Anda di halaman 1dari 56

GUGATAN

Pertemuan. V
INFORMASI
1. Berdasarkan Pasal 53 (1), maka :
1. Hanya orang perorang/Badan Hukum Perdata;
2. Hanya orang yang dituju atau terkena akibat KTUN dan
karenanya ia merasa dirugikan. CAUSAL VERBAND;
3. Berlaku asas “no interest no action”;
2. Yurisprupensi :
1. membolehkan legal standing bagi Organissasi Lingkungan Hidup,
misalnya WALHI;
2. Memperbolehkan badan hukum publik menggugat untuk
melindungi kepentigan keperdataannya;
3. Pasal 48 UU No.14 Tahun 2008 ttg KIP memperluas
kompetensi subjek penggugat  Badan Hukum Publik
dapat menjadi Penggugat dalam Sengketa Informasi Publik
di PTUN;
Pengajuan Gugatan
Gugatan adalah permohonan yang berisi
tuntutan terhadap Badan/Pejabat TUN dan
diajukan ke pengadilan untuk mendapatkan
keputusan;
Harus tertulis, jika tidak pandai baca tulis dapat
meminta bantuan Panitera untuk
menuliskannya.
Pengajuan gugatan dapat menggunakan atau
tanpa kuasa hukum.
Tenggang Waktu Mengajukan Gugatan
(Pasal 55)
• Gugatan dapat diajukan hanya dalam 90 hari
terhitung sejak saat
diterimanya/diumumkannya keputusan
badan/pejabat tata usaha negara.
Gugatan tidak boleh prematur dan daluarsa (90 hari)
vide Pasal 55;
Sejak Kapan perhitungan 90 hari tsb:
– Sejak diterimanya (KTUN memuat nama Penggugat);
– Sejak pengumuman;
– KTUN Fiktif Negatif lihat Pasal 3 (2) dan (3);
– Bagi pihak yang tidak dituju KTUN dan merasa terkena
kepentingannya sejak ia merasa dirugikan dan
mengetahui adanya KTUN tsb.
– Sejak putusan upaya administratif diterima/dibacakan.
 Keputusan fiktif (pasal 3), perhitungan
tenggang waktu 90 hari 
• Dalam hal yang hendak digugat itu merupakan keputusan
menurut ketentuan pasal 3 ayat 2, maka tenggang waktu
90 hari dihitung setelah lewat tenggang waktu yang
ditentukan dalam peraturan dasarnya, yang dihitung sejak
tanggal diterimanya permohonan yang bersangkutan.
• Dalam hal yang hendak digugat itu merupakan keputusan
menurut ketentuan pasal 3 ayat 3, maka tenggang waktu
90 hari dihitung setelah lewatnya batas waktu 4 bulan,
yang dihitung sejak tanggal diterimanya permohonan
yang bersangkutan.
Pengajuan Gugatan (pasal 54)
1) Gugatan sengketa tata usaha negara diajukan
kepada pengadilan yang berwenang yang daerah
hukumnya meliputi tempat kedudukan tergugat.
2) Apabila tergugat lebih dari satu badan/pejabat
tata usaha negara dan berkedudukan tidak dalam
satu daerah hukum pengadilan, gugatan diajukan
kepada pengadilan yang daerah hukumnya
meliputi tempat kedudukan salah satu
badan/pejabat tata usaha negara.
3) Dalam hal tempat kedudukan tergugat tidak berada
dalam daerah hukum pengadilan tempat kediaman
penggugat, maka gugatan dapat diajukan ke pengadilan
yang daerah hukumnya meliputi kediaman penggugat
untuk selanjutnya diteruskan pengadilan yang
bersangkutan.
4) Dalam hal-hal tertentu sesuai dengan sifat sengketa
tata usaha negara yang bersangkutan yang diatur dengan
peraturan pemerintah, gugatan dapat diajukan kepada
pengadilan yang berwenang yang daerah hukumnya
meliputi tempat kediaman penggugat.
5) Apabila penggugat dan tergugat
berkedudukan/berada di luar negeri, gugatan
diajukan kepada pengadilan Jakarta.
6) Apabila tergugat berkedudukan di dalam
negeri dan penggugat di luar negeri, gugatan
diajukan ke pengadilan tempat kedudukan
tergugat.
Identitas Para pihak (pasal 56)
• Syarat Formil
Gugatan harus memuat nama, kewarganegaraan, tempat
tinggal, pekerjaan penggugat maupun kuasanya
(termasuk melampirkan surat kuasa jika memakai kuasa)
dan nama jabatan dan tempat kedudukan tergugat
(pasal 56).
• Syarat Materiil
Gugatan harus memuat posita (dasar atau alasan-alasan
gugatan) dan petitum (tuntutan baik tuntutan pokok
maupun tambahan (ganti rugi dan/atau rehabilitasi))
  Posita (pasal 53)
Dasar gugatan/posita/fundamentum petendi berisi uraian sebagai
berikut:
1. Adanya surat keputusan tata usaha negara yang akan dijadikan sebagai
obyek gugatan.
2. Adanya kepentingan penggugat yang merasa dirugikan dengan
dikeluarkannya keputusan tata usaha negara tersebut.
3. Gugatan diajukan masih dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh UU.
4. Uraian tentang alasan gugatan sebagaimana yang disebutkan dalam pasal
53 ayat (2) huruf a dan b UU Peradilan Tata Usaha Negara sebagai berikut:
a. Keputusan tata usaha negara yang digugat itu bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
b. Keputusan tata usaha negara yang digugat itu bertentangan dengan
asas-asas umum pemerintahan yang baik.
Petitum (pasal 53 jo. Pasal 97 ayat 9)

