Anda di halaman 1dari 132

PENGAWASAN

ADMINISTRASI
KEUANGAN DAERAH
YOGJAKARTA, 26 JANUARI 2019
DASAR HUKUM
1. UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah
2. PP 58 TAHUN 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
3. PERMENDAGRI 23 TAHUN 2007 tentang Pedoman Tata Cara Pengawasan Atas
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (jo Permendagri 8/2009)
4. PERMENDAGRI 13 TAHUN 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah
Dan Perubahannya (Permendagri 59/2007, 21/2011)
5. PERMENDAGRI NOMOR 64 TAHUN 2013 tentang Penerapan Standar Akuntansi
Pemerintahan Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah
6. PERMENDAGRI 32 TAHUN 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah Dan Bantuan
Sosial Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah beserta
Perubahannya (Permendagri 39/2012 Dan 14/2016, 13/2018)
7. PERMENDAGRI 35/2018 tentang Kebijakan Pengawasan Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah Tahun 2019
KEUANGAN DAERAH
A. Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk
didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan
kewajiban tersebut. (Pasal 1 angka 5 PP 58 Th 2005)
B. PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAHAdalah keseluruhan kegiatan yang
meliputi :
1. Perencanaan
2. Pelaksanaan
3. Penatausahaan
4. Pelaporan
5. Pertanggungjawaban, dan
6. Pengawasan Keuangan Daerah (PP 58 TH 2005 Pasal 1 angka 6 dan Pasal 2 huruf a s/d f)
PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN

ABSOLUT :
Urusan Pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan
Pemerintah Pusat

KONKUREN :
URUSAN Urusan Pemerintahan yang dibagi antara Pemerintah Pusat dan
PEMERINTAAHAN Daerah provinsi dan Daerah kabupaten/kota

PEMERINTAHAN UMUM :
kewenangan Presiden sebagai kepala pemerintahan yang di daerah
dilaksanakan oleh gubernur, bupati/walikota dan didelegasikan kepada
camat
URUSAN PEMERINTAHAN ABSOLUT

1. Dapat didekonsentrasikan kepada gubenur sebagai wakil


pemerintah pusat atau bupati/walikota sebagai pelaksana
urusan pemerintahan umum atau instansi vertikal

2. Tidak dapat ditugaspembantuankan kepada daerah otonom,


karena tidak ada perangkat daerah yang melaksanakan.
Prinsip

3. Dibiayai dari anggaran pendapatan dan belanja


negara.

4. Pembentukan instansi vertikal di daerah tidak memerlukan


persetujuan gubernur sebagai wakil pemerintah.
URUSAN PEMERINTAHAN KONKUREN

PRINSIP PEMBAGIAN:
akuntabilitas, efisiensi, dan eksternalitas, serta kepentingan
strategis nasional.
PRINSIP DAN KRITERIA

KRITERIA PEMBAGIAN URUSAN:


1. Lokasi pelaksanaan urusan pemerintahan;
2. Pengguna/konsumen atas pelaksanaan urusan pemerintahan;
3. Manfaat atau dampak pelaksanaan urusan pemerintahan;
4. Kedudukan strategis bagi kepentingan nasional.

KETENTUAN PEMBAGIAN:
1. Diatur dalam lampiran UU No 23 Tahun 2014.
2. Urusan ekologis (ESDM, Kehutanan, dan Kelautan hanya
diserahkan kepada daerah provinsi.
URUSAN PEMERINTAHAN KONKUREN

POLA PEMBAGIAN:
SUBSTANSI PEMBAGIAN
Yang dibagi antar tingkatan/susunan pemerintahan hanya
substansi urusan saja, sedangkan unsur manajemen dan fungsi
manajemen melekat pada setiap substansi tersebut kecuali ada
fungsi manajemen tertentu atau unsur manajemen tertentu yang
secara eksplisit dinyatakan sebagai kewenangan susunan
pemetintahan yang lain

KRITERIA PEMBAGIAN URUSAN:


Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan setiap
tingkatan/susunan pemerintahan dilakukan secara jelas (clear cut),
sehingga tidak ada lagi urusan pemerintahan yang tumpang tindih
antar tingkatan/susunan pemerintahan.
URUSAN PEMERINTAHAN KONKUREN

WAJIB TERKAIT PELAYANAN DASAR :


Urusan Pemerintahan Wajib yang sebagian substansinya
merupakan Pelayanan Dasar.
Kelompok Urusan

WAJIB TIDAK TERKAIT PELAYANAN DASAR :


Urusan Pemerintahan Wajib yang substansinya tidak
mengandung Pelayanan Dasar.

PILIHAN :
Urusan Pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh Daerah
sesuai dengan potensi yang dimiliki Daerah.
URUSAN PEMERINTAHAN KONKUREN YANG
DIOTONOMIKAN

PRINSIP PELAKSANAAN
AZAS PELAKSANAAN :
Urusan Pemerintahan yang dibagi menjadi kewenangan
daerah dilaksanakan berdasarkan azas otonomi.

ANGGARAN :
Pelaksanaan urusan dibiayai dari APBD.

KEKUASAAN DAERAH :
Mempunyai hak untuk mengatur dan mengurus urusan yang
sudah diserahkan kepada daerah sesuai dengan aspirasi
masyarakat setempat dan kondisi daerat dalam prinsip NKRI.
KEMENTERIAN DALAM NEGERI

URUSAN PEMERINTAHAN KONKUREN

WAJIB PILIHAN

Berkaitan dengan pelayanan dasar Tidak berkaitan dengan pelayanan dasar

1. pendidikan; 1. kelautan dan


2. kesehatan; 1. tenaga kerja; 9. perhubungan; perikanan;
3. pekerjaan umum & 2. pemberdayaan 10.komunikasi dan 2. pariwisata;
perempuan dan informatika;
penataan ruang; 3. pertanian;
pelindungan anak; 11.koperasi, usaha
4. perumahan rakyat & 3. pangan; kecil, dan 4. kehutanan;
kawasan pemukiman; 4. pertanahan; menengah; 5. energi dan
5. ketentraman & 5. lingkungan hidup; 12.penanaman modal; sumberdaya
ketertiban umum 6. administrasi 13.kepemudaan dan mineral;
serta perlindungan kependudukan dan olah raga; 6. perdagangan;
masyarakat; pencatatan sipil; 14.statistik; 7. perindustrian;
7. pemberdayaan 15.persandian;
6. sosial. dan
masyarakat dan desa; 16.kebudayaan;
8. pengendalian 17.perpustakaan; dan 8. transmigrasi
penduduk dan 18.kearsipan.
keluarga berencana;
URUSAN PEMERINTAHAN UMUM

AZAS PELAKSANAAN :
PRINSIP PELAKSANAAN Dilaksanakan berdasarkan azas dekonsentrasi karena
merupakan kewenangan Presiden yang tidak
diotonomikan.
ANGGARAN :
Pelaksanaan urusan dibiayai dari APBN.

PELAKSANA :
Di daerah dilaksanakan oleh gubernur, bupati dan walikota sebagai
wakil pemerintah pusat dibantu oleh instansi vertikal. Camat
melaksanakan kewenangan bupati/walikota di tingkat kecamatan

PERTANGGUNGJAWABAN:
Gubernur bertanggung jawab kepada presiden melalui
Mendagri dan bupati/walikota betanggung jawab kepada
Mendagri melalui gubernur wakil pusat.
URUSAN PEMERINTAHAN UMUM

1. pembinaan wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional dalam rangka memantapkan pengamalan
Pancasila, pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pelestarian
Bhinneka Tunggal Ika serta pemertahanan dan pemeliharaan keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
2. pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa;
3. pembinaan kerukunan antarsuku dan intrasuku, umat beragama, ras, dan golongan lainnya guna
mewujudkan stabilitas kemanan lokal, regional dan nasional;
4. penanganan konflik sosial sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
5. koordinasi pelaksanaan tugas antarinstansi pemerintahan yang ada di wilayah Daerah provinsi dan
Daerah kabupaten/kota untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul dengan memperhatikan prinsip
demokrasi, hak asasi manusia, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan, potensi serta
keanekaragaman Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
6. pengembangan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila; dan
7. pelaksanaan semua Urusan Pemerintahan yang bukan merupakan kewenangan Daerah dan tidak
dilaksanakan oleh Instansi Vertikal.

Urusan pemerintahan umum tersebut di atas juga dilaksanakan oleh berbagai


instansi baik instansi pusat maupun perangkat daerah. Kepala daerah lebih
menekankan pada fungsi koordinator pelaksanaan urusan pemeritahan umum di
daerah disamping sebagai pelaksana. Instansi vertikal yang membantu kepala
daerah dalam melaksanakan urusan pemerintahan umum pada dasarnya bertugas
membantu kepala daerah, terutama bantuan keuangan, fasilitasi, administrasi dan
bantuan lainnya
INSPEKTORAT JENDERAL
KEMENTERIAN DALAM NEGERI

-SASARAN PENGAWASAN TAHUN 2019-


A. PENGAWASAN UMUM
1. Perencanaan dan penganggaran daerah;
2. Pajak dan retribusi daerah;
3. Hibah dan bantuan sosial;
4. Pengadaan barang dan jasa;
5. Perizinan dan non perizinan; dan
6. Perjalanan dinas.
B. PENGAWASAN TEKNIS
1. capaian standar pelayanan minimal dan norma, standar,
prosedur dan kriteria urusan pemerintahan daerah provinsi; dan
2. capaian standar pelayanan minimal dan norma, standar,
prosedur dan kriteria urusan pemerintahan daerah
kabupaten/kota.
FOKUS PENGAWASAN UMUM
D. Pengadaan barang dan jasa
1.Perencanaan pengadaan barang dan jasa;
A. Perencanaan dan Penganggaran Daerah 2.Implementasi e-procurment dan e-katalog; dan
3.Kelembagaan Unit Layanan Pengadaan (ULP).
1.Implementasi e-planning dan e-budgeting;
2.ketaatan perencanaan kebijakan Rencana Kerja E. Perizinan dan non perizinan
Pemerintah Daerah (konsistensi dan ketepatan waktu); sektor mineral dan batu bara,
3.capaian target Rencana Kerja Pemerintah Daerah; perkebunan dan kehutanan
4.Transparansi (Sistem Informasi keuangan dan 1.Inventarisasi izin yang dikeluarkan;
pembangunan Daerah); dan 2.Pemenuhan persyaratan pemberian izin
5.Ketepatan waktu tahapan dan penetapan peraturan daerah (kesesuaian dengan tata ruang, analisis
tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. dampak lingkungan, analisis dampak lalu
B. Pajak dan Retribusi lintas, keputusan izin lingkungan, dan SOP);
Daerah dan
1.Penetapan target pendapatan dari pajak dan retribusi;
3.Kewajiban pemegang izin (jaminan finansial:
2.Bagi hasil pajak daerah;
F.pelaksanaan,
Perjalanan reklamasi,
Dinas pasca tambang dan
3.Capaian target, pemberian insentif kepada instansi
1. penutupan
Tertib administrasi
tambang).dan pertanggungjawaban
pemungut; dan
C. 4.Sumbangan
Hibah dan pihak
Bantuan perjalanan dinas ke luar negeri kepala
ketiga
Sosial daerah, wakil kepala daerah dan anggota
1.Penerapan sistem aplikasi e-budgeting dan sistem DPRD;
aplikasi e-reporting; 2. Rasio anggaran perjalanan dinas terhadap
2.Verifikasi dan penetapan penerima hibah dan bantuan APBD; dan
sosial; 3. Analisis kewajaran standar biaya satuan
3.Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan hibah perjalanan dinas
INSPEKTORAT JENDERAL
KEMENTERIAN DALAM NEGERI

