maka perjanjian accessoirnya ikut
BERALIH;
Jika perutangan pokok beralih karena cessie/subrogasi maka jaminannya ikut
Pengertian Perjanjian Kredit Sebagai
Perjanjian Pokok
Pengertian Perjanjian pokok adalah:
Perjanjian kredit harus ada terlebih dahulu
sebelum dibuatnya perjanjian lain;

Perjanjian kredit merupakan sesuatu yang


menentukan batal atau tidak batalnya perjanjian
lain yang mengikutinya, misalnya perjanjian
jaminan.
Pengertian Perjanjian Jaminan Sebagai
Perjanjian Accessoir (Ekor/Turutan)
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 dalam Pasal 8
memberi pengertian tentang jaminan adalah:
◦ “Keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk
melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan

Pasal 1131 KUHPerdata berbunyi:


◦ “Segala barang-barang bergerak dan tak bergerak milik debitur,
baik yang sudah ada maupun yang akan ada, menjadi jaminan
untuk perikatan-perikatan perorangan debitur itu”.

Jaminan kredit merupakan persyaratan untuk memperkecil


risiko bank dalam menyalurkan kredit
JAMINAN KREDIT
• Thomas Suyatno dkk.memberikan pengertian
jaminan kredit adalah:
– “ penyerahan kekayaan atau pernyataan
kesanggupan seseorang untuk menanggulangi
pembayaran kembali suatu utang”.
• Menurut kamus perbankan:
– “Jaminan yg diberikan oleh bank, jaminan tersebut
dpt berupa jaminan fisik atau non fisik. Jaminan
fisik berbentuk barang, sedangkan jaminan non
fisik berupa avalist”
JAMINAN KREDIT
Djuhaendah Hasan memberikkan pengertian
pengertian jaminan yaitu:
◦ “sarana perlindungan bagi keamanan kreditur yaitu
kepastian akan pelunasan hutang debitur atau pelaksanaan
suatu prestasi oleh debitur atau oleh penjamindebitur “.

Sedangkan Hukum jaminan adalah:


◦ “perangkat hukum yg mengatur ttg jaminan dr pihak
debitur atau dari pihak ketiga bagi kepastian pelunaan
piutang kreditur ataupelaksanaan suatu prestasi”.
SUBJEK & OBJEK HUKUM
Dalam Perjanjian Kredit Bank
Subjek hukum dalam perjanjian kredit bank, adalah
 
para pihak yang akan mengikatkan diri dalam hubungan
hukum di dalam perjanjian kredit.

Pihak-pihak yang mengikatkan diri dalam perjanjian


kredit adalah pihak yang memberikan kredit (kreditur)
dan pihak yang menerima kredit (debitur).

Dalam perjanjian kredit bank, ditegaskan bahwa pihak


yang memberikan kredit adalah BANK sedangkan pihak
yang menerima kredit dapat perorangan ataupun badan
hukum.
Kreditur dalam Perjanjian Kredit
 Pengertian “kreditur” menurut Black’s Law Dictionary adalah:
• “A person to whom a debt is owning by another person who is the “debtor”………

 Marjanne Termorshuizen dalam Kamus Hukum Belanda Indonesia adalah:


• “Kreditur (Belanda: crediteur) adalah yang berpiutang, pemiutang, penagih, pihak
yang berhak”.

 Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan:


• “Kreditor adalah yang berpiutang, yang memberikan kredit, penagih.
 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, tidak memberikan penjelasan tentang
“kreditur”.
Secara implisit bahwa kreditur yang dimaksud dalam undang-undang ini adalah bank.
Bank selaku kreditur
dalam Perjanjian Kredit Bank
Yang bertindak selaku kreditur dalam perjanjian kredit bank
adalah lembaga bank. Oleh karenanya perlu dipahami
pengertian lembaga bank.

Black’s Law Dictionary:


◦ “A bank is an institution, usually incorporated, whose
business it is to receive money on deposit, cash checks or
drafts, discount commercial paper, make loans, and issue
promissory notes payable to bearer, known as bank notes.
American commercial banks fall into two main categories;
state chartered banks and federally chartered national banks.
Bank selaku kreditur
dalam Perjanjian Kredit Bank

• Stuart Verryn, dalam bukunya Bank Politik,


mengatakan:
– “Bank adalah suatu badan yang bertujuan untuk
memuaskan kebutuhan kredit, baik dengan alat-
alat pembayarannya sendiri atau uang yang
diperolehnya dari orang lain, maupun dengan jalan
memperedarkan alat-alat penukar baru berupa
uang giral
Bank selaku kreditur dalam Perjanjian
Kredit Bank
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan, bab I, pasal 1 ayat (2) mengatakan:

◦ “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari


masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada
masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya
dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.

