Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN

KEPERAWATAN
SEHAT JIWA PADA
IBU HAMIL
KELOMPOK 11

INTAN AYU AGUSTIN


SETIYO WATI
SUCI AMALIA
SURATI
SUWARSO
TASYA SAFHIRA A.
Definisi Kehamilan

Kehamilan adalah suatu proses yang normal akan tetapi kebanyakan wanita
akan mengalami perubahan baik dari segi psikologis maupun emosional selama
kehamilan.
Sedangkan gangguan psikologis adalah Perubahan psikologi pada ibu hamil
merupakan hal yang normal dan merupakan hal yang individual. Didasarkan
pada teori Revarubin.
Perubahan dan Adaptasi
Psikologis selama Masa
Kehamilan

 Tahap Antisipasi
 Tahap Honeymoon (menerima peran, mencoba
menyesuaikan diri)
 Tahap Stabil (bagaimana mereka dapat melihat
penampilan dalam peran)
 Tahap Akhir (perjanjian)
 
Perubahan psikologis selama
kehamilan
Trimester I (Periode Penyesuaian) : Trimester II (Periode kesehatan yang baik)

 Ibu merasa tidak sehat  dan kadang merasa benci dengan


kehamilannya.  Ibu merasa sehat, tubuh ibu terbiasa dengan kadar hormon yang
 Kadang muncul penolakan, kekecewaan, kecemasan, dan tinggi.
kesedihan. Bahkan kadaang ibu berharap agar dirinya tidak hamil  Ibu sudah dapaat menerima kehamilan.
saja.  Merasakan gerakan anak.
 Ibu akan selalu mencaari tanda-tanda apakah ia benar-benar  Merasa terlepas dari ketidaknyamanan dan kekhawatiran.
hamil. Hal ini dilakukan sekedar untuk meyakinkan dirinya.  Libido meningkat.
 Setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu mendapat  Menuntut perhatian untuk cinta.
perhatian dengan seksama.  Merasa bahwa bayi sebagai individu yang merupakan bagian dari
 Oleh karena perutnya, masih kecil, kehamilan merupakan rahasia dirinya.
seorang ibu yang mungkin akan diberitahukannya kepada orang  Hubungan seksual meningkat dengan wanita hamil lainnya atau
lain atau malah mungkin dirahasiakannya. pada orang lain yang baru menjadi ibu.
 Hasrat untuk melakukan hubungan seks berbeda-beda pada tiap  Ketertarikan dan aktifitasnya terfokus pada kehamilan, kelahiran,
wanita, tetapi kebanyakan akan mengalami penurunan. dan persiapan untuk peran baru.
 
 
Trimester III (penantian dengan penuh kewaspadaan)

 Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh, dan tidak menarik.
 Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu.
 Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat melahirkan, khawatir  akan
keselamatannya.
 Khawatir bayi yang akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal, bermimpi yang
mencerminkan perhatian dan kekhawatirannya.
 Merasa sedih akan terpisah dari bayinya.
 Merasa kehilangan perhatian.
 Perasaan mudah terluka atau sensitif.
 Libido menurun.
Kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis, perubahan psikologis
dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah mengalaminya. Sebagian besar kaum
wanita menganggap bahwa kehamilan merupakan peristiwa kodrat yang harus dilalui
tetapi sebagian lagi menganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan
kehidupan selanjutnya.

Hubungan episode kehamilan dengan reaksi psikologis yang terjadi :

Trimester 1 :
Sering terjadi fluktuasi lebar aspek emosional sehingga perode ini  mempunyai resiko
tinggi untuk terjadi pertengkaran atau rasa tidak nyaman.

Masalah Emosi Selama Trimester II :


Kehamilan Fluktuasi emosional sudah mulai mereda dan perhatian wanita hamil lebih terfokus pada
berbagai  perubahan tubuh yang terjadi saat kehamilan, kehidupan seksual keluarga dan
hubungan bathiniah dengan bayi yang dikandungannya.

