Anda di halaman 1dari 10

Resin dan

Karakteristik
Polypropylen
e
General character
Good RT° Impact strength
Poor impact strength at cold T°
Good chemical resistance
High abrasion resistance
High melting strength
Very low water absorption
Crystalline structure
MP: 170°C
Memiliki struktur molekul yang mirip
dengan PE kecuali untuk substitusi dari
satu grup hidrogen dengan grup methyl
untuk setiap carbon.
Disintesa dari proses polimerisasi
propylene, suatu monomer yang
diturunkan dari produk minyak bumi
dengan reaksi sbb.:
n H2C=CH [ CH2CH ]n
CH3 CH3
Merupakan reaksi polimerisasi adisi yang diinduksi katalis yang
akan mengontrol stereochemistry selama polimerisasi
menghasilkan taktisitas yang berragam (atactic, isotactic,
syndiotactic)
Katalis yang digunakan: Ziegler-Natta, Metallocene
Range Mn: 38,000 – 60,000 dan Mw: 220,000 – 700,000 dengan
Mw /Mn: 2 – 11
Syndiotactic polimer memiliki Tm lebih rendah dibandingkan
isotactic.
Isotactic polimer merupakan bentuk yang paling komersial dengan
Tm: 165°C.
Atactic PP memiliki jumlah crystalinity yang kecil (5-10%) karena
strukturnya yang tidak beraturan mencegah terjadinya kristalisasi,
menghasilkan material yang soft dan flexible.
Tidak seperti PE dimana mengkristal pada bentuk planar zigzag, PP
mengkristal dalam bentuk heliks akibat adanya gugus methyl pada
rantainya.
Komersial polimer ± 90 – 95% nya adalah isotactic. Jumlah
isotacticity yang terdapat pada rantai akan mempengaruhi sifat
material. Dengan bertambahnya isotactic index  crystallinity
meningkat menghasilkan peningkatan modulus, SP dan kekerasan
Isotactic PP lebih keras dan memiliki SP > PE, shg biasa digunakan
bila dibutuhkan material yang lebih keras.
PP kurang tahan terhadap degradasi terutama oksidasi pada T°
tinggi db PE, tetpai memiliki ESCR yang lebih baik. Turunnya
ketahanan thd degradasi disebabkan dari keberadaan C tersier shg
memudahkan pemindahan hidrogen, sebagai akibatnya dibutuhkan
penambahan antioxidant untuk memperbaiki ketahanannya
terhadap oksidasi.
Mekanisme degradasi PP berbeda dengan PE. PE akan mengalami
cross link pada oksidasi, sedangkan PP akan mengalami
pemutusan rantai. Hal ini juga berlaku pada material saat diekspose
pada energi radiasi yang tinggi, metoda yang seringkali digunakan
untuk cross-link PE.
PP merupakan satu dari plastik yang paling ringan dengan density
0.905.
Sifat nonpolarnya memberikan sifat absorpsi air yang rendah.
PP memiliki resistensi kimia yang baik, tetapi cairan seperti Cl-
solvent, gasoline dan xylene akan mempengaruhinya.
PP memiliki konstanta dielektrik rendah  insulator yang baik.
Kesulitan dalam bonding PP dapat diperbaiki dengan penggunaan
perlakuan permukaan untuk memperbaiki karakter adesinya.
Dengan pengecualian UHMWPE, PP memiliki Tg dan
MP yang lebih tinggi dari PE. Proses PP membutuhkan
suhu yang lebih tinggi. Karena SP yang lebih tinggi, PP
dapat bertahan dalam air mendidih dan dapat digunakan
dalam aplikasi yang membutuhkan steam sterilization.
PP juga lebih tahan terhadap cracking in bending
dibandingkan PE sehingga banyak digunakan dalam
pembuatan tali, tapes, carpet fibers, dll.