◦ Lembaga bank yang dapat menyalurkan kredit menurut Undang-


Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, adalah Bank
Umum dan Bank Perkreditan Rakyat.
Debitur dalam Perjanjian Kredit
Pengertian tentang “debitur” menurut Black’s
Law Dictionary adalah:
◦ “One who owes a debt to another who is called the
creditor; one who may be compelled to pay a claim or
demand; anyone liable on a claim, whether due or to
become due”.

Marjanne Termorshuizen dalam Kamus Hukum


Belanda Indonesia adalah:
◦ “Debitur (Belanda: debiteur) adalah yang berutang,
penghutang, orang utangan, pihak-berwajib”.
Debitur dalam Perjanjian Kredit
Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan:
◦ “Debitor adalah orang atau lembaga yang berutang
kepada orang atau lembaga lain”

Secara normatif pengertian “debitur” dijelaskan


sebagai “nasabah debitur” adalah:
◦ “Nasabah yang memperoleh fasilitas kredit atau
pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah atau yang
dipersamakan dengan itu berdasarkan perjanjian
bank dengan nasabah yang bersangkutan
Pribadi dan Badan Usaha / Hukum
selaku Debitur dalam Perjanjian Kredit Bank

• Debitur dalam perjanjian kredit bank dapat:


pribadi atau manusia (natuurlijk persoon)
badan hukum (rechtpersoon).
Pribadi selaku Debitur
dalam Perjanjian Kredit Bank
Sebagai pribadi atau manusia, undang-undang secara negasi
menyatakan orang-orang yang tidak cakap bertindak secara hukum.
Berdasarkan pasal 1330 KUHPerdata, dinyatakan tidak cakap adalah:
◦ Orang yang belum dewasa, yaitu belum genap usia 21 (duapuluh
satu) tahun. Ketentuan yang mengatur usia dewasa dalam Pasal 330
KUHPerdata menyebutkan bahwa belum dewasa adalah mereka
yang belum genap usia 21 (duapuluh satu) tahun dan tidak lebih
dahulu telah kawin. Apabila perkawinan itu dibubarkan sebelum
umur mereka genap 21 (duapuluh satu) tahun, maka mereka tidak
kembali lagi dalam kedudukan belum dewasa.
◦ Orang yang tidak sehat pikirannya/gila, pemabuk dan pemboros,
yaitu mereka yang ditaruh di bawah pengampuan;
Pribadi selaku Debitur
dalam Perjanjian Kredit Bank

Tentang pengampuan ini diatur dalam Pasal 433 sampai


dengan Pasal 462 KUHPerdata.

Pasal 433 KUHPerdata berbunyi:


“Setiap orang dewasa, yang selalu berada dalam keadaan
dungu, sakit otak atau mata gelap harus ditaruh di bawah
pengampuan, pun jika ia kadang-kadang cakap
mempergunakan pikirannya. Seorang dewasa boleh juga
ditaruh di bawah pengampuan karena keborosannya”
Pribadi selaku Debitur
dalam Perjanjian Kredit Bank
Berdasarkan pasal 1330 KUHPerdata, dinyatakan tidak cakap
adalah:
◦ Orang perempuan dalam status pernikahan.
◦ Ketidak mampuan seorang perempuan dalam status pernikahan
untuk melakukan perbuatan hukum, telah dihapuskan oleh Surat
Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No: 3 tahun 1963.
◦ Ketiga golongan di atas merupakan salah satu syarat sahnya
perjanjian, yaitu kecakapan untuk membuat perikatan (Pasal 1320
ayat (1) KUHPerdata).
◦ Dalam praktik perbankan pengikatan kredit yang dilakukan oleh
suami atau istri sebagai debitur, pihak lainnya harus hadir untuk
memberikan persetujuannya.
Dokumen Hukum Kredit Perorangan
dalam Perjanjian Kredit Bank
Kelengkapan dokumen yang harus dipenuhi untuk pemohon
kredit perorangan sebelum pengikatan kredit dilakukan adalah:
◦ Kartu identitas (Kartu Tanda Penduduk/KTP) dan Kartu
Keluarga (KK) yang masih berlaku atau diterbitkan setelah
tahun 2011 dinyatakan berlaku seumur hidup.

