Anda di halaman 1dari 24

implementasi

PERATURAN PEMERINTAH
NOMOR 22 TAHUN 2010
TENTANG
WILAYAH PERTAMBANGAN
(modul 1)

nugroho w. wibowo
LEGAL FORMAL

UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 2009


TENTANG
MINERBA
Diundangkan pada tanggal 12 Januari 2009

PERATURAN PERATURAN PERATURAN PERATURAN


PEMERINTAH PEMERINTAH PEMERINTAH PEMERINTAH
NOMOR 22 TAHUN 2010 NOMOR 23 TAHUN NOMOR 55 TAHUN NOMOR 78 TAHUN
TENTANG 2010 2010 2010
WILAYAH TENTANG TENTANG TENTANG
PELAKSANAAN PEMBINAAN DAN REKLAMASI DAN
PERTAMBANGAN
KEGIATAN USAHA PENGAWASAN PASCA TAMBANG
PERTAMBANGAN PERTAMBANGAN Diundangkan pada tanggal
Diundangkan pada tanggal MINERBA Diundangkan pada tanggal
20 Desember 2010
1 Februari 2010
Diundangkan pada tanggal 5 Juli 2010
1 Februari 2010

79 PERATURAN/KEPUTUSAN MENTERI
nugroho w. wibowo, tekMIRA
WILAYAH PERTAMBANGAN
(WP)
Wilayah Pertambangan yang selanjutnya disebut WP, adalah
wilayah yang memiliki potensi mineral dan/atau batubara dan
tidak terikat dengan batasan administrasi pemerintahan yang
merupakan bagian dari rencana tata ruang nasional.

WILAYAH WILAYAH WILAYAH


USAHA PENCADANGAN PERTAMBANGAN
PERTAMBANGAN NEGARA RAKYAT
(WUP) (WPN) (WPR)
Wilayah Usaha Pertambangan Wilayah Pencadangan Wilayah Pertambangan Rakyat
yang selanjutnya disebut WUP, Negara yang selanjutnya yang selanjutnya disebut WPR,
adalah bagian dari WP yang disebut WPN, adalah bagian adalah bagian dari WP tempat
telah memiliki ketersediaan dari WP yang dicadangkan dilakukan kegiatan usaha
data, potensi, dan/atau untuk kepentingan strategis pertambangan rakyat.
informasi geologi. nasional.

TIDAK SALING TUMPANG TINDIH


nugroho w. wibowo, tekMIRA
Pasal 2 Pengertian WP yang tertuang pada Pasal 1 butir 8
(1) WP merupakan kawasan yang tentang Wilayah Pertambangan yang mengaitkan
memiliki potensi mineral dan/atau dengan Rencana Tata Ruang Nasional.
batubara, baik di permukaan tanah Dalam penetapan kriteria Seharusnya penetapan
maupun di bawah tanah, yang berada Wilayah Pertambangan mempertimbangkan :
dalam wilayah daratan atau wilayah laut  Keppres 32 Tahun tahun 1990 tentang
untuk kegiatan pertambangan. Pengelolaan Kawasan Lindung
(2) Wilayah yang dapat ditetapkan sebagai  Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang
WP sebagaimana dimaksud pada ayat Kehutanan
(1) memiliki kriteria adanya:  Undang-undang No. 22 Tahun 2001 tentang
a. indikasi formasi batuan pembawa MIGAS
mineral dan/atau pembawa batubara;  Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Tata
dan/atau Ruang
b. potensi sumber daya bahan tambang  Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang
yang berwujud padat dan/atau cair. RTRWN
 Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2010 tentang
Penggunaan Kawasan Hutan

