Anda di halaman 1dari 14

PENATAAN RUANG

BERBASIS EKOSISTEM
Deputi Tata Lingkungan – Bukittinggi,
Agustus 2008
TEKANAN PERSOALAN RUANG
DALAM PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
STRATEGI BESAR
PENJABARAN STRATEGI I :
PENYELENGGARAAN
PERENCANAAN
• Penentuan batas2
• Pemanfaatan ruang
yang jelas
• Sinkronisasi RTRW terbatas
daerah dalam satu • Disinsentif atas
ekosistem pemanfaatan SDA
• Penetapan peruntukan • Perlakuan syarat
yang mendukung ketat perijinan
fungsi ekosistem

Penetapan peruntukan Pengendalian kawasan Perlindungan


berbasis ekosistem penyangga kawasan lindung

Alokasi pemanfaatan Pengelolaan dampak Swasembada


SDA dan eksternalitas dan pertumbuhan
• Optimalisasi daya optimal
dukung • Pengamanan kualitas
• Pengamanan stok ambien
• Alokasi ruang berbasis
SDA
efisiensi energi dan air
• Alokasi • Internalisasi biaya
pemanfaatan ekternalitas
komoditi SDA pengelolaan ruang
berkelanjutan
 Contoh pembagian ekosistem utama
(Millenium Ecosystem Assessment, 2003):
 Ekosistem pesisir dan pantai
 Ekosistem pertanian dan budidaya hayati
 Ekosistem lahan kering
 Ekosistem lahan basah
 Ekosistem hutan
 Ekosistem perairan darat (sungai, danau, dll.)
 Ekosistem pulau dan kepulauan
 Ekosistem laut/marine
 Ekosistem gunung
 Ekosistem es/kutub
 Ekosistem perkotaan/urban
CONTOH 1 :
 Usaha sinkronisasi pengendalian
pemanfaatan ruang kawasan penyangga
TN Bukit Tigapuluh *) :
 Kabupaten Indragiri Hulu (Riau)
 Kabupaten Indragiri Hilir (Riau)

 Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Jambi)

 Kabupaten Tebo (Jambi)


*) Dari : Strategi dan Rencana Aksi Pengelolaan Terpadu SDA di TN
Bukit Tigapuluh dan Daerah Penyangga, KLH, 2007
Sebagai bagian dari Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan
2003 - 2020
CONTOH 2 :
 Pemberian kompensasi atas batasan
perkembangan wilayah yang diterapkan
di daerah hulu sungai :
 Dihitungdari pendekatan biaya manfaat
langsung dan tidak langsung*):
 Nilai pengendali keseimbangan ekosistem alam
: $7/ha
 Nilai pengatur dan penyedia tata air : $20/ha
 Nilai pengendali erosi : $355/ha
 Nilai pembentukan lapisan tanah dan siklus
*) Perhitungan sangat kasar yang diturunkan dari pendekatan Constanza dan perhitungan NPV
hara
Jasa Hutan Tesso Nilo,:Riau
$16.34
2003 oleh Yuli, Nurkholis, dan Rivayani (Prosiding Seminar
Nasional III dan Kongres I NREA, Purwokerto, BPFE & MASLI, 2003)
 Kesepakatan antar wilayah hulu, hilir,
provinsi, dan pusat. Kompensasi tidak
selalu berbentuk pembayaran langsung,
namun bisa dalam bentuk insentif fiskal
maupun kemudahan fasilitas umum dan
prasarana.
 Penerapan pengetatan standar effluen
dan ambien sungai di wilayah hulu agar
tetap pada kelas I, diikuti dengan
pengetatan aturan pemanfaatan ruang
*) Dari rencana pemulihan DAS prioritas Kampar, Siak, Batanghari, dan Musi,
KLH. sepanjang sungai dan pembuangan
limbah ke sungai *).
CONTOH 3 : (kasus P. Jawa)
EVALUASI DAYA DUKUNG LAHAN
BERDASARKAN KEBUTUHAN KHAS INDONESIA
(DENGAN KOEFISIEN SAMPAH DAN CO2)
Provinsi Pendu Luas Kebutuha Total Kondisi
duk Lahan n lahan kebutuha Overshoo
(juta (ha) (ha/org) n lahan t
DKI org)9.16 66100 1.250 (ha)
11450000 (ha)
-47858900
Jabar 38.34 4630000 1.250 47925000 -43295000
Jateng 29.69 3420600 1.250 37112500 -36769900
DIY 2.9 318800 1.250 3625000 -3606200
Jatim 33.80 4792200 1.250 52812500 -52333300
Total 113.89 1322770 15292200 -13969500
Jawa 0 0 0
Sumber : Daya Dukung Pulau Jawa, Menko Perekonomian, 2006
PENJABARAN STRATEGI 2 :
INTERVENSI PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
CONTOH :
 Perhitungan daya dukung DAS Siak*)
dan rekomendasi pengelolaannya
 KLHS Rencana Pembangunan Padang
Bay City, Sumatera Barat (2007)
 Biodiversity-inclusive SEA untuk Rencana
Aksi TN Bukit Tigapuluh
*) Dari : Perhitungan daya dukung lingkungan DAS Siak, KLH-IPB, 2007
CONTOH DI LUAR PULAU
SUMATRA
 Pelaksanaan KLHS Ciayumajakuning,
Jawa Barat sebagai masukan untuk
penyusunan (diprakarsai oleh kaukus
DPRD terkait):
 RTRW Prov. Jawa Barat
 RTRW Kabupaten Cirebon

 RTRW Kota Cirebon

 RTRW Kabupaten Indramayu

 RTRW Kabupaten Majalengka

 RTRW Kabupaten Kuningan

 dan RTRW Kabupaten Sumedang dan Garut


PENJABARAN STRATEGI 3 :
REFORMASI REGULASI
 Internalisasi kerangka telaah KLHS
dalam proses penyusunan RTRW dan
RPJM secara formal (agar tidak
memberatkan, eksklusif, atau
memperpanjang masa perencanaan
yang tidak perlu)
 Reformasi aturan pengelolaan SDA
 Reformasi sistem penegakan hukum
atas pelanggaran pemanfaatan ruang
dan pengelolaan lingkungan hidup
sekian