Anda di halaman 1dari 54

‫بسم هللا الرمحن الرحمي‬

TEORI KOMUNIKASI DAN


METODOLOGI PENELITIAN
KUALITATIF
Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D.
GURU BESAR
UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG
BEBERAPA ISU KRUSIAL
• Seorang peneliti menggunakan istilah komunikator dan
komunikan dalam penelitiannya berdasarkan teori interpretif
(fenomenologis/interaksi simbolik/kritis).
• Seorang peneliti menggunakan teori interaksi simbolik dan
menggunakan statistik inferensial dalam penelitiannya.
• Seorang penguji mempertanyakan variabel bebas dan
variabel terikat dalam penelitian kualitatifnya.
• Seorang penguji keberatan atas kuantifikasi perasaan orang-
orang oleh peneliti yang diujinya.
Model Komunikasi Antarbudaya
(Porter and Samovar, 1982:33)
CULTURE A CULTURE B

CULTURE C
Model Komunikasi Antarbudaya
(Gudykunst and Kim, 1992:33)
ENVIRONMENTAL
INFLUENC ES
PERSON A PERSON B
Cultural Me ssage/Fe edbac k Cultural
Socioc ultural Sociocultural
Psychocultural Psychocultural

E D
D E
Influe nc e s Influenc e s
Influe nc e s Influenc e s
Influe nc e s Me ssage/Fe edbac k Influenc e s

ENVIRONMENTAL
E= ENCODING INFLUENC ES D= DECODING
BERERAPA MACAM SUBKULTUR

• Muslim,Kristen, Hindu, Budha


• Pria, Wanita
• Jawa, Sunda, Batak, Minangkabau, dsb.
• Dokter, Insinyur, Pebisnis, Pengacara,
Birokrat, Militer, Ilmuwan, dsb.
• Ilmuwan positivis, Ilmuwan
interpretivis, Ilmuwan kritis.
BUDAYA PENYEMBUHAN PENYAKIT

• Sistem Biomedis
• Sistem Personalistik
• Sistem Naturalistik
KARAKTERISTIK
SISTEM BIOMEDIS

• Penyakit adalah akibat dari abnormalitas


fungsi atau struktur tubuh
• Penyakit disebabkan oleh virus atau
bakteri, kecelakaan, dan usia tua
• Penyembuhan: Pembedahan dan
pengobatan modern
KARAKTERISTIK
SISTEM PERSONALISTIK
• Penyakit disebabkan oleh intervensi Zat
supranatural (Tuhan, roh jahat, tukang
santet, dsb.)
• Penyembuhannya menuntut hubungan
positif dengan Tuhan, dewa, roh nenek
moyang (melalui doa, jimat, dsb.)
KARAKTERISTIK
SISTEM NATURALISTIK

• Penyakit adalah akibat ketidakseimbangan


alam, antara unsur dingin dan unsur panas
dalam tubuh (Yin dan Yang)
• Penyembuhan menuntut perbaikan atas
keseimbangan antara kedua unsur dalam
tubuh tersebut (melalui tusuk jarum, jamu,
dsb.)
Gambar apa ini?
TES PERSEPSI
Ada berapa segi-empat sama sisi?
Huruf B atau Angka 13?

B
12 B 14
A B C
KEKELIRUAN PERSEPSI
(Solomon Asch)
• Cerdas • Cerdas
• Terampil • Terampil
• Rajin • Rajin
• Hangat • Dingin
• Teguh • Teguh
• Praktis • Praktis
• Waspada • Waspada
Baca kalimat di bawah ini!

