Anda di halaman 1dari 39

KIPI

KOMNAS PP-KIPI

(Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)

KOMNAS PP KIPI
Pusat Haji, 10 Agustus 2010

Dr.Julitasari ~ KOMNAS PP KIPI


Pengertian Imunisasi

Proses menghasilkan imunitas


(kekebalan) secara aktif pada manusia
terhadap penyakit penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi (PD3I) dengan cara
pemberian bahan imunobiologik (vaksin)


Usaha pencegahan kesehatan primer
Tujuan Imunisasi

Melindungi seseorang terhadap


penyakit tertentu (intermediate goal)


Menurunkan prevalensi penyakit
(mengubah epidemiologi penyakit)


Eradikasi penyakit (final goal)
Prinsip Imunisasi
 Imunisasi diberikan kepada orang sehat 
setelah imunisasi maka harus tetap sehat

 Penerima vaksin harus sehat


– Tidak boleh sedang sakit
– Tidak boleh dalam keadaan akan menjadi sakit kalau divaksin
– Bagi kelompok risiko tinggi, minta saran kepada dokter

 Tata laksana imunisasi harus mengikuti baku


pelaksanaan yang sudah dibuat (S.O.P)
– Safe injection
Prinsip Imunisasi

 Vaksin untuk imunisasi harus patent  punya


kemampuan merangsang sistem imun tubuh utk
membuat antibodi yg cukup.
 Vaksin untuk imunisasi Harus aman  tidak boleh
menimbulkan masalah  tidak boleh mempunyai
kejadian ikutan yg membahayakan penerima vaksin.
 Vaksin yg diberikan memenuhi persyaratan
pembuatan dan penyimpanan yg sudah dibakukan
– pembuatan vaksin mengikuti persyaratan global dan diawasi
secara berkala dengan teratur oleh WHO
– penyimpanan vaksin yang baik dan ketat pengawasannya
KIPI
Kejadian medik yang berhubungan
dengan imunisasi, baik berupa efek
vaksin ataupun efek simpang, toksisitas,
reaksi sensitivitas, efek farmakologis
maupun kesalahan program, koinsiden,
reaksi suntikan, atau hubungan kausal
yang tidak dapat ditentukan.

Dr.Julita ~ KOMNAS PP KIPI


Surveilans KIPI

Selama pelaksanaan imunisasi monitoring keamanan vaksin


Aktif Mahal, kecuali vaksin baru sebagai kewajiban (PMS)
Pasif  Berjalan dan terlaksana dengan baik oleh
KOMNAS & KOMDA PP KIPI
Imunisasi rutin pada calon jemaah haji diberikan
 sejumlah besar dan hampir serentak pada musim haji.

Dr.Julita ~ KOMNAS PP KIPI


SITUASI SAAT INI

1. Peningkatan program error


• tidak familiar dengan vaksin yang dipergunakan
(vaksin baru)
• jumlah yg disuntik >, terburu-buru, tidak sesuai
SOP
2. Rentang usia yang besar kurang pengalaman
menangani KIPI pada orang dewasa
3. Hambatan dari kelompok anti imunisasi 
perhatian terhadap KIPI >>
4. Rumor (isu) menyebar dengan cepat dan
merusak pelaksanaan imunisasi sebelum ada
kesempatan untuk menjelaskan.
KIPI yang harus di investigasi

1. KIPI yang disebabkan oleh program error 


perbaikan program
2. Kejadian serius yang memerlukan
• perawatan RS
• menyebabkan kematian
3. Kejadian serius dengan sebab yang tak dapat
dijelaskan
4. Menimbulkan kekhawatiran masyarakat
KIPI yang perlu dilaporkan

Terjadi dalam waktu •Reaksi hipersensitifitas (anaphylactic reaction)


24 jam setelah •Anafilaksis
imunisasi •Sindrom syok toksik (Toxic shock syndrome)

