Anda di halaman 1dari 14

GERAKAN TAJRID DAN

TAJDID
Disusun Oleh :
Kelompok 5

1. Ria Aprilia Annisa (19041)


2. Rinto (19042)
3. Rismayanti Dias Parie (19043)
4. Rundyani Sulistyawati (19044)
5. Septiani Komala Dewi (19045)
6. Siti Nurhalizah (19046)
7. Syarief Noer Robbiyanto (19047)
8. Tyana Rosalina (19048)
9. Vinka Nur Fitriah (19049)

Tingkat : 2A
PENGERTIAN
TAJRID DAN TAJDID

• Pengertian Tajrid
Istilah Tajrid berasal dari bahasa Arab berarti pengosongan,
pengungsian, pengupasan, Pelepasan atau pengambil alihan
(Atabik Ali, 1999:410). Sedangkan tajrid dalam bahasa Indonesia
berarti pemurnian.
• Pengertian Tajdid
Istilah tajdid berasal dari bahasa Arab yaitu jaddada, yang
berarti memperbaharui atau menjadikan baru. Kata ini pula
bentukan dari kata jadda, yajiddu, jiddan/jiddatan, artinya sesuatu
yang ternama, yang besar, nasib baik dan baru. Bisa juga berarti
membangkitkan, menjadikan, (muda, tangkas, kuat). Dapat pula
berarti memperbaharui, memperpanjang izin, dispensasi, kontrak.
WATAK MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN
TAJRID DAN TAJDID

Dalam Muhammadiyah kekuatan tajdidnya terletak pada upaya


menjaga keseimbangan (tawazun) antara purifikasi dan dinamisasi,
sesuai dengan bidangnya. Kalau keseimbangan ini goyah, maka tajdid
menjadi kurang sempurna dan sulit disandingkan dengan perkembangan
zaman.

Munculnya Gerakan tajdid sebagai jawaban terhadap tantangan


kemunduran yang dialami dan atau tantangan terhadap kemajuan oleh
kaum muslimin. Juga didasarkan pada landasan teologis yang
menyebutkan perlunya pembaruan setiap seratus tahun.
MODEL TAJRID DAN TAJDID MUHAMMADIYAH

1. Model-model Tajrid Muhammadiyah


 Khurafat adalah kepercayaan tanpa pedoman yang sah dari al-Qur’an dan
al-Sunnah. Hanya ikut-ikutan orang tua atau nenek moyang.
 Bid’ah biasanya muncul karena ingin memperbanyak ritual tetapi
pengetahuan Islamnya kurang luas, sehingga yang dilakukan adalah bukan
dari ajaran Islam. Misalnya selamatan dengan kenduri dan tahlil dengan
menggunakan lafal Islam.
 Masyarakat Jawa pada umumnya menggunakan upacara selamatan, dalam
berbagai peristiwa, seperti kelahiran, khitan, perkawinan, kematian, pindah
rumah, panen, ganti nama, dan sejenisnya. Namun, diantara macam-macam
selamatan yang paling menonjol adalah selamatan kematian, yaitu terdiri
dari tiga hari, empat puluh hari,seratus hari, dan kahul. Selamatan ini selalu
diringi dengan membaca tahlil sebagai cara mengirim do’a kepada si mayit.
 Bentuk khurafat lain yang biasa dilakukan orang Jawa adalah penghormatan
kuburan orang-orang suci, sambil meminta do’a restu, jimat, benda-benda
pusaka dianggap mempunyai kekuatan ghaib yang mampu melindungi.
2. Model - model Tajdid Muhammadiyah
 Kongkrit dan Produktif, yaitu melalui amal usaha yang didirikan, hasilnya
kongkrit dapat dirasakan dan dimanfaatkan oleh umat Islam, bangsa
Indonesia dan umat manusia di seluruh dunia. Suburnya amal saleh di
lingkungan aktivis Muhammadiyah ditujukan kepada komunitas
Muhammadiyah, bangsa dan kepada seluruh umat manusia di dunia dalam
rangka rahmatan lil alamin.
 Tajdid Muhammadiyah bersifat terbuka. Maksud dari keterbukaan tersebut,
Muhammadiyah mampu mengantisipasi perubahan dan kemajuan di sekitar
kita. Dari sekian amal usahanya, rumah sakitnya misalnya, dapat dimasuki
dan dimanfaatkan oleh siapapun. Sekolah sampai kampusnya boleh
dimasuki dan dimanfaatkan oleh siapa saja. Kalau Muhammadiyah
mendirikan lembaga ekonomi dan usaha atau jasa, maka yang menjadi
nasabah, partner dan komsumennya pun bisa siapa saja yang membutuhkan.
 Tajdid Muhammadiyah sangat fungsional dan selaras dengan cita-cita
Muhammadiyah untuk menjadikan Islam itu, sebagai agama yang
berkemajuan, juga Islam yang berkebajikan yang senantiasa hadir sebagai
pemecah masalah-masalah (problem solv), temasuk masalah
kesehatan,pendidikan, dan masalah sosial ekonomi.
Model tajdid dibagi dalam tiga bidang,
yaitu :
1. Bidang Keagamaan
Pembaharuan dalam bidang keagamaan adalah penemuan kembali ajaran atau prinsip
dasar yang berlaku abadi, yang karena waktu lingkungan situasi dan kondisi mungkin
menyebabkan dasar-dasar tersebut kurang jelas dan tertutup oleh kebiasan dan pemikiran
tambahan lain.
2. Bidang Pendidikan
Dalam bidang ini Muhammadiyah mempelopori dan meyelenggarakan sejumlah
pembaharuan dan inovasi yang lebih nyata. Bagi Muhammdiyah pendidikan memiliki arti
yang penting dalam penyebaran ajaran islam, karena melalui bidang pendidikan pemahaman
tentang islam dapat diwariskan dan ditanamkan dari generasi kegenerasi.
Pembaharuan dari segi pendidikan memiliki dua segi, yaitu :
a. Segi Cita-cita.
b. Segi Teknik Pengajaran.
3. Bidang Sosial Masyarakat
Muhammadiyah merintis bidang sosial kemasyarakatan dengan mendirikan rumah sakit,
piklinik, panti auhan, rumah singgah, panti jompo, Pusat kegiatan Belajar Masyarakat
(PKBM), posyandu lansia yang dikelola melalui amal usahanya dan bukan secara individual
sebagai mana dilakukan orang pada umumnya.
Model Keagamaan Muhammadiyah
Organisasi Muhammadiyah adalah organisasi peregerakan. Daya
juang para kader organisasi dalam mendalami dunia dakwah demi
tersebarnya syariat-syariat Islami merupakan sebuah isyarat bahwa
gerakan Muhammadiyah telah menembus batas tradisi dan budaya,
khususunya di Indonesia, tempat dimana organisasi ini berkembang dan
mewujud. Setiap kader dituntut agar bergerak dinamis, dapat menjiwai
nilai-nilai organisasi dan khatam secara idiologi Muhammadiyah.
Secara harfiah terdapat perbedaan antara kata “gerak”, gerakan dan
pergerakan. Gerak sendiri merupakan perubahan suatu materi dari
tempat yang satu ke tempat yang lainnya. Sedangkan gerakan berarti
perbuatan atau keadaan bergerak, dan pergerakan adalah usaha atau
kegiatan. Pergerakan identik dengan kegiatan dalam ranah sosial.
Dengan demikian, kata gerakan atau pergerakan mengandung arti,
unsur, dan esensi yang dinamis dan statis.
Gerakan Tajdid pada 100 Tahun Pertama
Pada permulaan abad XX umat Islam Indonesia menyaksikan
munculnya gerakan pembaharuan pemahaman dan pemikiran Islam yang
pada esensinya dapat dipandang sebagai salah-satu mata rantai dari
serangkaian gerakan pembaharuan Islam yang telah dimulai sejak dari Ibnu
Taimiyah di Siria, diteruskan Muhammad Ibnu Abdul Wahab di Saudi
Arabia dan kemudian Jamaluddin al Afghani bersama muridnya
Muhammad Abduh di Mesir. Munculnya gerakan pembaharuan
pemahaman agama itu merupakan sebuah fenomena yang menandai
proses Islamisasi yang terus berlangsung.
Dengan proses Islamisasi yang terus berlangsung -meminjam konsep
Nakamura- dimaksudkan suatu proses dimana sejumlah besar orang Islam
memandang keadaan agama yang ada, termasuk diri mereka sendiri,
sebagai belum memuaskan. Karenanya sebagai langkah perbaikan
diusahakan untuk memahami kembali Islam, dan selanjutnya berbuat
sesuai dengan apa yang mereka anggap sebagai standard Islam yang benar.
Misi utama yang dibawa oleh Muhammadiyah adalah pembaharuan (tajdid)
pemahaman agama. Adapun yang dimaksudkan dengan pembaharuan oleh
Muhammadiyah ialah yang seperti yang dikemukakan M. Djindar Tamimy: Maksud
dari kata-kata “Tajdid” (bahasa Arab) yang artinya “Pembaharuan” adalah mengenai
dua segi, ialah dipandang dari pada / menurut sasarannya :
 Pertama : berarti pembaharuan dalam arti mengembalikan kepada
keasliannya/kemurniannya, ialah bila tajdid itu sasarannya mengenai soal-soal
prinsip perjuangan yang sifatnya tetap/tidak berubah-ubah.
 Kedua : berarti pembaharuan dalam arti modernisasi, ialah bila tajdid itu
sasarannya mengenai masalah seperti: metode, sistem, teknik, strategi, taktik
perjuangan, dan lain-lain yang sebangsa itu, yang sifatnya berubah-ubah,
disesuaikan dengan situasi dan kondisi/ruang dan waktu.

Tajdid dalam kedua artinya, itu sesungguhnya merupakan watak daripada ajaran
Islam itu sendiri dalam perjuangannya. Dapat disimpulkan bahwa pembaharuan itu
tidaklah selamanya berarti memodernkan, akan tetapi juga memurnikan,
membersihkan yang bukan ajaran.
Gerakan Tajdid pada 100 Tahun Kedua
Tantangan yang dihadapi Muhammadiyah pada abad pertama usianya
pasti berbeda dari abad kedua usianya, meskipun kontinuitasnya antara
keduanya tetap ada. Untuk itu, Paradigma, Model, dan Strategi
Tajdidnya juga harus disesuaikan dengan perkembangan terbaru
discourse keislaman baik dalam teori maupun praktek.
Muhammadiyah harus melakukan upaya pembaharuan from within,
yang meliputi strategi pembaharuan gerakan pendidikan yang selama
ini digelutinya, mengenal dengan baik dan mendalam metode dan
pendekatan kontemporer terhadap studi Islam dan Keislaman era klasik
dan lebih-lebih era kontemporer, mendekatkan dan mendialogkan
Islamic Studies dan Religious Studies, bersikap inklusif terhadap
perkembangan pengalaman dan keilmuan generasi mudanya, terbuka,
mengenalkan dialog antar budaya dan agama di akar rumput,
memahami Cross-cultural Values dan multikulturalitas, dalam bingkai
fikih NKRI, dan begitu seterusnya.
Dalam memasuki fase kedua gerakannya, yakni memasuki abad kedua
perjalanan sejarah Muhammadiyah, sudah tinggi waktu dan kesempatan
untuk melakukan pembaruan paradigma tajdid di tubuh persyarikatan ini.
Kodifikasi dan konsensus tajdid yang terpadu atau eklektik antara purifikasi
dan dinamisasi dapat menjadi titik tolak bagi transformasi paradigma tajdid
Muhammadiyah. Selain tidak akan terjebak pada ekstrimitas yang radikal baik
ke arah “radikal kiri” maupun “radikal kanan” dalam pemikiran Islam.
Dalam transformasi orientasi tajdidnya, Muhammadiyah di satu pihak tidak
terjebak pada pemurnian semata minus pembaruan, sebaliknya pembaruan
tanpa peneguhan, sehingga terdapat ruang untuk transformasi atau
perubahan secara seimbang antara pemurnian dan pengembangan atau
antara peneguhan dan pencerahan.
Namun paradigma dan strategi yang eklektik atau tengahan seperti itu jika
dibiarkan sekadar normatif belaka maka hanya akan indah di ranah teori atau
klaim tetapi sering tidak aktual atau mewujud dalam kenyataan secara jelas
dan tegas.
Dua materi strategis dapat diselesaikan dalam Muhammadiyah menyangkut
fondasi pemikiran yang fundamental dalam gerakan Islam ini.
 Pertama, menyelesaikan atau memulai kembali penyusunan buku Risalah
Islamiyah yang berisi tentang Islam dalam berbagai aspeknya yang
menjadi pandangan resmi Muhammadiyah. Tanpa memiliki pandangan
yang substantif dan komprehensif mengenai Islam maka akan sering
terjadi tarik-menarik pandangan dalam Muhammadiyah mengenai hal-hal
yang fundamental mengenai aspek-aspek ajaran Islam.
 Kedua, mengembangkan konsep secara tuntas dan luas tentang Manhaj
Tarjih mengenai tiga pendekatan dalam memahami Islam yaitu bayani,
burhani, dan irfani. Pengembangan yang bersifat elaborasi terhadap
manhaj tarjih tersebut sangat diperlukan untuk memperluas cakrawala
metodologis dalam pengembangan pemikiran Islam di lingkungan
Muhammadiyah. Dengan paradigma purifikasi dan dinamisasi maka
pengembangan atau elaborasi pendekatan bayani, burhani, dan irfani
akan menghasilkan konstruksi metodologis yang jelas dan luas dari manhaj
tarjih.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa tajdid adalah mengembalikan ajaran
agama Islam kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena sekarang ini ajaran Islam
mengalami penyimpangan dan pencampuran dengan pemahaman yang bukan berasal dari Islam,
sedangkan tajrid berarti pengosongan, pengungsian, pengupasan, pelepasan atau pengambil
alihan.
Tajdid dalam Muhammadiyah mengalami perubahan yang sangat berarti. Tajdid dalam
Muhammadiyah pada tataran praktis dan gerakan aksi yang mengarah pada pemurnian akidah
dan ibadah, sebagai reaksi terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh umat Islam.
Model - model Tajdid dalam Muhammadiyah digolongkan dalam tiga bidang diantaranya :
 Bidang Keagarmaan yaitu Pembaharuan dalam bidang keagamaan adalah penemuan kembali
ajaran atau prinsip dasar yang berlaku abadi, yang karena waktu lingkungan situasi dan
kondisi mungkin menyebabkan dasar-dasar tersebut kurang jelas dan tertutup oleh kebiasan
dan pemikiran tambahan lain.
 Bidang Pendidikan yaitu Muhammadiyah mempelopori dan meyelenggarakan sejumlah
pembaharuan dan inovasi yang lebih nyata dimana bidang pendidikan dipandang sangat
penting dalam penyebaran ajaran agama islam.
 Bidang Sosial Masyarakat Muhammadiyah merintis bidang sosial kemasyarakatan dengan
mendirikan rumah sakit, piklinik, panti auhan, rumah singgah, panti jompo, Pusat kegiatan
Belajar Masyarakat (PKBM), posyandu lansia yang dikelola melalui amal usahanya dan bukan
secara individual sebagai mana dilakukan orang pada umumnya.

Anda mungkin juga menyukai