Anda di halaman 1dari 133

AKUNTANSI MANAJEMEN

BAB 5. ACTIVITY BASED COSTING


BAB 6. ANALISIS VOLUME, BIAYA DAN LABA
BAB 7. MANAJEMEN PERSEDIAAN
BAB 8. PUSAT PERTANGGUNGJAWABAN & PUSAT INVESTASI

SUHARMAN, SE.,MM.,PIA
BAB 5
ACTIVITY BASED COSTING
• Activity-based costing (ABC) adalah pendekatan penentuan biaya produk
yang membebankan biaya kepada produk atau jasa berdasarkan
konsumsi sumber daya yang disebabkan karena aktivitas.
• Dasar pemikiran pendekatan penentuan biaya ini adalah bahwa produk
atau jasa perusahaan dilakukan oleh aktivitas dimana aktivitas yang
dibutuhkan tersebut menggunakan sumber daya yang menyebabkan
timbulnya biaya.
• ABC memperkenalkan hubungan sebab akibat antara cost driver dengan
aktivitas.
• Dengan ABC, biaya overhead pabrik dibebankan kepada objek biaya
seperti produk atau jasa dengan mengidentifikasikan sumber daya yang
dibutuhkan untuk memproduksi output.
• Cost driver digunakan untuk menghitung biaya sumber daya dari setiap
unit aktivitas. Kemudian setiap biaya sumber daya dibebankan kepada
produk atau jasa dengan mengalikan biaya setiap aktivitas dengan
kuantitas setiap aktivitas yang dikonsumsi pada periode tertentu.
ACTIVITY BASED COSTING

1. ACTIVITY BASED COSTING (ABC)


SUATU PENDEKATAN PENENTUAN BIAYA PRODUK YANG MEMBE
BANKAN BIAYA KE PRODUK ATAU JASA ATAS DASAR KONSUMSI SUM
BERDAYA YANG DIGUNAKAN UNTUK MENDUKUNG AKTIVITAS.

COST OBJECT
AKTIVITAS SUMBER DAYA
(PRODUK/JASA)

PENGELOLAAN AKTIVITAS
MERUPAKAN PENGELOLAAN BIAYA MERUPAKAN
TERHADAP AKTIVITAS UKURAN SUMBERDAYA
VALUE ADDED & NON VALUE YANG DIKONSUMSI UNTUK
ADDED DALAM MENGHASIL MELAKSANAKAN AKTIVITAS
KAN COST OBJECTIF DGN DALAM MENGHASILKAN
MENGKONSUMSI SUMBER COST OBJECT
DAYA (PRODUK ATAU JASA)
2. AKTIVITAS
ADALAH KEGIATAN YANG DILAKUKAN DALAM SUATU ORGANISASI YG
BERGUNA UNTUK TUJUAN PENENTUAN BIAYA BERDASARKAN AKTIVI
TAS YANG DILAKUKAN.
CONTOH: PENGIRIMAN BARANG MERUPAKAN AKTIVITAS PEMASARAN

3. SUMBER DAYA
UNSUR EKONOMIS YANG DIGUNAKAN DALAM MELAKSANAKAN AKTIVI
TAS, KARENA ITU HARUS DIBEBANKAN KE OBJEK BIAYA.
CONTOH: UPAH DAN BAHAN BAKU SUMBERDAYA UNTUK PRODUKSI

4. OBJEK BIAYA
BENTUK AKHIR DIMANA PENGUKURAN BIAYA HARUS DILAKUKAN
CONTOH: PRODUK, PEMASARAN, PELANGGAN, LISTRIK

5. COST DRIVER
FAKTOR YANG MENYEBABKAN PERUBAHAN BIAYA AKTIVITAS, DAPAT
DIUKUR, DIGUNAKAN SEBAGAI DASAR MEMBEBANKAN BIAYA AKTIVI
TAS KE COST POOL TERTENTU. TERDAPAT DUA COST DRIVER YAITU
RESOURCES DRIVER AND ACTIVITY DRIVER.
a. RESOURCES DRIVER
UKURAN KUANTITAS SUMBERDAYA YANG DIKONSUMSI OLEH AKTI
VITAS. CONTOH: PROSENTASE LUAS LANTAI YG DIGUNAKAN UNTUK
SUATU AKTIVITAS

b. ACTIVITY DRIVER
UKURAN FREKUENSI & INTENSITAS PERMINTAAN TERHADAP
SUATU AKTIVITAS TERHADAP OBJEK BIAYA, DIGUNAKAN UNTUK
MEMBEBANKAN DARI COST POOL KE OBJEK BIAYA.
CONTOH: JUMLAH KOMPONEN SUKU CADANG YANG BERBEDA DIGU
NAKAN UNTUK MENGUKUR KONSUMSI AKTIVITAS PENANGANAN BA
HAN UNTUK SETIAP PRODUK

6. KAPAN ABC DIPERLUKAN..?


ABC SYSTEM MENGHASILKAN PERHITUNGAN KOS PRODUK YG LEBIH
AKURAT & MEMBANTU PERUSAHAAN DALAM MENGELOLA KEUNGGU
LAN KOMPETITIF, KEKUATAN & KELEMAHAN PERUSAHAAN SECARA
EFISIEN.
Struktur sistem biaya, baik sistem biaya standar (tradisional) maupun ABC
terdiri dari 2 (dua) tahapan seperti pada Gambar di bawah ini :

Sistem Biaya Standar ( Tradisional ) ABC System


• ABC digunakan untuk laporan internal perusahaan sebagai dasar pembuatan
keputusan oleh manajemen.
• Perusahaan yang menggunakan ABC adalah perusahaan yang memproduksi
berbagai jenis barang seperti dalam perusahaan yang menggunakan job order
costing yang disebut juga sebagai Sistem tradisional ( Traditional Costing System )
• Model ABC
Pentingnya Penentuan Biaya Per Unit Produk

• Manajemen Perlu menentukan biaya per unit produk untuk berbagai kepentingan
diantaranya adalah :
1. Dasar Penentuan Harga
Dengan diketahui biaya produksi per unit, maka manajemen dapat menentukan
berapa harga jual yang layak sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian dan
dapat mencapai target keuntungan yang diharapkan.
2. Dasar Pembuatan Keputusan
Dengan mengetahui biaya produksi per unit, maka manajemen dapat
membandingkan harga jual dengan produk pesaing, sehingga menejer dapat
membuat keputusan apakah produk tersebut harus dihentikan produksinya atau
dilanjutkan secara terus menerus.
• Menghitung Biaya per unit produk :

Total BBB + Total BTKL + Total BOP


Biaya Per Unit =
Total Unit produksi
Biaya sesungguhnya dan Biaya Normal
• Biaya sesungguhnya adalah Perhitungan biaya produk atau jasa menggunakan
biaya yang sebenarnya terjadi untuk Bahan Baku, Tenaga Kerja Langsung dan
Overhead Pabrik.
• Kelemahan dari Biaya sesugguhnya :
• Biaya baru dapat diketahui jika semua tahapan produksi telah selesai dilakukan.
• Untuk mengatasi kelemahan tersebut dapat di lakukan dengan membuat
periodeisasi perhitungan biaya apakah mingguan atau bulanan. Namun
periodeisasi juga dapat menimbulkan permasalahan pada saat volume produksi
dari periode yang satu dengan periode berikutnya berbeda.
• Biaya Normal adalah Penentuan biaya produk atau jasa menggunakan biaya
sesungguhnya untuk Bahan Baku dan Tenaga Kerja Langsung, sedangkan Biaya
overhead pabrik menggunakan pembebanan yang didasarkan pada estimasi biaya
overhead yang digunakan dalam satu periode yaitu dengan menentukan tarif
overhead.
• Kesulitan dalam aplikasi biaya normal adalah adanya kecenderungan bahwa
dengan tarif yang ditentukan di muka, hasil biaya overhead yang dibebankan akan
berbeda dengan biaya overhead yang sesungguhnya terjadi.
• Terdapat dua pendekatan lain yang dapat digunakan untuk mengatasi kelemahan
penggunaan perhitungan Biaya produksi menggunakan biaya sesungguhnya dan
biaya normal yaitu Pendekatan Berbasis Unit ( Konvensional ) dan Pendekatan
Berbasis aktivitas ( Activity Based Costing )
• Pada Pendekatan Konvensional terdapat dua metode yang lazim digunakan yaitu
Metode Tarif Tunggal ( Plantwide rate ) dan Metode Tarif Departemental
(Departmental rate).
TARIF TUNGGAL
• Berdasarkan pendekatan tarif tunggal, biaya overhead diassumsikan hanya di picu
oleh satu pemicu pada semua fasilitas produksi ( pabrik ) dan produk.
• Terdapat dua tahapan dalam perhitungan biaya overhead produk, yaitu :
1. Penentuan Tarif Pembebanan Overhead
• Anggaran overhead diakumulasi menjadi satu untuk seluruh pabrik.
• Perhitungan tarif pembebanan overhead menggunakan formulasi :

Anggaran Biaya Overhead


Tarif Overhead =
Anggaran Penggunaan Aktivitas
2. Pembebanan biaya overhead
• Biaya overhead dibebankan ke dalam produk menggunakan dasar tarif yang telah ditentukan.
• Pembebanan biaya overhead ke dalam produk menggunakan formula :
• Total overhead di bebankan = Tarif overhead X aktivitas sesungguhnya
• Contoh :
• Perusahaan Petrogas menghasilkan produk Nozle Premium dan Nozle Solar. Perusahaan
tersebut data anggaran dan sesungguhnya untuk tahun 2018 sebagai berikut :
• Anggaran Biaya overhead Rp. 720.000.000
• Aktivitas yang diharapkan ( jam kerja langsung ) 200.000
• Aktivitas yang sesungguhnya ( jam kerja langsung ) 200.000
• Biaya overhead sesungguhnya Rp. 760.000.000
• Perusahaan menentukan dasar perhitungan tarif adalah jam kerja langsung.
• Data Produksi Petrogas sbb :

Keterangan Premium Solar


Biaya utama Rp. 156.000.000 Rp.1.476.000.000
Unit Produksi 20.000 200.000
Jam Kerja Langsung 20.000 180.000
Penyelesaian :

• Tarif Overhead :

Anggaran Biaya Overhead


Tarif Overhead =
Anggaran Penggunaan Aktivitas

Rp. 720.000.000
Tarif Overhead = = Rp. 3.600 /Jam Kerja Langsung
200.000

Pembebanan Overhead :
Total Overhead dibebankan = Tarif overhead X Aktivitas sesungguhnya
= Rp. 3.600 x 200.000 Jam kerja langsung
= Rp. 720.000.000
• Perhitungan Biaya Per Unit Produk dengan Metode Tarif Tunggal

Perhitungan Biaya Tarif Tunggal


Keterangan Premium Solar
Biaya Utama Rp. 156.000.000 Rp. 1.476.000.000
Biaya Overhead Dibebankan
Rp. 3.600 x 20.000 Rp. 72.000.000 -
Rp. 3.600 x 180.000 - Rp. 648.000.000
Biaya Manufaktur Total Rp. 228.000.000 Rp. 2.124.000.000
Di Bagi dengan Unit Produksi 20.000 200.000
Biaya Per Unit Rp.11.400 Rp. 10.620

JKL Premium JKL Solar


• TARIF DEPARTEMENTAL
• Berdasarkan metode ini, pembebanan biaya overhead dilakukan pada setiap
departemen dalam pabrik.
• Pembebanan dilakukan dengan asumsi bahwa setiap Departemen memiliki
pemicu biaya overhead yang berbeda dengan departemen lain.
• Tahapan Perhitungan Biaya produk :
1. Biaya overhead diseluruh pabrik di bagi dan dimasukkan ke dalam kelompok –
kelompok Departemen produksi sehingga didapatkan kelompok biaya
departemen.
• Setelah itu, dihitung tarif pembebanannya dengan menggunakan rumus :
Anggaran Biaya Overhead
Tarif Overhead =
Anggaran Penggunaan Aktivitas

2. Biaya overhead di bebankan ke produk dengan cara mengalikan antara tarif biaya
overhead departemen dan jumlah pemicu yang digunakan oleh produk
departemen tersebut.
Contoh :
• Perusahaan Petrogas Menghasilkan Produk Nozle Premium dan Nozle Solar. Untuk
menghasilkan produk tersebut , proses produksinya melalui dua Departemen yaitu
Departemen Pembentukan dan Departemen Perakitan. Di departemen Pembentukan Produk
di Cetak dan di Departemen Perakitan membuat produk jadinya. Dibawah ini disajikan data
Anggaran Biaya overhead dan Penggunaan aktivitas perusahaan Petrogas.

Keterangan Dept. Pembentukan Dept. Perakitan


Anggaran Overhead Rp. 504.000.000 Rp. 216.000.000

Aktivitas yang diharapkan dan sesungguhnya

Jam Kerja Langsung


Premium 14.000 6.000
Solar 26.000 + 154.000 +
40.000 160.000
Jam Mesin
Premium 8.000 2.000
Solar 72.000 + 18.000 +
80.000 20.000

Di Departemen Pembentukan, tarif overhead dihitung berdasarkan jam mesin.


Sementara di Departemen Perakitan Tarif Overhead berdasarkan jam kerja
langsung. Biaya utama untuk Premium Rp. 156.000.000 dengan unit produksi
20.000 dan untuk Solar Rp. 1.476.000.000 dg unit Produksi 200.000
Penyelesaian :
• Tarif Overhead :

Anggaran overhead Dept. Pembentukan


Tarif Overhead Dept. Pembentukan =
Aktivitas diharapkan Dept. Pembentukan
Tarif Overhead Dept. Pembentukan = Rp. 504.000.000 / 80.000 Jam Mesin
= Rp. 6.300 per jam mesin

Anggaran overhead Dept. Perakitan


Tarif Overhead Dept. Perakitan =
Aktivitas diharapkan Dept. Perakitan
Tarif Overhead Dept. Perakitan = Rp. 216.000.000 / 160.000 jam kerja langsung
= Rp. 1.350 per jam kerja langsung
Biaya produk per unit

Perhitungan Biaya Tarif Departemen


Keterangan Premium Solar
Biaya Utama Rp. 156.000.000 Rp.1.476.000.000
Biaya Overhead dibebankan :
1. Departemen Pembentukan
Rp. 6.300 x 8.000 Rp. 50.400.000 -
Rp. 6.300 x 72.000 - Rp. 453.600.000
2. Departemen Perakitan
Rp. 1.350 x 6.000 Rp. 8.100.000 -
Rp. 1.350 x 154.000 - Rp. 207.900.000
Total Biaya Manufaktur Rp. 214.500.000 Rp.2.138.100.000
Dibagi dg unit Produksi 20.000 200.000
Biaya Per unit Rp. 10.725 Rp. 10.690,50
Biaya Produk Kontemporer / Activity Based Costing

• Activity Based Costing ( ABC ) adalah suatu pendekatan perhitungan biaya


yang membebankan biaya sumber daya ke dalam objek biaya., seperti
produk, jasa, atau konsumen berdasarkan aktivitas yang dilakukan untuk
objek biaya.
• Berdasarkan premis tersebut terdapat dua keyakinan dasar dalam ABC,
yaitu :
1. Biaya merupakan akibat dari pelaksanaan aktivitas dan aktivitas
merupakan penyebab munculnya biaya.
2. Penyebab biaya ( yaitu aktivitas ) dapat di kelola. Untuk dapat melakukan
pengelolaan yang baik, perlu informan yang andal mengenai biaya dan
penyebabnya ( aktivitas )
• LANGKAH-LANGKAH DALAM SISTEM ACTIVITY BASED COSTING ( ABC )
1. Mengidentifikasi biaya sumber daya dan aktivitas
2. Mengalokasikan biaya ke dalam objek biaya
3. Mengalokasikan biaya aktivitas ke dalam objek biaya
1. Mengidentifikasi Biaya sumber daya dan aktivitas

• Tahap Pertama : Melakukan analisis aktivitas untuk mengidentifikasi biaya


sumber daya dan aktivitas di perusahaan.
• Dalam analisis aktivitas, beberapa pertanyaan yang lazim digunakan untuk
mengidentifikasi aktivitas diantaranya adalah :
1. Apa aktivitas atau pekerjaan yang dilakukan ?
2. Berapa lama waktu yang di butuhkan untuk melakukan aktivitas tsb ?
3. Sumber daya apa yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas tsb ?
4. Nilai ( Value ) apa yang diberikan aktivitas ini pada produk, jasa,
konsumen dan organisasi ?
• Setelah aktivitas diketahui dan diketahui biayanya, maka tahap berikutnya
adalah melakukan pengelompokan ( pool ) atas aktivitas-aktivitas yang
dianggap memiliki karakteristik sumber daya yang sama.
• Tahap Kedua : Membagi aktivitas ke dalam pool-pool aktivitas berdasarkan
kesamaan rasio konsumsi aktivitas oleh setiap produk yang sama.
2. Mengalokasikan biaya ke dalam objek biaya
• ABC mengggunakan dasar pemicu konsumsi biaya sumber daya dalam
mengalokasikan sumber daya ke dalam produk.
• Biaya Sumber daya dapat dialokasikan kedalam aktivitas berdasarkan
estimasi atau penelusuran langsung.
• Penelusuran langsung membutuhkan pengukuran sumber penggunaan
daya yang sesungguhnya.
3. Mengalokasikan biaya aktivitas ke dalam objek biaya
• Pengalokasian biaya aktivitas ke dalam objek biaya menggunakan tarif
pembebanan degan rusmus :

Anggaran biaya overhead per pool aktivitas


Tarif Overhead di bebankan =
Aktivitas di estimasi per pool

Sedangkan untuk menghitung pembebanan overhead pabrik adalah :


Total Overhead di bebankan = Tarif overhead X Aktivitas sesungguhnya
• Contoh :
• Perusahaan Petrogas menghasilkan produk Nozle Premium dan Nozle Solar.
• Data Produksi Petrogas sbb :
Keterangan Premium Solar Total
Biaya utama Rp. 156.000.000 Rp.1.476.000.000
Unit Produksi 20.000 200.000
Jam Kerja Langsung 20.000 180.000 200.000
Jam Kerja Mesin 10.000 90.000 100.000
Production run 40 20 60
Pemindahan bahan 120 60 180
• Penggunaan aktivitas yang dianggarkan dengan yang sesungguhnya dalam contoh ini
dianggap sama.
• Informasi tambahan : Terdapat empat aktivitas yang menyebabkan biaya sbb :

Aktivitas Biaya
Penggunaan kelistrikan Rp. 240.000.000
Pengujian Rp. 120.000.000
Pengesetan Rp. 200.000.000
Penanganan Bahan Rp. 160.000.000
Penyelesaian

• Pertama : Identifikasi aktivitas dan cocokkan pemicu biaya dari aktivitas


tsb.
• Dalam Kasus ini ada Empat aktivitas yaitu : Kelistrikan, pengujian,
pengesetan dan Penanganan bahan.
• Sedangkan pemicunya adalah : Jam Kerja Langsung, Jam Mesin,
Production Run dan Pemindahan Bahan.
Aktivitas Pemicu Biaya
Penggunaan kelistrikan Jam Mesin Rp. 240.000.000
Pengujian Jam Kerja langsung Rp. 120.000.000
Pengesetan Production run Rp. 200.000.000
Penanganan Bahan Pemindahan Bahan Rp. 160.000.000
Selanjutnya : menghitung Rasio Konsumsi
Rasio Konsumsi
Aktivitas Pemicu Premium Rasio Solar Rasio

Penggunaan kelistrikan Jam Mesin 10.000 : 100.000 0,10 90.000 : 100.000 0,90

Pengujian Jam Kerja langsung 20.000 : 200.000 0,10 180.000 : 200.000 0,90

Pengesetan Production run 40 : 60 0,67 20 : 60 0,33

Penanganan Bahan Pemindahan Bahan 120 : 180 0,67 60 : 80 0,33

Berikutnya : Pengelompokan Aktivitas

Kelompok Aktivitas
Keterangan Aktivitas Biaya Total Biaya per kelompok
Kelompok I Penggunaan kelistrikan Rp. 240.000.000
Rp. 360.000
Pengujian Rp. 120.000.000 ( Rp. 240.000 + Rp. 120.000 )

Kelompok II Pengesetan Rp. 200.000.000


Rp. 360.000
Penanganan Bahan Rp. 160.000.000 ( Rp.200.000 + Rp.160.000 )
• Kedua : Mengalokasikan biaya overhead ke setiap aktivitas dan terakhir
mengalokasikannye ke objek biaya.
• Tarif overhead yang di bebankan :
• Untuk menghitung tarif overhead, dipilih salah satu dari aktivitas yang ada
dikelompok tersebut dan aktivitas yang di pilih boleh sembarangan. Akan
tetapi kebiasaan Manajemen cenderung memilih aktivitas yang dominan
dalam satu kelompok.
Anggaran biaya overhead per pool aktivitas
Tarif Overhead di bebankan =
Aktivitas di estimasi per pool

Tarif Kelompok I = Rp. 360.000.000 : 200.000 Jam Kerja Langsung


= Rp. 1.800 / Jam kerja langsung

Tarif Kelompok II = Rp. 360.000.000 : 180 Pemindahan Bahan


= Rp. 2.000.000 / pemindahan bahan
Perhitungan Biaya per unit dengan metode ABC
Perhitungan Biaya per unit
Keterangan Premium Solar
Biaya Utama Rp. 156.000.000 Rp. 1.476.000.000
Biaya overhead dibebankan
Kelompok I
Rp. 1.800 x 20.000 Rp. 36.000.000 -
Rp. 1.800 x 180.000 - Rp. 324.000.000
Kelompok II
Rp. 2.000.000 x 120 Rp. 240.000.000 -
Rp. 2.000.000 x 60 - Rp. 120.000.000
Total Biaya Manufaktur Rp. 432.000.000 Rp. 1.920.000.000
Dibagi dengan unit produksi 20.000 unit 200.000 unit
Harga per unit Rp. 21.600 Rp. 9.600
BAB 6
ANALISIS HUBUNGAN BIAYA, VOLUME DAN LABA
(COST-PROFIT –VOLUME ANALYSIS)

• Analisis Biaya –Volume Laba (Analisis Titik Impas) 


• Yakni merupakan salah satu alat analisis yang dapat
digunakan untuk menghitung dampak perubahan
harga jual, volume penjualan, dan biaya terhadap
laba untuk membantu manajemen dalam
perencanaan laba jangka pendek. 
• Dengan Analisis Biaya-Volume Laba perusahaan
dapat mengambil kebijakan atau langkah-langkah
yang harus diambil dalam rangka untuk mencapai
perolehan laba yang diharapkan.
• Ada 3 (tiga) faktor yang mempengaruhi Laba :
• (1) volume produk yang dijual,
• (2) harga jual produk dan
• (3) biaya produksi

• Sebagai contoh volume produk yang dijual akan


berpengaruh terhadap volume produksi dalam artian
semakin banyak produk yang dijual maka semakin
banyak jumlah biaya produksi yang harus dikeluarkan.

• Sedangkan biaya akan menentukan harga jual produk.