◦ Surat Nikah.
Tujuan dari surat nikah untuk mengetahui apakah calon
debitur sudah melangsungkan pernikahan dengan siapa dan
posisi suami atau istri yang akan memberikan persetujuan
atau turut menanda-tangani perjanjian kredit.
Dokumen Hukum Kredit
Perorangan
dalam Perjanjian Kredit Bank
 Kelengkapan dokumen yang harus dipenuhi untuk pemohon kredit
perorangan sebelum pengikatan kredit dilakukan adalah:
◦ Surat Persetujuan suami atau Istri.
Surat persetujuan suami atau istri tergantung dari kedudukan calon
debitur itu sendiri.
Jika pemohonnya suami, maka istri yang memberikan persetujuannya,
demikianpun sebaliknya.
Kecuali Harta Bawaan atau terdapat Perjanjian Pisah Harta (Perjanjian
Kawin)

◦ Surat cerai atau kematian.


Surat cerai atau kematian diperlukan bila calon debitur sebelumnya
terikat dalam suatu perkawinan, dan saat mengajukan kredit perkawinan
tersebut telah berakhir karena perceraian atau kematian.
Dokumen Hukum Kredit
Perorangan
dalam Perjanjian Kredit Bank
Persyaratan dokumen di atas, dilengkapi pula dengan berbagai
dokumen lainnya disesuaikan dengan permohonan kredit yang
diajukan oleh perorangan. Dibagi dalam kelompok:
Karyawan.
Karyawan yang mengajukan permohonan kredit harus
melengkapi dokumen-dokumen sebagai berikut:
 Surat keterangan penghasilan dari tempat bekerja, berupa
slip gaji yang memuat perincian pendapatan pokok
ditambah dengan tunjangan-tunjangan lainnya.
 Surat rekomendasi perusahaan atas kinerja karyawan selama
bekerja di perusahaan tersebut.
Dokumen Hukum Kredit Perorangan
dalam Perjanjian Kredit Bank
 Perusahaan perorangan.
Dokumen-dokumen yang dipersyaratkan kelengkapan
minimal, disesuaikan dengan kegiatan usaha perusahaan
perorangan, umumnya terdiri atas:
• Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dari Kantor Pajak
Pratama setempat.
• Nomor Induk Berusaha (NIB).
• Ijin usaha dari Pemerintah Daerah setempat.
Dokumen Hukum Badan Usaha/Hukum
dalam Perjanjian Kredit Bank
• Badan usaha atau badan hukum yang
umumnya menjadi subjek hukum selaku
debitur dalam perjanjian kredit bank adalah:
– Firma
– Persekutuan Komanditer (CV)
– Perseroan Terbatas (PT)
– Yayasan
– Koperasi
Dokumen Hukum Badan Usaha/Hukum
dalam Perjanjian Kredit Bank
 BADAN HUKUM
◦ Akta pendirian dari badan usaha atau badan hukum.

◦ Pengesahan dari institusi yang berwenang. Untuk Perseroan Terbatas terdapat pengesahan dari
Kementrian Hukum dan HAM RI dan diumumkan dalam Berita Negara.

◦ Ijin berdasarkan Undang-Undang Gangguan (Hinderordonantie Staatblad: 1926-226). Sudah Dihapus


tidak berlaku lagi

◦ Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dari Kantor Pajak Pratama (KPP) setempat.

◦ Nomor Induk Berusaha yg merupakan pengganti SIUP dan TDP , diatur dalam Pasal 24 PP 24 Tahun
2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Eletronik (Online Single
Submission/OSS).

◦ Ijin usaha dari Pemerintah Daerah setempat. (Contoh : Ijin Lokasi)


◦ Ijin-ijin lainnya yang terkait dengan bidang usaha debitur dan harus dimintakan secara khusus. (SIUJK)
Dokumen Hukum Badan Usaha/Hukum
dalam Perjanjian Kredit Bank

Dokumen-dokumen dalam permohonan kredit yang


dibahas di atas merupakan persyaratan minimal,
artinya bank dapat menentukan persyaratan-
persyaratan lainnya yang dipandang perlu sesuai
dengan fasilitas kredit yang dimohonkan oleh
debitur.
SEKIAN
DAN
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai