Anda di halaman 1dari 45

Case Report Session

IKTERUS NEONATORUM

Oleh
Noptriani
1840312783

Preseptor
Dr. Rahmiyetti, Sp. A
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Pada sebagian besar neonatus, ikterus akan ditemukan
Ikterus Neonatorum adalah keadaan ikterus dalam minggu pertama kehidupannya. Dikemukakan
yang terjadi pada bayi baru lahir hingga usia 2 bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi
bulan setelah lahir. cukup bulan dan 80% bayi kurang bulan.

Indonesia: Indonesia:
- RSCM  58% untuk kadar bilirubin ≥5 - RS Dr. Sardjito  85% bayi sehat cukup bulan
mg/dL dan 29,3% untuk kadar bilirubin ≥12 mempunyai kadar bilirubin ≥5 mg/dL dan 23,8%
mg/dL pada minggu pertama kehidupan mempunyai kadar bilitubin ≥13 mg/dL
Indonesia:
- RS Dr. Kariadi Semarang dengan prevalensi ikterus neonatorum sebesar
13,7%, RS Dr.Soetomo Surabaya sebesar 30% pada tahun 2000 dan 13%
pada tahun 2002.

Ikterus neonatorum dapat menimbulkan ensefalopati bilirubin


(kernikterus) yaitu manifestasi klinis yang timbul akibat efek toksis
bilirubin pada sistem saraf pusat di ganglia basalis dan beberapa nuklei
batang otak.
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI

Ikterus adalah perubahan warna kulit, sklera mata atau jaringan


lainnya (membran mukosa) yang menjadi kuning karena
pewarnaan oleh bilirubin yang meningkat kadarnya dalam
sirkulasi darah dan jaringan (> 2 mg/ 100 ml serum).

Penumpukan bilirubin dalam aliran darah menyebabkan


pigmentasi kuning dalam plasma darah yang menimbulkan
perubahan warna pada jaringan yang memperoleh banyak aliran
darah tersebut.
EPIDEMIOLOGI

angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi Angka kejadian Ikterus pada bayi sangat bervariasi.
cukup bulan dan 80% bayi kurang bulan. RSCM  ikterus neonatorum pada bayi cukup bulan sebesar
32,1% dan pada bayi kurang bulan sebesar 42,9%,
Amerika Serikat  sekitar 60% bayi menderita ikterus baru lahir
Saat ini angka kelahiran bayi di Indonesia
menderita ikterus, lebih dari 50%.
diperkirakan mencapai 4,6 juta jiwa per
tahun, dengan angka kematian bayi
sebesar 48/1000 kelahiran hidup dengan
ikterus neonatorum merupakan salah satu
penyebabnya sebesar 6,6%
ETIOLOGI

Infeksi, septikemia,
Hemolisis akibat
sepsis, meningitis,
inkompatibilitas ABO Polisitemia.
infeksi saluran kemih,
atau isoimunisasi Rhesus
infeksi intra uterin.

Ekstravasasi sel darah


merah, sefalhematom, Ibu diabetes. Asidosis.
kontusio, trauma lahir.

Pemberian air susu ibu. Penurunan ekskresi


Sumbatan traktus
- Breastfeeding jaundice bilirubin terkonjugasi
digestif
-Breast-milk jaundice dalam empedu
KLASIFIKASI IKTERUS

1. Ikterus Fisiologis

Peningkatan produksi bilirubin karena


peningkatan penghancuran eritrosit janin
(hemolisis).

Kapasitas ekskresi Sirkulus


yang rendah dari enterohepatikus
hepar meningkat
KLASIFIKASI IKTERUS

Secara umum karakteristik ikterus fisiologis adalah sebagai berikut:


a. Timbul pada hari kedua – ketiga.
b. Kadar bilirubin indirek setelah 24 jam tidak melewati 15 mg % pada
neonatus cukup bulan dan 10 mg % per hari pada neonatus kurang
bulan
c. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg % perhari
d. Kadar bilirubin direk kurang dari 1 mg %
e. Kadar bilirubin indirek pada bayi cukup bulan menurun sampai pada
kadar orang dewasa (1 mg/dl) pada umur 10-14 hari.
f. Tidak mempunyai dasar patologis.
2. Ikterus Patologis

a. Timbul dalam 24 jam pertama kehidupan.


b. Bilirubin indirek untuk bayi cukup bulan > 13 mg/dL atau bayi kurang bulan >10 mg/dL.
c. Peningkatan bilirubin total> 5 mg/dL/24 jam.
d. Kadar bilirubin direk > 2 mg/dL.
e. Ikterus yang disertai proses hemolisis (inkompatabilitas darah, defisiensi G6PD, atau sepsis)
f. Ikterus yang disertai oleh: berat lahir <2000 gram, masa gestasi 36 minggu, asfiksia,
hipoksia, sindrom gawat napas pada neonatus,infeksi, trauma lahir pada kepala,
hipoglikemia
g. Ikterus klinis yang menetap setelah bayi berusia >8 hari (pada aterm) atau >14 hari (pada
prematur).
METABOLISME BILIRUBIN
METABOLISME BILIRUBIN
PATOFISIOLOGI IKTERUS

Peningkatan penghancuran
eritrosit, polisitemia,
memendeknya umur eritrosit
janin/bayi, meningkatnya Peningkatan kadar bilirubin
bilirubin dari sumber lain, atau
terdapatnya peningkatan
sirkulasi enterohepatik
DIAGNOSIS

1. Waktu terjadinya onset ikterus. Waktu timbulnya ikterus mempunyai arti penting pula dalam diagnosis dan
penatalaksanaan penderita karena saat timbulnya ikterus mempunyai kaitan erat dengan etiologinya.
2. Riwayat kehamilan dengan komplikasi (obat-obatan, ibu DM, gawat janin, malnutrisi intra uterin, infeksi
intranatal)
3. Usia gestasi
4. Riwayat persalinan dengan tindakan atau komplikasi
5. Riwayat ikterus, kernikterus, kematian, defisiensi G6PD, terapi sinar, atau transfusi tukar pada bayi
sebelumnya
6. Inkompatibilitas darah (golongan darah ibu dan janin)
7. Riwayat keluarga yang menderita anemia, pembesaran hepar dan limpa.
8. Munculnya gejala-gejala abnormalitas seperti apnu, kesulitan menyusu, intoleransi susu, dan ketidakstabilan
temperatur.
9. Bayi menunjukkan keadaan lesu, dan nafsu makan yang jelek
10.Gejala-gejala kernikterus
DIAGNOSIS
DIAGNOSIS

1. Golongan darah dan Coombs test


2. Darah lengkap dan hapusan darah tepi
3. Hitung retikulosit, skrining G6PD
4. Bilirubin total, direk, dan indirek. Pemeriksaan serum
bilirubin total harus diulang setiap 4-24 jam tergantung usia
bayi dan tingginya kadar bilirubin. Kadar albumin serum juga
perlu diukur
PENATALAKSANAAN

Tujuan utama dalam penatalaksanaan ikterus neonatorum adalah


untuk mengendalikan agar kadar bilirubin serum tidak mencapai
nilai yang dapat menimbulkan kern ikterus atau ensefalopati
bilirubin, serta mengobati penyebab langsung ikterus.

Fototerapi Terapi sinar  Transfusi tukar


Terapi sinar konvensional dan Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu
menyebabkan terjadinya intensif
Penyakit hemolisis berat pada bayi baru lahir
isomerisasi bilirubin Terapi sinar
konvensional Gagal fototerapi intensif
menggunakan panjang Kadar bilirubin direk >3,5 mg/dl di minggu pertama
gelombang 425-475 nm Serum bilirubin indirek > 25 mg/dl pada 48 jam pertama
Hemoglobin < 12 gr/dl
Bayi pada resiko terjadi ensefalopati bilirubin
Munculnya tanda-tanda klinis yang memberikan kesan
kern ikterus pada kadar bilirubin berapapun.
LAPORAN KASUS
Status Pasien
No.   Ayah Ibu
Nama : By. F
1. Nama HS MM
Tanggal lahir : 02 Januari 2021
2. Umur 28 28
Jeniskelamin : Perempuan
3. Pendidikan S1 S1
Nama ayah : Tn. H.S
4. Pekerjaan Wiraswata IRT
Nama ibu : Ny. M.M
5. Perkawinan 1x 1x
Alamat : Bypass, Ipuh 6. Penyakit yang pernah Tidak ada Tidak ada
Tanggal masuk : 13-01-2021 diderita
Alloanamnesis
Pada Ny. M.M, Ibu kandung dari neonatus pada tangal 14
Januari 2021.