Dalam penentuan harga jual tentunya perusahaan juga
harus mempertimbangkan besarnya laba yang
diharapkan.
Anggapan yang Mendasari Analisis Titik Impas

1. Variabilitas biaya dianggap akan mendekati pola perilaku yang diramalkan.


Biaya tetap akan selalu konstan dalam kisaran volume yang dipakai dalam
perhitungan impas, sedangkan biaya variabel berubah sebanding dengan
perubahan volume penjualan.
2. Harga jual produk dianggap tidak berubah-ubah pada berbagai tingkat
kegiatan.
Jika dalam usaha menaikkan volume penjualan dilakukan penurunan harga
jual atau dengan memberikan potongan harga, maka hal ini
mempengaruhi hubungan biaya, volume dan laba.
3. Kapasitas produksi pabrik dianggap secara relatif konstan.
Penambahan fasilitas produksi akan berakibat pada penambahan biaya
tetap dan akan mempengaruhi hubungan biaya-volume- laba. 
4. Harga faktor-faktor produksi dianggap tidak berubah.
Jika harga bahan baku dan tarif upah menyimpang terlalu jauh dibanding
dengan data yang dipakai sebagai dasar perhitungan impas, maka hal ini
akan mempengaruhi hubungan biaya, volume laba. 
5. Efisiensi produksi dianggap tidak berubah. 
6. Perubahan jumlah persediaan awal dan akhir dianggap tidak signifikan. 
7. Komposisi produk yang akan dijual dianggap tidak berubah.
• Pengertian Titik Impas ( Break Even Point ) :
• Adalah Keadaan yang menunjukkan bahwa Jumlah pendapatan yang
diterima perusahaan ( Pendapatan Total atau Total Revenue ) sama
dengan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan ( Biaya total atau Total
Cost ).
• Titik Impas dalam unit dg Pendekatan Laba Operasi :
• Laba operasi yang dimaksud adalah laba bersih ( Net Income )
• Rumus :
• Laba Operasi = Pendapatan Penjualan – Biaya Variabel – Biaya Tetap
• Contoh :
• PT. Gembira berencana memproduksi mesin motor untuk tahun yang akan
datang dan Direktur Keuangan telah menyiapkan laporan laba rugi
prospektif sebagai berikut :
• Penjualan ( 1.000 unit x Rp. 400.000 ) Rp. 400.000.000
• Biaya Variabel ( Rp. 325.000.000 )
• Margin Kontribusi Rp. 75.000.000
• Biaya Tetap ( Rp. 45.000.000 )
• Laba sebelum Pajak Rp. 30.000.000
• Hitunglah berapa unit penjualan yang harus di lakukan perusahaan untuk
mencapai BEP ?
• Jawab :
• Biaya Variabel / unit = Rp. 325.000.000 : 1.000 unit = Rp. 325.000
• 0 = ( Rp. 400.000 x Unit ) – ( Rp. 325.000 x Unit ) – Rp. 45.000.000
• 0 = (Rp. 75.000 x Unit ) – Rp. 45.000.000
• Rp. 75.000 x Unit = Rp. 45.000.000
• Unit = Rp. 45.000.000 / Rp. 75.000 = 600
• Pembuktian :
• Penjualan = ( 600 x Rp. 400.000 ) Rp. 240.000.000
• Biaya Variabel ( 600 x Rp. 325.000 ) ( Rp. 195.000.000 )
• Kontribusi Margin Rp. 45.000.000
• Biaya Tetap ( Rp.45.000.000 )
• Laba sebelum pajak Rp. 0
Titik Impas dengan Pendekatan Margin Kontribusi

• Margin kontribusi merupakan Pendapatan Penjualan dikurangi dengan


Biaya Variabel total ( CM = TR – TVC )
• Pada titik impas, besarnya Kontribusi Margin sama dengan besarnya biaya
tetap atau CM = TFC
• Rumus Break Even Point per unit adalah :

Total Biaya Tetap


BEP unit =
Harga jual per unit – Biaya variabel per unit
atau
Total Biaya Tetap
BEP unit =
Margin Kontribusi per unit
• Contoh :
• PT. GUNDALA berencana memproduksi mesin Diesel untuk tahun yang
akan datang dan Direktur Keuangan telah menyiapkan laporan laba rugi
prospektif sebagai berikut :
• Penjualan ( 1.000 unit x Rp. 500.000 ) Rp. 500.000.000
• Biaya Variabel ( Rp. 375.000.000 )
• Margin Kontribusi Rp. 125.000.000
• Biaya Tetap ( Rp. 80.000.000 )
• Laba sebelum Pajak Rp. 45.000.000
• Hitunglah berapa unit penjualan yang harus di lakukan perusahaan untuk
mencapai BEP ?
• Penyelesaian :
• Kontribusi margin/unit = Rp.125.000.000 : 1.000 unit = Rp. 125.000
• Atau :
• CM = Harga Jual per unit – Biaya variabel per unit
• CM = Rp. 500.000 – ( Rp. 375.000.000 : 1.000 unit ) = Rp. 125.000
Rp. 80.000.000
BEP unit =
Rp.500.000 – Rp. 375.000
Rp. 80.000.000
BEP unit =
Rp. 125.000
BEP = 640 unit
UNIT PENJUALAN UNTUK LABA YANG DITARGETKAN
• Misalkan PT. GUNDALA mentargetkan laba sebesar Rp. 80.000.000,-
• Tentukan berapa jumlah mesin Diesel yang harus dijual untuk mencapai
laba tersebut ?
• Jawab :
• Laba = ( Rp.500.000 x Unit ) – ( Rp.375.000 x Unit ) – Rp. 80.000.000
• Rp. 80.000.000 + Rp. 80.000.000 = Rp. 125.000 x Unit
• Unit = Rp. 160.000.000 : Rp.125.000
• Unit = 1.280
• Apabila menggunakan pendekatan Kontribusi Margin, maka :

Total Biaya Tetap + Target Laba


Unit =
Harga Jual per unit – Biaya variabel per unit
Rp. 80.000.000 + Rp. 80.000.000
Unit =
Rp. 500.000 – Rp. 375.000
Rp.160.000.000
Unit = = 1.280
Rp. 125.000
Pembuktian :

• Penjualan ( 1.280 x Rp. 500.000 ) Rp.640.000.000


• Biaya variabel ( 1.280 x Rp. 375.000 ) Rp.480.000.000 -
• Kontribusi Margin Rp.160.000.000
• Biaya Tetap Rp. 80.000.000 -
• Laba sebelum pajak.................................................. Rp. 80.000.000

• Laba ditargetkan dalam persentase Pendapatan Penjualan


• Diassumsikan PT. GUNDALA ingin mengetahui jumlah mesin Diesel yang
harus dijual dalam rangka memperoleh laba sebesar 20% dari pendapatan
penjualan.
Penyelesaian :
• Pendekatan Laba Operasi :
• 20% x Rp.500.000 x Unit = ( Rp.500.000 x Unit ) – ( Rp.375.000 x Unit ) – Rp. 80.000.000
• Rp. 100.000 x Unit = ( Rp.500.000 x Unit ) – ( Rp.375.000 x Unit ) – Rp. 80.000.000
• Rp. 100.000 x Unit = ( Rp. 125.000 x Unit ) – Rp. 80.000.000
• ( Rp. 100.000 x Unit ) – ( Rp. 125.000 x Unit ) = - Rp. 80.000.000
• - Rp. 25.000 x Unit = - Rp. 80.000.000
• Unit = - Rp. 80.000.000 : - Rp. 25.000
• Unit = 3.200
• Pembuktian :
• Penjualan ( 3.200 x Rp. 500.000 ) Rp. 1.600.000.000
• Biaya variabel ( 3.200 x Rp. 375.000 ) Rp. 1.200.000.000 -
• Kontribusi Margin Rp. 400.000.000
• Biaya Tetap Rp. 80.000.000 -
• Laba sebelum pajak Rp. 320.000.000
• ( Rp. 320.000.000 : Rp. 1.600.000.000 ) x 100 % = 20%
Target Laba Setelah Pajak
• Laba Bersih merupakan Laba Operasi setelah dikurangi Pajak
• Umumnya pajak dihitung sebagai persentase dari laba
• Rumus :
• Laba Bersih = Laba operasi – Pajak
• Laba Bersih = Laba Operasi – ( tarif pajak x Laba operasi )
• Laba Bersih = Laba Operasi ( 1 – Tarif pajak )
• Atau
• Laba Operasi = Laba Bersih : ( 1- Tarif pajak )
• Misalkan :
• PT. GUNDALA ingin memperoleh laba bersih sebesar Rp. 75.000.000,- dan
tarif pajak yang berlaku adalah 25%.
• Konversi taget laba setelah pajak ke dalam target laba sebelum pajak :
• Laba Operasi = Rp.75.000.000 : ( 1 – 0,25 )
• Laba Operasi = Rp.75.000.000 : 0,75
• Laba Operasi = Rp. 100.000.000
• Untuk memperoleh Laba bersih Rp. 75.000.000, maka PT GUNDALA harus
memperoleh laba Operasi sebesar RP. 100.000.000
• Agar memperoleh laba bersih Rp. 75.000.000,- berapa unit mesin Diesel
yang harus di jual oleh PT. GUNDALA ?
• Unit = ( Total Biaya Tetap + Laba Operasi ): Kontribusi Margin per unit
• Unit = ( Rp. 80.000.000 + Rp. 100.000.000 ) : Rp. 125.000
• Unit = Rp.180.000.000 : Rp. 125.000
• Unit = 1.440
• Pembuktian :
• Penjualan ( 1.440 x Rp. 500.000 ) Rp. 720.000.000
• Biaya Variabel ( 1.440 x Rp. 375.000 ) Rp. 540.000.000 -
• Kontribusi Margin Rp. 180.000.000
• Biaya Tetap Rp. 80.000.000 -
• Laba sebelum Pajak Rp. 100.000.000
• Pajak 25 % x Rp. 100.000.000 Rp. 25.000.000 -
• Laba bersih setelah pajak Rp. 75.000.000
TITIK IMPAS DALAM RUPIAH PENJUALAN
• Untuk menghitung titik impas dalam rupiah penjualan, biaya variabel
dinyatakan dalam persentase dari penjualan, bukan dalam jumlah per unit
penjualan.
• Hubungan antara Pendapatan, Biaya Variabel, Margin Kontribusi dan Biaya
Tetap.

Harga
Rp. 10.000

CM

Rp. 6.000

Pendapatan

VC

0 1 10 Unit
• Pada gambar peraga di atas harga adalah sebesar Rp. 10.000
dan biaya variabel Rp. 6.000 dan sisanya adalah Margin
Kontribusi sebesar Rp. 4.000
• Setiap unit penjualan yang menghasilkan pendapatan Rp.
10.000 dan biaya variabel sebesar Rp. 6.000,- dapat dikatakan
bahwa 60 % untuk setiap pendapatan yang diperoleh
digunakan untuk menutup biaya variabel.
• Angka 60 % disebut Rasio Biaya Variabel ( Variable Cost
Ratio/VCR )
• Sisanya sebesar 40% disebut Rasio Kontribusi Margin ( Margin
Contribution Ratio / MCR )
• Rasio Kontribusi margin adalah Proporsi setiap rupiah
penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan
menghasilkan laba.
Contoh :

• Dibawah ini adalah informasi penjualan , biaya serta laba PT. GEMA :
Keterangan Rupiah Persentas
e
Penjualan Rp.400.000.000 100
Biaya variabel (Rp. 325.000.000) ( 81,25 )
Margin Kontribusi Rp. 75.000.000 18,75
Biaya tetap ( Rp. 45.000.000)
Laba Rp. 30.000.000

• Berdasarkan informasi diatas, hitunglah berapa pendapatan penjualan


PT.GEMA pada saat mencapai titik impas ?
Jawab
• Menggunakan Rumus Laba Operasi :
• Laba Operasi = Penjualan – Biaya Variabel – Biaya Tetap
• 0 = Penjualan – ( VCR x Penjualan ) – Biaya Tetap
• 0 = Penjualan ( 1 – VCR ) – Biaya Tetap
• 0 = Penjualan ( 1 – 0,8125 ) – Rp. 45.000.000
• 0 = Penjualan ( 0,1875 ) – Rp. 45.000.000
• Penjualan ( 0,1875 ) = Rp. 45.000.000
• Penjualan = Rp. 45.000.000 / 0,1875
• Penjualan = Rp. 240.000.000
• Atau menggunakan Rumus :
• Penjualan impas = Total Biaya Tetap/ Rasio Kontribusi Margin
• Penjualan impas = Rp.45.000.000 / 0,1875
• Penjualan impas = Rp. 240.000.000
• Seandainya muncul pertanyaan berapakah pendapatan penjualan yang
harus di capai PT.GEMA agar perusahaan dapat memperoleh laba sebelum
pajak sebesar Rp. 60.000.000,- ?
• Jawab :
• Penjualan = ( Biaya tetap + target laba ) : Rasio Kontribusi Margin
• Penjualan = ( Rp.45.000.000 + Rp. 60.000.000 ) : 0,1875
• Penjualan = Rp.105.000.000 : 0,1875
• Penjualan = Rp.560.000.000,-
• Perkalian rasio margin kontribusi dengan pendapatan penjualan di atas titik
impas akan menghasilkan laba.
• Pendapatan penjualan di atas titik impas adalah ( Rp. 560.000.000 – Rp.
240.000.000 ) = Rp. 320.000.000
• 0,1875 x Rp. 320.000.000 = Rp. 60.000.000
• Ini diartikan bahwa setiap rupiah penjualan yang diperoleh diatas titik
impas akan meningkatkan laba sebesar Rp. 0,1875
• Apabila pendapatan penjualan yang diperoleh adalah sebesar Rp.
540.000.000,- bukan Rp. 560.000.000,-
• Dampak penurunan penjualan sebesar Rp.20.000.000,- akan berakibat
pada penurunan laba sebesar Rp.0,1875 x Rp. 20.000.000,- = Rp. 3.750.000
Analisis Multi Produk
• Misalkan PT. GEMA memutuskan untuk menawarkan 2 model mesin
motor, yaitu mesin motor A yang dijual dengan harga Rp. 400.000 per unit
dan mesin motor B dengan harga Rp.800.000 per unit. Biaya variabel per
unit mesin motor A adalah Rp. 325.000 dan Biaya Variabel per unit mesin
motor B adalah Rp.600.000,- Departemen Pemasaran memperkirakan
dapat menjual mesin motor A sebanyak 1.200 unit dan mesin motor B
sebanyak 800 unit untuk tahun yang akan datang. Proyeksi laba
berdasarkan taksiran penjualan adalah sbb :
Keterangan Mesin motor A Mesin motor B Total
Penjualan Rp.480.000.000 Rp.640.000.000 Rp.1.120.000.000
Biaya variabel (Rp.390.000.000) (Rp.480.000.000) (Rp. 870.000.000)
Margin Kontribusi Rp.90.000.000 Rp. 160.000.000 Rp. 250.000.000
Biaya Tetap langsung (Rp. 30.000.000) (Rp. 40.000.000) (Rp. 70.000.000)
Laba Produk Rp.60.000.000 Rp.120.000.000 Rp.180.000.000
Biaya tetap bersama (Rp. 26.250.0000
Laba sebelum pajak Rp.153.750.000
Penyelesaian