Trimester III :
Berkaitan dengan bayangan resiko kehamilan dan proses persalinan sehingga wanita
hamil sangat emosional dalam upaya mempersiapkan atau mewaspadai segala sesuatu
yang akan dihadapi.
Psikoterapi membantu wanita hamil yang
mengalami kecemasan untuk mengatasi ketakutan dan
kecemasan yang berhubungan dengan kehamilannya.
 Gangguan Kecemasan Gangguan Jiwa PadaPENANGANANNYA
Dengan mendiskusikan pikiran dan perasaan yang
mengganggu menyebabkan dapat lepas dari tekanan.
pada Kehamilan Kehamilan Dan Pengurangan gejala kecemasan membuat wanita

   Gangguan kecemasan Penanganannya tersebut dapat berfungsi lebih efektif dalam hubungan
pribadi dan keluarga dengan sendirinya kecemasan itu
secara menyeluruh akan hilang.
 Gangguan Panik Pada wanita dengan gangguan obsesif kompulsif,
dimana obsesi menetap dan kecemasan yang tidak dapat
 Gangguan obsesif ditoleransi rawat inap mungkin diperlukan. Pengobatan
kompulsif noninvasif yang efektif dari gangguan kecemasan dapat
digunakan melalui latihan relaksasi otot yang bertahap,
  visual imagery, latihan kognitif, latihan biofeedback.Dasar
pengobatan ini adalah relaksasi otot dan ketegangan otot
tidak timbul pada waktu yang sama, karena itu wanita
hamil yang belajar untuk melemaskan ototnya tidak akan
mengalami gejala gangguan kecemasan.
Kehabisan tenaga atau kebanyakan gerak.
Tidak bisa tidur walaupun mempunyai kesempatan.
Menangis tidak tertahan dan mata terasa berlinang.
Menyadari bahwa perasaan amat cepat berubah.
Sangat judes atau peka terhadap bunyi dan sentuhan
Senantiasa berfikiran negatif.
Tanpa berwujud merasa tidak mampu.
Tiba-tiba takut atau gugup.
Tanda dan Gejala psikologis Tidak bisa memusatkan perhatian.
pada ibu hamil Lebih sering lupa
Rasa bingung dan bersalah.
Makan amat sedikit atau amat banyak.
Asik dengan fikiran yang menghantui dan
mengerikan.
Kehilangan kepercayaan dan harga diri
 
Cara Mengatasi
Gangguan Psikologis
Kehamilan  

Ibu yang sedang hamil, pasti akan mengalami berbagai macam perubahan bukan hanya perubahan secara fisik
namun juga secara psikologis.
Berikut beberapa cara yang dapat menyeimbangkan kondisi psikologis saat ibu sedang mengandung:
 Berikan Informasi
 Komunikasi dengan suami
 Rajin check-up
 Makan
 bagi perkembangan kecerdasan otak janin.
 Jaga penampilan 
 Kurangi kegiatan
 Dengarkan musik
 Senam hamil
 Latihan pernafasan
Asuhan Keperawatan

Pengkajian

Riwayat Kesehatan
Riwayat Obstetri Riwayat kesehatan yang dikaji meliputi hal-hal sebagai
Memberikan informasi yang penting mengenai kehamilan sebelumnya agar perawat dapat
menentukan kemungkinan masalah pada kehamilan-sekarang. Riwayat Obstetri meliputi hal- berikut :
hal di bawah ini :
 Gravida, para-abortus, dan anak hidup (GPAH). a. Usia, ras, dan latar belakang etnik (berhubungan
 Berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi.
 Pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat persalinan, dan penolong persalinan.
dengan kelompok risiko tinggi untuk masalah
 jenis anestesi dan kesulitan persalinan. genelis seperti anemia sickle sel, thalasemia).
 Komplikasi maternal seperti diabetes, hiperlensi, infeksi, dan perdarahan.
 Komplikasi pada bayi. b. Penyakit pada masa kanak-kanak dan imunisasi.
 Rencana menyusui bayi.
c. Penyakit kronis (menahun/terus-menerus),
Riwayat Kontrasepsi seperti asma dan jantung.
Beberapa bentuk konirasepsi dapat berakibat buruk pada janin, ibu, atau keduanya. Riwayat
kontrasepsi yang lengkap harus didlapatkan pada saat kunjungan pertama. Penggunaan d. Penyakit sebelumnya, prosedur operasi, dan
kontrasepsi oral sebelum kelahiran dan berlanjut. ccdera (pelvis dan pinggang).
Riwayat Penyakit dan Operasi e. Infeksi sebelumnya seperti hepatitis, penyakit
Kondisi kronis (menahun/terus menerus) seperti DM, hipertensi, dan penyakit ginjal bisa
berefek buruk pada kehamilan. Oleh karena itu adanya penyakit infeksi, prosedur infeksi dan menular seksual, dan tuberkulosis.
trauma pada persalinan sebelumnya harus didokumentasikan.
 
