Anda di halaman 1dari 31

TATALAKSANA

KONSERVATIF CTEV
Persentan: dr. Andrio Wishnu Prabowo
Pembimbing: Dr. dr. Aryadi Kurniawan, SpOT(K)
PENDAHULUAN
 CTEV-Clubfoot
 Kelainan bawaan pada kaki dengan tumit
bentuk equinus, seluruh hindfoot varus, serta
midfoot dan forefoot adduksi dan supinasi
 Derajat kelainan dilihat dari rigiditas &
penampilan:
 Ringan
 Sedang
 Berat
 Pengenalan dini penting
 golden period 3 minggu setelah lahir.
Kolegium Ilmu Orthopaedi & Traumatologi. Penatalaksanaan CTEV. ICOPIM 8-310,5-
837.
EPIDEMIOLOGI
 Kelainan kongenital orthopedik yang cukup sering  1
– 2 per 1000 kelahiran hidup

 Terendah pada populasi Cina (0,39 per 1000) dan


tertinggi pada populasi Hawaii & Maori (7 per 1000)

 50% kasus bilateral. Sisi kanan sedikit lebih banyak dari kiri


Perbandingan pria: wanita = 2:1

Beals RK. Club foot in the Maori : a genetic study of 50 kindreds. N Z Med J. 1978;88:144-146
Chung CS, Nemechek RW, Larsen IJ, Ching GH. Genetic and epidemiological studies of clubfoot in Hawaii.
General and medical considerations. Hum Hered. 1969;19:321-342
ANATOMI
DORSAL PLANTAR
Midfoot

Forefoot
Etiologi
 Intrauterine molding
 Myopathic process
 Neuropathic process
 Retracting fibrosis
 Bone dysplasia (germ plasm defect theory)
 Prenatal viral infection
 Primary vascular defect
 Abnormal serat otot, dengan predominan tipe 1
dan defesiensi serat tipe Iib
 Komponen genetik yang kuat.
Orthopaedic surgery essentials.pediatrics.1st edition.2004
PATOLOGI

Rigid foot with:


1. plantarflexed ankle
(equinus)
2. inverted hindfoot
(varus)
3. adducted forefoot
4. cavus midfoot
CAVUS
VARUS
of the
of the
MIDFOOD
HINDFOOD

Manifestasi
klinik

ADDUCTUS EQUINUS
of the of the
FOREFOOD HINDFOOD

Staheli L. Clubfoot : Ponseti management. 3 rd ed. 2009. Global Help


Klasifikasi: Dimeglio
Evaluasi Evaluasi derotasi blok
equinus pada calcaneopedal pada
bidang sagital. bidang horizontal

Evaluasi varus Evaluasi forefoot


pada bidang relatif terhadap
frontal hindfoot pada
bidang horizontal

Grade 1  Postural Karakteristik Poin Karakteristik Poin


Grade 2  Tidak Reprodusibilitas Reprodusibilitas
memerlukan pembedahan 90o-45o 4 Posterior crease 1
Grade 3  Masih dapat 45o-20o 3 Medial crease 1
direduksi 20o-0o 2 Cavus 1
Grade 4  Resisten dan <0 hingga -20o
o
1 Poor muscle condition 1
dapat direduksi parsial
Klasifikasi: Pirani

Enam gejala klinis pada klasifikasi Pirani. A. Curved lateral border. B. Medial
crease. C. Talar head coverage. D. Posterior crease. E. Rigid equinus. F. Empty
heel.
KLASIFIKASI UCOK
 Usia:
- Kurang dari 9 bulan :0
- Lebih dari 9 bulan :1
- Lebih dari 18 bulan :3 Derajat ditentukan
 Abduksi fore foot pasif hingga berdasarkan jumlah
 Melebihi garis tengah :0 skor:
 Hingga garis tengah :1 1. Ringan 1–2
 Tidak ada abduksi
2. Sedang 3 – 5
:2
3. Berat 6 - 16
 Cavus :2
 Tidak ada dorsoflexi aktif :2
 Atrofi tungkai :1
 Tidak ada crease sendi MP dorsal :2
 Tidak ada peningkatan ligamentum laxity
:2

1. Kolegium Ilmu Orthopaedi & Traumatologi. Penatalaksanaan CTEV. ICOPIM 8-310,5-837


DIAGNOSIS

 Gambaran klinis sangat KHAS : kaki dan


tungkai bawah seperti tongkat (clublike)
Cavus
Adductus
Varus
Equinnus

Kolegium Ilmu Orthopaedi & Traumatologi. Penatalaksanaan CTEV. ICOPIM 8-310,5-


837
Staheli L. Clubfoot : Ponseti management. 3rd ed. 2009. Global Help
DIAGNOSIS BANDING
 Postural clubfoot
 Agenesis/hipoplasia tibia
 Dislokasi sendi pergelangan kaki bawaan
 Paralytic clubfoot
 Diastrophic dwarfism
 Freeman-Sheldon syndrome
 Larsen syndrome
 Mobius syndrome

Kolegium Ilmu Orthopaedi & Traumatologi. Penatalaksanaan CTEV. ICOPIM 8-310,5-


837.
TATALAKSANA
 Tujuan:
1. Kaki Plantigrade
2. Bebas nyeri
3. Hasil menetap
4. Secara anatomis hampir normal
5. Dapat menggunakan sepatu normal
 Dimulai pada hari-hari pertama kelahiran
 Golden period 3 minggu
 Terdiri dari:
 Konservatif manipulasi berulang + adhesiv strapping
 Operatif
Kolegium Ilmu Orthopaedi & Traumatologi. Penatalaksanaan CTEV. ICOPIM 8-310,5-
837.
Penilaian Radiologis
 AP:
 posisi plantar fleksi 30derajat
 Dibuat garis khayal paralel tepi medial talus dan
paralel tepi lateral calcaneus normal 20-40 derajat

 Lateral:
 Posisi dorsofleksi
 Dibuat garis khayal dari midlongitudinal talus dan
tepi bawah calcaneus  normal 40 derajat

Modul Bedah Umum


Manipulasi CTEV
 Os calcis dipegang antara ibu jari
dan jari II, ditarik ke distal dan
didorong ke medial menjauhi
mallelous lateralis, tangan
satunya mendorong daerah
calcaneocuboid ke dorsifleksi,
seluruh kaki tetap dalam posisi
inversi.
 Os calcis dipegang antara ibu jari
dan jari kedua, ditarik ke distal,
dengan tangan yang lain jari
kedua dan ibu jari memegang
naviculare dan kaki bagian
tengah ditarik ke distal ke daerah
ibu jari kaki dan abduksi.

Kolegium Ilmu Orthopaedi &


Traumatologi. Penatalaksanaan CTEV.
ICOPIM 8-310,5-837.
Manipulasi CTEV

 Dengan satu tangan


mendorong tumit ke
proksimal dan tangan
yang lain memegang
kaki bagian tengah ke
arah dorsofleksi.
 Setiap tahapan di atas
dilakukan sekitar 20
sampai 30 kali dan setiap
gerakan dipertahankan
selama 10 hitungan.

Kolegium Ilmu Orthopaedi & Traumatologi.


Penatalaksanaan CTEV. ICOPIM 8-310,5-837.
Manipulasi CTEV

 Kaki bagian belakang dipegang


dengan tangan, jari kedua di atas
corpus talus, dekat anterior dan
distal malleolus lateralis, ibu jari
pada anterior malleolus medialis.
 Tangan satunya memegang kaki
bagian tengah dan depan di antara
ibu jari dan jari kedua, dengan
menggunakan traksi ke arah
longitudinal, kaki dalam posisi
equinus dan inversi. Selanjutnya
melakukan abduksi kaki bagian
tengah, mendorong naviculare ke
lateral dan talus bagian anterior ke
medial dengan ibu jari.

Kolegium Ilmu Orthopaedi &


Traumatologi. Penatalaksanaan CTEV.
ICOPIM 8-310,5-837.
TATALAKSANA KONSERVATIF
 Teknik Ponseti
 Dapat mengkoreksi
deformitas clubfoot 90-
98%
 Bisa untuk anak usia 2
th, bahkan setelah
gagal terapi
nonoperatif lain
 Terdiri dari 2 fase:
 Fase treatment
 Fase Maintenance
Beaty, J.H. (2008) ‘Congenital anomalies of the lower extremity’, in
Canale, S.T. and Beaty, J.H., eds. Campbell’s operative orthopaedics,
Atlanta: Mosby, 1063-1251.www.ponseti-gulf.ae/en/ponseti
-method/
APLIKASI GIPS PONSETI
Fase Treatment
 Dimulai sedini mungkin, optimal dalam minggu

pertama kehidupan.
 Manipulasi dan gips setiap minggu selama ±6 minggu

 Gips menahan kaki pada posisi koreksi  dapat

berubah bentuk secara bertahap.


 Lima atau enam gips diperlukan untuk koreksi

alignment kaki dan ankle sepenuhnya.


 Pada gips terakhir, >70% bayi membutuhkan

tenotomy Achilles perkutan untuk mendapatkan


panjang tendon Achilles yang adekuat.
APLIKASI GIPS PONSETI

Gips pertama :
 Tujuan:

 mengkoreksi deformitas cavus dengan meluruskan


forefoot dengan hindfoot, supinasi forefoot untuk
menjadikannya lurus dengan tumit, mengangkat
(dorsiflexi) metatarsal 1
 Long leg cast  mempertahankan gaya rotasi
eksterna yang kuat dari kaki di atas talus dan
untuk membuat stretching yang adekuat dari
struktur medial, terutama tendon tibialis
posterior.
APLIKASI GIPS PONSETI
 Gips kedua:
 abduksi kaki di sekitar kepala talus,
 mempertahankan posisi supinasi forefoot,
 menghindari pronasi.
 Poin penting: tumit tidak pernah dimanipulasi
secara langsung.
 Dengan reduksi talar head di bawah navikular,
koreksi talus, navikular, dan kuboid,
menyebabkan kalkaneus abduksi dan eversi.
APLIKASI GIPS PONSETI
 Gips terakhir  posisi kaki abduksi maksimal
dan dorsiflexi 15o.
 Tenotomy Achilles perkutaneous diperlukan
pada kebanyakan pasien.
 Posisi final gips: 70o abduksi, 15o dorsifleksi
selama 3 minggu.
 Biasanya diperlukan lima atau enam serial
gips.
Beaty, J.H. (2008) ‘Congenital anomalies of the lower extremity’, in Canale, S.T. and Beaty, J.H., eds. Campbell’s
operative orthopaedics, Atlanta: Mosby, 1063-1251.
www.ponseti-gulf.ae/en/ponseti-method/
Percutaneous Achilles Tenotomy
Indikasi :
• untuk mengkoreksi equinus ;
• masih terdapat dorsofleksi
pergelangan kaki (ankle) < 10° dari
normal
• setelah cavus – adductus – varus
dikoreksi sepenuhnya

Hasil : tambahan 15-20 ° dorsofleksi

Post-tenotomi cast :
aplikasi cast dengan kaki abduksi 60-70°
pada bidang frontal pergelangan kaki dan
15° dorsofleksi ; pertahankan cast selama 3
minggu
Beaty, J.H. (2008) ‘Congenital anomalies of the lower extremity’, in Canale, S.T. and Beaty, J.H., eds. Campbell’s
operative orthopaedics, Atlanta: Mosby, 1063-1251.
Fase Maintenance
 Penggunaan brace (foot
abduction orthosis)
 Sepasang sepatu yang
menempel pada lempengan
pada posisi 70o rotasi eksterna,
15o dorsifleksi.
 Jarak antar sepatu: 1 inchi
lebih lebar dari lebar bahu
bayi.
 Digunakan 23 jam setiap hari
 3 bulan pertama setelah
casting, kemudian selama
tidur selama 2-3 tahun.

jon-hayley-miller.blogspot.com/2010/04/fab-foot-abduction-brace.html
REKURENSI
 10-30%
 Dapat ditatalaksana sukses dengan gips
berulang
 Faktor terpenting menghindari rekurensi:
kepatuhan penggunaan brace pascaoperasi
 Faktor lain yang mempengaruhi: tingkat
pendidikan orang tua
TATALAKSANA REKURENSI
 Rekurensi dini (biasanya equinus ringan dan varus
tumit) diterapi dengan beberapa seri long leg cast
setiap 2 minggu.
 Gips pertama dorsifleksi bila terdapat deformitas
cavus.
 Gips selanjutnya mengabduksi kaki melingkari talar
head, koreksi varus, dan dorsiflexi ankle.
 ATL bila dorsifleksi tidak memadai
 Cuneiform lateral ossifikasi (pada sekitar 2-3 tahun),
dapat diperlukan transfer tendon tibialis anterior ke
cuneiform lateral untuk memelihara koreksi.
Terima
Kasih