Anda di halaman 1dari 84

Bukittinggi, 1 Agustus 2008

1
I. Pendahuluan
a. RTR Pulau Menurut UU No. 26 Tahun 2007
Tentang Penataan Ruang
b. Kedudukan, Peran, dan Fungsi RTR Pulau
c. Muatan RTR Pulau

II. Perubahan Lingkungan


Strategis Pulau Sumatera
III.Endowment Pulau Sumatera:
Persepsi dan Aset
Pembangunan
IV. Muatan RTR Pulau Sumatera
V. Rencana Tindak Lanjut
2
3
4
4 4
A. RTR Pulau Menurut Ketentuan UU No. 26
Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang
1. Pasal 14 Ayat (1) Huruf b
RTR Pulau Sebagai Penjabaran dan
Operasionalisasi RTRWN.

Catatan:
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka,
2005)
• Penjabaran adalah proses, cara, perbuatan
menjabarkan (menguraikan atau menerangkan
secara terperinci)
• Operasionalisasi (pengoperasian) adalah proses,
2. Pasal
cara,14 Ayat (3)mengoperasikan.
perbuatan
RTR Pulau Sebagai Rencana Rinci RTRW
Nasional.

RTR PULAU/KEPULAUAN merupakan uraian


terperinci dan langkah operasional dari
RTRW Nasional sesuai dengan kondisi
objektif Pulau/Kepulauan.
5
A. RTR Pulau Menurut …….(2)

3. Pasal 20 Ayat (2 ) Huruf g


RTR Pulau (Sebagai Rencana Rinci RTRWN) menjadi
pedoman dalam penyusunan RTRW Provinsi dan
Kabupaten/Kota.

4. Pasal 20 Ayat (2) Huruf a-b


RTR Pulau (Sebagai Rencana Rinci RTRWN) menjadi
pedoman dalam penyusunan RPJPN dan RPJMN 2010
– 2014.

RTR Pulau menjadi acuan dalam penyusunan


RPJMN Tahun 2010-2014 yang menetapkan
sasaran pembangunan nasional berbasis
wilayah (pulau/kepulauan)

6
2.B. Kedudukan,
Kedudukan Peran, dan Fungsi RTR
RTR Pulau
Pulau
RTR Pulau Sumatera berkedudukan sebagai rencana rinci
RTRWN dan acuan bagi RTRW Provinsi dan RTRW
Kabupaten/Kota.

5. Peran RTR Pulau


RTR Pulau Sumatera berperan sebagai strategi operasionalisasi
untuk mewujudkan rencana struktur ruang dan pola ruang
wilayah nasional di Pulau Sumatera yang dapat memberikan
pencapaian keterpaduan dan keserasian antarprovinsi dan
antarsektor.

8. Fungsi RTR Pulau


RTR Pulau Sumatera berfungsi sebagai pedoman untuk:
• penyusunan rencana pembangunan jangka panjang
nasional;
• penyusunan rencana pembangunan jangka menengah
nasional;
• pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang
• mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan
perkembangan antarwilayah provinsi, serta keserasian
antarsektor
• penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi
7
B. Kedudukan, Peran, dan Fungsi RTR Pulau…(2)

Kedudukan RTR Pulau Terhadap RTRWN, RTRW Provinsi, dan


RTRW Kabupaten/Kota serta Program Pembangunan Daerah

• Struktur Ruang
Nasional RTRWN
• Pola Ruang Nasional (1:1.000.000)

• Arahan Pemanfaatan
Ruang Nasional

Penjabaran & Operasionalisasi


Strategi RTR PULAU Program
Operasionalisasi
Perwujudan Struktur (1:500.000) Nasional
Ruang dan Pola
Ruang Nasional

Koordinasi Daerah

RTRW RTRW
PROPINSI KABUPATEN /
Program
KOTA Daerah
(1:250.000)
(1:50.000)
8
C. Muatan RTR Pulau

a. Tujuan Penyusunan RTR Pulau/Kepulauan


b. Kedudukan, Peran, dan Fungsi RTR
Pulau/Kepulauan
c. Rencana Pemanfaatan Ruang Pulau/Kepulauan
d. Strategi Operasionalisasi Perwujudan RTRWN di
Pulau/Kepulauan
e. Arahan Pemanfaatan Ruang Pulau: Indikasi
Program Utama Jangka Menengah Lima Tahunan
(komitmen Provinsi/Kabupaten/Kota, dan
Komitmen Pusat)
f. Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Pulau/Kepulauan
g. Kelembagaan
h. Ketentuan Penutup
9
II. LINGKUNGAN STRATEGIS
PULAU SUMATERA

10
PERUBAHAN LINGKUNGAN STRATEGIS:
EKONOMI
• Pertumbuhan ekonomi di Semenanjung Malaya-
Singapura-Indochina yang sangat cepat (SEZ Iskandar
Development Region, Kawasan Delta Sungai Mekong,
Kawasan Industri Jurong)
• Regionalisasi ekonomi Malaysia-Singapore: Johor-
Singapore causeway dan Malaysia-Singapore second
link.
• Penetapan KEK BBK
• Sumatera masih sebagai hinterland Singapura &
Malaysia (penelitian National Univ of Singapore +
Durham Univ +Loughborough Univ)
• Optimasi kerjasama regional: IMT-GT, IMS-GT
• Intensifikasi koridor ekonomi Medan-Penang-Songkhla
• Pengembangan Trans Asia Highway, Jembatan Selat
Malaka, dan Jembatan Selat Sunda
• Pengelolaan SD Alam yang tidak berkelanjutan, al:
tambang lepas pantai migas, ilegal logging
11
LINGKUNGAN STRATEGIS:
Rawan Bencana

KETERANGAN

TINGGI
Sering terjadi gerakan tanah
MENENGAH
Dapat terjadi gerakan tanah
RENDAH
Jarang terjadi gerakan tanah
SANGAT RENDAH
Sangat jarang terjadi gerakan
tanah
Sumber: Direktorat Geologi Tata Lingkungan

Potensi longsor yang tinggi di sepanjang pegunungan Bukit


Barisan

12
Hampir seluruh wilayah Indonesia termasuk dalam kawasan rawan bencana gempa.
Pulau Sumatera termasuk yang memiliki kerawanan yang tinggi. 13
13
III. ENDOWMENT DI PULAU
SUMATERA: Persepsi dan Aset
Pembangunan
2.Level of Economic Development
3.Level of Population
4.Level of Infrastructure Service
5.Level of Natural Resource Management
6.Level of Environmental Development
7.Level of Technology

14
1. LEVEL OF ECONOMIC
DEVELOPMENT
Peta Kinerja PDRB Kawasan
Andalan tahun 2008
Peta Kinerja PDRB Kawasan
Andalan tahun 2028
STRUKTUR EKONOMI P. SUMATERA

PERTANIAN

pertanian PERTAMBANGAN DAN


PENGGALIAN
INDUSTRI PENGOLAHAN

LISTRIK DAN AIR MINUM

BANGUNAN/ KONTRUKSI

PERDAGANGAN, HOTEL DAN


RESTORAN
PENGANGKUTAN DAN
Pertambangan KOMUNIKASI
KEUANGAN, PERSEWAAN DAN
JASA PERUSAHAAN
JASA-JASA
Industri P.
2. LEVEL OF POPULATION..(2)
Perbandingan terhadap Kondisi
Nasional
Persentase
Persentase
terhadap
Provinsi terhadap Luas
Penduduk
Indonesia (%)
Indonesia 100 Indonesia
100 (%)
Pulau Sumatera 24,01 21,03
Nanggroe Aceh
3,04 1,84
Darussalam
Sumatera Utara 3,89 5,69
Sumatera Barat 2,27 2,09
Riau 4,72 2,09
Jambi 2,44 1,20
Sumatera Selatan 3,24 3,10
Bengkulu 1,06 0,71
Lampung 2,03 3,25
Kep. Bangka Belitung 0,88 0,48
Kepulauan Riau 0,43 0,58
Sumber: Hasil Analisis berdasarkan Data Statistik Indonesia 2006 18
19
3. LEVEL OF INFRASTRUCTURE
SERVICE: JARINGAN JALAN

Total Tingkat
Total Total
Kualitas Pelayanan
Kualitas Panjang
Provinsi Jalan Jalan Baik
Jalan Baik Jalan
Sedang & Sedang
(km) (km)
(km) (%)
Pulau Sumatera 41.088 33.720 127.643 59
Nanggroe Aceh
9
Darussalam 6.165 4.899 15.979
Sumatera Utara 10.828 8.083 34.794 15
Sumatera Barat 5.666 3.215 16.795 7
Riau 2.463 4.985 15.114 6
Jambi 2.985 2.694 9.917 4
Sumatera Selatan 4.267 3.342 12.738 6
Bengkulu 2.544 1.570 5.923 3
Lampung
Kep. Bangka 3.886 4.162 12.952 6
Belitung 2.284 770 3.431 2
Kepulauan Riau - - - -
Sumber: Hasil Analisis berdasarkan Data Statistik Perhubungan dan Komunikasi 2006 (%tase kondisi
jalan kondisi baik &sedang dibandingkan dengan total jalan di P. Sumatera , yaitu 127.643 km)
20
21
4. LEVEL OF NATURAL RESOURCE
MANAGEMENT

22
TANAMAN PANGAN

LUAS WILAYAH, NON HUTAN DAN PERAIRAN, TANAMAN PANGAN,


DAN AREAL TANAMAN PADI
Luas Non Luas
Luas Tanaman
No. Provinsi Luas Wilayah Hutan & Tanaman
Pangan
Perairan Padi
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 Nanggroe Aceh Darussalam 5.650.000 3.549.813 387.601 320.789
2 Sumatera Utara 7.242.700 3.742.120 982.270 705.023
3 Sumatera Barat 4.222.400 2.600.286 483.193 417.846
4 Riau dan Kep. Riau 9.592.800 9.456.160 167.346 136.293
5 Jambi 4.534.800 2.179.440 1.471 140.613
6 Sumatera Selatan 6.030.200 3.759.327 161.061 646.927
7 Bengkulu 1.979.500 920.964 706.494 100.991
8 Lampung 3.773.500 1.004.735 157.900 494.102
9 Kep. Bangka Belitung 1.642.400 657.510 1.132.879 5.741
Pulau Sumatera 44.668.300 27.870.355 4.180.215 2.968.325

Sumber: (3) Statistik Indonesia, 2005/2006;


(4) Statistik Badan Planologi Kehutanan, 2006
(5)& (6) Departemen Pertanian, 2006
PETA POTENSI TANAMAN
PANGAN
PRODUKSI DANPERKEBUNAN
LUAS AREAL PERKEBUNAN
PRODUKSI (TON)
No. Provinsi
Kelapa Sawit Kelapa Kelapa Dalam Tebu Karet Kakao Kopi
1 Nanggroe Aceh Darussalam 516.427 68.395 66.362 0 72.998 16.517 35.694
2 Sumatera Utara 2.935.244 100.697 100.697 47.827 407.974 55.446 42.301
3 Sumatera Barat 720.684 80.589 80.589 0 74.478 13.881 25.187
4 Riau 2.680.179 498.219 412.672 0 297.689 3.889 2.945
5 Kep. Riau 29.582 10.071 10.071 0 19.361 0 20
6 Jambi 1.017.995 129.220 128.794 0 267.665 359 9.387
7 Sumatera Selatan 1.571.112 30.119 29.497 0 469.574 326 143.201
8 Bengkulu 328.321 5.873 5.873 0 45.145 5.539 62.373
9 Lampung 292.838 122.904 114.889 701.941 58.227 22.492 145.544
10 Kep. Bangka Belitung 390.669 3.750 3.750 0 19.106 55 16
Pulau Sumatera 10.483.051 1.049.837 953.194 749.768 1.732.217 118.504 466.668

LUAS AREAL PERKEBUNAN (HA)


No. Provinsi
Kelapa Sawit Kelapa Kelapa Dalam Tebu Karet Kakao Kopi
1 Nanggroe Aceh Darussalam 283.283 111.752 107.345 0 116.071 36.309 100.263
2 Sumatera Utara 1.044.230 129.901 129.901 9.359 448.852 70.160 51.353
3 Sumatera Barat 310.281 90.663 90.663 0 102.242 22.828 51.600
4 Riau 1.409.715 545.438 476.150 0 362.090 4.904 10.380
5 Kep. Riau 14.936 39.892 39.892 0 30.524 979 281
6 Jambi 448.027 121.170 119.900 0 429.170 1.220 24.638
7 Sumatera Selatan 606.667 60.794 57.854 0 655.230 2.325 273.451
8 Bengkulu 162.440 8.564 8.564 0 71.137 13.371 122.844
9 Lampung 164.786 147.833 130.125 102.849 81.884 34.965 168.006
10 Kep. Bangka Belitung 138.367 9.833 9.833 0 29.279 160 47
Pulau Sumatera 4.582.732 1.265.840 1.170.227 112.208 2.326.479 187.221 802.863

Sumber: Departemen Pertanian Republik Indonesia, 2007


KEHUTANAN
KEHUTANAN

LUAS KAWASAN HUTAN DAN PERAIRAN BERDASARKAN KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN TENTANG
PENUNJUKAN KAWASAN HUTAN DAN PERAIRAN SERTA TATA GUNA HUTAN KESEPAKATAN (TGHK)

Hutan yang Dilindungi Hutan Produksi

Luas
Luas Kaw
Kws Suaka Hutan Daratan
No. Provinsi Hutan Hutan Hutan dan
Alam+Kws Hutan Taman Produksi Kawasan
Produksi Produksi Perairan
Pelestarian Lindung Buru yang Dapat Hutan
Terbatas Tetap
Alam Dikonversi

Nanggroe Aceh
986.733 -
1 Darussalam 1.844.500 80.000 37.300 601.280 3.335.713 3.549.813

2 Sumatera Utara 468.720 1.297.330 8.350 879.270 1.035.690 52.760 3.742.120 3.742.120

3 Sumatera Barat 846.175 910.533 246.383 407.849 189.346 2.600.286 2.600.286

4 Riau & Kep. Riau 435.240 397.150 16.000 1.971.553 1.866.132 4.770.085 9.456.160 9.456.160

5 Jambi 676.120 191.130 340.700 971.490 - 2.179.440 2.179.440

6 Sumatera Selatan 679.726 603.793 217.370 1.826.993 431.445 3.759.327 3.759.327

7 Bengkulu 419.582 252.042 25.300 189.075 34.965 - 920.964 920.964

8 Lampung 462.030 317.615 - 191.732 - 971.377 1.004.735


Kep. Bangka
34.690 -
9 Belitung 156.730 33.358 466.090 657.510 657.510

Pulau Sumatera 5.009.016 5.970.823 129.650 3.915.009 7.402.221 5.443.636 27.656.255 27.870.355

Sumber: Statistik Badan Planologi Kehutanan, 2006


PERIKANAN
POTENSI PENGEMBANGAN SUMBER ENERGI (GAS BUMI-dalam satuan TSCF)

3
.71

1 53,0
,32 6

21,4
7 9
,96
6 24,1
7 ,31 4
26,6 ,76
8

6,18
6
,39

Keterangan:
TSCF= Trillion Standar Cubic
Dengan jumlah cadangan gas bumi Pulau Sumatera Feet
Sumber: dtwh.esdm.go.id
(berpenduduk 15,7 juta jiwa-BPS2005) sebesar 7,78 (2007)

TSCF, cadangan gas bumi di Pulau Sumatera (Provinsi


Sumatera Tengah) dapat dijadikan pasokan bagi
kebutuhan energi yang besar di Pulau Jawa yang
berpenduduk lebih dari 119 juta jiwa (BPS, 2005). 29
POTENSI PENGEMBANGAN SUMBER ENERGI (MINYAK BUMI-dalam satuan
MMSTB) - 2
141,28

128,6
326,15
8

4.155,6 768,86
7 121,1
5
917,3
6 97,75
95,3
6

696,7
9 954,2
6

Keterangan:
Dengan jumlah cadangan minyak bumi Pulau Sumatera MMSTB = Metric Stock Tank
Barrel ,
(berpenduduk 15,7 juta jiwa-BPS2005) sebesar 95,36 Sumber: dtwh.esdm.go.id
(2007)
MMSTB, cadangan minyak bumi di Pulau Sumatera
(Provinsi Sumatera Selatan) dapat dijadikan pasokan bagi
kebutuhan energi yang besar di Pulau Jawa yang
berpenduduk lebih dari 119 juta jiwa (BPS,2005) 30
ASPEK ENERGI

Energi listrik baru melayani 60% kebutuhan –>


krisis listrik
Pencanangan Sumatera Selatan sebagai lumbung
energi nasional (batubara 22,24 milyar ton, gas 7
TCF, geothermal 1.335 MW, gas methan 20 TCF,
cadangan minyak bumi 512,1 juta barel)
Pengembangan pembangkit listrik: Bukit Asam(4 x
65 MW), Banjarsari I&II (4 x 100 MW), Banko
Tengah I&II (4 x 600 MW ), PLTG MUBA (2 X 40
MW), PLTG Borang (1 X 40 MW), PLTG G. Megang
(2 X 40 MW), PLTG EMM (2 X 100 MW).
Rencana pembangunan jaringan trasmisi 500 KV
Sumatera - Jawa (sub marine cable) dan jaringan
transmisi 275 KV - lintas timur Sumatera
(Palembang - Jambi).
Rencana pembangunan jaringan transmisi
Sumatra-Malaysia.
31
KAPASITAS TERPASANG PEMBANGKIT DAN TRANSMISI
LISTRIK
(Januari 2008)
THAILAND LAOS Manila Transmisi yang sudah
Bangko ada
kBan CAMBODIA
Philipines
Mabtapud
Transmisi yang
Phnom VIETNAM
South direncanakan
Penh
Ho Chi China Pembangkit Listrik
Minh TOTAL
Erawan
City Sea • KAPASITAS PEMBANGKIT :
Khanon
29.705 MW
Songkhla Bangkot • PANJANG JARINGAN:
Lawi
Jerneh
- 500 KV : 4.983 kms
t

Gunton
Kota - 150 KV : 23.106 kms
Banda
Aceh
Penan
g
g
West
Alph
Natuna
a
BRUNEI Kinibalu
- 70 KV : 5.052 kms
Lhokseuma WEST Kerte Duyong Natuna Bandara Seri
we h Mogpu
MALAYSI
A Begawan
Kuala Bintu
Port
Meda Klang
Lumpur lu
Port
EAST
n
Dickson
MALAYSIA Pacific Ocean
Duma Manado
i SINGAPORE Kalimantan
Kuchi
ng : Ternate HALMAHERA
Bata Binta
Duri
m n • Pembangkit: 1.000 Bontang MW
Sorong
• 150 kV: 1.264 kms Tunu Attaka
S
U

