Anda di halaman 1dari 28

Nyeri : An unpleasant sensory or emotional

axperience associated with actual or


potensial tissue damage or described in
terms of such damage.(international
association for the study of pain)
 Nyeri terjadi apabila/menyertai kerusakan
jaringan dan ini menyebabkan seseorang
menarik diri atau menghindar dari sumber
rangsang.
 Nyeri juga merupakan mekanisme
perlindungan bagi tubuh dalam hal ini
bertindak sebagai sistem kontrol atau
alarm terhadap bahaya
 Ambang nyeri adalah stimulus minimal
yang menyebabkan rasa nyeri
 Persepsi nyeri merupakan stimulus
minimal yang menyebabkan seseorang
melaporkan adanya nyeri
 Toleransi nyeri adalah stimulus terendah
yang menyebabkan seseorang menarik diri
atau menghindar dari stimulus.
 Nyeri kepala (headache) adalah gejala umum
yang banyak dialami oleh pasien, ini dapat
terjadi sebagai akibat proses patologis bermakna
atau tidaknya gejala ini bervariasi
 Penyebab nyeri kepala dapat terjadi oleh
berbagai sebab :
– Massa atau tumor
– Perdarahan intra cranial
– Peradangan pada menigens
– Trauma kepala
– Hipoksia serebral
– Stress ataupun karena penyakit sistemik lain
 Patofisiologi nyeri kepala secara pasti
tidak diketahui tetapi pada umumnya
masalah vaskuler dan ketegangan
mendukung terjadinya nyeri kepala
 Ada 2 tipe nyeri kepala yang dikenal
secara umum yaitu ;
1. Migrain headache
2. Tension headache
 Migrain headache merupakan gangguan /
nyeri kepala ditandai dengan adanya
serangan nyeri yang berkepanjangan dan
tiba-tiba dengan vasokontriksi yang diikuti
dengan vasodilatasi.
 Migrain headache dapat diawalai dengan
adanya aura atau berbagai sensasi
prodromal seperti silau, penglihatan ganda
dsb. Dimana yang ini merupakan indikasi
adanya disfungsi serebral fokal yang
diawali dengan gangguan emosional yang
berkepanjangan.
 Emosional yang berkepanjangan akan
menyebabkan refleks vasospasmus dari
beberapa arteri di kepala termasuk arteri
yang menyuplai otak, vasospasmus akan
menyebabkan sebagian otak menjadi
iskemik dan menyebabkan gejala
prodromal. Iskemik yang berkepanjangan
menyebabkan dinding vaskuler menjadi
flasid dan tidak mampu mempertahankan
tonus vaskuler, desakan darah
menyebabkan pembuluh darah berdilatasi
dan terjadi peregangan dinding arteri
sehingga menyebabkan nyeri atau migrain
 Tension headache merupakan nyeri kepala
yang pada umumnya disebabkan oleh
ketegangan atau kontraksi otot-otot leher
dan kepala
 Hal tersebut akan menyebabkan tekanan
pada serabut syaraf dan kontriksi
pembuluh darah pada dasar leher yang
pada gilirannya akan makin menambah
tekanan dan menyebabkan buangan sisa
(asam laktat) menumpuk.
 Akumulasi tersebut menyebabkan
timbulnya nyeri. Ketegangan otot ini pada
umumnya merupakan reaksi yang tidak
disadari terhadap stress. Akan tetapi
aktivitas aktivitas yang membutuhkan
kepala harus bertahan pada satu posisi
dapat menyebabkan nyeri kepala jenis ini
ataupun tidur dengan letak leher yang
tidak benar (tegang) dapat merupakan
penyebab tension headache.
Tekanan Intra Kranial
 Tik adalah suatu manifestasi kompleks
oleh yang diakibatkan oleh suatu kondisi
multipel neurologis dan sering terjadi
secara tiba-tiba
 Peningkatan TIK berkaitan erat dengan
peningkatan volume intrakranial, dimana
volume ini tergantung pada volume
jaringan otak, volume darah, dan volume
cairan serebrospinal.
 Penyebab dapat dikelompokkan :
a. Lesi yang meningkatkan volume jaringan
seperti contusio serebri, hematoma, abses,
tumor intra kranial
b. Gangguan serebrospinal terdiri dari
peningkatan produksi cairan serebrospinal,
adanya hambatan di dalam sistem
ventrikuler, penurunan penyerapan dari
cairan serebrospinal
c. Edema serebral sebagai akibat dari
kelebihan cairan hipotonik dan trauma otak
 Patofisiologi TIK merupakan tekanan yang
ditimbulkan oleh kekuatan statik dan
dinamik di dalam rongga kepala akibat
pergerakan volume intrakranial.
 Rongga kepala berisi jaringan otak dan
pembuluh darah sekitar 80%, volume
darah 10%, dan cairan serebrospinal 10%,
ketiga unsur volume ini berperan dalam
mempertahankan tekanan intrakranial
yang normal berkisar 4 – 15 mm Hg atau
50 – 200 mm H20
 Meningkatnya tekanan dalam rongga
kranial dikompensasi oleh sistem vena dan
cairan serebrospinal, apabila tekanan
terus meningkat maka aliran dalam otak
akan turun dan terjadi perfusi yang tidak
adekuat hal ini akan terjadi peningkatan
pCO2 dan menurunnya p02 dan pH
akan mengakibatkan terjadinya
vasodilatasi dan edema srebral, kejadian
ini memperberat peningkatan TIK dan
kompresi jaringan saraf.
 Kalau peningkatan tekanan melebihi
kemampuan otak untuk kompensasi maka
tekanan akan berlanjut ke struktur sekitar yang
tekanannya lebih rendah (supratentorial shift)
dan menyebabkan terjadinya transtentorial
herniasi yang menekan diensefalon dan batang
otak atau unkal herniasi.
 Herniasi menyebabkan batang otak tertekan dan
ini akan menekan pusat vasomotor, arteri
serebral posterior, N III, serabut kortikospinal
dan serabut-02 ARAS. Apabila ini terjadi maka
mekanisme untuk mempertahankan kesadaran,
tekanan darah, denyut nadi dan suhu (regulasi)
mengalami kegagalan.
 Dampak peningkatan TIK
– Perubahan tingkat kesadaran merupakan
tanda dini penting yang perlu diamati
herniasi.
– Perubahan pupil : respon pupil dikontrol oleh
N III, yang membawa serabut-serabut
sensoris, motoris, parasimpatesis dan
sipatetik. Peningkatan TIK atau perluasan
volume intrakranial menimbulkan penekanan
pada batang otak dimana N III bermuara.
– Gangguan penglihata
– Perubahan tanda-tanda vital
Perubahan Tingkat Kesadaran
 Keadaan sadar adalah keadaan dimana
organisme sadar akan lingkungannya dan
siap untuk bereaksi terhadap rangsangan
baik yang datang dari lingkungan dalam
maupun lingkungan luar.(Taylor &
Balenger, 1980:126).
 Kesadaran adalah suatu keadaan dimana
seseorang menyadari akan diri dan
lingkungannya.(Carieri and Co.,1986:161)
 Isi kesdaran mewakili totalitas fungsi
kognitif dan mental secara efektif.
 Transmisi implus pada keadaan sadar
dikendalikan oleh retikuler asending (RAS)
 RAS tergantung pada stimuli untuk dapat
berfungsi secara benar dalam mekanisme”
kesadaran” rangsangan tersebut dapat datang
dari luar (lewat serabut sensoris) ataupun dari
kortek sendiri yang merupakan aktivitas balikan
dari sistem motoris ataupun sensasi viseral.
 Apabila RAS terstimuli kesuluruhan otak menjadi
aktif termasuk korteks serebral, talamus, basal
gangglia, batang otak, dan medula spinalis
sekali terangsang kortek mengirimkan balik
implus ke RAS yang pada gilirannya merupakan
stimuli lanjutan ke kortek (mekanisme umpan
balik positif). Sehingga dengan demikian terjadi
siklus antara serebral kortek dan RAS, dan ini
akan mempertahankan kesadaran
 Kesadaran tidak hanya tergantung pada
sirkuit neural dengan RAS, tetapi juga
tergantung pada faktor lain yaitu fungsi
metabolik yang menjamin ketersediaan
oksigen secara adekuat, ketersediaan
nutrisi khususnya glukose. Di samping itu
kecepatan dan volume aliran darah
serebral, normal oksihemoglobin dan
permiabilitas berriel darah merupakan
faktor yang penting.
Patofisiologi

