Anda di halaman 1dari 13

Farmakoekonomi dan Pengukuran

kualitas hidup
TERMINOLOGI DAN METODE
DALAM FARMAKOEKONOMI
Dalam bidang farmakoekonomi terdapat beberapa
terminologi yang penting untuk kita ketahui antara lain
biaya (cost) dan harga (price).
Biaya (Cost) adalah biaya yang dibutuhkan semenjak
pasien mulai menerima terapi sampai pasien sembuh.
Sedangkan harga (Price) yaitu biaya per item obat yang
dikonsumsi pasien.
Sedangkan evaluasi dalam farmakoekonomi meliputi
Cost-Minimization Analysis (CMA), Cost-
Effectiveness Analysis (CEA), Cost-Benefit Analysis
(CBA), dan Cost-Utility Analysis (CUA).
APLIKASI HASIL STUDI FARMAKOEKONOMI
Menurut Lisa Sanchez-seorang pakar farmakoekonomi
dari Amerika serikat bahwa farmakoekonomi dapat
dimanfaatkan untuk menilai biaya -manfaat baik dari
produk obat maupun pelayanan kefarmasian.
Menurut Yulia Trisna dari Instalasi Farmasi RSUP
Ciptomangunkusumo, farmakoekonomi tidak hanya
penting bagi para pembuat kebijakan di bidang
kesehatan saja, tetapi juga bagi tenaga kesehatan,
industri farmasi, perusahaan asuransi dan bahkan
pasien, dengan kebutuhan dan cara pandang yang
berbeda.
APLIKASI HASIL STUDI FARMAKOEKONOMI
Bagi pembuat kebijakan, farmakoekonomi dapat
dimanfaatkan untuk: memutuskan apakah suatu obat layak
dimasukkan ke dalam daftar obat yang disubsidi, memilih
program pelayanan kesehatan dan membuat kebijakan-
kebijakan strategis lain yang terkait dengan pelayanan
kesehatan.
 Di tingkat rumah sakit, data farmakoekonomi dapat dimanfaatkan
untuk memutuskan apakah suatu obat bisa dimasukkan ke dalam
formularium rumah sakit, atau sebaliknya, suatu obat harus dihapus
dari formularium rumah sakit karena tidak cost-effective
dibandingkan obat lain. Selain itu juga dapat digunakan sebagai
dasar dalam menyusun pedoman terapi, obat mana yang akan
digunakan sebagai obat lini pertama dan lini berikutnya.
Bagi tenaga kesehatan, farmakoekonomi berperan
untuk membantu pengambilan keputusan klinik
dalam penggunaan obat yang rasional, karena
penggunaan obat yang rasional tidak hanya
mempertimbangkan dimensi aman-berkhasiat-
bermutu saja, tetapi juga harus mempertimbangkan
nilai ekonominya.
Sedangkan industri farmasi berkepentingan dengan
hasil studi farmakoekonomi untuk berbagai hal,
antara lain: penelitian dan pengembangan obat,
penetapan harga, promosi dan strategi pemasaran.
   
