Anda di halaman 1dari 11

FORMULASI

SEDIAAN SALEP
EKSTRAK KULIT PISANG
RAJA
(Musa paradisiaca. L)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS MANDALA WALUYA
KENDARI
2020
KELOMPOK 3

Lingga Nur Nur Annisa La Ode Muhammad Nain Yahya


Hayati
Nur Apsah
Maya Nailer Muhammad Ali Faqih Sarifuddin
Nur Filzannah
Mega Hasmiranda
Nur Fitra
Niluh Eky Avis V
Rahayu Rizka
Nur Afni
DOSIS EKSTRAK

Pemberian salep ekstrak kulit pisang raja (Musa paradisiaca


L)) ekstrak kulit pisang dengan konsentrasi efektif 20% dapat
menurunkan ekspresi IL-6 pada jaringan kulit hewan model
tikus (Rattus norvegicus) luka insisi yang diinfeksi
20 Pemberian salep ekstrak kulit pisang raja (Musa paradisiaca
var sapientum) dengan konsentrasi efektif 20% dapat
menurunkan jumlah sel radang pada jaringan kulit hewan
model tikus (Rattus norvegicus) luka insisi yang diinfeksi
Staphylococcus aureus
% Staphylococcus aureus.

Berdasarkan penelitian Adhiningsih,2018 (Effects of Musa


paradisiaca. L Peel Extract Ointment Therapy on Incision

1 Wound Infection by Staphylococcus aureus Healing Seen


From IL-6 Expression and Number of Inflammatory Cells). 2
PATOFISIOLOGI
Luka merupakan suatu bentuk kerusakan jaringan pada kulit yang disebabkan kontak dengan sumber panas
(seperti bahan kimia, air panas, api, radiasi, dan listrik), hasil tindakan medis, maupun perubahan kondisi
fisiologis.

Luka yang berasal dari hasil tindakan medis dapat berupa luka insisi. Luka insisi merupakan luka terbuka
dengan bentuk robekan lurus atau linier pada bagian kulit serta jaringan dibawahnya (Morris et al. 1990). Pada
saat terjadi luka, tubuh secara normal akan menimbulkan respon terhadap cedera dengan jalan proses
peradangan yang dikarakteristikkan dengan adanya bengkak, kemerahan, panas, nyeri dan kerusakan fungsi
(David, 2007).

Luka terbuka yang tidak segera ditangani dengan baik sering mengalami infeksi dan menyebabkan terjadinya
keterlambatan proses penyembuhan luka, bahkan dapat menjadi kronis.
Salah satu bakteri yang menyebabkan infeksi pada kulit luka yaitu bakteri Staphylococcus aureus. Pada
penelitian yang dilakukan di Mesir tahun 2007 menunjukkan Staphylococcus aureus yang paling mendominasi
pada luka infeksi (61,8%), diikuti oleh famili Enterobacteriaceae (16,0%), kemudian Streptococcus pyogenes
(11,1%), Pseudomonas aeroginosa (5,0%), Enterococcus (3,7%), dan sedikit oleh Staphylococcus koagulase
(Abdallah et al. 2007).
MEKANISME KERJA
Kulit pisang raja kaya akan senyawa kimia yang bersifat antioksidan, antibakteri dan
antiinflamasi seperti alkaloid, saponin, tannin dan flavonoid. Someya et al (2002)
membuktikan, pada kulit pisang mengandung aktivitas antioksidan, antibakteri dan
antiinflamasi, antijamur yang cukup tinggi dibandingkan dengan dagingnya.

Menurut Fatoni (2014), kandungan flavonoid pada kulit pisang berperan sebagai
antiinflamasi. Kandungan antiinflamasi ini akan menghambat jalur cyclooxygenase dan 5-
lipoxygenase sehingga mengurangi pelepasan asam arakidonat sehingga terjadi
penurunan pelepasan mediator radang serta meminimalisir migrasi dari sel radang atau
leukosit. Kandungan tannin pada kulit pisang raja bersifat sebagai antibakteri yang dapat
merusak barrier permeabilitas pada struktur membran bakteri menyebabkan perubahan
struktur primer dinding sel sehingga terjadi degradasi komponen bakteri. Selain itu,
kandungan saponin pada kulit pisang juga dapat berfungsi sebagai zat untuk mengatasi
luka inflamasi karena bersifat antioksidan sehingga mempercepat proses penyembuhan
luka akibat inflamasi (Fatoni, 2014).
FORMULA

