Anda di halaman 1dari 31

BENTUK

PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN

PASAL 8 AYAT (2) UU PERBANKAN


Bank Umum wajib memiliki dan menerapkan pedoman perkreditan dan
pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang
ditetapkan oleh Bank Indonesia

PENJELASAN
Pokok-pokok ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia memuat
antara lain:
a.Pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah dibuat
dalam bentuk PERJANJIAN TERTULIS.
b.……………………….dst (kursif penulis)
BENTUK
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
 Setiap kredit/pembiayaan yang telah disetujui dan disepakati antara Pihak
Kreditur dan Pihak Debitur wajib dituangkan dalam PERJANJIAN TERTULIS.

Akta Otentik (Ps 1868 KUHPdt)

PEJANJIAN TERTULIS

Akta di Bawah Tangan (Ps 1874 KUHPdt)


UNSUR-UNSUR/PERSYARATAN
UNSUR-UNSUR/PERSYARATANAKTA
AKTAOTENTIK
OTENTIK
(Ps
(Ps1868
1868KUHPerdata)
KUHPerdata)

Akta itu
Akta itu
harus dibuat Pejabat umum,
harus dibuat
oleh (door) oleh atau dihadapan
dalam
atau siapa akta itu dibuat,
bentuk
dihadapan harus mempunyai
yang ditentukan
(ten overstaan) wewenang untuk
oleh
seorang membuat akta itu.
undang-undang.
pejabat umum.

Dilanggarnya
Dilanggarnyaketentuan
ketentuantersebut
tersebutmengakibatkan
mengakibatkan
aktanya
aktanyahanya
hanyamempunyai
mempunyaikekuatan
kekuatanpembuktian
pembuktiansebagai
sebagaiakta
aktadi
dibawah
bawahtangan
tangan
atau
atauakta
aktamenjadi
menjadibatal
bataldemi
demihukum.
hukum.
KEKUATAN PEMBUKTIAN AKTA OTENTIK
Acta publica probant sese ipsa (akta otentik membuktikan sendiri keabsahannya).

Kekuatan pembuktian Suatu akta yg kelihatannya sbg akta otentik maka akta itu berlaku sebagai akta
otentik thd setiap orang, tanda tangan dari pejabat yg bersangkutan diterima sbg sah,
LAHIRIAH
sampai dapat dibuktikan bahwa akta itu adalah tidak otentik.
(uitwendige
bewijskracht) Pembuktian sebaliknya, artinya bukti bahwa tanda tangan itu tidak sah, hanya dapat
dilakukan melalui “valsheidprocedure”. Yang menjadi persoalan bukan isi akta
ataupun wewenang pejabat itu tapi semata2 mengenai tanda tangan pejabat tersebut.

Kekuatan pembuktian Terjamin kebenaran/kepastian tanggal dari akta itu, identitas dari
orang2 yg hadir (comparten), demikian juga tempat dimana akta itu
FORMAL
dibuat dan sepanjang mengenai akta partij, bahwa para pihak ada
(formele menerangkan seperti yang diuraikan dalam akta itu, sedang kebenaran
bewijskracht) dari keterangan2 itu sendiri hanya pasti antara pihak2 sendiri.

Isi keterangan yg dimuat dlm akta itu berlaku sbg yg benar, isinya
mempunyai kekuatan kepastian sbg yg sebenarnya, mjd terbukti dgn sah
Kekuatan pembuktian di antara pihak dan para ahli waris serta para penerima hak mereka, dgn
Kekuatan pembuktian
MATERIAL pengertian:
MATERIAL
(materiele a.Bhw akta itu, bila digunakan di muka pengadilan adl cukup dan hakim
(materiele
bewijsracht) tidak diperkenankan utk meminta bukti lain di samping itu;
bewijsracht) b.Bhw pembuktian sebaliknya senantiasa diperkenankan dgn alat2
pembuktian biasa yg dibolehkan utk itu mnrt UU.
AKTA DI BAWAH TANGAN

Ps 1874 KUHPerdata

Sebagai tulisan-tulisan di bawah tangan


dianggap akta-akta yang ditandatangani
di bawah tangan, surat-surat,
register-register, surat-surat
urusan rumah tangga,
dan lain-lain tulisan
yang dibuat tanpa perantara
seorang Pejabat Umum.
KEKUATAN PEMBUKTIAN AKTA DI BAWAH TANGAN
Kekuatan pembuktian yang dimiliki oleh Akta Otentik tidak ada pada Akta di Bawah Tangan.

