Anda di halaman 1dari 58

Tutorial Klinik

F20–29
Skizofrenia, Skizotipal, dan
Gangguan Waham
Disusun oleh :
Prima Ufiyantama Afta Sakria
1913020022

Pembimbing :
dr. Iffah Qoimatun, Sp. KJ., M. Kes
F20–29
Skizofrenia, Skizotipal, dan
Gangguan Waham

F20 - Skizofrenia
• F20.0 Skizofrenia Paranoid
• F20.1 Skizofrenia Hebefrenik
• F20.2 Skizofrenia Katatonik
• F20.3 Skizofrenia Tak Terinci (Undifferentiated)
• F20.4 Depresi pasca skizofrenia
• F20.5 Skizofrenia residual
• F20.6 Skizofrenia simpleks
• F20.8 Skizofrenia lainnya
• F20.9 Skizofrenia YTT
Karakter kelima dapat digunakan
untuk mengklasifikasikan
perjalanan penyakit

.x0 Berkelanjutan
.x1 Episodik dengan kemunduran progresif
.x2 Episodik dengan kemunduran stabil
.x3 Episodik berulang
.x4 Remisi tak sempurna
.x5 Remisi sempurna
.x8 Lainnya
.x9 Periode pengamatan kurang dari satu tahun
F21 - Gangguan Skizotipal

F22 - Gangguan Waham Menetap


• F22.0Gangguan waham
• F22.8 Gangguan waham menetap lainnya
• F22.9 Gangguan waham menetap YTT

F23 - Gangguan Psikotik Akut dan Sementara


• F23.0Gangguan psikotik polimorfik akut tanpa gejala skizofrenia
• F23.1Gangguan psikotik polimorfik akut dengan gejala skizofrenia
• F23.2 Gangguan psikotik lir-skizofrenia akut
• F23.3Gangguan psikotik lir-skizofrenia akut
• F23.8Gangguan psikotik akut dan sementara lainnya
• F23.9Gangguan psikotik dan sementara YTT

Karakter kelima dapat digunakan untuk menetukan ada atau tidaknya penyerta stres
akut
.x0 Tanpa penyerta stress akut
.x1 Dengan penyerta stress akut
F24 - Gangguan Waham Induksi

F25 - Gangguan Skizoafektif


• F25.0Gangguan Skizoafektif tipe manik
• F25.1Gangguan Skizoafektif tipe depresif
• F25.2Gangguan Skizoafektif tipe campuran
• F25.8Gangguan Skizoafektif lainnya
• F25.9Gangguan Skizoafektif YTT

F28 - Gangguan Psikotik Non Organik Lainnya

F29 - Gangguan Psikotik Non Organik YTT


F20. Skizofrenia
Skizofrenia
Suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan
perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deterioriating) yang luas, serta
sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial
budaya.
Umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran
dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted).
Kesadaran yang jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual biasanya tetap
terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian
Perjalanan Penyakit Skizofrenia

01 Fase Prodromal
Tanda dan gejala berupa cemas, depresi, keluhan somatik, perubahan
perilaku dan timbulnya minat baru yang tidak lazim. Dapat berlangsung
beberapa bulan atau beberapa tahun

Fase Aktif
Diagnosis pada pasien gangguan skizofrenia dapat ditegakkan pada
fase aktif, biasanya terdapat waham, halusinasi, hendaya penilaian
02
realita, serta gangguan alam pikiran, perasaan dan perilaku

Fase Residual
03 Hilangnya beberapa gejala klinis skizofrenia, hanya tersisa beberapa gejala
sisa, misalnya berupa penarikan diri, hendaya fungsi peran, perilaku aneh,
hendaya perawatan diri, afek tumpul afek datar
Kriteria Diagnosis Skizofrenia
menurut PPDGJ III
1. Ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan
biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu
kurang tajam atau kurang jelas):
(a) - Thought echo
- Thought insertion or withdrawal
- Thought broadcasting
(b) - Delusion of control
- Delusion of influence
- Delusion of passivity
- Delusional perception
(c) Halusinasi auditorik
(d) Waham aneh yang menetap
Kriteria Diagnosis Skizofrenia
menurut PPDGJ III
2. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara
jelas:
a) Halusinasi menetap dari panca indera apa saja
b) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation), berakibat pada inkoherensi.
c) Perilaku katatonik, seperti gaduh gelisah (excitement), posturing,
fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;
d)Gejala-gejala "negatif“

3. Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama


kurun waktu satu bulan atau lebih.

4. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan dari beberapa aspek perilaku pribadi. Bermanifestasi
sebagai hilang minat, hidup tak bertujuan, dan penarikan diri secara
sosial.
Tipe Skizofrenia Menurut PPDGJ III
a. Skizofrenia Paranoid
b. Skizofrenia Hebefrenik
c. Skizofrenia Katatonik
d. Skizofrenia Tak Terinci
e. Depresif pasca Skizofrenia
f. Skizofrenia residual
g. Skizofrenia simplek
g. Skizofrenia lainnya
h. Skizofrenia yang tidak tergolongkan (YTT)
F20.0 Skizofrenia Paranoid
Kriteria Diagnosis

 Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofren


 Halusinasi/waham harus menonjol
 Halusinasi pendengaran (ancaman, perintah) verbal
maupun nonverbal, halusinasi penciuman, pengecapan
rasa/bersifat sexual, atau halusinasi visual.
 waham, berupa dikendalikan, dipengaruhi , passivity/ kejar
(paling khas waham kejar)
 Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan
serta gejala katatonik yang tidak nyata/tidak menonjol
F20.1 Skizofrenia Hebefrenik
Kriteria Diagnosis
 Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofren
 Diagnosis untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau
dewasa muda (onset usia 15-25 th)
 Ciri khas kepribadian pemalu dan senang menyendiri atau solitary
 Menegakkan diagnosis skizofrenia tipe hebefrenik ini perlu dilakukan
observasi selama 2-3 bln untuk melihat apakah gejala berikut ini bertahan
atau tidak:
 Perilaku tdk bertanggung jawab, solitary, menyendiri, hampa
tujuan dan hampa perasaan
 Afek dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate) sering
disertai giggling atau self satisfied, self absorbed smiling, lofty
manner, grimaces, mannerisme, pranks, reitrated phrases
 Disorganisasi dan rambling, serta inkoheren
 Terdapat gangguan afektif, dorongan kehendak dan gangguan proses pikir
yang menonjol. Halusinasi dan waham tidak menonjol.
F20.2 Skizofrenia Katatonik
Kriteria Diagnosis

 Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofren


 terdapat 1/ > gejala2 spt: stupor/mutisme, gaduh
gelisah, posturing, negativisme, rigiditas, waxy
flexibilitas / command outomatisme
 apabila pasien tidak komunikatif dan terdapat
manifestasi perilaku katatonik maka untuk
sementara penegakan diagnosis harus ditunda
sampai ada bukti katatonik yang bukan
dicetuskan o/ penyakit otak, gg metabolik,
alkohol, atau obat- obatan
F20.3 Skizofrenia Tak Terinci
Kriteria Diagnosis

 Memenuhi kriteria umum diagnosis


skizofrenia
 Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis
skizofrenia paranoid, hebefrenik, katatonik,
residual.
 Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia
residual atau depresi pasca-skizofrenia
F20.4 Depresi Pasca Skizofrenia
Kriteria Diagnosis

Diagnosis ditegakkan apabila:


 Skizofrenia sudah berlangsung 1 tahun
 Gejala skizofrenia masih ada tapi tidak
mendominasi
 Terdapat gejala depresif yang menonjol dan
mengganggu, memenuhi episode depresif
dan berlangsung minimal 2 minggu
 Apabila pasien tdk lagi menunjukkan gejala
skizofren, diagnosis menjadi episode depresif
F20.5 Skizofrenia Residual
Kriteria Diagnosis

Persyaratan ini harus dipenuhi semua:


