Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEPERAWATAN

GERONTIK DENGAN PASIEN


DEMENSIA
Disusun Oleh :
Kelompok 4
1. Bambang Utoyo 1130119002
2. Nanda Fasichatul Imania 1130119006
3. Tutwuri Handayani 1130119012
4. FennyPriyanti 1130119018
Pengertian Demensia

Demensia adalah sindroma klinis yang meliputi hilangnya fungsi
Menurut intelektual dan memori yang sedemian berat sehingga menyebabkan
disfungsi hidup sehari-hari. Demensia merupakan keadaan ketika

Nugroho, 2008 seseorang mengalami penurunan daya ingat dan daya piker lain yang
secara nyata mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari


Demensia adalah gangguan fungsi intelektual tanpa gangguan
Menurut fungsi vegetative atau keadaan yang terjadi. Memori,
pengetahuan umum, pikiran abstrak, penilaian, dan
Elizabeth, 2009 interpretasi atas komunikasi tertulis dan lisan dapat terganggu

Menurut ●
Demensia adalah keadaan dimana seseorang mengalami penurunan
kemampuan daya ingat dan daya piker, dan penurunan kemampuan tersebut
Aspiani R, Y, menimbulkan gangguan terhadap fungsi kehidupan sehari-hari. Kumpulan
gejala yang ditandai dengan penurunan kognitif. Perubahan mood dan tingkah
laku sehingga mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari penderita
2014
Etiologi
Syndro
Sindrom
Sindrom me
demensia
demensia
dengan demens
dengan
penyakit etiologi ia
yang yang dengan
etiologi dikenal etiologi
dasarnya tetapi
tidak penyaki
belum
dikenal t yang
kelainan dapat
diobati, dapat
diobati
Klasifikasi demensia
1. Demensia kortikal dan sub kortikal
2. Demensia Reversibel dan Non reversibel
3. Demensia Pre Senilis dan Senilis
Tanda dan gejala
1. Menurunnya daya ingat yang terjadi. Pada penderita demensia, lupa
menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas
2. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu,
bulan, tahun, tempat penderita demensia berada.
3. Penurunan ketidak mampuan menyusun kata menjadi kalimat yang
benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi,
mengulang kata atau cerita yang sma berkali-kali.
4. Ekspresi ang berlebihan, misalnya menangis berlebuhan saat
melihat drama televise, marah besar pada kesalahan kecil yang
dilakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan.
Penderita demensia tidak mengerti mengapa perasan-perasan
tersebut muncul.
5. Adanya perubahan perilaku seperti: acuh tak acuh, menarik diri dan
gelisah.
Komplikasi
1. Peningkatan resiko infeksi diseluruh bagian tubuh :
Ulkus diabetikus, Infeksi saluran kencing, Pneumonia
2. Thromboemboli, infarkmiokardium
3. Kejang
4. Kontraktur sendi
5. Kehilangan kemampuan untuk merawat diri
6. Malnutrisi dan dehidrasi akibat nafsu makan dan
kesulitan menggunakan peralatan.
Penatalaksanaan
Farmakologi Non farmakologi
 Untuk mengobati demensia alzheimer digunakan
Dukungan atau peran
obat-obatan antikoliesterase seperti Donepezil,
Rivastigmine, Glantamine, Memantine
 Demensia vaskuler membutuhkan obat-obatan anti
keluarga
platelet seperti Aspirin, Ticlopidine, Clopidogrel Terapi simtomatik
untuk melancarkan aliran darah ke otak sehingga
memperbaiki gagguan kognitif
 Demensia karena stroke yang berturut-urut tidak
dapat diobati, tetapi perkembangannya bisa
diperlambat atau bahkan dihentikan dengan
mengobati tekanan darah tinggi atau kencing manis
yang berhubungan dengan stroke
 Jika hilangnya ingatan disebabkan oleh depresi,
diberikan obat anti- depresi seperti Sertraline dan
Citalopram
 Untuk mengendalikan agitasi dan perilaku yang
meledak-ledak, yang bisa menyertai demensia
stadium lanjut, sering digunakan antipsikotik
(misalnya Haloperidol, Quetiaoine dan Risperidone)
Pemeriksaan demensia
Pemeriksaan fungsi kognitif awal bila menggunakan
Minimental-state examination (MMSE) dari folstein dengan
skor/ angka maksimal 30. Jika mempunyai skor dibawah 24,
pasien patut dicurigai mengalami demensia. Meskipun nilai
skor ini sangat subjektif karena pengaruh pedidikan juga
berperan pada tingginya nilai skor. Tidak ada perbedaan pada
wanita maupun pria.
Pemeriksaan penunjang
1. CT-Scan
2. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
3. Positron Emission Tomography (PET)
4. Simgle Photo Emission Computed Tomography (SPECT)