Terjadi dalam waktu 5 •Reaksi lokal berat


hari sejak imunisasi •Sepsis

•Abses pada tempat suntikan


Terjadi 6 – 12 hari •Kejang, kejang demam
setelah imunisasi •Ensefalopati

Terjadi 15 – 35 hari •Trombositopenia


setelah imunisasi Dr.Julita ~ KOMNAS PP KIPI
Alur Pelacakan KIPI

Penemuan kasus Informasi dari


24 jam identitas ortu / masyarakat
Pelacakan tunggal/ kelompok Petugas kes
ada kasus lain
klasifikasi Kepala Puskesmas
Analisis Dinas kesehatan
penyebab KOMDA KIPI
pengobatan
Tindak lanjut komunikasi Puskesmas
RS rujukan
perbaikan mutu pelayanan
tata laksana kasus
Evaluasi Evaluasi
pemantauan KIPI
Dr.Julita ~ KOMNAS PP KIPI
Pelaporan
Pencatatan & Pelaporan
KIPI
Identitas
Riwayat imunisasi terdahulu
Hari, tanggal, jam, terjadinya KIPI
Gejala klinis : cepat-lambat, lokal-SSP
Interval antara imunisasi - gejala
Pemeriksaan penunjang
Diagnosis & Pengobatan
Kronologis (cara penyelesaian KIPI)
Aspek/ delik hukum
Tanda tangan pengirim laporan
RR kasus diduga KIPI oleh KOMNAS & KOMDA PP-KIPI
dientry dengan program / software khusus (EPI-WHO)
shg jadi database yg bisa update dan analisa
Dr.Julita ~ KOMNAS PP KIPI
R AH AS I A PEMANTAUAN KIPI

KIRIMAN BALASAN
Izin : KP-1 JKP NO. 149/PRKB/JKP/1999 KIRIM
TANPA
KEPADA PERANGKO
PT. POS INDONESIA (PERSERO)
KEPALA KANTOR POS
JAKARTA 13000
Untuk diserahkan kepada :
Sekretariat Pokja " KIPI"
up. Sub.Dit.Imunisasi, Direktorat EPIM
Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan Pemukiman
Departemen Kesehatan R.I
Jln. Percetakan Negara No.29, Telp. 4249024. 4257044
JAKARTA 10560.

PENGIRIMAN :

Nama :
Keahlian :
Alamat :
Nomor Telepon :
Fax :
E-mail :

PENJELASAN :

1 Pemantauan KIPI dimaksud untuk memantau sEmua kejadian yang timbul


setelah pemberian imunisasi.
2 Hasil evaluasi dari semua informasi yang terkumpul akan digunakan sebagai
bahan untuk melakukan penelitian kembali vaksin yang beredar serta untuk
melakukan tindakan perbaikan yang diperlukan.
3 Kerahasian data pasien & pelapor akan dijamin dan data digunakan sebagai
dokumen ilmiah.
FORMULIR PELAPORAN KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI Diisi oleh POKJA KIPI :
( KIPI ) Kode sumber data : ............................
Tgl. terima :........................................
Identitas pasien

Nama : ............................................ Tanggal lahir : ................./ ..../...... Penanggung jawab (dokter)


Nama Orang Tua : ............................................ Jenis Kelamin ..........................................................
Alamat : ............................................ * Laki-laki .......................... Alamat (RS, Puskesmas, Klinik)
............................................ * Perempuan .......................... ..........................................................
Kota : ............................................ Bagi Wanita Usia Subur (WUS) RT/RW : .............. Kel. .......................
Prop.: ............................................ * Hamil .......................... Kota : .................. Kode Pos ...........
Telp.: ............................................ * Tidak hamil .......................... Prop. : .............................................
* Tidak tahu .......................... Telp. : .............................................
Pemberi Imunisasi :
Dokter/bidan/perawat/jarum
Daftar vaksin yang pernah diberikan dalam 4 minggu terakhir, termasuk imunisasi terakhir
Jenis Vaksin Pabrik No./Batch Pemberian
Cara tetes oral / i.m Jumlah Tanggal Tempat pemberian
subkutan / intrakutan dosis Imunisasi Imunisasi (*)
1
2
3
4
(*) Tempat pemberian imunisasi di :
1. RS 2. RB 3. Puskesmas 4. Dokter Praktek 5. Bidan Praktek 6. BP 7. Balai Imunisasi 8. Sekolah
Manifestasi kejadian ikutan (keluhan, gejala klinis)
Tanggal Lama Gejala
Keluhan & Ge ja la Klinis Gejala timbul mnt jam hari Keterangan Lanjutan / Hari akhir

