Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN KASUS

 
TUBERKULOSIS PADA ODHA
 
Identitas pasien
Nama Lengkap : Ny. S Jenis Kelamin : Perempuan

Tanggal lahir : 15 desember 1959 Suku Bangsa : Jawa

Status Perkawinan : Menikah Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pendidikan : SMA

Alamat : Jl. Gading Raya 1 No.1 RT0.10/RW 0.14,  


Pisangan Timur, Pulo Gadung, Jakarta Timur, DKI Jakarta

Diambil dari autoanamnesis.


Kamis tanggal 25 November 2019 pk. 16:40
Keluhan utama

 Sesak memberat disertai batuk berdahak


RPS
Pasien Perempuan berusia 38 tahun, datang ke IGD RSUD Tarakan diantar oleh
keluarganya dengan keluhan sesak memberat sejak 4 jam SMRS. Pada saat masuk
IGD, OS sesak, lemas dan menggigil. Os juga mengeluhkan batuk disertai dahak
sejak beberapa hari yang lalu. Selain itu os juga mengeluh adanya sesak, keringat
dimalam hari, mual muntah, nafsu makan berkurang dan ada penurunan berat
badan. Os menyangkal adanya nyeri pada ulu hati. Buang air kecil normal dengan
frekuensi 3-4x/hari, warna kuning jernih, kencing batu (-), nyeri saat BAK (-), darah
(-). Buang air besar juga dalam batas normal.

Os sebelum ini belum pernah mempunyai riwayat batuk-batuk lama. Os juga


belum pernah mempunyai riwayat pengobatan OAT. OS tidak ada riwayat
hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, asma dan alergi obat disangkal.

Pada hari pemeriksaan 25 November, OS masih lemas, batuk masih ada, sesak
napas masih ada, os tidak nafsu makan dan masih keringat dingin. Tidak ada
demam. Pada hari pemeriksaan 26 November, OS masih lemas, sesak napas tidak
berkurang, dan masih ada batuk.
 
RPD

• Pasien tidak pernah ada riwayat pengobatan


OAT sebelumnya
• Riwayat HT, DM, jantung, ginjal, hepatitis,
asma disangkal

RPK

• Tidak ada keluarga yang mempunyai


keluhan yang sama atau pernah menderita
TB
ANAMNESIS SISTEM

Kulit
(-) Bisul (-) Rambut (+) Keringat malam
(-) Kuku (-) Kuning/Ikterus (-) Sianosis
(-) Lain-lain
Kepala
(-) Trauma (-) Sakit kepala
(-) Sinkop (-) Nyeri pada sinus
Mata
(-) Nyeri (-) Radang
(-) Sekret (-) Gangguan penglihatan
(-) Kuning / Ikterus (-) Ketajaman penglihatan
Telinga
(-) Nyeri (-) Gangguan pendengaran
(-) Sekret (-) Kehilangan pendengaran
(-) Tinitus
 
Hidung
(-) Trauma (-) Gejala penyumbatan
(-) Nyeri (-) Gangguan penciuman
(-) Sekret (-) Pilek
(-) Epistaksis
Mulut
(-) Bibir (-) Lidah kotor
(-) Gusi(-) Gangguan pengecap
(-) Selaput (-) Stomatitis
Tenggorokan
(-) Nyeri tenggorokan (-) Perubahan suara
Leher
(-) Benjolan (-) Nyeri leher
 
Dada (Jantung / Paru-paru)
(-) Nyeri dada (+) Sesak napas
(-) Berdebar (-) Batuk darah
(-) Ortopnoe (+) Batuk
Abdomen (Lambung/Usus)
(-) Rasa kembung (-) Wasir
(+) Mual (-) Mencret
(+) Muntah (-) Tinja darah
(-) Muntah darah (-) Tinja berwarna dempul
(-) Sukar menelan(-) Tinja berwarna ter
(+) Nyeri perut, kolik (-) Benjolan
(-) Perut membesar

Saluran kemih / Alat kelamin


(-) Disuria (-) Kencing nanah
(-) Stranguri (-) Kolik
(-) Poliuri (-) Oliguria
(-) Polakisuria (-) Anuria
(-) Hematuria (-) Retensi urin
(-) Kencing batu (-) Kencing menetes
(-) Ngompol (tidak disadari) (-) Penyakit prostat
Saraf dan Otot
(-) Anestesi (-) Sukar mengingat
(-) Parestesi (-) Ataksia
(-) Otot lemah (-) Hipo/hiperestesi
(-) Kejang (-) Pingsan
(-) Afasia (-) Kedutan (‘tick)
(-) Amnesia (-) Pusing (Vertigo)
(-) Lain-lain (-) Gangguan bicara (Disarti)

Ekstremitas
(-) Bengkak (-) Deformitas
(-) Nyeri (-) Sianosis
 
 
BERAT BADAN
Berat badan rata-rata (kg) : 37,55 kg
Berat badan tertinggi (kg) : 43 kg
Berat badan sekarang (kg) : 40 kg
Riwayat Kelahiran
Tempat lahir: (+) di rumah (-) rumah bersalin (-) RS bersalin
Ditolong oleh: (-) dokter (+) bidan (-) Dukun (-) Lain-lain

Riwayat Imunisasi
(+) Hepatitis (+) BCG (+) Campak (+) DPT (+) Polio

Riwayat Makanan
Frekuensi / hari : 2-3x/hari
Jumlah / hari : sebelum sakit, makan 1 piring
Variasi / hari : bervariasi. Nasi, ikan, sayur
Nafsu makan : menurun

Pendidikan
(+) SD (-) SMP (+) SLTA (-) Sekolah Kejuruan (-) Akademi
(-) Universitas (-) Kursus (-) Tidak sekolah
 
Kesulitan:
Keuangan : tidak ada
Pekerjaan : tidak ada
Keluarga : tidak ada
Lain-lain : tidak ada
PEMERIKSAAN JASMANI
Pemeriksaan umum
Kesadaran : Compos Mentis
Tinggi badan : 160 cm
Berat badan : 40,0 kg
IMT : 15,3 Kg/m2 (BB Kurang)
Tekanan darah : 90/60 mmHg
Nadi : 88x/menit
Suhu : 36,5 C
Pernapasan (frekuensi dan tipe) : 24x/menit tipe Thorakoabdominal
Saturasi oksigen : 99%
Sianosis : tidak ada
Udema umum : tidak ada
Habitus : normal
Cara berjalan : baik
Mobilisasi (aktif/pasif) : pasif
Umur menurut perkiraan pemeriksa : sesuai umur
Aspek Kejiwaan
Tingkah laku : wajar
Alam perasaan : biasa
Proses pikir : wajar

Kulit
Warna : sawo matang Effloresensi : tidak ada
Jaringan parut : tidak ada Pigmentasii : tidak ada
Pertumbuhan rambut : merata Pembuluh darah : pulsasi terab
Suhu raba : normotermi Kelembaban : baik
Keringat : umum Turgor : normal
Lapisan lemak : tipis Ikterus : tidak ada
Lain-lain :-
Kelenjar getah bening
Submandibula: tidak teraba pembesaran Leher: tidak teraba pembesaran
Supraklavikula: tidak teraba pembesaran Ketiak: tidak teraba pembesaran
Lipat paha: tidak teraba pembesaran

Kepala
Ekspresi wajah: baik Simetri muka: simetris
Rambut: hitam, kuat, merata Pembuluh darah temporal: tidak terlihat

Mata
Exophthalmus : ( - ) Enopthalmus :(-)
Kelopak : normal Lensa : normal
Konjungtiva : anemis - / - Visus : tidak diperiksa
Sklera : ikterik - / - Gerakan mata : normal
Lapangan penglihatan : normal Tekanan bola mata : normal
Deviatio konjungae : ( - ) Nystagmus :(-)
Telinga
Tuli : tidak ada Selaput pendengaran : utuh
Lubang : tidak ada Penyumbatan : tidak ada
Serumen : tidak ada Perdarahan : tidak ada
Cairan : tidak ada
Mulut
Bibir : tidak sianosis, tidak kering Tonsil :T1-T1,tidak hiperemis
Langit-langit : normal Bau pernapasan : tidak ada
Gigi geligi : normal Trismus : tidak ada
Faring : tidak hiperemis, tidak ada lendir Selaput lendir : tidak ada
Lidah : coated tongue (-), tremor (-)
Leher
Tekanan vena jugularis (JVP): tidak dilakukan
Kelenjar tiroid : tidak teraba pembesaran
Kelenjar limfe : tidak teraba pembesaran
Paru-paru   Anterior Posterior
Kanan Simetris saat statis dan Simetris saat statis dan
dinamis, tidak tampak lesi atau dinamis, tidak tampak lesi atau
benjolan benjolan
inspeksi
Kiri Simetris saat statis dan Simetris saat statis dan
dinamis, tidak tampak lesi atau dinamis, tidak tampak lesi atau
benjolan benjolan

Kanan Tidak teraba benjolan, tidak Tidak teraba benjolan, tidak


nyeri, fremitus taktil simetris nyeri, fremitus taktil simetris

Palpasi
Kiri Tidak teraba benjolan, tidak Tidak teraba benjolan, tidak
nyeri, fremitus taktil simetris nyeri, fremitus taktil simetris

Kanan Sonor Sonor


Perkusi      
Kiri Sonor Sonor
Kanan Vesikuler (+), Rhonki (-), Vesikuler (+), Rhonki (-),
whezing (-) whezing (-)
Auskultasi
Kiri Vesikuler (+), Rhonki (-), Vesikuler (+), Rhonki (-),
whezing (-) whezing (-)
Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba di sela iga 5 garis midclavicula sinistra
Perkusi :atas kanan: sela iga 4 garis parasternalis dextra , Batas kiri : sela
iga 5 garis midclavikula sinistra, Batas atas: sela iga 2 garis parasternalis
sinistra
Auskultasi: bunyi jantung I dan II murni, reguler, murmur (-), gallop (-)
Tanggal 18 November 2019
Laboratorium
Hematologi
Darah Rutin
Hemoglobin : 9.5 g/dL
Hematokrit : 29.0%
Eritosit : 3650/uL
Leukosit : 14.000/uL
Trombosit : 413000/uL
MCV : 79.5%
MCH : 26.0 pg
MCHC : 32.8%
Fungsi hati
SGOT : 89 U/L
SGPT : 45 U/L
Fungsi Ginjal
Ureum : 55 mg/dL
Kreatinin : 0.5 mg/dL
Diabetes
GDS : 92 mg/dL
Elektrolit
Natrium (Na) : 142 mEq/L
Kalium (K) : 4.2 mEq/L
Klorida (Cl) : 107 mEq/L
Tanggal 23 November 2019 Tanggal 21 November 2019
Laboratorium Imunserologi
  TPHA : Negatif
Fungsi hati VDRL : Negatif
Albumin : 1.9 g/dL HbsAg : Non Reaktif
Globulin : 4.80 g/dL Anti HCV Total : Non Reaktif
SGOT : 80 U/L
SGPT : 33 U/L
Bilirubin indirek : 0.3 mg/dL
Bilirubin total : 1.1 mg/dL
Bilirubin direk : 0.77 mg/dL
 

Tanggal 19 November 2019


Imunoserologi
Anti HIV (reagen 1) : reaktif
Anti HIV (reagen 2) : reaktif
Anti HIV (reagen 3) : reaktif
Tanggal 18 November 2019
Foto Thorax

AP-lateral : pulmo : tampak efusi pleura dextra dan tampak infiltrat pada apex
paru sinistra, sinus dan diafragma tidak tampak. Kesan : efusi plura ec TB paru.
Ringkasan
Seorang perempuan berusia 38 tahun, datang ke IGD RSUD Tarakan dengan
keluhan sesak memberat sejak 4 jam SMRS. Pada saat masuk IGD, OS lemas. Os
juga mengeluhkan batuk disertai dahak sejak beberapa hari yang lalu. Selain itu
os juga mengeluh adanya sesak, keringat dimalam hari, mual muntah dan nafsu
makan berkurang.

Os sebelum ini belum pernah mempunyai riwayat batuk-batuk lama. Os


juga belum pernah mempunyai riwayat pengobatan OAT. OS tidak ada riwayat
hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, asma dan alergi obat disangkal.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, BMI berat


badan normal dan konjungtiva anemis. Tekanan darah 86/58 mmHg, frekuensi
nadi 90x/menit, frekuensi napas 18x/menit, suhu 37,9 oC dan saturasi oksigen
98%. Pada pemeriksaan rontgen thorax tampak infiltrat pada kedua lapangan
paru
Diagnosis Kerja
1. TB paru
Dasar diagnosis: Dari anamnesis pasien didapati keluhan sesak yang
memberat, demam sejak 1 minggu yang lalu, OS mengeluhkan ada batuk,
kadang-kadang keringat dingin pada waktu malam hari, nafsu makan
berkurang dan ada penurunan berat badan. Dari rontgen thorax rontgen
thorax tampak infiltrat pada apex paru.

2. HIV/AIDS
Dasar diagnosis: Pemeriksaan immunoserolgi anti HIV didapatkan reaktif

3. Efusi Pleura Dextra


Dasar diagnosis: pemeriksaan rontgen torax
Penatalaksanaan

Rimfapisisn tab 1x450 mg


INH tab 1x300 mg
Pyrazinamide tan 1x1000 mg
Etambutol tab 1x1000 mg
Cotrimoxazole 3x960 mg
Ambroxol 3x30 mg
Curcuma 2x1
fluconazole 1x200 mg
Levofloxacin 1x750 mg
Acetylcystein 3x200mg
Ceftriaxone 1x2 gr
 
 
 
 
 
Diagnosis Banding
1. Bronkopneomoni
Dasar diagnosis: Dari anamnesis pasien didapati keluhan sesak yang
memberat, demam. OS mengeluhkan ada batuk, kadang-kadang keringat
dingin. Os belum pernah mempunyai riwayat pengobatan OAT.
Untuk menyingkirkan DD dapat dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu:
Pemeriksaan darah.
Menunjukkan leukositosis dengan predominan polimorfonuklear atau dapat
ditemukan leukopenia. Dapat ditemukan anemia ringan atau sedang.
Pemeriksaan radiologi memberi gambaran bervariasi:
Bercak konsolidasi merata para bronkopneumonia.
Bercak konsolidasi satu lobus pada pneumonia lobaris.
Gambaran pneumonia difus atau infiltrat interstisialis pada pneumonia
stafilokokus
2. Bronkiekstasis
Dasar diagnosis: Dari anamnesis pasien mengeluhkan ada
batuk, sesak napas, lemas, dan berkurangnya napsu makan. Os
belum pernah mempunyai riwayat pengobatan OAT.
Untuk menyingkirkan DD dapat dilakukan pemeriksaan
penunjang yaitu:
Analisis dahak
Sampel dahak pasien diperiksa di laboratorium. Penderita
bronkiektasi akan memiliki semacam konsentrasi berwarna
keputihan atau kekuningan pada dahaknya yang disebut dengan
gumpalan Dittrich. Sedangkan untuk mengecek keberadaan
bakteri pada dahak, dapat dilakukan teknik pewarnaan Gram dan
kultur bakteri. Selain itu, keberadaan spora dan fungi Aspergillus
juga dapat diketahui pada pemeriksaan ini.
3. Jamur paru
Dasar diagnosis: Dari anamnesis pasien didapati keluhan demam. OS
mengeluhkan ada batuk, sesak napas, napsu makan berkurang. Os belum pernah
mempunyai riwayat pengobatan OAT.
Untuk menyingkirkan DD dapat dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu:
Foto torakx PA lateral, CT-Scan Toraks
Sputum (mikriskopis jamur dan kultur), KOH
Darah rutin (leukositosis)
Pemeriksaan serologi
4. Tumor Paru
Dasar diagnosis : Dari anamnesis pasien mengeluhkan ada batuk, sesak napas,
napsu makan berkurang. Os belum pernah mempunyai riwayat pengobatan OAT.
Untuk menyingkirkan DD dapat dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu:
Diagnosis tumor paru-paru dapat dilakukan melalui foto Rontgen, CT scan dengan
kontras, dan biopsi jaringan paru. Bila diperlukan, dapat dilakukan PET scan untuk
melihat penyebaran di seluruh tubuh.
 
Pemeriksaan yang
Dianjurkan:
1. Hematologi Rutin
2. Serum Iron, Ferritin, TIBC
3. Gambaran darah tepi
4. Anti HAV, anti HCV, HbsAg
5. USG abdomen
6. Sputum TCM
7. Sputum 3X
8. Rontgen Torax AP
9. Anti HIV
Pencegahan
1. Vaksin BCG
2. Memakai masker saat kontak dengan pasien TB
3. Tutup mulut saat bersin, batuk dan tertawa.
4. Tidak membuang dahak atau meludah sembarangan.
5. Pastikan rumah memiliki sirkulasi udara yang baik.
 
 
Prognosis
1. Ad Vitam : bonam

2. Ad Fungsionam : bonam
3. Ad Sanationam : bonam
Tuberkulosis
Tuberkulosis (TB) meupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
infeksi dari kuman TB (Mycobacterium tuberculosis) dan sebagian besar kuman
TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya
Tuberkulosis merupakan salah satu daripada 10 penyebab kematian utama di
seluruh dunia. Pada tahun 2017, secara global dianggarkan 10 juta orang
menderita TB dan 1,6 juta meninggal dunia karena penyakit ini. Lebih dari 95%
kasus dan kematian berasal dari negara – negara yang sedang membangun.
Definisi TB paru dan HIV/AIDS

Penyakit Tuberkulosis (TB) sejak lama merupakan penyakit menular yang


endemis di Indonesia dan saat ini Indonesia berada pada kedudukan kelima
negara dengan beban TB tertinggi di dunia. TB adalah penyakit menular secara
langsung yang disebabkan oleh kuman TB yaitu Mycobacterium tuberculosis
yang pada umumnya menyerang jaringan paru (TB paru) namun dapat juga
menyerang organ lain (TB ekstraparu) di dalam tubuh manusia.
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem
kekebalan tubuh manusia dan melemahkan kemampuan tubuh untuk
melawan segala penyakit yang datang. Pada saat kekebalan tubuh mulai
lemah, maka timbullah masalah kesehatan. Gejala yang umumnya timbul
antara lain demam, batuk, atau diare yang terus-menerus. Kumpulan gejala
penyakit akibat lemahnya sistem kekebalan tubuh inilah yang disebut AIDS
(Acquired Immune Deficiency Syndrome).
Epidemiologi TB paru dan HIV/AIDS

World Health Organization (WHO) pada tahun 2013


memperkirakan dari 9 juta orang yang terinfeksi Tuberkulosis
(TB), 1.1 juta (13%) diantaranya juga terinfeksi Human
Immunodeficiency Virus. Tingkat ko-infeksi TB-HIV dari orang-
orang dengan hasil tes HIV positif di 41 negara dengan beban
TB dan HIV tinggi berada dikisaran 18-20%. Persentasi tertinggi
berada di wilayah Afrika sekitar 41%, sedangkan di Asia
Tenggara sekitar 6%. Indonesia menempati peringkat terendah
dalam hal cakupan pasien TB dengan hasil tes HIV diketahui,
yaitu hanya sekitar 2%. Perkiraan WHO tentang jumlah pasien
TB dengan status HIV positif di Indonesia pada tahun 2013
sekitar 7,5% yang meningkat cukup signifikan dibandingkan
tahun 2012 yang hanya 3,3%. TB masih dilaporkan sebagai
sebagai infeksi oportunistik (IO) terbanyak pada ODHA yaitu
sebesar 49% pada tahun 2010.
Etiologi TB paru dan HIV/AIDS

TB paru

Mycobacterium. tuberculosis merupakan sejenis kuman berbentuk batang


dengan ukuran panjang sekitar 1 – 10 mikron dengan ketebalan 0,2 – 0,6 mikron.
Dinding kuman ini sebagian besar terdiri dari asam lemak atau lipid, peptidoglikan
dan arabinoman. Kuman ini juga disebut sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA) dan
sifat ini dikarenakan adanya lapisan lipid pada dinding kuman tersebut. Selain itu,
untuk pembiakan, diperlukan media khusus antara lain Lowenstein Jensen atau
Ogawa.
Pada pemeriksaan di bawah mikroskop, kuman ini akan tampak
berbentuk batang berwarna merah dengan pewarnaan Ziehl Neelsen.
Kuman ini sangat peka terhadap panas, sinar matahari dan sinar ultraviolet
sehingga sebagian besar kuman akan mati dalam waktu beberapa menit
setelah terpapar secara langsung. Manakala di dalam dahak, pada suhu
antara 30 – 37°C, kuman ini akan mati dalam waktu kurang lebih 1 minggu.
HIV
HIV merupakan virus RNA namun dari RNA dapat berubah menjadi
DNA dengan enzim reverse transcriptase. Hasil transkripnya adalah
DNA intermediate yang memasuki inti dan berinegrasi dengan
kromosom. Terdapat 4 jenis retrovirus yang menimbulkan penyakit
pada manusia yang terbagi dalam dua kelompok, virus limfotropik T
yaitu: HTLV I dan HTLV II yang bertransformasi menjadi HIV 1 dan
HIV 2, yang mempunyai efek sitopatik langsung dan tidak langsung
menjadi AIDS. HIV 1 merupakan virus klasik pemacu AIDS, HIV 2
merupakan virus yang diisolasi pada binatang dan sering
asimptomatis pada manusia.
 
Penularan TB paru dan HIV/AIDS
Penularan terjadi pada waktu penderita TB paru dengan BTA positif batuk atau
bersin sehingga dapat menyebarkan kuman ke udara dalam percikan ludah
(droplet). Orang dapat terinfeksi jika droplet tersebut terhirup ke dalam saluran
pernafasan seseorang dengan daya tahan tubuh yang lemah. Penderita TB
dengan BTA negatif ini juga berkemungkinan untuk menularkan penyakit TB. Pada
penderita TB BTA positif, tingkat penularan adalah 65%, manakala penderita TB
BTA negatif dengan hasil kultur positif adalah 26% dan penderita TB dengan hasil
kultur negatif dan foto toraks positif adalah 17%.
HIV dapat menular melalui cairan tubuh tertentu, yaitu:
 Darah
 Air mani (cairan, bukan sperma)
 Cairan vagina
 Air susu ibu (ASI)
Kegiatan yang dapat menularkan HIV adalah:
 Hubungan seks tidak aman/tanpa kondom
 Penggunaan jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril secara
bergantian
 Tindakan medis yang memakai peralatan yang tidak steril,
misalnya, peralatan dokter gigi
 Penerimaan transfusi darah yang mengandung HIV
 Ibu HIV-positif pada bayinya, waktu dalam kandungan, ketika
melahirkan atau menyusui
Gambaran TB-HIV
  Infeksi dini (CD 4 >200) Infeksi lanjut (CD4 <200)

Dahak mikroskopis Sering positif Sering negatif

TB ekstraparu Jarang Umum / banyak

Mikobakterimia Tidak ada Ada

Tuberculin Positif Negatif

Foto toraks Reaktivasi TB, kavitas di puncak Tipikal primer TB milier/


interstisial

Adenopati hilus/ mediastinum Tidak ada Ada

Efusi pleura Tidak ada Ada


Patogenesis
 Penyebaran hematogen umumnya terjadi secara sporadik (occult
hematogenic spread). Kuman TB kemudiannya membuat fokus
koloni di berbagai organ dengan vaskularisasi yang baik. Fokus
ini berpotensi mengalami reaktivasi di kemudian hari

 Kompleks primer terdiri dari fokus primer (1), limfangitis (2) dan
limfadenitis regional (3).

 TB primer adalah kompleks primer dan komplikasi –


komplikasinya.

 TB pasca primer terjadi dengan mekanisme reaktivasi fokus lama


TB (endogen) atau reinfeksi (infeksi sekunder) oleh kuman TB
dari luar (eksogen), ini disebut TB tipe dewasa (adult type TB)
Patogenesis HIV
Target utama infeksi HIV adalah pada Limfosit CD karena
virus mempunyai afinitas pada permukaan CD 4. Fungsi
limfosit CD 4 adalah untuk mengkoordinasikan sejumlah
fungsi imunologis yang penting dan apabila fungsi tersebut
hilang atau terganggu, akan menyebabkan terjadinya
gangguan respond imun yang progresif. Jumlah sel yang
mengekspresikan sel di jaringan limfoid menurun dengan
membentukan respon imun yang spesifik dan peningkatan
CD 8. Antibodi akan timbul paska sirkulasi dalam beberapa
minggu setelah infeksi. Virus tidak dapat dimatikan oleh
antibodi karena virus memiliki kemampuan untuk mengubah
konfigurasi tiga dimensinya.
Diagnosis TB pada Orang Dengan HIV AIDS
(ODHA)
- TB paru BTA positif: minimal satu hasil pemeriksaan dahak
positif
- TB paru BTA negatif: hasil pemeriksaan dahak negatif dan
gambaran klinis dan radiologis mendukung TB atau BTA
negatif dengan hasil kultur TB positif
- TB ekstraparu pada ODHA ditegakkan dengan pemeriksaan
klinis, bakteriologis dan atau histopatologi yang diambil dari
jaringan tubuh yang terkena.
 
 
Alur Diagnosis TB Paru pada ODHA yang Rawat Jalan
 Tanda-tanda bahaya yaitu bila dijumpai
salah satu dari tanda-tanda berikut:
frekuensi pernapasan > 30 kali/menit,
demam > 390 C, denyut nadi > 120
kali/menit, tidak dapat berjalan bila tdk
dibantu.
 BTA Positif = sekurang-kurangnya 1
sediaan hasilnya positif; BTA Negatif = bila
3 sediaan hasilnya negatif.
 PPK = Pengobatan Pencegahan dengan
Kotrimoksazol.
 PCP = Pneumocystis carinii pneumonia
atau dikenal juga Pneumonia Pneumocystis
jirovecii
Pengobatan Tuberkulosis dengan infeksi
HIV/AIDS
 Semua ODHA dengan stadium klinis 3
perlu dipikirkan untuk mulai pengobatan
ARV bila CD4 < 350/mm3 tapi harus
dimulai sebelum CD4 turun dibawah
200/mm3.

 Semua ODHA stadium klinis 3 yang hamil


atau menderita TB dengan CD4 < 350/mm3
harus dimulai pengobatan ARV.

 Semua ODHA stadium klinis 4 perlu


diberikan pengobatan ARV tanpa
memandang nilai CD4.
Pilihan paduan pengobatan ARV pada ODHA dengan TB
Obat ARV lini pertama / Paduan pengobatan ARV pada waktu Pilihan obat ARV
lini kedua TB didiagnosis

Lini Pertama 2 NRTI + EFV Teruskan dengan 2


NRTI + EFV

2 NRTI + NVP* Ganti dengan 2


NRTI + EFV atau
Ganti dengan 2
NRTI + LPV/r

Lini Kedua 2 NRTI + PI Ganti ke atau


teruskan (bila
sementara
menggunakan)
paduan
mengandung
LPV/r
Komplikasi
Pada pasien TB dapat terjadi beberapa komplikasi,
baik sebelum pengobatan atau dalam masa
pengobatan maupun setelah selesai pengobatan.
Beberapa komplikasi yang mungkin timbul adalah
batuk darah, pneumotoraks, gagal napas dan gagal
jantung. Pada keadaan kompliksi harus dirujuk ke
fasilitas yang memadai.