• Tentukan Titik Impas masing-masing produk :


• Rumus :
BEP unit = Biaya Tetap Langsung : ( harga per unit – biaya variabel per unit )
• Titik Impas mesin motor A
• BEP = Rp. 30.000.000 : ( Rp.400.000 – Rp. 325.000 )
• = Rp. 30.000.000 : Rp.75.000
• = 400 unit
• Titik Impas mesin motor B
• BEP = Rp. 40.000.000 : ( Rp. 800.000 – Rp. 600.000 )
• = Rp. 40.000.000 : Rp.200.000
• = 200 unit
• Akan tetapi titik impas sebanyak 400 unit untuk mesin A dan 200 unit
untuk mesin B hanya untuk menutupi biaya tetap langsung, sedangkan
biaya tetap bersama belum termasuk yang ditutupi.
• Untuk mengatasi kesulitan tersebut dilakukan dengan cara
mengidentifikasi bauran penjualan ( Sales Mix )
• Bauran penjualan dapat di ukur dalam unit penjualan atau proporsi
pendapatan.
• Dari contoh di atas, bauran penjualan mesin motor A sebanyak 1.200 unit
dan mesin motor B sebanyak 800 unit adalah 1.200 : 800 atau
disederhanakan menjadi 3 : 2
• Atau
• Bauran penjualan dengan persentase pendapatan Total yang dikontribusi
oleh masing-masing produk, maka :
• Mesin motor A = (Rp.480.000.000 : Rp. 1.120.000.000 ) x 100%
• = 42,86%
• Mesin motor B = ( Rp. 640.000.000 : Rp. 1.120.000.000 ) x 100%
• = 57,14 %
• Pada Bauran penjualan dalam unit adalah 3:2, atau untuk setiap penjualan
3 unit mesin motor A, akan di ikuti dengan penjualan 2 unit mesin motor B
• Maka untuk penjualan sebanyak 5 unit mesin motor PT. GEMA terdiri dari
60% ( 3:5 ) adalah penjualan mesin motor A dan 40 % ( 2:5 ) adalah
penjualan mesin motor B.
• Penentuan nilai paket Bauran penjualan :
Margin Margin
Harga jual per Biaya variabel Bauran
Produk unit per unit Kontribusi per penjualan Kontribusi per
unit paket
(1) (2) (3) (4) (5) ( 6 )= 4 x 5
Mesin Motor A Rp. 400.000 Rp. 325.000 Rp.75.000 3 Rp.225.000
Mesin Motor B Rp. 800.000 Rp. 600.000 Rp.200.000 2 Rp.400.000
Paket Total Rp.625.000

Berdasarkan margin kontribusi di atas, maka titik impas dari bauran penjualan adalah :
Total Biaya Tetap = Rp. 70.000.000 + Rp. 26.250.000 = Rp. 96.250.000,-
Titik Impas Paket adalah :
BEP paket = Total Biaya Tetap : Margin Kontribusi per Paket
= Rp. 96.250.000 : Rp.625.000
= 154 Paket.
Jadi PT. GEMA harus menjual mesin motor A sebanyak 462 unit ( 154 x 3 ) dan mesin
motor B sebanyak 308 unit ( 154 x 2 )
• Pembuktian :
Keterangan Mesin motor A Mesin Motor B Total
Penjualan Rp.184.800.000 Rp.246.400.000 Rp.431.200.000
Biaya Variabel (Rp.150.150.000) (Rp.184.800.000) (Rp.334.950.000)
Margin Kontribusi Rp. 34.650.000 Rp. 61.600.000 Rp. 96.250.000
Biaya tetap langsung (Rp.30.000.000) (Rp.40.000.000) (Rp.70.000.000)
Laba Segmen Rp. 4.650.000 Rp. 21.600.000 Rp. 26.250.000
Biaya tetap bersama - - Rp. 26.250.000
Laba sebelum pajak Rp. 0

Jadi titik Impas dalam Rupiah Penjualan adalah sbb :


Penjualan Impas = Total Biaya Tetap : Rasio Margin Kontribusi
= Rp. 96.250.000 : (Rp.250.000.000 : Rp.1.120.000.000 )
= Rp. 96.250.000 : 0,2232
= Rp.431.228.000
PENYAJIAN HUBUNGAN BIAYA, VOLUME DAN LABA DALAM BENTUK GRAFIK
• Grafik volume-laba merupakan grafik tentang persamaan laba operasi.
• Laba Operasi = ( Harga jual per unit x Jumlah unit ) – ( Biaya variabel per
unit x Jumlah unit ) – Biaya Tetap
• Laba operasi merupakan variabel Dependen dan unit penjualan
merupakan variabel independen
• Misalkan :
• PT. BENTO menghasilkan suatu produk tunggal dengan data biaya dan
harga jual sbb :
• Biaya Tetap Total........................Rp.100.000
• Biaya variabel per unit...............Rp. 5.000
• Harga jual per unit......................Rp. 10.000
• Laba Operasi dapat dihitung sbb :
• Laba Operasi = ( Rp. 10.000 x Jumlah unit ) – ( Rp.5.000 x Jumlah unit ) –
• Rp. 100.000
• = ( Rp. 5.000 x Jumlah unit ) – Rp. 100.000
• Hubungan di antara Biaya, Volume dan Laba dapat di buat grafiknya sbb:
Laba atau Rugi
Laba = Rp.5X – Rp.100

100

0
20 40 Unit di jual

-100 ( 0, -Rp.100 )
Assumsi-assumsi dalam analisis Biaya, Volume dan Laba

1. Fungsi biaya dan Pendapatan bersifat linear


2. Harga, biaya tetap total dan biaya variabel per unit
dapat diidentifikasi secara akurat dan akan selalu
konstant selama dalam kisaran relevan
( relevan Range )
3. Jumlah yang diproduksi sama dengan jumlah yang
dijual
4. Untuk analisis multi produk, bauran penjualan
diassumsikan telah diketahui sebelumnya
5. Harga jual dan biaya diassumsikan telah diketahui
dengan pasti
Grafik Biaya - Volume - Laba

Pendapatan atau Biaya ( Dlm ribuan ) Laba = Rp.5X – Rp.100

Pendapatan Total

400
Laba
Biaya Total

300

200 Biaya Variabel


Titik Impas

100
Rugi
Biaya Tetap

0 20 40 Unit di Jual
• A, 27-11
• B, 28 - 11
PERUBAHAN DLM VARIABEL BIAYA-VOLUME-LABA
• Perusahaan juga harus mempertimbangkan berbagai kemungkinan risiko dan
ketidakpastian, terutama terhadap dampak perubahan harga, margin kontribusi per
unit dan biaya tetap terhadap titik impas.
• Misalkan PT. GEMA sedang melakukan studi pasar yang menunjukkan tiga alternatif
yang berbeda sbb :
• Alternatif 1
• Apabila perusahaan merencanakan untuk beriklan dengan biaya sebesar Rp. 8.000.000,
maka diperkirakan penjualan akan meningkat dari 1.600 unit menjadi 1.725 unit
• Alternatif 2
• Apabila perusahaan merencanakan untuk menurunkan harga jual per unit dari Rp.
400.000 menjadi Rp.375.000 per mesin motor, maka diperkirakan penjualan akan
meningkat dari 1.600 unit menjadi 1.900 unit
• Alternatif 3
• Apabila perusahaan merencanakan untuk menurunkan harga jual per unit dengan
harga Rp.375.000 dan beriklan dengan biaya sebesar Rp. 8.000.000, maka diperkirakan
penjualan akan meningkat dari 1.600 unit menjadi 2.600 unit.
• Apakah PT.GEMA harus mempertahankan harga dan kebijakan iklan saat ini atau harus
memilih salah satu diantara tiga alternatif sebagaimana dijelaskan dari hasil studi di
atas ?
• Dibawah ini adalah informasi penjualan , biaya serta laba PT. GEMA
dengan jumlah unit terjual sebanyak 1.000 unit :
Keterangan Rupiah
Penjualan Rp.400.000.000
Biaya variabel (Rp. 325.000.000)
Margin Kontribusi Rp. 75.000.000
Biaya tetap ( Rp. 45.000.000)
Laba Rp. 30.000.000

• Penyelesaian
• Diketahui :
• Harga jual / unit Rp.400.000 ( 400.000.000 : 1.000 unit )
• Biaya variabel per unit Rp. 325.000 ( 325.000.000 : 1.000 unit )
• Margin kontribusi per unit Rp. 75.000 ( 75.000.000 : 1.000 unit )
Penyelesaian :
• Alternatif 1
No Keterangan Sebelum beriklan Setelah beriklan
1. Unit Penjualan 1.600 1.725
2. Margin Kontribusi per unit Rp.75.000 Rp.75.000
3. Margin Kontribusi Total = ( 1 x 2 ) Rp.120.000.000 Rp.129.375.000
4. Biaya Tetap (Rp.45.000.000 ) (Rp.53.000.000 )*
5. Laba Rp.75.000.000 Rp.76.375.000
No Keterangan Perbedaan laba
1. Perubahan volume penjualan 125
2. Margin kontribusi per unit Rp.75.000
3. Margin Kontribusi total = ( 1 x 2 ) Rp. 9.375.000
4. Dikurangi : Kenaikan biaya tetap ( biaya iklan ) (Rp.8.000.000)
Kenaikan Laba Rp. 1.375.000
Ket : * Rp.53.000.000 = Rp.45.000.000 + Rp. 8.000.000 ( biaya iklan )
Penyelesaian :
• Alternatif 2
No Keterangan Sebelum Perubahan Setelah
harga perubahan harga
1. Unit Penjualan 1.600 1.900
2. Margin Kontribusi per unit Rp.75.000 Rp.50.000 *
3. Margin Kontribusi Total = ( 1 x 2 ) Rp.120.000.000 Rp.95.000.000
4. Biaya Tetap (Rp.45.000.000 ) (Rp.45.000.000 )
5. Laba Rp.75.000.000 Rp.50.000.000
No Keterangan Perbedaan laba
1. Perubahan margin kontribusi ( 95.000.000 – 120.000.000 ) (Rp. 25.000.000)
2. Dikurangi : Perubahan biaya tetap -
3. Penurunan Laba (Rp. 25.000.000 )
Ket : * Rp.50.000 = ( Rp. 375.000 – Rp. 325.000 )

