Anda di halaman 1dari 58

Konsep dasar

kegawatdaruratan maternal Tutik Iswanti, SST., M.Keb


dan neonatal
Pengertian Gawat Darurat (Emergency
Care)
• Situasi serius yang memerlukan tindakan cepat dan
tepat, pada kondisi tidak terduga yang mengancam
kehidupan
• Unit perawatan darurat
• Waktu dan informasi terbatas
• Intervensi sebelum pengkajian lengkap berdasarkan
pengalaman dan penilaian
• Evaluasi dalam hitungan menit.
PPGD (Penaggulangan Penderita Gawat
Darurat)
• Suatu pertolongan yang cepat dan tepat untuk
mencegah kematian maupun kecacatan
• Berasal dari istilah critical ill patient (pasien
kritis/ gawat) dan emergency patient (pasien
darurat).
Keberhasilan PPGD sangat bergantung dari kecepatan
dan kualitas pertolongan yang didapatkan oleh pasien

• Kematian karena sumbatan jalan nafas akan lebih


cepat daripada kematian karena kemampuan bernafas
• Kematian karena ketidakmampuan bernafas akan
lebih cepat daripada kematian karena kehilangan
darah
• Kematian berikutnya akan diikuti oleh karena
penyebab intra kranial
Prioritas Manajemen Darurat
• Mempertahankan kehidupan
• Mencegah kerusakan sebelum tindakan/perawatan
selanjutnya
• Menyembuhkan klien pada kondisi yang berguna bagi
kehidupan
Prinsip Manajemen Darurat
• Pertahankan jalan nafas, ventilasi yang adekuat dan lakukan respirasi bila perlu
• Kontrol adanya perdarahan dan resikonya
• Evaluasi dan pertahankan curah jantung
• Cegah dan lakukan perawatan pada keadaan syok
• Lakukan pengkajian fisik
• Evaluasi ukuran dan reaktifitas pupil dan respon motorik
• Lakukan EKG jika perlu
• Cek adanya fraktur
• Lakukan perawatan luka
• Lakukan pengukuran tanda vital
Prinsip Manajemen Kegawatdaruratan
• A : Airway (Jalan masuk udara)
• B : Breathing (Pernafasan)
• C : Circulation (sirkulasi/ saluran)
• D : Disability (cacat, lumpuh)
• E : Exposure (pencahayaan)
KONSEP KEGAWATDARURATAN
• Kegawatdaruratan adalah kejadian yang tidak diduga
atau terjadi secara tiba-tiba, seringkali merupakan
kejadian yang berbahaya (Dorlan, 2011).
• Kegawatdaruratan dapat didefinisikan sebagai situasi
serius dan kadang kala berbahaya yang terjadi secara
tiba-tiba dan tidak terduga dan membutuhkan
tindakan segera guna menyelamtkan jiwa/ nyawa
(Campbell S, Lee C, 2000).
Kegawatdaruratan Maternal
• Kegawatdaruratan obstetri adalah kondisi kesehatan yang
mengancam jiwa yang terjadi dalam kehamilan atau selama
dan sesudah persalinan dan kelahiran. Terdapat sekian
banyak penyakit dan gangguan dalam kehamilan yang
mengancam keselamatan ibu dan bayinya (Chamberlain,
Geoffrey, & Phillip Steer, 1999).
• Kasus gawat darurat obstetri adalah kasus obstetri yang
apabila tidak segera ditangani akan berakibat kematian ibu
dan janinnya. Kasus ini menjadi penyebab utama kematian
ibu janin dan bayi baru lahir. (Saifuddin, 2002)
Kegawatdaruratan Maternal
Perdarahan yang mengancam nyawa selama kehamilan
meliputi perdarahan yang terjadi pada minggu awal kehamilan
(abortus, mola hidatidosa, kista vasikuler, kehamilan
ekstrauteri/ ektopik) dan perdarahan pada minggu akhir
kehamilan dan mendekati cukup bulan (plasenta previa,
solusio plasenta, ruptur uteri, perdarahan persalinan per
vagina setelah seksio sesarea, retensio plasentae/ plasenta
inkomplet), perdarahan pasca persalinan, hematoma, dan
koagulopati obstetri.