Pak Deddy
is going to
to Jakarta
this afternoon
PERCEPTION TEST
Please draw two separate structures Please draw 4 straight lines based on the
based on two sets of dots ( 3 dots and 4 nine dots below without lifting your pen,
dots) below with each dot passed only once
MANUSIA

NOUMENA FENOMENA
Pandangan Rube Goldberg tentang determinisme

Sumber: Babbie, 1982. hlm. 37


PENDEKATAN
OBJEKTIF/SAINTIFIK/MEKANISTIK

• REALITAS DIANGGAP TUNGGAL, SERAGAM, NYATA, EKSTERNAL, STATIS, DAN


DIATUR OLEH HUKUM-HUKUM YANG UNIVERSAL
• MANUSIA DIANGGAP PASIF (SEBAGAI OBJEK)
• PERILAKU MANUSIA DIKONTROL OLEH LINGKUNGAN
• PERILAKU MANUSIA DAPAT DIRAMALKAN (HUBUNGAN SEBAB-AKIBAT)
• PENELITI BERSIFAT OTONOM, BERJARAK DARI SUBJEK PENELITIAN, PENELITIAN
BERJANGKA-PENDEK
• SAMPEL BESAR, MENGUJI TEORI, GENERALISASI
• METODOLOGI EMPIRIS (EKSPERIMENTAL/KORELASIONAL/SURVEI)
• ANALISIS BERSIFAT DEDUKTIF; DILAKUKAN SETELAH DATA TERKUMPUL,
LAZIMNYA MENGGUNAKAN STATISTIK
• KRITERIA PENELITIAN: OBJEKTIVITAS, RELIABILITAS, DAN VALIDITAS
(MENEKANKAN KESEPAKATAN PARA PENELITI, KUANTIFIKASI, DAN REPLIKASI
PENELITIAN)
• PENELITIAN DIANGAP BEBAS-NILAI: ETIKA DAN PILIHAN MORAL PENELITI TIDAK
BOLEH MENCAMPURI PROSES PENELITIAN
PENDEKATAN SUBJEKTIF/INTERPRETIF

• REALITAS BERSIFAT GANDA, RUMIT, SEMU, DINAMIS, DIKONSTRUKSIKAN,


DINEGOSIASIKAN
• MANUSIA DIANGGAP AKTIF, KREATIF, BERKEMAUAN BEBAS
• PERILAKU MANUSIA DIKENDALIKAN OLEH INDIVIDU (TIDAK SEPENUHNYA
DIKONTROL OLEH LINGKUNGAN)
• PERILAKU MANUSIA TIDAK (SEPENUHNYA) DAPAT DIRAMALKAN
• SEMUA ENTITAS SECARA SIMULTAN SALING MEMPENGARUHI, TIDAK MUNGKIN
MEMBEDAKAN SEBAB DARI AKIBAT
• HUBUNGAN ANTARA PENELITI DAN SUBJEK PENELITIAN BERSIFAT AKRAB,
INTERAKTIF TIMBAL BALIK, BERJANGKA-LAMA
• MENELITI HAL-HAL KHUSUS, PERILAKU TERSEMBUNYI, PERILAKU YANG PUNYA
MAKNA HISTORIS, SAMPEL KECIL/PURPOSIF
• ANALISIS BERSIFAT INDUKTIF, MENCARI MODEL/POLA/TEMA
(MENGEMBANGKAN HIPOTESIS YANG TERIKAT RUANG DAN WAKTU)
• METODOLOGI HISTORIS/ FENOMENOLOGIS/ INTERAKSIONAL/KRITIS
• KRITERIA PENELITIAN: OTENTISITAS
• NILAI, ETIKA, DAN PILIHAN MORAL PENELITI MELEKAT DALAM PROSES
PENELITIAN
{
 KERANGKA
KONSEPTUAL
 PERANGKAT
PERSPEK
TIF ASUMSI
 PERANGKATNILAI
 PERANGKAT
GAGASAN

MEMPENGARUHI
PERSEPSI KITA

MEMPENGARUHI
TINDAKAN DALAM SITUASI
Cha ron, 1998:8
{
PERSPEKTIF
 KERANGKA TEORI
atau  KERANGKA
PARADIGMA KONSEPTUAL
atau  MODEL KOMUNIKASI
METATEORI