KELUHAN UTAMA
Badan kuning sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit
- ASI mulai keluar hari kedua setelah
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
melahirkan namun jumlahnya masih sedikit.
- Bayi terlihat kuning sejak 1 minggu sebelum masuk rumah
- Bayi terlihat malas menyusu dan hisapannya
sakit. Awalnya kuning hanya terlihat pada mata, namun lama
terasa kurang kuat.
kelamaan kuning semakin jelas hingga ke kaki dan akhirnya 1
- Muntah berwarna hijau disangkal.
minggu kemudian dibawa ke rumah sakit.
- Tersedak tidak ada
- Bayi lahir spontan usia 40 minggu, berat badan 3200 gram,
- Demam tidak ada.
panjang badan 50 cm, lahir cukup bulan tanpa vakum ekstrasi
- Penurunan kesadaran tidak ada.
atau forcep, ditolong oleh dokter.
- Kejang tidak ada.
- Bayi langsung menangis setelah dilahirkan.
- Mekonium sudah keluar sejak 5 jam setelah
- Bayi langsung menyusu setelah lahir namun ibu mengatakan
lahir.
ASI belum keluar.
- BAB warna dempul disangkal
BAK berwarna seperti the pekat disangkal
RIWAYAT KEHAMILAN IBU
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGASEKARANG
a. Anak pertama perempuan (hidup) Riwayat Kehamilan
lahir di dokter Sekarang
dengan BB :G2P2A0H2
HPHT 39 minggu. Anak
3100 gram, PB 52 cm, usia kehamilan : 25/03/2020
Taksiran
pertama mengalami kondisi yang sama Partus
seperti pasien pada saat : 2/01/2021
baru lahir. Penyakit selama kehamilan :
b. Jarak kelahiran antara anak pertama -danAnemia (tidak
kedua yaitu 23ada), penyakit jantung (tidak
bulan.
ada), hipertensi (tidak ada), DM (tidak
c. Perkembangan gizi ibu normal.
ada), TB (tidak ada), Infeksi TORCH (tidak
d. Ibu bergolongan darah O, namun tidak diketahui rhesusnya.
ada).
e. Riwayat DM disangkal. Pemeriksaan kehamilan :
ANC : 3 kali ke dokter, 6 kali ke bidan
Tekanan darah terakhir waktu hamil: 130/80
mmHg
RIWAYAT KEHAMILAN IBU
SEKARANG
Riwayat Kehamilan Sekarang :G2P2A0H2
HPHT : 25/03/2020
Taksiran Partus : 2/01/2021
Penyakit selama kehamilan :
- Anemia (tidak ada), penyakit jantung (tidak ada), hipertensi (tidak ada), DM (tidak ada), TB (tidak
ada), Infeksi TORCH (tidak ada).
Pemeriksaan kehamilan :
ANC : 3 kali ke dokter, 6 kali ke bidan
Tekanan darah terakhir waktu hamil: 130/80 mmHg
Kebiasaan ibu waktu hamil
Makan : Makan dengan porsi lebih dari biasanya (3 porsi 1 hari)
Konsumsi obat : Tidak ada
Merokok : Tidak ada.
RIWAYAT PERSALINAN
a. Persalinan di : Dokter
b. Jenis Persalinan : Spontan
c. Keadaan bayi saat lahir :
1. Lahir tanggal : 02 Januari 2021
2. Jam : 08.00 wib
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Kondisi saat lahir :Hidup
d. Bayi lahir spontan usia 40 minggu, berat badan 3200 gram,
panjang badan 50 cm, lahir cukup bulan tanpa vakum ekstrasi
atau forcep, ditolong oleh dokter.
e. Ibu baik, ketuban jernih.
No. Tanda 0 1 2 Menit 1 Menit 5