Harga jual / Unit VC / Unit


Penyelesaian :
• Alternatif 3
No Keterangan Sebelum Perubahan Setelah perubahan
harga dan iklan harga dan iklan
1. Unit Penjualan 1.600 2.600
2. Margin Kontribusi per unit Rp.75.000 Rp.50.000 *
3. Margin Kontribusi Total = ( 1 x 2 )
Rp.120.000.000 Rp.130.000.000
4. Biaya Tetap (Rp.45.000.000 ) (Rp.53.000.000 )**
5. Laba Rp.75.000.000 Rp.77.000.000
No Keterangan Perbedaan laba
1. Perubahan margin kontribusi ( 130.000.000 – 120.000.000 ) Rp. 10.000.000
2. Dikurangi : Perubahan biaya tetap Rp. 8.000.000
3. Kenaikan/peningkatan Laba Rp. 2.000.000
Ket : * Rp.50.000 = ( Rp. 375.000 – Rp. 325.000 )
** Rp. 53.000.000 = Rp.45.000.000 + Rp.8.000.000 ( iklan )
RISIKO DAN KETIDAKPASTIAN
• Terdapat beberapa metode yang digunakan manager dalam menghadapi
masalah risiko dan ketidakpastian yaitu Margin of Safety ( margin aman )
dan Operating Leverage ( pengungkit operasi ).
• Margin of Safety adalah:
• Unit penjualan atau yang diharapkan dapat dijual diatas volume Impas, atau
Pendapatan yang diperoleh atau diharapkan akan diperoleh diatas volume
impas.
• Contoh :
• Apabila volume impas perusahaan X adalah 200 unit, dan saat ini
perusahaan berhasil menjual 500 unit, maka Margin of Safety adalah 300
unit ( 500 unit – 200 unit ).
• Apabila penjualan Impas adalah Rp. 200.000.000 dan perkiraan pendapatan
penjualan adalah Rp.350.000.000, maka Margin of Safety adalah
Rp. 150.000.000 ( Rp.350.000.000 – Rp. 200.000.000 )
• Operating Leverage :
• Dalam ilmu fisika leverage adalah suatu mesin sederhana yang dapat
melipatgandakan kekuatan.
• Dalam istilah keuangan Operating Leverage berhubungan dengan bauran
relatif biaya tetap dan biaya variabel dalam suatu organisasi
• Dalam situasi tertentu terjadi kondisi yang saling berlawanan ( trade off )
antara biaya tetap dan biaya variabel.
• Apabila biaya variabel turun, margin kontribusi per unit akan naik.
• Operating leverage merupakan penggunaan biaya tetap untuk
meningkatkan persentase laba yang lebih besar sebagai akibat penurunan
penjualan.
• Semakin tinggi tingkat operating leverage, semakin besar dampak
perubahan tingkat aktivitas penjualan terhadap laba.
• Tingkat Pengungkit Operasi ( Degree of Operating Leverage )
• Adalah untuk mengukur tingkat penjualan tertentu dengan
menggunakan rasio margin kontribusi terhadap laba.
• Rumus :
• Degree of Operating Leverage ( DOL ) = Margin Kontribusi : Laba
• Apabila biaya tetap digunakan untuk menurunkan biaya
variabel sehingga margin kontribusi akan meningkat dan laba
akan turun, maka Degree of Operating Leverage akan
meningkat.
• Peningkatan ini merupakan petunjuk terhadap terjadinya
peningkatan risiko.
Contoh :

• PT. ANGSA sedang merencanakan untuk menambah suatu lini produk.


Dalam penambahan lini produk tersebut perusahaan dapat memilih untuk
mengandalkan pada sistem Automasi atau sistem yang mengandalkan
pada tenaga kerja manusia ( sistem manual ). Apabila perusahaan memilih
sistem Automasi dibandingkan sistem manual, maka biaya tetap akan
lebih tinggi dan biaya variabel per unit akan lebih rendah. Data relevan
untuk tingkat penjualan 10.000 unit adalah sbb:
Keterangan Sistem Automasi Sistem Manual
Penjualan Rp. 1.000.000.000 Rp. 1.000.000.000
Biaya Variabel ( Rp.500.000.000 ) ( Rp.800.000.000 )
Margin Kontribusi Rp. 500.000.000 Rp. 200.000.000
Biaya Tetap ( Rp. 375.000.000 ) ( Rp.100.000.000 )
Laba sebelum pajak Rp. 125.000.000 Rp. 100.000.000

Harga Jual per unit Rp. 100.000 Rp. 100.000


Biaya Variabel per unit Rp. 50.000 Rp. 80.000
Margin Kontribusi per unit Rp. 50.000 Rp. 20.000
• Degree of Operating Leverage ( DOL ) untuk sistem Automasi adalah :
• Rumus : DOL = Margin Kontribusi : Laba
• Rp. 500.000.000 : Rp. 125.000.000 = 4,00
• Sedangkan Degree of Operating Leverage untuk sistem Manual adalah :
• Rp. 200.000.000 : Rp. 100.000.000 = 2,00
• Apa yang akan terjadi terhadap laba seandainya masing-masing alternatif
sistem apabila penjualan meningkat sebesar 40% ?
• Berdasarkan informasi di atas, maka laporan L/R setelah penjualan
meningkat 40% adalah sbb :

Keterangan Sistem Automasi Sistem Manual


Penjualan Rp.1.400.000.000 Rp.1.400.000.000
Biaya Variabel ( Rp.700.000.000 ) ( Rp.1.120.000.000 )
Margin Kontribusi Rp. 700.000.000 Rp. 280.000.000
Biaya Tetap ( Rp.375.000.000 ) ( Rp. 100.000.000 )
Laba sebelum pajak Rp. 325.000.000 Rp. 180.000.000

1.000.000.000 + (1.000.000.000 X 40% ) 500.000.000 + (500.000.000 X 40% ) Tidak berubah


• Laba untuk sistem Automasi meningkat sebesar Rp. 200.000.000 ( dari 125 jt
menjadi 325 jt ) atau laba naik sebesar 160 %.
• Pada Sistem Manual laba meningkat hanya sebesar Rp. 80.000.000 ( dari 100
jt menjadi 180 jt ) atau laba naik sebesar 80 %.
• Sistem Automasi mengalami kenaikan persentase yang lebih tinggi karena
memiliki Degree of Operating Leverage yang lebih tinggi. ( DOL sistem
automasi = 4 , sedangkan DOL Sistem manual = 2 )
• BEP unit = ( FC : Margin Kontribusi/unit ) x 1 unit
• Titik Impas untuk sistem Automasi adalah :
• BEP = (Rp. 375.000.000 : Rp. 50.000) x 1 unit = 7.500 unit
• Titik Impas untuk Sistem Manual adalah :
• BEP = ( Rp. 100.000.000 : Rp.20.000 ) x 1 unit = 5.000 unit
• Oleh karena itu Sistem Automasi mempunyai risiko yang lebih tinggi, karena
jumlah penjualan untuk mencapai titik impas lebih tinggi dibandingkan
dengan sistem manual.
BAB 7
MANAJEMEN PERSEDIAAN

• Persediaan/ Inventori (Inventory) adalah persediaan atau stok


berbagai item atau sumber-sumber yang digunakan dalam
organisasi.
• Sistim Inventori adalah seperangkat kebijakan dan pengendalian
yang memantau tingkat persediaan dan menentukan berapa
tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus
ditambah, dan seberapa besar pesanan harus dibuat.
• Persediaan didefinisikan sebagai barang, bahan-bahan, atau
asset yang dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan di masa
yang akan datang.
• Kebijakan persediaan dapat dipandang sebagai masalah taktis
(tactical problem), sehingga kebutuhan persediaan direncanakan
dalam kontek jangka waktu selaras dengan keseluruhan rencana
produksi, strategi pemasaran dan distribusi.
Pendekatan Metode Manajemen Persediaan

• Dalam mengelola persediaan, manajemen bisa


menggunakan salah satu dari beberapa metode
yang sering digunakan dibawah ini :
• Metode EOQ (economic order quantity)
• Metode MRP (material Requirement planning)
• Metode JIT (just in time)
• Metode analisa ABC
Model Persediaan

Jumlah Pemakaian Persediaan

Persediaan Maksimum = Q

1.000

500 Rata-rata = Q/2

Persediaan
Minimum 0
Waktu pemakaian persediaan sampai habis ? Waktu
• Persediaan dalam perusahaan manufaktur
diklasifikasikan menjadi :
 persediaan bahan baku (raw materials),
 produk jadi (finished products),
 komponen (component parts),
 bahan penolong (supplies) dan
 barang dalam proses ( work in process).
• Perusahaan dapat saja menyelenggarakan
persediaan dalam jumlah yang besar, namun
demikian persediaan yang besar tidak selalu
menguntungkan perusahaan, sehingga jumlah
persediaan perlu dikendalikan.
Fungsi Pengendalian Persediaan/ Inventori
• Fungsi pengendalian persediaan pada suatu
perusahaan antara lain adalah:
1. Menghindari keterlambatan pengiriman
2. Menghindari ada material/part yang rusak
3. Menghindari kenaikan harga
4. Mendapatkan diskon bila membeli dalam
jumlah tertentu
5. Menjamin kelangsungan produksi
• Manajemen persediaan penting untuk membentuk keunggulan kompetitif
jangka panjang.
• Tingkat persediaan mempengaruhi harga jual, kualitas, perekayasaan
produk, kapasitas menganggur, waktu lembur, kemampuan merespon
permintaan pelanggan, waktu tunggu dan profitabilitas secara
keseluruhan.
• Apabila permintaan terhadap persediaan yang diperoleh dari pemasok
dapat diketahui dengan pasti untuk suatu periode tertentu, maka biaya
yang berhubungan dengan persediaan yaitu : Biaya Pemesanan ( Ordering
cost ) dan biaya penyimpanan ( Carrying cost ).
• Apabila persediaan di produksi secara internal maka terdapat dua jenis
biaya yaitu : biaya set up dan biaya penyimpanan.
• Biaya Pemesanan adalah Biaya untuk memesan dan menerima pesanan.
• Misalnya : Biaya pemrosesan suatu pesanan, biaya assuransi pengiriman
bahan yang dipesan dan biaya bongkar muat.
• Biaya Setup ( Setup cost ) adalah biaya untuk menyiapkan peralatan dan
fasilitas agar dapat digunakan untuk memproduksi suatu produk atau
komponen tertentu.
• Misalnya : Upah karyawan produksi menganggur, biaya fasilitas produksi
menganggur dan biaya pengujian.
• Biaya Penyimpanan adalah biaya yang timbul karena penyimpanan persediaan.
• Misalnya : Biaya assuransi persediaan, biaya karena barang ketinggalan jaman,
biaya kesempatan karena modal tertanam dalam persediaan, biaya penanganan
bahan dan biaya ruang penyimpanan.
• Jika permintaan tidak diketahui dengan pasti, maka biaya yang muncul adalah
biaya stockout
• Biaya stockout ( biaya kehabisan sediaan ) adalah biaya yang terjadi karena
tidak tersedianya produk yang dipesan oleh pelanggan.
• Misalnya, hilangnya penjualan sekarang dan masa yang akan datang, biaya
penghentian produksi dan biaya untuk mempercepat aktivitas memenuhi
pesanan pelanggan yang meliputi biaya pengiriman yang meningkat dan biaya
lembur.
ECONOMIC ORDER QUANTITY ( EOQ )
• Menurut Heizer dan Render (2011:68) EOQ (Economical Order Quantity)
adalah salah satu teknik pengendalian persediaan yang paling tua dan
terkenal secara luas, metode pengendalian persediaan ini menjawab 2
(dua) pertanyaan penting yaitu :

•     1. Kapan harus memesan dan


•     2. Berapa banyak harus memesan.

• Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa metode EOQ berusaha


mencapai tingkat persediaan yang seminimum mungkin dengan biaya
rendah.
• Dengan menggunakan metode EOQ, suatu perusahaan akan mampu
meminimalisasi terjadinya out of stock sehingga tidak mengganggu proses
produksi dalam perusahaan dan mampu menghemat biaya persediaan
karena adanya efisiensi persediaan bahan baku di perusahaan yang
bersangkutan
• Dengan adanya penerapan metode EOQ, perusahaan akan mampu mengurangi
biaya penyimpanan, penghematan ruang, baik untuk ruangan gudang dan ruangan
kerja, menyelesaikan masalah–masalah dari persediaan yang menumpuk sehingga
mengurangi risiko yang dapat timbul karena persediaan yang ada di gudang.
• Analisis EOQ ini dapat digunakan dengan mudah dan praktis untuk merencanakan
berapa kali suatu bahan di beli dan dalam kuatitas berapa kali pembelian
• Faktor Persediaan Bahan Baku
• Menurut Ahyari (2002:163) untuk dapat mencapai tujuan tersebut maka
perusahaan harus memenuhi beberapa faktor tentang persediaan bahan baku.
Adapun faktor-faktor tersebut adalah:
1. Perkiraan penggunaan
• Sebelum kegiatan pembelian bahan baku dilaksanakan, maka manajemen harus
dapat membuat perkiraan bahan baku yang akan dipergunakan didalam proses
produksi pada suatu periode.
• Perkiraan bahan baku ini merupakan perkiraan tentang berapa besar jumlahnya
bahan baku yang akan dipergunakan oleh perusahaan untuk keperluan produksi
pada periode yang akan datang.
2. Harga dari bahan
• Harga bahan baku yang akan dibeli menjadi salah satu faktor penentu pula dalam
kebijaksanaan persediaan bahan. Harga bahan baku ini merupakan dasar penyusunan
perhitungan berapa besar dana perusahaan yang harus disediakan untuk investasi dalam
persediaan bahan baku tersebut. Sehubungan dengan masalah ini, maka biaya modal (cost of
capital) yang dipergunakan dalam persediaan bahan baku tersebut harus pula diperhitungkan.
3. Biaya-biaya persediaan
• Biaya-biaya untuk menyelenggarakan persediaan bahan baku ini sudah selayaknya
diperhitungkan pula didalam penentuan besarnya persediaan bahan baku. Dalam
hubungannya dengan biaya-biaya persediaan ini, maka digunakan data biaya persediaan yaitu:
•     a. Biaya penyimpanan (holding cost / carrying cost)
•     b. Biaya pemesanan atau pembelian (ordering cost/procurement cost)
4. Pemakaian senyatanya
• Pemakaian / penggunaan bahan baku senyatanya dari periode-periode yang lalu (actual
demand) merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena untuk keperluan proses
produksi akan dipergunakan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam pengadaan bahan
baku pada periode berikutnya. Seberapa besar penyerapan bahan baku oleh proses produksi
perusahaan serta bagaimana hubungannya dengan perkiraan penggunaan yang sudah disusun
harus senantiasa dianalisa.
5. Waktu tunggu (lead time)
• Waktu tunggu (lead time) adalah tenggang waktu yang diperlukan (yang terjadi) antara
saat pemesanan bahan baku dengan datangnya bahan baku itu sendiri. Waktu tunggu ini
perlu diperhatikan karena sangat erat hubungannya dengan penentuan saat pemesanan
kembali (reorder point). Dengan waktu tunggu yang tepat maka perusahaan akan dapat
membeli pada saat yang tepat pula, sehingga resiko penumpukan persediaan atau
kekurangan persediaan dapat ditekan seminimal mungkin.
6. Model Pembelian Bahan
• Manajemen perusahaan harus dapat menentukan model pembelian yang paling sesuai
dengan situasi dan kondisi bahan baku yang dibeli, yaitu model pembelian yang optimal
atau Economic Order Quantity (EOQ).
7. Persediaan Pengaman (safety stock)
• Persediaan pengaman merupakan suatu persediaan yang dicadangankan sebagai
pengaman dari kelangsungan proses produksi perusahaan. Persediaan pengaman
diperlukan karena dalam kenyataannya jumlah bahan baku yang diperlukan untuk proses
produksi tidak selalu tepat seperti yang direncakan. 
8. Pemesanan Kembali (reorder point)
• Reorder point adalah saat atau waktu tertentu di mana perusahaan harus mengadakan
pemesanan bahan baku kembali, sehingga datangnya pemesanan tersebut tepat dengan
habisnya bahan baku yang dibeli, khususnya dengan menggunakan metode EOQ.
• Metode EOQ bisa dikatakan metode pemesanan yang paling
optimal dan ekonomis karena jumlah yang dipesan bisa
memenuhi kebutuhan dengan mengeluarkan biaya yang paling
rendah.
• Namun Metode EOQ berlaku hanya jika:
1.Biaya pemesanan jumlahnya selalu sama
2.Item barang yang dipesan tidak tergantung pada barang lain
(independen)
3.Pesanan telah diterima dengan pasti
4.Jumlah kebutuhan bahan baku sudah bisa ditentukan dan pasti
5.Biaya pemeliharaan persediaan per unit sama
6.Harga barang tidak berubah (konstan)
7.Ketersedaiaan barang tidak terbatas
8.Barang tidak cepat rusak 
9.Jumlah kebutuhan stabil
Total Inventory Cost ( TIC )
• Dari keempat jenis biaya persediaan tersebut di atas, yang digunakan
dalam perhitungan biaya persediaan (Total Inventory Cost / TIC) adalah
Ordering Cost (Co) dan Holding Cost (Ch)
• TIC secara matematis dinyatakan sebagai berikut:

• dimana
• TIC    : Total Inventory Cost
• Q/2    : persediaan rata-rata
• R/Q    : frekuensi pemesanan
• Ch : biaya penyimpanan per unit barang per satu satuan waktu
• Co   : biaya pemesanan setiap kali pesan
• TIC minimum akan terjadi pada tingkat jumlah pembelian yang paling ekonomis atau disebut Economic Order Quantity.

Biaya
minimum

EOQ
• Sedang untuk menghitung Total Biaya Anual (TAC( sering
juga disingkat TC adalah sebagai berikut:

• Dimana
D = R = Kebutuhan satu tahun
C = P = Harga perolehan barang
S= Cs = Co = Biaya Pesan setiap kali pesan
H = Ch = Biaya Simpan per unit
• Biaya simpan per unit barang per satu satuan waktu memiliki
hubungan yang positif terhadap jumlah barang yang dipesan.
• Artinya, semakin banyak barang yang dipesan dalam setiap kali
pesan, semakin banyak barang yang disimpan, semakin besar pula
biaya simpan yang ditanggung.
• Sebaliknya biaya pemesanan setiap kali pesan memiliki hubungan
yang negatif terhadap jumlah barang yang dipesan.
• Artinya, semakin banyak barang yang dipesan dalam setiap kali
pesan, semakin kecil frekuensi pembelian, semakin rendah pula
biaya pemesanan yang harus ditanggung perusahaan.
• Dengan kata lain bahwa biaya pesan memiliki hubungan yang positif
terhadap frekuensi pemesanan.
Economic Order Quantity ( EOQ )
• EOQ adalah volume pembelian yang paling ekonomis
untuk dilaksanakan pada setiap kali pembelian.
Secara matemastis dinyatakan sebagai berikut:

• dimana
• R    : kebutuhan bahan mentah satu tahun
Co : Ordering Cost setiap kali pesan
Ch : Holding Cost per unit per satu satuan waktu
• Model EOQ di atas dikembangkan dengan asumsi:
 Hanya ada satu jenis/item persediaan yang hendak
direview.
 Seluruh jumlah bahan mentah yang dipesan datang
pada satu titik waktu tertentu.
 Permintaan akan bahan bersifat konstan atau
mendekati tingkat konstan.
 Lead time konstan.
 Holding cost didasarkan pada rata-rata persediaan
 Ordering atau setup cost konstan
 Tidak terjadi kehabisan bahan.
 Tidak ada pengembalian barang yang sudah dipesan
Contoh : 1

• PT. GAPTEK adalah perusahaan yang bergerak di bidang perakitan barang elektronik.
Untuk suku cadang, perusahaan mendatangkan dari luar perusahaan. Informasi yang
diperoleh dari perusahaan adalah sbb :
• Jumlah penggunaan suku cadang setahun = 20.000 unit
• Jumlah pemesanan setiap kali pesan = 2.000 unit
• Biaya pemesanan = Rp. 10.000
• Biaya Penyimpanan = Rp. 40 per unit
• Hitunglah EOQ nya ?
• Jawab :
• Frekuensi Pemesanan selama setahun = 20.000 unit : 2.000 Unit = 10 Kali
• Biaya pemesanan setiap kali pesan = Rp.10.000 : 10 Kali = Rp.1.000 per pesanan.

• = √ 2 x Rp.1.000 x 20.000 : Rp. 40


• = √ Rp.40.000.000 : Rp.40
• = √ 1.000.000
• = 1.000 unit
• Karena EOQ = 1.000 unit , maka :
• Perbandingan sebelum dan setelah EOQ di ketahui adalah :

Keterangan Semula EOQ


Frekuensi pemesanan 20.000 : 2.000 = 10 kali 20.000 : 1.000 = 20 kali
setahun
Total biaya pemesanan Rp.1.000 x 10 kali = Rp. Rp. 10.000 x 20 kali = Rp.
10.000 20.000
Persediaan Rata-rata 2.000 unit : 2 = 1.000 unit 1.000 unit : 2 = 5.000 unit
Biaya penyimpanan Rp.40 x 1.000 unit = Rp. Rp. 40 x 5.000 unit = Rp.
40.000 20.000
Total Biaya persediaan Rp. 10.000 + Rp.40.000 = Rp. 20.000 + Rp. 20.000 =
Rp. 50.000 Rp. 40.000
• Contoh 2
• Menghitung EOQ dan TIC
Misalnya kebutuhan bahan untuk satu tahun
sebesar 24.000 unit,
biaya simpan 18% dari nilai persediaan,
dan biaya pesan setiap kali pemesanan Rp.38,00.
Harga barang per unit Rp.12,00.

Diminta menghitung jumlah pembelian yang


paling ekonomis setiap kali pembelian/
pemesanan.
Penyelesaian :

EOQ = 2(24.000)(Rp.38 )
0.18 x Rp.12

= 1,824,000
2.16

= 844,444.44

= 918.9365835
= 919 unit
1 24000
TIC = ( 919 ) ( 2.16 ) + Rp.38 EOQ
2 919

= 992.52 + 26.115 x Rp.38


= 992.52 + 992.37
= Rp1,984.89
Reorder Point (Saat Pemesanan Kembali)
• Dengan menggunakan model EOQ, kita dapat
mengetahui berapa banyak yang harus dipesan dalam
setiap kali pemesanan,
• pertanyaan kapan dilakukan pemesanan kembali ?
• Untuk sistem persediaan yang menggunakan asumsi
bahwa tingkat kebutuhan yang konstan dan lead time
yang tetap, maka saat pemesanan kembali (Re-Order
Point) sama dengan  kebutuhan selama lead time.
• Secara matematik dinyatakan sebagai berikut:
• ROP = d x lt
•  ROP    : Reorder Point
d    : Kebutuhan per hari
lt    : lead time
Unit
EOQ

ROP

Waktu

Lead time
• Kebutuhan Bahan Baku selama setahun 24.000 unit,
dengan mengandaikan perusahaan beroperasi 250 hari
setahun, Apabila pengantaran bahan dari saat pesan
hingga barang datang dan siap digunakan memerlukan
waktu 3 hari atau lead time ( lt ) adalah 3 hari
• maka dapat dihitung kebutuhan per hari ( d ) yaitu
sebanyak (24.000/250 = 96 ).,
• Maka ROP = d x lt = 96 x 3 = 288 unit atau
• kebutuhan bahan selama lead time, yakni sebesar 288 unit
• Bila diasumsikan bahwa kebutuhan bersifat konstan dan
lead time tetap, maka saat pemesanan kembali (ROP)
dilakukan pada waktu persediaan di gudang berada pada
tingkat 288 unit.
Cycle Time
• Setelah ROP diketahui, maka dapat dihitung jarak waktu
antara satu pemesanan dengan pemesanan berikutnya
atau yang disebut cycle time. Secara matematik,
perhitungan Cycle Time adalah sebagai berikut:

• Keterangan:
T    : Cycle Time
Q   : EOQ
R    : Kebutuhan bahan selama satu tahun
N    : jumlah hari operasi dalam satu tahun
• Dengan melanjutkan contoh di atas, di ketahui
bahwa kebutuhan bahan baku setahun 24.000
unit, EOQ = 919 unit dan jumlah hari operasi 250
hari setahun,
• maka dapat dihitung Cycle Time, yaitu :
• T = N.Q / R
• T = 250 x 919 / 24.000
• T = 9,6 hari
• Artinya, bahwa pemesanan dilakukan setiap 9,6
hari sekali.
Contoh kasus discount dalam menghitung EOQ
• Diketahui :
• D= R = 10.000 unit (permintaan/kebutuhan tahunan)
• Co / Biaya pemesanan = Rp.20,- per pesan
• H= Ch / Biaya penyimpanan = 20% dari harga per unit
• C=P = harga per unit tergantung besarnya pemesanan; yaitu
apabila :
1. pesan di bawah 499 unit harga per unit =Rp.5,00;
2. pesan antara 500 sampai 999 unit, harga per unitnya Rp.4,50,
3. sedang bila pesan di atas 1.000, harga per unitnya Rp. 3,90.
• Berapa jumlah yang harus dipesan ?
Penyelesaian : Langkah 1 : Mencari eoq masing-masing kategori harga

1. pesan di bawah 499 unit harga per unit = Rp.5,00;

= 2(10.000)(Rp.20 )
0.20 x Rp.5

= 400,000
1

= 400,000.00

= 632 Unit

Untuk pemesan di bawah 499 unit dengan harga per unit Rp. 5,- adalah TIDAK
FEASIBLE, karena jumlah pesanan Ekonomisnya ( EOQ ) nya adalah sebesar 632 Unit
Penyelesaian :

2. pesan antara 500 sampai 999 unit, harga per unitnya Rp.4,50

= 2(10.000)(Rp.20 )
0.20 x Rp.4.5

= 400,000
0.9

= 444,444.44

= 667 Unit

Untuk pemesan antara 500 unit s/d 999 unit, harga per unit Rp. 4,5,- adalah FEASIBLE,
karena jumlah pesanan Ekonomisnya ( EOQ ) nya adalah sebesar 667 Unit
3. Pesan di atas Penyelesaian
1.000, harga : per unitnya 3,90.