Riwayat keluarga.
f. Riwayat dan perawatan anemia.
Memberikan informasi tentang kesehatan keluarga, termasuk
g. Fungsi vesika urinaria dan bowel (fungsi penyakit kronis (menahun/terus--menerus) seperti diabetes
dan perubahan). melilus dan jantung, infeksi seperti tuberkulosis dan hepatitis,
h. Jumlah konsumsi kafein tiap hari seperti serta riwayat kongenital yang perlu dikumpulkan.
kopi, teh, coklat, dan minuman ringan. Riwayat kesehatan pasangan.
i. Merokok (Jumlah batang per hari). Untuk menentukan kemungkinan masalah kesehatan yang
j. Kontak dengan hewan peliharaan seperti berhubungan dengan masalah genetik, penyakit kronis, dan
infeksi. Penggunaan obat-obatan seperti kokain dan alkohol
kucing dapat meningkatkan risiko terinfeksi akan berpengaruh pada kemampuan keluarga untuk
toxoplasma. menghadapi kehamilan dan persalinan. Rokok yang digunakan
k. Alergi dan sensitif dengan obat. oleh ayah akan berpengaruh pada ibu dan janin, terulama risiko
l. Pekerjaan yang berhubungan dengan risiko mengalami komplikasi.
Pernapasan akibat sebagai perokok pasif. Golongan darah dan
penyakit. tipe Rhesus ayah penting jika ibu dengan Rh negatif dan
kemungkinan inkompabilitas darah dapat terjadi.
Pemeriksaan Fisik 4. Abdomen
5. Sistem Neurologi
6. Sistem Integumen
7. Sistem Endokrin
8. Sistem Gatsrointestinal
 Mulut
1. Pemeriksaan TTV  Usus
 Tekanan darah 9. Sistem Urinarius
 Nadi  Protein
 Pernapasan  Glukosa
 Suhu  Keton
 Bakteri
10. Sistem reproduksi
2. Sistem Kardiovaskuler  Ukuran payudara, kesimetrisan, kondisi puling,
 Bendungan vena dan pengeluaran kolostrum perlu dicatat. Adanya
 Edema benjolan dan tidak simetris pada payudara
membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
3. Sistem Muskuloskeletal  Organ reproduksi eksternal
 Postur  Organ reproduksi internal
 Tinggi dan berat badan
 Pengukuran pelviks
DIAGNOSA DAN INTERVENSI
ANALISIS JURNAL

JURNAL I
JUDUL
“Efektivitas Pemberian Aromaterapi Lavender Untuk Menurunkan Kecemasan Ibu Hamil Trimester III Dalam Persiapan Menghadapi
Persalinan di Bidan Praktek Mandiri Nurussyifa Kecamatan Buniseuri Ciamis”
Analisis PICO
Problem (P)
Kecemasan dan kekhawatiran ibu hamil apabila tidak ditangani dengan serius akan membawa dampak dan pengaruh terhadap fisik
dan psikis baik ibu maupun janinnya. Faktor yang memengaruhi kecemasan pada ibu hamil diantaranya faktor psikologis, dimana
adanya rasa cemas yang disebabkan oleh beberapa ketakutan. Takut akan peningkatan nyeri, takut akan kerusakan atau kelainan
bentuk tubuh seperti episiotomi, ruptur, jahitan atau seksio sesaria. Faktor psikis dalam menghadapi persalinan merupakan faktor
yang sangat penting mempengaruhi lancar tidaknya proses persalinan.
Berkaitan dengan ibu hamil, sebanyak 80% mengalami gangguan kecemasan. Apabila terjadi kesalahan dalam melakukan mekanisme
pertahanan diri tersebut, sangat dikhawatirkan dapat berpengaruh pada janin yang sedang dikandungnya. Hasil penelitian Kinsella
et.al., menyimpulkan bahwa kesehatan psikologis seorang ibu hamil dapat berpengaruh terhadap janin. Selain itu, hasil penelitian
Bastard dan Tiran, menyimpulkan bahwa kecemasan pada ibu hamil dapat memengaruhi perkembangan janin dan mungkin memiliki
efek jangka panjang pada perkembangan psikologis anak. Oleh sebab itu, diperlukan suatu metode atau cara aman yang dapat
digunakan bagi ibu hamil dalam upaya menekan atau meminimalisir perasaan cemas, khususnya pada saat menghadapi persalinan.
Salah satu cara yang dipercaya dan telah terbukti dapat meminimalisir tingkat kecemasan pada seseorang adalah dengan aromaterapi.
Intervensi (I)
Intervensi yang dilakukan yaitu sebelum dilakukan tindakan pemberian aromaterapi dilakukan
pengukuran tingkat kecemasan dengan menggunakan kuesioner baku dari STAI (Spielberger State-
Trait Anxiety Inventory, setelah itu diberikan aroma terapi lavender menggunakan metode inhalasi
selama 3-5 menit. Setelah itu dilakukan kembali pengukuran kembali tingkat kecemasan.
Compare (C)
Tidak ada pembanding atau intervensi lain
Outcome (O)
Pemberian aromaterapi lavender efektif dalam menurunkan kecemasan ibu hamil trimester III dalam
persiapan menghadapi persalinan. Hal ini dibuktikan dengan pemberian aromaterapi lavender lebih
efektif 1,52 menurunkan skala kecemasan dibandingkan dengan tanpa memberikan aromaterapi
pada ibu hamil trimester III. Yang diperoleh dari rata-rata skala kecemasan pada kelompok intervensi
sebesar, 6,31 dan rata-rata skala kecemasan pada kelompok control sebesar 4,16 sehingga terdapat
selisih efektif sebesar 1,52.
 