 Gejala negatif menonjol
 Ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lalu
yang memenuhi kriteria skizofren
 Paling sedikit melampaui kurun waktu 1 tahun dimana
intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham
dan halusinasi sangat berkurang dan telah menimbulkan
sindrom negatif
 Tidak terdapat dimensia, penyakit otak organik, atau
depresi kronis atau institusionalisasi.
F20.5 Skizofrenia Simplek
Kriteria Diagnosis

 Diagnosis skizofren simplek sulit dibuat, tergantung pd


pemantapan perkembangan yg perlahan dan progresif
dari :
 Gejala negatif yg khas dr skizofren residual tanpa
didahului riwayat halusinasi, waham, atau
manifestasi lain dari episode psikotik
 Kurang nyata gejala psikotiknya jika
dibandingkan dengan skizofrenia tipe lain
F20.8 Skizofrenia Lainnya
F20.9 Skizofrenia YTT
PENATALAKSANAAN SKIZOFRENIA

A. FASE AKUT

• Obat Antipsikotika

Farmakoterapi • Dimulai dari dosis anjuran dinaikkan perlahan secara bertahap dalam
waktu 1 – 3 minggu sampai dosis optimal yang dapat mengendalikan
gejala.

• Memberi ketenangan kepada pasien atau mengurangi keterjagaan melalui


Psikoedukasi komunikasi yang baik, memberikan dukungan atau harapan, menyediakan
lingkungan yg nyaman, toleran perlu dilakukan.

Terapi Lain • ECT (terapi kejang listrik) dapat dilakukan pada Skizofrenia katatonik dan
Skizofrenia refrakter.
PENATALAKSANAAN SKIZOFRENIA

B. FASE STABILISASI

• Obat Antipsikotika
• Setelah diperoleh dosis optimal, dosis tersebut dipertahankan
Farmakoterapi selama lebih kurang 8 – 10 minggu sebelum masuk ke tahap
rumatan. Pada fase ini dapat juga diberikan obat anti psikotika
jangka panjang (long acting injectable), setiap 2-4 minggu

• Mengajak pasien untuk mengenali gejala-gejala, melatih cara


Psikoedukasi mengelola gejala, merawat diri, mengembangkan kepatuhan
menjalani pengobatan
PENATALAKSANAAN SKIZOFRENIA

C. FASE RUMATAN

• Obat Antipsikotika
• Dosis mulai diturunkan secara bertahap
Farmakoterapi sampai diperoleh dosis minimal yang masih
mampu mencegah kekambuhan.

• Modalitas rehabilitasi spesifik, misalnya


Psikoedukasi remediasi kognitif, pelatihan keterampilan
sosial dan terapi vokasional
Obat Antipsikotik Injeksi

• 10 mg/injeksi, IM, dapat

Olanzapine diulang setiap 2 jam


• Dosis maksimum
30mg/hari.
• 5mg/injeksi, IM, dapat

Haloperidol diulang setiap 30 menit


• Dosis maksimum
20mg/hari.

• 10mg/injeksi, IV/IM,
Diazepam • Dosis maksimum
30mg/hari
F21. Gangguan Skizotipal
Gangguan Skizotipal
Bisa menjadi sangat cemas dalam
Keeksentrikan dalam situasi sosial, bahkan saat sedang Terlibat dalam “pikiran
berinteraksi dengan orang yang magis”, seperti keyakinan
berpikir dan
dikenalnya bahwa mereka memiliki
berperilaku tanpa ciri
indera keenam.
psikotik yang jelas.
Cenderung menarik diri secara
sosial dan menjaga jarak