KALIMANTAN Samarinda
M

Padan
• 70 kV: 123Balikpapan kms Bekapai Jayapur
A

Sumaterag: Papua :
T

a
Jambi
R

• Pembangkit: 4.634 • Pembangkit: 170


A

Sumatera
Sumatera :
MW : MW
Grissi Banjarmasi
IRIAN JAYA
• Pembangkit: 1.130 Maluku
Palemban
k g n
• 150 kV: 8.521 kms BURU•
Pembangkit: 197
SERAM
• 70 kV: 310 kms MW
• Ujung
150 kV: 1.769 kms MW
• Pandang
70 kV: 962 kms
Jakarta Semaran
g
MADURA
Bangkala
I NPagerungan
D O N E S I A Merauk
JAVA
e
Jamali : Surabayn
SUMBAWA BALI
• Pembangkit: 22.302 MW Nusa Tenggara:
a FLORES

• 500 kV: 4.983 kms • Pembangkit: 273 MW


LOMBOK
Indian Ocean TIMOR
• 150 kV: 11.552 kms SUMBA
AUSTRALIA
• 70 kV: 3.657 kms
32
DAERAH/SISTEM YANG KEKURANGAN PASOKAN
SUMBAGUT
LISTRIK
SUMBAGUT
Daya mampu (Awal April 2008)
: 1125
1125,0,0
MW
Peak Load : 1125
1125,0
,0
MW
Surplus
TANJUNG
: 0 MW
PINANG
Daya mampu
: 27,
27,8
MW
Peak Load : 27,27,2
MW BATAM
Surplus Daya mampu
: 0 .6
MW : 179,
179,9
MW
Peak Load : 155 MW
Surplus BANGKA
: 24.9
MW Daya mampu
NIAS : 53,
53,46
Daya mampu MW
: 14,
14,22 Peak Load : 47.17
MW MW BELITUNG
Peak Load : 11 Surplus
Daya mampu: 6.29
MW MW : 22.36
Defisit SUMBAGSEL
: 3,22 MW
MWDaya mampu Peak Load : 16.64
: 1596 MW
MW Surplus : 5.68
Peak Load : 1503 MW
MW
Surplus : 93 MWKERINCI
Daya mampu
: 11.84
MW
Peak Load : 10.22
MW
Surplus : 1.62
MW

33
SUMBER DAYA COAL BED METHANE NASIONAL
THAILAND LAOS
TOTAL
Manila SUMBER DAYA CBM = 453.3 TC
Bangko
kBan CAMBODIA
Philipines
Mabtapud
Phnom VIETNAM
South
Penh
Ho Chi China
Minh
City Sea
Khanon Erawa
n

Songkhl Bangkot
a
Lawi
t Jerneh

Kota
Gunton
Banda Penan BRUNEI Kinibalu
g Alph
Aceh g West Natuna
a
Lhokseuma WEST Kerte Duyong Natuna Bandara Seri
we h Mogp
MALAYSI Begawan
A u
Kuala 17.5
Singapore

Trunkline

Bint
52.5Port Lumpur
Gas

Meda ulu
Klang Port
EAST
n
Dickson
MALAYSIA Pacific Ocean
Manado
Duma
i SINGAPORE Kuchi 8.4 Ternate HALMAHER
ng
Duri Bata Binta
n Bontang LNG Plant A
m & Export Terminal
Attaka
S

80.4
KALIMANTAN Samarinda
U

Tunu
0.5
M

Padan Bekapai Sorong


A

g Balikpapan
T

Jambi
R
A

Sumatera Jayapur
101.6 a
Grissi
183
Palemban Banjarmasi 3
3.6 k g n IRIAN JAYA
2 BURU SERAM

Ujung
Pandang
Ardjuna
Fields
JakartaCirebonSemaran MADURA I Pagerunga
N D O N E S I A
0.8
g
JAVA
Bangkala
n
Surabay n
a SUMBAW FLORES Maluku Selatan Merauk
A
LOMBOK e
BALI
Indian Ocean TIMOR
Sumber Daya CBM (TCF) SUMBA
AUSTRALIA

34
WILAYAH PENGEMBANGAN PANAS BUMI SAAT
INI
Tahap Pengembangan
SEULAWAH SIBAYAK SARULA
AGAM 2 MW 330 MW Tahap Produksi
Akan Ditenderkan

JAILOLO
LUMUTBALAI
LUMUT BALAI
(UNOCAL)
110 MW

DIENG
KARAHA
60 MW
400 MW

LAHENDONG I – II
KAMOJANG
40 MW
200 MW

BEDUGUL ULUMBU
UNGARAN
TAMPOMA 175 MW 10 MW
S
ULUBELU NGEBEL
110 MW
CISOLO
K

SALAK PATUHA WAY. WINDU I DARAJAT MATALOKO


375 MW 400 MW 110 MW 255 MW 2.5 MW
WAY. WINDU II
110 MW
Total Kapasitas Tahun 2007 : 1042 MW
35
5. LEVEL OF LINGKUNGAN HIDUP

36
MENINGKATNYA JUMLAH DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)
1010 KRITIS 1010

1090
1100 1100
1120 1120
1130 1130

1180
4080 4140

1180
4030
4020
5090 1210 5090

1240 7020
5150 5150
4010 1290 4010 5100
5160 5160

1260
2010
2020 1260
2010
2020
2040 5170 2040 5170
2050
2100 2050
2100
2080 2080

2120 2120
2130
2140 2130 3010
2140
2090 2090
2070
2110

Pada tahun 1984  22 DAS


Pada tahun 1992  39 DAS Kritis
Kritis

Pada tahun 2005  62 DAS Kritis (12 diantaranya terletak di Pulau


Sumatera) 37
DEFORESTRASI

PERHITUNGAN DEFORESTRASI 7 PULAU BESAR DI INDONESIA TAHUN


2000-2005
LAHAN KRITIS

Persentase Tingkat Kekritisan


Tingkat Kekritisan Lahan (Ha)
Lahan (%)
No. Provinsi
Luas Wilayah Sangat
Sangat Kritis Kritis Agak Kritis Kritis Agak Kritis
(HA) Kritis
Nanggroe Aceh
1 Darussalam 1.205.241,12 395.680,28 67.343,19 5.193.700 23,21 7,62 1,30

2 Sumatera Utara 3.256.903,12 1.526.958,63 434.767,22 7.358.700 44,26 20,75 5,91

3 Sumatera Barat 1.061.638,91 239.433,31 169.598,16 4.289.900 24,75 5,58 3,95


4 Riau 4.701.516,41 2.306.658,70 108.355,77 9.456.000 49,72 24,39 1,15

5 Jambi 1.586.684,30 614.116,78 4.774,00 5.343.700 29,69 11,49 0,09

6 Sumatera Selatan 1.580.908,47 2.085.364,37 739.484,54 9.308.300 16,98 22,40 7,94

7 Bengkulu 708.934,99 545.218,79 163.729,81 1.978.900 35,82 27,55 8,27

8 Lampung 1.197.984,53 339.055,12 186.408,04 3.538.400 33,86 9,58 5,27

9 Bangka Belitung 95.756,22 261.615,48 314.842,51 1.617.100 5,92 16,18 19,47

PULAU SUMATERA 15.395.568,07 8.314.101,46 2.189.303,24 48.084.700,00 32,02 17,29 4,55

Sumber: Statistik Lingkungan Hidup Indonesia, 2006/2007


5. LEVEL OF TECHNOLOGY
41
MUATAN RTR PULAU
Sumatera
Muatan RTR Pulau Sumatera terdiri atas:
b. Tujuan RTR Pulau Sumatera
c. Kedudukan, Peran, dan Fungsi RTR Pulau
Sumatera;
d. Rencana Pemanfaatan Ruang Pulau
Sumatera;
e. Strategi Operasionalisasi Perwujudan
RTRWN di Pulau Sumatera;
f. Arahan Pemanfaatan Ruang Pulau
Sumatera: Indikasi Program Utama Jangka
Menengah Lima Tahunan
g. Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Pulau Sumatera
h. Kelembagaan
i. Ketentuan Penutup
42
A. Tujuan RTR Pulau Sumatera

Tujuan RTR Pulau Sumatera adalah untuk mengoperasionalkan RTRWN


di Pulau Sumatera dengan mempertimbangkan:
b.perwujudan Pulau Sumatera sebagai Pusat Pengembangan Sumberdaya Alam
yang Maju, Terintegrasi, dan Berkelanjutan
c.Perwujudan keseimbangan dan keserasian perkembangan antar wilayah di Pulau
Sumatera;
c. percepatan pembangunan kawasan perbatasan laut di Pulau Sumatera
yang berbatasan dengan negara India, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura
sebagai beranda depan dan pintu gerbang internasional;
e.perwujudan pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi
nasional;
f.pengembangan dan pengendalian sistem perkotaan nasional dan kawasan
budidaya berbasis ekosistem;
g.Ekosistem Pulau Sumatera untuk pembangunan berkelanjutan; dan
h.pengoptimalan pemanfaatan sumber energi yang tersedia untuk memenuhi
kebutuhan energi di Pulau Sumatera dan Pulau Sumatera sebagai lumbung energi
nasional.