Kegawatdaruratan Neonatal
Kegawatdaruratan neonatal adalah situasi yang
membutuhkan evaluasi dan manajemen yang tepat
pada bayi baru lahir yang sakit kritis ( ≤ usia 28 hari)
membutuhkan pengetahuan yang dalam mengenali
perubahan psikologis dan kondisi patologis yang
mengancam jiwa yang bisa saja timbul sewaktu-waktu
(Sharieff, Brousseau, 2006).
TUJUAN ASUHAN KEBIDANAN
KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NEONATAL

Menyelamatkan ibu dan anak baru lahir melalui


program rujukan berencana dalam satu wilayah
kabupaten kotamadya atau profinsi.
RUANG LINGKUP ASUHAN KEBIDANAN
KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NEONATAL

1. Stabilisasi di UGD dan persiapan untuk pengobatan definitif


2. Penanganan kasus gawat darurat RS di ruang tindakan
3. Penanganan operatif cepat dan tepat meliputi laparotomi,
dan sektio saesaria
4. Perawatan intensif ibu dan bayi.
5. Pelayanan Asuhan Ante Natal Risiko Tinggi
SASARAN ASUHAN KEBIDANAN
KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NEONATAL

• PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency


Dasar)
• PPGDON (Pertolongan Pertama pada
Kegawatdaruratan Obstetric dan Neonatal)
• PONEK (Pelayanan Obstetric dan Emergency
Komprehensif)
PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal
Emergensi Dasar)
Merupakan pelayanan untuk menanggulangi kasus-kasus
kegawatdaruratan obsterti neonatal yang meliputi :
1. Pelayanan obstetri :
a. Pemberian oksitosin parenteral, antibiotika parenteral dan
sedative parenteral
b. Pengeluaran placenta manual/ kuret
c. Pertolongan persalinan menggunakan vakum ekstraksi/ forceps
ekstraksi
2. Pelayanan neonatal :
a. Resusitasi untuk bayi asfiksia
b.Pemberian antibiotika parenteral
c. Pemberian antikonvulsan parenteral
d.Pemberian bic-nat intraumbilikal/ phenobarbital untuk
mengatasi ikterus
e. Pelaksanaan thermal control untuk mencegah hipotermia
dan penanggulangan pemberian ASI
PONED dilaksanakan di tingkat puskesmas, dan menerima
rujukan dari tenaga atau fasilitas kesehatan di tingkat desa
atau masyarakat dan merujuk ke rumah sakit
PPGDON (Pertolongan Pertama Pada
Kegawatdaruratan Obstetri Neonatal

Kegawatdaruratan obstetrik
Kasus gawat darurat obstetri adalah kasus obstetri yang
apabila tidak segera ditangani akan berakibat kematian
ibu dan janinnya. Kasus ini menjadi penyebab utama
kematian ibu janin dan bayi baru lahir. (Saifuddin,
2002)
Cara mencegah kegawatdaruratan
Melakukan perencanaan yang baik, mengikuti
panduan yang baik dan melakukan pemantauan
yang terus menerus terhadap ibu/klien.
Cara merespon kegawatdaruratan
• Apabila terjadi kegawatdaruratan, anggota tim seharusnya
mengetahui peran mereka dan bagaimana tim seharusnya
berfungsi untuk berespon terhadap kegawatdaruratan secara
paling efektif.
• Anggota tim seharusnya mengetahui situasi klinik dan diagnose
medis, juga tindakan yang harus dilakukannya.
• Harus memahami obat-obatan dan penggunaannya
• Cara pemberian dan efek samping obat tersebut.
• Anggota tim seharusnya mengetahui peralatan emergensi dan
dapat menjalankan atau memfungsikannya dengan baik
Penatalaksanaan awal terhadap kasus
kegawatdaruratan kebidanan
• Bidan seharusnya tetap tenang, jangan panik, jangan
membiarkan ibu sendirian tanpa penjaga/penunggu.
