Anda di halaman 1dari 13

WINTER

Template
STUDY KASUS
Dosen: Putu rika Veryanti., S.Farm.M. Farm-Klin., Apt.
 
Disusun Oleh Kelompok 8 :
1. Dedek Suwanda (20340099)
2. Ersamukti R. Achmad (20340097)
3. Erika Sekar Arumi (20340082)
4. Juniar Prihandini (20340053)
5. Maisarah (20340077)
6. Marita Tifani (20340063
Kelas: B (Reguler)
Profesi Apoteker Angkatan 40
SOAL KASUS 4
Pasien a.n Ny. SH usia 67 th, MRS tgl 11 September
2020 dgn keluhan mual, muntah dan BAB warna hitam,
panas selama tiga hari. Pasien gemuk, sering alami
kekakuan dan nyeri sendi terutama pagi hari. Riwayat
obat jamu pegal linu dan puyer 16. Data vital sign
( nadi : 90 x/mnt ; RR 22x/mnt; suhu 38ºC). Data lab,
leukosit 12.000/mm3, Hb.12,0 g/dL, K 2,5 mEq/L.
Pasien didiagnosis obs. Febris + gastritis + melena. Dari
foto genue pasien mengalami oateoarthritis. Dokter yang
merawat memberi antasida sir 3x CII, omeprazole 20 mg
2x1, parasetamol 4x1, ceftriaxone inj 2x1, piroksikam 10
mg 2x1. Kerjakan dengan SOAP! (Tulis pada daftar
pustaka semua literatur yang digunakan, termasuk url
web jurnal).
1 Subjektif ( Data Keluhan Pasien )
Data keluhan pasien
Mual dan muntah
BAB berwarna hitam ( malena )
Panas selama 3 hari (obs. Febris)
Kaku dan nyeri sendi pagi hari ( osteoatritis )
2 Objektif
Tanda – tanda vital
Nadi 90 kali/menit
RR (Laju pernafasan ) 22 kali / menit
Suhu tubuh 38 ºC

Data Hasil Pemeriksaan Lab


Leukosit 12.000 /mm3 4.500 – 10.000/mm3
Hemoglobin 12 g/dL 13,2 -17 g/dL
Kalium 2,5 mEq/L 3,5 – 5,0 mEq/L
Diagnosis DOKTER : Riwayat obat yang di konsumsi
DIAGNOSIS Riwayat obat
Malena Puyer 16
Obs.Febris Jamu pegel linu
gastritis
osteoatritis

Obat yang di resepkan :

Obat yang Frekuensi


didapat
Antasida syrup 3 x C II
Omeprazole 20mg 2x1
Parasetamol 4x1
Ceftriaxone inj 2x1
Piroksikam 10mg 2x1
3 ASSESMENT
PROBLEM MEDIK TERAPI DRP KETERANGAN

1. Osteoarthritis Piroxicam 10 mg 2 x 1 Tidak tepat obat, karena Hentikan pemakaian


Piroksikam dikontraindikasi dengan
pasien riwayat tukak lambung atau piroxicam
pendarahan lambung
( IONI 2017 Hal 861)

2. Gastritis - Antasida Syr 3 x C II Pemberian antasida bersama – Jeda waktu penggunaan


sama dengan obat lain sebaiknya obat dibutuhkan untuk
dihindari karena mungkin dapat mengantisipasi interaksi
mengganggu absorpsi obat lain. yang dapat terjadi antara
antasida dengan obat lain
Efek samping obat : yaitu 2 – 3 jam.
Sediaan antasida yang mengandung (Sweetman, 2009 dalam
aluminium dapat menyebabkan Jurnal Farmasi Komunitas,
Konstipasi 2014)
antasida berguna menetralisir asam
lambung tapi tidak menurunkan
produksinya.
- Omeprazole 20 mg Berfungsi mengurangi produksi
asam lambung sehingga pada
akhirnya produksi asam menurun
PROBLEM MEDIK TERAPI DRP KETERANGAN

1. Leukosit meningkat Ceftriaxson ijeksi Kemungkinan terjadinya infeksi Perlunya pemeriksaan yang
disaluran cerna pasien dikarenkan spesifikasi jika terjadi
meningkatnya nilai leukosit infeksi.
sehingga diberikan terapi empiris
untuk mencegah terjadinya infeksi
yang semakin parah.

