Anda di halaman 1dari 11

INISIASI TUTON Ke-6

MODUL 8
OTONOMI DAERAH DAN PEMBANGUNAN
MANUSIA INDONESIA
Mata Kuliah : Perekonomian Indonesia
Program Studi : Ekonomi Pembangunan
FAKULTAS EKONOMI

Penulis : Ifah Masrifah, SE. MM


E-mail : masrifah18@yahoo.co.id
Penelaah : Dra. Hendrin Hariati Sawitri, M. Si
E-mail : hendrin@ecampus.ut.ac.id
LATAR BELAKANG OTONOMI
DAERAH
• Latar belakang otonomi daerah adalah adanya sentralisasi dalam
keuangan, seperti sentralisasi sistem perpajakan dengan alasan
efisiensi. Sentralisasi kebijakan tersebut tidak hanya dalam kebijakan
fiskal, namun juga pada hampir semua bidang, termasuk dalam
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah.
• Pertumbuhan ekonomi nasional relatif tinggi, namun pola
pertumbuhannya timpang. Ketimpangan tersebut berupa ketimpangan
antara kota dan desa, Jawa dan luar Jawa, serta antara Kawasan Timur
Indonesia (KTI) dan Kawasan Barat Indonesia (KBI).
• Propinsi-propinsi di pulau Jawa terkonsentrasi dalam satu kuadran yang
tingkat pertumbuhan dan pendapatannya tinggi (high growth, high income).
Ditemukan pula konsentrasi industri di propinsi-propinsi tersebut. Hal ini
terjadi karena (1) fasilitas prasarana yang lebih baik dan lengkap (2)
ketersediaan tenaga dan tingkat upah yang relatif rendah (3)sentralisasi
birokrasi dan sistem perijinan yang berlebihan di Jawa, khususnya Jakarta
(4) kebijakan perdagangan regional dan kebijakan sektoral yang bias di
Jawa.
DESENTRALISASI FISKAL DAN
PEMBANGUNAN DAERAH
• Kajian-kajian ilmiah menunjukkan pentingnya pemberian peran yang
lebih besar bagi daerah dalam melaksanakan pembangunan ekonomi di
daerahnya. Pendelegasian sebagian kewenangan pemerintah pusat kepada
propinsi dan kabupaten/kota dapat dilakukan tanpa mengganggu
kepentingan ekonomi nasional. Oleh karena itu Wuryanto (1996)
merekomendasikan reformasi kebijakan fiskal yang berlaku yang
diarahkan pada sistem desentralisasi fiskal, termasuk di dalamnya
merestrukturisasi pembagian kewenangan di antara pemerintah pusat,
propinsi dan kabupaten/kota dalam hal penerimaan dan pengeluarannya.
• Tiga misi utama dari kebijakan tersebut ialah :
1)meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan
rakyat.
2)menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber daya daerah.
3)memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk
berpartisipasi dalam proses pembangunan.
DESENTRALISASI FISKAL DAN
PEMBANGUNAN DAERAH
Lanjutan
• Beberapa masalah mendasar yang dihadapi pemerintah daerah yang
terkait dengan kurangnya sumber daya keuangan adalah: fiscal gap
kualitas pelayanan publik yang masih memprihatinkan, rendahnya
kualitas sarana dan prasarana, DAU dari pemerintah pusat yang tidak
mencukupi, dan belum diketahui potensi PAD yang mendekati kondisi
riil.
• Secara umum desentralisasi pemerintahan dan fiskal didorong oleh
desakan untuk menyediakan pelayanan-pelayanan pemerintah yang lebih
efisien dan aspiratif. Namun demikian dalam sistem perpajakan dan
pengelolaan sumber di daerah sebagian masih diatur dan ditangani di
pusat, sumber dana dari pusat tetap penting untuk mendukung berbagai
kegiatan di daerah. Masalah transfer ini merupakan salah satu isu yang
sangat penting dalam pelaksanaan desentralisasi di Asia.
DESENTRALISASI FISKAL DAN
PEMBANGUNAN DAERAH
Lanjutan
• Dari pelaksanaan desentralisasi selama ini, ada beberapa permasalahan
yang dihadapi oleh banyak pemerintah daerah. Permasalahan yang
paling banyak muncul adalah ketidakcukupan sumber daya keuangan
untuk menutup fiscal gab. Ada beberapa masalah mendasar yang
dihadapi pemerintah daerah yang terkait dengan kurangnya sumber daya
keuangan, yaitu :