FOKUS PENGAWASAN
TEKNIS PEMDA
PROVINSI & KABUPATEN/KOTA

“Untuk meyakinkan pelaksanaan


urusan pemerintahan telah
dilaksanakan ketentuan peraturan
perundang-undangan”

(dengan fokus pengawasan berdasarkan prioritas urusan


masing-masing)
PENGAWASAN KEPALA DAERAH TERHADAP
PERANGKAT DAERAH:
1.Kebijakan dan penerapan perencanaan dan penganggaran
daerah;
2.Kebijakan dan pertanggungjawaban pengelolaan pajak dan
retribusi daerah;
3.Kebijakan dan pertanggungjawaban belanja hibah dan
bantuan sosial;
4.Kebijakan dan pertanggungjawaban belanja pengadaan
barang dan jasa;
5.Kebijakan dan pertanggungjawaban pengelolaan perizinan
dan non perizinan; dan
PEMERINTAH PUSAT POLA HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT-DAERAH
DBH
Mendanai Kegiatan (UU 32/2004 dan UU 33/2004)
DAU Desentralisasi
Mendanai Kegiatan
DAK APBN Dekon/TP dan
Instansi Vertikal
Dana Otsus Belanja
Belanja Untuk
Untuk Di luar 6
Daerah Belanja Pusat
Dana Penyesuaian Daerah Urusan 6 Urusan
Di Daerah
 PELIMPAHAN URUSAN DAN WEWENANG

••

Pajak
Retribusi
Desentralisasi Melalui K/L
Retribusi
Bag. Laba
••
BUMD
Dekon / TP Dana Vertikal
• Lain-PAD
Lain-PAD
• B. Pegawai
Pembiayaan Lainnya
• B. Barang
• B. Lainnya Pinjaman (termasuk
Lain-Lain
Obligasi Daerah)
PAD DAPER Pendapatan Operasional Modal
yang sah Penggunaan SILPA

Pendapatan Surplus / Pembiayaan


Belanja Daerah Daerah
Daerah Defisit Daerah

1 2 3 4
APBD
PEMERINTAH DAERAH
PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
Perencanaan Pelaksanaan Penatausahaan Pertgjwban Pemeriksaan

Rancangan Disusun dan disajikan


RPJMD RKPD Penatausahaan
Sesuai SAP
DPA-SKPD Pendapatan
PEDUM APBD • Bendahara penerimaan
o/ MDN wajib menyetor Laporan Keuangan
Verifikasi penerimaannya ke
Pemerintah Daerah
rekening kas umum Laporan
daerah selambat- • LRA • LO
KUA PPAS DPA-SKPD lambatnya 1 hari kerja • Neraca • LPE Keuangan
• Lap. Arus • Laporan diperiksa oleh BPK
Penatausahaan Kas perubahan
Pelaksanaan APBD Belanja • CaLK saldo
Nota
Kesepakatan Pendapatan
• Penerbitan SPM-UP,
SPM-GU, SPM-TU dan
SPM-LS oleh Kepala Raperda PJ Pel
SKPD
Belanja APBD
Pedoman • Penerbitan SP2D oleh
PPKD
Penyusunan
RKA-SKPD o/ KDH Pembiayaan
Penatausahaan Persetujuan Bersama
Pembiayaan (KDH + DPRD)
RKA-SKPD Laporan Realisasi • Dilakukan oleh PPKD
Semester Pertama
setelah 3 hari
RAPBD Kekayaan dan
R P-APBD Kewajiban daerah Evaluasi o/
• Kas Umum
• Piutang Gubernur/MDN 15
Evaluasi • Investasi hari DPRD
Evaluasi • Barang
Raperda APBD • Dana Cadangan melakukan
R P-APBD •
oleh Gubernur/ Oleh
Utang
pengawasan
7 hari penyesuaian o/
Mendagri Gbrnr/MDN Pemda
bukan
Akuntansi pemeriksaan
Keuangan Daerah
Perda APBD Perda P-APBD
Perda PJ Pel APBD
AZAS UMUM PENGELOLAAN KEUDA
(1)
1. Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan,
efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan
memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat.
2. Secara tertib adalah bahwa keuangan daerah dikelola secara tepat waktu dan tepat
guna yang didukung dengan bukti­bukti administrasi yang dapat
dipertanggungjawabkan.
3. Taat pada peraturan perundang-undangan adalah bahwa pengelolaan keuangan
daerah harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan.
4. Efektif merupakan pencapaian hasil program dengan target yang telah ditetapkan,
yaitu dengan cara membandingkan keluaran dengan hasil.
5. Efisien merupakan pencapaian keluaran yang maksimum dengan masukan tertentu
atau penggunaan masukan terendah untuk mencapai keluaran tertentu.
6. Ekonomis merupakan pemerolehan masukan dengan kualitas dan kuantitas
tertentu pada tingkat harga yang terendah.
AZAS UMUM PENGELOLAAN KEUDA (2)
7. Transparan merupakan prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk
mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas-Iuasnya tentang keuangan daerah.
8. Bertanggung jawab merupakan perwujudan kewajiban seseorang untuk
mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumber daya dan pelaksanaan
kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan.
9. Keadilan adalah keseimbangan distribusi kewenangan dan pendanaannya dan/atau
keseimbangan distribusi hak dan kewajiban berdasarkan pertimbangan yang obyektif.
10. Kepatutan adalah tindakan atau suatu sikap yang dilakukan dengan wajar dan
proporsional.
11. Manfaat untuk masyarakat adalah bahwa keuangan daerah diutamakan untuk
pemenuhan kebutuhan masyarakat.
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
1.Keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan,
efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan
asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. (Pasal 4 ayat (1) PP 58/2005)
2.Pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan dalam suatu sistem yang terintegrasi
yang diwujudkan dalam APBD yang setiap tahun ditetapkan dengan peraturan
daerah. (Pasal 4 ayat (2) PP 58/2005)
3.Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD adalah
rencana keuangan tahunan Daerah yang ditetapkan dengan Perda. (Pasal 1 angka 32 UU
23/2014)
4.APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan Daerah dalam masa 1 (satu) tahun
anggaran sesuai dengan undang-undang mengenai keuangan negara. (Pasal 309 UU 23/2014)

 
PRINSIP PENYUSUNAN APBD

Sesuai Dengan Kebutuhan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Berdasarkan Urusan dan Kewenangannya

Tertib, taat pada ketentuan per-UU-an, efisien, ekonomis, efektif, bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan, kepatutan
dan manfaat untuk masyarakat

Tepat Waktu

Transparan

Partisipatif

Tidak Bertentangan dengan Kepentingan Umum, Peraturan Yang Lebih Tinggi dan Perda Lainnya
ASAS UMUM APBD (1)

1. APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan


pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah.
2. Penyusunan APBD berpedoman kepada RKPD dalam rangka
mewujudkan pelayanan kepada masyarakat untuk tercapainya
tujuan bernegara.
3. APBD mempunyai fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan,
alokasi, distribusi, dan stabilisasi.
4. APBD, Perubahan APBD, dan pertanggungjawaban pelaksanaan
APBD setiap tahun ditetapkan dengan peraturan daerah
ASAS UMUM APBD (2)

1. Semua penerimaan dan pengeluaran daerah baik dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa
dianggarkan dalam APBD.
2. Jumlah pendapatan yang dianggarkan dalam APBD merupakan perkiraan yang terukur
secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan.
3. Seluruh pendapatan daerah, belanja daerah, dan pembiayaan daerah dianggarkan secara
bruto dalam APBD.
4. Pendapatan daerah yang dianggarkan dalam APBD harus berdasarkan pada ketentuan
peraturan perundang­undangan.
5. Dalam menyusun APBD, penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya
kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup.
6. Penganggaran untuk setiap pengeluaran APBD harus didukung dengan dasar hukum yang
melandasinya.
7. Tahun anggaran APBD meliputi masa 1 (satu) tahun mulai tanggal 1 Januari sampai dengan
31 Desember.
(Pasal 17 s/d 19 PP 58/2005)
STRUKTUR APBD

1. APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari:


a. pendapatan daerah;
b. belanja daerah; dan
c. pembiayaan daerah.
2. Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui Rekening Kas Umum
Daerah, yang menambah ekuitas dana lancar yang merupakan hak daerah dalam satu
tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh Daerah.
3. Belanja meliputi semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah yang
mengurangi ekuitas dana lancar, yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun
anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh Daerah.
4. Pembiayaan daerah meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau
pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan
maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya.
 
STRUKTUR APBD
STRUKTUR APBD
Semua penerimaan uang melalui
1. rekening umum kas daerah, yg
PENDAPATAN menambah ekuitas dana, dan
DAERAH merupakan hak daerah dalam 1 tahun
anggaran

Semua pengeluaran dari rekening kas


2.
umum daerah yg mengurangi ekuitas
BELANJA
dana, dan merupakan kewajiban daerah
DAERAH
dalam 1 tahun anggaran.

3. Semua transaksi keuangan untuk


PEMBIAYAAN menutup defisit atau untuk
DAERAH memanfaatkan surplus
STRUKTUR PENDAPATAN
A. Pendapatan Asli Daerah:
1. Pajak Daerah
2. Retribusi Derah
3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan
4. Lain-lain PAD yang sah
B. Dana Perimbangan :
1. Dana Bagi Hasil
2. Dana Alokasi Umum
3. Dana Alokasi Khusus

C. Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah :


1. Hibah
2. Dana Darurat
3. Dana Bagi Hasil Pajak Dari Prov Kepada Kab/Kota
4. Dana Penyesuaian & Dana OTSUS
5. Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemda lainnya
BELANJA DAERAH
STRUKTUR BELANJA
Belanja Langsung Belanja Tidak Langsung

Belanja Pegawai
Program …

Belanja Bunga

Kegiatan …

Belanja Subsidi

Belanja Pegawai

Belanja Hibah

Belanja Barang & Jasa

Belanja Bantuan Sosial

Belanja Modal

Belanja Bagi Hasil

Bantuan Keuangan

Belanja Tidak Terduga


BELANJA DAERAH
Pasal 298 UU 23/2014
1.Belanja Daerah diprioritaskan untuk mendanai Urusan Pemerintahan Wajib yang
terkait Pelayanan Dasar yang ditetapkan dengan standar pelayanan minimal.
2.Belanja Daerah berpedoman pada standar teknis dan standar harga satuan regional
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3.Belanja Daerah untuk pendanaan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan
Daerah selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada analisis
standar belanja dan standar harga satuan regional sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
4.Belanja bagi hasil, bantuan keuangan, dan belanja untuk Desa dianggarkan dalam
APBD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
5.Belanja DAK diprioritaskan untuk mendanai kegiatan fisik dan dapat digunakan
untuk kegiatan nonfisik.
 