43
B. Kedudukan,
8. KedudukanPeran, dan Fungsi RTR Pulau Sumat
RTR Pulau
RTR Pulau Sumatera berkedudukan sebagai rencana rinci
RTRWN dan acuan bagi RTRW Provinsi dan RTRW
Kabupaten/Kota.

11.Peran RTR Pulau


RTR Pulau Sumatera berperan sebagai strategi operasionalisasi
untuk mewujudkan rencana struktur ruang dan pola ruang
wilayah nasional di Pulau Sumatera yang dapat memberikan
pencapaian keterpaduan dan keserasian antarprovinsi dan
antarsektor.

14.Fungsi RTR Pulau


RTR Pulau Sumatera berfungsi sebagai pedoman untuk:
a. penyusunan rencana pembangunan jangka panjang
nasional;
b. penyusunan rencana pembangunan jangka menengah
nasional;
c. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang
d. mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan
perkembangan antarwilayah provinsi, serta keserasian
antarsektor
e. penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi 44
C. RENCANA PEMANFAATAN RUANG PULAU SUMAT

(1) RTR Pulau Sumatera merupakan penjabaran struktur


ruang dan pola ruang wilayah nasional.
(2) Rencana struktur ruang Pulau Sumatera merupakan
penjabaran struktur ruang wilayah nasional di Pulau
Sumatera digambarkan dalam peta dengan tingkat
ketelitian 1:500.000 sebagaimana tercantum dalam
Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Presiden ini.
(3) Rencana pola ruang Pulau Sumatera merupakan
merupakan penjabaran pola ruang wilayah nasional di
Pulau Sumatera digambarkan dalam peta dengan
tingkat ketelitian 1:500.000 sebagaimana tercantum
dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Presiden ini.

45
C. RENCANA PEMANFAATAN RUANG…(2)
Untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang wilayah
nasional di Pulau Sumatera dilakukan dengan kebijakan:
b.memantapkan interaksi antar-kawasan pesisir timur,
kawasan tengah, dan kawasan pesisir barat Sumatera melalui
pengembangan sistem jaringan transportasi darat, laut, dan
transportasi udara lintas Sumatera yang handal;
c.mendorong berfungsinya pusat-pusat permukiman
perkotaan sebagai pusat pelayanan jasa koleksi dan distribusi
di Pulau Sumatera;
d.mengembangkan akses bagi daerah terisolir dan pulau-
pulau kecil di pesisir barat dan timur Pulau Sumatera sebagai
sentra produksi perikanan, pariwisata, minyak dan gas bumi
kepusat kegiatan industri pengolahan serta pusat pemasaran
lintas pulau dan lintas negara;
e.arah pembangunan kehutanan Pulau Sumatera dalam
rangka mewujudkan kawasan berfungsi lindung sekurang-
kurangnya 30% dari luas Pulau Sumatera sesuai dengan
kondisi ekosistemnya;
f.mengembangkan komoditas unggulan wilayah yang
memiliki daya saing tinggi melalui kerjasama lintas sektor
dan lintas wilayah dalam pengelolaan dan pemasarannya
dalam rangka mendorong kemandirian akses menuju pasar
global termasuk mengurangi ketergantungan pada negara-46
C. RENCANA PEMANFAATAN RUANG…(3)
a. menghindari konflik pemanfaatan ruang pada kawasan
perbatasan lintas wilayah meliputi lintas wilayah provinsi
maupun lintas wilayah kabupaten/kota;
b. memantapkan keterkaitan antara kawasan andalan,
kawasan budidaya lainnya, berikut kota-kota pusat-pusat
kegiatan didalamnya dengan kawasan-kawasan dan
pusat-pusat pertumbuhan antar pulau di wilayah nasional,
serta dengan pusat-pusat pertumbuhan di kawasan sub-
regional ASEAN, Asia Pasifik dan kawasan internasional
lainnya;
c. mendorong pemanfaatan sumber energi yang tersedia
secara berkelanjutan yang didukung dengan
pengembangan sumber energi alternatif;
d. mengarahkan pembangunan pembangkit listrik pada
lokasi yang memiliki sumber daya mineral untuk
memenuhi kebutuhan energi di wilayah Pulau Sumatera;
e. mendorong pemanfaatan kawasan perbatasan laut antara
Indonesia dengan negara tetangga serta dengan laut
lepas.

47
48
49
D. STRATEGI OPERASIONALISASI
PEMANFAATAN RUANG NASIONAL DI
PULAU SUMATERA

50
1. Strategi Operasionalisasi Perwujudan
RTRWN
• Perwujudan struktur ruang dan pola ruang wilayah nasional di
Pulau Sumatera dilakukan dengan:
• strategi operasionalisasi struktur ruang nasional; dan
• strategi operasionalisasi pola ruang nasional.
(2) Strategi operasionalisasi struktur ruang nasional terdiri atas:
• strategi operasionalisasi sistem perkotaan nasional;
• strategi operasionalisasi sistem jaringan transportasi
nasional;
• strategi operasionalisasi sistem jaringan energi nasional;
• strategi operasionalisasi sistem jaringan telekomunikasi
nasional; dan
• strategi operasionalisasi sistem sumber daya air.
• Strategi operasionalisasi pola ruang nasional terdiri atas:
• strategi operasionalisasi pelestarian kawasan lindung
nasional;
• strategi operasionalisasi pengembangan kawasan andalan;
dan
• strategi operasionalisasi pengembangan kawasan strategis
nasional.
51
2. Strategi Operasionalisasi Sistem Perkotaan
Nasional
a) mendorong pengembangan kota Lhokseumawe, kawasan perkotaan Medan-
Binjai-Deli Serdang-Karo (Mebidangro), Padang, Pekanbaru, Dumai, Batam,
Jambi, Palembang, dan Bandar Lampung sebagai PKN;

Nama Fungsi
Jenis Pelayanan Strategi Pengembangan
Kota Kota
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Lhokseu PKN Jasa •Diarahkan untuk menjadi pusat pertumbuhan wilayah nasional yang
mawe Pemerintahan, berorientasi pada upaya mendorong perkembangan sektor produksi
Industri, seperti industri, pertambangan, perikanan tambak dan perkebunan.
Pertanian, •Memantapkan peran Lhokseumawe sebagai pusat koleksi dan
Pertambangan, distribusi skala regional, terutama di pesisir Timur Sumatera dengan
Perikanan, memperhatikan lokasi strategis pada Jalur Selat Malaka melalui
Perdagangan, peningkatan tujuan pelabuhan Lhokseumawe sebagai satu kesatuan
dan Perkebunan . sistem yang didukung oleh peningkatan kualitas serta kapasitas
jaringan transportasi darat menuju tujuan-tujuan pemasaran di
Medan dan Banda Aceh.
•Meningkatkan aksesibilitas Kota Lhokseumawe ke kota-kota dalam
lingkup internal provinsi (Langsa, Takengon, Bireun) melalui jaringan
jalan dan jaringan jalur kereta api.

b) mendorong percepatan pengembangan kota PKW Banda Aceh, Bengkulu, dan


Pangkal Pinang sebagai embrio PKN,

52
Strategi Operasionalisasi Sistem Perkotaan
c) Mendorong pengembangan kota-kota PKW: Sabang, Langsa, Takengon, Meulaboh,
Nasional…(2)
Tebingtinggi, Sidikalang, Pematang Siantar, Balige, Rantau Prapat, Kisaran, Gunung
Sitoli, Padang Sidempuan, Sibolga, Pariaman, Sawahlunto, Muarasiberut,
Bukittinggi, Solok, Bangkinang, Taluk Kuantan, Bengkalis, Bagan Siapi-api,
Tembilahan, Rengat, Pangkalan Kerinci, Pasir Pangarayan, Siak Sri Indrapura,
Tanjung Pinang, Terempa, Daik Lingga, Dabo-Pulau Singkep, Tanjung Balai Karimun,
Kuala Tungkal, Sarolangun, Muarabungo, Muara Bulian, Muara Enim, Kayuagung,
Baturaja, Prabumulih, Lubuk Linggau, Sekayu, Lahat, Manna, Muko-Muko, Curup,
Muntok, Tanjungpandan, Manggar, Metro, Kalianda, Liwa, Menggala, Kotabumi, dan
Kota Agung.

Nama Fungsi
Jenis Pelayanan Strategi Pengembangan
Kota Kota
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Langsa PKW Jasa • Diarahkan sebagai kota tujuan/pelabuhan yang berfungsi sebagai
Pemerintahan, pusat koleksi dan distribusi skala lokal yang mendorong
Industri, pertumbuhan produksi pertanian, pertambangan, perikanan, dan
Pertanian, perkebunan.
Pertambangan, • Memantapkan aksesibilitas menuju sentra-sentra produksi
Perikanan dan pertanian, perkebunan, perikanan dan pertambangan di Idi Rayeuk,
Perkebunan Lhok Sukon, dan Karang Baru, baik dengan jaringan jalan maupun
jalur kereta api.
• Meningkatkan kualitas dan kapasitas pelayanan prasarana dan
sarana perkotaan (jalan, persampahan, air bersih, air limbah,
drainase, dan telekomunikasi)yang mendukung fungsi kota
pelabuhan dan pusat pelayanan antar kota berskala provinsi.

