Anda di halaman 1dari 30

KELOMPOK 1

Disusun Oleh :
1. Michael Rendy Y / 2013017050 15. Riska/ 2013017028

2. Sri Wulandari/ 2013017023 16. Rusman awaluddin/2013017026

3. Andiyusniah 2013017037 17. Indah Ratna Dewi/ 2013017029

4. Nor Yasin Al Amin 2013017003 18. Diana Kurnia Apriani / 201301704019.

5. Rulina Citra 2013017002 19. Risky Maulina Tome/2013017046

6. Endang siti munawaroh / 2013017042 20. Selpi Bungin/2013017049

7. Ghea Ayu Ramadhan/2013017018 21. Chesy Ferenitha/2013017008

8. Linda April Liani / 2013017017 22. Putu Livia m.y / 2013017048

9. Yeusy R.P/ 2013017025 23. Zayyin Wardiah/2013017001

10. Muhammad Rizky Irawan/2013017024 24. Mitha Fransiska / 2013027043

11. Karmila Puspita Sari / 2013017038 25. Kristina Pasongli'/2013017039

12. Desta Winanda/2013017027 26. Jufriyanto Pasang 2013017054

13. Yoni miftahun nafsiyah agustin / 2013017034 27. Nadya Meydita Sari/ 201301700
28. Baiq Novita Wahyuni/2013017021
ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI FARMASI
INDONESIA (APTFI)
ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI
FARMASI INDONESIA (APTFI)
1. Sejarah APTFI
Dilandasi oleh pemikiran yang berkembang pada Kongres Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) di Jakarta
pada tahun 2000, dan didukung oleh Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Farmasi Negeri se-Indonesia, maka
disepakati pembentukan Asosiasi yang mewadahi seluruh lembaga pendidikan tinggi farmasi yang ada di Indonesia.
Dengan dihadiri oleh wakil-wakil dari institusi pendidikan tinggi farmasi Universitas Airlangga, Universitas
Surabaya, Universitas Widya Mandala, Universitas Gajah Mada, Universitas Sanata Dharma, Universitas Ahmad
Dahlan, Universitas Pancasila, Universitas Tujuh Belas Agustus 45, Universitas Indonesia, Institut Sain dan
Teknologi Nasional, Institut Teknologi Bandung, Universitas Andalas, dan Universitas Hasanuddin, dibentuklah
Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) pada tanggal 29 Agustus 2000 pada saat rapat forum
komunikasi di Fakultas Farmasi Universitas Pancasila. Badan hukum APTFI disahkan di Jakarta oleh Notaris Ny.
Endang S. Antariksa, SH No. 4, tanggal 5 Desember 2000, yang kemudian disempurnakan dalam Akta Notaris No.
686, tanggal 22 Juli 2013. Pengesahan status hukum APTFI oleh Kementerian Hukum dan HAM RI melalui
Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No. AHU-191.AH.01.07 Tahun 2013 pada tanggal 24 September 2013.
TUJUAN APTFI

1. Menetapkan standar mutu sumber daya dan penyelenggaraan


Pendidikan Tinggi Farmasi bekerjasama dengan institusi terkait.

2. Meningkatkan mutu Pendidikan Tinggi Farmasi menuju


kesetaraan standar lulusan yang memiliki kompetensi dalam ilmu,
teknologi dan profesi kefarmasian.

3. Meningkatkan kerjasama untuk pelaksanaan Tri Dharma


Perguruan Tinggi.

4. Memajukan ilmu, teknologi dan profesi kefarmasian di Indonesia

5. Mewujudkan Pendidikan Tinggi Farmasi yang berkualitas dan berdaya


saing di tingkat regional dan global.
.
ORGANISASI
ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI FARMASI INDONESIA
(APTFI)

1. Ketua: Prof. Dr. Daryono Hadi Tjahjono, M.Sc., Apt


Sekretaris: Prof. Dr. Ajeng Diantini, Apt.
Bendahara: Prof. Dr. Shirly Kumala, M.Biomed., Apt
Wakil Ketua Bidang Pendidikan: Prof. Dr. Umi Athiyah, MS, Apt.
Wakil Ketua Bidang Penunjang Pendidikan: Prof. Dr. Agung Endro Nugroho, Apt.
Komisi Pengembangan Pendidikan Ketua:
Dr. Umi Athiyah (Dekan Unair)
Komisi Organisasi dan Pendampingan Ketua:
Helmi Arifin, MS, PhD, Apt (Dekan Unand)
Komisi Kerjasama dan Hukum Ketua:
Dr. Mahdi Jufri, Apt (Dekan UI)
Keanggotaan APFTI

Anggota Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi


Indonesia adalah Lembaga Pendidikan Tinggi
Farmasi di Indonesia yang sekurang-kurangnya
menyelenggarakan Pendidikan Akademik dan
terakreditasi oleh Badan Akreditasi
Nasional/Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan
Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) yang berwenang.
PERSYARATAN KEANGGOTAAN

Persyaratan keanggotaan
1. Calon Anggota harus mengajukan permohonan
kepada APTFI dengan persyaratan sebagai berikut :
a) Mempunyai ijin penyelenggaraan Pendidikan
Akademik atau Pendidikan Profesi dari
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementrian
Riset dan Pendidikan Tinggi.
b) Mempunyai sumber daya dan mahasiswa yang
memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku.
c) Menyelenggarakan Tri Dharma Perguruan
Tinggi secara bertanggung jawab.
Penetapan Anggota disahkan dalam rapat
Anggota.
Tugas pengurus
ASOSIASI PENDIDIKAN TINGGI FARMASI INDONESIA
(APTFI)

Pengurus mempunyai tugas :


a. Mengelola organisasi menurut ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
b. Merumuskan kebijakan dan strategi untuk mencapai tujuan Asosiasi.
c. Melaksanakan hasil keputusan Kongres dan Rapat.
d. Menjalankan usaha penyempurnaan organisasi.
e. Melaksanakan program dan kegiatan organisasi.
f. Menyusun dan mengimplementasikan standar pendidikan tinggi farmasi.
g. Memberikan advokasi pada anggota secara institusional kependidikan.
h. Memberikan arbritasi kepada anggota.
Tugas Kepengurusan
Lanjutan
i) Memberikan rekomendasi pendirian program studi baru kepada pihak DIKTI.
j) Memberikan pendampingan perbaikan capacity building anggota.
k) Memperjuangkan kepentingan Anggota.
l) Membina Anggota di bidang Pendidikan Tinggi Farmasi.
m) Mengundang serta mengkoordinasikan Rapat Anggota.
n.)Membuat laporan hasil rapat dan pelaksanaan program kerja untuk semua
anggota.
o)Mewakili Asosiasi dalam rapat dengan pihak yang berwenang dan terkait.
p) Menjalin dan membina hubungan yang baik dengan lembaga atau organisasi
yang terkait.
REGULASI
ORGANISASI
Berikut Situs
WEB APFTI
Berdasarkan surat keputusan asosiasi pendidikan tinggi farmasi indonesia nomor 14/IV/SK/APTFI tahun 2017
tentang Keanggotaan Fakultas/ Sekolah/ Jurusan/ Program Studi Farmasi Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi
Indonesia

Keputusan :

1 2

Fakultas/ Sekolah/ Jurusan/ Program


Studi Farmasi yang tercantum dalam
Lampiran Surat Keputusan ini adalah Hak dan kewajiban anggota sesuai
Anggota Asosiasi Pendidikan Tinggi dengan AD/ ART APTFI.
Farmasi Indonesia (APTFI).