Tuntutan/petitum/hal-hal yang diminta dalam


gugatan tidak dapat secara bebas/leluasa,
akan tetapi telah ditentukan dalam pasal 53
ayat (1) UU Peradilan Tata Usaha Negara, yaitu
agar keputusan tata usaha negara yang
digugat tersebut dinyatakan batal/tidak sah
dengan/tanpa disertai tuntutan ganti
rugi/rehabilitasi
sedangkan apabila gugatan mengenai objek
gugatan yang dipersamakan dengan
Keputusan Tata Usaha Negara (gugatan
melalui pasal 3) yaitu: “mewajibkan kepada
tergugat menerbitkan keputusan tata usaha
negara yang dimohon” (pasal 97 ayat 9).
(pasal 97 ayat 9).
a) Pencabutan KTUN yang bersangkutan atau
b) Pencabutan KTUN yang bersangkutan dan
menerbitkan KTUN yang baru atau
c) Penerbitan KTUN dalam hal gugatan
didasarkan pada Pasal 3.
Hal-hal Lain Yang Dapat Diajukan Dalam Gugatan

Penundaan Pelaksanaan Keputusan Tata


Usaha Negara (Schorsing) (pasal 67).
1) Gugatan tidak menunda/menghalangi dilaksanakannya
keputusan badan/pejabat tata usaha negara serta
tindakan tata usaha negara yang digugat.
2) Penggugat dapat mengajukan permohonan agar
pelaksanaan keputusan tata usaha negara itu ditunda
selama pemeriksaan sengketa tata usaha negara
sedang berjalan, sampai ada putusan pengadilan yang
memperoleh kekuatan hukum tetap.
3) Permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat
diajukan sekaligus dalam gugatan yang dapat diputus terlebih
dahulu dari pokok sengketanya.
4) Permohonan penundaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2);
a. Dapat dikabulkan apabila terdapat keadaan yang sangat
mendesak yang mengakibatkan kepentingan penggugat sangat
dirugikan jika keputusan tata usaha negara yang digugat itu
tetap dilaksanakan.
b. Tidak dapat dikabulkan apabila kepentingan umum dalam
rangka pembangunan mengharuskan dilaksanakannya
keputusan tersebut.
Tidak termasuk ke dalam kategori Keputusan
Tata Usaha Negara dalam UU 5/1986 berserta
perubahannya
a.   Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan hukum perdata;
b.  Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan pengaturan yang bersifat umum;
c.   Keputusan Tata Usaha Negara yang masih memerlukan persetujuan;
d. Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan berdasarkan ketentuan Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
atau peraturan perundang-undangan lain yang bersifat hukum pidana;
e. Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan atas dasar hasil pemeriksaan
badan peradilan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
f.  Keputusan Tata Usaha Negara mengenai tata usaha Tentara Nasional Indonesia
g. Keputusan Komisi Pemilihan Umum baik di pusat maupun di daerah mengenai
hasil pemilihan umum.
• Tugas
• Membuat Gugatan PTUN
• Kumpulkan minggu depan
• Tulis di kertas folio
• Tulisan rapih dan mudah di baca
Asas-Asas Umum
Pemerintahan yang Baik
(AUPB)