Apoteker/farmasis dengan pengetahuannya yang
mendalam tentang obat, selayaknya memiliki
pengetahuan pula tentang prinsip-prinsip
farmakoekonomi, dan akan lebih baik lagi jika
mempunyai keterampilan yang memadai dalam
mengevaluasi hasil studi farmakoekonomi.
Siapapun dan dimanapun orang/pimpinan organisasi
profesi berbicara dalam masalah kefarmasian, intinya
tidak lain adalah pelaksanaan “Pharmaceutical Care”
(PC). Pharmaceutical Care adalah tanggungjawab
farmako-terapi dari seorang farmasis untuk mencapai
dampak tertentu dalam meningkatkan kualitas hidup
pasien.
Peran farmasis dengan aplikasi Pharmaceutical care dan
farmakoekonomi dapat membantu meningkatkan
pencapaian outcome terapi yang maksimal dengan biaya
yang seminimal mungkin dalam sistem kesehatan. ketika
farmasis dilibatkan secara aktif dalam pelayanan
kesehatan terhadap pasien secara langsung dan dalam
program penggunaan obat, beberapa manfaat dapat
dihasilkan dalam sistem pelayanan kesehatan, antara lain:
Menurunkan jumlah pasien rawat inap, menurunkan
Lama Rawat di Rumah Sakir (length of stay),
menurunkan intensitas visitasi dokter atau klinisi,
menurunkan Biaya Obat.
Manfaat dan Kekurangan Farmakoekonomi
Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup
Manfaat penerapan farmakoekonomi antara lain:
1) Memberikan pelayanan maksimal dengan biaya yang
terjangkau.
Hal ini memberikan manfaat, yaitu terdapat banyak
pilihan obat yang dapat diberikan untuk tindakan terapi
bagi pasien. Namun, banyaknya pilihan terapi ini tidak
akan bermanfaat apabila ternyata pasien tidak sanggup
membeli karena harganya yang mahal. Oleh karena itu,
pertimbangan farmakoekonomi dalam menentukan terapi
yang akan diberikan kepada pasien sangat diperlukan,
Misalnya dengan penggunaan obat generik.
Manfaat dan Kekurangan Farmakoekonomi
Dalam Meningkatkan Kualitas Hidup
Manfaat penerapan farmakoekonomi antara lain:
1) Angka kesembuhan meningkat. Angka kesehatan
meningkat dan angka kematian menurun. Terapi yang
diberikan oleh dokter akan berhasil apabila pasien patuh
terhadap pengobatan penyakitnya. Kepatuhan ini salah
satunya dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Misalnya saja
harga obat yang diresepkan oleh dokter terlalu mahal
maka pasien tidak akan sanggup membeli dan tentu saja
tidak dapat mengkonsumsi obatnya. Dan sebaliknya
apabila harga obat terjangkau, maka pasien dapat
mengkonsumsi obatnya dan mengalami kesembuhan.
3. Menghindari tuntutan dar pihak pasien dan asuransi
terhadap dokter dan rumah sakit karena pengobatan
yang mahal.
Apabila dokter telah memberikan obat-obat generik
dengan harga yang murah dengan syarat memang
tepat indikasi untuk penyakit pasien, dan rumah sakit
selalu menyediakannya, maka dokter dan rumah
sakit akan terhindar dari tuntutan pasien dan pihak
asuransi atas biaya pengobatan yang mahal.
 Kekurangan atau kendala yang mungkin
dihadapi dalam penerapan farmakoekonomi
antara lain:
1. Untuk mendapatkan manfaat dari farmakoekonomi
secara maksimal maka diperlukan edukasi yang baik bagi
praktisi medik termasuk dokter maupun masyarakat.
Dokter harus memperdalam ilmu farmakologi dan
memberikan obat berdasarkan Evidence Based Medicine
dari penyakit pasien. Pendidikan masyarakat tentang
kesehatan harus ditingkatkan melalui pendidikan formal
maupun informal, dan menghilangkan pandangan
masyarakat bahwa obat yang mahal itu pasti bagus. Hal
ini belum tentu karena obat yang rasional adalah obat
yang murah tapi tepat untuk penyakitnya
 Kekurangan atau kendala yang mungkin
dihadapi dalam penerapan farmakoekonomi
antara lain:
2. Diperlukan peran pemerintah membuat
regulasi obat-obat generik yang bermutu untuk
digunakan alam pelayanan kesehatan baik
tingkat pusat sampai kecamatan dan desa.
Karena dalam banyak kasus, obat-obat non
generik yang harganya jauh lebih mahal
terpaksa diberikan karena tidak ada pilihan
obat lain bagi pasien.
3.  Tidak selamanya ke empat evaluasi
farmakoeonomi yang meliputi Cost-
Minimization     Analysis (CMA), Cost-
Effectiveness Analysis (CEA), Cost-Benefit
Analysis (CBA), dan     Cost-Utility
Analysis (CUA) dapat berjalan bersamaan.