3
4

Setiap anggota berkewajiban


Keputusan ini berlaku sejak tanggal di
membayar iuran tahunan sesuai dengan
tetapkan, dengan ketentuan apabila
besaran yang telah disepakati bersama
terdapat kekeliruan akan diperbaiki
dan ditetapkan dalam SK Ketua
sebagaimana mestinya.
APTFI.
Contoh regulasi Organisasi/Pemerintah Terkait
Peraturan pemerintah nomor 51 tahun 2009 tentang
Pekerjaan Kefarmasian
2 Sediaan Farmasi adalah obat, bahan
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
obat, obat tradisional dan kosmetika.
4
1
Tenaga Kefarmasian adalah tenaga
3 yang melakukan Pekerjaan
Pekerjaan Kefarmasian adalah
Kefarmasian, yang terdiri atas Pelayanan Kefarmasian
pembuatan termasuk pengendalian adalah suatu pelayanan
Apoteker dan Tenaga Teknis
mutu Sediaan Farmasi, pengamanan, langsung dan bertanggung
Kefarmasian.
pengadaan, penyimpanan dan jawab kepada pasien yang
pendistribusi atau penyaluranan obat, berkaitan dengan Sediaan
pengelolaan obat, pelayanan obat Farmasi dengan maksud
atas resep dokter, pelayanan mencapai hasil yang pasti
Apoteker adalah sarjana farmasi yang
informasi obat, serta pengembangan
telah lulus sebagai Apoteker dan telah untuk meningkatkan mutu
obat, bahan obat dan obat tradisional. 5 kehidupan pasien.
mengucapkan sumpah jabatan
Apoteker.
Tenaga Teknis Kefarmasian
adalah tenaga yang membantu Fasilitas Kefarmasian
6 Apoteker dalam menjalani adalah sarana yang
Pekerjaan Kefarmasian, yang Fasilitas Kesehatan adalah
8 digunakan untuk
terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli 7 sarana yang digunakan untuk
melakukan Pekerjaan
Madya Farmasi, Analis Farmasi, menyelenggarakan pelayanan
Kefarmasian.
dan Tenaga Menengah kesehatan.
Farmasi/Asisten Apoteker.
X Y
Z X
Contoh regulasi Organisasi/Pemerintah Terkait

Menurut Peraturan Mentri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia tahun 2016 tentang Standar Pendidikan
Apoteker Indonesia Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
Standar Pendidikan Apoteker Indonesia adalah
Standar Nasional Pendidikan Tinggi, adalah satuan satuan standar yang meliputi Standar Nasional
5
1 standar yang meliputi Standar Nasional Pendidikan, Pendidikan Apoteker, ditambah dengan Standar
ditambah dengan Standar Nasional Penelitian, dan Nasional Penelitian, dan Standar Nasional
Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat. Pengabdian Kepada Masyarakat.

Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, yang selanjutnya
disingkat KKNI, adalah kerangka penjenjangan kualifikasi
tentang sistem pembelajaran pada jenjang
6 kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan
2 pendidikan tinggi di perguruan tinggi di seluruh mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang
wilayah hukum Negara Kesatuan Republik pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka
Indonesia. pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan
struktur pekerjaan di berbagai sektor.
Standar Nasional Penelitian adalah kriteria minimal
3 Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan
tentang sistem penelitian pada perguruan tinggi yang 7 mengenai capaian pembelajaran lulusan, bahan kajian,
berlaku di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan
proses, dan penilaian yang digunakan sebagai pedoman
Republik Indonesia.
penyelenggaraan program studi.
Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat Pendidikan Tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan
adalah kriteria minimal tentang sistem pengabdian menengah yang mencakup program diploma, program sarjana,
kepada masyarakat pada perguruan tinggi yang program magister, program doktor, program profesi, program
4 8 spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan
berlaku di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan
kebudayaan bangsa Indonesia.
X Y
Z X
Regulasi APTFI
Dari kajian terhadap berbagai data dan/atau informasi dalam peraturan
perundangundangan serta publikasi nasional dan internasional yang terkait
dengan penyelenggaraan pendidikan tinggi farmasi dan praktik
kefarmasian yang telah diuraikan bahwa regulasi APTFI didasarkan pada:

Kebutuhan masyarakat akan pelayanan


1 kesehatan/kefarmasian yang berkualitas.

perkembangan ilmu pengetahuan Standar kompetensi lulusan pendidikan


dan teknologi 3 farmasi memuat kompetensi utama yang
menjadi penciri program studi farmasi yaitu
tantangan globalisasi kemampuan dalam penyediaan obat
(sediaan farmasi) yang aman, efektif,
Untuk mengatasi adanya kesenjangan stabil dan bermutu
kemampuan dalam pelayanan
2 kualifikasi lulusan pendidikan tinggi
kefarmasian yang berfokus pada
farmasi, perlu ditetapkan
keamanan & kemanjuran
penggunaan obat dalam pelayanan
standar kompetensi lulusan kesehatan.
Standar kurikulum secara
terintegrasi.
Lanjutan
Regulasi APTFI

