Anda di halaman 1dari 24

SEPTUM DEVIASI DENGAN CEPHAL

GIA
Laporan Kasus
Penyaji: dr. Rizki Khair
Pembimbing: dr. Eka Siloe SP.THT-KL

PROGRAM DOKTER INTERNSIP


RSD KOLONEL ABUNDJANI BANGKO
Septum nasi >< sinus, hidung,
tenggorokan
Deviasi septum: peralihan
posisi septum dari posisi
normal
Nyeri kepala: Intrakranial,
Septu
ekstrakranial m Sefalgi
a B
deviasi
Sifat nyeri kepala: Tumpul, tajam,
berdenyut sesuai dengan A
B
penyebabnya

I
P
Telah ditemukan nyeri kepala yang disebabkan oleh gangguan
pada organ lain termasuk hidung, yaitu septum deviasi e
n
Septum Deviasi
Bentuk septum yang tidak lur
us di tengah sehingga membe
ntuk deviasi ke salah satu ron
gga hidung atau kedua rongga
hidung yang mengakibatkan p
enyempitan pada rongga hidu
ng

Tampak luar Kartilago

ANATOMI HIDUNG Persarafan

Perdarahan: Sensoris: n. Etmoidalis


anterior
a. Etmoid anterior
dan posterior Vasomotor dan otonom:
ganglion sfenopalatina
V. Oftalmika
Penciuman: Nervus
olfaktorius
Konka
Fisiologi Hidung
Fungsi respirasi 1
Fungsi fisiologis hidung dan sinus paranasal

Mengatur kondisi udara (kebersihan, suhu), hu


midifikasi (lapisan mukosa), penyeimbang dala
m pertukaran tekanan dan mekanisme imunol 2 Fungsi penghidu
ogi lokal (refleks)
Mukosa olfaktorius
Membantu indra pengecap
Fungsi fonetik 3

Resonansi hantaran suara


Fungsi statik dan meka
4
nik
Meringankan beban kepala

Refleks Nasal 5

Refleks terhadap adanya iritasi atau ganggua


n pada saluran cerna, kardiovaskular dan pe 4
Sistem Transpor Mukosilier

Sistem transpor mukosilier dipengaruhi oleh:

• Kualitas silia dan lapisan mukosa (palut


lendir), yang terdiri atas cairan serosa
(bawah), dan mukus (atas).
• Serosa  Laktoferin, lisozim, inhibitor
lekoprotease sekretorik, IgA sekretorik
• Mukoa  Protein plasma (Albumin, IgG,
Pergerakan: IgM, dan faktor komplemen)
• Sinus maksila  gerakan
membran halo atau bintang
yang mengarah ke ostium
• Sinus Frontalis  Gerakan spiral

Rute I  frontal, maksila, etmoid


anterior
Rute II  etmoid posterior, sfenoid
5
Etiologi
Paling sering: Trauma
Trauma fasial, fraktur nasal, fraktur se
ptum, trauma lahir

Penyebab lain: ketidakseimbangan pertumbu


han

6
• Tipe I. Benjolan unilateral, tidak meluas sepanjang kavu

Klasifikasi m nasi, tidak kontak dengan dinding lateral hidung yang


belum mengganggu aliran udara.

Klasifikasi oleh Mladina • Tipe II. Deviasi vertikal anterior. Deviasi kontak dengan k
atup hidung, menyebabkan gangguan fungsi.
• Tipe III. Deviasi vertikal, posterior. Deviasi dekat kepala
konka media / area osteomeatal.
• Tipe IV. Disebut juga tipe S dimana septum bagian post
erior dan anterior berada pada sisi yang berbeda. Tipe
ini merupakan kombinasi dari tipe II dan III.
• Tipe V. Tonjolan besar unilateral pada dasar septum, s
ementara di sisi lain masih normal.
• Tipe VI. Tipe V ditambah sulkus unilateral dari kaudal-v
entral, sehingga menunjukkan rongga yang asimetri.