Satu kelemahan PP adalah low T° brittleness behavior
 brittle ~ 0°C. sifat ini dapat diperbaiki melalui
kopolimerisasi dengan ethylene.
PP lebih non newtonian db PE, panas spesifik PP < PE.
Melt visco PE lebih kurang T°sensitive db PP.
Mold shrinkage PP p.u. < PE, tetapi tergantung pada
kondisi prosesing aktual.
Tidak seperti polimer yang lain, peningkatan BM PP
tidak selalu diterjemahkan memperbaiki karakter. Melt
visco dan impact akan meningkat dengan peningkatan
BM, tetapi diringi dengan penurunan kekerasan dan SP
yang diakibatkan dari penurunan kemampuan polimer
untuk mengkristal.
DBM memiliki implikasi penting dalam proses. PP
dengan DBM lebar lebih shear sensitive dibandingkan
dengan DBM sempit. DBM lebar  aplikasi injection
molding lebih baik.
Banyak grade PP dapat dibuat sesuai dengan aplikasi
spesifik. Gradenya dapat diklasfikasikan dari flow
ratenya yang tergantung baik pada Mn dan DBM. Flow
rate yang lebih rendah digunakan dalam aplikasi
ekstrusi. Dalam injection molding, flow rate rendah
digunakan untuk produk tebal dan flow rate tinggi
digunakan untuk produk tipis.
PP dapat diproses dengan metode ~ PE. Suhu
proses p.u. berkisar 210 – 250°C. waktu
pemanasan harus diminimalkan untuk
mengurangi kemungkinan oksidasi.
Blow molding PP membutuhkan melt T° dan
shear yang lebih tinggi tetapi kondisi tsb
cenderung mempercepat degradasi PP. screw
zona metering harus memiliki jarak yang cukup
(tidak dangkal / rapat) untuk menghindari shear
yang berlebihan. Untuk screw 60 mm tipikal
jaraknya: 2.25 mm dan 3.0 mm untuk 90 mm.
Beberapa additives yang dapat digunakan pada
PP a.l.: glass reinforcement, coupling agent,
CaCO3, talc, pigment, A.O., nucleating agent,
Carbon black, antiblocking, slip agent, antistatic,
EP-rubber
Copolymer PP paling umum adalah
dengan ethylene. Kandungan
comonomernya antara 1 – 7% yang
terletak secara acak pada back bone
 produk yang lebih flexible,
meningkatkan impact, menurunkan
Tm, meningkatkan clarity. Derajad
kelenturan meningkat dengan
naiknya kandungan ethylene  EP
rubber.
 Karakteristik proses
Range T° proses: 190 – 232°C (375 – 450°F)
Feed : 187 – 199°C (370 – 390°F)
Transition : 199 – 226°C (390 – 440°F)
Metering : 199 – 226°C (390 – 440°F)
Head : 199 – 226°C (390 – 440°F)

Dalam kondisi normal, tidak membutuhkan pengeringan


Regrind ratio s/d 100% dapat digunakan untuk dua generasi dengan
pengaruh yang kecil pada sifat fisik. Catatan: pada PP yang
ditambahkan pigment putih, garis kuning dapat timbul bila
regrindnya digunakan. Penurunan T° 10 – 20°F akan bisa
mengurangi.
Die swell: 2 – 3 : 1 tergantung pada disain die dan kecepatan
tekanan pengeluaran
Blow up ratio: maximum 3:1 untuk performance molding terbaik.
desain mold akan menurunkan ratio sda.
Hang strength (a function of drop time and size): very good (pada T°
proses yang tepat).
Shrinkage: 0.3 – 0.33 mm/m
Residence time ~ PE tetapi akan terdegradasi lebih cepat. Jika
proses akan dihentikan sementara harus dipastikan untuk mengisi
dan bersihkan head tiap 20 menit.
T° mold cooling: 5.5° -23.8°C (50 – 75°F) untuk memberikan CT
optimum
CT seringkali dibatasi oleh shrinkage produk