• Bila tidak ada petugas lain, berteriaklah untuk meminta
bantuan. Jika ibu tidak sadar, lakukan pengkajian jalan nafas,
pernafasan dan sirkulasi dengan cepat.
• Jika dicurigai adanya syok, mulai segera Tindakan
membaringan ibu miring ke kiri dengan bagian kaki ditinggikan,
longgarkan pakaian yang ketat seperti BH/Bra. Ajak bicara
ibu/klien dan bantu ibu/klien untuk tetap tenang. Lakukan
pemeriksaan dengan cepat meliputi tanda tanda vital, warna
kulit dan perdarahan yang keluar.
Pengkajian awal kasus kegawatdaruratan
kebidanan secara cepat
• Jalan nafas dan pernafasan
Perhatikan adanya cyanosis, gawat nafas, lakukan pemeriksaan
pada kulit: adakah pucat, suara paru: adakah weezhing, sirkulasi
tanda tanda syok, kaji kulit (dingin), nadi (cepat >110 kali/menit
dan lemah), tekanan daarah (rendah, sistolik < 90 mmHg)
• Perdarahan pervaginam
Bila ada perdarahan pervaginam, tanyakan: Apakah ibu sedang
hamil, usia kehamilan, riwayat persalinan sebelumnya dan
sekarang, bagaimana proses kelahiran placenta, kaji kondisi vulva
(jumlah darah yang keluar, placenta tertahan), uterus (adakah
atonia uteri), dan kondisi kandung kemih (apakah penuh).
• Klien tidak sadar/kejang
Tanyakan pada keluarga, apakah ibu sedang hamil, usia
kehamilan, periksa: tekanan darah (tinggi, diastolic > 90
mmHg), temperatur (lebih dari 38oC)
• Demam yang berbahaya
Tanyakan apakah ibu lemah, lethargie, sering nyeri saat
berkemih. Periksa temperatur (lebih dari 39oC), tingkat
kesadaran, kaku kuduk, paru paru (pernafasan dangkal),
abdomen (tegang), vulva (keluar cairan purulen), payudara
bengkak.
• Nyeri abdomen
Tanyakan Apakah ibu sedang hamil dan usia kehamilan.
Periksa tekanan darah (rendah, systolic < 90 mmHg), nadi
(cepat, lebih dari 110 kali/ menit) temperatur(lebih dari 38oC),
uterus (status kehamilan).
• Perhatikan tanda-tanda berikut:
Keluaran darah, adanya kontraksi uterus, pucat, lemah, pusing,
sakit kepala, pandangan kabur, pecah ketuban, demam dan
gawat nafas.
Peran bidan pada kegawatdaruratan
kebidanan
Melakukan pengawasan, pertolongan pada ibu,
pengawasan bayi baru lahir (neonatus) dan pada
persalinan, ibu post partum serta mampu
mengidentifikasi penyimpangan dari kehamilan
dan persalinan normal dan melakukan
penanganan yang tepat termasuk merujuk ke
fasilitas pelayanan yang tepat.
Dalam kegawatdaruratan,peran anda
sebagai bidan antara lain
1. Melakukan pengenalan segera kondisi gawat darurat
2. Stabilisasi klien (ibu), dengan oksigen, terapi cairan, dan
medikamentosa dengan:
a. Menjamin kelancaran jalan nafas, memperbaiki fungsi
system respirasi dan sirkulasi
b. Menghentikan perdarahan
c. Mengganti cairan tubuh yang hilang
d. Mengatasi nyeri dan kegelisahan
3. Ditempat kerja, menyiapkan sarana dan prasarana di kamar
bersalin, yaitu:
a. Menyiapkan radiant warmer/lampu pemanas untuk
mencegah kehilangan panas pada bayi
b. Menyiapkan alat resusitasi kit untuk ibu dan bayi
c. Menyiapkan alat pelindung diri
d. Menyiapkan obat obatan emergensi
4. Memiliki ketrampilan klinik, yaitu:
a.Mampu melakukan resusitasi pada ibu dan bayi dengan
peralatan yang berkesinambungan. Peran organisasi sangat
penting didalam pengembangan sumber daya manusia
(SDM) untuk meningkatkan keahlian
b.Memahami dan mampu melakukan metode efektif dalam
pelayanan ibu dan bayi baru lahir, yang meliputi making
pregnancy safer, safe motherhood, bonding attachment,
inisiasi menyusu dini dan lain lainnya.
TRIAGE PENANGANAN GAWAT
DARURAT
Triage adalah suatu konsep pengkajian yang cepat dan
terfokus dengan suatu cara yang memungkinkan
pemanfaatan sumber daya manusia, peralatan serta
fasilitas yang paling efisien dengan tujuan untuk
memilih atau menggolongkan semua pasien yang
memerlukan pertolongan dan menetapkan prioritas
penanganannya ( Kathleen dkk,2008)
Prinsip Triage Segera dan tepat waktu
(<60”)
• Pengkajian adekuat dan akurat
• Keputusan dibuat berdasarkan pengkajian.
• Intervensi sesuai kekuatan kondisi
• Tercapainya kepuasan pasien
TAHAP I TRIASE
• Meode untuk mendapatkan hasil yang sebaik mungkin pada kondisi jumlah
pasien besar dengan sarana yang terbatas Dasar-Dasar Triase Derajat cedera
Jumlah cedera Sarana dan kemampuan Kemungkinan bertahan hidup
• Digunakan pada kegawat daruratan sehari-hari serta jumlah korban massal
untuk penilaian status pasien terhadap ;
1. Penilaian TV dan kondisi
2. Penilaian tindakan yang diperlukan
3. Penilaian harapan hidup
4. Penilaian kemampuan medis
5. Prioritas penanganan  morbidias, mortalitas, kecacatan
6. Pemberian label
Klasifikasi :
Prioritas I ( merah) :mengancam jiwa, perlu resusitasi dan
tindakan segera dan mempunyai kesempatan hidup yang
besar
Prioritas II (kuning) :potensi mengancam nyawa atau fungsi
vital bila tidak segera ditangani dalam waktu singkat.
Prioritas III (hijau) : perlu penanganan seperti pelayanan biasa,
tidak perlu segera.
Priorotas 0 (hitam) kemungkinan untuk hidup sangat kecil,
luka sangat parah
TAHAP II PRIMARY SURVEY
Suatu kegiatan untuk menilai kondisi penderita (diagnostik)
sekaligus tindakan resusitasi untuk menolong nyawa
Keadaan yang mengancam nyawa ;
1. Airway ; menjaga airway dengan kontrol servikal
2. Breathing ; menjaga pernafasan dengan ventilasi
3. Cirkulation ; kontrol perdarahan
4. Disability ; status neurologis
5. Exposure ; buka baju, tetapi jangan sampai hipotermi
AIRWAY
• A. Kerusakan otak terjadi 6 – 8 menit.
• B. Pastikan kelancaran jalan nafas, ventilasi yang adekuat dan
oksigenisasi.
• C. Airway definitive, tindakan intubasi endotrakeal, penentuan
pemasangan ini
BREATHING = ventilasi
• A. AGD dan Pulse Oximetri
• B. Kegagalan ventilasi, hipoxia dan hipercarbia
• C. Kegagalan oksigenisasi dapat dinilai dengan melakukan observasi
dan auskultasi pada leher dan dada
• CIRCULATION
• A. Penilaian status hemodinamik penting
• B. Penyebab utama terjadinya gg.sirkulasi karena perdarahan, ada 4
klasifikasi perdarahan ;
a. Perdarahan kelas I ; vol.darah hilang sampai 15 %, takikardi minimal,
tekanan darah tidak berubah secara berarti
b. Perdarahan kelas II ; 15 – 30 % , takikardi, takipnoe, nadi menurun,
cemas, ketakutan
c. Perdarahan kelas III ; 30 – 40 % (2000 ml), takikardi, takipnoe dan
sistolik menurun
d. Perdarahan kelas IV ; lebih dari 40% hilang, diastolik tidak teraba,
tekanan sistolik urun drastis, urin tidak ada, kesadaran menurun
DISABILITY (Evaluasi Neurologis) Tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi
pupil Metode AVPU
• A ; Alert (sadar)
• V ; Respon terhadap rangsangan vokal (suara)
• P ; Respon terhadap rangsangan nyeri (pain)
• U ; Unresponsive (tidak ada respon)
EXPOSURE (kontrol lingkungan) Setelah tindakan ini dilanjutkan dengan
tindakan
TAHAP III Secondary Survey
• Secondary Survey yaitu pemeriksan secara keseluruhan mulai dari
ujung rambut hingga ujung jempol kaki
• TAHAP IV ; Stabilisasi dan
• TAHAP V ; Transfer
SISTEM RUJUKAN MATERNAL &
NEONATAL
Kendala
• Penerima pertama pasien bukan tenaga medis terlatih
• Dokter dan Bidan sebagai tenaga terlatih justru berada di lini belakang
• Prosedur penerimaan rujukan yang lambat karena birokrasi pelaporan
• Belum selalu tersedia Unit Tranfusi Darah (UTD) dan Bank Darah
Rumah Sakit belum berfungsi sebagai tempat antara penyimpanan
darah
• Keterbatasan pelayanan pemeriksaan penunjang karena keterbatasan
SDM, sarana dan prasarana.
• Keterbatasan keterampilan Puskesmas dalam
melakukan tindakan
• Petunjuk pelaksanaan sistem rujukan yang tidak baku
• Belum terdapat kesinambungan pelayanan rujukan
dalam satu mata rantai yang utuh menjadi bagian dari
upaya pemantapan sistem rujukan. Umpan balik
rujukan dari rumah sakit sering diabaikan karena
tindakan yang dilakukan di tingkat RS Kabupaten/Kota
dianggap telah menyelesaikan masalah
• Status Puskesmas PONED dan bukan PONED sering membingungkan
bidan apabila harus melakukan rujukan
• Belum terdapat persepsi yang sama tentang prosedur tindakan
diantara petugas pelaksana pelayanan
• Keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang kegawatdaruratan
maternal & neonatal
• Keterbatasan kemampuan ibu dalam mengambil keputusan
• Konsekuensi finansial sebagai dampak proses rujukan
Manfaat sistem rujukan Maternal & Neonatal
Perbaikan sistem pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal tidak cukup dengan hanya melakukan
standardisasi pelayanan dan peningkatan kemampuan
sumber daya manusia, tetapi juga perbaikan sistem
rujukan maternal dan neonatal yang akan menjadi
bagian dari tulang punggung sistem pelayanan secara
keseluruhan
Definisi Sistem Rujukan
• Polindes
• Puskesmas PONED
• Rumah Sakit PONEK 24 Jam
Pengembangan Pra-Rumah Sakit
• Polindes
Bidan di Desa sebagai pengelola Polindes dan sekaligus ujung tombak
upaya pelayanan PONED perlu mendapatkan pengetahuan dasar
tentang tanda bahaya (danger signs)
• Puskesmas PONED
Cakupan pelayanan kebidanan
Perkiraan jumlah komplikasi yang akan terjadi
Ketenagaan
Alur pelayanan rujukan kegawatdaruratan
obstetri & neonatal
• Masyarakat dapat langsung memanfaatkan semua fasilitas pelayanan
kegawat-daruratan obstetri dan neonatal.
• Bidan di Desa dan Polindes dapat memberikan pelayanan langsung
terhadap ibu hamil / ibu bersalin dan ibu nifas dengan komplikasi tertentu
sesuai dengan tingkat kewenangan dan kemampuannya
• Puskesmas non-PONED harus mampu melakukan stabilisasi pasien dengan
kegawatdaruratan obstetri dan neonatal sebelum melakukan rujukan
• Puskesmas PONED mampu memberikan pelayanan langsung terhadap ibu
hamil / ibu bersalin dan ibu nifas dengan komplikasi tertentu sesuai dengan
tingkat kewenangan dan kemampuannya atau melakukan rujukan pada RS
PONEK.
