Anda di halaman 1dari 14

PEMERIKSAAN FISIK PARU

Inspeksi
1. Kelainan dinding dada
berupa parut bekas operasi,pelebaran vena superfisial akibat bendungan vena,spider naevi,ginekomastia tumor, luka
operasi, retraksi otot-otot interkostal

2. Frekuensi Pernafasan
• Normal : 14-20 x/mnt
• Bradipnea : > 14 x/mnt, akibat pemakaian obat narkotik dan kelaianan serebral
• Takipnea : > 20 x/mnt, biasanya pada pneumonia, ansietas, dan asidosis
3. Kelainan bentuk dada
• dada paralitikum : dada kecil, sela iga sempit, iga lebih miring, angulus costae < 90. terdapat pada pasien dengan malnutrisi
• Dada emfisema : dada mengembang,terjadi pada pasien bronkhitis kronis
• Kifosis
• Skoliosis

• Pectus excavatum : sternum mencekung kedalam


• Pectus caringatum (pigeon chest) : sternum menonjol kedepan

Pectus excavatum Pigeon Chest Barrel Chest


4. Jenis Pernafasan
• Thorakal : pada tumor abdomen peritonitis umum
• Abdominal : pada PPOK lanjut
• Kombinasi : pada perempuan (Thorako-abdominal), laki-laki (abdomino-thorakal)
• Pursed lips breathing : pada PPOK
5. Pola Pernafasan
• Normal : irama pernafasan teratur
• Takipnea : nafas cepat dan dangkal
• Hiperpnea/hiperventilasi : nafas cepat dan dalam
• Bradipnea : Nafas yang lambat
• Cheyne Strokes : irama pernafasan dengan periode apnea disusul apnea. Siklus terjadi berulang, terjadi pada pasien dengan
kerusakan otak, hipoksia kronik.
• Sighing Respiration : pernafasan normal diselingi dengan tarikan nafas normal
Palpasi
1. Pemeriksaan Ektansi Paru,
• Kedua sisi dada dalam keadaan mengembang selama inspirasi biasa maupun maksimal
• Amati pergerakan kedua klavikula, bila pergerakan salah satu sisi berkurang berarti
terjadi kelainan pada sisi tersebut.
• Pada penilaian pengembangan paru bagian bawah, letakan kedua telapak tangan dan ibu
jari secara simetris pada masing masing tepi iga, sedangkan jari-jari yang lain menjulur
sepanjang sisi lateral lengkung iga. Kedua ibu jari saling bertemu dan berdekatan di garis
tengah dan sedikit diangkat keatas sehingga dapat berhgerak bebas saat bernafas.
• Saat pasien menarik bafas kedua ibu jari bergerak secara simetris, jika gerakan kedua ibu
jari menjadi tidak simetris itu menunjukan adanya kelainan pada sisi tersebut.

2. Pemeriksaan Fokal Fremitus


• Letakan kedua telapak tangan pada permukaan dinding dada kemudian menyebut angka tujuh-
tujuh atau sembilan-sembilan, sehingga getaran suara akan jelas, rasakan dan teliti suara yang
ditimbiulkan. Fremitus yang lemah didapatkan pada penyakit emfiema, hidrothirax, ateletaksis,
fremitus yang mengeras terjadi karena infiltrat pada parenkim paru ( Pneumoni, TB paru aktif)
Perkusi
Berdasarkan patogenesisnya bunyi ketukan yang terdengar dapat bermacam-macam :
Sonor ( Resonant)
bila udara dalam paru(alveoli) cukup
banyak, terdapat pada paru normal.
Hipersonor ( hiperresonat )
Bila udara dalam paru/dada menjadi jauh lebih banyak
,pada emfisema paru,kapitas besar yang letaknya
superfisial, pneumotoraks dan bula yang besar

Redup ( dull)
Bila bagian yang padat lebih banyak dari pada udara:
infiltrat/konsolodasi akibat pneumonia, efusi pleura
yang sedang.
Pekak ( flat / stony dull)
Pada jarinan yang tidak menggandung udara didalamnya,
pada tumor paru, efusi pleura masif.
Bunyi timpani
Pada perkusi lambung akibat getaran udara didalam lambung
Perkusi
Perkusi dilakuan untuk menentukan batas
paru hati sepanjang garis midclavikula
kanan sampai didapatkan adanya perubahan
bunyi dari sonor menjadi redup.
Menentukan batas tersebut dengan
menghitung mulai dari sela iga II-iga VI.
Pada paru bagian posterior dilakukan
perkusi secara zigzag sepanjang garis
skapularis kanan dan kiri.
Area Perkusi dan Auskultasi
Auskultasi
Suara nafas pokok yang normal terdiri dari :
1. Vesikular
2. Bronko Vesikular
3. Bronkial
4. Trakeal
5. Amforik ( suara nafas yang didapatkan bila terdapat kavitas besar yang
letaknya perifer dan berhubungan dengan bronkus,terdengar seperti tiupan
dalam botol kosong)
Suara nafas tambahan, terdiri dari
1. Ronkhi basah : suara nafas terputus-putus, bersifat nonmusical, biasanya pada
inspirasi .
2. Ronkhi kering : suara nafas kontinyu, bersifat musical, frekuensi relatif rendah, terjadi
kareana udara mengalir melalui celah pernafasan sempit.
3. Pleural friction rub : terjadi karena pleural parietal dan viseral yang meradang saling
bergesekan. Bunyi gesekan terdengar pada akhir inspirasi dan awal ekspirasi.
4. Hyppocrates succussion : terdapat pada pasien pneumothoraks
5. Pneumothorak click : bunyi yang bersifat ritmik dan sinkron dengan kontraksi
jantung
Bunyi Hantaran Suara
Stetoskop diletakan pada dinding dada secara simetris,
kemuadian pasien diminta untuk 99, bila suara yang
terdengar menjadi lebih jelas dan keras disebut
bronkoponi.
Pada pasien Pneumonia diminta untuk berbisik dengan
mengucapkan kata 99. Bila suara berbisik tersebut
menjadi semakin jelas dan keras disebut Whispered
pectoriloquy.
THANK YOU

Anda mungkin juga menyukai