PERTEMUAN VI
• Pasal 52 ayat (2) UU AP 2014 secara tegas mengatakan bahwa
syarat sahnya sebuah Keputusan didasarkan pada ketentuan
peraturan perundang–undangan dan AUPB.
• Artinya, selain UU PTUN 2004, UU AP 2014 juga telah
memberikan legitimasi yuridis kepada hakim untuk
menerapkan AUPB sebagai alat uji atas KTUN. Pengaturan AUPB
secara eksplisit dapat ditemukan sedikitnya tersebar dalam 12
(dua belas) pasal UU AP 2014, yaitu Pasal 1, 5, 7, 8, 9, 10, 24,
31, 39, 52, 66, dan 87. Selain itu, UU AP 2014 juga
menempatkan AUPB sebagai norma yang terbuka, artinya UU
tetap mengakui kekuatan mengikat dari AUPB yang tidak
tertulis
• Pengaturan AUPB secara eksplisit dapat
ditemukan sedikitnya tersebar dalam 12 (dua
belas) pasal UU AP 2014, yaitu Pasal 1, 5, 7, 8,
9, 10, 24, 31, 39, 52, 66, dan 87. Selain itu, UU
AP 2014 juga menempatkan AUPB sebagai
norma yang terbuka, artinya UU tetap
mengakui kekuatan mengikat dari AUPB yang
tidak tertulis
Doktrin hukum, dan yurisprudensi Perkara
TUN
1. Kedudukan AUPB sebagai norma hukum positif telah menempatkan AUPB
sebagai asas yang mengikat kuat.
2. AUPB sebagian besar telah menjadi norma hukum tertulis dan sebagian lainnya
merupakan prinsip yang tidak tertulis.
3. AUPB telah memiliki kedudukan sebagai dasar atau alasan bagi Penggugat untuk
mendalilkan gugatan dalam perkara TUN di pengadilan. 15 / 132
4. AUPB merupakan alat uji bagi hakim TUN untuk menguji keabsahan atau
pembatalan sebuah Keputusan TUN, sehingga, konsekuensinya, pelanggaran
terhadap AUPB dapat disebutkan secara tegas oleh hakim dalam amar putusan.
5. AUPB dapat dijadikan dasar bagi hakim dalam memaknai kekaburan hukum di
bidang Hukum Administrasi Negara, asalkan didasarkan pada
pertimbanganpertimbangan yang tepat dan akurat, dengan indikator-indikator
yang jelas, serta didukung oleh fakta-fakta hukum yang terungkap di
persidangan.
Sejarah Perkembangan AUPB
• Sejarah AUPB di Belanda
AUPB merupakan terjemahan dari ‘Algemene Beginselen
van Behoorlijk Bestuur’ (ABBB), sebuah istilah dalam
Bahasa Belanda. Di Inggris, prinsip ini dikenal sebagai ‘The
Principal of Natural Justice’ atau ‘The General Principles
of Good Administration’, sementara di Perancis
diistilahkan sebagai ‘Les Principaux Generaux du Droit
Coutumier Publique’ dan di Belgia disebut sebagai
‘Algemene Rechtsbeginselen’, serta di Jerman dinamakan
‘Allgemeine Grundsätze der Ordnungsgemäßen
Verwaltung’
• AUPB ini merupakan kategori khusus dari
prinsip-prinsip hukum umum dan dianggap
sebagai sumber formal hukum dalam hukum
administrasi, meskipun biasanya melibatkan
hukum yang tidak tertulis. Jadi, dalam
menjalankan pemerintahannya, pejabat Tata
Usaha Negara (TUN) wajib berpedoman pada
ABBB dalam menjalankan urusan-urusannya di
bidang administrasi negara
• Prinsip yang bersifat prosedural berhubungan
dengan proses pengambilan kebijakan,
misalnya kewajiban penyelenggara
pemerintahan untuk bertindak imparsial atau
tidak memihak (obligation of impartiality)
dalam membuat kebijakan, pengakuan hak
untuk membela diri, dan kewajiban pembuat
kebijakan untuk memberikan alasan–alasan.
• Sedangkan prinsip yang bersifat substansial
berkaitan dengan materi atau isi dari kebijakan
tersebut. Bahwa materi atau isi dari kebijakan yang
dibuat hendaknya memperhatikan prinsip
persamaan (principle of equality), prinsip kepastian
hukum (legal certainty), pelarangan
penyalahgunaan wewenang (prohibition of
‘machtsafwending’), kewajiban untuk berhati-hati
(duty of care), dan prinsip berdasarkan alasan
(principle of reasonableness)
• Di Belanda, penerapan prinsip AUPB konsep welfare state yang
menempatkan penyelenggara pemerintahan sebagai pihak yang
bertanggungjawab terhadap tercapainya kesejahteraan umum warga
masyarakat. Untuk mewujudkannya.
• Pemerintah diberi wewenang campur tangan urusan masyarakat.