• RS PONEK 24 Jam mampu memberikan pelayanan PONEK langsung
terhadap ibu hamil / ibu bersalin dan ibu nifas baik yang datang sendiri
atau atas rujukan.
• Pemerintah Propinsi/Kabupaten memberikan dukungan secara
manajemen, administratif maupun kebijakan anggaran terhadap
kelancaran pelayanan kegawatdaruratan obstetrik dan neonatal.
• Pokja/Satgas GSI merupakan bentuk nyata kerjasama lintas sektoral di
tingkat Propinsi dan Kabupaten untuk menyampaikan pesan peningkatan
kewaspadaan masyarakat ter-hadap komplikasi kehamilan dan persalinan
serta kegawatdaruratan yang mungkin tim-bul oleh karenanya
• RS Swasta dan Dokter/Bidan Praktek Swas-ta melaksanakan peran yang
sama dengan RS Ponek 24 Jam, Puskesmas PONED dan Bidan dalam
jajaran pelayanan rujukan.
• PEMERINTAH PROPINSI POKJA /TIM GSI PEMDA KAB./KOTA
• TIM POKJA GSI KECAMATAN SATGAS GSI RUMAH SAKIT PROPINSI
• RUMAH SAKIT PONEK 24 JAM
• PUSKESMAS PONED
• PUSKESMAS
• POLINDES
• KADER / DUKUN MASYARAKAT / BUMIL
• DINAS KESEHATAN PROPINSI
• DINAS KESEHATAN KABUPATEN
• RS SWASTA
• DR SWASTA (KLINIK)
• BPM
Pengembangan RS PONEK 24 Jam
• Peningkatan deteksi dini dan pengelola-an ibu hamil dengan risiko tinggi,
cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan serta pengelolaan
komplikasi kehamilan dan persalinan berkaitan dengan kegawatdaruratan
obstetri dan neonatal melalui aktivasi, efisiensi dan efektivitasisasi mata rantai
rujukan.
• Peningkatan cakupan pengelolaan kasus dengan komplikasi obstetri dan
neonatal.
• Pemantapan kerjasama lintas program antara DinKes Kab/Kota dengan RS PONEK
di Kab/Kota sebagai fasilitas rujukan primer serta kerjasama lintas sektoral pada
peningkatan tingkat kesadaran masyarakat dalam upaya penurunan AKI dan AKP.
• Pemantapan kemampuan pengelola program di tingkat Kabupaten/Kota.
• Peningkatan pembinaan teknis dalam bentuk pelatihan klinik
untuk keterampilan PONED bagi Bidan di Desa, Dokter dan
Bidan Puskesmas PONED / non-PONED dengan
menggunakan Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal, Modul Keterampilan Klinik Standard,
teknik pelatihan berdasarkan kompetensi (competency-
based training) dan pelatih terkualifikasi dari Jaringan
Pelatihan Klinik Kesehatan Reproduksi (JNPK-KR)
• Peningkatan sarana dan prasarana jaringan pelayanan
PONED maupun PONEK dalam sistem mata rantai rujukan
yang terpadu
Strategi pemantapan rujukan
• PERBAIKAN MUTU PELAYANAN KLINIK & NON KLINIK
• MONITORING & EVALUASI PERBAIKAN
• PERBAIKAN KOORDINASI LINTAS SEKTOR KESINAMBUNGAN & KELEMBAGAAN
• PERBAIKAN MANAJEMEN DINKES DATI-II & RS REORIENTASI DINKES & RS
DATI-II
• PENYUSUNAN KESEPAKATAN MANAJEMEN STRATEJIK
• MOBILISASI SUMBER DAYA
• PELATIHAN PERBAIKAN SISTIM JARINGAN INFORMASI RUJUKAN
• MANAJEMEN STRATEGI PEMANTAPAN SISTEM RUJUKAN DATI-II
Pencatatan
• Pencatatan dalam Sistim Informasi Manajemen Pelayanan