Kekuatan pembuktian Akta yang dibuat di bawah tangan baru berlaku sah jika yang menanda
Kekuatan pembuktian
LAHIRIAH Akta yangmengakui
tanganinya dibuat di bawah tangan
kebenaran daribaru berlaku
tanda sah jika
tangannya itu yang menanda
atau apabila
LAHIRIAH
(uitwendige tanganinya
dengan mengakui
cara sah menurut kebenaran dari dianggap
hukum dapat tanda tangannya
sebagai itu atau
telah apabila
diakui oleh
(uitwendige
bewijskracht)
dengan cara sah
yang bersangkutan. menurut hukum dapat dianggap sebagai telah diakui oleh
bewijskracht) yang bersangkutan.

Tanggal yang tercantum dalam akta di bawah tangan masih dapat disangkal
kebenarannya.
Pernyataan-pernyataan yang terdapat dalam akta di bawah tangan yang tanda
tanggannya telah diakui oleh para penandatangannya merupakan suatu bukti
Kekuatan terhadap siapa pun juga tetapi bahwa pernyataan itu diberikan pada tanggal yang
Kekuatan
pembuktian FORMAL tercantum dalam akta itu ini hanya merupakan kepastian bagi orang-orang yang
pembuktian
(formeleFORMAL menadatanganinya, ahli waris mereka, serta orang-orang yang menerima haknya.
(formele
bewijskracht)
Pihak Ketiga (orang yang tidak ikut menandatangani, bukan ahli waris, atau yang
menerima hak dari yang menandatangani) hanya dapat melihat hitam di atas putih
bewijskracht) isi pernyataan itu saja tetapi tidak akan dapat memeriksa atau meyakinkan apakah
tanda tangan itu benar-benar dibubuhkan pada tanggal yang disebut dalam akta di
bawah tangan tersebut.

Kekuatan pembuktian Kekuatan pembuktian material pada akta di bawah tangan hanya meliputi
Kekuatan pembuktian
MATERIAL kenyataan bahwa keterangan itu diberikan jika tanda tangan yang tertera
MATERIAL
(materiele pada akta diakui oleh yang menandatanganinya atau dianggap sebagai
(materiele
bewijsracht) telah diakui sedemikian menurut hukum.
bewijsracht)
FORMAT
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN

 Saat ini, format Perjanjian Kredit/Akad Pembiayaan diserahkan sepenuhnya


kepada Bank ybs, namun demikian ada hal-hal yang harus dipedomani dalam
menyusun Perjanjian Kredit/Akad Pembiayaan, antara lain:

 Rumusan perjanjian tidak boleh kabur/tidak jelas;

 Harus memperhatikan keabsahan perjanjian, ketentuan-ketentuan, dan


peraturan perundang-undangan yang berlaku;

 Memuat secara jelas mengenai jumlah besarnya kredit, jangka waktu, tata cara
pembayaran kembali kredit, serta persyaratan lainnya yang lazim dalam
perjanjian kredit.
FORMAT
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
 Dalam praktik perbankan, setiap Bank telah mempersiapkan blanko
dan formulir ataupun telah memberikan ketentuan-ketentuan tertentu
dalam hubungan dengan para Nasabahnya.

 Perjanjian Kredit dibuat dalam format PERJANJIAN BAKU dengan


prinsip “take it or leave it”.

 Perjanjian baku adalah perjanjian yang hampir seluruh klausula-


klausulanya sudah dibakukan oleh pemakainya dan pihak yang lain
pada dasarnya tidak mempunyai peluang untuk merundingkan atau
meminta perubahan.
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
& UU No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Pasal 1 angka 10
UU Perlindungan Konsumen

Klausula baku adalah


setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat
yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu
secara sepihak oleh Pelaku Usaha
yang dituangkan dalam suatu dokumen dan atau perjanjian
yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen.
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
& UU No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
Pasal 18 ayat (1) butir a, f, g, dan h
UU Perlindungan Konsumen

Terdapat larangan membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap


dokumen dan/atau perjanjian apabila:

a. Menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha;

f. Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau
mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi objek jual beli jasa;

g. Menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru,


tambahan, lanjutan, dan atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh
Pelaku Usaha dalam masa Konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya;

h. Menyatakan bahwa Konsumen memberi kuasa kepada Pelaku Usaha untuk


pembebanan Hak Tanggungan, Hak Gadai, atau Hak Jaminan terhadap barang
yang dibeli oleh Konsumen secara angsuran.
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
& UU No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

Pasal 18 ayat (2) UU Perlindungan Konsumen

Pelaku Usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya
sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas atau yang
mengungkapkannya sulit dimengerti.