MEMPENG ARUHI
METO DE PENELITIAN

MEMPENG ARUHI
TEKN IK-TEKNIK PENELITIAN

HASIL PENELITIAN
RENTANG TEORI SOSIAL
OBJEKTIF

BEHAVIORISME (TEORI S-R)


TEORI BELAJAR SOSIAL
TEORI

TEORI SISTEM/
STRUKTURAL
TEORI TINDAKAN SOSIAL
(INTERAKSI SIMBOLIK)
SUBJEKTIF
TEORI
FENOMENOLOGI
PRINSIP METODOLOGIS
• The Postulate of Logical Consistency

• The Postulate of Subjective


Interpretation

• The Postulate of Adequacy


The Postulate of Logical
Consistency

The objective validity of the


scientist's constructs are
guaranteed and are distinguished
from the constructs of everyday
life
The postulate of Subjective
Interpretation

The scientist can refer all kinds


of human action or their result
to the subjective meaning such
action or result of an action had
for the actor
The postulate of Adequacy
The constructs created by the researcher
should be understandable by the individual
social actor and his/her fellows.
Compliance with this postulate ensures
that the scientific constructs are consistent
with the constructs of common-sense
experience of the social world.
PERBANDINGAN SALAH-KAPRAH ANTARA PENELITIAN
KUANTITATIF DAN PENELITIAN KUALITATIF (BAVELAS, 1995:51)

• Angka-angka • Tanpa angka-angka


• Parametrik • Nonparametrik
• Statistik • Tanpa statistik
• Empiris • Tidak empiris
• Objektif • Subjektif
• Deduktif • Induktif
• Pengujian Hipotesis • Penjelajahan (Exploratory)
• Eksperimental • Noneksperimental
• Laboratorium • Dunia nyata
• Artifisial • Alamiah
• Dapat digeneralisasikan • Tidak dapat digeneralisasikan
The Iceberg of Culture

Be ha vio r
(Obse rva ble )
a p p e a ra nc e ha b its

la ng ua g e Dre ss
(May or may not
be obvious) c usto m s b e lie fs tra d itio ns

Be lie fs
no rm s e xp e c ta tion p e rc e p tio n
tim e orie nta tion sp a c e orie nta tion
le a rning style s p e rso na lity style s
rule s ro le s va lue s
a ssum p tio ns
tho ug ht p ro c e sse s
(Usua lly o ut o f o ur o wn a nd o th’s a wa re ne ss)
BUDAYA PERUSAHAAN
DEFINISI BUDAYA:

PEMOGRAMAN KOLEKTIF ATAS PIKIRAN YANG MEMBEDAKANANGGOTA-ANGGOTA


SUATU KATEGOREI ORANG DARI KATEGORI LAINNYA’ (GEERT HOFSTEDE, 1991)

UNSUR-UNSUR BUDAYA:

• PANDANGAN DAN TUJUAN HIDUP


• KONSEP DIRI
• NORMA DAN ATURAN
• BAHASA (VERBAL DAN NONVERBAL)
• KONSEP WAKTU
• SEJARAH
• MITOLOGI
• SENI
• LEMBAGA SOSIAL
• ARTEFAK
• DLL.
DUA PENDEKATAN TERHADAP BUDAYA PERUSAHAAN