BELANJA DAERAH
Pasal 31 Permendagri 13/2006
1. Belanja daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari
urusan wajib, urusan pilihan dan urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang
tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau
antar pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan.
2. Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan
kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang
diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas
sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial.
3. Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat diwujudkan melalui prestasi kerja dalam
pencapaian standar pelayanan minimal sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
 
KELOMPOK BELANJA LANGSUNG
DAN BELANJA TIDAK LANGSUNG
(PASAL 36 PERMENDAGRI 13/2006)
1. Kelompok belanja tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak
terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.
2. Kelompok belanja langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara
langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.
BELANJA PEGAWAI
(BELANJA TIDAK LANGSUNG)
1. Belanja pegawai merupakan belanja kompensasi, dalam bentuk gaji
dan tunjangan, serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada
pegawai negeri sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan.
2. Uang representasi dan tunjangan pimpinan dan anggota DPRD serta
gaji dan tunjangan kepala daerah dan wakil kepala daerah serta
penghasilan dan penerimaan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan
peraturan perundang-­undangan dianggarkan dalam belanja pegawai.
BELANJA BUNGA DAN
SUBSIDI
Belanja bunga digunakan untuk menganggarkan pembayaran
bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang (principal
outstanding) berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek,
jangka menengah, dan jangka panjang.
Belanja subsidi digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya
produksi kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual
produksi/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat
banyak.
BELANJA HIBAH DAN BANSOS
Belanja hibah digunakan untuk menganggarkan pemberian
hibah dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada
pemerintah atau pemerintah daerah lainnya, perusahaan
daerah, masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan yang
secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya.
Belanja bantuan sosial digunakan untuk menganggarkan
pemberian bantuan yang bersifat sosial kemasyarakatan
dalam bentuk uang dan/atau barang kepada
kelompok/anggota masyarakat.
BELANJA BAGI HASIL
Belanja bagi hasil digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil
yang bersumber dari pendapatan provinsi kepada kabupaten/kota
atau pendapatan kabupaten/kota kepada pemerintah desa atau
pendapatan pemerintah daerah tertentu kepada pemerintah daerah
Iainnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
BANTUAN KEUANGAN
Bantuan keuangan digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang
bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota, pemerintah
desa, dan kepada pemerintah daerah Iainnya atau dari pemerintah
kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah Iainnya dalam
rangka pemerataan dan/atau peningkatan kemampuan keuangan.
Bantuan keuangan yang bersifat umum peruntukan dan penggunaannya
diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah/pemerintah desa penerima
bantuan.
Bantuan keuangan yang bersifat khusus peruntukan dan pengelolaannya
diarahkan/ditetapkan oleh pemerintah daerah pemberi bantuan.
BELANJA TIDAK
TERDUGA
Belanja tidak terduga merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya
tidak biasa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan
bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya,
termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun­tahun
sebelumnya yang telah ditutup.
Kegiatan yang bersifat tidak biasa yaitu untuk tanggap darurat dalam
rangka pencegahan gangguan terhadap stabilitas penyelenggaraan
pemerintahan demi terciptanya keamanan, ketentraman dan ketertiban
masyarakat di daerah.
Pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun
sebelumnya yang telah ditutup harus didukung dengan bukti­bukti
yang sah.
PEMBIAYAAN DAERAH
PEMBIAYAAN DAERAH
Pembiayaan daerah tterdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.
1.  Penerimaan pembiayaan mencakup:
a.sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA);
b.pencairan dana cadangan;
c.hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan;
d.penerimaan pinjaman daerah;
e.penerimaan kembali pemberian pinjaman; dan
f. penerimaan piutang daerah.
2. Pengeluaran pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 mencakup:
a.pembentukan dana cadangan;
b.peneemaan modal (investasi) pemerintah daerah;
c.pembayaran pokok utang; dan
d.pemberian pinjaman daerah.
SISA LEBIH PERHITUNGAN ANGGARAN
TAHUN ANGGARAN SEBELUMNYA (SILPA)

 
Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya
(SiLPA) mencakup pelampauan penerimaan PAD, pelampauan
penerimaan dana perimbangan, pelampauan penerimaan lain-
lain pendapatan daerah yang sah, pelampauan penerimaan
pembiayaan, penghematan belanja, kewajiban kepada fihak
ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan, dan sisa
dana kegiatan lanjutan.
DANA CADANGAN

1. Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan guna mendanai kegiatan yang
penyediaan dananya tidak dapat sekaligus/sepenuhnya dibebankan dalam satu tahun anggaran
2. Pembentukan dana cadangan ditetapkan dengan peraturan daerah.
3. Peraturan daerah mencakup penetapan tujuan pembentukan dana cadangan, program dan
kegiatan yang akan dibiayai dari dana cadangan, besaran dan rincian tahunan dana cadangan
yang harus dianggarkan dan ditransfer ke rekening dana cadangan, sumber dana cadangan,
dan tahun anggaran pelaksanaan dana cadangan.
4. Rancangan peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan dibahas bersamaan dengan
pembahasan rancangan peraturan daerah tentang APBD.
5. Penetapan rancangan peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan ditetapkan oleh
kepala daerah bersamaan dengan penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD.
6. Dana cadangan dapat bersumber dari penyisihan atas penerimaan daerah, kecuali dari dana
alokasi khusus, pinjaman daerah dan penerimaan lain yang penggunaannya dibatasi untuk
pengeluaran tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan.
DANA CADANGAN....LANJUTAN..

7. Dana cadangan ditempatkan pada rekening tersendiri.


8. Penerimaan hasil bunga/deviden rekening dana cadangan dan penempatan dalam
portofolio dicantumkan sebagai penambah dana cadangan berkenaan dalam daftar dana
cadangan pada lampiran rancangan peraturan daerah tentang APBD.
9. Pembentukan dana cadangan dianggarkan pada pengeluaran pembiayaan dalam tahun
anggaran yang berkenaan.
10. Pencairan dana cadangan digunakan untuk menganggarkan pencairan dana cadangan dari
rekening dana cadangan ke rekening kas umum daerah dalam tahun anggaran berkenaan.
11. Jumlah yang dianggarkan tersebut yaitu sesuai dengan jumlah yang telah ditetapkan dalam
peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan berkenaan.
12.  Penggunaan atas dana cadangan yang dicairkan dari rekekning dana cadangan ke
rekening kas umum daerah dianggarkan dalam belanja langsung SKPD pengguna dana
cadangan berkenaan, kecuali diatur tersendiri dalam peraturan perundang-undangan.
HASIL PENJUALAN KEKAYAAN DAERAH YANG DIPISAHKAN

 Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan digunakan


antara lain untuk menganggarkan hasil penjualan perusahaan
milik daerah/BUMD dan penjualan aset milik pemerintah
daerah yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga, atau hasil
divestasi penyertaan modal pemerintah daerah.
(Pasal 66 Permendagri 13/2006)
PEMBERIAN PINJAMAN DAERAH DAN
PENERIMAAN K EMBALI PEMBERIAN PI NJAMAN DAERAH

1. Pemberian pinjaman digunakan untuk menganggarkan pinjaman


yang diberikan kepada pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah
lainnya.
2. Penerimaan kembali pemberian pinjaman digunakan untuk
menganggarkan posisi penerimaan kembali pinjaman yang diberikan
kepada pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah lainnya

(Pasal 68 Permendagri 13/2006)


PENERIMAAN PIUTANG DAERAH

Penerimaan piutang digunakan untuk menganggarkan penerimaan yang


bersumber dari pelunasan piutang fihak ketiga, seperti berupa
penerimaan piutang daerah dari pendapatan daerah, pemerintah,
pemerintah daerah lain, lembaga keuangan bank, lembaga keuangan
bukan bank dan penerimaan piutang lainnya.
(Pasal 69 Permendagri 13/2006)
INVESTASI PEMERINTAH DAERAH

1. Investasi pemerintah daerah digunakan untuk menganggarkan kekayaan pemerintah daerah


yang diinvestasikan balk dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
2.  Investasi jangka pendek merupakan investasi yang dapat segera diperjualbelikan/dicairkan,
ditujukan dalam rangka manajemen kas dan beresiko rendah serta dimiliki selama kurang dari
12 (duabelas) bulan.
3. Investasi jangka pendek mencakup deposito berjangka waktu 3 (tiga) bulan sampai dengan 12
(duabelas) bulan yang dapat diperpanjang secara otomatis, pembelian surat utang negara
(SUN), sertifikat bank Indonesia (SBI) dan surat perbendaharaan negara (SPN).
4. Investasi jangka panjang merupakan investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki lebih dari 12
(duabelas) bulan yang terdiri dari investasi permanen dan non permanen.
5. Investasi jangka panjang antara lain surat berharga yang dibeli pemerintah daerah dalam
rangka mengendalikan suatu badan usaha, misalnya pembelian surat berharga untuk
menambah kepemilikan modal saham pada suatu badan usaha, surat berharga yang dibeli
pemerintah daerah untuk tujuan menjaga hubungan balk dalam dan luar negeri, surat berharga
yang tidak dimaksudkan untuk dicairkan dalam memenuhi kebutuhan kas jangka pendek.
INVESTASI PEMERINTAH DAERAH....LANJUTAN....

6. Investasi permanen bertujuan untuk dimiliki secara berkelanjutan tanpa ada niat untuk
diperjualbelikan atau tidak ditarik kembali, seperti kerjasama daerah dengan pihak ketiga
dalam bentuk penggunausahaan/pemanfaatan aset daerah, penyertaan modal daerah pada
BUMD dan/atau badan usaha lainnya dan investasi permanen lainnya yang dimiliki
pemerintah daerah untuk menghasilkan pendapatan atau meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat.
7. Investasi non permanen bertujuan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan atau ada niat untuk
diperjualbelikan atau ditarik kembali, seperti pembelian obligasi atau surat utang jangka
panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki sampai dengan tanggal jatuh tempo, dana yang
disisihkan pemerintah daerah dalam rangka pelayanan/pemberdayaan masyarakat seperti
bantuan modal kerja, pembentukan dana secara bergulir kepada kelompok masyarakat,
pemberian fasilitas pendanaan kepada usaha mikro dan menengah.
8. Investasi pemerintah daerah dapat dianggarkan apabila jumlah yang akan disertakan dalam
tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal
dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri.
INVESTASI PEMERINTAH DAERAH....LANJUTAN....

