Anda di halaman 1dari 26

FARMASI RUMAH

SAKIT
PERTEMUAN 1

ELIZA KONDA L, MPH, Apt.


eliza.konda@yahoo.co.id
Agenda Pertemuan Mata Kuliah Farmasi RS :
Materi UTS Materi UAS
1. Tatap Muka / G Meet / Edmodo Materi 1 1. Tatap Muka / G Meet / Edmodo Materi 7

2. Tatap Muka / G Meet / Edmodo Materi 2 2. Tatap Muka / G Meet / Edmodo Materi 8

3. Tatap Muka / G Meet / Edmodo Materi 3 3. Tatap Muka / G Meet / Edmodo Materi 9

4. Tugas dan Kuis 4. Tugas dan Kuis

5. Tatap Muka / G meet / Edmodo Materi 4 5. Tatap Muka / G meet / Edmodo Materi 10

6. Tatap muka / G meet / Edmodo Materi 5 6. Tatap muka / G meet / Edmodo Materi 11

7. Tatap muka / G meet / Edmodo Materi 6 7. Tatap muka / G meet / Edmodo Materi 12
Regulasi dan Referensi Wajib / Utama :

1. Undang Undang RI No. 44 tahun 2009 tentang


Rumah Sakit
2. Undang-Undang No. 36 th 2014 tentang Tenaga
Kesehatan
3. Kepmenkes RI No. 72 th 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di RS
4. Peraturan Pemerintah No. 51 th 2009 tentang
Pekerjaan Kefarmasiaan
UU RI No. 44 th 2009 tentang RS
Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan per-orangan secara
paripurna yang menyediakan pela-yanan rawat inap, rawat jalan,
dan gawat darurat

Pasien adalah setiap orang yang melakukan konsultasi


masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan
kesehatan yang diperlukan, baik secara langsung
maupun tidak langsung di Rumah Sakit.

Rumah Sakit dapat didirikan oleh Pemerintah,


Pemerintah Daerah, atau swasta
RS Berdasarkan jenis pelayanannya
Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus.

Rumah Sakit Umum memberikan


pelayanan kesehatan pada semua bidang
dan jenis penyakit.

Rumah Sakit Khusus memberikan pelayanan utama


pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu
berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis
penyakit, atau kekhususan lainnya.
Klasifikasi RS berdasarkan fasilitas
dan kemampuan RS

• Rumah Sakit umum kelas A

• Rumah Sakit umum kelas B

• Rumah Sakit umum kelas C

• Rumah Sakit umum kelas D


Penjelasan :
Kelas A mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit 4 spesialis dasar, 5
spesialis penunjang medik, 12 spesialis lain dan 13
subspesialis.
Kelas B mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit 4 spesialis dasar, 4
spesialis penunjang medik, 8 spesialis lain dan 2
subspesialis dasar.
Kelas C mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit 4 spesialis dasar dan 4
spesialis penunjang medik.
Kelas D mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit 2 spesialis dasar.
Klasifikasi RS Berdasarkan Pengelolaan
nya
1. 2 macam yaitu Rumah Sakit publik dan Rumah Sakit
privat.
2. Rumah Sakit PUBLIK sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dapat dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah
Daerah, dan badan hukum yang bersifat nirlaba.
3. Rumah Sakit publik yang dikelola Pemerintah dan
Pemerintah Daerah diselenggarakan berdasarkan
pengelolaan BLU atau BLUD sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
lanjutan :

• Rumah Sakit PRIVAT dikelola oleh badan


hukum dengan tujuan profit yang berbentuk
Perseroan Terbatas atau Persero.
Aspek Perijinan RS
1. izin operasional diberikan untuk jangka waktu 5 (lima)
tahun dan dapat diperpanjang kembali selama memenuhi
persyaratan.
2. Izin Rumah Sakit kelas A dan Rumah Sakit penanaman
modal asing atau penanaman modal dalam negeri
diberikan oleh Menteri setelah mendapatkan
rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang
kesehatan pada Pemerintah Daerah Provinsi.
Aspek Perijinan RS-lanjutan
3. Izin Rumah Sakit kelas B diberikan oleh Pemerintah Daerah
Provinsi setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang
berwenang di bidang kesehatan pada Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota.
4. Izin Rumah Sakit kelas C dan kelas D diberikan oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapat
rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang
kesehatan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
Peningkatan Mutu RS
• dilakukan akreditasi secara berkala minimal 3 (tiga)
tahun sekali.
• Akreditasi Rumah Sakit dilakukan oleh suatu lembaga
independen baik dari dalam maupun dari luar negeri
berdasarkan standar akreditasi yang berlaku.
Lembaga independen saat ini adalah KARS (Komisi
Akreditasi RS)
Hak-Hak Pasien
1. memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku
di Rumah Sakit;
2. memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien;
3. memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi;
4. memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar
profesi dan standar prosedur operasional;
5. memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar
dari kerugian fisik dan materi;
6. mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan;
7. memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan
peraturan yang berlaku di Rumah Sakit;
Hak Pasien – Lanjutan
8. meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada
dokter lain yang mempunyai Surat Izin Praktik (SIP) baik di dalam
maupun di luar Rumah Sakit;
9. mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita
termasuk data-data medisnya;
10. Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan
medis, tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan
komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap tindakan
yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan;
11. memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan
dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang
dideritanya;
12. didampingi keluarganya dalam keadaan kritis;
Hak Pasien – Lanjutan
13. menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya
14. memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam
perawatan di Rumah Sakit;
15. mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap
dirinya;
16. menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama
dan kepercayaan yang dianutnya;
17. menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga
memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara
perdata ataupun pidana;
18. mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar
pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan
PP. 51 tentang PEKERJAAN KEFARMASIAN

• Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan


pekerjaan kefarmasian, terdiri atas apoteker dan
tenaga teknis kefarmasian (TTK)
• Tenaga Teknis Kefarmasian adalah : tenaga yang
membantu Apoteker dalam menjalani pekerjaan
kefarmasian. Terdiri dari : Sarjana Farmasi, Ahli
madya farmasi, Analis Farmasi, dan tenaga
menengah farmasi.
• TTK harus mempunyai tanda registrasi yaitu STRTTK
• STRTTK diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Propinsi
Pelayanan Kefarmasian

Pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan


dengan sediaan farmasi, dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk
meningkatkan mutu kehidupan pasien

Instalasi farmasi adalah unit pelaksana fungsional yang menyelenggarakan


seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit.

Terbagi dalam 2 standar : Pengelolaan Sediaan Farmasi, dan alat kesehatan &
Bahan Medis Habis Pakai (BMHP)

Resep adalah permintaan tertulis dari dokter / dokter gigi, kepada


Apoteker baik dalam bentuk paper /elektronik utk menyediakan /
menyerahkan obat sesuai peraturan
KEGIATAN di INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT (Pada
umumnya)

FARMASI KLINIK

SELEKSI & PERENCANAAN MONITORING

INSTALASI DISTRIBUSI
PENGADAAN/PEMBELIAN FARMASI

PENERIMAAN PRODUKSI dan


Handling Cytotoxic

PENYIMPANAN

1
Pengelolaan Perbekalan Farmasi
a. Perencanaan
Perencanaan bertujuan untuk menyusun kebutuhan
perbekalan farmasi yang tepat sesuai kebutuhan,
mencegah terjadinya kekosongan / kekurangan barang
farmasi , mendukung / meningkatkan penggunaan
perbekalan farmasi yang efektif dan efisien.
b. Pengadaan
Pengadaan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
perbekalan farmasi yang berkualitas berdasarkan fungsi
perencanaan dan penentuan kebutuhan.
c. Penerimaan
Penerimaan bertujuan untuk mendapatkan perbekalan
farmasi yang berkualitas sesuai kebutuhan.
Lanjutan : Pengelolaan PB
d. Penyimpanan
Penyimpanan bertujuan untuk menjaga agar mutu
perbekalan farmasi tetap terjamin, menjamin kemudahan
mencari perbekalan farmasi dengan cepat pada waktu
dibutuhkan untuk mencegah kehilangan perbekalan farmasi
e. Pendistribusian
Pendistribusian bertujuan untuk memberikan perbekalan
farmasi yang tepat dan aman pada waktu dibutuhkan oleh
pasien.
f. Monitoring dan Evaluasi
Bertujuan untuk mengevaluasi seluruh proses pengelolaan
dari mulai perencanaan hingga distribusi obat / PB. Jika
ditemukan hal-hal yang perlu diperbaiki / di tinjau kembali,
misal nya tentang adanya obat macet, ED, rusak, dll
Kita pelajari tahap demi tahap
dalam pengelolaan Perbekalan
Farmasi
A. Perencanaan

Seleksi Obat
Pertimbangkan Anggaran RS

Panitia Farmasi & Terapi Pertimbangkan Kebutuhan lalu

Pertimbangkan Sisa Stock


Formularium RS / Fornas
B. Pengadaan / Pembelian
Kriteria PBF / Rekanan :
Kriteria Pemilihan
PBF/Rekanan 1. Legalitas Perusahaan
2. Kontinuitas ketersediaan
Cara Pengadaan : barang
Pembelian langsung, 3. Respon Time
tender, kontrak, hibah, 4. Harga / diskon
droping, dll 5. Layanan purna jual : bisa
retur dll
Waspada terhadap
6. Cara pembayaran : COD
Disributor ilegal
dan jatuh tempo

Distribusi dan
Pengemasan ulang
c. Penerimaan
cek kesesuaian doku-men Sesuai Permenkes 72 th
dengan barang, cek ED, 2016, maka obat yang
cek fisik, dll diterima harus
mempunyai ED paling
pendek 2 th ke depan.
Kecuali ada ketentuan
Diterima oleh petugas lain, dengan ED lebih
yang mempunyai STR pendek dari 2 th misal
vaksin, dll

Cek harga sesuai dengan


kontrak dan faktur
terlampir
d. Penyimpanan : bertujuan untuk keamanan
dan stabilitas barang
Penyimpanan bisa
High Alert berdasarkan :
Prinsip FIFO,
(berlabel)
FEFO 1. Kelas farmakoterapi
dipisahkan
2. Suhuproduk termolabil
B3, mudah 3. Alfabetis
Obat LASA
terbakar
diberi label 4. Bentuk sediaan
dipisahkan
5. Produk Nutrisi dipisahkan
6. Untuk Narkotika dan
Obat Emergency di Psikotropika, sesuai UU
kelola dan dicek
secara rutin oleh
petugas farmasi
DISTRIBUSI LANJUT PERTEMUAN
KE-2