Anda di halaman 1dari 31

Value Investing - Advanced Class

Now We Talk About Strategy!

Teguh Hidayat
Value Investor

Surabaya, 1 September 2019


Pendahuluan

1. Peserta diasumsikan sudah mengerti


analisis dasar fundamental, cara membaca
laporan keuangan, dll.
2. Disini kita akan membahas banyak strategi
investasi berdasarkan contoh-contoh riil
yang pernah saya (Teguh Hidayat) alami
sebagai value investor itu sendiri.
Kenapa Kelas Advanced Ini Penting?
1. Value investing itu simpel secara teori: Beli
saham bagus pada harga murah, lalu tunggu.
2. Tapi pada prakteknya tidak sesederhana itu.
3. Intinya kita disini akan mencoba menjawab
pertanyaan: Beli saham apa, belinya kapan dan
pada harga berapa, seberapa banyak, jualnya
kapan, dan bagaimana jika terjadi sesuatu
diluar rencana.
Cara Membaca Arah Pasar
1. Dalam jangka panjaaaang, pasar saham pada
akhirnya akan selalu bergerak naik. Namun
demikian akan ada masa-masa dimana pasar turun,
baik dalam jangka pendek (beberapa minggu
hingga 1 bulan), maupun jangka panjang (beberapa
bulan hingga 1 tahun).
2. Pada dasarnya, arah pasar tidak bisa diprediksi.
Namun demikian jika langit mulai mendung, maka
sebaiknya kita siapkan payung.
Ciri-Ciri ‘Langit Mendung’
1. Teknikal: Jika IHSG, atau saham-saham tertentu,
mulai menunjukkan trend turun.
2. Makroekonomi: Dunia usaha lesu, Rupiah melemah,
para emiten membukukan penurunan laba, atau
bahkan merugi.
3. Valuasi Saham: Sudah pada mahal, dan kita kesulitan
cari saham (berfundamental) bagus yang masih murah.
4. Terdapat isu ekonomi global yang serius.
5. Psikologis: Terjadi euforia, saham tertentu mendadak
banyak dibicarakan.
Cara Menyiapkan ‘Payung’
1. Ketika terjadi koreksi pasar/bear market, maka strateginya
adalah kita beli lagi saham-saham di harga bawah, dengan
catatan kita sudah pegang cash sebelumnya.
2. Jadi jika langit tampak mendung, siapkan sejumlah
cash/jualan. Jangan khawatir jika saham yang dijual ternyata
masih lanjut naik, karena akan selalu ada pilihan saham lain
yang bisa anda beli.
3. Koreksi pasar tidak terjadi sekaligus dalam satu dua hari,
melainkan bisa berbulan-bulan. Jadi anda harus fokus
membaca situasi pasar, (valuasi saham) dan bukan naik
turun IHSG/saham-saham itu sendiri hanya melihat setiap
harinya.
‘How to Survive’ Ketika Terjadi
Koreksi Berkepanjangan
1. Never. Use. Margin! Selama saham anda tidak
kena forced sell, maka dia akan naik lagi ketika
nanti pasar akhirnya pulih.
2. Ingat bahwa koreksi pasar tidak selalu berarti
buruk. Malah bagi mereka yang sudah pegang
cash sebelumnya, semakin turun harga-harga
saham, justru semakin bagus! Jadi disini sangat
penting untuk ‘menyiapkan payung’.
3. Belajar untuk berani cut loss sebelum terlambat
Ciri-Ciri ‘Puncak Badai’
1. Terjadi kepanikan, atau ketika anda sendiri sudah
mulai bingung.
2. Valuasi saham-saham memang sudah murah,
3. Analis sekuritas/orang-orang yang sebelumnya rajin
rekomendasi saham tiba-tiba menghilang. Grup-
grup mendadak sepi.
4. At some point, even great investors are called idiot
only because they are still optimistic.
Strategi Investasi Terkait Aksi
Korporasi Emiten
Rule No.1: Jika saham yang anda pegang,
emiten/perusahaannya melakukan aksi korporasi
penting, maka sebaiknya jual dulu minimal sebagian.
Sebab dalam beberapa waktu berikutnya saham
tersebut kemungkinan akan bergerak liar/naik dan turun,
tergantung persepsi investor terhadap aksi korporasi
tersebut.
Rule No.2: Namun jika ada saham yang belum anda pegang,
dan emitennya melakukan aksi korporasi dan saham itu
turun, maka mungkin itu peluang, apalagi jika itu adalah
saham terkenal.
1. Right Issue: Tunggu sampai perusahaan mengumumkan
harga pelaksanaan right issue-nya (bukan harga nominal).
Jika harga RI-nya diatas harga pasar, artinya peluang.
Jika harga RI-nya dibawah harga pasar, maka tunggu