Pasal 18 ayat (3) UU Perlindungan Konsumen

Setiap klausula baku yang telah ditetapkan Pelaku Usaha pada dokumen atau
perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) dinyatakan BATAL DEMI HUKUM.
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
& UU No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen

 H.G. van der Werf


Pada kenyataannya Nasabah sebenarnya lebih mengutamakan klausula yang
seimbang ketimbang kebebasan berkontrak yang bersifat materiil.

Beberapa alasan dapat dikemukakan sebagai berikut:

• untuk perjanjian tertentu tidak selalu dibutuhkan pembicaraan pendahuluan


mengenai syarat/klausula secara rinci, ,misalnya pada perjanjian kredit KPR,
kredit rekening koran, dan sebagainya.

• adanya fungsi hakim untuk mengurangi kemungkinan timbulnya kerugian


pada suatu perjanjian.

• Pihak “lemah” apabila bergabung dapat pula menjadi Pihak yang ‘kuat”.
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
& UU No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
 Herlien Boediono
 Tidak semua klausul baku atau perjanjian baku mengandung muatan negatif yang dapat
merugikan pihak Konsumen.

 Seyogyanya larangan penggunaan klausula baku diberlakukan secara selektif


sebagaimana dianjurkan oleh ajaran penundukan kehendak yang relatif ( relatieve
wilsonderwerping).
Menurut teori ini, pada dasarnya teori kehendak dianut tetapi hanya berlaku manakala
adanya faktor kepercayaan yg termotivikasi dgn itikad baik yg harus sesuai dengan
kepentingan lalu lintas hukum.

 Klausula baku lainnya yang tidak dilarang, sebagaimana digolongkan dalam Pasal 18 UU
Perlindungan Konsumen, tetapi nyata-nyata merupakan klausula yg sangat
memberatkan salah satu pihak dapat pula menjadi alasan untuk minta dibatalkannya
perjanjian tsb.

 Kedudukan hukum secara materil yg sama antara para pihak. Sepanjang tidak dapat
dibuktikan adanya penyalahgunaan perjanjian tersebut adalah sah.

 Hal penyalahgunaan klausula dapat diminimalisasi dgn mengatur suatu sistem agar
dapat melindungi kelompok ekonomi lemah dgn tetap berasaskan pada kebebasan
berkontrak bagi semua orang.
FUNGSI
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
Ch. Gatot Wardoyo
Perjanjian Kredit mempunyai beberapa fungsi, yaitu diantaranya:

1. Perjanjian Kredit berfungsi sebagai PERJANJIAN POKOK, artinya


perjanjian kredit merupakan sesuatu yang menentukan batal atau
tidak batalnya perjanjian lain yang mengikutinya, misalnya perjanjian
pengikatan jaminan.

2. Perjanjian Kredit berfungsi sebagai ALAT BUKTI mengenai batasan-


batasan hak dan kewajiban di antara Kreditur dan Debitur;

3. Perjanjian Kredit berfungsi sebagai alat untuk melakukan


MONITORING KREDIT.
STRUKTUR
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN

 Hingga saat ini belum ada standar baku mengenai isi Perjanjian
Kredit/Akad Pembiayaan

 Perjanjian Kredit/Akad Pembiayaan, harus dibuat dalam bentuk


tertulis, baik dalam bentuk:

a. Akta di Bawah Tangan

b. Akta Otentik
STRUKTUR
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
PASAL 38
UU No. 2 Tahun 2014 jo. UU No.30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris (UUJN)

Setiap akta Notaris terdiri atas:


1.Awal akta atau kepala akta,
memuat: judul, nomor, jam, hari tanggal, bulan dan tahun, serta nama lengkap dan
tempat kedudukan Notaris;