JURNAL II
JUDUL
Hubungan Antara Dukungan Ketuarga Dengan Ke'adian Baby Blues Syndrome Pada Ibu Post Sectio Caesaria.
ANALISIS PICO
Problem (P)
Sudah menjadi kodrat seorang wanita untuk mengandung dan melahirkan yang dapat menentukan kehidupan selanjutnya.
Melahirkan bayi merupakan suatu peristiwa penting yang sangat dinanti-nantikan oleh sebagian besar perempuan dan
menjadi seorang ibu membuat seorang perempuan merasa telah berfungsi utuh dalam menjalani kehidupannya,
disamping beberapa fungsi yang lain, yaitu sebagai istri, bagian dari keluarga, anak dari kedua orangtuanya, serta sebagai
anggota dari keluarga besar dan masyarakat (Elvira. 2006). Kebahagiaan menjadi orang tua (terutama ibu) tidak bisa
dirasakan sepenuhnya oleh sebagian ibu pada awal-awal masa pasca persalinannya. Sebagian ibu menganggap bahwa
masa-masa setelah melahirkan adalah masamasa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami tekanan secara
emosional. Gangguan-gangguan psikologis yang muncul akan mengurangi kebahagiaan yang dirasakan dan dapat
mempengaruhi hubungan anak-ibu dikemudian hari. Hal ini bisa muncul dalam durasi yang sangat singkat atau berupa
serangan yang sangat berat selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya (Punvanto, 2007).
Intervensi (I)
Penelitian ini dilakukan pada 32 ibu yang melahirkan anak pertama, post sectio caesaria selama 1- 14 hari
dan bersedia menjadi subjek penelitian di RSIA Aisyiah Klaten. Alat ukur yang digunakan untuk
mendapatkan data adalah skala dukungan sosial dan skala baby blues syndrome adaptasi dari Edinburgh
Postnatal Depression Scale (EPDS). Adapun analisis data menggunakan product moment.
Compare (C)
Tidak ada pembanding atau intervensi lain
Outcome (O)
Penelitian ini menunjukkan hasil akhir adanya hubungan negatif antara dukungan keluarga dengan kejadian
baby blues syndrome pada ibu post sectio caesaria. Semakin tinggi dukungan keluarga yang diberikan, maka
semakin rendah kejadian kejadian baby blues syndrome pada ibu post sectio caes aria, sebaliknya semakin
rendah dukungan keluarga yang diberikan maka semakin tinggi kejadian baby blues syndrome pada 1bu post
sectio caesaria. Dukungan keluarga berperan terhadap kejadian baby blues syndrome pada ibu post sectio
caesaria sebesar l9 % dan faktor lain sebanyak 81 %. Subjek penelitian memiliki dukungan keluarga yang
tergolong sedang dengan rerata empirik sebesar 80,97 dan rerata hipotetik sebesar 85. Subjek yang
mengalami baby blues syndrom esebanyak 1 5 orang (47 % tidak mengalami baby blues syndrome sebanyak
12 orang (37 %), ibu yang mengalami gejala depresi sebanyak 3 orang (9,4%) dan ibu yang mengalami
depresi post partum sebanyak 2 orang (6,2 %).
 
HATUR NUHUN