Anda di halaman 1dari 12

Rancangan

formulasi krim
(pisang raja)
KELOMPOK 1
WAHYUNI ELVIRANDA
AHMAD MIRZA
ANDRAWINA FITA MAHARANI
ANGGRENI
ARDIANTO SAPUTRA
ARIFAH INDAR CAHYANI
ASNI TANDA FAHNI
ASHA TANTRY AWALYA
AYU JAYA
BRAM SETIAWAN
CERRY ANDINI
CHICA FATAHENA
pendahuluan.
Menurut farmakope Indonesia IV, krim adalah bentuk
sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan
obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.

Krim adalah suatu sediaan farmasi yang mengandung


satu atau lebih bahan obat yang terdispersi dengan baik dalam
bentuk air dalam minyak (a/m) atau minyal dalam air (m/a),
mengandung tidak kurang dari 60%.
Contoh formulasi krim dari
ekstrak
Dosis ekstrak Alasan
30 %
Berdasarkan jurnal “formulasi krim anti
jerawat ekstrak etanol kulit pisang kepok
(musa balbisiana colla)”
Hasil uji aktivitas antibakteri krim
dengan konsentrasi ekstrak 30 %
(Formula III) diperoleh diameter hambat
paling besar
dengan diameter 14,19 ± 0,08 mm.
Patofosiologi penyakit
Patogenesis jerawat dipengaruhi banyak faktor (multifaktorial). Ada empat
hal penting yang berhubungan dengan terjadinya jerawat, yaitu:
1. Meningkatnya produksi sebum
Gollnick (2003) menyatakan bahwa hormon androgen merangsang
peningkatan produksi dan sekresi sebum. Peningkatan produksi sebum
secara langsung berkorelasi dengan tingkat keparahan dan terjadinya lesi
jerawat. Peningkatan produksi sebum menyebabkan peningkatan unsur
komedogenik dan inflamatogenik penyebab terjadinya lesi jerawat.
Kelenjar sebasea dibawah kontrol endokrin. Pituitari akan menstimulasi
adrenal dan gonad untuk memproduksi estrogen dan androgen yang
mempunyai efek langsung terhadap unit pilosebaseus. Stimulasi hormon
androgen mengakibatkan pembesaran kelenjar sebasea dan peningkatan
produksi sebum pada penderita jerawat, hal ini disebabkan oleh
peningkatan hormon androgen atau oleh hiperesponsif kelenjar sebasea
terhadap androgen dalam keadaan normal.
2. Hiperproliferasi epidermal dan pembentukan komedo
Perubahan pola keratenisasi folikel sebasea menyebabkan stratum korneum bagian dalam dari duktus
pilosebaseus menjadi lebih tebal dan lebih melekat, akhirnya akan menimbulkan sumbatan pada
saluran folikuler. Bila aliran sebum ke permukaan kulit terhalang oleh masa keratin tersebut, maka
akan terbentuk mikrokomedo. Mikrokomedo ini merupakan suatu proses awal dari pembentukan
lesi jerawat yang dapat berkembang menjadi lesi non inflamasi maupun lesi inflamasi. Proses
keratenisasi ini dirangsang oleh androgen, sebum, asam lemak bebas dan skualen.

3. Kolonisasi mikroorganisme di dalam folikel sebaseus


Peran mikroorganisme penting dalam perkembangan jerawat. Dalam hal ini mikroorganisme yang
mungkin berperan adalah Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis dan
Corynebacterium acnes. Mikroorganisme tersebut berperan pada kemotaktik inflamasi serta pada
pembentukan enzim lipolitik pengubah fraksi lipid sebum. Propionibacterium acnes menghasilkan
komponen aktif seperti lipase, protease, hialuronidase dan faktor kemotaktik yang menyebabkan
inflamasi. Lipase berperan dalam menghidrolisis trigliserida sebum menjadi asam lemak bebas yang
berperan dalam menimbulkan hiperkeratosis, retensi dan pembentukan mikrokomedo.
4. Adanya proses inflamasi
Propionibacterium acnes mempunyai aktivitas kemotaktik yang menarik leukosit polimorfonuklear
ke dalam lumen komedo. Jika leukosit polimorfonuklear memfagosit Propionibacterium acnes dan
mengeluarkan enzim hidrolisis, maka akan menimbulkan kerusakan dinding folikuler dan
menyebabkan ruptur sehingga isi folikel (lipid dan komponen keratin) masuk dalam dermis dan
mengakibatkan terjadinya proses inflamasi (Fox, dkk, 2016).
Mekanisme
kerja
Terdapatnya kandungan alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin dalam
sediaan dapat menghambat aktivitas.
1. Cara kerja alkaloid yaitu menghambat bakteri dengan mengganggu
komponen penyusun dinding pada sel bakteri, sehingga tidak bisa
meneruskan aktivitas hidupnya.
2. Mekanisme kerja flavonoid yaitu dengan cara mendenaturasi protein sel
bakteri dan merusak membran sel, mekanisme kerja
3. saponin yaitu dengan cara berdifusi melalui dinding sel, kemudian
mengikat sitoplasma sehingga mengganggu kesetabilan membran sel,
hal ini menyebabkan sitoplasma bocor keluar dari sel yang
mengakibatkan kematian sel,
4. mekanisme kerja tanin yaitu dengan cara mengerutkan dinding sel,
sehingga mengganggu permeabilitas sel itu sendiri.
formul
Bahan a konsentrasi
Ekstrak kulit pisang raja 30 %