Reaksi alergi Tindakan darurat


* gatal Rawat inap
* bengkak bibir Rawat jalan
* urtikaria Sembuh
Muntah Tidak sembuh
Diare Meninggal ( tgl. .....................)
Pingsan Gejala sisa
Kejang Diagnosis :
Sesak nafas Ensefalitis atau ensefalopati
Demam tinggi (>39 C) lebih satu hari Sindrom Guillain Barre
Bengkak pada tempat suntikan Hipotensif hiporesponsif
Pembesaran kelenjar aksila Abses
Kelemahan/kelumpuhan otot :tangan/tungkai Neuritis brankhiat
Kesadaran menurun Syok anafilaksis
Lain-lain Poliomielitis paralitik
Trombositopenia purpura

Riwayat efek samping obat/vaksin yang pernah dialami :

Obat-obatan yang diberikan bersamaan : Data laboratorium (bila ada)

................. ................... ............

Penyakit yang diduga diderita pada saat imunisasi (spesifik) Diagnosis dokter tentang :
alergi, kelainan sejak lahir, pengobatan khusus (spesifik)
ada / tidak
Bila ada sebutkan : ..........................................................................................
Pengobatan yang diberikan :

...................................................... .................................................................... .....................................................................

Waktu penerimaan laporan KIPI ..............................................., tgl. .........................../ ......./ ...........


Tanggal : ........../....../......... Tanda Tangan Pelapor,

( ............................................. )
KLASIFIKASI KIPI

 KLASIFIKASI LAPANGAN
(FIELD CLASSIFICATION, WHO 1999)

 KLASIFIKASI KAUSALITAS
(CAUSALITY ASSESSMENT,WHO/ UPDATE
NEWS)
KLASIFIKASI LAPANGAN
(WHO, 1999)

1. REAKSI VAKSIN
2. KESALAHAN PROGRAM
3. REAKSI SUNTIKAN
4. KEBETULAN
5. TIDAK DIKETAHUI
 Klasifikasi lapangan ini dipakai pd pencatatan
& pelaporan KIPI
1. REAKSI VAKSIN

 REAKSI VAKSIN YG BIASA &


RINGAN ( “ normal ” )

 REAKSI VAKSIN LANGKA /


JARANG
2. KESALAHAN PROGRAM
KESALAHAN PROGRAM PERKIRAAN KIPI
Tidak steril Infeksi
Pemakaian ulang alat suntik / jarum Abses lokal di daerah suntikan
Sterilisasi yg tidak sempurna Sepsis, sindrom syok toksik,
Vaksin / pelarut terkontaminasi Infeksi penyakit yg ditularkan lewat darah :
Pemakaian sisa vaksin utk beberapa sesi hepatitis, HIV
vaksinasi
Salah pakai pelarut vaksin Abses lokal karena kurang kocok
Pemakaian pelarut vaksin yg salah Efek negatif obat mis. Insulin
Memakai obat sebagai vaksin atau pelarut Kematian
vaksin Vaksin tidak efektif

Penyuntikan salah tempat


BCG subkutan Reaksi lokal / abses
DPT/DT/TT kurang dalam Reaksi lokal / abses
Suntikan di bokong Kerusakan N Sciaticus

Transportasi / penyimpanan vaksin tidak Reaksi lokal akibat vaksin beku


benar Vaksin tidak aktif (tidak potent)

