Anda di halaman 1dari 16

Bronkitis Kronis & PPOK

Berdasarkan Metode St. George's Respiratory


Questionnaire (Metode SGRQ)
Pendahuluan
BRONKITIS KRONIS (BK) & PPOK

Gambaran klinis Awal (CB )


Bagian dari KONDISI BATUK DAN DAHAK KRONIS
PPOK SELAMA MINIMAL 3 BULAN DALAM SETAHUN
ATAU SELAMA 2 TAHUN BERTURUT-TURUT
SEBAGAI HIPERSEKRESI LENDIR KRONIS (CMH)
PERKEMBANGAN BERKAITAN DENGAN TINGKAT KELEBIHAN
DEFINISI PENURUNAN FUNGSI PARU DAN PENINGKATAN
RISIKO RAWAT INAP TERKAIT PPOK BERIKUTNYA.

St. George's Respiratory Questionnaire (Metode SGRQ)


Metode Kuesioner terstrruktur yang melibatkan perluasan identifikasi
hipersekresi bronkial, batuk kronis dan produksi dahak, dahak kronis dan batuk
produktif kronis
Pendahuluan
BRONKITIS KRONIS (BK) & PPOK

DEFISINIS KLASIK PPOK VS METODE SQRQ

Metode SGRQ mengidentifikasi 50,9% lebih banyak individu sebagai


penderita CB dibandingkan definisi klasik

Terdapat perbedaan fenotip klinis hasil perbandingan

Tidak ada perbedaan dalam riwayat eksaserbasi PPOK, seperti:


merokok saat ini, distribusi jenis kelamin, adanya penyakit gastroesophageal
reflux (GERD), gejala saluran napas bagian atas, dispnea, dan kualitas hidup
terkait kesehatan (kualitas hidup)

KLASIK sebagai prediktor frekuensi eksaserbasi dalam tindak lanjut jangka


panjang
SQRQ sebagai prediktor independen dari eksaserbasi parah
Pendahuluan
BRONKITIS KRONIS (BK) & PPOK

Variasi Prevalensi CB di seluruh dunia:


 Pada populasi umum 3,4% -22,0%
 Pasien dengan PPOK hingga 74,1%
 Meningkat seiring bertambahnya usia,
 Pada wanita lebih tinggi dibandingkan pria

 Pada orang kulit hitam non-Hispanik drekuensi lebih tinggi


dibandingkan dengan orang kulit putih Hispanik
 Keparahan CB meningkat seiring dengan keparahan PPOK
 Keparahan CB dan PPOK sesuai faktor risiko yang mendasarinya
Pendahuluan
BRONKITIS KRONIS (BK) & PPOK

Bronkitis
1. Kondisi klinis terjadinya peradangan pada
saluran bronkial (saluran udara ke paru-
paru).
2. Peradangan tersebut disebabkan oleh virus,
bakteri, merokok, paparan uap bahan kimia
dan polusi udara
Pendahuluan
BRONKITIS KRONIS (BK) & PPOK
Etiologi
Didasari oleh terdapatnya indikasi faktor risiko mayor dan
minor dari CB atau PPOK serta invasi mikroorganisme
FAKTOR RISIKO MAYOR FAKTOR RISIKO MINOR
 Jenis Kelamin (WANITA DOMINAN)  Kebiasaan Merokok
 Pertambahan Usia  Lingkungan Pekerjaan
 Paparan Uap Kimia dan Pestisida
 RAS Kulit Hitam (DOMINAN)
 Polusi Udara
 Riwaya Penyakit dan  Konsumsi hisap narkoba
Pengobatan

INVASI MIKROORGANISME
virus (Haemophilus influenzae, morbili, variola); bakteri (Staphylococcus,
Streptococcus pneumoniae , Pneumococcus) ; jamur ; organisme lain seperti
Mycoplasma pneumoniae
Pendahuluan
BRONKITIS KRONIS (BK) & PPOK
Manifestasi
Manifestasi klinis menjelaskan patofisiologis dan patogenitas
BK dan PPOK

Riwayat perokok lebih lama dan jumlah yang lebih banyak


Merupakan faktor utama minor potensial BK dan PPOK

1. Selama 12 tahun menunjukkan bahwa kehadiran batuk dan dahak pada


kunjungan awal dikaitkan dengan penurunan fungsi paru
2. Peningkatan risiko eksaserbasi PPOK
Pendahuluan
BRONKITIS KRONIS (BK) & PPOK
Manajemen
Terapi farmakologis (UTAMA) untuk CB diarahkan pada 3 tujuan
utama:
1. menghilangkan gejala selama penyakit stabil (agen mukosa,
agonis beta, antagonis muskarinik),
2. mengurangi hilangnya fungsi paru-paru (berhenti merokok),
3. mencegah eksaserbasi (agen mukosa, makrolida,
fosfodiesterase-4 [ Penghambat PDE-4]) dan mengobati
eksaserbasi (antibiotik, glukokortikoid) bila terjadi
Pendahuluan
BRONKITIS KRONIS (BK) & PPOK
Manajemen
Terapi farmakologis (UTAMA) untuk CB diarahkan pada 3 tujuan
utama:
1. menghilangkan gejala selama penyakit stabil (agen mukosa,
agonis beta, antagonis muskarinik),
2. mengurangi hilangnya fungsi paru-paru (berhenti merokok),
3. mencegah eksaserbasi (agen mukosa, makrolida,
fosfodiesterase-4 [ Penghambat PDE-4]) dan mengobati
eksaserbasi (antibiotik, glukokortikoid) bila terjadi
Agen Mucoactive
Penggunaan Agen mukoaktif dapat dikarakterisasi menjadi 4
kelompok besar menurut mekanisme kerjanya: ekspektoran,
mukoregulator, mukolitik dan mukokinetik dengan pilihan:
N-asetilsistein (NAC)
Erdosteine
Tujuan dari agen mukosa adalah :
1. Untuk Mengurangi Produksi Berlebih Dan Hipersekresi
Lendir,
2. Untuk Meningkatkan Eliminasi Lendir Dengan
Meningkatkan Transpor Siliaris, Mengurangi Keuletan
Lendir,
3. Meningkatkan tegangan geser untuk meningkatkan
pelepasan lendir
Saline Hipertonik
Saline hipertonik nebulisasi merangsang batuk produktif, menurunkan
viskoelastisitas sputum, meningkatkan pembersihan mukosiliar dan
meningkatkan fungsi paru-paru pada pasien dengan fibrosis kistik (CB dan
PPOK)

1. Lebih efektif pada pasien tanpa eksaserbasi paru


dan
2. Kurang efektif pada pasien dengan eksaserbasi
paru
Antibotik

Antibiotik makrolida memiliki efek modulator imun,


antiinflamasi, dan antibakteri

1. Pada pemberian azitromisin 250 mg sekali


2. Plasebo

PPOK YANG BERISIKO TINGGI MENGALAMI EKSASERBASI.

Azitromisin paling efektif dalam mencegah eksaserbasi


Penghambat Phosphodiesterase-4

Untuk pembersihan mukosiliar yang efektif secara langsung


diatur oleh adenosin monofosfat siklik (cAMP): menstimulasi
frekuensi denyut siliaris dan aktivitas reseptor transmembran
fibrosis kistik (CFTR).

Penghambat PDE4, seperti roflumilast, mempengaruhi fungsi


mukosiliar pada sel epitel bronkial dengan meningkatkan
aktivitas CFTR, menambah volume cairan permukaan jalan
napas [ASL], dan menstimulasi pemukulan siliaris
Bronkodilator

Agonis beta2 kerja pendek (SABA) meningkatkan pembersihan


lendir dengan meningkatkan diameter luminal saluran napas
dan frekuensi denyut siliaris

Penggunaan SABA secara teratur pada PPOK stabil dikaitkan dengan perbaikan fungsi
paru dan sesak napas.
Antagonis muskarinik kerja pendek (SAMA) sebagai ipratropium bromide
menurunkan konsentrasi intraseluler dari siklik guanosin monofosfat (cGMP),
menurunkan kontraktilitas otot polos di paru-paru, menghambat bronkokonstriksi
dan sekresi lendir.

1. SABA.. MENINGKATKAN FREKUENSI DENYUT SILIARIS


2. LABA MENINGKATKAN PEMBERSIHAN MUKOSILIAR,
3. LAMAS MENURUNKAN BATUK.
4. TIDAK ADA DATA TENTANG PENGGUNAAN BRONKODILATOR DI CB SECARA
KHUSUS
Glukokortikoid

Glukokortikoid telah terbukti mengurangi peradangan dan


produksi lendir, menurunkan sel goblet dan ekspresi gen musin
dan menstimulasi pembersihan mukosiliar in vitro

Glukokortikoid sistemik direkomendasikan untuk pengobatan


eksaserbasi dan mengurangi kegagalan pengobatan dan tingkat
kekambuhan hingga 1 bulan, memperpendek lama rawat inap
dan meningkatkan fungsi dan gejala paru-paru pada pasien
dengan PPOK
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
MOHON SARAN DAN ARAHAN