Tipe VII. Kombinasi lebih dari satu tipe, yaitu tipe I-ti
pe VI.
Add an image
Menurut Jin RH dkk [2]
Bentuk deformitas septum nasi ber
dasarkan lokasinya
• Deviasi: “C” atau “S”
• Dislokasi: bagian bawah kartilago septum keluar dari krista ma
ksila dan masuk kedalam rongga hidung
• Krista dan spina: Penonjolan atau pemipihan
• Sinekia: perlekatan

Menurut Jin RH dkk [1]

Icon Icon Icon

Ringan Sedang Berat


Kurang dari setengah Kurang dari setenga Septum sebagia
rongga hidung, belu h rongga hidung, ad n besar menyen
m ada septum yang a sedikit septum ya tuh dinding later
A) lokal, B) kurva, C & D) angulasi menyentuh dinding la
ng menyentuh dindi al hidung 8
teral hidung
ng lateral hidung
Gejala Klinis

01 02 03 04
Hidung Kepala Mata Lain-lain
• Pada sisi deviasi terdapat • Nyeri Kepala • Nyeri di sekitar mata • Gangguan penciuma
konka hipotropi, sedangk
n jika terdapat devias
an pada sisi satunya konk
i pada bagian atas se
a hipertropi; sehingga terj
adi sumbatan. ptum.
• Predisposisi sinusitis

9
Pemeriksaan fisik deviasi septum nasi

Rhinoskopi anterior

Nasoendoskopi: menilai deviasi septum bagian posterior


atau robekan mukosa

Radiologi sinus paranasal: komplikasi sinus paranasal.


Penatalaksanaan Bila tidak ada gejala atau keluhan ringan, hanya dil
akukan tindakan konservatif

Reseksi Septoplasti
submukosa Reposisi tulang rawan
Mukoperikondrium dan yang mengalami
mukoperiosteum pembengkokan
dilepaskan dan
diangkat, kemudian
dipertemukan antara
kedua sisi.

11
Cephalgia
Definisi Rasa nyeri atau tidak mengenakkan pada daerah atas kepala memanjang dari orbital sa
mpai ke belakang mata (area oksipital dan tengkuk)

Etiologi Multifaktorial; kelainan emosional, migrain, demam, vaskular, massa, penyakit pada mata, telin
ga, atau hidung

Gambaran Klinis

Lokasi Nyeri: Dua pertiga depan kranium,


fossa kranium tengah dan Infratentorium serebeli di
Struktur Intrakranial depan, & supratentorium fossa posterior Berhubungan dengan
serebeli penyakit Mata, Telinga dan
Tidak dirasakan didalam Belakang telinga, atas hidung
rongga tengkorak, melainkan Dirasakan di daerah frontal, persendian serviko-oksipitalis
diproyeksikan ke permukaan parietal, atau belakang bola (belakang kuduk) Cenderung di frontal
dan di daerah distributif saraf mata dan temporal bawah. [NC IX, X, NS C1, C2, C3]
yang bersangkutan [Trigeminus I) 12
Gambaran klinis
Lamanya nyeri kepala Bervariasi, TTH bisa berlangsung berhari-hari atau berminggu-minggu
Migrain bisa singkat dan kurang dari 30 menit

Berulangnya nyeri kepala Hormonal : migrain berulang saat pencetus hormon naik. Misalnya: menstruasi

Gangguan hidung: berulang apabila sering terjadi infeksi traktus respiratorius atas

Patogenesis (H.G Wolf)

1. Tarikan pada vena sinus 6. Tekanan langsung pada NC


venosus dan pergeseran sinus V, IX, X, Cervikalis atas
venosus utama 5. Inflamasi struktur
2. Tarikan pada A. Meningea kepala (kulit kepala,
media periosteum, otot)
3. Tarikan pembuluh arteri 4. Distensi dan dilatasi pembuluh-
besar otak atau cabang- pembuluh arteri (frontalis,
cabangnya temporalis, Occipitales)

13
Klasifikas
i
• Migrain Cluster Headache
• TTH Other primary headache
Primer

• Berkaitan dengan trauma kepala dan/atau leher, kelainan vaskular kranial &
servikal, kelainan nonvaskular intrakranial, substansi atau penghentian
konsumsi zat tertentu, infeksi, kelainan hemostasis, kelainan kranium,
Sekunder kelainan psikiatri.