a. Tingginya tingkat kebutuhan daerah (fiscal need) sementara penerimaan
daerah (fiscal capacity) tidak cukup untuk mebiayai kebutuhan daerah,
sehingga keadaan tersebut menimbulkan fiscal gab.
b. Kualitas pelayanan publik yang masih memprihatinkan
c. Rendahnya kualitas sarana dan prasarana seperti jalan, pasar dan
terminal
d. DAU dari pemerintah pusat yang tidak mencukupi.
e. Belum diketahui potensi PAD yang mendekati kondisi riil.
DESENTRALISASI FISKAL DAN
PEMBANGUNAN DAERAH
Lanjutan
• Salah satu masalah politik-ekonomi dalam penerapan desentralisasi
fiskal adalah kecenderungan makin lestarinya ekonomi biaya tinggi di
daerah. Salah satu penyebab terjadinya ekonomi biaya tinggi adalah
maraknya praktik-praktik politik uang (money pilitics) di daerah.
Ekonomi biaya tinggi juga terjadi karena biaya birokrasi daerah yang
ditunjang adanya peraturan daerah (Perda) yang berorientasi peningkatan
Pendapatan Asli Daerah (PAD).
• Kebijakan desentralisasi pemerintahan (otonomi daerah) pada
hakikatnya merupakan tuntutan kemandirian daerah untuk
menjalankanpembangunan dalam berbagai aspek. Aspek penting yang
akhir-akhir ini menjadi fokus dari tiap daerah adalah meningkatnya taraf
ekonomi masyarakat dan kemampuan keuangan daerah. Otonomi daerah
diyakini sebagai jalan terbaik dalam rangka mendorong pembangunan
daerah.
PEMBANGUNAN MANUSIA
INDONESIA
• Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas sumber
daya manusia adalah The Physical Quality of Life Index (PQLI)
dan Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan
Manusia (IPM). Indikator HDI ini digunakan di Indonesia. UNDP
menetapkan empat elemen utama dalam pembangunan manusia,
yaitu produktivitas (productivity), pemerataan (equity),
keberlanjutan (sustainability), dan pemberdayaan (empowerment).
• Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)
Indonesia tahun 1999 berada pada peringkat 105 dari 174 negara
yang disurveinya, dan ini merosot lagi pada peringkat 110 dari 173
negara pada tahun 2002. Sedangkan di tingkat ASEAN-6,
Indonesia menempati peringkat terendah.
PEMBANGUNAN MANUSIA INDONESIA
Lanjutan
• Rendahnya kualitas sumber daya manusia ini disebabkan oleh
anggaran negara yang rendah untuk meningkatkan kualitas
pendidikan dan kesehatan jika dibandingkan dengan jumlah
penduduk Indonesia yang sangat besar. Padahal pendidikan yang
buruk mengakibatkan masalah pengangguran. Di sisi lain jika
fasilitas kesehatan tidak memadai maka dapat diduga masyarakat
Indonesia sangat rentan dengan berbagai penyakit. Akibatnya
masyarakat tidak dapat berpartisipasi secara optimal dalam
pembangunan nasional.
Ukuran Yang Dapat Digunakan
Untuk Mengetahui Kualitas Manusia
• Ukuran-ukuran yang digunakan untuk mengetahui kualitas
manusia:
a.The Physical Quality of Life Index (PQLI), dikembangkan oleh
Cynthia Taft Morris.
b.Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan
Manusia, dikembangkan oleh UNDP dan menjadi acuan sebagai
indikator pembangunan manusia negara-negara di dunia. Empat
elemen utama yang menjadi penilaian dalam pembangunan
manusia versi UNDP ini adalah:
• Produktivitas (productivity).
• Pemerataan (equity).
• Keberlanjutan (sustainability).
• Pemberdayaan (empowerment).
MASALAH PEMBANGUNAN MANUSIA
INDONESIA
• Jumlah penduduk yang sedemikian besar diikuti dengan timbulnya
persoalan distribusi yang tidak merata.
• Persoalan ketidakmerataan pembangunan ini yang menyebabkan
terjadi berbagai konflik sosial. Pada akhirnya konflik sosial
membuat sebagian penduduk mengungsi ke wilayah KBI sehingga
ketimpangan distribusi makin mencolok.
• Pembangunan manusia Indonesia menghadapi masalah klasik yaitu
pendidikan dan kesehatan.