Mengembangkan ideas of Penampilan berantakan,


menunjukkan sikap dan Tidak termasuk pada perilaku
reference yang berkaitan dengan budaya
perilaku yang tidak umum
atau ritual agama seperti
Pembicaraan tidak jelas Wajah hanya menunjukkan voodoo
atau abstrak sedikit emosi
F21. Gangguan Skizotipal
Kriteria Diagnosis
A. Rubrik diagnostik ini tidak di anjurkan untuk digunakan karena
tidak ada batas secara tegas dengan skizofrenisa simpleks atau
gangguan kepribadian skizoid atau paranoid.
B. Bila istilah ini digunakan, tiga atau empat gejala khas harus ada,
secara terus menerus atau secara episodik sedikitnya 2 tahun:
(1) Afek yang tidak wajar atau menyempit
(2) Perilaku atau penampilan yang aneh, eksentrik atau ganjil
(3) Hubungan sosial yang buruk, cenderung menarik diri
(4) Kepercayaan yang aneh atau pikiran magis yang mempengaruhi
perilaku dan tidak serasi dengan norma setempat
(5) Kecurigaan atau ide ide paranoid
(6) Pikiran obsesif berulang ulang yang tida terkendali, sering dengan isi
bersift dysmorphophobyc, seksual, atau agresif
F21. Gangguan Skizotipal
Kriteria Diagnosis
7) Persepsi pancaindera yang tidak lazim termasuk mengenai tubuh atau ilusi
ilusi lain, depersonalisasi atau derealisasi
(8) Pikiran bersifat samar sama, berputar putar, penuh kiasan, sangat terinci
dan ruwet, atau stereotipik, bermanifestasi dalam pembicaraan yang aneh
(9) Sewaktu waktu ada episode menyerupai keadaan psikotik yang bersifat
sementara dengan ilusi, halusinasi auditorik atau lainnya yang bertubi-
tubi, gagasan mirip waham, biasanya terjadi tanpa provokasi dari luar
C. Tidak pernah memenuhi kriteria skizofrenia
D. Suatu riwayat skizofrenia pada salah seorang anggota keluarga terdekat
memberikan bobot tambahan untuk diagnois ini.
F22
Gangguan Waham Menetap
Definisi
Serangkaian gangguan dengan waham-
waham yang berlangsung lama, sebagai satu
satunya gejala mencolok dan tidak dapat
digolongkan pada gangguan mental organik,
skizofrenik atau gangguan afektif
F22.0 Gangguan Waham
Kriteria Diagnosis

A. Waham merupakan satu satunya ciri khas klinis atau gejala paling
mencolok, baik tunggal atau gabungan, sedikitnya 3 bulan dan harus
bersifat khas pribadi personal bukan budaya setempat
B. Gejala depresif atau episode depresif mungin terjadi, dengan syarat
waham tersebut menetap pada saat saat tidak terdapat gangguan afektif
C. Tidak boleh ada bukti tentang penyakit otak
D. Tidak boleh ada halusinasi auditorik atau hanya kadang kadang
E. Tidak ada riwayat gejala skizofrenia (waham dikendalikan, siar pikiran,
penumpulan afek, dsb)

Diagnosis banding: gangguan kepribadian paranoid (F60.0), gangguan psikotik


akut lainnya dengan predominan waham (F23.3), skizofrenia paranoid (F20.0)
Tipe Gangguan Waham
Tipe erotomanik : bahwa orang lain biasanya dengan status yang lebih tinggi mencintai orang
tersebut.

Tipe kebesaran : waham peningkatan kemampuan,kekuatan,pengetahuan,identitas,atau


hubungan khusus dengan dewa atau orang terkenal.

Tipe cemburu : waham bahwa pasangan seksual pasien tidak setia.

Tipe Kejar : waham bahwa seseorang (atau seseorang yang dekat dengannya) diperlakukan
secara dengki.

Tipe somatik : waham bahwa pasien memiliki suatu cacat fisik atau kondisi medis umum.

Tipe campuran : karakteristik waham salah satu atau lebih tipe diatas tanpa adanya penonjolan
tema.

Tipe yang tidak ditentukan seperti pada : Sindroma Capgras : waham bahwa orang yang akrab
dengan pasien telah digantikan oleh penipu yang identik.
Penatalaksanaan