PENDEKATAN OBJEKTIF/ PENDEKATAN SUBJEKTIF/


SAINTIFIK/MEKANISTIK INTERPRETIF

1. Ma nusia (a ng g o ta p e rusa ha a n) 1. Ma nusia (a ng g o ta p e rusa ha a n)


d ia ng g a p p a sif (se b a g a i o b je k) d ia ng g a p a ktif (se b a g a i sub je k)
2. Pe rila ku m a nusia d iko ntro l o le h 2. Pe rila ku m a nusia td k. Se p e nuhnya
ling kung a n d p t. d ikontro l o le h ling kung a n
3. Pe rila ku m a nusia d a p a t 3. Pe rila ku m a nusia td k. Se p e nuhnya
d ira m a lka n ka re na p e ng ko nd isia n d a p a t d ira m a lka n
ling kung a n 4. Kom unika si d i d a la m o rg a nisa si
4. Kom unika si d i d a la m o rg a nisa si d ia ng g a p se b a g a i tra nsa ksi tim b a l
d ia ng g a p se b a g a i p ro se s se a ra h b a lik a ta u p e ng a ruh
5. Ma kna p e sa n kom unika si m e m p e ng a ruhi
d ia sum sika n tung g a l/se ra g a m 5. Ma kna p e sa n kom unika si
6. Me to d o log i e m p iris/ d ine g o sia sika n
e ksp e rim e nta l/surve y 6. Me to d o log i historis/
fe no m e no log is/inte ra ksio na l/ kritis
Model Aristoteles

PEMBICARA PESAN PENDENGAR

setting
MODEL SCHRAMM

Message

Decoder
Encoder
Interpreter
Interpreter
Encoder
Decoder

Message
H U B U N G A N A N TA R A
G A YA K E P E M IM P IN A N D A N
P R O D U K TIV ITA S P E G A W A I

OTORITER DEMOKRATIS
PRODUKTIF
29 34
TIDAK 43 22
PRODUKTIF
KETERBATASAN VARIABEL MENURUT
HERBERT BLUMER
• Analisis variabel ala ilmu alam tidak layak untuk menelaah perilaku
manusia meskipun mungkin memadai bagi perilaku hewan.
• Analisis variabel mengabaikan proses yang mengantarai (intervening
process) antara variabel bebas sebagai awal dan variabel terikat sebagai
akhir proses tersebut.
• Analisis variabel mengabaikan bahwa manusia bertindak bukan hanya
karena faktor eksternal atau sebab pada masa lalu, tetapi juga karena
mereka memiliki tujuan atau kepentingan (berorientasi ke masa depan
atau disebabkan oleh faktor yang akan datang).
• Keterbatasan mengenai apa yang harus jadi variabel, dari yang konkret
(misalnya jenis kelamin) hingga depresi dan kohesi sosial, dari tempat
tinggal hingga kebencian.
KETERBATASAN VARIABEL
• Tidak ada panduan atau aturan untuk memilih variabel. Kita bisa
mengkuantifikasikan segala sesuatu, misalnya cinta.
• Tidak adanya variabel generik (variabel yang merepresentasikn kategori-
kategori abstrak) yang universal dan a-historis. Tidak ada perangkat
indikator yang seragam, misalnya integrasi, kredibilitas, status sosial.
Kredibilitas pembicara Amerika berbeda dengan kredibilitas pembicara
Jepang.
• Variabel dibuat untuk problem yang spesifik. Ribuan kajian tentang sikap
semakin membuat kita bingung tentang apa sikap itu.
• Variabel-variabel yang dihasilkan juga centang perenang (bukan generik)
dalam teori.
KOMUNIKASI/INTERAKSI MANUSIA
(MENURUT ALFRED SCHUTZ)
• Bersifat Intersubjektif
• Melakukan “Reciprocity of Perspectives”
• Memiliki “In order to Motives” dan Because
Motives” (berdasarkan “biographically-
detemined situation” mereka) dan
kepentingan (project) mereka baik yang
jangka-pendek atau jangka-panjang
KOMUNIKASI ANTARMANUSIA (ALFRED
SCHUTZ)
Konteks interaksi antarmanusia
antara dirinya dengan orang lain
menurut terdiri dari 4 wilayah
yaitu :Consociates, Contemporaries,
Predecessor, dan Succesors
MITRA KOMUNIKASI KITA (MENURUT
ALFRED SCHUTZ)
• 1. Consociates, orang yang berbagi ruang dan waktu
yang sama sama dengan kita
• 2. Contemporaries, orang yang hanya memiliki
kesamaaan waktu namun tak memiliki kesamaan
ruang
• 3. Predecessor, orang yang mendahului kita sebelum
kita lahir
• 4. Succesors, orang yang akan datang setelah kita
sudah meninggal dunia
MENURUT SCHUTZ REALITAS TERDIRI DARI
BERBAGAI DIMENSI
• Realitas Sehari-hari (Rutin)
• Realitas Ilmiah
• Melamun
• Khayalan
• Mimpi
• Gila,
• Dsb.
METODE PENELITIAN FENOMENOLOGI
ALFRED SCHUTZ
• MENGEKSPLORASI KONSTRUK DERAJAT
PERTAMA LEWAT WAWANCARA,
PENGAMATAN BERPERAN SERTA, DOKUMEN,
DSB.
• MEMBANGUN KONSTRUK DERAJAT KEDUA
PROPOSISI, MODEL, HIPOTESIS, TEORI, POLA-
POLA, TIPOLOGI, TEMA-TEMA, DSB.
PRINSIP PEMBENTUKAN KONDTRUK
DERAJAT II
• Konsep harus sedekat mungkin dengan
realitas yang akan diangkat (termasuk
pemilihan istilah)
• Konsep harus dirundingkan dengan subjek
penelitian.
• Jika subjek tidak setuju, konsep harus
dirumuskan ulang.
• Diskusikan dengan teman sejawat.
ETNOMETODOLOGI DIDASARKAN TIGA
PRINSIP
• KEHIDUPAN BEGITU CAIR DAN BERISIKO. APA PUN
BISA TERJADI DALAM INTERAKSI SOSIAL, NAMUN
• PARA AKTOR TIDAK MENYADARI HAL INI, KARENA
• TANPA MEREKA SADARI, MEREKA MEMILIKI
KEMAMPUAN PRAKTIS YANG DIPERLUKAN UNTUK
MENCIPTAKAN (SEOLAH-OLAH) DUNIA INI TERTIB
DUA KONSEP ETNOMETODOLOGI
Indeksikalitas: sifat khas suatu situasi sosial. Makna tak
bersifat tetap setiap saat dan pada setiap peristiwa, jadi
bergantung pada konteks. Jadi orang harus memperbaiki
indeksikalitas mereka setiap saat.Mereka mengartikan
suatu kata secara kira-kira.