Mengabaikan indikasi kontra Tidak terhindar dari reaksi yg berat


3. KIPI REAKSI SUNTIKAN

REAKSI SUNTIKAN LANGSUNG


- RASA SAKIT, BENGKAK & KEMERAHAN

REAKSI SUNTIKAN TIDAK LANGSUNG


- RASA TAKUT
- NAFAS TERTAHAN
- PERNAFASAN SANGAT CEPAT
- PUSING, MUAL / MUNTAH
- KEJANG
- SINKOPE
Hasil pengamatan pada CT
Keamanan : (studi pada kelompok umur 11-55 th)

 Tidak ada laporan kematian selama studi

 Secara keseluruhan 75%-84% pada semua kelompok mengalami

se kurang-2 nya satu reaksi lokal atau sistemik.

 Reaksi lokal : 63% (pain 56%, erytheme 20%, indurasi 13%).

 Reaksi sistemik : 44% (chills 7%, nausea 9%, malaise 19 %, myalgia

15%, arthralgia 8%, headache 37%, fever >38 C.


Keamanan pada CT (55-65th)

 Any reaction 57%


 Local reaction 43%
 Systemic reaction 39%
 Other reaction 13%

Ada 6 studi yang angka kisaran hampir sama


4. KEBETULAN (KOINSIDEN)

 KEJADIAN YG TIMBUL, TERJADI SECARA


KEBETULAN SETELAH IMUNISASI

 DITEMUKAN KEJADIAN YG SAMA DI SAAT


BERSAMAAN PD KELOMPOK POPULASI
SETEMPAT TETAPI TIDAK DIIMUNISASI

 VAKSIN DISALAHKAN SEBAGAI


PENYEBABNYA
5. PENYEBAB TIDAK DIKETAHUI

KEJADIAN YG DILAPORKAN
BELUM DAPAT DIKELOMPOKKAN
KE DALAM SALAH SATU PENYEBAB

DIBUTUHKAN KELENGKAPAN
INFORMASI LEBIH LANJUT
WHO Categories for Causality

1. Very likely/Certain
2. Probable
3. Possible
4. Unlikely
5. Unrelated
6. Unclassifiable
WHO Causality Assessment Criteria

1. Very likely / Certain


Clinical event with a plausible time relationship to
vaccine administration and which cannot be
explained by concurrent disease or other drugs or
chemicals

Gejala klinis dg kecacatan waktu yg mungkin


(masuk akal) terhadap pemeriksaan vaksin tidak
bisa dijelaskan dengan penyakit saat ini/atau
obat/bahan kimia lainnya
WHO Causality Assessment Criteria

2. Probable
Clinical event with a reasonable time relationship
to vaccine administration and is unlikely to be
attributed to concurrent disease or other drugs or
chemicals
Gejala klinis dengan kaitan waktu yang beralasan
Dengan pemberian vaksin dan tidak mungkin
dikaitkan dengan penyakit yang diderita saat
ini/obat/bahan kimia lainnya
WHO Causality Assessment Criteria

3. Possible
Clinical event with a reasonable time relationship to
vaccine administration but which could also be
explained by concurrent disease or other drugs or
chemicals
Kejadian Klnik yang dikaitkan dengan waktu yang wajar
dengan pemberian vaksin, namun dapat dijelaskan
dengan penyakit saat ini/obat/bahan lainya

4. Unlikely
Clinical event whose time relationship to vaccine
administration makes causal connection improbable but
which could plausibly be explained by underlying
disease or other drugs or chemicals
WHO Causality Assessment Criteria

3. Possible
Clinical event with a reasonable time
relationship to vaccine administration but
which could also be explained by concurrent
disease or other drugs or chemicals
Kejadian Klnik yang dikaitkan dengan waktu
yang wajar dengan pemberian vaksin,
namun dapat dijelaskan dengan penyakit
saat ini/obat/bahan lainya
WHO Causality Assessment Criteria

3. Possible
Clinical event with a reasonable time relationship to
vaccine administration but which could also be explained by
concurrent disease or other drugs or chemicals