PSIKOTERAPI MEDIKAMENTOSA

Terapi yang efektif untuk gangguan waham Jika pasien mengalami agitasi sebaiknya mendapatkan
menetap adalah psikoterapi individual yang antipsikotik lewat injeksi intramuskular
berorientasi insight, suportif, kognitif, dan
behavioral serta Cognitive behavioral Farmakoterapi sebaiknya dimulai dari dosis kecil
(misalnya haloperidol 2 mg/24 jam atau risperidone 2
therapy (CBT)
mg/24 jam) kemudian dititrasi pelan. Bila dalam waktu
6 minggu pasien tidak menunjukkan respons, maka
Terapis hendaknya tidak menyetujui atau sebaiknya diganti dengan antipsikotik kelas lainnya.
menantang waham pasien
F23
Gangguan Psikotik Akut dan Sementara
Gangguan Psikotik Akut dan Sementara

Kriteria Diagnosis
 Menggunakan urutan diagnosis yang mencerminkan urutan
prioritas yang diberikan untuk ciri-ciri utama terpilih dari
gangguan ini. Urutannya adalah:
• Onset akut (dalam 2 minggu atau kurang =jangka waktu
gejala psikotik menjadi nyata dan mengganggu sedikitnya
beberapa aspek kehidupan sehari-hari) sebagai ciri khas
yang menentukan seluruh kelompok
• Adanya sindrom khas polimorfik atau skizofrenik khas
• Adanya stress akut yang berkaitan (bisa ada atau tidak)
• Tanpa dietahui berapa lama gangguan akan berlangsung
 Tidak ada gangguan manik, atau episode depresif walaupun
gejala emosional dan afektif dapat menonjol
 Tidak ada penyebab organik.
F23.0 Gangguan Psikotik Polimorfik Akut tanpa
Gejala Skizofrenia
Kriteria Diagnosis

A. Onset harus akut (dari suatu keadaan non psikotik sampai


keadaan psikotik yang jelas dalam kurun waktu 2 minggu atau
kurang)
B. Harus ada beberapa jenis halusinasi atau waham yang berubah
dalma jenis dan insensitasnya dari hari ke hari atau dalam hari
yang sama
C. Harus ada keadaan emosional yang sama beranekaragamnya
D. Walaupun gejalanya beraneka ragam, tidak satupun memenuhi
kriteria skizofrenia, atau episode manik, atau episode depresif
F23.1 Gangguan Psikotik Polimorfik Akut dengan
Gejala Skizofrenia
Kriteria Diagnosis

A. Memenuhi kriteria (A), (B), (C) pada F23.0


B. Disertai gejala yang memenuhi kriteria untuk diagnostik
skizofrenia (F20.-) yang harus sudah ada untuk sebagian besar
waktu sejak munculnya gambaran klinis psikotik itu secara jelas
C. Apabila gejala gejala skizofrenia meneap untuk lebih dari 1 bulan,
diagnosis berubah menjadi skizofrenia (F20.-)
F23.2 Gangguan Psikotik Lir-Skizofrenia Akut

Kriteria Diagnosis

A. Untuk diagnosis pasti harus memenuhi:


1) Onset 2 minggu atau kurang dari gejala non psikotik ke gejala
Psikotik
2) Memenuhi kriteria skizofrenia sudah ada dalam sebagian besar
waktu sejak berkembang gejala psikotik
3) Kriteria utuk psikotik polimorfik tidak terpenuhi
B. Apabila gejala skizofrenia menetap >1 bulan, diagnosis diganti menjadi
skizofrenia
F23.3 Gangguan Psikotik Akut Lainnya dengan
Predominan Waham
Kriteria Diagnosis

A. Untuk diagnosis pasti harus memenuhi:


1) Onset 2 minggu atau kurang dari gejala non psikotik ke
gejala Psikotik
2) Waham dan halusinasi harus sudah ada dalam sebagian
besar waktu sejak berkembang gejala psikotik
3) Kriteria utuk skizofrenia atau psikotik polimorfik akut tidak
terpenuhi
B. Kalau waham menetap >3 bulan, diagnosis diganti menjadi gangguan
waham menetap. Apabila hanya halusinasi yang menetap >3 bulan,
diagnosis menjadi gangguan Psikotik non Organik Lainnya (F28)
F23.8 Gangguan Psikotik Akut dan Sementara
Lainnya
Kriteria Diagnosis