sampai proses RI-nya selesai/saham baru hasil RI sudah
diperjual belikan di market. Contoh JSMR.
2. Penerbitan utang bank/obligasi: Tidak berpengaruh
terhadap sahamnya, tapi berpengaruh terhadap prospek
jangka panjang. GJTL
3. Private Placement: Umumnya dilaksanakan pada harga
diatas harga pasar. So it’s opportunity (ENRG).
4. Stocksplit
5. Merger, akuisisi: Dampaknya bisa positif atau
negatif, contoh kasus MEDC, dan PGAS.
6. Divestasi: Umumnya berdampak negatif (BRMS),
tapi kadang positif (MPMX).
7. Bedakan aksi korporasi yang langsung berdampak
terhadap fundamental perusahaan (MEDC),
berdampak tapi belum signifikan (UNTR), dan aksi
korporasi yang belum tentu berdampak terhadap
perusahaan (FPNI).
Sektor Apa yang Akan ‘Naik
Panggung’ Tahun Ini?
1. Di awal tahun, lihat statistik IHSG di tahun
sebelumnya, lalu lihat indeks sektor apa yang
kenaikannya tidak setinggi IHSG.
2. Cek valuasi saham-saham di sektor tersebut:
Apakah sudah kelewat murah/PBV mereka hanya 1
kali atau kurang? (Lihat valuasi dulu, lalu baru
kinerja laporan keuangan).
3. Peluang biasanya terletak pada sektor yang belum
ramai dibicarakan.
Saham Naik 100% Dalam 1
Tahun atau Kurang???
1. Peluang jackpot biasanya terletak pada saham
unbelievably undervalue/PBV 0.4 kali atau kurang.
2. Biasanya saham second liner, dan bukan jenis
saham untuk di-hold long term/5 tahun atau lebih.
3. Lihat historis pergerakan sahamnya, termasuk
historis kinerja fundamental emiten.
4. Perlu pengetahuan mendalam tentang industrinya.
5. Contoh batubara di tahun 2016, dan IMAS.
Beda Saham Murah & Saham
Murahan/Very High Risk Stock
1. Perhatikan reputasi owner perusahaan.
2. Sahamnya sering naik turun secara drastis tanpa
penyebab yang jelas.
3. Kinerja perusahaan dari dulu gak pernah bagus/rugi
melulu, maka itu murahan.
4. Mungkin PER dan PBV-nya tidak semurah
kelihatannya (penjelasannya di slide berikutnya)
Poin-Poin ‘Manipulasi’ (dalam
tanda kutip) LK
1. Hati-hati/Jangan langsung senang ketika ketemu
saham dengan PER/PBV kelewat rendah, dalam
hal ini PER < 5, dan PBV < 0.4.
2. Hati-hati dengan emiten yang LKnya suka telat.
3. ‘Manipulasi’ biasanya terdapat di 1. Ekuitas
perusahaan, atau 2. Komponen laporan laba rugi,
4. Contoh: SRTG, KINO
Membedakan Rumor dan Berita
Sungguhan: What if my stock is
‘under attack’?
1. Baca dan pelajari setiap berita yang sama di tiap-
tiap media (Kontan, Detik, Bisnis Indonesia, etc),
temukan benang merahnya. Contoh: Konstruksi
tahun 2018
2. Ingat bahwa berita sekarang ini lebih banyak bersifat
opini/penggiringan opini ketimbang fakta.
3. Cek keterbukaan informasi di IDX, konfirmasi
langsung dari perusahaan. Jangan cari info di grup!
4. Segera buat keputusan, apakah buy (atau tambah
posisi), hold saja, atau sell.
Tapi Bagaimana Jika Beritanya
Beneran??
1. Belajar dari Kasus AISA.
2. Cara mengetahui jika tingkat risiko sebuah
saham meningkat, sehingga sahamnya tidak layak
buy atau hold lagi (karena sudah menjadi very high
risk stock), sehingga harus segera dijual.
3. 1. Penurunan rating utang Pefindo, 2. Pemegang
saham mayoritasnya jualan. 3. Usaha berasnya gak
laku-laku
Menyusun Komposisi Portofolio
yang Ideal
1. Diversifikasi minimal 5 – 6 saham berbeda, atau kalau
bisa 10 – 12 saham, tapi tidak lebih dari itu.
2. Concentrated diversification: Hanya beli saham yang,
setelah dianalisa, memiliki prospek. Jadi gak usah beli
saham dari tiap-tiap sektor di BEI.
3. Saham dengan perbandingan risk and reward
terbaik-lah, dan bukan saham dengan potensi gain
tertinggi, yang memperoleh alokasi dana paling besar.
4. Jangan beli saham lebih dari 30 – 35% porto, atau
sebaliknya kurang dari 5% porto.
5. Untuk saham yang akan dibeli dalam jumlah
banyak, belilah secara menyicil
6. Siapkan sejumlah cash sesuai kondisi market.
7. Portfolio sudah ideal jika naik turunnya saham