Asam stearat 14,5 g

trietanolamin 1,5 g

Adeps lanae 3g

Parafin cair 25 g

DMDM hydantoim 0,5 g

aquadest 100 g
• Asam stearate
Berbentuk zat padat yamg keras, berwarnah putih, atau sedikit kekuningan, mengkilap, kristal
padat atau putih atai putih kekuningan sedikit berbau dan mirip lemak lilin praktis tidak larut
dalam air, larut dalam 20 bagian etanol 95% p. dalam 2 bagian kloroform p dan dalam 3 bagian
eter p. asam stearate tidak bercampur dengan hidroksida logam dan dengan senyawa yang bersifat
oksidator, kegunaan dalam formulasi topical sebagai bahan pengemulsi. Konsentrasi untuk krim
yaitu 1-20%.
• Trietanolamin
Penyabunan antara lemak netral dengan trietanolamin tidak dimungkinkan, maka dalam industry
sabun, asam lemak ditransplantasikan dengan produk trietano, teknis yang umumnya masih
mengandung sekitar 10-15% dietanol amin dan 5% monoetanol, sehingga terbentuk juga
Sebagian sabun mono dan dietanol, diguanakan sebagai emulgator untuk sediaan topical.
• Adeps lanae
Merupakan lemak yang diperoleh dari bulu domba. Berwarna kuning mudah, berbau khas. Adeps
lanae yang telah meleleh berupah cairan kuning.larutan dalam benzene kloroform, eter, dan
petroleum, sedikit larutan dalam etanol dingin (95%). Lebih larut dalam etanol panas (95%).
Praktis tidak larut dalam air, mengandung pro-oksida yang dapat mempengaruhi kestabilan
beberapa zat aktif. Fungsinya dalam sediaan semi solid sebagai emulsifying agent. Fase minyak
dalam persiapan air dan minyak. Adeps lanae dapat menyerap air sebesar 25%. Campuran adeps
lanae dikenal dengan sebagai lanolin.
• Parafin cair
Berbentuk cairan kental transparan, tidak berflouresensi, tidak berwarna, hampit tidak berbau dan berasa,
praktis tidak larut dalam air dan etanol (95%) p. larut dalam kloroform p, eter p, aseton dan benzen, tidak
bercampur dengan reduktor kuat. Penggunaan dalam krim 1-32%
• DMDM hydantoim
DMDM hydantoin atau 1,3-dimethylol-5,5-dimethyl hydantoin, 1,3-Bis (Hydroxymethyl)-5,5-Dimethyl-
2,4-Imidazolidenedione. Dengan berat molekul 188,19 dengan penampakan berbentuk cair berwarna
bening dengan sedikit berbau. Stabil dalam rentang pH yang luas dan kondisi temperatur
• Aquadest
Cairan tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasaLarut dengan semua jenis larutan
 Organoleptik
Uji evaluasi krim
Hasil pengamatan menunjukan bahwa formula memiliki hasil yang baik,
 Pengukuran pH
Pengukuran pH pada krim ekstrak etanol kulit pisang kepok (Musa balbisiana colla) dilakukan 7 kali
pengujian selama 28 hari. Hasil pengukuran pH sediaan krim ekstrak kulit pisang memiliki pH yang
sama pada penyimpanan selama 28 hari yaitu 6,1 dan memenuhi kriteria pH kulit.
 Uji homogenitas krim
Hasil dari pengujian homogenitas menunjukan bahwa krim ekstrak etanol kulit pisang kepok (Musa
balbisiana colla) selama penyimpanan dalam waktu 28 hari tidak mengalami perubahan.
 Uji viskositas krim
formula mengalami peningkatan viskositas selama waktu penyimpanan 28 hari. Semakin besar
konsentrasi ekstrak yang ditambahkan, maka viskositas sediaan semakin kecil.
 Uji daya sebar krim
Uji daya sebar ekstrak mengalami peningkatan selama waktu penyimpanan 28 hari. Semakin besar
konsentrasi yang diberikan maka daya sebar sediaan semakin luas,
Thanks!
CREDITS: This presentation template was
created by Slidesgo, including icons by Flaticon,
infographics & images by Freepik