A. Gangguan Psikotik Akut Lain yang tidak dapat di klasifikasikan ke


dalam kategori manapun dalam F23.
F23.9
Gangguan Psikotik Akut dan Sementara YTT
F24
Gangguan Waham Induksi
F24 Gangguan Waham Induksi
Kriteria Diagnosis
A. Diagnosis gangguan waham karena induksi harus dibuat hanya jika :
1) dua orang atau lebih mengalami waham atau sistem waham
yang sama, dan saling mendukung dalam keyakinan waham itu
2) mereka mempunyai hubungan dekat yang tak lazim dalam
bentuk seperti diuraikan diatas
3) ada bukti dalam kaitan waktu atau konteks lainnya bahwa
waham tersebut diinduksi pada anggota yang pasif dari suatu
pasangan atau kelompok melalui kontak dengan anggota yang
aktif.
B. Jika ada alasan untuk percaya bahwa dua orang yang tinggal bersama
mempunyai gangguan psikotik yang terpisah maka tidak satupun diantaranya
boleh dimasukkan dalam kode diagnosis ini, walaupu beberapa diantara
waham-waham itu diyakini bersama.
F25
Gangguan Skizoafektif
Gangguan Skizoafektif

Definisi

Gangguan yang bersifat episodik dengan gejala


skizofrenia dan afektif yang sama menonjol dan secara
bersamaan ada dalam satu episode
F25 Gangguan Skizoafektif
A. Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala defrnitif
adanya skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat
yang bersamaan (simultaneously), dalam satu episode penyakit yang sama,
dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak
memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif.
B. Tidak dapat digunakan untuk pasien yarig menampilkan gejala skizofrenia
dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyakit yang berbeda.
C. Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah
rnengalami suatu episode psikotik, diberi kode diaglosis F20.4 (Depresi
Fasca-skizofrenia) Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif
berulang, baik berjenis manik (F25.0) maupun depresif (F25.1) atau
campuran dari keduanya (F25.2) Pasien lain mengalami satu atau dua
episode skizoafektif terselip di antara episode manik atau depresif (F30-
F33).
F25.0 Gangguan Skizoafektif tipe Manik
Kriteria Diagnosis

A. Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe


manik yang tunggal maupun untuk gangguan berulang
dengan sebagaian besar episode skizoafektif tipe manik.
B. Afek harus meningkat secara menonjol atau ada
peningkatan afek yang tak begitu menonjol dikombinasi
dengan iritabilitas atau kegelisahan yang memuncak.
C. Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu,
atau lebih baik lagi dua, gejala skizofrenia yang khas
(sebagaimana ditetapkan untuk skizofrenia, F20.- pedoman
diagrrostik (a) sampai dengan (d))
F25.1 Gangguan Skizoafektif tipe
Depresif
Kriteria Diagnosis
A. Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe
Depresif yang tunggal maupun untuk gangguan berulang
dengan sebagaian besar episode skizoafektif tipe Depresif
B. Afek depresif harus menonjol disertai oleh sedikitnya dua
gejala khas, baik depresif maupun kelajnan perilaku terkait
seperti tercantum dalam uraian untuk episode depresif (F32);
C. Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu,
atau lebih baik lagi dua, gejala skizofrenia yang khas
(sebagaimana ditetapkan untuk skizofrenia, F20.- pedoman
diagnostik (a) sampai dengan (d))
F25.2 Gangguan Skizoafektif tipe
Campuran
Kriteria Diagnosis

A. gangguan dengan gejala-gejala skizofrenia (F20.-)


berada secara bersama-sama dengan gejala-gejala
afektif bipolar campuran (F31.6).
F25.8
Gangguan Skizoafektif Lainnya
F25.9
Gangguan Skizoafektif YTT
F28 Gangguan Psikotik Non-Organik Lainnya

Gangguan psikotik yang tidak memenuhi kriteria untuk


skizofrenia (F20.-) atau untuk gangguan afektif yang bertipe
psikotik (FB0- F39), dan gangguan-gangguan psikotik yang
tidak memenuhi kriteria gejala untuk gangguan waham
menetap (F22).
F29 Gangguan Psikotik Non-Organik YTT
TERIMA KASIH