tertentu tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja
porto secara keseluruhan, tapi disisi lain juga tidak
ada saham yang tidak memberikan pengaruh sama
sekali.
Memilah-milah saham untuk
long, mid, and short term
1. For long term stock: Never compromise with
fundamentals/hanya beli saham yang termasuk
‘wonderful company’.
2. Harus komitmen untuk hold minimal 1 tahun, and
don’t expect high return. Kalo gak bisa komit, boleh
cari saham lain.
3. For mid term/3 – 12 months: Cari saham murah
dan bagus/pake metode value investing seperti
biasa. Lihat juga teknikal/cari yang uptrend dalam 3
– 12 bulan terakhir.
4. Short term/3 bulan atau kurang: Selain
menggunakan value investing, juga manfaatkan
market momentum and timing. However, ini sulit
dilakukan dan high risk, bahkan bagi investor
berpengalaman.
5. Long term: Low return at low risk, but will provide
decent return after 5 years. Mid term: High return at
fair risk, best choice. Short term: High risk at high
return.
6. Porto ideal: 10 – 20% long, 10 – 20% short,
selebihnya untuk mid term.
Kapan Saatnya Buy, Hold, Sell?
1. Baca-baca lagi materi diatas!
2. Secara umum, waktu terbaik untuk belanja adalah
di awal tahun/akhir tahun sebelumnya, dan waktu
terbaik untuk jualan adalah sekitar awal Mei,
Agustus, dan Oktober/Intinya Semester Dua.
3. Never expect max profit, instead always focus on
never lose money rule. Jadi kalau anda jual saham
dan ternyata dia masih naik lagi, maka jangan
dikejar, melainkan cari lagi saham lain, karena akan
selalu ada peluang di saham lain.
4. Belajar untuk hold saham as long as possible (bagi
pemula, 3 hari rasanya seperti 5 tahun).
5. Time is precious: Jika anda hold suatu saham
hingga 1 – 2 tahun tapi tidak memperoleh decent
profit dibandingkan dengan IHSG, maka coba
evaluasi lagi.
6. When buy stocks for long term, never hurry, and
always look for the best timing. Jadi bayangkan
seperti jika anda akan menikah.
BONUS MATERI
TAMBAHAN
Sharing Pengalaman
1. Formative Years: 2005 – 2009
2. Began to Know Stock Market: 2009 - 2011
3. First achievements: Profit about 300% in 2011,
bought a house in cash.
4. Decided to full time: 2012
5. Experienced first market crash: 2013
6. Start everything from (almost) zero in 2014.
7. 2015: Again, market crash, but now I could face it
better.
8. 2016 – Now: Literally full time as an investor/has
been able to focus on asset growth only.
9. In 5 – 10 years: Keep focus on asset growth,
gaining experience, travelling, go to Omaha.
10. In 10 – 20 years: Build connections with high profile
fund managers around the world, prepare my kids
as my successors, change TeguhHidayat.com as a
personal blog.
11. In 20 years or more: Be a cover for Forbes
Magazine, Drink Tea with The Queen, Retire and
focus on Philanthropy.
Tips Menabung Saham
Jika kita invest/menyetor Rp1 juta per bulan ke
sekuritas, dan memperoleh profit 25% per tahun,
maka berapakah nilai aset kita di saham setelah:

1. 5 tahun?
2. 10 tahun?
3. 20 tahun?

Apa itu ‘trading for living?’


Cara Mendidik Anak untuk Invest
Sejak Dini
1. Dasar pemikiran: Pasar saham akan selalu ada,
bahkan hingga kita nanti tidak ada lagi. Dan jika
anda tidak bisa mencapai cita-cita anda untuk
masuk majalah Forbes, maka putra-putri anda
punya kesempatan yang lebih besar untuk
melakukannya.
2. Sebelum mendidik anak tentang investasi saham,
didiklah dia tentang investasi itu sendiri.
3. Financial literacy is important!
4. Point utamanya cuma dua: Ajarkan dia untuk
memiliki aset produktif, dan
5. Belilah aset tersebut pada harga yang seharusnya,
atau lebih rendah,
6. Anda sebagai orang tua harus menjadi contoh yang
baik. Jangan harap anak-anak bisa jadi investor
kalau orang tuanya boros.
7. Again, financial literacy is important.
Sesi Tanya Jawab &
Diskusi Bebas
Merci!

Teguh Hidayat
www.teguhhidayat.com