2.Badan Akta,
memuat: identitas para penghadap dan/atau yg mewakili mereka, keterangan
kedudukan bertindak panghadap, isi akta yg merupakan kehendak dan keinginan
dari pihak yg berkepentingan, identitas tiap2 saksi pengenal;

3.Akhir atau penutup akta,


memuat: uraian ttg pembacaan akta, penandatanganan, tempat penandatanganan,
penerjemahan (jika ada), identitas tiap2 saksi akta, uraian tentang ada/tidaknya
perubahan yg terjadi dlm pembuatan akta (renvoi).
STRUKTUR
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
1. Awal akta atau kepala akta,
a. Judul
b. Nomor
c. jam, hari tanggal, bulan dan tahun,
d. nama lengkap dan tempat kedudukan Notaris (jika akta Otentik)

CONTOH:
PERJANJIAN KREDIT
Nomor: 01.-

Pada hari ini, Senin, tanggal 03-03-2020 (tiga Maret tahun dua ribu duapuluh).
Pukul 11.00 (sebelas Nol Nol) Waktu Indonesia Bagian Barat. ----------------------
Telah Hadir dihadapan saya, ----------------------------------------------------------------
---------- ----TERESA BRIANA, Sarjana Hukum, Magister Kenotariatan, -------------
Notaris di Kabupaten Bandung Barat, dengan dihadiri oleh saksi-saksi yang saya,
Notaris, kenal dan akan disebutkan pada bagian akhir akta ini: --------------
STRUKTUR
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN

2. Badan Akta,

a. identitas para penghadap dan/atau yg mewakili mereka,

b. keterangan kedudukan bertindak panghadap,

c. isi akta yg merupakan kehendak dan keinginan dari pihak yg berkepentingan,

d. identitas tiap2 saksi pengenal (jika ada);


STRUKTUR
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
CONTOH:

I.Tuan …………….., dilahirkan………….dst

-Selanjutnya dalam akta ini disebut NASABAH DEBITUR.


--------------------------------------------------------------------------------
II.Tuan …………….., Kepala Cabang P.T. Bank ABC, dilahirkan………….dst.

-Dalam hal ini bertindak dalam jabatannya tersebut di atas, berdasarkan Surat Kuasa Direksi tertanggal
……………. Nomor ……………….. yang dibuat dihadapan ANITA, Sarjana Hukum, Notaris di Jakarta Selatan,
yang salinannya diperlihatkan kepada saya, Notaris, juncto Surat Keputusan Pengangkatan tertanggal
………………. Nomor …………………, dari dan sebagai demikian sah mewakili Direksi untuk dan atas nama
Perseroan Terbatas PT. Bank ABC, berkedudukan di Jakarta Selatan, yang telah didirikan dan Anggaran
Dasarnya dimuat dalam Akta tertanggal ……………… Nomor ……….. yang dibuat dihadapan ANITA, Sarjana
Hukum, Notaris di Jakarta Selatan, dan telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak
Asasi Manusia Republik Indonesia demikian berdasarkan Surat Keputusan tertanggal ……………………..
Nomor…………, dan telah diumumkan dalam Berita Negara tertanggal ………………….. Nomor ……., dan
Tambahan Berita Negara Nomor …………………… ---------------------
-Selanjutnya dalam akta ini disebut BANK. -----------------------------------------------------------------------------
Para Penghadap tetap bertindak dalam kedudukannya tersebut di atas dikenal oleh saya, Notaris.
-----------
STRUKTUR
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
CONTOH:

Selanjutnya, Para Penghadap menerangkan terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut: ---------------------------------------------------
-Bahwa, Debitur untuk keperluan modal kerja Debitur telah mengajukan permohonan kepada Bank, untuk memperoleh
fasilitas kredit yang akan disebutkan di bawah ini; ---------------------------------------------------------------------------------------
-Bahwa, Bank bersedia untuk memberikan fasilitas kredit tersebut; ------------------------------------------------------------------
Berhubung dengan hal tersebut di atas, Bank dan Nasabah Debitur telah setuju untuk dan dengan ini membuat perjanjian
ini berikut semua perubahan-perubahan dan/atau penambahan-penambahannya dan/atau pembaharuan-
pembaharuannya dan/atau perpanjangan-perpanjangannya selanjutnya disebut: “Perjanjian Kredit” dengan syarat-syarat
dan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: --------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------- Pasal 1 --------------------------------------------------------------------------
1.Bank telah menyetujui untuk memberikan fasilitas kredit kepada Debitur dalam bentuk -------------------------sampai jumlah
setinggi-tingginya Rp………………………….,- (……….…………….,-). Jumlah mana termasuk bunga, bunga denda, denda, provisi dan
biaya-biaya;---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
2.Fasilitas kredit dalam bentuk ----------dalam jangka waktu tersebut hingga berakhirnya masa berlakunya Perjanjian Kredit
ini, kecuali bilamana Bank berpendapat bahwa fasilitas kredit yang diberikan Bank kepada Debitur berdasarkan Perjanjian
Kredit ini tidak dapat diberikan kembali oleh Bank, satu dan lain semata-mata menurut pertimbangan Bank;-
3.Bank berhak untuk menurunkan jumlah maksimum fasilitas kredit tersebut setiap waktu dan keputusan Bank mengenai
hal ini mengikat Debitur dan untuk penurunan tersebut Bank akan memberitahukan maksudnya secara tertulis terlebih
dahulu kepada Debitur.----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------------------------- Pasal 2 --------------------------------------------------------------------------
…………………….dst
-------------------------------------------------------------------------- Pasal 3 --------------------------------------------------------------------------
…………………….dst
-------------------------------------------------------------------------- Pasal 4 --------------------------------------------------------------------------
…………………….dst
STRUKTUR
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
3. Akhir atau penutup akta,
memuat: uraian ttg pembacaan akta, penandatanganan, tempat penandatanganan,
penerjemahan (jika ada), identitas tiap2 saksi akta, uraian tentang
ada/tidaknya perubahan yg terjadi dlm pembuatan akta (renvoi).

CONTOH:
-------------------------------- DEMIKIANLAH AKTA INI -----------------------------------
Dibuat dan diselesaikan di ……………….. pada hari dan tanggal tersebut pada bagian
awal akta ini, dengan dihadiri oleh: ----------------------------------------------
1. Tuan ……………………………
2. Tuan ……………………………
- Sebagai saksi-saksi; ----------------------------------------------------------------------
Selanjutnya, setelah saya, Notaris, membacakan dan menjelaskan isi akta ini
kepada Para Penghadap dan Saksi-saksi maka segera Para Penghadap, saksi-
saksi, dan saya, Notaris, menandatangani akta ini dan membubuhkan cap
jempol tangan kanan pada akta ini.
--------------------------------------------------------
Dibuat tanpa coretan, gantian, dan tambahan. ------------------------------------------
MATERI
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
Pada Perjanjian dikenal bagian-bagian yang terdiri atas:

1.Bagian Essentialia
Bagian perjanjian yg merupakan unsur yg harus ada pada perjanjian, yaitu para
pihak, kata sepakat, objek tertentu/dapat ditentukan, dan kausa yg halal.

2.Bagian Naturalia
Bagian dr perjanjian yg karena sifat perjanjian tertentu, yakni perjanjian bernama
dianggap ada tanpa perlu diperjanjikan scr khusus oleh para pihak krn telah
diatur dlm UU.

3.Bagian Accidentalia
Bagian dr perjanjian berupa ketentuan yg diperjanjikan scr khusus oleh para
pihak.
KLAUSULA - KLAUSULA
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN

1.Klausula-klausula tentang syarat-syarat penarikan kredit pertama kali


atau predisbursement clause. Klausula ini menyangkut:

 pembayaran provisi, premi asuransi kredit, asuransi barang


jaminan, dan biaya pengikatan jaminan;

 penyerahan barang jaminan, dokumen, dan pelaksanaan


pengikatan barang jaminan;

 pelaksanaan penutupan asuransi barang jaminan, asuransi kredit


dengan tujuan untuk meminimalisasi risiko yang terjadi di luar
kesalahan nasabah debitur ataupun kreditur.
KLAUSULA - KLAUSULA
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN

2.Klausula-klausula tentang maksimum kredit (amount clause).

3.Klausula-klausula tentang jangka waktu kredit.