• tidak hanya bersumber dari peraturan perundang-undangan, tetapi
dalam keadaan tertentu Pemerintah dapat menggunakan wewenang
bebas (diskresi). Namun, adakalanya pelanggaran masih dilakukan
oleh Pemerintah dalam menjalankan perintah undang-undang.
Apalagi, jika kewenangan itu didasarkan oleh inisiatif sendiri. Hal inilah
yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga masyarakat
karena potensi terjadinya benturan kepentingan antara pemerintah
dengan rakyat
Sejarah perkembangan AUPB di Indonesia
• Dapat dilihat dari perkembangan prinsip AUPB dalam berbagai peraturan
perundang-undangan, praktik penerapan AUPB dalam putusan
pengadilan atau yurisprudensi serta doktrin. Perkembangan AUPB dari
prinsip yang tidak tertulis bergeser menjadi norma hukum tertulis
berlangsung cukup lambat. Sejak UU PTUN 1986, AUPB tidak diatur
secara eksplisit. Pasal 53 ayat (2) UU PTUN 1986 tidak secara eksplisit
menyebut AUPB sebagai dasar pengajuan gugatan Keputusan TUN. Pada
saat pembentukan UU PTUN 1986, risalah UU menyatakan bahwa Fraksi
ABRI sudah mengusulkan konsep AUPB. Namun usulan itu ditolak oleh
Menteri Kehakiman, Ismail Saleh, dengan alasan praktik ketatanegaraan
maupun dalam Hukum Tata Usaha Negara di Indonesia, belum
mempunyai kriteria “algemene beginselen van behoorlijk bestuur” (asas-
asas umum pemerintahan yang baik), seperti halnya di Belanda dan di
negara-negara Eropa Kontinental
• UU PTUN 1986 dinyatakan mulai diterapkan
secara efektif di seluruh wilayah Indonesia
sejak tanggal 14 Januari 1991, sudah ada
Pengadilan Tata Usaha Negara yang
menjatuhkan putusan dengan menyatakan
batal atau tidak sahnya keputusan TUN
dengan alasan bertentangan dengan asas
umum pemerintahan yang baik
• Salah satu contohnya adalah putusan Pengadilan
Tata Usaha Negara Palembang, tanggal 6 Juli 1991,
No. 06/PTUN/G/PLG/1991.36 Dalam putusan a quo
disebutkan bahwa yang dimaksud dengan asas
umum pemerintahan yang baik adalah asas hukum
kebiasaan yang secara umum dari yurisprudensi
maupun dari literatur hukum yang harus
diperhatikan pada setiap perbuatan hukum
administrasi yang dilakukan oleh penguasa (Badan
atau Pejabat Tata Usaha Negara)
• Putusan ini berkaitan dengan gugatan seorang
pegawai Universitas Bengkulu terhadap Rektor
yang telah memutasikan dirinya dari
jabatannya, tanpa terlebih dahulu dibuktikan
kesalahannya. Tindakan Rektor tersebut
dipersalahkan, karena dalam keputusannya
melanggar asas kecermatan formal
• AUPB diatur dalam Pasal 53 Ayat (1) dan (2), serta
dalam Penjelasan Pasal 53 Ayat (1) dan (2), UU PTUN
2004. Pasal 53 Ayat (1) pada dasarnya menekankan
hak gugat perorangan dan badan hukum melalui
Peradilan TUN, manakala haknya dirugikan oleh
penyelenggara Negara. Sedangkan Pasal 53 ayat (2)
menekankan bahwa selain pelanggaran terhadap
UU tertulis, pelanggaran terhadap AUPB juga dapat
dijadikan dasar untuk mengajukan gugatan kepada
penyelenggara Negara
7 asas, yaitu:
• Asas Kepastian Hukum,
• Asas Tertib Penyelenggaraan Negara,
• Asas Kepentingan Umum,
• Asas Keterbukaan,
• Proporsionalitas,
• Asas Profesionalitas, dan
• Asas Akuntabilitas
• AUPB dalam fungsinya sebagai alat bagi hakim untuk menguji
atau menilai keabsahan tindakan penyelenggara pemerintahan
dan sebagai alat kontrol untuk mencegah tindakan–tindakan
administratif yang dapat menimbulkan kerugian, tidak secepat
yang terjadi di Belanda. Pengesahan UU AP 2014 diharapkan
mampu mendorong pengakuan dan penerimaan AUPB sebagai
norma hukum yang harus dijadikan dasar oleh penyelenggara
pemerintahan dalam menjalankan kewenangannya, sekaligus
sarana bagi warga negara untuk menggugat penyelenggara
pemerintahan yang menyimpang dan menjadi dasar bagi
hakim dalam memutus perkara.
Prosedur mengajukan gugatan ke
Pengadilan Tata Usaha Negara