53
Strategi Operasionalisasi Sistem Perkotaan
Nasional…(3)
d. Perwujudan sistem perkotaan nasional di Pulau Sumatera dilakukan
dengan mendorong pengembangan kota Sabang, Dumai, Batam, dan
Ranai sebagai PKSN.

Nama Fungsi
Jenis Pelayanan Strategi Pengembangan
Kota Kota

Dumai PKSN Jasa • Diarahkan untuk menjadi pusat pertumbuhan wilayah nasional
Pemerintahan, yang berorientasi pada upaya mendorong perkembangan sektor
Industri, produksi wilayah seperti perkebunan, industri, perdagangan,
Pertambangan, pertambangan dan perikanan tambak.
Perkebunan, • Memantapkan peran Dumai sebagai pusat koleksi dan distribusi
Perdagangan, dan skala nasional, terutama bagian Timur Sumatera dengan
Perikanan memperhatikan lokasi strategis pada jalur Selat Malaka melalui
peningkatan tujuan pelabuhan Dumai yang komplementer dengan
Pelabuhan Belawan.
• Meningkatkan aksesibilitas Kota Dumai ke sentra-sentra produksi
pada Kawasan Andalan Duri – Dumai dan menuju pusat-pusat
pemasaran lainnya, baik di dalam negeri (Pekanbaru, Batam, dan
Medan) maupun di luar negeri (Singapura).
• Meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan prasarana dan
sarana perkotaan (jalan, persampahan, air bersih, air limbah,
drainase, dan telekomunikasi) dan fasilitas perdagangan untuk
mendukung peran Dumai sebagai pusat pelayanan nasional melalui
kerjasama dengan pihak swasta secara selektif.

54
3. Strategi Operasionalisasi Sistem Jaringan
Jalan
 peningkatan jaringan jalan Lintas Timur dengan prioritas tinggi yang menghubungkan kota Bakauheni –
Ketapang – Labuhan Maringgai - Sukadana – Menggala – Mesuji - Kayu Agung - Palembang –
Pangkalan Balai – Betung - Jambi – Rengat – Pekanbaru – Dumai – Rantau Prapat – Kisaran – Tebing
Tinggi – Lubuk Pakam – Medan – Binjai – Langsa – Lhokseumawe – Banda Aceh;
 peningkatan jaringan Jalan Lintas Tengah dengan prioritas sedang yang menghubungkan kota
Bakauheni – Kalianda - Bandar Lampung – Bandar Jaya - Kota Bumi - Bukit Kemuning – Blambangan
Umpu – Baturaja – Muara Enim – Lahat - Lubuk Linggau – Muara Bungo – Solok – Bukittinggi –
Kotanopan – Panyabungan - Padang Sidempuan – Tarutung – Sidikalang – Kutacane – Blang Kejeren -
Takengon – Geumpang – Keumala - Jantho - Seulimeum - Banda Aceh;
 peningkatan dan pembangunan jaringan Jalan Lintas Barat dengan prioritas sedang yang
menghubungkan kota Bandar Lampung – Pringsewu - Kota Agung – Krui - Manna – Bengkulu – Painan
– Padang – Pariaman – Simpang Empat – Natal – Batumumdom - Sibolga – Barus - Subulussalam -
Tapaktuan – Meulaboh – Banda Aceh;
 peningkatan dan pembangunan jaringan jalan pengumpan yang menghubungkan Lintas Barat, Lintas
Tengah dan/atau Lintas Timur dengan prioritas tinggi yang menghubungkan kota Simpang Peut –
Jeuram – Beutong Ateuh – Takengon - Bireun; Babah Ron – Trangon - Blang Kejeren – Pinding –
Lokop – Peurelak; Jantho – Lamno; Singkil – Sidikalang – Kabanjahe – Medan; Sibolga – Tarutung –
Pematang Siantar - Tebing Tinggi; Padang – Bukittinggi – Pekanbaru; Kiliran Jao - Rengat – Kuala
Enok; Kiliran Jao – Taluk Kuantan – Pekanbaru; Pekanbaru – Bangkinan – Rantau Berangin; Simpang
Kumuh – Kota Tengah – Sei Rangau – Duri; Sei Akar – Bagan Jaya – Enok; Rumbai Jaya – Bagan
Jaya – Enok – Kuala Enok; Ujung Batu – Rokan – Batas Sumbar; Muara Bungo – Jambi – Muara
Sabak; Sungai Penuh – Sarolangun – Tembesi – Jambi; Lubuk Linggau – Curup – Bengkulu; Tanjung
Iman – Muara Sahung - Baturaja; Muara Enim – Palembang – Tanjung Apiapi; Muntok –
Pangkalpinang; Tanjung Pandan – Manggar; Krui – Liwa – Bukit Kemuning, Labuhan Meringgai –
Simpang Sidomulyo, Tegineneng Metro – Sukadana, dan Terbanggi Besar – Menggala; dan
 pembangunan jembatan Sumatera – Jawa melalui Selat Sunda

55
56
4. Strategi Operasionalisasi Sistem Jaringan KA
 sistem jaringan dengan prioritas tinggi pada jalur kereta api Tarahan – Bandar Lampung –
Baturaja – Blimbing – Muara Enim, Banda Aceh – Bireun - Lhokseumawe – Langsa –
Besitang – Medan, dan Medan - Lubuk Pakam – Tebing Tinggi – Kisaran – Rantau Prapat -
Dumai – Duri - Pekanbaru;
 sistem jaringan dengan prioritas sedang pada jalur kereta api Pekanbaru – Rengat – Jambi
– Betung – Palembang, Palembang – Kayu Agung – Menggala - Bakauheni, Bengkulu –
Mukomuko – Padang – Pariaman – Sibolga – Tapaktuan – Meulaboh – Banda Aceh, dan
Muara Enim – Tebing Tinggi – Lubuk Linggau – Muaro Bungo – Taluk Kuantan -
Pekanbaru; dan
 sistem jaringan dengan prioritas rendah pada jalur kereta api Sibolga – Padang Sidempuan
– Rantau Prapat, Pematang Siantar – Tebing Tinggi, Kisaran – Tanjung Balai, Betung –
Sekayu, Sengeti – Muara Sabak, Bengkulu – Tebing Tinggi, Padang – Padang Panjang –
Solok – Muaro, Muaro – Taluk Kuantan – Rengat – Kuala Enok, Muaro Bungo – Jambi,
Muara Enim – Prabumulih – Kertapati – Palembang, dan Palembang – Tanjung Apiapi.

57
5. Strategi Operasionalisasi Sistem Transportasi Sungai
& Danau
 mengarahkan pengembangan jaringan transportasi sungai dan danau untuk pelayanan
angkutan lintas antar provinsi serta antar kabupaten/kota dalam provinsi diarahkan pada
daerah-daerah potensial di Pulau Sumatera dan diarahkan menjadi tulang-punggung
sistem transportasi serta diharapkan dapat membuka daerah yang terisolir;
 memprioritaskan pengembangan angkutan sungai pada lintas-lintas yang lebih efisien
untuk dilayani dengan angkutan air seperti pada wilayah Sungai Musi, Batanghari, Rokan,
Indragiri, dan Siak;
 mengembangkan jaringan transportasi sungai antar kabupaten/kota di Pulau Sumatera
yang memiliki interaksi kuat meliputi Sungai Musi, Siak, Rokan, Kampar, dan Batanghari;
dan
 mengembangkan jaringan transportasi danau di Pulau Sumatera meliputi Danau Toba,
Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Diatas, Danau Dibawah, Danau Ranau, dan
Danau Laut Tawar.

58
6. Strategi Operasionalisasi Sistem Transportasi
Penyeberangan
a) Mengarahkan pengembangan jaringan transportasi penyeberangan untuk pelayanan angkutan lintas
antar provinsi dan antar negara, lintas antar kabupaten/kota, serta lintas dalam kabupaten/kota
diarahkan pada daerah-daerah potensial di Pulau Sumatera dan diarahkan menjadi tulang-punggung
sistem transportasi serta diharapkan dapat membuka daerah yang terisolir
b) Mengarahkan pengembangan jaringan transportasi penyeberangan lintas antar provinsi dengan
eksternal Pulau Sumatera yang memiliki interaksi kuat meliputi Kepulauan Riau dengan Kalimantan
Barat yang menghubungkan Natuna – Pontianak, Kalimantan Barat dengan Bangka Belitung yang
menghubungkan Ketapang – Manggar, Bangka Belitung dengan DKI Jakarta yang menghubungkan
Pangkalpinang - Jakarta, dan Lampung dengan Banten yang menghubungkan Bakauheni – Merak
c) mengarahkan pengembangan jaringan transportasi penyeberangan antar provinsi dan lintas
penyeberangan antar kabupaten/kota dengan interaksi kuat di Pulau Sumatera yang meliputi Sabang –
Banda Aceh, Sinabang – Labuhan Haji, Sinabang - Meulaboh, Singkil – Pulau Banyak, Medan –
Batam, Medan – Lhokseumawe, Gunung Sitoli – Sibolga, Medan – Pangkalpinang, Pangkalpinang –
Tanjung Pandan, Palembang – Muntok, Tanjung Pandan – Mentawai, Kuala Tungkal – Tanjung
Pinang, Dumai – Bengkalis – Tanjung Balai Karimun - Batam, Pekanbaru – Batam, Batam – Natuna,
Tua Pejat – Padang, dan Enggano – Bengkulu;
d) mengarahkan pengembangan jaringan transportasi penyeberangan antar negara yang memiliki
interaksi kuat dari Pulau Sumatera meliputi jalur penyeberangan Medan – Penang dan jalur
penyeberangan Batam – Singapura;
e) mengarahkan pengembangan jaringan transportasi penyeberangan lintas kabupaten/kota dalam
provinsi yang memiliki interaksi kuat di Pulau Sumatera meliputi jalur penyeberangan Banda Aceh –
Sabang, Meulaboh – Sinabang, Sibolga – Nias, Batam – Natuna, Batam – Bintan, Padang – Muara
Siberut, Padang – Pagai, Pulau Bangka – Pulau Belitung, dan Dumai – Pulau Bengkalis;
f) mengarahkan pengembangan jaringan transportasi penyeberangan dalam kabupaten/kota dalam
provinsi yang memiliki interaksi kuat di Pulau Sumatera, meliputi jalur penyeberangan di Kepulauan
Mentawai dan Kota Bengkulu-P. Enggano

59
7. Strategi Operasionalisasi Sistem Jaringan Transportasi
Laut
a) pengembangan pelabuhan Sabang Belawan, Sibolga, Teluk Bayur, Dumai,
Batam, Tanjung Api-api, dan Panjang sebagai pelabuhan internasional;
b) pengembangan pelabuhan Lhokseumawe, Meulaboh, Tanjung Balai Asahan,
Perawang, Sungai Pakning, Kuala Enok (Provinsi Riau), Tanjung Kedabu,
Buatan, Pulau Kijang, Tembilahan, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Pinang,
Pulau Sambu, Dabo – Singkep, Ranai, Moro Sulit, Kuala Tungkal, Tanjung
Pandan, Pulau Baai sebagai pelabuhan nasional;

60
8. Strategi Operasionalisasi Sistem Jaringan
Transportasi Udara
a) pengembangan Bandar Udara Kuala Namu dan Hang Nadim sebagai bandar
udara pusat penyebaran primer;

c) pengembangan Bandar Udara Minangkabau, Sultan Mahmud Badaruddin II,


dan Sultan Syarif Kasim II sebagai bandar udara pusat penyebaran sekunder;
dan

e) pengembangan Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Radin Inten II, Ranai,
Kijang, Pinang Kampai, Sultan Thaha, dan Fatmawati sebagai bandar udara
pusat penyebaran tersier.

61
9. Strategi Operasionalisasi Sistem Jaringan
Energi Nasional
 Perwujudan sistem jaringan transmisi tegangan ultra tinggi (> 700 kV) antar
kota: Medan-Pematang Siantar, Binjai-Medan-Kisaran-Rantau Prapat-Dumai-
Pekanbaru-Jambi-Palembang-Bandar Lampung;

 Perwujudan sistem jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi (245-700 kV) antar
kota: Banda Aceh-Lhokseumawe-Langsa, Banda Aceh-Meulaboh-Tapaktuan-
Sibolga, Padang-Painan, Muko-Muko-Bengkulu-Manna-Liwa-Krui, Kotopanjang-
Payakumbuh-Lubuk Sikaping-Panyabungan-Tarutung-Parapat- Sibolga, Jambi-
Muara Bulian-Bangko-Lubuk Linggau-Muara Enim-Metro;

 Perwujudan sistem jaringan transmisi terisolasi di P. Sabang, P. Rondo, P.


Simeuleu, P. Nias. P. Mentawai, P. Pagai, P. Enggano, P. Bangka, P. Belitung,
P. Batam-Rempang-Galang,, P. Bengkalis, P. Natuna

 Menjaga ruang bebas dan ruang aman di sekitar Gardu Induk SUTET dan
Gardu Distribusi SUTET dengan mengutamakan prinsip-prinsip lingkungan.

 Mempertahankan tingkat elektrifikasi Sumatera Utara di atas tingkat elektrifikasi


nasional

62
10. Strategi Operasionalisasi Sistem Jaringan Telekomunikasi
Nasional
(1) Perwujudan jaringan terestrial di Pulau Sumatera meliputi:
a. perwujudan jaringan terestrial mikro digital;
b. perwujudan jaringan terestrial serat optik di Kota Medan, Palembang,
Bandar Lampung, dan Batam;
c. perwujudan jaringan terestrial mikro analog; dan
d. perwujudan jaringan terestrial kabel laut yang menghubungkan Batam-
Bintan, Dumai-Bengkalis;

(2) Perwujudan sistem telekomunikasi satelit pada kota-kota PKN

63
11. Strategi Operasionalisasi Sistem Sumber
• Daya Air
Wilayah Sungai Strategis Nasional :
– Meureudu – Baro di Provinsi NAD meliputi Daerah Aliran Sungai (DAS) Meureudu,
DAS Baro, DAS Tiro, DAS Pante Raja, DAS Utue, DAS Putu, DAS Trienggadeng, DAS
Pangwa, DAS Beuracan, dan DAS Batee;
– Jambo Aye di Provinsi NAD meliputi DAS Jambo Aye, DAS Geuruntang, DAS
Reungget, DAS Lueng, DAS Simpang Ulim, DAS Malehan, DAS Julok Rayeu, DAS
Keumuning, DAS Gading, DAS Idi Rayeuk, DAS Lancang, DAS Jeungki, DAS
Peundawa Puntong, dan DAS Leugo Rayeuk;
– Woyla – Seunagan di Provinsi NAD meliputi DAS Woyla dan DAS Seunagan;
– Tripa – Bateue di Provinsi NAD meliputi DAS Tripa dan DAS Bateue;
– Belawan – Ular di Provinsi SUMUT meliputi DAS Belawan, DAS Ular, DAS Deli, DAS
Belumai, DAS Padang, DAS Martebing, DAS Kenang, DAS Serdang, DAS Percut, DAS
Bedagai, dan DAS Belutu;
– Toba – Asahan di Provinsi SUMUT meliputi DAS Danau Toba, DAS Sei Asahan, DAS
Silau, DAS Tanjung, dan DAS Suka;
– Batang Angkola – Batang Gadis di Provinsi SUMUT meliputi DAS Batang Angkola
dan DAS Batang Gadis;
– Siak di Provinsi Riau meliputi DAS Siak, DAS Siak Kecil, DAS Bukit Batu, DAS
Palentung, DAS Tapung Kanan, DAS Tapung Kiri, DAS Masigit, DAS Bulu Kala, DAS
Mandau, dan DAS Dumai;
– Kampar (Riau – Sumatera Barat) meliputi DAS Kampar, DAS Kampar Kiri, DAS
Kampar Kanan, DAS Bt. Kapur, dan DAS Bt. Mahat.
64
– Indragiri (Riau – Sumatera Barat) meliputi DAS Kuantan, DAS Indragiri, DAS Gaung
11. Strategi Operasionalisasi Sistem Sumber
Daya Air
– Anai – Kuranji – Arau – Mangau – Antokan di Provinsi SUMBAR meliputi DAS
Anai, DAS Kuranji, DAS Arau, DAS Mangau, DAS Antokan, DAS Air Dingin, DAS
Tapakis, DAS Ulakan, DAS Andaman, DAS Pariaman, DAS Manggung, DAS
Naras, DAS Limau, DAS Kamumuan, DAS Paingan, DAS Tiku, dan DAS Bungus;
– Sugihan di Provinsi SUMSEL meliputi DAS Burung, DAS Gaja Mati, DAS
Pelimbangan, DAS Beberi, DAS Olok, DAS Daras, DAS Medang, dan DAS
Padang;
– Banyuasin di Provinsi SUMSEL meliputi DAS Banyuasin, DAS Senda, DAS Limau,
DAS Ibul, DAS Puntian, DAS Pangkalan Balai, DAS Buluain, DAS Kepayang, DAS
Mangsang, DAS Kedawang, DAS Titikan, DAS Mendes, DAS Tungkal, DAS
Keluang, DAS Lalan, DAS Supat, dan DAS Lilin; dan
– Way Seputih – Way Sekampung di Provinsi Lampung meliputi DAS Seputih, DAS
Sekampung, DAS Wako, DAS Kambas, DAS Penet, DAS Kuripan, DAS Sabu, dan
DAS Sukamaju.

65
11. Strategi Operasionalisasi Sistem Sumber
Daya Air
• wilayah sungai wilayah sungai lintas provinsi , terdiri atas:
– Alas – Singkil (Nanggroe Aceh Darussalam - Sumatera Utara) yang meliputi DAS Lae
Pardomuan, DAS Lae Silabuhan, DAS Lae Siragian, DAS Lae Singkit, dan DAS Lae Kuala
Baru;
– Batang Natal – Batang Batahan (Sumatera Utara - Sumatera Barat) yang meliputi DAS
Batang Batahan dan DAS Batang Natal;
– Rokan (Riau - Sumatera Barat - Sumatera Utara) yang meliputi DAS Rokan, DAS
Bangko, DAS Rokan Kiri, DAS Rokan Kanan, DAS Kubu, DAS Sumpur, DAS Sontang, DAS
Asik, DAS Air Pesut, DAS Sibinail, DAS Pagang, DAS Pincuran Panjang, dan DAS
Timbawan;
– Batanghari (Jambi – Sumatera Barat) yang meliputi DAS Batanghari, DAS Tungkal, DAS
Bentaro, DAS Mandahara, DAS Lagan, DAS Air Hutan, DAS Jujuhan, DAS Siat, DAS
Timpeh, DAS Kuko, DAS Pangean, DAS Momong, DAS Sipotar, DAS Sangir, DAS
Talantam, DAS Bangko, DAS Gumanti, DAS Pinti Kayu, dan DAS Pkl. Duri Besar;
– Musi ( Sumatera Selatan – Bengkulu – Lampung) yang meliputi DAS Musi, DAS Lakitan,
DAS Kelingi, DAS Rawas, DAS Semangus, dan DAS Batang Hari Leko;
– Mesuji – Tulang Bawang (Lampung – Sumatera Selatan) yang meliputi DAS Mesuji, DAS
Tulang Bawang, DAS Tjg. Pasir, DAS Randam Besar, DAS Sibur Besar, DAS Tawar, DAS
Bati Dalam Kecil, DAS Randam Besar, dan DAS Meham Kecil;
– Teramang – Ipuh (Bengkulu – Jambi) yang meliputi DAS Teramang, DAS Ipuh, DAS
Retak, DAS Buluh, DAS Selagan, DAS Bantal, DAS Dikit, dan DAS Manjuto;
– Nasal – Padang Guci (Bengkulu – Lampung) yang meliputi DAS Air Nasal, DAS Air
Sambat, DAS Air Tetap, DAS Air Luas, DS Air Kinal, DAS Air Padang Guci, DAS Air Sulau,
DAS Air Kedurang, DAS Air Bengkenang, dan DAS Air Manna.
• pengembangan jaringan sumber daya air terdiri atas:
1) pemeliharaan, peningkatan dan perluasan jaringan-jaringan irigasi; 66
12. Strategi Operasionalisasi Pelestarian Kawasan
Lindung Nasional
• Perwujudan pelestarian kawasan lindung nasional di Pulau Sumatera
meliputi:
– Cagar Alam Dusun Besar (1.777 ha), Cagar Alam Rafflesia I/II Serbajadi
(300 ha), Cagar Alam Hutan Pinus Jantho (8.000 ha), Cagar Alam Hutan
Bulian Luncuk I/II (74,80 ha), Cagar Alam Pulau Laut (400 ha), Cagar Alam
Pulau Berkeh (500 ha), Cagar Alam Pulau Burung (200 ha), Cagar Alam
Lembah Anai (221 ha), Cagar Alam Lembah Harau (270,50 ha), Cagar
Alam Rimbo Panti (2.830 ha), Cagar Alam Dolok Saut/Sulungan (39 ha),
Cagar Alam Dolok Tinggi Raja (167 ha), Cagar Alam Liang Balik (0,50 ha),
Cagar Alam Dolok Sipirok (6.970 ha), Cagar Alam Dolok Sibual-buali
(5.000 ha), Cagar Alam Sibolangit (90 ha), Cagar Alam Pulau Anak
Krakatau (13.735,10 ha), dan Cagar Alam Martelu Purba (195 ha);
– Suaka Margasatwa Rawa Singkil (102.370 ha), Suaka Margasatwa
Kerumutan (120.000 ha), Suaka Margasatwa Danau P.Besar/Danau
Bawah (25.000 ha), Suaka Margasatwa Gumai Pasemah (45.833 ha),
Suaka Margasatwa Gunung Raya (39.500 ha), Suaka Margasatwa Isau-
isau Pasemah (12.144 ha), Suaka Margasatwa Bentayan (19.300 ha),
Suaka Margasatwa Dangku (29.080 ha), Suaka Margasatwa Padang
Sugihan (75.000 ha), Suaka Margasatwa Terusan Dalam (74.750 ha),
Suaka Margasatwa Dolok Surungan (23.800 ha), Suaka Margasatwa
Karang Gading Langkat Timur Laut (15.765 ha), Suaka Margasatwa
Barumun (40.330 ha), Suaka Margasatwa Siranggas (5.657 ha), Suaka
Margasatwa Bukit Rimbang Baling, dan Suaka Margasatwa Teso Nilo; 67
12. Strategi Operasionalisasi Pelestarian Kawasan
Lindung Nasional
– Taman Nasional Berbak (162.700 ha), Taman Nasional Bukit Barisan
Selatan (365.000 ha), Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (127.698 ha),
Taman Nasional Bukit Dua Belas (65.500 ha), Taman Nasional Siberut
(190.500 ha), Taman Nasional Way Kambas (125.621 ha), Taman
Nasional Gunung Leuser (623.927 ha), Taman Nasional Kerinci Seblat
(1.368.000 ha), Taman Nasional Batang Gadis (108.000 ha), dan Taman
Nasional Sembilang (202.896 ha);
– Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan (6.250 ha), Taman Hutan Raya
Bukit Barisan (51.600 ha), Taman Hutan Raya Dr. Mohamamad Hatta
(500 ha), Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman (22.249 ha), Taman
Hutan Raya Sultan Thaha Saifudin (15.830 ha), Taman Hutan Raya Sultan
Syarif Qasim (5.920 ha), dan Taman Hutan Raya Raja Lelo (1.122 ha);
– Taman Wisata Muka Kuning (Batam) (2.065,62 ha), Taman Wisata
Lembah Harau (27,50 ha), Taman Wisata Rimbo Panti (570 ha), Taman
Wisata Bukit Sari (300 ha), Taman Wisata Punti Kayu (50 ha), Taman
Wisata Sicikeh-cikeh (575 ha), Taman Wisata Holiday Resort (1.963,75
ha), Taman Wisata Sijaba Hutaginjang (500 ha), dan Taman Wisata
Sibolangit (25 ha);
– Taman Wisata Laut Pulau Iboih Weh (1.200 ha), Taman Wisata Laut
Kepulauan Banyak (15.000 ha), dan Taman Wisata Laut Pieh (39.000 ha);
– Taman Buru Semidang Bukit Kabu (15.300 ha), Taman Buru Gunung
Nanu'ua (10.000 ha), Taman Buru Lingga Isaq (80.000 ha), dan Taman
Buru Pulau Pini (8.350 ha) 68
12. Strategi Operasionalisasi Pelestarian Kawasan
Lindung Nasional

69
13. Strategi Operasionalisasi Pengembangan Kawasan
A. Perwujudan
Andalan (1) pengembangan kawasan andalan di Pulau Sumatera
meliputi:
• Kawasan-kawasan andalan Banda Aceh dan sekitarnya,
Lhokseumawe dan sekitarnya, Medan dan sekitarnya, Tapanuli dan
sekitarnya, Padang Pariaman dan sekitarnya, Zona Batam-Tanjung
Pinang dan sekitarnya, Palembang dan sekitarnya, Bandar Lampung-
Metro, Pematang Siantar dan sekitarnya, Agam-Bukittinggi, Solok dan
sekitarnya, Pekanbaru dan sekitarnya, Kepulauan Bangka-Belitung,
Duri-Dumai dan sekitarnya, Rengat-Kuala Enok-Teluk Kuantan-
Pangkalan Kerinci, Muara Enim dan sekitarnya, Timur Jambi/Muara
Bulian dan sekitarnya, Natuna dan sekitarnya, Muara Bungo dan
sekitarnya, Bengkulu dan sekitarnya, Pantai Barat Selatan, Rantau
Parapat-Kisaran, Nias dan sekitarnya, Mentawai dan sekitarnya,
Ujung Batu-Bagan Batu, Lubuk Linggau dan sekitarnya, Manna dan
sekitarnya, Mesuji dan sekitarnya, Kotabumi dan sekitarnya, dan
Liwa-Krui dan sekitarnya; dan

• Kawasan-kawasan andalan laut Lhokseumawe-Medan dan sekitarnya,


Nias dan sekitarnya, Mentawai-Siberut dan sekitarnya, Selat Bangka,
Selat Malaka dan sekitarnya, Batam dan sekitarnya, Bengkulu,
Bangka, Natuna dan sekitarnya, dan Krakatau dan sekitarnya.

70
Strategi Operasionalisasi Pengembangan Kawasan
Andalan (2)
A. Perwujudan pengembangan kawasan andalan di Pulau Sumatera
meliputi:
• Strategi operasionalisasi pengembangan kawasan andalan Pulau
Sumatera terdiri atas:
• strategi operasionalisasi pengembangan kawasan andalan dengan
sektor unggulan pertanian dan perkebunan;
• strategi operasionalisasi pengembangan kawasan andalan dengan
sektor unggulan perikanan dan kelautan;
• strategi operasionalisasi pengembangan kawasan andalan dengan
sektor unggulan kehutanan;
• strategi operasionalisasi pengembangan kawasan andalan dengan
sektor unggulan pertambangan;
• strategi operasionalisasi pengembangan kawasan andalan dengan
sektor unggulan industri;
• strategi operasionalisasi pengembangan kawasan andalan dengan
sektor unggulan pariwisata.

71
Strategi Operasionalisasi Pengembangan Kawasan
A. Strategi (3)
Andalan operasionalisasi pengembangan kawasan andalan dengan
sektor unggulan pertanian dan perkebunan di Pulau Sumatera dalam
rangka mendukung ketahanan pangan dan pengembangan agribisnis
nasional dilakukan dengan meningkatkan kualitas fungsi kawasan
budi daya pertanian dan perkebunan.
B. Strategi operasionalisasi pengembangan kawasan andalan dengan
unggulan perikanan dan kelautan di Pulau Sumatera dilakukan
dengan:
• mengoptimalkan pemanfaatan potensi perikanan tangkap dan
budidaya secara berkelanjutan melalui pengembangan pusat-pusat
kegiatan perikanan yang terpadu dengan pusat-pusat koleksi dan
distribusi;
• mendorong peningkatan nilai tambah manfaat hasil-hasil perikanan
yang didukung oleh fasilitas pelayanan informasi dan jasa terpadu
serta industri pengolahan ikan yang memiliki dukungan akses yang
baik ke pasar; dan
• mengembangkan kerjasama perdagangan/pemasaran dengan
daerah-daerah produsen lainnya dan kerjasama perdagangan antar
negara.

72
Strategi Operasionalisasi Pengembangan Kawasan
Andalan
A. Strategi (4)
operasionalisasi pengembangan kawasan andalan dengan
unggulan kehutanan di Pulau Sumatera dilakukan dengan:
• mewujudkan pengelolaan hutan lestari melalui pemantapan kondisi
kawasan hutan, perencanaan, pengamanan dan perlindungan hutan
yang terpadu melalui pengendalian penebangan liar dan
penanggulangan kebakaran hutan serta rehabilitasi kawasan hutan
kritis;
• memenuhi bahan baku industri hilir dengan pembangunan Hutan
Tanaman Industri (HTI) dan pengembangan hutan rakyat;
• memperkuat kelembagaan masyarakat dalam rangka mitra sepaham
pembangunan kehutanan dan peningkatan kesejahteraan;
• menghindari terjadinya konflik kepentingan/penguasaan
lahan/kawasan hutan; dan
• mengembangkan kerjasama dengan lembaga peneliti
lokal/regional/internasional dalam rangka mengembangkan produk
hasil hutan.

73
Strategi Operasionalisasi Pengembangan Kawasan
Andalan
A. Strategi (5)
operasionalisasi pengembangan kawasan andalan dengan
sektor unggulan pertambangan di Pulau Sumatera dilakukan dengan:
• mengembangkan pengelolaan pemanfaatan sumberdaya energi dan
mineral secara optimal dengan memperhatikan daya dukung
lingkungan;
• mengendalikan kegiatan pertambangan yang mengakibatkan
degradasi lingkungan dan kegiatan pertambangan ilegal; dan
• mendorong pengembangan kawasan andalan yang memiliki sektor
ungulan pertambangan meliputi Kawasan Lhokseumawe dan
Sekitarnya, Kawasan Pantai Barat Selatan, Kawasan Andalan Laut
Lhokseumawe-Medan dan Sekitarnya, Kawasan Tapanuli dan
Sekitarnya, Kawasan Andalan Laut Selat Malaka dan Sekitarnya,
Kawasan Andalan Laut Nias dan Sekitarnya, Kawasan Solok dan
Sekitarnya, Kawasan Pekanbaru dan Sekitarnya, Kawasan Natuna dan
Sekitarnya, Kawasan Andalan Laut Batam dan Sekitarnya, Kawasan
Andalan Laut Natuna dan Sekitarnya, Kawasan Muara Bulian Timur
Jambi dan Sekitarnya, Kawasan Muara Enim dan Sekitarnya, Kawasan
Palembang dan Sekitarnya, dan Kawasan Andalan Laut Krakatau dan
Sekitarnya.

74
Strategi Operasionalisasi Pengembangan Kawasan
Andalan
A. Strategi (6)
operasionalisasi pengembangan kawasan andalan dengan
sektor unggulan industri di Pulau Sumatera dilakukan dengan
mendorong pengembangan industri pengolahan dan agro industri
untuk meningkatkan nilai tambah sektor-sektor produksi wilayah
seperti pertambangan, pertanian, perkebunan dan hasil hutan
dengan memperhatikan upaya peningkatan integrasi aktivitas
produksi antar wilayah, pemerataan hubungan antar sektor
khususnya antara kawasan pantai Timur dan Barat Sumatera,
mewujudkan iklim investasi yang kondusif, serta pemerataan
penyebaran investasi.

C. Strategi operasionalisasi pengembangan kawasan andalan dengan


sektor unggulan pariwisata di Pulau Sumatera dilakukan dengan
mengembangkan kawasan pariwisata berbasis ekosistem atau tanpa
merusak lingkungan hidup maupun budaya setempat

75
Strategi Operasionalisasi Pengembangan Kawasan
Andalan
A. Strategi (7)
operasionalisasi pengembangan kawasan andalan dengan
sektor unggulan industri di Pulau Sumatera dilakukan dengan
mendorong pengembangan industri pengolahan dan agro industri
untuk meningkatkan nilai tambah sektor-sektor produksi wilayah
seperti pertambangan, pertanian, perkebunan dan hasil hutan
dengan memperhatikan upaya peningkatan integrasi aktivitas
produksi antar wilayah, pemerataan hubungan antar sektor
khususnya antara kawasan pantai Timur dan Barat Sumatera,
mewujudkan iklim investasi yang kondusif, serta pemerataan
penyebaran investasi.

C. Strategi operasionalisasi pengembangan kawasan andalan dengan


sektor unggulan pariwisata di Pulau Sumatera dilakukan dengan
mengembangkan kawasan pariwisata berbasis ekosistem atau tanpa
merusak lingkungan hidup maupun budaya setempat

76
Strategi Operasionalisasi Pengembangan Kawasan
Andalan (8)

77
8. Strategi Operasionalisasi Pengembangan Kawasan
Strategis Nasional Perbatasan
a) Pengembangan kawasan perbatasan negara Republik Indonesia
dengan negara India, Thailand, dan Malaysia di Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam dan Sumatera Utara termasuk dua pulau kecil
terluar yaitu Pulau Rondo dan Pulau Berhala;
b) Pengembangan kawasan perbatasan negara Republik Indonesia
dengan negara Malaysia, Vietnam, dan Singapura di Provinsi Riau dan
Kepulauan Riau, termasuk 20 (duapuluh) pulau kecil terluar yaitu
Pulau Sentut, Tokong Malang Biru, Damar, Mangkai, Tokong Nanas,
Tokong Belayar, Tokong Boro, Semiun, Sebetul, Sekatung, Senua,
Subi Kecil, Kepala, Batu Mandi, Iyu Kecil, Karimun Kecil, Nipa,
Pelampong, Batu Berhanti, dan Pulau Nongsa; dan
c) Pengembangan kawasan perbatasan negara Republik Indonesia yang
berhadapan dengan laut lepas di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, dan
Lampung dengan laut lepas, termasuk pulau-pulau kecil terluar yaitu
Pulau Simeulucut, Salaut Besar, Raya, Rusa, Benggala, Simuk,
Wunga, Sibarubaru, Sinyaunyau, Enggano, Mega, Batu Kecil, da Pulau
Deli.

78
E. ARAHAN PEMANFAATAN RUANG PULAU
SUMATERA
Indikasi Program (struktur ruang dan Pola Ruang), berupa
Komitmen Pusat dan Komitmen Daerah

79
F. ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUAN
PULAU Sumatera

(8) Pengendalian pemanfaatan ruang di Pulau Sumatera


diselenggarakan sebagai upaya untuk mewujudkan
tertib tata ruang melalui penetapan indikasi arahan
peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan
disinsentif, serta pengenaan sanksi.
(9) Pengendalian pemanfaan ruang sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan
berpedoman pada arahan pengendalian pemanfaatan
ruang dalam RTRWN.

80
G.(2)KELEMBAGAAN
Penyelenggaraan penataan ruang Pulau Sumatera
dikoordinasikan oleh Menteri.
(3) Untuk mengoptimalkan penyelengaraan penataan ruang,
Menteri dapat memberikan kewenangan kepada Forum
Gubernur yang memiliki wilayah administratif di Pulau
Sumatera.
(4) Pemberian kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) untuk menjamin terselenggaranya pemanfaatan ruang di
Pulau Sumatera yang sesuai dengan struktur ruang dan pola
ruang wilayah nasional.
(5) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan
dengan monitoring dan evaluasi yang pelaksanaanya diatur
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(6) Dalam menjalankan tugas dan kewenangannya Forum
Gubernur dapat membentuk badan kerjasama
penyelenggaraan penataan ruang antarprovinsi.
(7) Tatacara kerjasama penyelenggaraan penataan ruang
antarprovinsi diatur berdasarkan kesepakatan antar
Gubernur.
(8) Kerjasama penataan ruang antarprovinsi sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) difasilitasi oleh Menteri.
81
KETENTUAN PENUTUP

RTR Pulau Sumatera ini berlaku selama waktu


berlakunya RTRWN.

82
Dari Hasil Rapat Pembahasan RTR Pulau
Sumatera, Rencana Tindak Lanjut yang akan
dilakukan:

•Dilakukan Penyempurnaan/Pengkayaan Materi


Berdasarkan Masukan Dari Instansi Sektoral dan
Pemerintah Daerah  oleh Tim Kecil DJPR;
•Pembahasan Oleh BKTRN  adanya kesepakatan
nasional (Pemerintah Daerah dan Instansi
Sektoral);
•Proses Finalisasi (Legal Drafting) yang
dikoordinasikan oleh Sekretariat Kabinet.

83
84