nugroho w. wibowo, tekMIRA


Dibawah kordinasi/subordinasi pemerintah

WUP WIUP IUP

WILAYAH WPN WIUPK IUPK


PERTAMBANGAN

WPR WIPR IPR

KEWENANGAN PENETAPAN OLEH MENTERI

KEWENANGAN PENETAPAN OLEH MENTERI DAPAT DILIMPAHKAN KEPADA GUBERNUR


UNTUK MINERAL BUKAN LOGAM DAN MINERAL BATUAN

KEWENANGAN PENETAPAN OLEH BUPATI/WALIKOTA


nugroho w. wibowo, tekMIRA
Pasal 20
(2) WUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus memenuhi kriteria:
a. memiliki formasi batuan pembawa batubara,
formasi batuan pembawa mineral logam,
dan/atau formasi batuan pembawa mineral
radioaktif, termasuk wilayah lepas pantai Pasal 22
berdasarkan peta geologi;
b. memiliki singkapan geologi untuk mineral
(1) Untuk menetapkan WIUP dalam suatu WUP
radioaktif, mineral logam, batubara, mineral sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2)
bukan logam, dan/atau batuan; harus memenuhi kriteria:
c. memiliki potensi sumber daya mineral atau a. letak geografis;
batubara; b. kaidah konservasi;
d. memiliki 1 (satu) atau lebih jenis mineral c. daya dukung lingkungan;
termasuk mineral ikutannya dan/atau batubara;
e. tidak tumpang tindih dengan WPR dan/atau
d. optimalisasi sumber daya mineral
WPN; dan/atau batubara; dan
f. merupakan wilayah yang dapat dimanfaatkan e. tingkat kepadatan penduduk.
untuk kegiatan pertambangan secara
bekelanjutan; dan
g. merupakan kawasan peruntukan pertambangan
sesuai dengan rencana tata ruang.

nugroho w. wibowo, tekMIRA


Pasal 26
(2) WPR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi
kriteria:
a. mempunyai cadangan mineral sekunder yang terdapat
di sungai dan/atau diantara tepi dan tepi sungai;
b. mempunyai cadangan primer logam atau batubara
dengan kedalaman maksimal 25 (dua puluh lima)
meter;
c. merupakan endapan teras, dataran banjir, dan endapan
sungai purba;
d. luas maksimal WPR sebesar 25 (dua puluh lima)
hektare;
e. menyebutkan jenis komoditas yang akan ditambang;
dan/atau
f. merupakan wilayah atau tempat kegiatan tambang
rakyat yang sudah dikerjakan sekurang-
kurangnya 15 (lima belas) tahun;
g. tidak tumpang tindih dengan WUP dan WPN; dan
h. merupakan kawasan peruntukan pertambangan
sesuai dengan rencana tata ruang.

nugroho w. wibowo, tekMIRA


Pasal 29
(2) WPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus memenuhi kriteria:
a. memiliki formasi batuan pembawa
mineral radioaktif, mineral logam, Pasal 32
dan/atau batubara berdasarkan peta/data Untuk menetapkan WIUPK
geologi; dalam suatu WUPK
b. memiliki singkapan geologi untuk mineral sebagaimana dimaksud dalam
radioaktif, logam, dan/atau batubara Pasal 30 ayat (2) harus
berdasarkan peta/data geologi; memenuhi kriteria:
c. memiliki potensi/cadangan mineral • letak geografis;
dan/atau batubara; dan • kaidah konservasi;
d. untuk keperluan konservasi komoditas • daya dukung lingkungan;
tambang; • optimalisasi sumber daya
e. berada pada wilayah dan/atau pulau yang mineral dan/atau batubara;
berbatasan dengan negara lain; dan
f. merupakan wilayah yang dilindungi; • tingkat kepadatan
dan/atau penduduk;
g. berada pada pulau kecil dengan luas
maksimal 2.000 (dua ribu) kilometer
persegi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
nugroho w. wibowo, tekMIRA
PERKEMBANGAN PENETAPAN WILAYAH PERTAMBANGAN

KETENTUAN PERALIHAN
 
Pasal 39
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku:
1. Instansi Pemerintah, pemerintah provinsi, atau pemerintah kabupaten/kota yang belum
menggunakan sistem koordinat peta berdasarkan Datum Geodesi Nasional yang ditetapkan
oleh instansi Pemerintah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang survei dan
pemetaan nasional wajib menyesuaikan dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan.
2. Wilayah surat izin pertambangan daerah dan wilayah kuasa pertambangan yang telah
diberikan kepada pemegang Surat Izin Pertambangan Daerah atau Kuasa Pertambangan yang
diberikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan sebelum diterbitkannya
Peraturan Pemerintah ini, dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak berlakunya
Peraturan Pemerintah ini, harus ditetapkan menjadi WIUP dalam WUP sesuai dengan
ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.
3. Wilayah kontrak karya dan wilayah perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara
yang telah diberikan kepada pemegang kontrak karya dan pemegang perjanjian karya
pengusahaan pertambangan batubara yang diberikan berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan sebelum diterbitkannya Peraturan Pemerintah ini, dalam jangka waktu
paling lambat 3 (tiga) bulan sejak berlakunya Peraturan Pemerintah ini, harus ditetapkan
dalam WUP sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.