1. Tampilan Tidak ada Jari kebiruan kemerahan 2 2

2. HR Tidak ada <100 >100 2 2

3. Reflek Tidak ada Gerakan sedikit Reaksi melawan 1 2

4. Keaktivan Tidak ada Ekstremitas fleks Gerakan aktif 2 2


2
5. Respirasi Tidak ada Lambat menangis Menangis kuat 2

6. Jumlah   9 10

   
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan : Aktif
Berat Badan : 3200 gram
Neonatus Panjang Badan : 50 cm
Berat badan : 3200 gram Frekuensi Jantung : 130x/menit
Lahir : Spontan Frekuensi Napas : 64 x/menit
Usia Kehamilan : 40 minggu Suhu : 36,6 oC
Derajat asfiksia :- Sianosis : Tidak ada
Jejas persalinan : Tidak ada Ikterus : Ada
Anemis : Tidak ada
Kepala : Bentuk normocephal
Mata :Konjungtiva tidak anemis, sclera ikterik kiri dan kanan
Telinga : Tidak ada kelainan
Hidung : Tidak bisa dinilai
Mulut : Tidak sianosis
Leher : Tidak ditemukan kelainan
Thoraks
a. Paru
Inspeksi : Normochest, simetris kiri dan kanan, retraksi (-)
Palpasi : Tidak dilakukan
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : Suara nafas bronkovesikuler, Ronkhi (tidak ada/tidak ada), Wheezing (tidak
ada/tidak ada)
a. Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis di RIC IV-V Linea midclavicularis sinistra
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : Murmur tidak ada, gallop tidak ada.
b. Abdomen
Inspeksi: Perut normal, distensi tidak ada
Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, nyeri lepas tidak ada, hepar tidak teraba, lien S0.
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : Bising usus normal
Genitalia : Tidak ada kelainan
Ekstremitas : Atas :akral hangat, CRT <2 detik, sianosis tidak ada
Bawah :akral hangat, CRT <2 detik, sianosis tidak ada
Kulit : Teraba hangat, ikterus
Anus : Ada
Reflek :
- Moro: Positif
- Isap : Positif
- Rooting: Positif
Pegang : Positif
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
(13 Januari 2021)
a. Darah rutin
- Hb : 16,7 gr/dL
- Leukosit : 11.710 /Ul
- Eritrosit : 4.560/UI
- HT : 47,4%
- Diffcount : 0/5/2/21/70/2
a. Darah lengkap
- Trombosit : 511.000/ uL
- Glukosa : 61 mg/dl
- Bilirubin total : 12,46 mg/dl
- Bilirubin direk: 0,71 mg/dl
a. Elektrolit
- K : 5.14 mEq/L
- Na : 141.3 mEq/L
- Cl : 115.5 mEq/L
DIAGNOSIS
Neonatus Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan (3200 gram, gravid 40 minggu)
Berat Badan Cukup 3200 gram + Breast Feeding Jaundice \
Diagnosis Banding : Breast Milk Jaundice
Hiperbilirubinemia fisiologis
Inkompatibilitas ABO

TERAPI
- Fototerapi  
- Lanjutkan ASI
     
Hari ke-1 S: P:
14 Januari - Bayi rawat dalam incubator - Fototerapi
- Bayi mendapatkan fototerapi - Lanjutkan ASI
- Ikterik ada, sudah mulai berkurang
- Demam tidak ada
- Kejang tidak ada
- Muntah tidak ada
- Kembung tidak ada
- BAB tidak ada keluhan
- BAK tidak ada keluhan
O:
- KU/Sedang,
- HR/ 130x/i,
- RR/ 44x/i,
- SPO2/ 97%
- Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera ikterik
- Thorak :
Paru : Suara bronkovesikuler, rhonki (-), wheezing
(-)
Jantung : irama regular, bisng (-)
- Abdomen : Distensi tidak ada, Bising usus normal
- Eks : CRT<2detik
- Kulit : ikterik hingga paha
A:
- Neonatus Cukup Bulan (BL : 3200 gram, gravid 40
minggu)
- Breast feeding Jaundice
DIAGNOSIS
Neonatus Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan (3200 gram, gravid 40 minggu)
Berat Badan Cukup 3200 gram + Breast Feeding Jaundice \
Diagnosis Banding : Breast Milk Jaundice
Hiperbilirubinemia fisiologis
Inkompatibilitas ABO