PERTEMUAN VII
Peradilan Tata Usaha Negara
Tingkat 1 
• BALI
P. TUN. Denpasar
Jl. Kapten Cok Agung Tresna, No. 4 Niti Mandala Renon,
Telp. 236058, 236213, Fax. 2362 13 Denpasar 80235

• BENGKULU
P. TUN. Bengkulu
Jl. R.E. Martadinata No. 1, Telp. 52011, Bengkulu 38004

• IRIAN JAYA
Jl. Raya Sentani - Waena, Telp. 571216, 571639, Jayapura 99358
• JAKARTA
P. TUN. Jakarta
Jl. A. Sentra Primer Baru Timur ( Depan Kantor
Walikota),
Telp. 4805258, 4805255, Fax : 4803856 Pulo Gebang,
Jakarta 13950

• JAMBI
P. TUN. Jambi
Jl. Kolonel M. Kukuh No. 1, Telp. 41986, Jambi 36128
• JAWA BARAT
P. TUN. Bandung
Jl. Diponegoro No. 34, Telp./Fax : 7272189, 7272189, Bandung 40115

• JAWA TENGAH
P. TUN. Semarang
Jl. Abdurrachman Saleh No. 89, Telp. 7607413, Fax. 7613310 Semarang 50145

P. TUN. Yogyakarta
Jl. Janti No. 66, Bangun Tapan Bantul, Telp. 5 81675 Yogyakarta 55198

• JAWA TIMUR
P. TUN. Surabaya
Jl. Letjen Sutoyo No. 266 Medaeng Waru Sidoarjo, Telp. Ketua 8533883, Pan.
8532680 Surabaya 61236
• KALIMANTAN BARAT
P. TUN. Pontianak
Jl. Jend. A. Yani No. 10, Telp. 710614 Pontianak 78124