Kejadian Klnik yang dikaitkan dengan waktu yang wajar


dengan pemberian vaksin, namun dapat dijelaskan dengan
penyakit saat ini/obat/bahan lainya
WHO Causality Assessment Criteria

4. Unlikely
Clinical event whose time relationship to vaccine
administration makes causal connection improbable but
which could plausibly be explained by underlying disease or
other drugs or chemicals

Kejadian Klnik yang dikaitkan dengan waktu yang dengan


pemberian vaksin membuat koreksi kausala sangat tidak
mungkin , namun dapat dijelaska’’n dengan penyakit saat
ini/obat/bahan lainya
WHO Causality Assessment Criteria

5. Unrelated
Clinical event with an incompatible time relationship to
vaccine administration and which could be explained by
underlying disease or other drugs or chemicals

Kejadian Klnik yang dikaitkan dengan waktu yang tidak


sesuai dengan pemberian vaksin, namun dapat dijelaskan
dengan penyakit saat ini/obat/bahan lainnya
WHO Causality Assessment Criteria

6. Unclassifiable
Clinical event with insufficient information to permit
assessment and identification of the cause

Kejadian Klnik yang dikaitkan dengan waktu yang tidak


cukup informasi untuk dilakukan observasi dengan
pemberian vaksin
Unrelated
Alternate explanations

Yes Possible Unlikely

Maybe Probable Possible

No Certain Probable

Compatible Incompatible

Unclassifiable Onset time


Categories of Causality using WHO Causality
Assessment Criteria

Very likely Vaccine reaction


Probable Injection Reaction
Possible Programmatic error

Unlikely Coincidental events


Unrelated

Unclassifiable Insufficient evidence


to classify
Sejarah Komnas KIPI
 Tahun 1997 : SK Direktorat Jenderal P2M & PL Depkes RI Nomor:
HK.00.06.5.448 Kelompok Kerja Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi
(Pokja KIPI).
 Tahun 2002 : SK Menteri Kesehatan RI No:10/MENKES/SK/I/2002
tentang terbentuknya Komite Nasional Pengkajian dan
Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KOMNAS PP
KIPI) menggantikan Pokja KIPI.
 Tahun 2004 : SK Menteri Kesehatan RI No:409/MENKES/SK/III/
2004 tentang perpanjangan tugas KOMNAS PP- KIPI.
 Tahun 2008 terbit lagi surat keputusan Menteri Kesehatan RI
dengan No:203/MENKES/SK/II/2008tentang perpanjangan tugas dan
pembaharuan KOMNAS PP-KIPI
Tugas Komnas PP-KIPI
KOMNAS PP KIPI yang bertanggung jawab pada Menteri
Kesehatan melalui Direktur Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan mengemban tugas :
 Melakukan evaluasi terhadap setiap laporan KIPI
yang diterima, maupun KIPI yang menjadi perhatian
masyarakat.
 Menindak lanjuti laporan KIPI yang masuk
 Melakukan kajian terhadap laporan KIPI yang
diterima.
 Membuat rekomendasi dan umpan balik
 Berkoordinasi dengan kelompok kerja atau lembaga,
baik ditingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota
yang terkait dengan KIPI dalam penanggulangan KIPI
Tips’ Surveilans KIPI
 TRAIN: Pelatihan ttg KIPI yg umum dan cara
penanggulangannya
 Rapid: Kembangkan jalur pelaporan yg cepat dari lapangan
sampai kepada orang yg bertanggun jawab utk monitoring
KIPI ( telp atau fax)
 Analisa data dg cepat dan lakukan tindakan secepatnya .
 Feed back: Umpan balik mingguan utk meyakinkan staf &
masy. Tidak ada problem.
 Comite ahli utk review causality dari KIPI
 Track: Telusuri jumlah dosis setiap vaksin dan lot vaksin yg
telah di distribusikan serta tempat distribusi
 Antisipasi kekhawatiran dg menyiapkan “ Tanya –jawab” ttg
KIPI,
 Spokesperson tunjuk juru bicara utk menghadapi media .
Dr.Julita ~ KOMNAS PP KIPI
Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai