Anda di halaman 1dari 6

Resin dan

Karakteristik
Polyvinyl
Chloride
PVC secara umum dikenal sebagai vinyl resin, dibuat dari
polimerisasi vinyl chloride melalui reaksi radikal bebas, dengan
metode suspensi, emulsi, larutan atau bulk.
n CH2=CHCl  -(CH2-CHCl)n-
Monomer terutama akan tersusun head to tail sepanjang back bone.
Kebanyakan PVC yang digunakan dalam molding dibuat melalui
metode suspensi, dengan menyuspensikan droplet monomer
berukuran 10 – 100 nm dalam air. Pengaturan ukuran partikel,
bentuk dan distribusi ukurannya dilakukan dengan memvariasikan
dispersing agent dan kecepatan pengadukan.
Mikro struktur PVC kebanyakan atactic, dengan sedikit fraksi (± 5%)
syndiotactic. Pada dasarnya berrantai linier dan kadangkala dengan
sedikit percabangan pendek. Syndiotacticity meningkat dengan
turunnya suhu polimerisasi. Seringkali diindikasikan dari K-value.
Karena adanya kandungan gugus Cl  polar polimer.
Komersial polimer memiliki Mw: 100,000 – 200,000 dan Mn: 45,000
– 60,000; Mw/Mn: 2.
Tg PVC bervariasi dengan metode polimerisasinya berada pada
range 60 – 80°C.
PVC memiliki sifat tahan thd flame yang baik.
Karena sensitif terhadap panas, sejarah termalnya harus dikontrol
dengan dengan benar untuk menghindari dekomposisi.
Pada suhu diatas 70°C, akan terjadi degradasi PVC melepaskan
HCl dan menghasilkan pembentukan ketidakjenuhan pada rantai
utamanya yang diindikasikan dengan perubahan warna dari
polimernya  kuning  coklat  hitam berturut-turut sesuai
dengan derajad degradasinya. Pelepasan HCl mempercepat
terjadinya degradasi lebih lanjut yang dikenal sebagai autocatalytic
decomposition. Oleh karenanya dalam polimernya ditambahkan
thermal stabilizer untuk mengurangi kecenderungan sda.
UV stabilizer juga ditambahkan untuk melindungi material dari sinar
UV yang juga bisa menyebabkan lepasnya HCl.
Stabilizer yang seringkali ditambahkan adalah lead compound yang
akan bereaksi dengan HCl yang dilepas selama degradasi.
Biasanya yang digunakan adalah lead carbonate atau white lead
dan tribasic lead sulfate.
Stabilizer yang lain meliputi: metal stearat, ricinoleates, palmitat dan
octoates. Penambahan Cd-Ba system akan menghasilkan sifat
sinergis.
Organo-tin compound juga digunakan sebagai stabilizer untuk
menghasilkan clear compound.
Additives lain yang seringkali digunakan antara lain: fillers (talc,
CaCO3, clay) stiffness, lubricants, pigments dan plasticizers
(primer, sekunder, ekstender)  Tg & Tm  thermal exposure.
Karena HCl dapat terlepas selama proses, maka harus ada
perhatian terhadap kemungkinan korosi logam dari bagian-bagian
mesin. Mold, tooling dan screw harus diinspeksi secara teratur.
PVC (low molecular weight)
Terdapat banyak cara untuk meningkatkan sifat alir PVC yang akan
menghasilkan variasi produk dan konsekuensi ekonomis, spt mis
penggunaan flow modifier, komponen polimer yang mudah
mengalir, lubricants, kopolimerisasi dengan comonomer VA atau
propylene, prosesing pada suhu tinggi ‘sepanjang stabilitas
panasnya tinggi’ dan reduksi BM polimer dengan polimerisasi suhu
tinggi atau dengan penggunaan agent pengatur panjang rantai.

Prosesing high flow PVC jauh lebih mudah dibandingkan dengan


prosesing grade PVC dengan BM lebih tinggi.
Aplikasi PVC dengan kemampuan alir dan stabilitas tinggi untuk produk rigid
memiliki banyak keuntungan dari sudut pandang ekonomi, ekologi dan
prosesing:
 Better yield untuk IM dan EM
 Beban yang lebih rendah pada torque peralatan proses dan tekanan
injeksi
 Permukaan yang sangat kilap
 Hemat additives spt flow modifier, lubricants dan thermal stabilizer
 Diproses pada suhu yang lebih rendah (10-15°C)
 Aplikasi baru
 Kemungkinan penggunaan stabilizer yang lebih ‘bersahabat’, bebas dari
logam berat

• Beberapa produsen:
 BASF- Jerman (Vinoflex S5015)
 Solvay-Belgia (Solvic 250 SA)
 Lucky-Korea selatan (LS-050)
 LVM-Belanda (Marvylan S-5002)
 Nitrogen (Petrochemical) Works “ Wloclawek”-Polandia (Polanvil S-52
HF)