= 2(10.000)(Rp.20 )
0.20 x Rp.3,9

= 400,000
0.78

= 512,820.51

= 716 Unit

• Untuk pemesan di atas 1.000 unit, harga Rp. 3,9,- adalah TIDAK
FEASIBLE, karena jumlah pesanan Ekonomisnya ( EOQ ) nya
adalah sebesar 716 Unit, akan tetapi Jika pesanan kurang dari
atau sama dengan 1.000 unit dg harga Rp.3,9,- adalah FEASIBLE
• Untuk P= Rp.5,- maka EOQ-nya = 632, tidak feasible,
• untuk P=Rp.4,5 maka EOQ-nya = 667, feasible
• untuk P=Rp.3,9, maka EOQ-nya = 716, tidak feasible
• Untuk P=Rp.3,9, Q ≤ 1.000, feasible
Langkah 2 : Dari yang feasible, dihitung TC atau TAC-nya

1. Untuk EOQ = 667 unit, harga Rp.4.5,- pemesan antara 500 unit s/d 999 unit

10,000 667
TC = ( 10.000 x 4.5 ) + x 20 + x ( 0,20 x 4,5 )
667 2
= 45,000 + 299.85 + 300.15
= 45,600

2. Untuk EOQ = 716 unit, harga Rp.3.9, Q ≤ 1.000

10,000 716
TC = ( 10.000 x 4.5 ) + x 20 + x ( 0,20 x 3,9 )
716 2
= 39,000 + 279.33 + 279.24
= 39,559

Untuk C=P=Rp.3,9,- Q ≤ 1.000, feasible dengan TC=Rp39.559 dan ini merupakan


solusi optimal.
Kuantitas Pesanan Ekonomis ( EOQ )
• Menurut Nafarin ( 2009 : 256 ) Kuantitas Pesanan
Ekonomis ( economic order quantity-EOQ ) adalah
kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya yang
minimal atau sering dikatakan jumlah belian yang optimal.
• Perhitungan Kuantitas pesanan ekonomis dapat
dirumuskan sebagai berikut :

2 x KSt x S
KPE =
HSt x I
• Dimana :
• KSt : Kuantitas standar Bahan baku dipakai selama periode tertentu
• S : Biaya Pemesanan setiap kali pesan ( ordering cost )
• HSt : Harga standar bahan baku per unit
• I : Biaya penyimpanan bahan di Gudang yang dinyatakan dalam persentase dari nilai
persediaan rata-rata dalam satuan mata uang yang disebut dengan carrying cost
• HSt x I : biaya penyimpanan per unit
• Biaya Penyimpanan ( Carrying cost ) disebut juga dengan storage cost atau
holding cost, meliputi : Biaya tempat menyimpan, biaya pemeliharaan bahan,
biaya kemungkinan bahan rusak dan hilang, biaya assuransi, biaya modal
yang diinvestasikan, biaya pajak, biaya menghitung dan menimbang bahan,
dll.
• Biaya pemesanan ( procurement cost ) disebut juga dengan ordering cost
atau set up cost , meliputi : persiapan memesan bahan, biaya pengiriman
untuk memesan bahan, biaya penerimaan barang yang dipesan, biaya
pembayaran bahan yang dipesan.
• Pembelian berdasarkan KPE dapat dibenarkan bila syarat berikut terpenuhi :
• Bahan tidak mudah rusak dan pengiriman bahan tidak terlambat
• Biaya pemesanan dan penyimpanan per unit constant
• Kebutuhan bahan relative stabil sepanjang tahun ( periode )
• Harga beli bahan per unit constant sepanjang periode
• Setiap saat bahan diperlukan selalu tersedia di pasar
• Bahan yang dipesan tidak terkait dengan bahan yang lain, terkecuali bahan
tersebut ikut diperhitungkan tersendiri dalam KPE
Contoh :

• Kuantitas standar bahan baku untuk membuat kecap berupa kedelai


selama tahun 2016 adalah sebanyak 364 ons ( KSt ). Harga Bahan baku
per ons sebesar Rp. 160,-( HSt ). Biaya Pesan setiap kali pesan Rp. 728 ,-
( S ). Biaya penyimpanan bahan baku di Gudang 40% ( I ), hitunglah KPE ?
• Penyelesaian :

KPE = 2 x 364 x 728


160 x 0.40

= 529,984
64

= 8,281.00

= 91 Unit

• Berarti pembelian yang paling ekonomis untuk setiap kali pesan adalah
sebanyak 91 0ns.
• Karena dalam satu tahun kebutuhan kedelai adalah 364 ons, maka dalam
setahun dilakukan 4 kali pemesanan ( 364 : 91 ).
• Kebutuhan kedelai sebanyak 364 ons dapat saja dilakukan dengan beberapa
alternative:
1. 2 kali pesan dan setiap kali pesan sebanyak 182 ons
2. 4 kali pesan dan setiap kali pesan sebanyak 91 ons
3. 7 kali pesan dan setiap kali pesan sebanyak 52 ons
• Akan tetapi dari ketiga alternative tersebut yang paling ekonomis adalah bila
dilakukan 4 kali pesan,
• Pembuktian : Apakah pada intensitas 4 kali pesan adalah biayanya paling
ekonomis ?
• Alternatif 1 : 2 kali pesan
• Nilai rata-rata persediaan = ( 182 ons x Rp.160 ) : 2 = Rp. 14.560
• Biaya-biaya
• Biaya penyimpanan setahun = 40% x Rp. 14.560 = Rp. 5.824
• Biaya pesan setahun = 2 x Rp. 728 = Rp. 1.456
• Biaya bahan baku setahun = 364 ons x Rp.160 = Rp.58.240 +
• Jumlah biaya setahun = Rp.65,520
• Alternatif 2 : 4 kali pesan
• Nilai rata-rata persediaan = ( 91 ons x Rp.160 ) : 2 = Rp. 2.730
• Biaya-biaya
• Biaya penyimpanan setahun = 40% x Rp. 2.730 = Rp. 1.092
• Biaya pesan setahun = 4 x Rp. 728 = Rp. 2.912
• Biaya bahan baku setahun = 364 ons x Rp.160 = Rp.58.240 +
• Jumlah biaya setahun = Rp.62.244

• Alternatif 3 : 7 kali pesan


• Nilai rata-rata persediaan = ( 52 ons x Rp.160 ) : 2 = Rp. 4.160
• Biaya-biaya
• Biaya penyimpanan setahun = 40% x Rp. 4.160 = Rp. 1.644
• Biaya pesan setahun = 7 x Rp. 728 = Rp. 5.096
• Biaya bahan baku setahun = 364 ons x Rp.160 = Rp.58.240 +
• Jumlah biaya setahun = Rp.65.000
• Seandainya perusahaan pemasok memberikan potongan harga 10%
untuk setiap kali pesan sebanyak 182 ons, apakah tawaran tersebut
disetujui ?
• Penyelesaian :
• Nilai rata-rata persediaan = ( 182 ons x Rp.160 x 90% ) : 2 = Rp. 13.104
• Biaya-biaya
• Biaya penyimpanan setahun = 40% x Rp. 13.104 = Rp. 5.242
• Biaya pesan setahun = 2 x Rp. 728 = Rp. 1.456
• Biaya bahan baku setahun = 364 ons x Rp.160 x90% = Rp.52.416 +
• Jumlah biaya setahun = Rp.59.114
• Dengan pemberian potongan harga sebesar 10% oleh pemasok,
jumlah biaya untuk 2 kali pesan menjadi sebesar Rp. 59.114,- lebih
rendah bila dibandingkan dengan biaya untuk 4 kali pesan setahun
yaitu sebesar Rp. 62.244, maka tawaran pemberian potongan harga
tersebut dapat di setujui.
Reorder point dan safety stock

• Reorder point ( saat pemesanan kembali ) adalah saat memesan


kembali bahan yang diperlukan.
• Safety stock adalah sediaan inti dari bahan yang harus di pertahankan
untuk menjamin kelangsungan usaha.
• Persediaan keamanan tidak boleh digunakan kecuali dalam keadaan
darurat, seperti bencana alam, alat angkut bahan rusak, bahan dipasar
dalam keadaan kosong, dll. Oleh karena itu safety stock termasuk
kelompok asset lancar.
• Contoh :
• Keperluan bahan baku selama setahun sebanyak 364 Kg dan
keperluan bahan baku per minggu 7 Kg ( setahun 52 minggu ). Lead
Time ( waktu tenggang ) 4 minggu. Harga bahan baku per kg Rp. 160,-
dan biaya pemesanan setiap kali pesan Rp. 728,- Persediaan bahan
baku yang ada digudang sebanyak 40 Kg, dan biaya penyimpanan
40%. Safety stock di tetapkan 50% dari penggunaan selama lead time.
Penyelesaian :
• Pemakaian BB selama lead time = 4 Minggu x 7 Kg = 28 Kg
• Safety stock = 50% x 28 Kg = 14 Kg
• Reorder Point = 28 Kg + 14 Kg = 42 Kg
KPE = 2 x 364 x 728
160 x 0.40

= 529,984
64

= 8,281.00

= 91 Kg

• Artinya bahwa pesanan sebanyak 91 Kg dilakukan pada saat


persediaan BB di Gudang tersisa sebanyak 42 Kg.
• Persediaan maksimum = Safety stock + KPE
• = 14 Kg + 91 Kg
• = 105 Kg.
• Persediaan rata-rata termasuk safety stock adalah :
• ( KPE : 2 ) + Safety stock = ( 91Kg : 2 ) + 14 Kg = 59,5 Kg
• Persediaan rata-rata yang termasuk asset lancar adalah :
• 59,5 Kg – 14 Kg = 45,5 Kg
• Persediaan bahan baku yang ada sebanyak 40 Kg, berarti
persediaan bahan baku awal yang merupakan asset
lancar yaitu : 40 Kg – 14 Kg = 26 Kg.
• Sedangkan anggaran persediaan bahan baku akhir yang
merupakan asset lancar adalah : KPE – Persediaan awal
• = 91 Kg – 26 Kg
• = 65 Kg.
BAB 8
PUSAT
PERTANGGUNGJAWABAN
PUSAT INVESTASI
Pusat Pertanggungjawaban
• Pusat pertanggungjawaban menurut Charles T. Horngren, Gary
L. Sundem dan William O. Stratton adalah sebagai berikut: “A
Responsibility Center is a set of activities assigned to a
manager, a group of managers, or other employees” (Horngern
et. Al 1999:331).

• Pusat pertanggungjawaban merupakan suatu tingkatan bisnis


dimana manajer mempunyai pertanggungjawaban untuk
melaporkan aktivitasnya dan mempertanggungjawabkan
aktivitas yang telah dilakukannya, dan dalam pelaksanaannya
manajer pusat pertanggungjawaban dibantu oleh manajer lain
dan pekerja-pekerja.
Tipe Pusat Pertanggungjawaban
Menurut Atkinson dan kawan-kawan membagi
pusat pertanggungjawaban menjadi empat tipe,
yaitu (2001:522):
1. Cost Center (Pusat Biaya)
2. Revenue Center (Pusat Pendapatan)
3. Profit Center (Pusat Laba)
4. Investment Center (Pusat Investasi).
Tipe Pusat Pertanggungjawaban

1. Cost Center (Pusat biaya)


 Pusat biaya menurut Atkinson, Hilton dan kawan-kawan adalah sebagai
berikut: “A cost center is an organization subunit, whose manager is
responsible for the cost of activity for which a well-defined relationship
exists between inputs and outputs” (Hilton et. Al 2003:758).
 Pusat biaya adalah subunit organisasi, yang manajernya bertanggung
jawab atas biaya aktivitas yang memiliki keterkaitan yang jelas antara
input dan output.
 Suatu pusat pertanggungjawaban yang manajernya bertanggung jawab
hanya terhadap biaya.
 Misalnya:
 Departemen produksi (pabrik) yang mengendalikan biaya manufaktur
tetapi tidak mengatur harga atau membuat kepututsan pemasaran.
 Ukuran kinerjanya adalah dievaluasi seberapa baik biaya produksi
dikendalikan
Tipe Pusat Pertanggungjawaban