9. Investasi pemerintah daerah dianggarkan dalam pengeluaran pembiayaan.


10. Divestasi pemerintah daerah dianggarkan dalam penerimaan pembiayaan pada jenis hasil
penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan.
11. Divestasi pemerintah daerah yang dialihkan untuk diinvestasikan kembali dianggarkan
dalam pengeluaran pembiayaan pada jenis penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah.
12. Penerimaan hasil atas investasi pemerintah daerah dianggarkan dalam kelompok
pendapatan asli daerah pada jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.
13. Investasi daerah jangka pendek dalam bentuk deposito pada bank umum dianggarkan dalam
pengeluaran pembiayaan pada jenis penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah.
14. Pendapatan bunga atas deposito sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggarkan dalam
kelompok pendapatan asli daerah pada jenis lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
PEMBAYARAN POKOK UTANG

Pembayaran pokok utang digunakan untuk menganggarkan


pembayaran kewajiban atas pokok utang yang dihitung
berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka
menengah, dan jangka panjang.
(Pasal 69 Permendagri 13/2006)
PEMBAYARAN POKOK UTANG

Pembayaran pokok utang digunakan untuk menganggarkan


pembayaran kewajiban atas pokok utang yang dihitung
berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka
menengah, dan jangka panjang.
(Pasal 69 Permendagri 13/2006)
KODE REKENING PENGANGGARAN

1. Setiap urusan pemerintahan daerah dan organisasi yang dicantumkan dalam


APBD menggunakan kode urusan pemerintahan daerah dan kode organisasi.
2. Kode pendapatan, kode belanja dan kode pembiayaan yang digunakan dalam
penganggaran menggunakan kode akun pendapatan, kode akun belanja, dan kode
akun pembiayaan.
3. Setiap program, kegiatan, kelompok, jenis, obyek serta rincian obyek yang
dicantumkan dalam APBD menggunakan kode program, kode kegiatan, kode
kelompok, kode jenis, kode obyek dan kode rincian obyek.
4. Untuk tertib penganggaran kode dihimpun menjadi satu kesatuan kode anggaran
yang disebut kode rekening.
5.  Urutan susunan kode rekening APBD dimulai dari kode urusan pemerintahan
daerah, kode organisasi, kode program, kode kegiatan, kode akun, kode
kelompok, kode jenis, kode obyek, dan kode rincian obyek.
(Pasal 75 & 76 Permendagri 13/2006)
PELAKSANA ANGGARAN
KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA
MERUPAKAN BAGIAN DARI KEKUASAAN
PEMERINTAHAN

PRESIDEN selaku PKPKN


(Pasal 6 ayat (1) dan Pasal 7 ayat (1) UU 17/2003

DIKUASA DISERAH
KAN KAN

MENKEU PIMPINAN K/L GUBERNUR/ BUPATI/WALI KOTA


Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) UU 17/2003

MEMILIKI
PENG FISKAL &
WAKIL PEM DLM
PENGGUNA
KEPEM KEKAYAAN
NEGARAYANG ANGGARAN OTORITAS & TANGGUNGJAWAB
DIPISAHKAN. ATAS PENGELOLAAN KEUDA

55
KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

KEPALA DAERAH
(PEMEGANG
(PEMEGANG KEKUASAAN
KEKUASAAN PENGELOLAAN
PENGELOLAAN KEUDA)
KEUDA)

SEKDA
SEKDA
selaku
selaku
(KOORD.PENGEL.KEUDA)
(KOORD.PENGEL.KEUDA)

PA
PA PPKD
PPKD Selaku
Selaku BUD
BUD
(KEPALA
(KEPALA SKPD)
SKPD) (KEPALA
(KEPALA SKPKD)
SKPKD)

BENDAHARA
BENDAHARA PPK-SKPD
PPK-SKPD

KUASA
KUASA BUD
BUD

KUASA
KUASA PA
PA

BEND.
BEND. PEMB
PEMB

PPTK
PPTK
Pejabat-Pejabat terkait Keuangan Daerah
Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuda
Koordinator Pengelolaan Keuda
PPKD
BUD
Kuasa BUD
Pengguna Anggaran
Kuasa Pengguna Anggaran
PPTK
PPK
Bendahara Penerimaan & Bendahara Pengeluaran

Permendagri 13 tahun 2006 pasal 7 s/d pasal 14


TUGAS PEMEGANG KEKUASAAN
PENGELOLAAN KEUDA

Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan


daerah dan mewakili pemda dalam kepemilikan kekayaan daerah yang
dipisahkan;
mempunyai kewenangan menetapkan :
• kebijakan pelaksanaan APBD;
• kebijakan pengelolaan barang daerah;
• kuasa pengguna anggaran/pengguna barang;
• bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran;
• pejabat yang melakukan penerimaan daerah;
• pejabat yang mengelola utang dan piutang daerah;
• pejabat yang mengelolan barang milik daerah;
• pejabat yang menguji tagihan & memerintahkan pembayaran.

Permendagri 13 tahun 2006 pasal 5 ayat (1) dan (2)


Tugas Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuda

Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan


keuangan daerah dapat Melimpahkan sebagian atau seluruh
kekuasaannya kepada :
 SEKDA selaku koordinator pengelola keuangan daerah;
 Kepala SKPKD selaku PPKD;
 Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/
pengguna barang.

Pelimpahan ditetapkan dengan keputusan kepala daerah berdasarkan prinsip


pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan, menguji, dan yang menerima
atau mengeluarkan uang.
Permendagri 13 tahun 2006 pasal 5 ayat (3) dan (4)
Tugas Koordinator Pengelolaan Keuda
Sekretaris Daerah sebagai koordinator pengelolaan keuda Membantu KDH menyusun
kebijakan & mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan PEMDA termasuk pengelolaan
KEUDA

Mempunyai tugas koordinasi di bidang :


• penyusunan & pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD & barang daerah;
• penyusunan rancangan RAPBD & RPAPBD;
• penyusunan Raperda APBD, PAPBD, & pertanggungjawaban pelaksanaan APBD;
• tugas-tugas pejabat perencana daerah, PPKD & pejabat pengawas KEUDA;
• penyusunan laporan KEUDA dlm rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD;
• memimpin TAPD;
• menyiapkan domlak APBD & pengelolaan barang daerah;
• memberikan persetujuan pengesahan DPA-SKPD/DPPA- SKPD; dan

Permendagri 13 tahun 2006 pasal 6


Tugas PPKD
Kepala SKPKD (BPKD/DPKD/DPPKAD/Biro Keuangan/
Bagian Keuangan) selaku PPKD :
menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan
daerah;
menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD;
melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah
ditetapkan dengan Peraturan Daerah;
melaksanakan fungsi BUD;
menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD; dan
melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan
oleh kepala daerah.
Permendagri 13 tahun 2006 pasal 7 ayat 1
Tugas BUD
Kepala SKPKD (BPKD/DPKD/DPPKAD/Biro Keuangan/
Bagian Keuangan) selaku BUD :
 menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD;
 mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD;
 melakukan pengendalian pelaksanaan APBD;
 memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah;
 melaksanakan pemungutan pajak daerah;
 menetapkan SPD;
 menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama pemerintah
daerah;
 melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah;
 menyajikan informasi keuangan daerah; dan
 melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik
daerah.
Permendagri 13 tahun 2006 pasal 7 ayat 2
Kuasa BUD (1)
• menyiapkan anggaran kas;
• menyiapkan SPD;
• menerbitkan SP2D;
• menyimpan seluruh bukti asli kepemilikan kekayaan
daerah;
• memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran
APBD oleh bank dan/atau lembaga keuangan lainnya
yang ditunjuk;
• mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan
dalam pelaksanaan APBD;

Permendagri 13 tahun 2006 pasal 8 ayat 2


Kuasa BUD (2)
• menyimpan uang daerah;
• melaksanakan penempatan uang daerah dan
mengelola/menatausahakan investasi daerah;
• melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat
pengguna anggaran atas beban rekening kas umum daerah;
• melaksanakan pemberian pinjaman atas nama pemerintah
daerah;
• melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah; dan
• melakukan penagihan piutang daerah.

Permendagri 13 tahun 2006 pasal 8 ayat 2


Tugas Pengguna Anggaran (1)
menyusun RKA-SKPD;
menyusun DPA-SKPD;
melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran
atas beban anggaran belanja;
melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya;
melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan
pembayaran;
melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak;
mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak
lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan;
menandatangani SPM;
Permendagri 13 tahun 2006 pasal 10
Tugas Pengguna Anggaran (2)
• mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang
dipimpinnya;
• mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung
jawab SKPD yang dipimpinnya;
• menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya;
• mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya;
• melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya
berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah; dan
• bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah
melalui sekretaris daerah.

Permendagri 13 tahun 2006 pasal 10


penunjukkan Kuasa Pengguna
Anggaran (KPA) oleh PA
• Kriteria penunjukkan KPA :
• Tingkatan Daerah;
• Besaran SKPD;
• Jumlah uang yg dikelola;
• Beban kerja;
• Lokasi;
• Kompetensi dan/atau rentang kendali; dan/atau
• Pertimbangan objektif lainnya.

Permendagri 13 tahun 2006 pasal 10


Tugas Kuasa Pengguna Anggaran

• melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran


belanja;
• melaksanakan anggaran unit kerja yang dipimpinnya;
• melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran;
• mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas
anggaran yang telah ditetapkan;
• menandatangani SPM-LS dan SPM-TU;
• mengawasi pelaksanaan anggaran unit kerja yang dipimpinnya; dan
• melaksanakan tugas-tugas kuasa pengguna anggaran lainnya berdasarkan
kuasa yang dilimpahkan oleh pejabat pengguna anggaran.

Permendagri 13 tahun 2006 dan Permendagri 59 tahun 2007 pasal 11 ayat 3a


PA/KPA DAN PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN

 Dalam rangka pengadaan barang/jasa, Pengguna


Anggaran bertindak sebagai Pejabat Pembuat
Komitmen sesuai peraturan perundang-undangan di
bidang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
(Pasal 10A Permendagri 21/2011)
 Dalam pengadaan barang/jasa, Kuasa Pengguna Anggaran
sekaligus bertindak sebagai Pejabat Pembuat Komitmen.
(Pasal 11 ayat (5) Permendagri 21/2010)
Tugas PA/KPA
Dalam rangka Pengadaan Barang/Jasa, Pengguna Anggaran
(PA)/Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) bertindak sebagai
Pejabat Pembuat Komitmen (Permendagri 21/2011 Pasal
10A)
Tugas PPTK

• mengendalikan pelaksanaan kegiatan;


• melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan; dan
• menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran
pelaksanaan kegiatan mencakup dokumen administrasi
kegiatan maupun dokumen administrasi yang terkait
dengan persyaratan pembayaran yang ditetapkan sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan.

Permendagri 13 tahun 2006 pasal 12 ayat 5


Tugas PPK-SKPD
meneliti kelengkapan SPP-LS pengadaan barang dan jasa yang disampaikan
oleh bendahara pengeluaran dan diketahui/ disetujui oleh PPTK;
meneliti kelengkapan SPP-UP, SPP-GU, SPP-TU dan SPP-LS gaji dan tunjangan
PNS serta penghasilan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang diajukan oleh bendahara pengeluaran;
melakukan verifikasi SPP;
menyiapkan SPM;
melakukan verifikasi harian atas penerimaan;
melaksanakan akuntansi SKPD; dan
menyiapkan laporan keuangan SKPD.

