Anda di halaman 1dari 17

Journal Reading

The Risk Factor of Recurrence Stroke among Stroke and


Transient Ischemic Attack Patients
in Indonesia

Farah Maulida Marta


1907101030061

Pembimbing:
Dr. dr. Imran, M.Kes, Sp.S(K)
BACKGROUND

Stroke terjadinya gangguan fungsional otak fokal ataupun global


secara mendadak dan akut yang berlangsung lebih dari 24 jam akibat
gangguan aliran darah otak

Stroke iskemik terjadi karena adanya aterosklerosis atau sumbatan darah


di pembuluh darah yang menyebabkan penurunan aliran darah
Stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah pecah dan menyebabkan
terganggunya aliran pembuluh darah di otak dan menyebabkan kerusakan
pada otak

Menurut penelitian kesehatan Indonesia tahun 2018 (10,9%)


prevalensi stroke nasional telah mengalami peningkatan
dibandingkan pada tahun 2013 (7,0%).

Stroke Rekuren adalah salah satu komplikasi yang


paling sering terjadi setelah pasien keluar dari rumah
sakit
BACKGROUND
Stroke rekuren dapat terjadi dengan Risk factors of recurrent stroke are well known
efek yang lebih mematikan daripada
stroke primer dengan kerusakan otak
yang luas

25% dari pasien stroke setidaknya


pernah satu kali mengalami stroke
rekuren dimana 2-22% nya terjadi dalam
tahun pertama dan 10-53% pada 5 tahun
pertama setelah stroke primer

Faktor risiko
dominan pada
pasien stroke
rekuren di
Indonesia
Tujuan penelitian

Untuk mengidentifikasi faktor risiko yang dominan dari stroke rekuren pada pasien
stroke dan Transient Ischemic Attack (TIA) di Indonesia
Method

SAMPLE

274 pasien

AT NATIONAL BRAIN CENTER HOSPITAL JAKARTA


Measures



UMUR
JENIS KELAMIN
KUESTIONER
• KONTRASEPSI
• DIAGNOSIS
• HIPERTENSI
• PENYAKIT KARDIOVASKULAR
• ARITMIA


HIPERKOLESTEROLEMIA
OBESITAS
The stroke


MEROKOK
KONSUMSI ALKOHOL
self-efficacy scale • EFIKASI DIRI
• DIABETES MELLITUS

BHARTHEL
• AKTIFITAS
FISIK INDEX
NIHSS • NIHSS

National Institutes of Health Stroke Scale


STATISTIC ANALYZED

UNIVARIAT BIVARIAT MULTIFARIAT

Tes Independen Chi-Square Tes Regresi Binary


RESULT
Table Result of The Univariate Analysis
RESULT
Table Result of The Bivariate Analysis
Discussion

PENYAKIT KARDIOVASCULAR, (seperti atrial fibrilasi dan infark miokard) adalah faktor yang yang
dapat menyebabkan stroke.

HIPERCOLESTEROLEMIA dapat menyebabkan terjadinya penumpukan plaque pada pembuluh


darah diotak sehingga aliran darah tidak lancar.
Kadar kolesterol total dan Low Density Lipoprotein (LDL) yang meningkat berkaitan erat dengan
terjadinya aterosklerosis. Kolesterol LDL yang tinggi merupakan faktor risiko terjadinya stroke
iskemik. Kadar kolesterol LDL yang lebih dari 150 mg/dL meningkatkan risiko terjadinya sumbatan 
pembuluh darah otak. Menurut AHA/ASA(2006), mengatakan bahwa kejadian stroke meningkat
pada penderita dengan kadar kolesterol total >240 mg/dL. Setiap kenaikan kadar kolesterol total
38,7 mg/dL meningkatkan risiko stroke sebanyak 25%.