nugroho w. wibowo, tekMIRA


PERMASALAHAN
HINGGA SAAT INI PETA WILAYAH PERTAMBANGAN BELUM SELESAI
DITETAPKAN
• Banyak pemohon KP ataupun IUP yang sedang dalam proses dan belum diterbitkan IUP nya melakukan
protes dan merasa dirugikan karena bagi mereka tidak diberikan pengecualian.
• Surat Edaran yang bersifat himbauan tersebut dianggap tidak mengikat bagi para regulator pertambangan di
daerah (para Kepala Daerah) sehingga banyak terjadi upaya manipulasi proses dengan memundurkan jauh
kebelakang waktu pengajuan IUP oleh para pemohon.
• Penyesuaian KP menjadi IUP seperti yang dimaksud oleh Surat DIRJEN MINERBAPABUM no :
1099/30/DJB/2010, tanggal 22 April 2010 dibatasi oleh waktu akhir per tanggal 31 Mei 2010 harus sudah
diterima oleh Direktorat Jenderal Minerbapabum dalam bentuk digital ber format MapInfo. Hal ini
menyulitkan daerah secara berjenjang dari tingkat Kabupaten/Kota ke tingkat Provinsi selanjutnya ke
lingkungan Kementerian ESDM sehingga hasilnya tidak maksimal.
• Akibat pemahaman yang keliru tentang WUP dan WP dalam peta yang disampaikan ke Direktorat Jenderal
Minerbapabum banyak WP yang didalamnya dirancukan oleh WPR atau bahkan banyak IUP (SIPD) yang
tidak dimasukan sebagai WUP (penggelapan wilayah)
• Terjadinya resistensi dari sementara Bappeda terkait penerapan WP yang dianggap mengakuisisi struktur
ruang wilayah Kabupaten/Kota
• Banyak perusahaan tidak menyerahkan data eksplorasi nya pada saat melakukan proses pengajuan KP/IUP
operasi produksi seperti yang disyaratkan pasal 23 Peraturan Pemerintah nomor 23 tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral Dan Batubara.

Surat Edaran Nomor: 03.E/31/DJB/2009. tertanggal 30 Januari 2009 perihal : Perizinan Pertambangan Mineral
dan Batubara Sebelum Terbitnya Peraturan Pemerintah
Surat DIRJEN MINERBAPABUM no : 1053/30/DJB/2009 tertanggal 24 Maret 2009 yang memberikan format
IUP terkait perubahan KP menjadi IUP
Surat DIRJEN MINERBAPABUM no : 1099/30/DJB/2010, tanggal 22 April 2010, perihal Penyesuaian KP
menjadi IUP

Undang-undang nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus VS PP 38 Tahun 2007


Workshop rekonsiliasi penetapan WP tgl 5 Mei 2011 tidak juga menuntaskan WP dan berkembang dengan
diketemukannya masalah baru
nugroho w. wibowo, tekMIRA
nugroho w. wibowo, tekMIRA
nugroho w. wibowo, tekMIRA
nugroho w. wibowo, tekMIRA
Tabel 5.3. DAFTAR ISIAN MASALAH PERBANDINGAN KRITERIA WP

PERATURAN PERATURAN PEMERINTAH PERATURAN PEMERINTAH


PEMERINTAH NOMOR 22 TAHUN 2010 NOMOR 24 TAHUN 2010 KRITERIA YANG
NOMOR 26 WILAYAH PENGGUNAAN DIUSULKAN
TAHUN 2008 PERTAMBANGAN KAWASAN
RTRWN HUTAN