Perhitungan
Bahan Range/Dosis Fungsi
Ekstrak 20 gram Zat aktif  • Zat aktif 20 g
• Dasarsalep yang dibutuhkan 100 – 20 = 80 g
Vaselin Album 72 g 90% Dasar salep • Adaps lane : Vaselin album = 10 : 90
Adaps Lanae 8g 10% Dasar salep • Adapslanae
• Vaselin Album
Bobot Total 100 g
ALASAN PEMILIHAN BAHAN
Adeps Lanae
Adeps lanae digunakan bertujuan untuk mengikat air
yang terkandung di dalam ekstrak yang akan di
Alasan pemilihan perbandingan adaps lanae
homogenkan menjadi salep (Ansel, 1989). dan vaselin album 10:90 karena dapat
memberikan efektivitas penutupan luka sayat
Vaselin Album yang paling optimal dan stabil saat
Pembuatan salep menggunakan bahan dasar berupa vaselin penyimpanan (Sinambela.,et all)
album (petrolatum) dan adeps lanae. Pemilihan vaseline
album sebagai dasar salep adalah karena bersifat mengikat
air dengan baik, sukar untuk hilang saat dicuci atau terkena
air, tidak mengering dan tidak berubah dalam waktu lama
sehingga dapat mempertahankan kelembapan dalam waktu Cara pemakaian:
lama. Selain itu, salep dengan bahan dasar hidrokarbon Tiap konsentrasi salep dibuat sebanyak 100
digunakan dengan tujuan untuk memperpanjang kontak gram dengan teknik pemberian 2 x sehari
bahan obat dengan kulit dan dapat menutup luka dengan baik setiap 12 jam. Dengan cara dioleskan salep
(Strober et al., 2008). ekstrak kulit pisang raja secukupnya pada
area luka infeksi selama 7 hari (febram,
2010).
METODE
KERJA Pembuatan Ekstrak Kulit Pisang Raja (Musa paradisiaca var
sapientum)

Kulit pisang raja yang telah didapat dipisahkan dari buahnya dan dibersihkan dengan air
mengalir. Kemudian dikeringkan dengan oven dan ditimbang sebanyak 300 gram. Sampel
diekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut ethanol 96%. Ekstraksi dilakukan
selama 3x24 jam dan dilakukan pengadukan setiap 1x24 jam. Dilakukan penyaringan dan
didapatkan ekstrak encer. Selanjutnya, ekstrak dievaporasi selama 1x24 jam pada suhu
pemanasan 70oC hingga pelarut tidak mengalami penguapan lagi dan didapatkan ekstrak
yang kental (Normayunita, 2015).

Alasan penggunaan pelarut etanol selain etanol bersifat


tidak toksik berdasarkan penelitian Padmasari et all,
etanol dapat menarik senyawa Flavanoid, alkaloid,
Saponin dan tanin
PEMBUATAN SALEP
Proses pembuatan salep menggunakan metode pencampuran, Pencampuran dilakukan
menggunakan alat mortar dan disimpan ke dalam wadah salep serta diberi label
(Goeswin, 2006).
AGE
1. Dicampurkan vaselin album dan adeps lanae hingga homogen.
2. Dimasukkan ekstrak kulit pisang raja dan diaduk kembali hingga homogen.
3. Dimasukkan campuran salep yang telah homogen ke dalam wadah.

Alasan penggunaan metode pencampuran karena metode pencampuran cukup mudah


selain itu senyawa antioksidan sensitif terhadap panas, (Pro Food (Jurnal Ilmu dan
Teknologi Pangan,2020).

Menurut Zainol dkk. (2009), flavonoid dan senyawa antioksidan akan mengalami
penurunan akibat pengaruh variasi suhu pada saat proses pengeringan karena senyawa
tersebut bersifat sensitif terhadap cahaya dan panas aktivitas antioksidan senyawa
flavonoid dapat menurun jika terkena
cahaya dan Adeps lanae bila terkena
cahaya mudah teroksidasi, sehingga
wadah yang dipilih wadah tertutup
rapat dan tidak teransparan.
EVALUASI SEDIAAN SALEP

UJI UJI
ORGANOLEPTIK HOMOGENITAS UJI pH
Diamati bentuk, warna dan Dioleskan pada sekeping kaca Ditimbang 1 g masing-masing salep
bau dari salep ekstrak daun transparan dimana sediaan ekstrak daun Binahong lalu
Binahong diambil bagian atas, tengah diencerkan dalam 10 ml aquades
dan bawah. kemudian diukur pH salep
menggunakan pH meter.
THANK YOU