• Neuralgia kranial dan penyebab sentral nyeri fascial


Neuralgia • Nyeri kepala lainnya, neuralgia kranali, sentral atau fascial primer
kranial,
sentral

14
Bab III Laporan Kasus
Riwayat
Kepala terbentur (-)
Sakit kepala ICON ICON

Berdenyut dan menetap [2 tahun] Benda asing ke hidung (-)

Cukup mengganggu hingga susah tidur Gigi berlubang (-)

Hidung berdarah (-)

Hidung tersumbat ICON ICON


Riwayat Pengobatan
Hidung tersumbat dan serring teras Pengobatan sebelumnya: di puskesmas, tid
a gatal serta susah bernapas ak ada perbaikan

Penciuman hidung kanan berkurang Riwayat Hipertensi (-)

Tn H/ 35thn/043097/Tani/Jawa/Talang Riwayat asma (-)

Kawo
Keluhan utama: Sakit Kepala
Pemeriksaan Fisik
Keadaan
Umum Pemeriksaan Sistemik

Kepala : tidak ada kelainan


Keadaan Umum : Sedang
Wajah : tidak ada kelainan
Kesadaran : CM
Mata : konjungtiva anemis (-) sklera ikterik (-)
Tekanan darah : 110/ 70
Paru : vesikuler, ronkhi (-/-) wheezing (-/-)
Nadi : 90 x/menit
Jantung : irama teratur, bising (-)
Napas : 18 x/menit
Abdomen: distensi (-), BU(+) N
Suhu : 36,7 oc
Ekstremitas: teraba hangat, refilling kapiler baik.

17
Status Lokalis THT

. .
Hidung Laringoskopi Indirek
Tidak dilakukan
Hidung luar: Deformitas (-), radang (-), massa
Telinga
(-)
Pemeriksaa Dekstra Sinistra
Daun Telinga : Nyeri tekan (-),
n
Dinding liang telinga : Lapang, ed
Sempit
Kavum Nasi Lapang ema (-), masa(-), secret (-), serume
Deviasi
Septum Cukup Lurus n (-)
Orofaring dan Mulu Kesan
Membran timpani : Intak, reflek ca
Gigi geligi: Tidak dijumpai kelainan haya +, bulging (-), perporasi (-) Septum Deviasi
Ovula : Ditengah, Tidak Hiperemis
Tonsil : T1-T1, Warna merah muda,
Permukaan licin, Kripta tidak melebar,
detritus (-) . .
Assessment

Diagnosa Kerja : Septum Deviasi dengan Cephalgia

Rencana

Dilakukan operasi septoplasti dan Reposisi Septum

19
FOLLOW-UP PERKEMBANGAN SELAMA RAWAT INAP DAN RAWAT JALAN
Tanggal Follow up Pasien Planning
26 April 2017 Dilakukan Operasi septoplasti, terpasang  IVFD RL 20 TPM,
tampon dengan observasi perdarahan  Injeksi Cefotaxime vial2x1 gr,
Evaluasi : Tampon hidung dipertahan kan 5  Drip Paracetamol 3x1 gr,
hari  Injeksi Asam Tranexamat 3x500 mg
30 April 2017 Dilakukan Aff Tampon di Poli THT : • Pasien boleh pulang dengan terapi
Perdarahan (-) • Cefixime tablet 2x200mg,
• Parasetamol 3x500mg,
• As. Tranexamat 3x500 mg
Kontrol kembali ke poli THT setelah tiga hari
habis obat
3 Mei 2017 Pasien kontrol ke poli THT
Subjektif: Nyeri Kepala (-) Hidung Tersumbat (-) • Paracetamol 3 x 500 mg
Bersin-bersin (-) Edukasi:
Objektif: • Evaluasi jalan napas,
Hidung: Perdarahan (-), sekret (-) • Gunakan masker jika keluar rumah,
• hindari pencetus alergen,
Pembahasan
ANAMNESIS

Laki-laki, usia 35 tahun, keluhan sakit Riwayat kepala terbentur (-)


kepala sejak 2 tahun yang lalu dan Riwayat terkena pukulan di kepala (-)
memberat dalam 2 minggu ini.
Nyeri di kepala depan, berdenyut dan
menetap, cukup mengganggu

• Keluhan lain: Hidung tersumbat, gatal dan susah


bernapas. Penciuman mulai berkurang.
R/benda asing masuk ke hidung (-), gigi berlubang (-),
hidung berdarah (-)

PEMERIKSAAN FISIK

Kavum nasi sempit/ cukup lapang, Diagnosis Deviasi


sekret -/-, konka inferior eutrofi/ Septum dan sefalgia
eutrofi, konka media eutrofi/
eutrofi, septum deviasi ke kanan
Rinoskopi posterior: post nasal drip
(-) 22
Memantau jalan napas

Menggunakan masker jika keluar rumah


Tatalaksana

Operasi septoplasti dan pengobatan


secara medikamentosa Hindari pencetus alergi

Kontrol kembali jika ada keluhan

23
Terima Kasih