PPK-SKPD tidak boleh merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukan


pemungutan penerimaan negara/daerah, bendahara, dan/atau PPTK

Permendagri 13 tahun 2006 pasal 13 ayat 2


Bendahara Penerimaan
• Menerima penerimaan yang bersumber dari pendapatan
asli daerah;
• Menyimpan seluruh penerimaan;
• Menyetorkan penerimaan yang diterima dari pihak ketiga
ke rekening kas umum daerah paling lambat 1 hari kerja;
• Mendapatkan bukti transaksi atas pendapatan yang
diterima melalui Bank
Bendahara Pengeluaran

• Mengajukan permintaan pembayaran baik melalui


mekanisme UP/GU/TU maupun LS
• Menerima dan menyimpan UP/GU/TU
• Melakukan pembayaran dari uang persediaan yang
dikelolannya
• Menolak perintah bayar
• Meneliti kelengkapan dokumen pendukung LS
• Mengembalikan dokumen pendukung LS
PELAKSANAAN ANGGARAN
(PENDAPATAN DAN BELANJA)
AZAS UMUM PELAKSANAAN APBD

1. Semua penerimaan daerah dan pengeluaran daerah dalam rangka pelaksanaan


urusan pemerintahan daerah dikelola dalam APBD.
2. Setiap SKPD yang mempunyai tugas memungut dan/atau menerima pendapatan
daerah wajib melaksanakan pemungutan dan/atau penerimaan berdasarkan
ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.
3. Penerimaan SKPD dilarang digunakan langsung untuk membiayai pengeluaran,
kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan.
4. Penerimaan SKPD berupa uang atau cek harus disetor ke rekening kas umum
daerah paling lama 1 (satu) hari kerja.
5. Jumlah belanja yang dianggarkan dalam APBD merupakan baths tertinggi
untuk setiap pengeluaran belanja.
(Pasal 122 Permendagri 13/2006)
A Z A S U M U M P E L A K S A N A A N A P B D . . . L A N J U TA N . . .

6. Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja jika untuk


pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam APBD.
7. Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat dilakukan jika dalam
keadaan darurat, yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan APBD
dan/atau disampaikan dalam laporan realisasi anggaran.
8. Kriteria keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (6) ditetapkan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
9. Setiap SKPD dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran daerah
untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD.
10. Pengeluaran belanja daerah menggunakan prinsip hemat, tidak mewah, efektif,
efisien dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(Pasal 122 Permendagri 13/2006)
PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAERAH

1. Semua pendapatan daerah dilaksanakan melalui rekening kas umum daerah.


2. Setiap pendapatan harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah.
3. Setiap SKPD yang memungut pendapatan daerah wajib mengintensifkan
pemungutan pendapatan yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya.
4. SKPD dilarang melakukan pungutan selain dari yang ditetapkan dalam peraturan
daerah.
5.  Komisi, rabat, potongan atau pendapatan lain dengan nama dan dalam bentuk apa
pun yang dapat dinilai dengan uang, balk secara langsung sebagai akibat dari
penjualan, tukar-menukar, hibah, asuransi dan/atau pengadaan barang dan jasa
termasuk pendapatan bunga, jasa giro atau pendapatan lain sebagai akibat
penyimpanan dana anggaran pada bank serta pendapatan dari hasil pemanfaatan
barang daerah atas kegiatan lainnya merupakan pendapatan daerah.
(Pasal 127,128, 129 Permendagri 13/2006)
PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAERAH..LANJUTAN...

6. Pengembalian atas kelebihan pendapatan dilakukan dengan membebankan pada


pendapatan yang bersangkutan untuk pengembalian pendapatan yang terjadi dalam
tahun yang sama.
7. Untuk pengembalian kelebihan pendapatan yang terjadi pada tahun-tahun
sebelumnya dibebankan pada belanja tidak terduga.
8. Pengembalian harus didukung dengan bukti yang lengkap dan sah.
9. Semua pendapatan dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah
dilaksanakan melalui rekening kas umum daerah dan dicatat sebagai pendapatan
daerah.
(Pasal 130 & 131 Permendagri 13/2006)
P ELA K SANA AN ANG G ARAN BEL ANJ A DAERA H  

1. Setiap pengeluaran belanja atas beban APBD harus didukung dengan bukti yang
lengkap dan sah.
2. Bukti harus mendapat pengesahan oleh pejabat yang berwenang dan bertanggung
jawab atas kebenaran material yang timbul dari penggunaan bukti dimaksud.
3. Pengeluaran kas yang mengakibatkan beban APBD tidak dapat dilakukan sebelum
rancangan peraturan daerah tentang APBD ditetapkan dan ditempatkan dalam
lembaran daerah.
4. Pengeluaran kas tidak termasuk untuk belanja yang bersifat mengikat dan belanja
yang bersifat wajib yang ditetapkan dalam peraturan kepala daerah.
(Pasal 132 Permendagri 13/2006)
PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA DAERAH....Lanjutan....
 

5. Pemberian subsidi, hibah, bantuan sosial, dan bantuan keuangan dilaksanakan atas
persetujuan kepala daerah.
6. Penerima subsidi, hibah, bantuan sosial, dan bantuan keuangan bertanggung jawab
atas penggunaan uang/barang dan/atau jasa yang diterimanya dan wajib
menyampaikan laporan pertanggungjawaban penggunaannya kepada kepala
daerah.
7. Tata cara pemberian dan pertanggungjawaban subsidi, hibah, bantuan sosial, dan
bantuan keuangan ditetapkan dalam peraturan kepala daerah.
(Pasal 133 Permendagri 13/2006)
PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA DAERAH....Lanjutan....
 

8. Dasar pengeluaran anggaran belanja tidak terduga yang dianggarkan dalam APBD untuk
mendanai tanggap darurat, penanggulangan bencana alam dan/atau bencana sosial, termasuk
pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun­tahun sebelumnya yang telah ditutup
ditetapkan dengan keputusan kepala daerah dan diberitahukan kepada DPRD paling lama 1
(satu) bulan terhitung sejak keputusan dimaksud ditetapkan.
9. Pengeluaran belanja untuk tanggap darurat berdasarkan kebutuhan yang diusulkan dari
instansi/lembaga berkenaan setelah mempertimbangkan efisiensi dan efektifitas serta
menghindari adanya tumpang tindih pendanaan terhadap kegiatan-kegiatan yang telah didanai
dari anggaran pendapatan dan belanja negara.
10. Pimpinan instansi/lembaga penerima dana tanggap darurat bertanggungjawab atas
penggunaan dana tersebut dan wajib menyampaikan laporan realisasi penggunaan kepada
atasan langsung dan kepala daerah.
11. Tata cara pemberian dan pertanggungjawaban belanja tidak terduga untuk tanggap darurat
ditetapkan dalam peraturan kepala daerah.
(Pasal 134 Permendagri 13/2006)
PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA DAERAH....Lanjutan....
 

12. Bendahara pengeluaran sebagai wajib pungut pajak penghasilan (PPh)


dan pajak lainnya, wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan
dan pajak yang dipungutnya ke rekening kas negara pada bank yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan sebagai bank persepsi atau pos giro
dalam jangka waktu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
13. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas SKPD, kepada pengguna
anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat diberikan uang persediaan
yang dikelola oleh bendahara pengeluaran.
 (Pasal 135 & 136 Permendagri 13/2006)
PELAKSANAAN ANGGARAN PEMBIAYAAN DAERAH 
SISA LEBIH PERHITUNGAN ANGGARAN (SILPA) TABUN SEBELUMNYA
 

1. Sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya


merupakan penerimaan pembiayaan yang digunakan untuk:
2. menutupi defisit anggaran apabila realisasi pendapatan lebih kecil
daripada realisasi belanja;
3. mendanai pelaksanaan kegiatan lanjutan atas beban belanja langsung;
4. mendanai kewajiban lainnya yang sampai dengan akhir tahun
anggaran belum diselesaikan.
 (Pasal 137 & 136 Permendagri 13/2006)
DPA-LANJUTAN (DPAL)  

1. Beban belanja langsung pelaksanaan kegiatan lanjutan didasarkan pada DPA-SKPD yang
telah disahkan kembali oleh PPKD menjadi DPA Lanjutan SKPD (DPAL-SKPD) tahun
anggaran berikutnya.
2. Untuk mengesahkan kembali DPA-SKPD menjadi DPAL-SKPD, Kepala SKPD
menyampaikan laporan akhir realisasi pelaksanaan kegiatan fisik dan non-fisik maupun
keuangan kepada PPKD paling lambat pertengahan bulan Desember tahun anggaran
berjalan.
3. Jumlah anggaran yang disahkan dalam DPAL-SKPD setelah terlebih dahulu dilakukan
pengujian sebagai berikut:
a.sisa DPA-SKPD yang belum diterbitkan SPD dan/atau belum diterbitkan SP2D atas
kegiatan yang bersangkutan;
b.sisa SPD yang belum diterbitkan SP2D; dan
c.SP2D yang belum diuangkan.
4. (4) DPAL-SKPD yang telah disahkan dapat dijadikan dasar pelaksanaan penyelesaian
pekerjaan dan penyelesaian pembayaran.
 (Pasal 138 Permendagri 13/2006)
DPA-LANJUTAN (DPAL) 
1. Pelaksanaan kegiatan lanjutan didasarkan pada DPA-SKPD yang telah disahkan kembali oleh PPKD
menjadi DPA Lanjutan SKPD (DPAL-SKPD) tahun anggaran berikutnya.
2. Untuk mengesahkan kembali DPA-SKPD menjadi DPAL-SKPD, Kepala SKPD menyampaikan laporan
akhir realisasi pelaksanaan kegiatan fisik dan non-fisik maupun keuangan kepada PPKD paling lambat
pertengahan bulan Desember tahun anggaran berjalan.
3. Jumlah anggaran dalam DPAL-SKPD dapat disahkan setelah terlebih dahulu dilakukan pengujian
terhadap:
a. sisa DPA-SKPD yang belum diterbitkan SPD dan/atau belum diterbitkan SP2D atas kegiatan yang
bersangkutan;
b.sisa SPD yang belum diterbitkan SPP, SPM atau SP2D; atau
c. SP2D yang belum diuangkan.
4. DPAL-SKPD yang telah disahkan dapat dijadikan dasar pelaksanaan penyelesaian pekerjaan dan
penyelesaian pembayaran.
5. Pekerjaan yang dapat dilanjutkan dalam bentuk DPAL memenuhi kriteria:
a.pekerjaan yang telah ada ikatan perjanjian kontrak pada tahun anggaran berkenaan; dan
b.keterlambatan penyelesaian pekerjaan diakibatkan bukan karena kelalaian pengguna anggaran/barang
atau rekanan, namun karena akibat dari force major.
 
(Pasal 138 Permendagri 59/2007)
DANA CADANGAN
1. Dana cadangan dibukukan dalam rekening tersendiri atas nama dana cadangan pemerintah
daerah yang dikelola oleh BUD.
2. Dana cadangan tidak dapat digunakan untuk membiayai program dan kegiatan lain diluar yang
telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan.
3. Program dan kegiatan yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dilaksanakan apabila dana cadangan telah mencukupi untuk melaksanakan
program dan kegiatan.
4. Untuk pelaksanaan program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dana cadangan
dimaksud terlebih dahulu dipindahbukukan ke rekening kas umum daerah.
5. Pemindahbukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) paling tinggi sejumlah pagu dana
cadangan yang akan digunakan untuk mendanai pelaksanaan kegiatan dalam tahun anggaran
berkenaan sesuai dengan yang ditetapkan dalam peraturan daerah tentang pembentukan dana
cadangan.
6. Pemindahbukuan dilakukan dengan surat perintah pemindahbukuan oleh kuasa BUD atas
persetujuan PPKD.
(Pasal 139 & 140 Permendagri 13/2006)
DANA CADANGAN
7. Dalam hal program dan kegiatan telah selesai dilaksanakan dan target kinerjanya telah tercapai,
maka dana cadangan yang masih tersisa pada rekening dana cadangan, dipindahbukukan ke
rekening kas umum daerah.
8. Dalam hal dana cadangan yang ditempatkan pada rekening dana cadangan belum digunakan
sesuai dengan peruntukannya, dana tersebut dapat ditempatkan dalam portofolio yang
memberikan hasil tetap dengan risiko rendah.
9. Penerimaan hasil bunga/deviden rekening dana cadangan dan penempatan dalam portofolio
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menambah jumlah dana cadangan.
10. Portofolio meliputi:
a. deposito;
b. sertifikat bank indonesia (SBI);
c. surat perbendaharaan negara (SPN);
d. surat utang negara (SUN); dan
e. surat berharga Iainnya yang dijamin pemerintah.
11. Penatausahaan pelaksanaan program dan kegiatan yang dibiayai dari dana cadangan
diperlakukan sama dengan penatausahaan pelaksanaan program/ kegiatan Iainnya.
(Pasal 139 &140 Permendagri 13/2006)
INVESTASI

1.  Investasi
awal dan penambahan investasi dicatat pada rekening penyertaan
modal (investasi) daerah.
2. Pengurangan, penjualan, dan/atau pengalihan ivestasi dicatat pada rekening
penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan (divestasi modal).
(Pasal 141 Permendagri 13/2006)
PINJAMAN DAERAH DAN OBLIGASI DAERAH
1. Penerimaan pinjaman daerah dan obligasi daerah dilakukan melalui rekening kas umum
daerah.
2. Pemerintah daerah tidak dapat memberikan jaminan atas pinjaman pihak lain.
3. Pendapatan daerah dan/atau aset daerah (barang milik daerah) tidak boleh dijadikan
jaminan pinjaman daerah.
4. Kegiatan yang dibiayai dari obligasi daerah beserta barang milik daerah yang melekat
dalam kegiatan tersebut dapat dijadikan jaminan obligasi daerah.
5.  Kepala SKPKD melakukan penatausahaan atas pinjaman daerah dan obligasi daerah.
 
(Pasal 142 & 143 Permendagri 13/2006)
PINJAMAN DAERAH DAN OBLIGASI DAERAH...Lanjutan..
6. Pemerintah daerah wajib melaporkan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban
pinjaman kepada Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri setiap akhir semester
tahun anggaran berjalan.
7. Posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman terdiri atas:
a. jumlah penerimaan pinjaman;
b. pembayaran pinjaman (pokok dan bunga); dan
c. sisa pinjaman.
8. Pemerintah daerah wajib membayar bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah
yang telah jatuh tempo.
9. Apabila anggaran yang tersedia dalam APBD/perubahan APBD tidak mencukupi untuk
pembayaran bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah, kepala daerah dapat
melakukan pelampauan pembayaran mendahului perubahan atau setelah perubahan
APBD.
(Pasal 144 & 145 Permendagri 13/2006)
PINJAMAN DAERAH DAN OBLIGASI DAERAH...Lanjutan..
10. Pelampauan pembayaran bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah sebelum
perubahan APBD dilaporkan kepada DPRD -dalam pembahasan awal perubahan
APBD.
11. Pelampauan pembayaran bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah setelah
perubahan APBD dilaporkan kepada DPRD dalam laporan realisasi anggaran.
12.  Kepala SKPKD melaksanakan pembayaran bunga dan cicilan pokok utang dan/atau
obligasi daerah yang jatuh tempo.
13. Pembayaran bunga pinjaman dan/atau obligasi daerah dicatat pada rekening belanja
bunga.
14. Pembayaran denda pinjaman dan/atau obligasi daerah dicatat pada rekening belanja
bunga.
15. Pembayaran pokok pinjaman dan/atau obligasi daerah dicatat pada rekening cicilan
pokok utang yang jatuh tempo.
(Pasal 146 & 147 Permendagri 13/2006)
PINJAMAN DAERAH DAN OBLIGASI DAERAH...Lanjutan..
16. Pengelolaan obligasi daerah ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.
17. Peraturan kepala daerah sekurang-­kurangnya mengatur mengenai:
a. penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan obligasi daerah termasuk kebijakan
pengendalian resiko;
b. perencanaan dan penetapan portofolio pinjaman daerah;
c. penerbitan obligasi daerah;
d. penjualan obligasi daerah melalui lelang dan/atau tanpa lelang;
e. pembelian kembali obligasi daerah sebelum jatuh tempo;
f. pelunasan; dan
g. aktivitas lain dalam rangka pengembangan pasar perdana ke pasar sekunder obligasi
daerah.
18. (3) Penyusunan peraturan kepala daerah berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam
Negeri.
(Pasal 149 & 150 Permendagri 13/2006)
PIUTANG DAERAH
1. Setiap piutang daerah diselesaikan seluruhnya dengan tepat waktu.
2. PPK-SKPD melakukan penatausahaan atas penerimaan piutang atau tagihan daerah yang
menjadi tanggung jawab SKPD.
3.  Piutang atau tagihan daerah yang tidak dapat diselesaikan seluruhnya pada saat jatuh tempo,
diselesaikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
4. Piutang daerah jenis tertentu seperti piutang pajak daerah dan piutang retribusi daerah
merupakan prioritas untuk didahulukan penyelesaiannya sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
5. Piutang daerah yang terjadi sebagai akibat hubungan keperdataan dapat diselesaikan dengan
cara damai, kecuali piutang daerah yang cara penyelesaiannya diatur tersendiri dalam peraturan
perundang-undangan.
6. Piutang daerah dapat dihapuskan dari pembukuan dengan penyelesaian secara mutlak atau
bersyarat, kecuali cara penyelesaiannya diatur tersendiri dalam peraturan perundang-undangan. 
(Pasal 149 s/d 153 Permendagri 13/2006)
PIUTANG DAERAH...Lanjutan..
7. Penghapusan piutang daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh:
a. kepala daerah untuk jumlah sampai dengan Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar
rupiah)
b. kepala daerah dengan persetujuan DPRD untuk jumlah Iebih dari
Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
8. Kepala SKPKD melaksanakan penagihan dan menatausahakan piutang daerah.
9. Untuk melaksanakan penagihan piutang daerah, kepala SKPKD menyiapkan bukti
dan administrasi penagihan.
10. Kepala SKPKD setiap bulan melaporkan realisasi penerimaan piutang kepada kepala
daerah.
11. Bukti pembayaran piutang SKPKD dari pihak ketiga harus dipisahkan dengan bukti
penerimaan kas atas pendapatan pada tahun anggaran berjalan.
(Pasal 151 & 152 Permendagri 13/2006)
PERMENDAGRI NOMOR 23 TAHUN 2007
TENTANG
PEDOMAN TATA CARA PENGAWASAN
ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH
KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH.
Pengaturan dan Penetapan.
1. Dapatkan dan buatkan daftar peraturan daerah, peraturan kepala daerah, keputusan kepala
daerah dan dokumen lainnya yang berkaitan dengan pengaturan dan penetapan atas
pengelolaan keuangan daerah.
2. Periksa apakah pengaturan dan penetapan tersebut :
a. telah memenuhi dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang lebih
tinggi tingkatannya, serta
b. telah memenuhi/mengandung unsur system pengendalian intern.
3. Periksa su
4. Sistem pengendalian intern atas pengelolaan keuangan daerah yang dilaksanakan SKPD
yang diperiksa.
PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN.
1. Periksa apakah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) telah disusun
berdasarkan dokumen perencanaan daerah, kebijakan umum APBD, prioritas dan
plafon anggaran, Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) serta
berpedoman pada peraturan perundang-undangan dan pedoman lainnya yang
berlaku termasuk hasil evaluasi atas rancangan Peraturan Daerah tentang APBD
dan Peraturan Kepala Daerah tentang penjabaran APBD.
2. Periksa apakah RKA-SKPD telah disusun berdasarkan :
a. Keterkaitan pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan dari
kegiatan dan program termasuk efisiensi dalam pencapaian keluaran dan hasil
tersebut.
b. Capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan kerja,
dan standar pelayanan minimal.
PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN
KEUANGAN DAERAH.
1. Periksa apakah dokumen pelaksanaan anggaran SKPD (DPA-SKPD) telah
disusun secara rinci berdasarkan sasaran yang hendak dicapai, fungsi, program,
kegiatan, anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran tersebut, dan rencana
penarikan dana serta pendapatan yang diperkirakan. Periksa ketepatan waktu
proses dan pengesahan DPA – SKPD tersebut.
2. Periksa apakah semua penerimaan dan pengeluaran daerah dilakukan melalaui
rekening kas umum daerah.
3. Periksa ketepatan pembebanan atas transaksi pengembalian kelebihan pajak,
retribusi daerah, ganti kerugian daerah dan sejenisnya yang terjadi dalam tahun
berjalan dan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
4. Periksa transaksi pengeluaran kas umum daerah diluar belanja yang bersifat
mengikat dan belanja yang bersifat wajib yang dilakukan sebelum APBD
ditetapkan dan ditempatkan dalam lembaran daerah.
PELAKSANAAN DAN PENATAUSAHAAN
KEUANGAN DAERAH...Lanjutan....
5. Periksa apakah transaksi penerimaan kas umum daerah telah didukung oleh bukti yang lengkap atas
setoran dimaksud serta apakah transaksi pengeluaran/pembayaran atas beban APBD telah dilakukan
berdasarkan Surat penyediaan Dana (SPD) atau DPA – SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan
dengan SPD ketersediaan anggaran kas, Surat Perintah Membayar (SPM) dan Surat Perintah
Pencarian Dana (SP2P)
6. Periksa apakah perubahan APBD dilakukan sesuai kretiria/persyaratan dan prosedur yang ditetapkan
dalam peraturan perUndang-Undangan/ standar/pedoman yang berlaku.
7. Periksa transaksi pengeluaran daerah yang belum atau tidak tersedia anggarannya dalam APBD dan
bagaimana penyelesaian/pertanggung jawabannya.
8. Periksa penerbitan SPD, apakah telah mempertimbangkan penjadwalan pelaksanaan program dan
kegiatan yang dimuat dalam DPA-SKPD dan dilakukan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan.
9. Periksa transaksi penerimaan, penyetoran dan pembukuan penerimaan pendapatan daerah pada SKPD
yang diperiksa
10. Periksa transaksi penerbitan SPP, SPM dan SP2D dan pelaksanaan pembayaran. Apakah telah sesuai
prosedur dan didukung oleh bukti-bukti yang lengkap dan sah serta dibukukan sesuai dengan system
dan prosedur yang berlaku.
PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN
DAERAH.
1. Periksa ketetapan waktu, kelengkapan dan keabsahan bukti pertanggung-jawaban
bendahara penerimaan daerah dan bendahara pengeluaran daerah.
2. Periksa apakah penyelenggaraan akuntansi oleh SKPD dan SKPKD telah sesuai
dengan sistem dan prosedur akuntansi yang ditetapkan.
3. Periksa apakah laporan keuangan SKPD yang terdiri atas laporan realisasi
anggaran, neraca dan catatan atas laporan keuangan serta laporan keuangan
pemerintah daerah yang terdiri atas laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus
kas dan catatan atas laporan keuangan telah disusun berdasarkan proses akuntansi
dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan, serta tepat waktu.
PENDAPATAN DAERAH
PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH (1)
1. Periksa apakah jenis pungutan pajak dan retribusi Daerah sudah sesuai dengan peraturan
per-Undang-Undangan yang berlaku.
2. Periksa apakah semua pungutan Daerah sudah ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
3. Jika ada pungutan daerah yang tidak ditetapkan dengan Peraturan Daerah, mintakan
penjelasan dan catat jenis pungutan apa saja.
4. Periksa tentang cara menetapkan perkiraan target Pendapatan Asli Daerah.
5. Lakukan perhitungan antara target yang ditetapkan dengan potensi yang ada, untuk
mendapatkan perbedaan dari yang seharusnya ditargetkan.
6. Lakukan perhitungan realisasi pencapaian target dan lakukan ratio antara realisasi dengan
target yang telah ditetapkan.
7. Periksa prosedur dan pelaksanaan pemungutan dan penyetoran Pendapatan Asli Daerah.
PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH (2)
8. Periksa apakah biaya pemungutan pajak daerah sudah diatur dengan Peraturan Daerah.
9. Periksa apakah besarnya (prosentase) biaya pemungutan pajak daerah yang bersumber dari
Pendapatan Asli Daerah sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Jika tidak sesuai mintakan
penjelasan.
10. Periksa apakah ada pungutan Daerah yang digunakan langsung (diluar Badan layanan Umum
Daerah), Jika ada, catat berapa jumlahnya, mintakan penjelasan penggunaannya.
11. Periksa apakah seluruh Peraturan Daerah tentang Pajak dan Retribusi Daerah telah diundangkan
dalam Lembaran Daerah.
12. Periksa apakah Peraturan Daerah tentang Pajak dan Retribusi Daerah setelah ditetapkan, sudah
disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan paling lambat 15 hari setelah
ditetapkan, Jika sudah mintakan tanda terimanya.
13. Periksa apakah ada Peraturan Daerah tentang Pajak dan Retribusi yang dibatalkan oleh Menteri
Dalam Negeri, telah dihentikan pelaksanaannya dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah diterimanya
Keputusan Pembatalan,.Jika belum, Periksa dan mintakan penjelasan.
PAJAK DAN RETRIBUSI DAERAH (3)
14. Periksa dan evaluasi, apa saja kebijaksanaan Kepala Daerah dalam rangka pemberian pelayanan
prima kepada wajib pajak dan wajib bayar, lakukan pengujian di Unit Pelaksana Pelayanan.
15. Periksa apakah Bendahara Penerima telah ditetapkan oleh Kepala Daerah pada awal tahun
anggaran, Jika belum ditetapkan, minta penjelasan kenapa demikian.
16. Periksa apakah Bendahara Penerima telah membukukan semua penerimaan daerah yang
menjadi tugasnya di Instansi yang bersangkutan.
17. Periksa apakah setiap ketetapan/bukti pungutan pajak/retribusi yang diterima Bendahara
melakukan verifikasi atas keberaran formal dan materialnya.
18. Periksa apakah Bendahara menerima setoran pajak, retribusi dan pungutan lain dalam bentuk
tunai, Apabila tidak dan atau dalam bentuk cheque, bilyet apakah ada dasar hukumnya dan
dilakukan clearing kepada Bank yang mengeluarkan cheque, bilyet tersebut sebelum bukti tanda
terima diserahkan kepada wajib pajak, retribusi, bayar.
19. Periksa apakah seluruh penerimaan Bendahara telah disetor ke Kas Daerah tepat pada
waktunya.
HASIL PENGELOLAAN KEKAYAAN DAERAH
YANG DIPISAHKAN.
1. Sejauhmana kontribusi penyertaan modal Pemerintah Daerah kepada pihak ketiga
dan BUMD terhadap Pendapatan Asli Daerah, bandingkan antara penyertaan modal
dengan bagian laba (deviden) yang diterima, apakah menguntungkan atau merugikan
pemerintah daerah.
2. Kapan penyetoran deviden ke Kas Daerah, hitung potensi kerugian daerah atas
keterlambatan penyetoran devide ke Kas daerah.
3. Dapatkan Laporan Hasil Rapat Umum Pemegang (RUPS) atas penyertaan modal,
hitung bagian deviden yang menjadi hak daerah berdasarkan persentase kepemilikan
saham
HASIL PENJUALAN KEKAYAAN DAERAH
YANG TIDAK DIPISAHKAN.
1. Periksa apakah terdapat penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, jika ada periksa
apakah hasil penjualan telah disetor ke Kas daerah.
2. Hasil pemanfaatan dan pendayagunaan kekayaan daerah yang dipisahkan :
a. Periksa apakah terdapat pemanfaatan barang daerah yang disewakan, jika ada periksa
apakah hasil penyewaan telah disetor ke Kas daerah.
b. Periksa apakah terdapat kerjasama pemanfaatan atas barang milik daerah dengan pihak
lain, jika ada hitung besaran pembayaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan hasil
kerjasama pemanfatan yang ditetapkan dari hasil perhitungan sesuai yang dibentuk oleh
pejabat berwenang. Periksa apakah pembayaran kontribusi tetap dan pembagian
keuntungan telah disetor ke Kas daerah.
c. Periksa apakah terdapat pemanfaatan barang milik daerah berupa bangun Guna Serah dan
Bangun Serah Guna telah membayar kontribusi ke Kas daerah yang besarnya ditetapkan
berdasarkan hasil perhitungan tim yang dibentuk oleh pejabat yang berwenang.
3. Hasil Pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan.
JASA GIRO DAN PENDAPATAN BUNGA

1. Periksa apakah prosedur dan pelaksanaan penerimaan jasa giro sudah sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
2. Periksa apakah ada uang Daerah yang disimpan dalam bentuk Deposito pada Bank.
3. Jika ada, mintakan surat persetujuan dari Kepala Daerah berdasarkan Nota dari Kuasa BUD
dan Rekomendasi dari pejabat pengelola keuangan daerah/BUD (Biro Keuangan).
4. Catat berapa jumlah uang Daerah yang didepositokan dan berapa besarnya bunga Deposito.
Apakah besarnya bunga deposito berdasarkan counter rate atau special rate.
5. Apakah besarnya bunga deposito berdasarkan Counter Rate atau special rate.
6. Periksa apakah bunga Deposito sudah ditransfer/ dipindahbukukan langsung ke Rekening
Kas Daerah, jika belum mintakan penjelasan.
TUNTUTAN GANTI RUGI (1)
1. Apakah SK Tim Penyelesaian Tuntutan Ganti Rugi telah ditetapkan dengan Keputusan
Kepala Daerah.
2. Inventarisasi kerugian daerah yang disebabkan atas tindakan melanggar hukum atau kelalaian
bendahara, pegawai negeri bukan bendahara atau pejabat lain, pelaku, jumlah kerugian daerah
dan waktu kejadian.
3. Periksa apakah Kepala SKPD telah melaporkan kerugian daerah kepada Kepala Daerah dan
diberitahukan kepada BPK.
4. Periksa apakah Kepala SKPD/Kepala Daerah telah meminta surat pernyataan kesanggupan
dan/atau pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi tanggungjawab bendahara, pegawai
negeri bukan bendahara atau pejabat lain yang melakukan tindakan melanggar hukum atau
kelalaian dan bersedia mengganti kerugian daerah tersebut.
5. Periksa apakah Kepala Daerah telah mengeluarkan Surat Keputusan Pembebanan
Penggantian Kerugian Sementara kepada bendahara, pegawai negeri bukan bendahara atau
pejabat lain yang melakukan tindakan melanggar hukum atau kelalaian jika surat keterangan
tanggung jawab mutlak tidak mungkin diperoleh atau tidak dapat menjamin pengembalian
kerugian daerah.
TUNTUTAN GANTI RUGI (2)
6. Periksa apakah pengenaan ganti kerugian daerah terhadap bendahara telah ditetapkan oleh
BPK.
7. Periksa apakah pengenaan ganti kerugiaan terhadap pegawai negeri bukan bendahara telah
ditetapkan oleh Kepala Daerah.
8. Apakah telah ditetapkan Peraturan Daerah tentang tata cara tuntutan ganti kerugian daerah.
9. Periksa transaksi Daerah yang menggunakan mata uang asing dan apakah keuntungan nilai
tukar rupiah terhadap mata uang asing tersebut telah distor ke kas daerah.
10. Periksa apakah komisi, rabat potongan atau penerimaan lain dengan nama dan dalam bentuk
apapun yang dapat dinilai dengan uang, baik secara langsung sebagai akibat dari penjualan,
tukar menukar, hibah, asuransi dan/atau pengadaan barang dan jasa merupakan pendapatan
daerah dan disetor ke Kas Daerah.
BAGI HASIL PAJAK DAN SUMBER DAYA ALAM.
1. Periksa apakah alokasi penerimaan dana perimbangan bagi hasil pajak dan SDA telah sesuai
dengan jumlah yang ditetapkan yang teridiri dari :
a. PBB
b. BPHTB
c. PPh pasal 25, PPh pasal 29 dan PPh pasal 21
d. Kehutanan :
1) IIUPH
2) PSDH
3) Dana Reboisasi
2. Pertambangan Umum :
a. Iuran tetap (Land Rent)
b. Iuran Ekplorasi dan Eksploitasi (Royalty)
3. Minyak Bumi
4. Gas bumi
5. Panas Bumi
6. Periksa apakah dana bagi hasil pajak dan SDA telah disalurkan ke kas umum daerah.
7. Periksa apakah terdapat penerimaan bagi hasil pajak dan SDA yang disalurkan ke rekening
selain kas umum daerah.
DANA ALOKASI UMUM.
.

1. Periksa apakah pengalokasian penerimaan DAU dalam tahun yang bersangkutan telah sesuai
dengan jumlah yang ditetapkan.
2. Periksa apakah propinsi yang diperiksa telah menerima Dana Alokasi Umum yang ditetapkan
dengan Keputusan Presiden, disalurkan dengan cara pemindah bukuan dari rekening Kas
Umum Negara ke rekening Kas Umum Daerah. Periksa apakah terdapat DAU yang disalurkan
ke rekening selain rekening Kas Umum Daerah.
3. Periksa apakah DAU tersebut telah disalurkan setiap bulan untuk bulan yang akan datang,
masing-masing sebesar 1/12 ( satu perdua belas) dari alokasi DAU Daerah yang bersangkutan.
4. Periksa apakah penggunaan DAU telah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku.
5. Periksa apakah Kepala Daerah telah menyampaikan laporan penggunaan DAU Triwulanan
kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan
DANA ALOKASI KHUSUS
.

1. Periksa apakah pengalokasian penerimaan DAK dalam tahun yang bersangkutan telah sesuai
dengan jumlah yang ditetapkan.
2. Periksa apakah propinsi yang diperiksa menerima DAK yang ditetapkan dengan Peraturan
Menteri Keuangan, disalurkan dengan cara pemindah bukuan dari rekening Kas Umum Negara
ke rekening Kas Umum Daerah. Periksa apakah terdapat DAK yang disalurkan ke rekening
selain rekening Kas Umum Daerah. Catat juga jumlah dan untuk keperluan apa saja serta
berapa dana pendamping sekurang-kurangnya 10% dari alokasi DAK dan dianggarkan dalam
APBD.
3. Periksa apakah penggunaan DAK dilakukan sesuai dengan Petunjuk Teknis penggunaan
DAK .
4. Periksa apakah dana pendamping digunakan untuk mendanai kegiatan yang bersifat kegiatan
fisik.
5. Periksa apakah Kepala Daerah telah menyampaikan laporan triwulan pelaksanaan kegiatan dan
penggunaan DAK kepada Menteri Keuangan, Menteri Teknis dan Menteri Dalam Negeri.
HI BAH .

1. Periksa apakah Pemerintah Daerah menerima pendapatan hibah yang merupakan


bantuan tidak mengikat. Berapa jumlah dan untuk apa bantuan tersebut. Apabila ada
bantuan dari luar negeri apakah sudah melalui Pemerintah Pusat.
2. Periksa apakah terdapat pemberi hibah yang berasal dari dalam negeri. Jika ada
apakah telah dituangkan dalam Naskah Perjanjian Hibah Daerah antara Pemerintah
Daerah dengan pemberi Hibah.
3. Periksa apakah penggunaan hibah telah sesuai dengan persyaratan di dalam Naskah
Perjanjian Hibah Daerah dan/atau Naskah Perjajian penerusan hibah.
4. Periksa apakah hibah dari pemerintah dan hibah dari luar negeri dikelola melalui
mekanisme APBN.
5. Periksa apakah hibah yang diperolehnya dari dalam negeri yang bersumber dari
pemerintah daerah lain, badan/lembaga/ organisasi swasta dalam negeri dan/atau
kelompok masyarakat perorangan dikelola melalui mekanisme APBD
DANA DARU RAT .

1. Periksa apakah Pemerintah Daerah telah menerima Dana Darurat karena mengalami
krisis solvabilitas sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Periksa pos-pos
penggunaannya secara umum.
2. Periksa dan catat apakah Pemerintah Daerah telah menerima Penetapan batas maksimal
kumulatif pinjaman pemerintah daerah. Dan Periksa apakah Pemerintah Daerah telah
meminjam lebih dari 60% dari Produk Domestik Bruto tahun yang bersangkutan.
3. Periksa dan catat apakah Pemerintah Daerah telah menetapkan Dana Cadangan guna
membiayai kebutuhan tertentu yang dananya tidak dapat disediakan dalam satu tahun
anggaran sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
BELANJA DAERAH
BELANJA PEGAWAI (1)

1. Periksa apakah penganggaran Belanja Pegawai telah disesuaikan dengan jumlah


pegawai.
2. Dapatkan daftar seluruh pegawai pada SKPD yang diperiksa.
3. Periksa surat-surat keputusan pengangkatan pegawai dan tenaga honorer/yang
diperbantukan pada SKPD yang diperiksa.
4. Periksa dan cocokkan Surat Perintah Pembayaran Gaji/Tunjangan/ Honor (SPP
gaji/Tunjangan/Honor) dengan daftar Pembayaran Gaji/ Tunjangan/Honor serta
cocokkan SPM-nya.
5. Periksa daftar-daftar pembayaran gaji pegawai, apakah terdapat gaji pegawai selama
tiga bulan berturut-turut tidak diambil.
6. Bila terdapat mutasi, periksa secara uji petik, bandingkan dengan dasar hukum
terjadinya mutasi.
BELANJA PEGAWAI (2)

7. Periksa kebenaran tanda-tangan penerima Tunjangan/Honor dengan membandingkan


antara Daftar Pembayaran Tunjangan/ Honor dengan daftar lain.
8. Bila pengambilan Tunjangan/Honor melalui surat kuasa, periksa keabsahan surat kuasa
yang terlampir pada daftar Pembayaran Tunjangan/Honor yang bersangkutan.
9. Periksa SPJ honorarium dengan menguji dasar hukum pelaksanaan pemberian
honorarium, apakah telah sesuai dengan peraturan yang berlaku.
10. Periksa apakah terhadap pembayaran honor telah dilakukan pemotongan PPh Pasal 21
dan telah disetorkan ke Kas Negara.
BELANJA BARANG DAN JASA (1)

1. Periksa apakah penganggaran belanja barang pakai habis/inventaris telah disesuaikan


dengan kebutuhan nyata dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD
dengan mempertimbangkan jumlah pegawai, volume pekerjaan, tingkat keusangan dan
perkembangan kemajuan teknologi.
2. Periksa apakah penyediaan dan penggunaan anggaran untuk program/kegiatan telah
dilakukan secara ekonomis efisien dan efektif.
3. Periksa apakah setiap pengeluaran anggaran telah didukung oleh bukti yang lengkap
dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih.
4. Periksa apakah pelaksanaan perjalan dinas mendukung tugas dan fungsi SKPD yang
telah ditetapkan serta telah dilaksanakan secara efisien dan efektif.
5. Periksa apakah setiap pelaksana perjalanan dinas didasarkan SPPD yang diterbitkan
oleh pejabat yang berwenang.
6. Periksa kebenaran formal dan material atas pelaksanaan perjalan dinas.
BELANJA BARANG DAN JASA (2)
7. Periksa apakah pelaksanaan perjalanan dinas keluar negeri telah mempedomani
ketentuan perunda-undangan yang berlaku.
8. Periksa apakah penyediaan anggaran penunjang operasional Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah sudah mempedomani ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
9. Jika tidak sesuai, lakukan perhitungan untuk mendapatkan kelebihan/kekurangan dari
yang seharusnya.
10. Periksa apakah penyediaan anggaran belanja Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah dalam APBD masih terdapat pada Bagian/Pos-pos Belanja lainnya.
11. Periksa apakah penyediaan anggaran belanja DPRD dan Sekretariat DPRD sudah
mempedomani ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
12. Jika tidak sesuai, lakukan perhitungan untuk mendapatkan kelebihan/kekurangan dari
yang seharusnya.
13. Periksa apakah penyediaan anggaran belanja DPRD dan Sekretariat DPRD dalam
APBD masih terdapat pada Bagian/Pos-pos Belanja lainnya.
BELANJA MODAL

1. Periksa apakah penganggaran belanja modal telah sesuai dengan rencana kebutuhan.
2. Periksa apakah pengeluaran belanja modal telah didukung oleh bukti yang lengkap dan
sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih.
3. Periksa apakah penyediaan belanja modal untuk pembangunan gedung kantor dan
sarana mobilitas telah mempedomani peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Pemeriksaan terhadap sistem dan prosedur pengadaan belanja modal mengacu kepada
DMP Pengelolaan Barang dan Jasa.
BELANJA BUNGA

1. Periksa apakah pembayaran hutang dan bunga telah dianggarkan dalam APBD
sesuai dengan jumah yang dibayarkan berdasarkan Surat Perjanjian/MOU Hutang
Pemerintah Daerah.
2. Lakukan perhitungan pembayaran untuk mendapatkan perbedaan pengeluaran
hutang dan bunga yang seharusnya dengan jumlah yang dibayarkan.
3. Periksa pembayaran hutang dan bunga yang sudah jatuh tempo.
BELANJA SUBSIDI

1. Periksa apakah Pemerintah daerah menganggarkan dalam APBD, subsidi untuk


perusahaan/lembaga tertentu yang bertujuan untuk membantu biaya produksi agar
harga jual produksi/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak.
2. Periksa apakah prosedur dan pelaksanaan pemberian subsidi tersebut telah sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Periksa evektifitas pemberian subsidi bagi masyarakat.
BELANJA HIBAH

1. Periksa apakah Pemerintah daerah menganggarkan dalam APBD Hibah untuk


Pemerintah Daerah lainnya, Perusahaan Daerah, Masyarakat dan Organisasi
kemasyarakatan
2. Periksa apakah pelaksanaan pemberian Hibah tersebut telah sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BANTUAN SOSIAL

1. Periksa apakah pemberian bantuan Sosial kepada masyarakat/ organisasi dilakukan


terus menerus pada masyarakat/organisasi yang sama.
2. Periksa apakah bantuan terhadap Partai Politik sudah sesuai dengan ketentuan
perUndang-Undangan yang berlaku.
3. Periksa apakah masih dialokasikan bantuan kepada instansi vertikal dalam belanja
bantuan sosial.
4. Periksa apakah penganggaran pemberian bantuan pada instansi vertikal sudah
dilaksanakan sesuai dengan peraturan perUndang-Undangan yang berlaku.
5. Periksa apakah pembayaran bantuan sosial telah didukung oleh bukti yang lengkap
dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih.
BELANJA BAGI HASIL DAN BANTUAN KEUANGAN

1. Periksa apakah penganggaran belanja bagi hasil pajak telah sesuai dengan ketentuan
perUndang-Undangan yang berlaku.
2. Periksa apakah masih terdapat bagi hasil pajak yang belum disalurkan kepada
Pemerintah Kabupaten/Kota.
3. Jika ada, lakukan perhitungan jumlah belanja bagi hasil yang belum disalurkan.
4. Periksa bukti transfer penyaluran uang bagi hasil pajak kepada Pemerintah
Kabupaten/Kota.
5. Periksa bukti transfer penyaluran uang bantuan keuangan yang diberikan kepada
Pemerintah Kabupaten/Kota.
BELANJA TIDAK TERDUGA.

1. Periksa apakah penggunaan belanja tidak terduga sudah sesuai dengan peraturan
perUndang-Undangan yang berlaku.
2. Periksa apakah setiap pembayaran belanja tidak terduga telah didukung dengan bukti
yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih.
PEMBIAYAAN
PENERIMAAN PEMBIAYAAN

1. Periksa perkiraan perhitungan sisa lebih perhitungan tahun lalu dalam APBD tahun berjalan
apakah sudah didasarkan pada realisasi penerimaan dan pengeluaran yang sudah terjadi serta
rencana penerimaan dan pengeluaran periode berjalan sampai akhir tahun anggaran.
2. Periksa apakah semua penerimaan dan pengeluaran pembiayaan daerah telah dilakukan
melalui rekening Kas Umum Daerah.
3. Periksa apakah dana dari rekening dana cadangan telah dilakukan pemindahanbukuan ke
rekening Kas Umum Daerah.
4. . Periksa apakah pemindahbukuan dari rekening dana cadangan ke rekening Kas Umum
Daerah telah dilakukan dengan Surat Perintah pemindahbukuan oleh kuasa BUD atas
persetujuan PPKD.
5. Periksa apakah penjualan kekayaan yang dipisahkan telah sesuai dengan perturan
perUndang-Undangan yang berlaku.
6. Periksa kewajaran harga penjualan kekayaan yang dipisahkan tersebut.
7. Periksa Apakah pinjaman daerah telah ditetapkan dengan peraturan daerah.
PENGELUARAN PEMBIAYAAN
1. Periksa apakah pembentukan dana cadangan telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
2. Periksa apakah penggunaan dana cadangan telah sesuai dengan pelaksanaan kegiatan yang
ditetapkan dalam Perda tentang pembentukan dana cadangan.
3. Periksa apakah Penyertaan modal pemerintah daerah telah ditetapkan dengan peraturan
daerah.
4. Periksa apakah penyertaan modal telah dilakukan berdasarkan study kelayakan atas aspek
manfaat ekonomi, sosial dan/atau manfaat lainnya
5. Periksa apakah pembayaran pokok hutang telah sesuai dengan jumlah yang telah ditetapkan
dalam surat perjanjian.
6. Periksa apakah pemberian pinjaman daerah telah ditetapkan dengan peraturan daerah atas
persetujuan DPRD.