 Adanya perubahan atau gangguan tingkat


kesadaran terjadi apabila ada interupsi implus
dari RAS atau kegagalan korteks serebral untuk
merespon implus yang datang
 Gangguan tingkat kesadaran dapat terjadi
karena berbagai sebab :
– Lesi masa subtentorial : lesi yang terjadi di bawah
tentorium seperti perdarahan serebral, tumor atau
abses mengganggu kesadaran dengan menekan atau
menghancurkan RAS di atas area midpons.
– Gangguan metabolik dan disfungsi serebral
 Apabila otak mendapatkan oksigen kurang 2,5
ml/100 mg jaringan otak permenit, secara klinis
akan terjadi delirium dan apabila otak hanya
mendapatkan oksigen kurang dari 2,0 ml/100 mg
jaringan otak permenit pasien akan mengalami
pingsan.
 Hipoksia ; karena konsentrasi Hb, CBF, dan serum
PH
 Hipoglikemia ; kadar glukosa dalam darah dibawah
30 mg % menyebabkan gangguan kesadaran
 Dampak perubahan tingkat kesadaran ;
– Perubahan pola nafas
– Reaksi dan ukuran pupil
– Perubahan fungsi motorik
– Suhu tubuh
– Perubahan tekanan intrakranial
Pengkajian Keperawatan
 Data biografis
 Keluhan utama
– Nyeri/sakit kepala, gangguan motoris, kejang,
gangguan sensoris dan gangguan kesadaran
– P;provokatif/paliatif
 Apa yang menjadi penyebab, hal-hal apa yang
meringankan, haal-hal apa yang memperberat
keadaan
– Q;qualitas/quantitas
 Seberapa berat keluhan terasa, bagaimana
rasanya? Seberapa sering terjadi.