• KALIMANTAN SELATAN
P. TUN. Banjarmasin
Jl. Brigjen H.Hasan Basri No. 32, Telp. 300393, 300072, Fax. 300072 Banjarmasin
70123

• KALIMANTAN TENGAH
P. TUN. Palangkaraya
Jl. Cilik Riwud Km. 4,5, Telp. 31111, 31165, Palangkaraya 73112

• KALIMANTAN TIMUR
P. TUN. Samarinda
Jl. Bung Tomo No. 136, Telp./Fax : 262062, 260659 Semarinda Sebrang 75132
• LAMPUNG
P. TUN. Bandar Lampung
Jl. Pangeran Emir M. Noor, SH No. 27, Telp. 258320 -Fax. 258320,
Bandar Lampung 35116

• MALUKU
P. TUN. Ambon
Jl. Wolter Monginsidi No. 168, Telp. 361044, 361045, Fax. 361045,
Ambon 97231

• NANGROE ACEH DARUSSALAM


P. TUN. Banda Aceh
Jl. R. Mocd. Tohir No. 25, Telp. 24896 - Fax. 27883 Banda Aceh 23247
• NUSA TENGGARA TIMUR
P. TUN. Kupang
Jl. Palapa No. 16 A, Telp. 821016 - Fax. 826576,
Kupang 85111

• RIAU
P. TUN. Pakanbaru
Jl. Raya Bangkinang Km. 9, Telp. 64023 - 66455,
Pekanbaru - Riau 28294
• SULAWESI SELATAN
P. TUN. Makassar
Jl. Pendidikan No. I, Telp. 868784, 885720, Makassar 90221

• SULAWESI TENGAH
P. TUN. Palu
Jl. Prof. Moh. Yamin No. 52, Telp. 483385, Sulawesi Tengah 94t21

• SULAWESI TENGGARA
P. TUN. Kendari
Jl. Rava Andonohu No. 7, Telp. 328674 Kendari 93232

• SULAWESI UTARA
P. TUN. Manado
Jl. Pomoroow No. 66, Telp. 853765 Fax. 853765, Manado 95125
• SUMATERA BARAT
P. TUN. Padang
Jl. Diponegoro No. 8, Telp. 28400 - Fax 28400, Padang 25117

• SUMATERA SELATAN
P. TUN. Palembang
Jl. Jend. A. Yani 14 Ulu No. 67, Telp. 513120 - 516936, Fax.
513120, Palembang 30264

• SUMATERA UTARA
P. TUN. Medan
Jl. Listrik No. 10 Gd. BHP, Telp. 4516221 - 4565311, Medan 20221 
Peradilan Banding
• JAKARTA
PT. TUN. JAKARTA
Jl. Cikini Raya No. 117, Telp. 31926163 Jakarta 10330
• SUMATERA UTARA
PT. TUN. MEDAN
Jl. Peratun Kompleks Medan Estate, Telp. 627855 - Fax. 617552, Medan 20371
• SULAWESI SELATAN
PT. TUN. MAKASSAR
Jl. AP. Pettarani No. 45, Telp. 452773 - Fax. 452016, Makassar 90231
• JAWA TIMUR
PT. TUN. SURABAYA
Jl. Ketintang Madya VI No. 2 Telp. Ketua : 8288822, Wakil : 8291301, 8292138
Surabaya 60232
Peradilan Kasasi
• Jakarta
Mahkamah Agung
Jalan Medan Merdeka Utara No. 9 - 13, RT. 2 /
RW. 3, Gambir, RT.2/RW.3, Gambir, Kota
Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
10110
Mahkamah Agung
Pasal 51 ayat 4