4.Klausula-klausula tentang tujuan kredit dan bentuk kredit. Klausula ini penting
dalam beberapa hal, yaitu:

 klausula tujuan kredit diperlukan agar nasabah debitur mempergunakan


kreditnya sesuai dengan yang disepakati dan diperjanjikan sebelumnya.

 klausula bentuk kredit diperlukan sesuai dengan tujuan kreditnya.


Penentuan bentuk kredit yang tepat akan menciptakan tingkat efisiensi dari
pemberian kredit. Misalnya, kredit itu diberikan dalam bentuk investasi,
modal kerja, atau bentuk lainnya
KLAUSULA - KLAUSULA
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN

5. Klausula-klausula tentang bunga, kesepakatan biaya, dan denda


kelebihan tarik.
Klausula ini diatur secara tegas dalam perjanjian kredit dengan maksud
memberikan kepastian mengenai hak bank untuk membebankan
bunga, biaya-biaya, dan denda yang disepakati bersama.

5. Klausula tentang kuasa bank untuk melakukan pembebanan atas


rekening pinjaman nasabah debitur.

6. Klausula tentang representations and warranties, yaitu klausula yang


berisi pernyataan-pernyataan debitur atas fakta-fakta yang
menyangkut status hukum, keadaan keuangan, dan aset nasabah
debitur pada saat kredit direalisasi
KLAUSULA - KLAUSULA
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
7. Klausula tentang conditions precedent, yaitu klausula tentang syarat-syarat
tangguh yang harus dipenuhi terlebih dahulu oleh nasabah debitur sebelum
bank menyediakan kredit untuk digunakannya.

8. Klausula tentang agunan kredit (insurance clause). Klausula agunan kredit


bertujuan agar pihak nasabah debitur tidak melakukan penarikan atau
penggantian barang jaminan secara sepihak, tetapi harus ada kesepakatan
dengan pihak bank.

9. Klausula tentang berlakunya syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan


hubungan rekening koran bagi perjanjian kredit yang bersangkutan. Klausula
ini khusus bagi nasabah debitur yang fasilitas kreditnya ditata-usahakan
melalui rekening koran atau giro.

10. Klausula tentang affirmative covenant, yaitu klausula yang berisi janji-janji
nasabah debitur untuk melakukan hal-hal tertentu selama perjanjian kredit
berlaku
KLAUSULA - KLAUSULA
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN
11. Klausula tentang negative covenant, yaitu klausula yang berisi janji-
janji nasabah debitur untuk tidak melakukan hal-hal tertentu selama
perjanjian kredit berlaku.

12. Klausula tentang financial covenant, yaitu klausula yang berisi janji
debitur untuk menyampaikan laporan keuangan sesuai dengan yang
diminta oleh bank.

13. Klausula tentang event of default, yaitu klausula yang memberikan


hak secara sepihak kepada bank untuk mengakhiri kredit atas
peristiwa-peristiwa yang ditentukan oleh bank serta sekaligus
menagih pagu kredit tersisa.
KLAUSULA - KLAUSULA
PERJANJIAN KREDIT/AKAD PEMBIAYAAN

14. Klausula tentang hak-hak Bank untuk melakukan Pengawasan.

15. Klausula tentangpenyelesain sengketa/ arbitrase, yaitu klausula yang


berisi penyelesaian perselisihan di antara para pihak, baik arbitrase
nasional ataupun internasional. Atau Menggunakan Pilihan
Penyelesaian sengketa melalui Pengadilan Negeri atau Pengadilan
Agama untuk sengketa pembiayaan Syariah.

16. Klausula-klausula bunga rampai atau miscellaneous provisions, yaitu


klausula-klausula yang berisi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan
yang belum tertampung secara khusus di dalam klausula-klausula
yang ada.
TUGAS

ANALISIS PERJANJIAN KREDIT

Analisis harus mencakup:

1. Syarat sah Perjanjian (Sepakat, Cakap, Hal tertentu, Causa yang halal)

2. Unsur (Subjek, Objek, Tujuan, Jenis, Jangka Waktu, Jaminan/Agunan)

3. Pelaksanaan Prinsip Kehati-hatian dan Perbankan yang sehat

4. Keseimbangan dalam Perjanjian

5. Klasifikasikan klausul-klausul dalam Perjanjian Kredit


SEKIAN
DAN
TERIMA KASIH Anna

Yulianti 2020

Anda mungkin juga menyukai