AKTIFITAS FISIK merupakan salah satu faktor risiko terjadinya stroke rekuren.
Aktivitas fisik yang kurang adalah salah satu faktor risiko utama penumpukan substansi lemak dan
kolesterol pada arteri yang mensuplai darah ke otak sehingga dapat menghambat aliran darah ke
otak.
Menurut penelitian di Thailand, pasien stroke dengan skor indeks barthel <60 mempunyai risiko
lebih tinggi mengalami stroke rekuren.
RESULT
Table Result of The Multivariat Analysis
Discussion

OBESITAS merupakan faktor risiko dominan stroke rekuren. Menurut penelitian, mekanisme yang
mendasari risiko stroke iskemik pada obesitas adalah indeks massa tubuh dengan kategori berlebih
dan obesitas berhubungan dengan meningkatnya tekanan darah, kadar kolesterol dan kadar gula
darah.

Seseorang yang memiliki berat badan yang berlebih membuat jantung bekerja semakin keras untuk
memompa darah ke seluruh tubuh yang akhirnya menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
Keadaan obesitas juga dapat meningkatkan serum trigliserida dan kadar kolesterol LDL dan
menurunkan kadar kolesterol HDL. Kolesterol LDL yang tinggi dalam darah membuat disfungsi dari
endotel sebagai proses awal pembentukan aterosklerosis yang disebabkan oleh deposit kolesterol
di pembuluh darah arteri.

Proses aterosklerosis yang terjadi di pembuluh darah otak menyebabkan penyumbatan yang


berhubungan dengan pembentukan emboli dan trombus sebagai patomekanisme dari stroke
iskemik. Penelitian telah menunjukkan hasil yang signifikan mengenai hubungan antara kadar
kolesterol dan kejadian maupun outcome pasien stroke iskemik. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa menurunkan kadar kolesterol memiliki efek yang baik terhadap fungsi fungsional dan
neurologis dan menurunkan mortalitas serta risiko kekambuhan stroke iskemik
conclusion

• Faktor risiko yang dominan pada stroke rekuren di Indonesia


adalah obesitas.
• Dikarenakan stroke rekuren menimbulkan dampak yang berat
maka diharapkan perawat dan petugas pelayanan kesehatan
lainnya bisa lebih fokus bukan hanya pada penanganan pasien
akut namun juga fokus pada mengontrol faktor risiko pada
pasien stroke rekuren.
THANKYOU
INDEKS ADL BARTHEL
Suatu instrumen pengkajian yang berfungsi mengukur tingkat kemandirian
fungsional terhadap kegitan sehari-hari dalam hal perawatan diri dan mobilitas.
Indeks barthel membantu tenaga medis untuk melakukan pengkajian dan
identifikasi dini tingkat kemandirian pasien stroke.
The stroke self-efficacy scale
Suatu alat ukur berbentuk kuesioner mengenai efikasi diri pada pasien stroke.
Efikasi diri adalah keyakinan diri dan kemampuan diri dalam melakukan suatu perilaku
dengan berhasil. Seseorang yang memiliki efikasi diri yang tinggi cendereung mempunyai
keyakinan dan kemampuan dalam mencapai keinginan sesuai dengan tujuan. Efikasi diri
merupakan faktor utama yang mempengaruhi perawatan diri penyakit kronis. Efikasi diri
merupakan faktor penting dalam melaksanakan perawatan diri, semakin tinggi efikasi diri
individu maka akan semakin baik perawatan dirinya.

Salah satu contoh the stroke self-efficacy scale yang diadaptasi dari jurnal yang berbeda

Sumber: Hubungan Efikasi Diri dengan Kemandirian Aktifitas Sehari-Hari pada Pasien
Stroke di RSUD Tugurejo Semarang dan RSUD K.R.M.T Wongsonegoro
National Institutes of Health Stroke Scale
Alat penilaian sistematis yang mengukur kuantitatif stroke yang terkait dengan defisit neurologik.
NIHSS tidak hanya digunakan untuk menilai derajat defisit neurologik saja, tetapi juga untuk
memfasilitasi komunikasi antara pasien dengan tenaga medik, mengevaluasi, menilai tingkat
keparahan, menentukan perawatan yang tepat, memprediksi hasil dari pasien stroke,
menentukan prognosis awal dan komplikasi serta intervensi yang diperlukan.
Pada saat ini NIHSS banyak digunakan secara rutin untuk menilai keparahan stroke pada
pusat-pusat pelayanan stroke.