Pasal 68 Pasal 2 Pasal 5 a. Memiliki indikasi formasi batuan


Ayat (3) Kriteria (1) Penggunaan kawasan hutan untuk kegiatan pembawa mineral dan/atau
(1)WP merupakan kawasan yang
teknis kawasan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 pembawa batubara; dan/atau
memiliki potensi mineral
peruntukan ayat (2) huruf b dilakukan dengan ketentuan:  b. Memiliki potensi sumber daya bahan
pertambangan dan/atau batubara, baik di a.dalam kawasan hutan produksi dapat dilakukan
permukaan tanah maupun di tambang yang berwujud padat
ditetapkan oleh penambangan dengan pola pertambangan terbuka,dan dan/atau cair.
menteri yang bawah tanah, yang berada dalam penambangan dengan pola pertambangan bawah tanah;
wilayah daratan atau wilayah laut c. Tidak berada pada kawasan Hutan
tugas dan tanggung b. dalam kawasan hutan lindung hanya dapat dilakukan Konservasi yang terdiri :
jawabnya di untuk kegiatan pertambangan. penambangan dengan pola pertambangan 1. Hutan Suaka Alam terdiri dari
bidang (2)Wilayah yang dapat bawah tanah Cagar Alam dan Suaka
pertambangan. ditetapkan sebagai WP dengan ketentuan dilarang mengakibatkan, Margasatwa;
sebagaimana dimaksud pada ayat turunnya permukaan tanah; berubahnya fungsi pokok 2. Hutan Pelestarian Alam terdiri dari
(1) memiliki kriteria adanya: kawasan hutan secara permanen; dan Taman Nasional, Taman Hutan
a.indikasi formasi batuan terjadinya kerusakan akuiver air tanah.   Raya dan Taman Wisata
pembawa mineral dan/atau (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai  penambangan Alam;
pembawa batubara; dan/atau bawah tanah pada hutan lindung diatur dengan d. Tidak berada pada kawasan
b.potensi sumber daya bahan Peraturan Presiden. perkotaan dan instalasi
tambang yang berwujud padat strategis dan militer;
dan/atau cair. e. Telah ditetapkan dalam struktur ruang
RUTR Provinsi/Kab/Kota
f. Kriteria yang bersifat teknis diatur
dalam tata cara penyusunan
Wilayah Usaha Pertambangan,
Wilayah Pertambangan Rakyat
dan Wilayah Pencadangan
Negara;

nugroho w. wibowo, tekMIRA


PROPOSED

WILAYAH PERTAMBANGAN adalah ruang imajiner


yang secara geologi memilIki potensi sumberdaya mineral
dan batubara serta minyak dan gas bumi dimana dalam
pemanfaatannya didasarkan pada sinergi dengan sektor
pengguna ruang (spatial) lainnya

nugroho w. wibowo, tekMIRA


POLA PIKIR KAJIAN

1. Analisis kebijakan
prospektif
ANALISIS
2. Analisis kebijakan
KEBIJAKAN retrospektif
PUBLIK
3. Analisis kebijakan
terintegrasi

•REKOMENDASI
WILAYAH KRITERIA PERMEN/KEPMEN
PETAMBANGAN PENETAPAN DIM KELUARAN •PERDA PROVINSI
(PP 22/2010) WP •PERDA KAB/KOTA

PENGGUNAAN
KAWASAN GENETIKA
HUTAN WILAYAH
(PP 24/2010)

Permenhut No. P.18/Menhut_II/2011


Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan
feedback
nugroho w. wibowo, tekMIRA
TABEL 2.1
INVENTARISASI DAN PERBANDINGAN PASAL TERKAIT KRITERIA DAN PENETAPAN
WILAYAH PERTAMBANGAN (WP)

nugroho w. wibowo, tekMIRA


UJI MATERI PERATURAN PEMERINTAH NO 22 TAHUN 2010
TENTANG
WILAYAH PERTAMBANGAN

Peraturan Pemerintah
UU 21 TAHUN 2001,Tentang
No. 38 Tahun 2007
Otonomi Khusus
Pembagian Kewenangan
Pemerintahan
UU 22 TAHUN 2001, Tentang
Minyak Dan Gas Bumi
Hanya mengatur MINERBA

UU No.26 Tahun 2007, Tentang PP. No. 22 Berbeda dalam substansi


Penataan Ruang dan PP nomor 26 tentang kriteria Kawasan
Tahun 2008 Tentang RTRWN. TAHUN 2010 Pertambangan

Hanya menyediakan ruang


Peraturan Pemerintah No. 24 pertambangan pada Kawasan
Tahun 2010, Tentang Penggunaan Lindung untuk Tambang
Kawasan Hutan Dalam