Kesehatan (SP2TP), Kartu Ibu, Informed Consent
• KMS Ibu Hamil / Buku KIA
• Register Kohort Ibu dan Bayi
• Partograf
• Kartu Persalinan Nifas
• Laporan hasil Audit Maternal Perinatal
• Puskesmas
Formulir Rujukan Maternal dan Neonatal
Formulir Autopsi Verbal Maternal dan Neonatal
• RS PONEK
Formulir Maternal dan Neonatal
Formulir Medical Audit
Pelaporan kegiatan AMP
Pelaporan
• DIREKTORAT KESEHATAN KELUARGA Sub Dit Kebidanan & Kandungan
• DINAS KESEHATAN PROPINSI DINAS KESEHATAN KABUPATEN / KOTA
• BIDAN / BIDAN DI DESA PUSKESMAS PONED
• RUMAH BERSALIN SWASTA
• RS PONEK KABUPATEN / KOTA
• DIREKTORAT PELAYANAN MEDIK
Pemantauan
• Pemanfaatan laporan
• Laporan yang diterima dilakukan pengolahan dan analisa data
• Umpan Balik
• Hasil analisa laporan dikirimkan sebagai umpan balik dalam 3 (tiga)
bulan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke RS PONEK dan
Puskesmas PONED atau disampaikan melalui pertemuan Review
Program Kesehatan Ibu dan Anak secara berkala di Kabupaten/Kota
dengan melibatkan ketiga unsur pelayanan kesehatan tersebut diatas
SUPERVISI FASILITATIF
• Kegiatan observasi dan evaluasi langsung oleh
penyelia terhadap fasilitas kesehatan, kinerja tim
medis dan hasil yang diperoleh
• Proses observasi dan evaluasi dilakukan oleh tim
medik dan staf klinik yang telah dilatih tentang
menetapkan, menjalankan dan menilai mutu
pelayanan
Aspek yang di supervisi meliputi:
• Aspek Medis Teknis (Kebidanan dan Neonatal) oleh RS PONEK
• Aspek Administratif / Manajerial oleh Pengelola Program KIA
• Kerjasama Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota dengan Rumah Sakit
Kabupaten / Kota
Diskusi Kelompok
• Seorang perempuan hamil 16 minggu, datang ke PMB dengan
keluhan keluar perdarahan yang banyak. Apa yang anda lakukan
sebagai bidan!
• Seorang perempuan hamil 32 minggu, datang ke PMB dengan
keluhan pusing dan kunang-kunang. Apa yang anda lakukan sebagai
bidan!
• Seorang perempuan, telah anda tolong persalinannya 2 jam yang
lalu. Saat anda melakukan observasi, pasien mengeluh pusing
kunang-kunang. Apa yang anda lakukan sebagai bidan!
• Seorang perempuan telah anda tolong persalinannya 2 jam yang
lalu. Saat anda melakukan observasi, pasien mengeluh keluar darah
banyak dari kemaluan. Apa yang anda lakukan sebagai bidan!
• Seorang perempuan telah anda tolong persalinannya 6 hari
yang lalu. Saat anda melakukan pemeriksaan, pasien
mengeluh keluar cairan yang berbau. Apa yang anda lakukan
sebagai bidan!
• Seorang perempuan telah anda tolong persalinannya 14 hari
yang lalu. Saat anda melakukan pemeriksaan, pasien
mengeluh keluar darah merah segar. Apa yang anda lakukan
sebagai bidan!
• Seorang bayi baru lahir, merintih tidak menangis. Apa yang
anda lakukan sebagai bidan!
• Seorang bayi umur 6 hari, tali pusat sudah puput tapi
mengeluarkan cairan yang berbau. Apa yang anda lakukan
sebagai bidan!
TERIMA KASIH