Refleksivitas: Asumsi adanya kesatuan keadaan dengan


uraian tentang keadaan itu.Tindakan bersifat praktis.
Orang tak bisa membedakan sifat suatu keadaan dengan
uraian tentang keadaan itu.
MODEL TRANSAKSIONAL (INTERAKSI
SIMBOLIK)
(Fisher, 1986:242)

DIRI/YANG LAIN

YANG LAIN/DIRI

KOMUNIKATOR KOMUNIKATOR

OBJEK

KONTEKS
KULTURAL
Interaksionalisme Simbolik Didasarkan
Premis-Premis berikut :
• Individu merespons suatu situasi simbolik .
• Makna adalah produk interaksi sosial, karena
itu makna tidak melekat pada objek, melainkan
dinegosiasikan lewat penggunaan bahasa.
• Makna yang diinterprestasikan individu dapat
berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan
perubahan situasi yang ditemukan dalam
interaksi sosial.
TEORI PENJULUKAN
William I. Thomas: “If men define situations as
real, they are real in their consequences.”

Julukan yang diberikan media massa (Ratu


Ecstasy, Anak Durhaka) akan diinternalisasikan
oleh si terjuluk dan menjadi Nubuat yang
Dipenuhi Sendiri (Self-Fulfilling Prophecy)
KERANGKA TEORI PRESENTASI
DARI ERVING GOFFMAN

KHALAYAK

PANGGUNG DEPAN

PANGGUNG BELAKANG
Masyarakat sebagai Sistem

LEMBAGA
MEDIA PENDIDIKAN

PEMERINTAH KELUARGA