TERAPI
- Fototerapi  
- Lanjutkan ASI
Analisa peneliti terhadap hasil penelitian bahwa terbukti
terdapat hubungan lingkungan dengan perilaku LGBT, hal ini
disebabkan karena responden sangat setuju bahwa mereka
merasa orang lain tidak menghargai kemampuan dan keahlian
yang mereka miliki.
DISKUSI
Seorang bayi perempuan berusia 11 hari dibawa ke RSUD Achmad Mochtar pada tanggal 13
Januari 2021 dengan keluhan kuning dari kepala hingga kaki sejak 1 minggu sebelum masuk rumah
sakit. Bayi lahir spontan cukup bulan dengan berat badan lahir 3200 gram dan panjang badan 50
cm. Kuning awalnya terlihat pada saat umur 3 hari, dimulai dari mata. Setelah 1 minggu, kuning
semakin meluas hingga ke kaki.
Angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan 80% bayi kurang bulan. Jaringan
sklera kaya dengan elastin yang memiliki afinitas yang tinggi terhadap bilirubin, sehingga ikterus
pada sklera biasanya merupakan tanda yang lebih sensitif untuk menunjukkan hyperbilirubinemia.
Ibu pasien mengaku ASI tidak banyak keluar. Selain itu, pasien juga tampak malas menyusu karena
hisapannya yang tidak terlalu kuat.
Breast feeding jaundice terjadi karena kurangnya asupan ASI kepada neonatus. ASI diperlukan
sebagai stimulus untuk meningkatkan pasase usus dalam mengeluarkan bilirubin melalui feses.
Kurangnya intake ASI menyebabkan kurangnya pasase usus sehingga terjadi akumulasi bilirubin di
dalam darah dan menyebabkan kuning pada bayi.
Riwayat muntah berwarna hijau, BAB berwarna dempul dan BAK seperti the pekat disangkal.
Hal ini menyingkirkan diagnosis obstruksi pada sistem hepatobilier. Pada kasus obstruksi bilier
atau adanya atresia bilier, maka akan terdapat gambaran klinis BAB dempul dan BAK berwarna
teh pucat karena bilirubin tidak dapat diubah menjadi sterkobilin dan urobilinogen akibat
terhambatnya aliran menuju usus.
Pada alloanamnesa, ibu mengatakan memiliki golongan darah O. selain itu pada Riwayat
keluarga didapatkan anak pertama juga mengalami hal serupa seperti pasien pada saat baru lahir.
Hal ini mengarahkan kecurigaan terhadap adanya inkompatibilitas ABO, namun perlu dilakukan
pemeriksaan rhesus dan golongan darah anak untuk memastikan dugaan tersebut.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kuning pada area wajah sampai kaki. Hal ini menunjukkan
derajat icterus pada pasien yaitu Kramer IV.
Pada pasien dengan icterus, harus dilakukan pemeriksaan kadar bilirubin. Pada pemeriksaan
darah, didapatkan peningkatan kadar bilirubin total dan bilirubin direk. Peningkatan bilirubin
pada neonatus dapat terjadi pada beberapa kondisi, termasuk adanya hiperbilirubinemia
fisiologis. Hiperbilirubinemia fisiologis terjadi pada 2-3 hari pasca kelahiran dan dapat menetap
selama 2-3 minggu. Pada kasus ini, terdapat kondisi bayi yang malas menyusu dan produksi ASI
yang kurang, diikuti kuning pada bayi sehingga mengarahkan kepada diagnosa breast feeding
jaundice.
Pada pasien diberikan tatalaksana fototerapi. Pengaruh sinar terhadap ikterus telah
diperkenalkan oleh Cremer sejak 1958. Banyak teori yang dikemukakan mengenai pengaruh
sinar tersebut. Teori terbaru mengemukakan bahwa terapi sinar menyebabkan terjadinya
isomerisasi bilirubin. Bentuk isomer ini mudah larut dalam plasma dan lebih mudah diekskresi
oleh hepar ke dalam saluran empedu.
Pemberian ASI harus tetap dilakukan pada bayi dengan breast feeding jaundice. Berhentinya
bayi dalam menyusu akan menyebabkan adanya feedback negative pada hipofisis anterior
sehingga produksi ASI akan semakin menurun. Dengan adanya hisapan, maka akan memberikan
sinyal kepada hipofisis untuk tetap memproduksi hormone prolactin sehingga produksi ASI tetap
berjalan. Kurangnya intake ASI akan semakin menyebabkan icterus pada bayi semakin
bertambah karena tidak adanya stimulus terhadap aktifitas peristaltic usus yang akan berdampak
pada peningkatan bilirubin dalam darah.
TERIMA KASIH