Asuhan keperawatan demensia
1. Pengkajian
2. Keluhan utama
3. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum
Kesadaran
Tanda-tanda vital
4. Pemeriksaan review of system
B1 (Breathing) : Dapat ditemukan peningkatan frekuensi napas atau
masih dalam batas normal
B2 (Bleeding) : Tidak ditemukan adanya kelainan, frekuensi nadi
masih dalam batas normal.
B3 (Brain) : Klien mengalami gangguan memori, kehilangan
ingatan, gangguan konsentrasi, kurang perhatian, gangguan
persepsi sensori, insomnia.
Lanjutan…
 B4 (Bleder) : Tidak ada keluhan terkait dengan pola berkemih
 B5 (Bowel) : Klien makan berkurang atau berlebih karena
kadang lupa apakah sudah makan atau belum, penurunan berat
badan, kadang konstipasi.
 B6 (Bone) : Klien mengalami gangguan dalam pemenuhan
aktivitas.
 Pola fungsi kesehatan : Yang perlu dikaji adalah aktifitas apa
saja yang biasa dilakukan sehubungan dengan adanya masalah
psikososial demensia yaitu; pola persepsi dan tatalaksana hidup
sehat, pola nutrisi, pola eliminasi, pola istirahat dan tidur, pola
aktifitas, pola hubungan dan peran, pola sensori dan kognitif,
pola persepsi dan konsep diri, pola stress dan koping, spiritual
Diagnosa keperawatan
1. Gangguan memori berhubungan dengan
ketidakadekuatan stimulasi intelektual
2. Risiko konfusi akut berhubungan dengan
demensia
NO. DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI
KEPERAWATA
N
1. Gangguan memori Setelah dilakukan asuhan Latihan Memori
b.d keperawatan selama 1x24 jam Observasi
ketidakadekuatan diharapkan gangguan memori 1. Mengidentifikasi masalah memori yang dialami
stimulasi meningkat, dengan kriteria hasil : 2. Mengidentifikasi kesalahan terhadap orientasi
intelektual 1. Verbalisasi kemampuan 3. Memonitor perilaku dan perubahan memori selama
mempelajari hal baru meningkat terapi
2. Verbalisasi kemampuan Terapeutik
mengingat informasi faktual 4. Rencanakan metode mengajar sesuai kemampuan pasien
meningkat 5. Stimulasi memori dengan mengulang pikiran yang
3. Verbalisasi kemampuan terakhir kali diucapkan, jika perlu
mengingat perilaku tertentu yang 6. Koreksi kesalaahan orientasi
pernah dilakukan meningkat 7. Fasilitasi mengingat kembali pengalaman masa lalu, jika
4. Verbalisasi kemampuan perlu
mengingat peristiwa meningkat 8. Fasilitasi tugas pembelajaran (mis. Mengingat informasi
5. Melakukan kemampuan yang verbal dan gambar)
dipelajari meningkat 9. Fasilitasi kemampuan konsentrasi (mis. Bermain kartu
6. Verbalisasi pengalaman lupa pasangan), jika perlu
menurun 10. Stimulasi menggunakan memori pada peristiwa yang
7. Verbalisasi lupa jadwal menurun baru terjadi (mis. Bertanya kemana saja ia pergi akhir-
8. Verbalisasi mudah lupa menurun akhir ini), jika perlu
Edukasi
11. Jelaskan tujuan dan prosedur latihan
12. Ajarkan teknik memori yang tepat (mis. Imajinasi visual,
permaian memori, isyarat memori, teknik asosiasi,
membuat daftar, computer, papan nama)
Kolaborasi
13. Rujuk pada terapi okupasi, jika perlu
2. Resiko konfusi akut b.d Setelah dilakukan asuhan Manajemen Demensia
demensia keperawatan selama 2x24 jam Observasi
diharapkan tingkat konfusi 1. Mengidentifikasi riwayat fisik, sosial,
menurun, dengan kriteria hasil : psikologis, dan kebiasaan
1. Fungsi kognitif meningkat 2. Mengidentifikasi pola aktivitas (mis. Tidur,
2. Tingkat kesadaran meningkat
3. Aktivitas psikomotor
minum obat, eliminasi, asupan oral,
meningkat perawatan diri)
4. Memori jangka pendek Terapeutik
meningkat 3. Sediakan lingkungan aman, nyaman,
5. Memori jangka panjang konsisten, dan rendah stimulus (mis.
meningkat Music tenang, dekorasi sederhana,
6. Interpretasi membaik pencahayaan memadai, makan bersama
7. Fungsi sosial membaik pasien lain)
4. Orientasi waktu, tempat dan orang
5. Gunakan distraksi untuk mengatasi
masalah perilaku
6. Libatkan keluarga dalam merencanakan,
menyediakan, dan mengevaluasi
perawatan
7. Fasilitasi orientasi dengan simbol-simbol
(mis. Dekorasi, papan petunjuk, foto diberi
nama, huruf besar)
8. Libatkan kegiatan individu atau kelompok
sesuai kemampuan kognitif dan minat
Edukasi
9. Anjurkan memperbanyak istirahat
10. Ajarkan keluarga cara perawatan demensia
Terima kasih 