PT TUN PT TUN
Pasal 51 ayat 3

“Banding Adm”
P. TUN Ps. 48 jo Sema
No. 2/1991

“Keberatan”
Ps jo Sema No.
2/1991

“Keberatan”
Ps jo Sema No.
2/1991
Tahap Ke-1
• Pihak Berperkara (Penggugat) Datang Ke Pengadilan
Tata Usaha Negara Dengan Membawa :
• Surat Gugatan Rangkap 8 (Delapan) Disertai Soft Copy
Gugatannya;
• Foto Copy Objek Sengketa Sejumlah 1 (Satu) Eksemplar
(Apabila Sudah Ada);
• Foto Copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) Para Pihak
Sejumlah 1 (Satu) Eksemplar;
• Surat Kuasa Sejumlah 8 (Delapan) Eksemplar Disertai
Foto Copy Kartu Pengenal Advokat (Apabila Dikuasakan)
Tahap Ke-2
• Petugas Meja Pertama Menerima Gugatan /
Permohonan Beserta Kelengkapannya.
Tahap Ke-3
• Petugas Meja Pertama Memeriksa
Kelengkapan Berkas Dengan Menggunakan
Daftar Periksa (Check List) dan Meneruskan
Berkas yang Telah Selesai Diperiksa
Kelengkapannya Kepada Panitera Muda
Perkara Untuk Menyatakan Berkas Telah
Lengkap atau Tidak Lengkap.
Tahap Ke-4
• Panitera Muda Perkara Meneliti Berkas :
• Apabila Berkas Belum Lengkap : Panitera
Muda Perkara Mengembalikan Berkas Dengan
Melampirkan Daftar Periksa Supaya Penggugat
Dapat Melengkapi Kekurangannya;
• Apabila Berkas Sudah Lengkap : Dikembalikan
Kepada Petugas Meja Pertama.
Tahapan Ke-5
• Pihak Penggugat Membayar Panjar Biaya Perkara Sebesar Rp. 500.000,-
(Lima Ratus Ribu Rupiah) Melalui Bank Atau Via Transfer ATM Bank
Dengan Nama :
• Biaya Perkara PTUN (Pengadilan yang di tuju)
• Rekening BRI Cabang ……….
• No. Rekening : xxxxxxxxxxxxx
• Surat Keputusan Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Nomor :
W2.TUN1/224/HK.06/III/2015, Tentang Panjar Biaya Perkara Gugatan /
Permohonan, Banding, Kasasi, Peninjauan Kembali (PK), Pengawasan
Eksekusi dan Pemeriksaan Setempat Di Kepaniteraan Pengadilan Tata
Usaha Negara
• Surat Edaran Mahkamah Agung RI Nomor 04 Tahun 2008 Tentang
Pemungutan Biaya Perkara
Tahap Ke-6
• Pihak Penggugat Setelah Membayar Panjar
Biaya Perkara, Menyerahkan Slip Bukti
Penyetoran Kepada Kasir / Meja Pertama.
Tahap Ke-7
• Petugas Meja Pertama Membuat Surat Kuasa
Untuk Membayar (SKUM) Sebesar Rp.
500.000,- (Lima Ratus Ribu Rupiah) dan Kasir /
Meja Pertama Mencatat Dalam Buku Jurnal.
Tahap Ke-8
• Petugas Meja Kedua Mencatat Gugatan Dalam
Buku Register Induk Perkara. Petugas Meja
Pertama Memproses Gugatan.
Tahap Ke-9
• Petugas Meja Kedua Memasukan Nomor
Perkara, Identitas Para Pihak, Obyek Sengketa,
Posita dan Petitum Gugatan Dalam Aplikasi
Sistem Informasi Administrasi Tata Usaha
Negara (SIAD TUN).
Tahap Ke-10
• Petugas Meja Pertama Menyerahkan SKUM
dan Salinan Gugatan yang Telah Didaftar Serta
Telah Ditandatangani Oleh Panitera Kepada
Pihak Penggugat. PENDAFTARAN SELESAI
• Selanjutnya Pihak – Pihak Berperkara akan
Dipanggil Melalui Surat Tercatat Menghadap
Ke Pengadilan Untuk : Dismissal Proses /
Pemeriksaan Persiapan / Persidangan.