2. Revenue Center (Pusat pendapatan)


 Menurut Atkinson, Kaplan, Banker dan Young: “A Revenue Centers are
responsibility centers whose members control revenues, but no control
either the manufacturing or the acquisition cost of the product or service
they sell or the level of investment made in responsibility centers”. (Atkinson
et. Al 2001:527).
 Pusat Pendapatan adalah pusat pertanggungjawaban yang anggotanya
mengendalikan pendapatan, tetapi tidak berhubungan dengan baik biaya
pabrikan atau perolehan produk atau jasa yang mereka jual atau tingkat
investasi yang dilakukan di pusat pertanggungjawaban.
 Suatu pusat pertanggungjawaban yang manajernya hanya bertanggung
jawab terhadap penjualan.
 Misalnya :
 Departemen pemasaran atau penjualan. Departemen ini mengatur harga
dan memproyeksi penjualan. Karena itu departemen ini dievaluasi sebagai
pusat pendapatan.
 Ukuran kinerjanya adalah pada omset penjualan yang dihasilkan
Tipe Pusat Pertanggungjawaban
3. Profit Center (Pusat laba)
 Atkinson dan kawan-kawan mendefinisikan pusat laba sebagai
berikut:
 “Profit Centers are responsibility centers in which managers and
other employees control both the revenues and the costs of the
product or service they deliver” (Atkinson et. Al 2001:528).
 Pusat Laba adalah pusat pertanggungjawaban di mana manajer
dan karyawan lain mengendalikan pendapatan dan biaya produk
atau jasa yang mereka berikan.
 Suatu pusat pertanggungjawaban yang manajernya bertanggung
jawab terhadap pendapatan maupun biaya.
 Misalnya
 Divisi pabrik yang mana manajernya bertanggung jawab untuk
membuat dan memasarkan produk mereka. Oleh karena itu, laba
operasi akan menjadi ukuran kinerja yang penting bagi para
manajer pusat laba.
Tipe Pusat Pertanggungjawaban

4. Investment Center (Pusat investasi)


 Menurut Hilton pusat investasi adalah sebagai berikut: “A
investment center is an organizational subunit whose manager is
held accountable for the subunit’s profit and the invested capital
used by the subunit to generate its profit” (Hilton et. Al
2003:759).
 Pusat investasi adalah subunit organisasi yang manajernya
bertanggung jawab atas laba subunit dan modal yang
diinvestasikan serta digunakan oleh subunit untuk menghasilkan
laba.
Penilaian Kinerja

1.PENILAIAN KINERJA KEUANGAN


2.PENILAIAN KINERJA PUSAT LABA
Penilaian Kinerja Keuangan

Definisi Penilaian Kinerja


Penilaian kinerja adalah penentuan secara
periodik efektivitas operasional suatu organisasi,
bagian organisasi, dan karyawannya berdasarkan
sasaran, standar dan kriteria yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Penilaian Kinerja Pusat Laba
Pusat laba adalah pusat pertanggungjawaban yang
manajernya diberi wewenang untuk mengendalikan
pendapatan dan biaya pusat pertanggungjawaban
tersebut.
 Untuk mengukur kinerja pusat laba, umumnya digunakan dua
ukuran yang menghubungkan laba yang diperoleh pusat laba
dengan investasi yang digunakan untuk menghasilkan laba.
Yaitu Kembalian investasi (return on investment atau seringkali
disingkat dengan ROI) dan residual income (RI).
 Residual income adalah selisih antara laba operasi dan jumlah
kembali uang yang diharapkan atas aktiva operasi perusahaan.
 RI = EAT – ( ROI x Rata-Rata Aktivitas Operasional)
ROI (Return On Investment)

Return On investment (ROI) atau return on asset (ROA) menunjukan


kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan.
Dengan mengetahui rasio ini, akan diketahui apakah perusahaan telah
efisien dalam memanfaatkan aktivanya dalam kegiatan operasional
perusahan atau belum?
Rasio ROI  ini juga memberikan ukuran yang lebih baik atas profitabilitas
perusahaan karena menunjukan efektivitas manajemen dalam
menggunakan aktiva untuk memperoleh pendapatan
Misalkan:
Capaian ROI yang diharapkan dari divisi besarnya 20% per tahun,  kinerja
divisi dinilai baik jika ROI sesungguhnya tercapai minimal sebesar 20%, 
jika tidak tercapai maka kinerja divisi dinilai tidak baik.
ROI
ROI = Rasio laba terhadap penjualan x Perputaran investasi

Laba x Penjualan x 100%


Penjualan Investasi
Laba (EAT) x 100%
Investasi

Usaha meningkatkan ROI


Mengurangi biaya sehingga laba dapat ditingkatkan
Meningkatkan penjualan yang dapat meningkatkan laba
Meningkatkan rasio laba terhadap penjualan
Menurunkan investasi divisi
Manfaat ROI sebagai pengukur kinerja
• ROI sebagai pengukur kinerja pusat laba
memiliki tiga manfaat berikut ini:
Kembalian investasi mendorong manajer
pusat laba menaruh perhatian yang seksama
terhadap hubungan anatara pendapatan
penjualan, biaya, dan investasi.
Kembalian investasi mendorong manajer
pusat laba melaksanakan efisiensi biaya.
Kembalian investasi mencegah manajer
pusat laba melakukan investasi yang
berlebihan di dalam pusat laba yang
dipimpinnya.
Tujuan pengukuran kinerja pusat investasi

a) Manajer divisi dapat menghasilkan laba yang


memuaskan atas investasi
b) Manajer divisi hanya melakukan investasi
tambahan jika investasi tersebut dapat
menghasilkan laba yang memuaskan
dibandingkan dengan investasinya
Keuntungan ROI
Merupakan metode pengukuran yang obyektif  didasarkan
pada data akuntansi yang tersedia
ROI merupakan pengukuran yang komprehensif dimana semua
mempengaruhi laporan keuangan tercermin dari rasio ROI
Memungkinkan pembandingan kinerja antar divisi meskipun
skala kegiatan usaha divisi dan bidang bisnisnya berbeda
Pengukuran kinerja dengan ROI mendorong terciptanya
keselaran tujuan divisi dengan tujuan perusahaan
ROI dapat digunakan sebagai pembanding dengan persentase
biaya modal yang ada di pasar modal
Sebagai alat untuk mendeteksi kemungkinan aktiva yang
terlalu besar atau menganggur
ROI mudah dihitung, dipahami dan sangat berarti, dalam
pengertian absolut
Kelemahan ROI
Metode ROI terlalu menyederhanakan masalah
pengukuran, karena hanya menggunakan rasio tunggal.
ROI yang diharapkan dapat berbeda untuk divisi yang
menggunakan investasi yang sebanding
Terlalu mendasarkan pada laba akuntansi, padahal
pengukuran kinerja divisi terutama untuk pihak dalam
organisasi
Mudah menimbulkan konflik antara tujuan divisi
dengan tujuan divisi lain
ROI hanya mengukur salah satu keberhasilan
pencapaian tujuan, yaitu tujuan yang bersifat
keuangan
CONTOH
• Sebuah divisi elektronik mempunyai kesempatan untuk berinvestasi dalam dua proyek
di tahun depan yaitu sebuah kamera digital dan TV layar datar.

• Divisi saat ini menggunakan aset operasi Rp.75.000.000; sedangkan laba operasi atas
investasi sekarang sebesar Rp.11.250.000. Divisi telah mendapat persetujuan untuk
mengajukan investasi modal baru sebesar Rp.15.000.000. Kantor pusat perusahaan
meminta semua investasi menghasilkan sedikitnya 11% (tingkat ini mencerminkan
jumlah yang harus dihasilkan untuk menutup biaya perolehan modal).
• Diminta: Hitunglah ROI divisi untuk tiap-tiap skenario:
• (1) investasi pada kamera digital,
• (2) investasi pada TV layar datar,
• (3) investasi pada keduanya, dan
• (4) tidak berinvestasi pada keduanya.
• Jika kinerja divisi diukur dengan ROI, apa keputusan investasi yang sebaiknya diambil
divisi elektronik tersebut?
Penyelesaian

75.000.000 +
75.000.000 + 75.000.000 +
10.000.000+
10.000.000 4.000.000 4.000.000

11.250.000 +
11.250.000 + 11.250.000 +
1.300.000 +
1.300.000 680.000 680.000
• Dengan memperhatikan perhitungan ROI di atas, maka keputusan
investasi yang akan diambil oleh divisi yang kinerjanya diukur
berdasarkan ROI adalah mengambil investasi pada TV layar datar
saja. Investasi tersebut menghasilkan ROI divisi yang lebih tinggi
dibandingkan alternatif investasi lainnya.
• Pilihan investasi hanya pada TV layar datar saja dianggap dapat
memaksimalkan ROI divisi, namun sebenarnya hal tersebut
merugikan dalam perolehan laba perusahaan secara keseluruhan.
• Jika investasi pada kamera digital diambil, maka perusahaan akan
memperoleh laba Rp1.300.000,00. Dengan tidak memilih investasi
tersebut, maka dana sebesar Rp10.000.000 hanya akan
diinvestasikan pada tingkat kembalian 11%, atau menghasilkan laba
Rp1.100.000. Hal ini akan merugikan peluang laba investasi
perusahaan sebesar Rp200.000 (Rp1.300.000 - Rp1.100.000).
• Dengan demikian, maka penekanan yang berlebihan terhadap
penggunaan ROI sebagai dasar penilaian kinerja justru merugikan
perusahaan.
Economic Value Added (EVA)
• Salah satu alat untuk mengevaluasi kinerja perusahaan atau
divisi adalah Economic Value Added (EVA).
• EVA adalah laba operasi setelah pajak dikurangi dengan total
biaya modal (cost of Capital) tahunan.
• Jika EVA lebih besar dari nol berarti perusahaan telah
menciptakan nilai atau kekayaan untuk pemegang saham,
sebaliknya jika EVA negatif perusahaan merusak nilai
perusahaan
• EVA dinyatakan dalam satuan uang, bukan dalam presentase
tingkat return. EVA dapat dihitung melalui rumus berikut ini:
• Kesulitan yang sering dihadapi oleh perusahaan adalah bagaimana
menghitung biaya modal (Cost of Capital /CoC).
• Ada dua langkah yang harus dilakukan dalam menghitung biaya modal:
1. Menentukan biaya modal rata-rata tertimbang. Biasanya, biaya modal
rata-rata (Weighted Average Cost of Capital/WACC). dinyatakan dalam
suatu persentase. Perusahaan harus terlebih dahulu mengidentifikasi
sumber pembiayaan investasi, apakah dari utang atau penjualan
saham.
a. Jika dana diperoleh dari utang (baik utang bank maupun utang
obligasi), maka biaya modal dihitung dari tingkat bunga yang harus
dibayar dan nantinya akan mendapatkan manfaat pengurangan pajak.
b. Jika diperoleh dari penjualan saham, biaya modalnya adalah return
investasi yang diberikan kepada pemegang saham, namun tidak
memperoleh manfaat pengurangan pajak.
2. Menentukan nilai nominal jumlah modal yang digunakan
• Menghitung weighted average cost of capital atau WACC dapat menggunakan
rumus berikut ini :
Contoh Menghitung WACC
• Target struktur modal perusahaan adalah 30%
hutang, 10% saham preferen dan 60% modal
sendiri (yang seluruhnya berasal dari laba
ditahan). Biaya hutang adalah 12%, biaya saham
preferen 12,6% dan biaya laba ditahan 16,5%,
pajak diketahui sebesar 40%. Berapa struktur
modal keseluruhannya?
• WACC = 0,3 x ( 12% )(1-40%) + 0,1x ( 12,6% ) + 0,6 x (16,5% )
• = 2,16% + 1,26% + 9,9% = 13,32%
Contoh Kasus
• Perusahaan akan membiayai sebuah investasi senilai
Rp100.000.000 dan akan menghasilkan laba bersih operasi
Rp15.000.000 dengan menggunakan tiga sumber
pembiayaan, yaitu :
• Utang obligasi jk.panjang (tingkat bunga 9%) sebesar
Rp40.000.000,
• Utang bank (tingkat bunga 10%) sebesar Rp30.000.000, dan
• Penjualan saham umum (tingkat return yang diharapkan 12%
) sebesar Rp30.000.000.
• Tarif pajak yang ditetapkan pemerintah 30%. Diminta:
• (a) berapakah biaya modal rata-rata tertimbang (WACC)
investasi tersebut?
• (b) berapakah EVA investasi?
=2,52%

=2,10%

=3,60%

=8,22%
Rp.40 Jt / 100 jt 0,40 x 0,063

Perhitungan EVA menunjukkan nilai positif sebesar Rp2.280.000, artinya


investasi menghasilkan laba ( 15% ) melebihi biaya modal ( 8,22% ) yang
digunakan, atau bisa dikatakan investasi tersebut menambah nilai kekayaan
perusahaan.