Permenhut No. Semakin ketat persyaratan,


18.P/Menhut_II/2011, Tentang beberapa diantaranya terkait
Pedoman Pinjam Pakai Kawasan dengan PNBP sektor
Hutan Kehutanan

nugroho w. wibowo, tekMIRA


OTSUS VS KEWENANGAN VS UU MINERBA

Peraturan Pemerintah nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan


Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Sebagai turunan dari Undang-undang
Otonomi Khusus tidak mengatur secara jelas kewenangan tersebut sehingga
berdampak pula terhadap mekanisme birokrasi di sektor pertambangan. Seperti
yang tersurat dalam Pasal 19, PP 38 tahun 2007 tersurat dalam ayat (1) bahwa,
Khusus untuk Pemerintahan Daerah Provinsi DKI Jakarta rincian urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota sebagaimana tertuang
dalam lampiran Peraturan Pemerintah ini secara otomatis menjadi kewenangan
provinsi. Sementara dalam ayat (2) disebutkan bahwa ; Urusan pemerintahan di
Provinsi Papua dan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam berpedoman pada
Peraturan Perundang-undangan yang mengatur otonomi khusus daerah yang
bersangkutan.
Masalah yang dihadapi adalah hingga saat ini peraturan perundangan yang
dimaksud hingga saat ini tidak pernah terlahir.

nugroho w. wibowo, tekMIRA


OTONOMI PERTAMBANGAN

V
UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG
21 TAHUN 2001 4 TAHUN 2009
OTONOMI KHUSUS MINERBA

S
PERATURAN PEMERINTAH
PP NOMOR 38/2007
OTSUS ? PEMBAGIAN
???? KEWENANGAN
PEMERINTAHAN

PP PP PP PP
22/2010 23/2010 55/2010 78/2010

Surat DIRJEN MINERBAPABUM No :


PERDASUS/ MRP 1099/30/DJB/2010, tanggal 22 April 2010,
PERDASIS perihal PENYESUAIAN KP MENJADI IUP

INVESTASI
nugroho w. wibowo, tekMIRA PERTAMBANGAN ?????
PERATURAN PERUNDANGAN YANG PERLU DIPERBAIKI
UNTUK MENDUKUNG MP3EI

UU 5 TAHUN 1960, Tentang Peraturan Dasar Memasukan status Tanah Ulayat sebagai
Pokok-Pokok Agraria komponen investasi sehingga pemilik Tanah
Ulayat berpeluang menikmati pertumbuhan
ekonomi daerahnya.

UU 22 TAHUN T 2001, Tentang Minyak Dan Penyederhaan Pola bisnis mekanisme


Gas Bumi penerapan pajak dan pengelolaan asset
cadangan minyak nasional
UU 13 TAHUN 2003, Tentang Terkait pasal-pasl Kontrak Kerja Outsourcing
Ketenagakerjaan dan Pesangon

UU 4 TAHUN 2009, Tentang Pertambangan Terkait masa ijin usaha 20+10+10 tahun dan
Mineral Dan Batubara mekanisme pengubahan dari Perjanjian Kontrak
Kerja menjadi Ijin Usaha

UU 17 TAHUN 2008, Tentang Pelayaran Percepatan pemisahan antara regulator


UU 1 TAHUN 2009, Tentang Penerbangan (Bandara/Pelabuhan) dan operator (Badan
Usaha)

MP3EI : Master Plan Percepatan Dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia


PERATURAN PEMERINTAH NO. 69 TAHUN Terkait dengan Labelisasi barang kemasan
1999, Tentang Label Dan Iklan Pangan dalam bahasa indonesia

PERATURAN PEMERINTAH NO. 62 TAHUN Penetapan Sub-sektor baru sesuai MP3EI yang
2008, Tentang Perubahan PP No.1 Tahun 2007, layak menerima penundaan pajak (Tax
Tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Allowance)
Penanaman Modal

PermenKeu No. 67 TAHUN 2010, Tentang Terkait dengan penerapan BK proggresif untuk
Penetapan Barang Ekspor Yang Dikenakan Bea Kelapa Sawit, Karet, Kakao dan Industri
Keluar (BK) Dan Tarif BK turunannya

nugroho w. wibowo, tekMIRA


HASIL REKONSILIASI
IJIN USAHA PERTAMBANGAN (IUP)
PER TANGGAL 21 MEI 2011

Terinventarisir 8.475 Ijin Usaha Pertambangan (IUP)

3.971 IUP 4.504 IUP


CLEAR AND CLEAN NON CLEAR AND CLEAN

nugroho w. wibowo, tekMIRA


Break

nugroho w. wibowo, tekMIRA