2. kalium dibawah normal - Tidak ada obat Perlunya pemeriksaan


lebih lanjut untuk melihat
pasien apakah mengalami
hipokalemia dikarenakan
fungsi ginjal menurun atau
dikarenakan problem di
tubuh pasien.
3. obs. Febris (Demam) Parasetamol tab Eso : Hepatotoxicity, Renal toxicity Keluhan mual – muntah
Penurun panas dan Pereda nyeri (Long – term use). pasien
Untuk nyeri ringan (pilihan pertama)
Sedangkan untuk nyeri sedang – berat Meningkatkan resiko mual dan
NSAID lebih efektif. muntah pada pasien
4 PLAN .
No Rekomendasi dan alasan Monitoring Target

1. Penggunaan antasida dan omeprazole diberi jeda 2 – 3 jam Efek samping obat dan Eso berkurang
karena akan mengganggu absorsi obat lainnya efektivitas nya

2. Penggunaan antibiotik pada kasus ini hanya sebagai terapi Resistensi Tidak terjadi infeksi
empiris pada infeksi .
Heliobacter pylori mungkin ditemui pada pasien yang
mengalami dispepsia namun dalam kasus ini tidak ada data
pendukung yang menyatakan adanya H.pylori
o Sebaiknya tetap digunakan antibiotik ceftriaxon

3. Hentikan Riwayat pengobatan jamu sebelumnya - -

4. Penggunaan piroxicam 20 mg 2x1 ditiadakan karena dapat gastrointestinal Nyeri lambung berkurang
memperparah masalah di lambung dan usus.

Mekanisme kerja : menghambat sintesis prostaglandin


dengan hambatan pada enzim COX-1 dan COX-2 sehingga
konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu.
Aktivasi COX-1 akan menghasilkan prostaglandin yang
mengatur funsi fisiologis penting seperti sitoprotektif pada
mukosa lambung, memelihara fungsi tubulus ginjal dan
platelet.
No Rekomendasi dan alasan Monitoring Target

5. Pilihan utama pada penyakit OA yaitu Paracetamol. Pasien Efektivitas PCT Nyeri OA berkurang
disarankan diberikan terapi PCT terlebih dahulu, dengan
dosis 500mg 3x1 hari. Dengan dosis max 4g/hri.

6. Jika penggunaan PCT tidak efektif, dpt digunakan NSAID ESO terhadap pasien (gastro). Nyeri OA berkurang
(piroxicam) dimulai dg dosis terendah (10 mg 1x1) dan di
sertai terapi obat lambung.
Mekanisme kerja : menghambat sintesis prostaglandin
dengan hambatan pada enzim COX-1 dan COX-2 sehingga
konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu.
Aktivasi COX-1 akan menghasilkan prostaglandin yang
mengatur funsi fisiologis penting seperti sitoprotektif pada
mukosa lambung, memelihara fungsi tubulus ginjal dan
platelet.

7. Jika NSAID terbukti menimbulkan ESO yg berbahaya, dapat Monitoring fungsi ginjal Keluhan OA berkurang.
disarankan untuk diganti dengan obat selektif COX-2 yaitu terhadap penggunaan celexosib
celexosib 200mg/hari.
Mekanisme kerja : mengahmabt biosintesis prostaglandin
yang merupakan mediator inflamasi dengan menghambat
enzim COX-2 saja. Pemberian COX-2 tidak menekan
produksi PGE2 dilambung dan memperngaruhi fungsi
trombosit (yang spesifikasi untuk COX-1) sehingga tidak
terjadi efek samping pada gastrointestinal dan terjadi
pendarahan.
Perhimpunan rheumatologi indonesia., 2014.
Dipiro,dkk.
Daftar Pustaka

Departemen Kesehatan RI. IONI (Informatorium Obat Nasional Indonesia). Jakarta: Depkes RI. 2017.

www. Honestdocs.id diakses pada tanggal 7 November 2020

Sweetman, S. C., 2009. Martindale The Complete Drug Reference, 36th ed. London: Pharmaceutical
Press. (Dalam jurnal Farmasi Komunitas, 2014)

Perhimpunan reumatologi Indonesia. 2014. Diagnosis dan menatalaksana osteoatritis. Jakarta :


Indonesia

www. medscape.com
DANKE