Standar kurikulum pada jenjang pendidikan Untuk memfasilitasi penguasaan


4 sarjana farmasi dan pendidikan profesi kemampuan praktik profesi, penyampaian
apoteker dirancang secara 5 muatan kurikulum pendidikan profesi
apoteker dalam bentuk
Terintegrasi (model Z)
Studi kasus
berbasis kompetensi lulusan
Penyelesaian masalah
model pembelajaran aktif
tugas/proyek, dan pembelajaran
(partisipatory learners)
langsung di sarana praktik profesi
berpusat kepada peserta didik (PKP)
(student center learning) Proporsi kegiatan pembelajaran langsung di
sarana praktik profesi (PKP)
sekurangkurangnya 60% dari total muatan
kurikulum.
Ruang Lingkup
APTFI adalah salah satu Asosiasi Institusi Pendidikan (AIP) pendiri Lembaga
Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes),
dan anggota Lembaga Pengembangan Uji Kompetensi Tenaga Kesehatan
(LPUK Nakes).
● Dilandasi oleh pemikiran yang berkembang pada Kongres Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) di Jakarta pada tahun 2000,
dan didukung oleh Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Farmasi Negeri se-Indonesia, maka disepakati pembentukan Asosiasi
yang mewadahi seluruh lembaga pendidikan tinggi farmasi yang ada di Indonesia.
● Dengan dihadiri oleh wakil-wakil dari institusi pendidikan tinggi farmasi Universitas Airlangga, Universitas Surabaya,
Universitas Widya Mandala, Universitas Gajah Mada, Universitas Sanata Dharma, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas
Pancasila, Universitas Tujuh Belas Agustus 45, Universitas Indonesia, Institut Sain dan Teknologi Nasional, Institut Teknologi
Bandung, Universitas Andalas, dan Universitas Hasanuddin, dibentuklah Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI)
pada tanggal 29 Agustus 2000 pada saat rapat forum komunikasi di Fakultas Farmasi Universitas Pancasila. Badan hukum APTFI
disahkan di Jakarta oleh Notaris Ny. Endang S. Antariksa, SH No. 4, tanggal 5 Desember 2000, yang kemudian disempurnakan
dalam Akta Notaris No. 686, tanggal 22 Juli 2013. Pengesahan status hukum APTFI oleh Kementerian Hukum dan HAM RI
melalui Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No. AHU-191.AH.01.07 Tahun 2013 pada tanggal 24 September 2013.
● Saat ini, selain didukung oleh Komisi Pengembangan Pendidikan, Komisi Organisasi dan Pendanmpingan, dan Komisi Kerjasama
dan Hukum, untuk mengefisienkan komunikasi sesama anggota, APTFI memiliki 5 Forum Wilayah (ForWil), yaitu (1) Sumatera,
(2) Jawa Barat-Banten-DKI-Kalimantan Barat, (3) Jawa tengah-DIY-Kalimantan Selatan, (4) Jawa Timur-Bali, Nusa Tenggara
Barat-Nusa Tenggara Timur, dan (5) Kalimantan Timur-Kalimantan Utara-Sulawesi, Maluku-Maluku Utara-Papua-Papua Barat.
Ruang Lingkup Tugas Pokok dan Fungsi APTFI
APTFI Menyusun dan menetapkan standar kompetensi lulusan (learning outcomes) dan
standar kurikulum sebagai rambu-rambu bagi semua institusi penyelenggara Pendidikan
Tinggi Farmasi (PTF) dalam menjamin mutu dan kemampuan sumber daya. Standar
kompetensi lulusan dan standar kurikulum ini merupakan bagian untuk meningkatkan mutu
Pendidikan Tinggi Farmasi menuju kesetaraan standar lulusan yang memiliki kompetensi
dalam ilmu, teknologi dan profesi kefarmasian. APTFI memperhatikan masukan organisasi
profesi IAI dan pemangku organisasi lainnya guna mewujudkan Pendidikan Tinggi Farmasi
yang berkualitas dan berdaya saing di tingkat regional dan global. APTFI bekerjasama
dengan asosiasi Pendidikan tinggi farmasi lainnya maupun organisasi profesi (IAI, FAPA,
FIP) untuk menjamin terlaksananya proses Pendidikan yang bermutu.
Ruang Lingkup terkait
APTFI
Berdasarkan draft rancangan
Standar Pendidikan Apoteker
Indonesia yang disahkan
pada 2016
BAB II
STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN APOTEKER
Ruang lingkup standar nasional pendidikan apoteker
Standar pendidikan paoteker terdiri atas :

1. Standar kompetensi lulusan, merupakan kriteria minimal tentang kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dinyatakan dalam

rumusan capaian pembelajaran lulusan pendidikan apoteker

2. Standar isi pembelajaran, merupakan kriteria minimal tingkat kedalaman dan keluasan materi pembelajaran

3. Standar proses pembelaaran, merupakan kriteria minimal tentang pelaksanaan pembelajaran pada program studi sarjana farmasi dan program studi profesi apoteker untuk

memperoleh capaian pembelajaran lulusan

4. Standar penilaian pembelajaran, merupakan kriteria minimal tentang penilaian proses dan hasil belajar mahasiswa dalam rangka pemenuhan capaian pembelajaran lulusan.

5. Standar dosen dan tenaga kependidikan, merupakan kriteria minimal tentang kualifikasi dan kompetensi dosen dan tenaga kependidikan untuk menyelenggarakan pendidikan

dalam rangka pemenuhan capaian pembelajaran lulusan.

6. Standar sarana dan prasarana pembelajaran, merupakan kriteria minimal tentang sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan isi dan proses pembelajaran dalam rangka

pemenuhan capaian pembelajaran lulusan.

7. Standar pengelolaan pembelajaran, pembelajaran merupakan kriteria minimal tentang perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pemantauan dan evaluasi, serta pelaporan kegiatan

pembelajaran pada tingkat program studi.

8. Standar pembiayaan pembelajaran, merupakan kriteria minimal tentang komponen dan besaran biaya investasi dan biaya operasional yang disusun dalam rangka pemenuhan

capaian pembelajaran lulusan.


BAB III
STANDAR NASIONAL PENELITIAN

Bagian Kesatu Ruang Lingkup Standar Nasional Penelitian


Pasal 43
Ruang lingkup Standar Nasional Penelitian terdiri atas:
a) standar hasil penelitian;
b) standar isi penelitian;
c) standar proses penelitian;
d) standar penilaian penelitian;
e) standar peneliti;
f) standar sarana dan prasarana penelitian;
g) standar pengelolaan penelitian; dan
h) standar pendanaan dan pembiayaan penelitian.
● Standar hasil penelitian merupakan kriteria minimal tentang mutu hasil penelitian. Hasil penelitian
mahasiswa, harus mememenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), capaian pembelajaran
lulusan,dan ketentuan peraturan di perguruan
● Standar isi penelitian merupakan kriteria minimal tentang kedalaman dan keluasan materi penelitian.
Materi pada penelitian dasar dan penelitian terapan mencakup materi kajian khusus untuk kepentingan
nasional
● Standar proses penelitian merupakan kriteria minimal tentang kegiatan penelitian yang terdiri atas
perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan. Kegiatan penelitian harus mempertimbangkan standar mutu,
keselamatan kerja, kesehatan
● Standar penilaian penelitian merupakan kriteria minimal penilaian terhadap proses dan hasil penelitian
● Penilaian penelitian dapat dilakukan dengan menggunakan metode dan instrumen yang relevan,
akuntabel, dan dapat mewakili ukuran ketercapaian kinerja proses dan pencapaian kinerja hasil penelitian
● Standar peneliti merupakan kriteria minimal kemampuan peneliti untuk melaksanakan penelitian.
Kemampuan peneliti sebagaimana dimaksud yaitu menentukan kewenangan melaksanakan penelitian.
● Standar sarana dan prasarana penelitian merupakan kriteria minimal sarana dan prasarana yang
diperlukan untuk menunjang kebutuhan isi dan proses penelitian dalam rangka memenuhi hasil
penelitian.
● Sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memenuhi standar mutu,
keselamatan kerja, kesehatan, kenyamanan, dan keamanan peneliti, masyarakat, dan lingkungan.
● Standar pengelolaan penelitian merupakan kriteria minimal tentang perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian, pemantauan dan evaluasi, serta pelaporan kegiatan penelitian. Pengelolaan
penelitian sebagaimana dimaksud p dilaksanakan oleh unit kerja dalam bentuk kelembagaan yang
bertugas untuk mengelola penelitian dan ruang lingkup perguruan tinggi
● Standar pendanaan dan pembiayaan penelitian merupakan kriteria minimal sumber dan mekanisme
pendanaan dan pembiayaan penelitian. Mekanisme pendanaan dan pembiayaan penelitian diatur
oleh pemimpin perguruan tinggi.
● Perguruan tinggi wajib menyediakan dana pengelolaan penelitian
BAB IV
STANDAR PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

Ruang Lingkup Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat


Pasal 54
Ruang lingkup Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat terdiri atas:
1) standar hasil pengabdian kepada masyarakat;
2) standar isi pengabdian kepada masyarakat;
3) standar proses pengabdian kepada masyarakat;
4) standar penilaian pengabdian kepada masyarakat;
5) standar pelaksana pengabdian kepada masyarakat;
6) standar sarana dan prasarana pengabdian kepada masyarakat;
7) standar pengelolaan pengabdian kepada masyarakat; dan
8) standar pendanaan dan pembiayaan pengabdian kepada masyarakat.
• Standar hasil pengabdian kepada masyarakat merupakan kriteria minimal hasil pengabdian kepada
masyarakat dalam menerapkan, mengamalkan, dan membudayakan ilmu pengetahuan dan teknologi
guna memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
• Standar isi pengabdian kepada masyarakat merupakan kriteria minimal tentang kedalaman dan
keluasan materi pengabdian kepada masyarakat.
• Standar proses pengabdian kepada masyarakat merupakan kriteria minimal tentang kegiatan
pengabdian kepada masyarakat, yang terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan
kegiatan.
• Standar penilaian pengabdian kepada masyarakat merupakan kriteria minimal tentang penilaian
terhadap proses dan hasil pengabdian kepada masyarakat. Penilaian proses dan hasil pengabdian
kepada masyarakat dilakukan secara terintegrasi paling sedikit memenuhi unsur edukatif, objektif,
akuntabel, transparan.
• Standar pelaksana pengabdian kepada masyarakat merupakan kriteria minimal kemampuan
pelaksana untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dimana pelaksana pengabdian
kepada masyarakat wajib memiliki penguasaan metodologi penerapan keilmuan yang sesuai dengan
bidang keahlian, jenis kegiatan, serta tingkat kerumitan dan kedalaman sasaran kegiatan.
• Standar sarana dan prasarana pengabdian kepada masyarakat merupakan kriteria minimal tentang
sarana dan prasarana yang diperlukan untuk menunjang proses pengabdian kepada masyarakat
dalam rangka memenuhi hasil pengabdian kepada masyarakat.
• Standar pengelolaan pengabdian kepada masyarakat merupakan kriteria minimal tentang
perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pemantauan dan evaluasi, serta pelaporan kegiatan
pengabdian kepada masyarakat.
• Standar pendanaan dan pembiayaan pengabdian kepada masyarakat merupakan kriteria minimal
sumber dan mekanisme pendanaan dan pembiayaan pengabdian kepada masyarakat. Perguruan
tinggi wajib menyediakan dana internal untuk pengabdian kepada masyarakat. Selain dari dana
internal perguruan tinggi, pendanaan pengabdian kepada masyarakat dapat bersumber dari
pemerintah, kerja sama dengan lembaga lain di dalam maupun di luar negeri, atau dana dari
masyarakat.
Terima kasih